BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4) Objek hukum pidana Islam
Hukum pidana positif memiliki objek hukum yaitu perbuatan, akibat dari perbuatan, dan orang atau sekelompok orang yang melakukan perbuatan (pelaku). Bambang Poernomo mengatakan bahwa :
Delik mempunyai sifat melarang atau mengharuskan suatu perbuatan tertentu dengan ancaman pidana kepada siapa saja yang melakukannya, dan delik itu harus ditujukan kepada :
a. Memperkosa suatu kepentingan hukum atau menusuk suatu
kepentingan hukum, seperti pembunuhan, pencurian, dan sebagainya.
b. Membahayakan suatu kepentingan hukum (Bambang Poernomo,
1993: 92).
Sifat delik itu berkewajiban menjaga kepentingan hukum.
Maksudnya adalah meliputi kepentingan negara, kepentingan
masyarakat, dan kepentingan individu, dengan diperinci lebih lanjut dalam arti setiap kepentingan yang tercakup kepentingan hukum individu, masyarakat, dan negara. Apa yang dinyatakan kepentingan
commit to user
18
hukum itu selalu berubah menurut waktu dan keadaan selaras dengan kesadaran hukum di dalam masyarakat.
Hubungan antara sifat delik tersebut dan kepentingan hukum yang dilindungi akan dapat menjadi subyek delik pada umumnya yaitu manusia (een natuurlijke persoon). Vos memberikan tiga alasan mengapa hanya manusia yang dapat menjadi subjek delik, yaitu:
a. Terdapatnya rumusan yang dimulai dengan peraturan undang-undang pada umumnya, yang berarti tidak lain adalah manusia.
b. Jenis-jenis pidana pokok hanya dapat dijalankan oleh manusia.
c. Dalam hukum pidana berlaku asas kesalahan bagi seorang manusia pribadi (Vos dalam Bambang Poernomo, 1993: 92).
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas dapat diambil kesimpulan tentang apa yang menjadi objek hukum pidana. Penulis berkesimpulan bahwa yang dapat menjadi objek hukum pidana adalah :
a. Perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum. b. Orang yang melakukan perbuatan pidana. c. Akibat dari suatu perbuatan.
d. Badan hukum juga bisa dijadikan objek pidana, seperti yang dikatakan oleh Bambang Poernomo bahwa :
Perkembangan di dalam peraturan perundang-undangan hukum pidana baru ternyata bagi badan hukum dapat juga dipidana dengan penetapan sebagai tindakan, dan di dalam undang-undang fiskal dapat dipidana badan hukum dengan reele executie atas harta kekayaannya. Pada waktu sekarang ini hanya undang-undang di luar KUHP yang membuat ketentuan dapat dipidananya badan hukum, dan mungkin di kemudian hari keadaan demikian dapat berubah (Bambang Poernomo, 1993: 92).
b. Hukum pidana Islam
1) Pengertian dan pembagian hukum pidana Islam
Dalam hukum Islam, hukum pidana disebut jinayat yang berarti kesalahan, dosa, kriminal, atau perbuatan dosa. Sedangkan jarimah
berarti dosa atau durhaka (H. Mahmud Yunus, 1973: 87). Pengertian jinayat menurut para fuqoha adalah “perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara’ baik mengenai jiwa, harta, atau lainnya. Sedangkan
commit to user
19
pengertian jarimah adalah larangan-larangan syara’ yang diancam dengan hukuman had atau ta’zir” (Marsum, 1984: 1-2). Dalam jinayat tidak dikenal adanya pembagian seperti dalam hukum pidana positif. Jinayat mengenal pembagian hukum berdasarkan cara meninjaunya, yaitu : a. Dilihat dari segi berat ringannya hukuman, jarimah dibagi menjadi
empat yaitu jarimah qishas, jarimah hudud, jarimah diyat, dan
jarimah ta’zir.
b. Dilihat dari segi niat pelakunya, jarimah dibagi dua yaitu jarimah
sengaja dan jarimah tidak sengaja.
c. Dilihat dari segi cara melakukannya, jarimah dibagi menjadi jarimah
positif dan jarimah negatif.
d. Dilihat dari orang yang menjadi korban akibat perbuatan, jarimah
dibagi menjadi jarimah perseorangan dan jarimah kelompok.
e. Dilihat dari segi tabiatnya yang khusus, jarimah dibagi menjadi
jarimah biasa dan jarimah politik (Mardani, 2010: 114-115).
Untuk lebih jelasnya jenis-jenis jarimah tersebut dijelaskan sebagai berikut :
1. Menurut berat ringannya hukuman a. Jarimah hudud
Secara terminologis, pengertian hudud (had) adalah :
Hukuman yang telah ditentukan sebagai hak Allah SWT. Dan arti uqubah muqaddarah adalah bahwa hukuman telah dibatasi, ditentukan, tidak ada pada hukuman itu batasan terendah dan batasan tertinggi. Artinya bahwa hukuman itu adalah hak Allah dan bahwa hukuman itu tidak bisa digugurkan oleh individu-individu dan tidak pula oleh jama’ah (Abd al-Qadir ‘Audah dalam Mardani, 2010: 115).
Hukuman yang termasuk hak Tuhan adalah setiap hukuman yang dikehendaki oleh kepentingan umum (masyarakat) seperti untuk memelihara ketentraman dan keamanan masyarakat dan manfaat penjatuhan hukuman tersebut akan dirasakan oleh seluruh masyarakat. Jarimah yang termasuk hak Allah itu ada tujuh yaitu zina, qadzaf (menuduh berbuat zina), meminum minuman keras, mencuri, harabah
(perampokan), murtad, dan al-bagyu atau pemberontakan (Mardani, 2010: 116).
b. Jarimah qishash dan diyat
“Pengertian qishash secara etimilogis adalah balasan dan perbuatan yang sama seperti yng seorang perbuat. Sedangkan
commit to user
20
pengertian diyat secara etimologis adalah denda” (Lowis Ma’luf dalam Mardani, 2010: 116). Sedangkan pengertian qishash dan diyat secara terminologis adalah :
Jarimah qishash dan diyat adalah tindak pidana yang diancam dengan hukuman qishash dan diyat. Setiap qishash dan diyat mempunyai hukuman yang telah ditentukan sebagai hak perorangan. Maksud muqaddarah (hukuman yang telah ditentukan) adalah bahwa qishash dan diyat mempunyai satu batasan, tidak ada baginya batasan tertinggi dan batasan terendah yang fleksibel antara keduanya. Maksud qishash dan diyat sebagai hak perorangan adalah bahwa si korban berhak memaafkan pelaku tindak pidana bila ia menghendaki. Apalagi ia telah memaafkan, maka gugurlah hukuman (Lowis Ma’luf dalam Mardani, 2010: 116-117).
Jarimah qishash dan diyat ada lima yaitu : a. Pembunuhan sengaja
b. Pembunuhan semi sengaja c. Pembunuhan tidak sengaja d. Penganiayaan sengaja e. Penganiayaan tidak sengaja
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa walaupun qishash telah ditentukan hukuman hukumnya oleh Allah SWT, tapi qishash juga merupakan hak individu yang apabila korban memaafkan maka gugurlah hukuman hukumnya (Mardani, 2010: 117).
c. Jarimah ta’zir
“Secara etimologis, ta’zir berasal dari kata ‘azzara
yuaziru ta’ziran, yang artinya mencegah dan menolak atau
mendidik dan memukul dengan sangat (Lowis Ma’luf dalam Mardani, 2010:117).” Secara terminologis ta’zir diartikan sebagai :
Hukuman pendidikan yang dijatuhkan hakim terhadap tindak pidana atau maksiat yang belum ditentukan hukumannya oleh syari’at, atau telah ditentukan hukumannya, akan tetapi tidak terpenuhi syarat pelaksanaannya seperti: bercumbu selain faraj, dan mencuri yang tidak terpenuhi syarat untuk pemotongan tangan (Sayid Sabiq dalam Mardani, 2010: 118).
Abu Ishaq al-Siraji mendefinisikan ta’zir sebagai hukuman yang tidak ditentukan oleh Al-Qur’an dan Hadis yang berkaitan dengan kejahatan yang melanggar hak Allah
commit to user
21
dan hak hamba yang berfungsi untuk memberi pelajaran kepada terpidana dan mencegahnya untuk tidak mengulangi lagi kejahatan itu (Abu Ishaq Al-Shiraji dalam Mardani, 2010: 118).
Dengan demikian tujuan hukuman ta’zir itu bersifat
preventif (pencegahan), represif (diharapkan dapat
memberikan dampak positif bagi terpidana), kuratif
(diharapkan mampu membawa perbaikan sikap dan perilaku terpidana di kemudian hari), dan edukatif (diharapkan dapat menyembuhkan hasrat terpidana untuk mengubah pola hidupnya ke arah yang lebih baik).
Syara’ tidak menentukan macam-macam hukuman untuk tiap-tiap jarimah ta’zir, tetapi hanya menyebutkan sekumpulan hukuman, dari yang seringan-ringannya sampai yang seberat-beratnya. Dalam hal ini hakim diberi kebebasan untuk memilih hukuman mana yang sesuai dengan macam jarimah ta’zir serta keadaan pelakunya. Jadi hukuman jarimah ta’zir tidak mempunyai batasan tertentu.
Juga jenis jarimah ta’zir tidak ditentukan banyaknya, sedang pada jarimah-jarimah qishash-diyat dan jarimah hudud sudah ditentukan dan memang jarimah ta’zir tidak mungkin ditentukan jumlahnya. Syara’ hanya menentukan sebagian jarimah-jarimah ta’zir yaitu perbuatan yang selamanya akan tetap dianggap sebagai jarimah seperti riba, menggelapkan titipan, memaki-maki orang, penyuapan dan sebagainya, sedang sebagian besar dari jarimah-jarimah ta’zir diserahkan kepada penguasa untuk menentukannya dengan syarat harus sesuai dengan kepentingan-kepentingan masyarakat dan tidak boleh berlawanan dengan nash-nash syara’ dan prinsip-prinsip yang umum (Ahmad Hanafi, 1967: 18).
“Dapat dikatakan bahwa maksud pemberian hak penentuan jarimah-jarimah ta’zir kepada para penguasa ialah agar mereka dapat mengatur masyarakat dan memelihara kepentingan-kepentingannya” (Mardani, 2010: 119).
2. Menurut niat pelaku a. Jarimah sengaja
“Jarimah sengaja yaitu pelaku tindak pidana dengan sengaja melakukan perbuatan yang diharamkan dan ia tahu bahwa perbuatan itu diharamkan. Dan inilah makna umum jarimah sengaja” (Abd al-Qaadir ‘Audah dalam Mardani,
commit to user
22
2010: 119). Pada jarimah pembunuhan mempunyai arti khusus yaitu “sengaja mengerjakan perbuatan yang dilarang dan memang akibat perbuatan itu dikehendaki pula. Kalau pelaku
tindak pidana dengan sengaja berbuat tetapi tidak
menghendaki akibat-akibat perbuatannya itu, maka disebut pembunuhan semi sengaja” (Abd al-Qaadir ‘Audah dalam Mardani, 2010: 120).
b. Jarimah tidak sengaja
“Jarimah tidak sengaja yaitu pelaku tindak pidana tidak sengaja mengerjakan perbutan yang dilarang, akan tetapi perbuatan tersebut menjadi kekeliruannya” (Abd al-Qaadir ‘Audah dalam Mardani, 2010: 120).
3. Menurut cara mengerjakannya yaitu jarimah positif dan jarimah negatif
Jarimah positif terjadi karena mengerjakan sesuatu perbuatan yang dilarang seperti mencuri, zina, dan memukul. Jarimah negatif terjadi karena tidak mengerjakan sesuatu perbuatan yang diperintahkan, seperti seorang saksi tidak melaksanakan persaksiannya dan seseorang tidak mengeluarkan zakat. Kebanyakan jarmah terdiri dari jarimah positif dan sedikit sekali yang berupa jarimah negatif (Abd al-Qaadir ‘Audah dalam Mardani, 2010: 121).
Para fuqoha sepakat pendapatnya bahwa jarimah positif bisa terjadi dengan jalan tidak berbuat (negatif) dan pelakunya dijatuhi hukuman karenanya. Seperti menahan orang lain dan tidak diberi makan atau minum, sehingga mati karena lapar dan haus. Maka penahanan tersebut dianggap pembunuhan dengan sengaja, kalau dengan tidak memberinya makan atau minum itu untuk membunuhnya. Begitu pendapat Imam Malik, Syafi’i, dan Ahmad (Mardani, 2010: 121).
Akan tetapi menurut Imam Abu Hanifah, perbuatan tersebut tidak digolongkan kepada pembunuhan, karena kematian terjadi sebagai akibat lapar atau haus, bukan akibat penahanan sedang lapar dan haus tidak ada orang yang memperbuatnya. Sedangkan imam Abu Yusuf dan imam Muhammad bin Hasan (kedua-duanya murid imam Abu Hanifah) menggolongkan penahanan tersebut sebagai pembunuhan sengaja, karena manusia tidak bisa tahan hidup tanpa makan dan minum. Jadi menahan makanan dan
commit to user
23
minuman pada waktu terjadi lapar dan haus berarti membunuh juga (Mardani, 2010: 121-122).
Dari contoh-contoh yang dikemukakan para fuqoha, nampaknya orang yang tidak berbuat, tidak dikenakan akibat sikapnya itu kecuali kalau menurut pandngan syara’ dan ‘urf
(kebiasaan) seharusnya orang tersebut tidak bersikap demikian (seharusnya berbuat). Kalau syara’ dan kebiasaan menjadi dasar, maka sudah barang tentu akan terdapat perbedaan pendapat, selama segi tinjauan orang berbeda-beda. Misalnya menurut para fuqoha Hambali, seseorang yang sanggup menolong orang lain dari suatu malapetaka, seperti api ataau binatang buas, akan tetapi orang tersebut tidak mau menolongnya, sehingga orang lain tersebut mati maka orang yang dapat menolong itu tidak dapat dituntut. Akan tetapi menurut golongan Hanabilah lain, orang tersebut dapat dituntut. Dasar perbedaan pendapat tersebut ialah apakah menolong tersebut wajib atau tidak (Mardani, 2010: 122). 4. Menurut segi orang yang menjadi korban yaitu jarimah keompok
(masyarakat) dan jarimah perseorangan
Jarimah-jarimah yang mengenai had masyarakat ialah suatu jarimah yang hukuman hukumnya disyaari’atkan untuk menjaga kemashlahatan jama’ah (masyarakat), baik jarimah tersebut mengenai perorangan atau mengenai jamaah ataupun mengenai keamanan dan ketertiban jamaah. Menurut para fuqoha, hukuman jarimah macam ini disyariatkan sebagai hak Allah SWT. Artinya secara istilah, bahwa hukuman disyari’atkan untuk menhaaga jamaah, akan tetapi menjadikan hukuman itu sebagai hak Allah SWT, sebagai isyarat tidak adanya pengampunan, keringanan, tau menunda pelaksanaannya. Jarimah yang mengenai perorangan adalah suatu jarimah yang hukuman hukumnya disyari’atkan untuk menjaga kemashlahatan perorangan. Meskipun apa yang menyentuh kemashlahatan perorangan itu bisa terjadi menyentuh kemashlahatan jamaah (Abd al-Qaadir ‘Audah dalam Mardani, 2010: 123).
Jarimah hudud termasuk jarimah masyarakat, meskipun pada gaalibnya lebih banyak mengenai perseorangan seperti mencuri dan menuduh orang lain berbuat zina. Penggolongan kepada jarimah masyarakat, tidak berarti pula bahwa kerugian dari perseorangan tidak masuk dalam pertimbangan, melainkan sekedar menguatkan kepentingan masyarakat atas kepentingan perseorangan, sehingga oleh karena itu apabila orang yang menjadi korban memberikan pengampunan, maka pengampunan ini tidak ada pengaruhnya terhadap penjatuhan hukuman (Mardani, 2010: 123).
commit to user
24
Jarimah qishash diyat termasuk jarimah perseorangaan. Hal ini tidak berarti bahwa masyarakat tidak dirugikan oleh adanya jarmah tersebut, melainkan sekedar lebih menguatkan hak perseorangan atas hak masyarakat. Oleh karena itu maka orang yang menjadi korban dari jarimah tersebut dapat menghapuskan hukuman-hukuman qishash sebagai hukuman-hukuman pokok untuk jarimah-jarimah qishash diyat. Hak penghapusan hukuman-hukuman bahwa jarimah-jarimah tersebut menyinggung haknya dengan langsung. Meskipun sudah dihapuskan dari pihaknya, namun hal ini tidak berarti bahwa si pembuat bebas sam sekali dari hukuman sebab ia bisa dijatuhi hukuman ta’zir, dengan maksud untuk memelihara hak masyarakat yng telah dirugikan oleh pembuat tersebut dengan tidak langsung (Mardani, 2010: 123-124).
5. Menurut tabiatnya yang khusus yaitu jarimah biasa dan jarimah politik
Syari’at Islam mengadakan pemisahan antara jarimah biasa dan jarimah politik. Pemisahan tersebut didasarkan atas kemashlahatan dan ketertiban msyarakat erta atas pemeliharaan sendi-sendinya. Oleh karena itu tidak setiap jarimah yng diperbuat untuk tujuan-tujuan politik dapa disebut jarimah politik, meskipun kadang-kadang ada jarimah biasa yang diperbuat dalam suasana politik tertentu bisa digolongkan kepada jarimah politik. Sebenarnya corak kedua macam jarimah tersebut tidak berbeda, baik mengenai macam maupun cara memperbuatnya. Perbedaan antara keduanya terletak pada motif (Mardani, 2010: 124).
Ketentuan ini didasarkan atas kejadian sejarah, yaitu pembunuhan khalifah Ali bin Abi Thalib oleh seorang bernama Abdurrahman bin Muljam, untuk maksud-maksud politik. Khalifah Ali berkata kepada al-Hasan, putranya, sebagai berikut: “tawanlah dia baik-baik,kalaau saya hidup, maka akulah yang berkuasa atas jiwaku, dan kalau aku mati, maka bunuhlah dia seperti dia membunuh aku” (Ahmad Hanafi, 1967: 18).
Dari kata-kata tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa khalifah Ali ra. memandang perbuatan Abdurrahman tersebut sebagai pembunuhan biasa, tentunya ia tidak akan menyatakan bahwa dirinya berkuasa atas jiwanya, yang berarti bisa mengambil hukuman qishash dan bisa pula memaafkannya, dan tentunya tidak minta kepada putranya untuk mengambil qishashnya yaitu dibunuh pula.
Jarimah politik baru terdapat dalam keadaan luar biasa, tegasnya dalam keadaan pemberontakan atau perang saudara. Kalau terjadi peperangan antara sebagian rakyat dengan negara, atau apabila ada sebagian rakyat memberontak kepada negara,
commit to user
25
maka baru terdapaat jarimah politik asal pada rakyat yang memberontak tersebut terdapat syarat-syarat tertentu. Boleh jadi syarat-syarat ini sudah terdapat tapi suasananya bukan suasana pemberontakan atau suasana perang. Maka jarimah yang diperbuat bukan jarimah politik, melainkan terjadi jarimah biasa (Mardani, 2010: 125).
Di kalangan fuqoha, jarimah politik disebut al-baghyu atau pelakunya disebut al-bughat atau fa’il al bughyah. Bughat ialah orang-orang yang memberontak kepada imam (penguasa negara) berdasarkan ta’wil (alasan) tertentu dan mereka mempunyai kekuatan dan senjata, atau segolongan kaum muslimin yang menentang penguasa negara tertinggi (al-imam al-‘a’dham), atau wakilnya (Abd al-Qadir ‘Audah dalam Mardani, 2010: 125). Perbuatan menentang penguasa negara karena dua hal :
a. Tidak mau melaksanakan sesuatu kewajiban seperti zakat, atau sesuatu hukum syara’ yang berhubungan dengan hak Tuhan atau manusia, atau tidak mau menyatakan setia atau tunduk kepada penguasa tertinggi tersebut dengan mengeluarkan tangan untuk berjabat
tangan bagi orang yang dekat, atau dengan
memberitahukan demikian kepada orang lain, bagi orang yang tinggal jauh, kalau orang yang dekat atau berjauhan itu tergolong terkemuka (ahlu halli wa
al-‘aqdi).
b. Hendak mencopot penguasa tertinggi karena dipandang
telah menyeleweng. Kalau golongan yang berontak disebut al-bughat, maka golongan lain yang dilawan disebut ‘ahlu al-‘adli.
Tentang syarat-syarat yang harus terdapat pada golongan yang memberontak untuk dapat disebut sebagai bughat maka ada tiga macam :
a. Tujuan, yakni harus mempunyai tujuan tertentu yaitu kehendak mencopot kepala negara atau badan eksekutif atau tidak hendak tunduk kepadanya. Kalau tujuan tersebut terpenuhi, dengan ditambah syarat-syarat lain, maka jarimah yang dilakukan adalah jarimah politik. Kalau tujuan jarimah ialah hendak mengadakan
perubahan-perubahan yang berlawanan dengan
ketentuan-ketentuan syari’at Islam, atau hendak
menyiapkan jalan bagi kekuasaan negara asing, atau hendak melemahkan kedudukan negeri sendiri di mata negara lain, maka jarimah yng diperbuat untuk maksud tersebut tidak disebut pemberontakan, melainkan disebut perusakan (‘ifsad) dan tantangan terhadap tuhan serta Rasul-Nya, dimana untuk perbuatan tersebut diancam hukuman yang berat.
commit to user
26
b. Alasan, yakni, pembuat jarimah politik harus
mempunyai alasan, yaitu mengemukakan alasan pemberontakannya serta dalil-dalil kebenaran pendirian mereka, meskipun dalil itu sendiri lemah. Seperti alasan golongan yang memberontak terhadap khalifah Ali ra. dengan mengatakan bahwa ia ssebenarnya mengetahui pembunuhan khalifah Ustman ra. dan ia tidak mau bertindak karena sudah ada kesepakatan sebelumnya.
Kalau golongan yang memberontak tidak
mengenukakan alasan bagi perbuatannya, atau
mengemukakan alasan yang tidak dibenarkan oleh syara’ sama sekali, seperti minta pencopotan kepla negara tanpa menyebutkan kesalahan-kesalahannya, atau dengan alasan bahwa ia bukan kaawan senegerinya atau sesukunya, maka mereka digolongkan kepada pengrusak yang mempunyai hubungan sendiri, dan mereka bukan pembuat jarimah politik.
c. Suasna pemberontkaan dan perang. Untuk digolongkan kepada jarimaah politik, maka suatu perbuatan harus dilakukan dalm keadaan pemberontakan atau perang saudra yang dikorbankan untuk mewujudkan maksud-maksud jariah. Kalau perbuatan tersebut tidak dilakukan dalam keadaan pemberontakan atau perang saudara,
maka dipandang sebagai jarimah biasa, dan
hukumannya juga biasa.
Ketentuan tersebut diambil dari peristiwa sejarah, yaitu ketika sudah mulai nampak tanda-tanda munculnya golongan khawarij yang memberontak kepada khalifah Ali ra. ketika ia tengah berpidato dari suatu mimbar, maka segolongan orang-orang khawarij menyela-nyela pidatonya sambil berkata: “Hanya Tuhan yang berhak memutuskan.” Dengan kata-kata ini mereka bermaksud mengeritik khalifah Ali ra. karena mau berdamai dengan sahabat Muawiyah dan golongannya, dengan perantaraan para pendamai. Menurut mereka, seharusnya ia tidak boleh tunduk padaa keputusan itu.
Maka dari mibar ini pula khalifah Ali ra. menjawab ssebagai berikut: “Kata-kata itu benar tetapi dipakai untuk maksud yang salah. Engkau sekalian mempunyai hak atas kami dalam tiga perkara; pertama, kami tidak melarang masjid-masjid Tuhan bagimu untuk mengagungkan namanya; kedua, kami tidak akan memulai berperang dengan engkau sekalian; ketiga, kami tidak akan melarang akan engkau sekalian bersama-sama kami yakni selama tidak memberontak terhadap kami” (Ahmad Hanafi, 1967: 21).
Hukuman jarimah politik dapat berbeda-beda, menurut perbedaan keadaan dimana jarimah itu terjadi. Jrimah-jarimah
commit to user
27
yang dilakukan dalam suasana pemberontakan atau perang, maka dapat dibagi kepada dua, yaitu jarimah yang diperlukan oleh suasana tersebut, dan jarimah-jarimah lain yang tidak ada sangkut pautnya dengn keperluan pemberontakan dan perang. Contoh jarimah macam pertama adalah menganiaya orang-orang pemerintahan yang ditentang dan membunuhnya. Menguasai harta benda negara, merusak jalan-jalan dan jembatan-jembatan, membakar gedung-gedung dan gudang-gudang musium, daan
perbuatan-perbuatan lain yang diperlukan oleh strategi
pertempuran (Mardani, 2010: 128).
Terhadap perbuatan-perbuatan tersebut syara’
memperbolehkan membunuh mereka dan merampas harta bendanya sekedar untuk menumpas gerakan mereka. Kalau negara (golongan yang menjadi sasaran pemberontakan) sudah dapat menguasai mereka, dan merekapun telah meletakkan jabatannya maka jiwa dan harga diri mereka tidak boleh diganggu. Kemudian penguasa negara bisa mengampuni mereka atau menjatuhkan hukuman ta’zir atas mereka, karena alasan penyelewengan mereka, bukan karena jarimah-jarimah yang mereeka lakukan selama melakukan penyelewengan. Hukuman bagi mereka adalah hukuman ta’zir, dan hukuman ini bersifat politik. Terhadap jarimah-jarimah yang dilakukan karena diperlukan pemberontakan dan peperangan, maka dikenakan hukuman mati dengan syarat tersebut di atas (Ahmad Hanafi, 1967: 22).
Adapun jarimah yang dilakukan selama pemberontakan dan peperangan, tetapi sebenarnya tidak diperlukan oleh suasana pemberontakan dan peperangan, maka dianggap jarimah biasa seperti zina, membunuh, ata mencuri (Mardani, 2010; 128). 2) Tujuan hukum pidana Islam
Secara global, tujuan syara’ dalam menetapkan hukuman adalah untuk kemashlahatan manusia seluruhnya baik di dunia maupun akherat. Pengertian pencegahan ialah menahan pembuat agar tidak mengulangi perbuatan jarimahnya atau agar ia tidak terus-menerus melakukannya, disamping pencegahan terhadap orang lain selain pembuat agar tidak melakukan jarimah, sebab ia bisa mengetahui bahwa hukuman yang dikenakan terhadap orang yang melakukan perbuatan yang sama. Dengan demikian maka fungsi pencegahan adalah rangkap, yaitu menahan pelaku untuk tidak mengulangi perbuatannya dan menahan orang lain untuk tidak melakukan dan menjauhkan diri dari perbuatan jarimah (Ismail Muhammad Syah, 1992: 65).
Dalam hal ini Marsum mengatakan “perbuatan yang diancam hukuman itu mungkin karena mengabaikan perintah wajib dan mungkin
commit to user
28
juga melanggar larangan. Arti pencegahan pada peristiwa yang pertama adalah supaya si berbuat mau melakukan kewajiban, dan pada peristiwa