HIBRIDITAS MENURUT JOHN PEMBERTON
D. Persaingan Visualisasi Kejawaan
Industri rekaman campursari muncul di penghujung periode kekuasaan Orde Baru. Industri rekaman campursari mulai terbentuk pada dekade tahun 90-an.
91 Keberadaan industri rekaman campursari kerap ditautkan dengan kesuksesan Manthous dan produk-produk rekamannya. Manthous bersama kelompok Maju Lancar memulai album pertama di tahun 1993. Album-album Manthous terbilang cukup laris terjual hingga 50.000 dari tahun 90-an hingga 2000-an. Pada periode ini produk-produk rekaman campursari disebarkan melalui medium kaset yang bisa dijangkau banyak orang dan mudah dibawa ke mana-mana. Tak lama berselang medium teknologi kaset mulai tergantikan VCD. Apabila pada periode 80-an dan 90-an harga piranti dan VCD terbilang mahal dan hanya diakses oleh masyarakat menengah perkotaan ke atas. Secara perlahan harga piranti dan VCD semakin terjangkau dan membuat banyak orang beralih menikmati hiburan musik melalui VCD. Dibanding kaset, VCD tidak hanya mempunyai kemampuan memberikan hiburan dari segi aspek suara tetapi juga aspek visual.
Nama Didi Kempot mulai dikenal publik melalui album stasiun balapan di tahun 1999. Sedangkan Nurhana mulai dikenal publik luas di penghujung tahun 90-an dan merupakan salah satu dari beberapa penyanyi perempuan yang bersinar dan muncul ke permukaan. Didi Kempot dan Nurhana berada di jajaran atas bintang rekaman campursari pada periode di mana produk-produk rekaman campursari disebarkan melalui medium VCD. Namun medan industri rekaman campursari yang terbentuk tak berlangsung lama, tak lebih dari dua dekade berselang campursari perlahan-lahan mulai menghilang. Dari segi visual, lirik dan musik Manthous, Didi Kempot dan Nurhana berbeda satu sama lain. Barangkali berkat perbedaan aspek-aspek tersebut produk-produk rekaman mereka mampu memperoleh kesuksesan. Muatan kejawaan yang ditonjolkan pada video nyidam
92 sari, wuyung, jambu alas, modal dengkul, bagus adine dan kusumaning ati merupakan identitas Manthous, Didi Kempot dan Nurhana.
Dari segi visual, aspek-aspek kejawaan menjadi karakter utama video nyidam sari, wuyung, jambu alas, modal dengkul, bagus adine dan kusumaning ati. Aspek-aspek kejawaan tersebut berasal dari benda-benda material yang menyimbolkan Jawa, mulai dari perlengkapan pakaian tradisional Jawa (batik, keris, beskap, sorjan dan blangkon), rumah joglo dan instrumen gamelan hingga yang tidak berwujud material, yaitu bahasa Jawa. Di satu sisi, aspek-aspek kejawaan dimaksudkan untuk menegaskan pembedaan dengan produk-produk rekaman bentuk musik lain, pop, keroncong, rock dan dangdut. Di sini aspek-aspek kejawaan dimanfaatkan sebagai pemikat utama untuk menarik orang-orang agar mau membeli produk-produk rekaman mereka. Di sisi lain, aspek-aspek kejawaan dimaksudkan untuk membangun identitas pada produk-produk rekaman Manthous, Didi Kempot dan Nurhana.
Pada visualisasi nyidam sari dan wuyung Manthous yang berasal dari Yogyakarta dipajang mengenakan perlengkapan pakaian tradisional Jawa dari Yogyakarta. Manthous memakai blangkon dan keris yang terselip di pinggang. Ia mengenakan sorjan yang dipadukan jarik dan celana pendek. Sedangkan aktor perempuan rambutnya disanggul rapi, mengenakan kebaya yang dipadukan batik. Kedua video tersebut berlatar rumah tradisional Jawa joglo. Dengan menegaskan latar, rumah joglo dan penggunaan pakaian tradisional Jawa dari daerah Yogyakarta, Manthous berusaha menciptakan peluang bagi segmen produk-produk rekamannya, yang ditujukan pada masyarakat dari daerah Yogyakarta.
93 Lantas orang Jawa seperti apa yang digambarkan dalam nyidam sari dan wuyung. Dengan mengangkat tinggi-tinggi ke atas perlengkapan pakaian tradisional Jawa (batik, keris, kebaya, sorjan dan blangkon) dan rumah joglo, nyidam sari dan wuyung justru menegaskan Manthous dan aktor perempuan merupakan gambaran laki-laki dan perempuan yang memegang teguh budaya tradisional Jawa. Melalui perlengkapan pakaian tradisional dan rumah joglo, laki-laki dan perempuan berusaha mempertahankan nilai-nilai kejawaan. Sebaliknya, pada visual nyidam sari dan wuyung justru mengisyaratkan ketidakhadiran aspek-aspek budaya populer. Di sini segala sesuatu hal yang tradisional bertentangan dan bahkan harus dipisahkan dengan yang modern. Ketidakhadiran aspek-aspek budaya populer bisa diartikan kritikan nyidam sari dan wuyung yang ditujukan pada kemampuan budaya populer menggerus budaya tradisional Jawa.
Aspek-aspek kejawaan pada visualisasi video jambu alas dan modal dengkul menunjuk pakaian tradisional Jawa Tengah. Didi Kempot memakai blangkon dan keris yang terselip di pinggang. Didi Kempot mengenakan beskap hitam polos, dilapisi kemeja putih yang dipadukan jarik kuning tua bergaris-garis hitam. Didi Kempot yang berasal dari Solo pada jambu alas dan modal dengkul divisualisasikan mengenakan pakaian tradisional Jawa Tengah. Pada jambu alas dan modal dengkul, Didi Kempot mengkomodifikasi pakaian tradisional Jawa dari daerah Jawa Tengah. Dari segi visualisasi, pemilihan mengenakan pakaian tradisional Jawa Tengah untuk membangun karakter khas dan membedakan Didi Kempot dengan musisi lain yang berasal dari daerah Yogyakarta dan Jawa Timur. Membangun karakter khas merupakan upaya Didi Kempot memasuki industri
94 rekaman campursari, dengan menyasar segmen pasar masyarakat Jawa yang berasal dari daerah Jawa Tengah.
Namun pada jambu alas dan modal dengkul, aktor perempuan ditampilkan bertolak belakang dengan tampilan Didi Kempot. Aktor perempuan ditampilkan dengan balutan busana modis dan trendi mengikuti model-model pakaian terbaru. Jambu alas dan modal dengkul terkesan tanpa malu-malu menghadirkan budaya populer. Lantas mengapa budaya populer dijajarkan dengan budaya Jawa? Untuk menegaskan bahwa kedua video tersebut tidak hanya bagian dari musik tradisional Jawa tetapi juga merupakan bagian dari musik modern. Langkah ini diperlukan untuk menegaskan bahwa konsumen kedua video tersebut tidak hanya bagian dari masyarakat Jawa yang masih memegang nilai-nilai tradisi budaya Jawa, tetapi juga bagian dari masyarakat modern yang merupakan bagian dari konsumen budaya populer. Latar jambu alas dan modal dengkul yang menampilkan arsitektur rumah modern semakin mempertegas gambaran masyarakat Jawa yang memegang nilai-nilai tradisi dan juga bagian dari masyarakat modern.
Aspek-aspek kejawaan yang divisualisasikan bagus adine menunjuk pakaian tradisional Jawa dari daerah Jawa Tengah. Aktor laki-laki memakai blangkon, berbalut beskap polos biru dilapisi kemeja putih yang dipadukan dengan jarik cokelat. Sedangkan Nurhana divisualisasikan mengenakan kebaya yang dipadukan dengan jarik cokelat. Nurhana yang berasal dari Jawa Tengah mengenakan pakaian tradisional Jawa dari Jawa Tengah. Pada bagus adine berusaha mengkomodifikasi pakaian tradisional Jawa dari Jawa Tengah. Dari segi
95 visualisasi, pemilihan pakaian tradisional Jawa Tengah dimaksudkan untuk membangun karakter dan membedakan Nurhana dengan penyanyi lain. Langkah ini merupakan cara Nurhana memasuki industri rekaman campursari, dengan menyasar segmen masyarakat Jawa yang berasal dari Jawa Tengah. Di sisi lain, Bagus adine memang lebih menyatakan secara terang-terangan muatan kejawaan melalui pakaian tradisional Jawa dan menolak memuat aspek-aspek budaya populer. Penekanan kejawaan pada bagus adine untuk menyatakan kemurnian status bagus adine sebagai musik tradisional Jawa.
Pada kusumaning ati, aktor laki-laki ditampilkan memakai blangkon, berbalut beskap polos biru, dilapisi kemeja putih yang dipadukan dengan jarik cokelat. Sedangkan Nurhana ditampilkan bertolak belakang dengan aktor laki-laki. Nurhana dipajang mengenakan pakaian modis dan trendi. Di satu sisi, kusumaning ati memuat aspek-aspek budaya populer melalui pakaian yang dikenakan Nurhana. Di sisi lain, kusumaning ati juga memuat aspek-aspek kejawaan yang dikenakan aktor laki-laki. Ini merupakan langkah Nurhana untuk meyakinkan konsumen bahwa kusumaning ati masih punya keterikatan dengan tradisi budaya Jawa, tetapi juga bagian dari budaya populer yang mengisyaratkan budaya modern. Dengan begitu, konsumen kusumaning ati merupakan gambaran dari masyarakat Jawa yang masih memegang nilai-nilai tradisi Jawa, sekaligus bagian dari masyarakat modern.
Dalam konteks ini, kejawaan pada enam video ini dapat dihubungkan dengan proyek politik kebudayaan Orde Baru. Politik kebudayaan Orde baru hadir dari kesadaran dengan mengangkat tinggi ke atas budaya tradisional dan
96 menjadikan budaya Jawa sebagai budaya paling dominan. Agenda politik-budaya Orde Baru ini sarat dengan muatan pemurnian budaya Jawa dengan melacaknya pada asal-usul pembentukan kerajaan Jawa, keraton Surakarta. Dengan kata lain, kejawaan keenam video ini bukan lahir dari dalam, melainkan dari luar, melalui dorongan politis dari pusat kekuasaan yang ditekankan ke masyarakat luas atau berkat keberhasilan proyek kesadaran yang menekankan arti penting budaya tradisional Jawa.
Pada akhirnya proyek kesadaran budaya tradisional yang ditekankan pada visual nyidam sari, wuyung, jambu alas, modal dengkul, bagus adine dan kusumaning ati malah (dan juga oleh Orde Baru) melahirkan semangat lokalitas yang puritan. Semangat lokalitas yang puritan ini cenderung terperangkap pada pemisahan tegas antara budaya Jawa dan budaya populer. Semangat lokalitas sejalan dengan pandangan esensialisme yang beranggapan pada budaya tradisional terkandung unsur-unsur keaslian dan kemurnian yang terberi secara kodrati. Sebaliknya penekanan pada aspek-aspek kejawaan maupun tradisional berkebalikan dengan realitas yang terjadi pada masyarakat Jawa modern. Realitas masyarakat Jawa modern, merupakan akibat dari modernitas yang telah terjadi lebih dari satu abad di Jawa. Modernitas terjadi melalui proses interaksi dengan menyerap aspek-aspek budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi dari dunia Barat. Modernitas telah membawa perubahan dalam berbagai bidang kehidupan. Dan pada masyarakat modern saat ini apa-apa yang berbau tradisional cenderung dilabeli dengan stigma masyarakat yang masih terbelakang dan tidak rasional.
97 Namun bisa dikatakan bahwa keberhasilan nyidam sari, wuyung, jambu alas, modal dengkul, bagus adine dan kusumaning ati bukan hanya karena muatan kejawaan semata, tetapi juga karena muatan hibriditas antara budaya populer dan budaya Jawa sebagaimana yang lebih jelas terlihat pada video jambu alas, modal dengkul dan kusumaning ati. Meskipun nyidam sari, wuyung dan bagus adine terkesan menolak tegas menghadirkan aspek-aspek budaya populer, namun sebaliknya dominasi budaya populer justru ditegaskan pada musiknya. Secara keseluruhan enam video campursari ini mengisyaratkan pengolahan ulang unsur-unsur budaya populer yang dipadukan dengan unsur-unsur-unsur-unsur budaya yang diandaikan sebagai unsur-unsur orisinal budaya Jawa. Dengan demikian, keberhasilan enam video memikat khalayak luas disebabkan oleh muatan hibriditas yang terdapat dalam tampilan visual dan juga dalam musik.
98 BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Penelitian ini mengenai pembentukan representasi kejawaan yang meliputi aspek visual, teks dan musik pada video nydiham sari, wuyung, jambu alas, modal dengkul, bagus adine dan kusumaning ati. Enam video campursari tersebut merupakan lagu hits dan keberadaan lagu hits ditentukan dari tingginya angka penjualan. Campursari merupakan sebuah fenomena dalam dunia musik pada dekade 2000-an. Dikatakan sebuah fenomena mengingat campursari merupakan salah satu bentuk musik lokal yang mengusung representasi kejawaan dan mampu muncul ke permukaan di tengah derasnya arus musik pop.
Fenomena campursari didorong oleh keberadaan industri rekaman campursari. Industri rekaman campursari merupakan bagian dari industri rekaman daerah. Industri rekaman daerah lebih berfokus memproduksi bentuk-bentuk musik yang dinyanyikan dalam bahasa daerah dan dengan cakupan pemasaran terbatas pada skala daerah. Campursari merupakan salah satu bentuk musik lokal yang pada periode 90-an perkembangannya dimediasi teknologi kaset dan setelah periode 2000-an dimediasi teknologi video compact disc (VCD). Industri rekaman campursari memunculkan beberapa nama bintang rekaman di antaranya Manthous, Didi Kempot dan Nurhana. Album perdana Manthous bersama Campursari Gunung Kidul berjudul konco tani diproduksi pada tahun 1993 oleh
99 Dasa Studio. Dasa Studio juga turut berperan memproduksi album-album Didi Kempot dan Nurhana.
a. Musik
Dari segi musik, nyidam sari, wuyung, jambu alas, modal dengkul dan bagus adine merupakan percampuran kultural antara instrumen pop dengan gamelan. Kusumaning ati berbeda dengan nyidam sari, wuyung, jambu alas, modal dengkul, bagus adine karena tidak menggunakan gamelan. Sehingga lebih mudah menyatakan bahwa karakteristik utama kusumaning ati adalah instrumen pop yang bersistem nada diatonis. Kekuatan musik pop dan sistem nada diatonis pada kusumaning ati dinyatakan melalui kerangka akor utama minor dan melodi dalam tangga nada minor harmonis.
Kekuatan dominan dari percampuran kultural pada nyidam sari, wuyung, jambu alas, modal dengkul dan bagus adine adalah instrumen pop yang berdasarkan aturan-aturan sistem nada diatonis, bukan berdasarkan aturan-aturan pada gamelan yang laras pelog dan slendro. Dominasi instrumen pop dan sistem nada diatonis dihadirkan oleh instrumen pop dan gamelan melalui kerangka akor I IV V. Sementara representasi kejawaan dihadirkan melalui instrumen pop dan gamelan yang membawa melodi-melodi berlaras pelog dan slendro. Dengan kata lain, nyidam sari, wuyung, jambu alas, modal dengkul dan bagus adine adalah musik pop yang bersitem nada diatonis, namun diisi melodi-melodi yang berlaras pelog dan slendro.
Dominasi musik pop terhadap gamelan pada nyidam sari, wuyung, jambu alas, modal dengkul dan bagus adine juga dinyatakan melalui penalaan gamelan
100 yang distandarisasikan ke dalam penalaan sistem nada diatonis. Di satu sisi, penalaan gamelan dimaksudkan agar melodi-melodi yang dimainkan gamelan yang berlaras pelog dan slendro sesuai bagi keseluruhan aturan-aturan sistem nada diatonis sehingga akan menghasilkan bunyi yang harmonis. Di sisi lain, menstandarisasikan gamelan ke dalam sistem nada diatonis, justru akan memungkinkan penghapusan keragaman penalaan gamelan. Keragaman penalaan merupakan keunikan dan kekhasan gamelan. Keragaman penalaan inilah yang membedakan gamelan dengan instrumen pop yang mempunyai standar baku dalam sistem penalannya.
Tidak dapat dipungkiri juga bahwa nyidam sari, wuyung, jambu alas, modal dengkul, bagus adine dan kusumaning ati merupakan lagu hits dalam campursari. Keberadaan lagu hits ditentukan dari tingginya angka penjualan. Ini berarti bahwa orang-orang Jawa pada periode berkembangnya campursari memang lebih dekat dengan musik pop dan sistem diatonis dibandingkan gamelan yang berlaras pelog
dan slendro. Dengan begitu, fenomena campursari setidaknya mampu
memperlihatkan pergeseran selera musik orang-orang Jawa yang telah beralih pada musik pop yang bersistem nada diatonis.
b. Lirik
Lirik nyidam sari, wuyung, jambu alas, modal dengkul, bagus adine dan kusumaning ati memiliki keterikatan dengan adegan-adegan video. Menarasikan adegan-adegan video dengan menyesuaikan pada lirik karena pertimbangan penonton atau konsumen yang lebih menyukai video klip bernarasi. Lirik bertemakan cinta merupakan kekuatan utama pada berbagai bentuk musik.
101 Keenam lirik lagu tersebut bertemakan cinta dan penderitaan batin akibat kegagalan hubungan antara laki-laki dan wanita.
Nyidam sari menceritakan harapan laki-laki yang ingin menikahi wanita pujaan hatinya. Namun harapan laki-laki hilang setelah wanita pergi meninggalkannya. Meski wanita telah pergi dan cinta laki-laki terhalang gunung samudra namun laki-laki tetap setia mencintai wanita. Wuyung menggambarkan suasana batin orang sedang patah hati. Kesedihan dan penderitaan batin yang dirasa membuat enggan menjalani hidup. Jambu alas menceritakan laki-laki yang mencintai wanita yang telah mempunyai calon suami. Laki-laki menunjukkan kesetiaan dengan menunggu wanita sampai menjadi janda. Namun wanita berjanji tidak akan mencari laki-laki lain bila tidak menikah. Modal dengkul menceritakan laki-laki mencintai wanita dengan hanya bermodalkan cinta. Wanita menaruh curiga dan beranggapan laki-laki akan mengantungkan hidup padanya. Namun laki-laki berjanji setelah menikah akan membelikan gelang dan kalung emas. Bagus adine menceritakan kebingungan wanita karena menyukai dua laki-laki, kakak dan adik. Kakak dan adik berperawakan tinggi besar dan berparas tampan. Wanita memutuskan memilih adiknya karena baik hati. Kusumaning ati menceritakan luka batin wanita karena mengharapkan kedatangan kembali laki-laki pujaan hati. Harapan wanita untuk hidup bersama sirna setelah laki-laki-laki-laki pergi meninggalkannya.
c. Visualisasi
Pada nyidam sari dan wuyung, Manthous yang berasal dari Yogyakarta dipajang mengenakan perlengkapan pakaian tradisional Jawa dari Yogyakarta.
102 Sementara pada jambu alas dan modal dengkul, Didi Kempot yang berasal Solo mengenakan pakaian tradisional Jawa Tengah. Demikian juga, pada bagus adine dan kusumaning ati Nurhana dan aktor laki-laki yang berasal dari Jawa tengah mengenakan pakaian tradisional Jawa dari Jawa tengah. Pemilihan mengenakan pakaian tradisional Jawa yang menunjukkan latar belakang daerah dimaksudkan untuk membangun karakter khas Manthous, Didi Kempot dan Nurhana. Membangun karakter khas merupakan upaya mereka memasuki industri rekaman campursari, dengan menyasar segmen pasar masyarakat yang berasal dari daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Pada nyidam sari dan wuyung, Manthous dan aktor perempuan dihadirkan mengenakan pakaian tradisional Jawa. Begitu juga pada bagus adine, Nurhana dan aktor laki-laki dihadirkan dengan mengenakan pakaian tradisional Jawa. Dengan mengangkat tinggi-tinggi ke atas pakaian tradisional Jawa justru menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan pada nyidam sari, wuyung dan bagus adine merupakan gambaran laki-laki dan perempuan yang memegang teguh budaya tradisional Jawa. Melalui perlengkapan pakaian tradisional Jawa dan rumah joglo, laki-laki dan perempuan berusaha mempertahankan nilai-nilai kejawaan. Sebaliknya, nyidam sari, wuyung dan bagus adine justru menegaskan ketidakhadiran aspek-aspek budaya populer. Di sini segala sesuatu yang tradisional dinyatakan bertentangan dan bahkan harus dipisahkan dengan yang modern. Ketidakhadiran aspek-aspek budaya populer bisa diartikan kritikan nyidam sari dan wuyung yang ditujukan pada kemampuan budaya populer menggerus budaya tradisional Jawa.
103 Pada jambu alas, modal dengkul, Didi Kempot ditampilkan mengenakan pakaian tradisional Jawa, sementara aktor perempuan mengenakan busana modis dan trendi. Begitu juga pada kusumaning ati, tokoh laki-laki ditampilkan mengenakan pakaian tradisional Jawa, sedangkan Nurhana ditampilkan mengenakan pakaian modis dan trendi. Laki-laki dan perempuan pada jambu alas, modal dengkul dan kusumaning ati merupakan gambaran laki-laki dan perempuan yang masih memegang nilai-nilai tradisi dan bagian dari masyarakat modern. Di sini maksud menjajarkan kedudukan budaya Jawa dan budaya populer untuk menegaskan bahwa ketiga video ini tidak hanya bagian dari musik tradisional Jawa tetapi juga merupakan bagian dari musik modern. Penegasan ini diperlukan untuk mengafirmasi bahwa konsumen ketiga video ini tidak hanya bagian dari masyarakat Jawa yang masih memegang nilai-nilai tradisi budaya Jawa, tetapi juga bagian dari masyarakat modern yang merupakan bagian dari konsumen budaya populer.
Pada akhirnya proyek kesadaran budaya tradisional yang ditekankan pada nyidam sari, wuyung, jambu alas, modal dengkul, bagus adine dan kusumaning ati malah melahirkan semangat lokalitas yang puritan. Semangat lokalitas yang puritan ini cenderung terperangkap pada pemisahan tegas antara budaya Jawa dan budaya populer. Namun bisa dikatakan bahwa keberhasilan seluruh video ini bukan hanya karena muatan kejawaan semata, tetapi juga karena muatan hibriditas antara budaya Jawa dan budaya populer sebagaimana yang terlihat pada pada jambu alas, modal dengkul dan kusumaning ati. Meskipun nyidam sari, wuyung
104 dan bagus adine terkesan menolak tegas menghadirkan aspek-aspek budaya populer. Sebaliknya dominasi budaya populer justru ditegaskan pada musiknya. B. Saran
Penelitian ini berawal dari rasa penasaran tentang fenomena campursari yang pertama kali saya jumpai di tahun 20001. Secara akademis, penelitian ini merupakan keinginan mendalami semiotika sebagai pendekatan teori dalam menganalisa. Kekurangan semiotika dalam menganalisa video campursari terbatas pada kemampuan semiotika yang hanya mampu menganalisa aspek visual dan bahasa. Semiotika tidak mampu menjangkau kandungan musik (melodi, harmoni dan ritme) yang merupakan aspek paling utama, di samping lirik lagu. Inilah yang menjadi kelemahan semiotika. Pembuatan visualisasi keenam video campursari dikaitkan dengan lirik lagu, namun bagaimana keterkaitan antara musik, dengan visualisasi dan lirik lagu.
Kelemahan penelitian ini dalam memahami kejawaan yang terlalu menitikberatkan pada muatan kejawaan dalam enam video campursari dan tidak mempertanyakan lebih jauh mengapa para pembuat (produser video maupun Manthous, Didi Kempot dan Nurhana) memanfaatkan aspek-aspek kejawaan. Usaha memahami kejawaan dalam keenam video campursari dengan menghubungkan pada proyek kebudayaan Orde Baru. Dalam buku, On the Subject of Java, John Pemberton memperlihatkan bagaimana usaha Orde Baru mengembangkan proyek kebudayaan yang menekankan pada praktek-praktek budaya tradisional. Dari banyaknya budaya praktek-praktek budaya tradisional yang dikembangkan, Orde Baru mengangkat tinggi budaya Jawa sebagai budaya
105 paling dominan di antara budaya-budaya tradisional lainnya. Namun para pembuat video tidak hanya memanfaatkan budaya Jawa tetapi juga budaya populer. Upaya para pembuat menggunakan budaya populer dapat dipandang sebagai cara melawan hegemoni Orde Baru.
106 DAFTAR PUSTAKA
Barendret, Bart, and Wim van Zanten. 2002. Popular Music in Indonesia since 1998, in Particular Fusion, Indie and Islamic on Video Compact Discs and the Internet. International Council for Traditional Music.
Barthes, Roland. 1967. Elements of Semiology. USA. Jonathan Cape Ltd.