TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Kandidiasis Popok .1 Definisi .1 Definisi
2.3.7 Obat antijamur
Obat antijamur merupakan jenis obat yang digolongkan sebagai obat kemoterapi. Obat-obat yang tergolong kedalam antijamur adalah suatu golongan obat yang bersifat fungisida atau fungistatik yang dapat dipakai untuk mengobati infeksi jamur sistemik maupun lokal (Katzung et al. 2012; Lampiris, 2012).
Obat antijamur digolongkan atas obat antijamur sistemik dan antijamur topikal.
A. Antijamur Sistemik
Obat antijamur sistemik merupakan obat yang digunakan untuk mengobati infeksi jamur sistemik dan subkutan. Jenis obat antijamur sistemik adalah :
a. Amfoterisin B
Amfoterisin merupakan antibiotik makrolida polien yang diproduksi oleh Streptomyces nodosus. Amfoterisin B merupakan obat pilihan untuk mikosis sistemik yang mengancam jiwa. Obat ini kadang dikombinasi dengan flusitosin untuk mendapatkan efek yang lebih cepat untuk infeksi jamur pada cairan serebrospinal. Amfoterisin B bekerja dengan cara berikatan dengan ergosterol di plasma membran sel jamur, kemudian terbentuk pori-pori yang merusak membran plasma sel jamur sehingga elektrolit dan molekul kecil dapat keluar dari sel dan menyebabkan kematian sel. Amfoterisin B dapat bersifat fungisida maupun fungistatik
17
tergantung organisme dan konsentrasi obat. Obat ini efektif untuk berbagai jenis jamur termasuk C. albicans. Amfoterisin B memiliki efek samping yang cukup banyak karena memiliki indeks terapetik yang rendah.
Demam, menggigil, hipotensi, anemia, efek neurologis sampai gagal ginjal merupakan efek samping yang tidak diharapkan dari obat ini (Lirio et al.
2019; Katzung et al. 2012).
b. Flusitosin
Flusitosin merupakan antimetabolit pirimidin yang sering dikombinasikan dengan amfoterisin B untuk pengobatan mikosis sitemik dan meningitis oleh Cryptococcus neoformans dan C. albicans. Flusitosin masuk kedalam sel jamur melalui bantuan enzim cytosinespecif c permease. Flusitosin lalu mengalami serangkaian perubahan menjadi molekul 5-fluorodeoxyuridine 5’-monophosphate yang mirip dengan molekul nukleotida. Nukleotida palsu ini menghambat thymidylate synthase, sehingga terjadi gangguan pembententukan asam timidilik yang merupakan komponen DNA yang penting. Hal ini menyebabkan kerusakan asam nukleat dan sintesis protein terganggu. Obat ini bersifat fungistatik. Obat ini juga dikombinasi dengan itrakonazol untuk mengobati kromoblastomikosis. Efek samping yang dapat terjadi karena penggunaan obat ini antara lain neutropenia dan trombositopenia, namun bersifat reversibel (Iosifidis et al. 2018).
c. Ketokonazol
Ketokonazol merupakan azol aktif peroral yang pertama kali tersedia untuk pengobatan mikosis sistemik. Azol bersifat fungistatik dan bekerja dengan menghambat enzim C-14 α-demethylase sehingga memblok
18
demetilasi lanosterol menjadi ergosterol, sterol utama yang membentuk membran plasma sel jamur. Inhibisi ini menyebabkan kerusakan struktur membran plasma dan fungsinya sehingga menghambat pertumbuhan sel jamur. Ketokonazol oral aktif terhadap banyak jenis jamur antara lain Histoplasma, Blastomyces, Candida dan Coccidioides, namun tidak aktif terhadap Aspergillus. Itrakonazol telah banyak menggantikan ketokonazol untuk pengobatan mikosis karena spektrum obat ini lebih luas, lebih potensial dan lebih sedikit efek samping. Efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh ketokonazol adalah alergi, gangguan saluran cerna seperti mual, anoreksia dan muntah. Ginekomastia, libido menurun, dan gangguan menstruasi juga dapat terjadi. Ketokonazol bersifat teratogenik pada penelitian terhadap hewan sehingga tidak boleh diberikan pada wanita hamil (Sobel et al. 2018; Katzung et al. 2012).
d. Flukonazol
Flukonazol merupakan salah satu jenis triazol. Obat ini merupakan obat yang tidak banyak memberikan efek samping endokrin seperti ketokonazol, serta kemampuan obat ini masuk ke cairan serebrospinal juga baik. Obat ini juga digunakan sebagai profilaksis pada pasien yang mendapat transplantasi sumsum tulang. Flukonazol bekerja dengan menghambat sintesis ergosterol, sama seperti mekanisme kerja ketokonazol. Obat ini merupakan obat pilihan untuk pengobatan Cryptococcus neoformans. Obat ini efektif untuk pengobatan berbagai jenis jamur kandidiasis mukokutaneus. Efek samping dari obat ini lebih
19
19
ringan dibandingkan ketokonazol. Efek samping berupa mual, muntah dan kemerahan kulit dapat terjadi. Obat ini juga bersifat teratogenik (Katzung et al. 2012; Lampiris, 2014).
e. Itrakonazol
Itrakonazol merupakan jenis triazol, sama seperti flukonazol. Mekanisme kerjanya sama dengan jenis triazol yang lain. Itrakonazol merupakan obat pilihan untuk pengobatan blastomikosis, sporotrikosis, parakokkidioidomikosis dan histoplasmosis. Efek samping obat ini berupa mual, muntah, hipokalemia, hipertensi, edema dan sakit kepala (Lampiris, 2014).
f. Varikonazol
Varikonazol juga merupakan triazol. Obat ini memiliki spektrum antijamur yang luas. Obat ini efektif untuk pengobatan aspergillosis dan telah menggantikan amfoterisin B. Varikonazol juga efektif untuk pengobatan spesies Fusarium (Katzung et al. 2012).
B. Antijamur Topikal
Antijamur topikal merupakan obat antijamur yang digunakan untuk pengobatan infeksi jamur kulit atau sering disebut dermatofitosis. Jenis obat jamur topikal adalah :
a. Nistatin
Nistatin adalah antibiotik polien yang memiliki struktur dan mekanisme kerja menyerupai amfoterisin B. Obat ini digunakan terbatas untuk infeksi kandida karena memiliki toksisitas sitemik. Efek samping jarang dijumpai
20
21 karena obat kurang diserap di saluran cerna. Obat ini juga efektif untuk pengobatan kandidiasis oral (Katzung et al. 2012; Dadar et al. 2018).
b. Imidazol
Imidazol merupakan derivat azol. Jenis obat antijamur yang termasuk kedalamnya adalah butokonazol, klotrimazol, ekonazol, ketokonazol, mikonazol, oxikonazol, sertakonazol, sulkonazol, terkonazol dan tiokonazol. Imidazol memiliki spektrum antijamur yang luas, sehingga efektif untuk pengobatan jamur Epidermophyton, Microsporum, Trichophyton, C. albicans dan Malassezia furfur. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil pengobatan dengan imidazol ataupun dengan nistatin pada infeksi kandidasis vulva (Sobel et al. 2018; Katzung et al.
2012).
c. Alilamin
Obat golongan ini bekerja dengan menghambat enzim squalene epoxidase, sehingga terjadi hambatan biosintesis ergosterol yang merupakan komponen membran sel jamur. Jenis obat golongan alilamin antara lain terbinafin dan naftifen. Terbinafin efektif untuk pengobatan dermatofitosis, terutama onikomikosis. Naftifen efektif untuk berbagai jenis jamur seperti Trichophyton rubrum, Trichophyton mentagrophytes, Trichophyton tonsurans, dan Epidermophyton floccosum yang menyebabkan tinea (Katzung et al. 2012; Iosifidis et al. 2018).
d. Griseofulvin
Griseofulvin bekerja dengan cara menyebabkan kerusakan spindel mitosis dan menghambat mitosis sel jamur. Griseofulvin akan berakumulasi pada
22 jaringan yang berkeratin seperti kulit, sehingga efektif untuk jamur kulit dan kuku (Katzung et al. 2012; Colombo et al. 2017).