• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5 Teknik Pengumpulan Data

3.5.1 Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan jalan pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif dan rasional mengenai berbagai fenomena, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun buatan, untuk mencapai tujuan tertentu (Arifin, 2011: 231). Observasi dilaksanakan pada pembelajaran di kelas IV SDN Perumnas Condongcatur. Aspek yang diobservasi ketika pembelajaran di kelas IV adalah penggunaan LKS dan pembelajaran yang dilakukan guru.

3.5.2 Wawancara

Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab, baik langsung maupun tidak langsung dengan responden untuk mencapai tujuan tertentu (Arifin, 2011: 233). Wawancara digunakan untuk mengumpulkan data yang bersifat kualitatif (Sanjaya, 2014: 263). Wawancara ditujukan kepada beberapa narasumber yaitu Kepala Sekolah, Guru kelas IV dan siswa kelas IV.

Data yang dikumpulkan melalui wawancara dengan kepala sekolah adalah informasi terkait kurikulum yang digunakan SDN Perumnas Condongcatur, wawancara kepada guru kelas IV adalah informasi terkait penggunaan LKS dan pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik di SDN Perumnas Condongcatur. Wawancara kepada siswa kelas IV dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai LKS dan pembelajaran sehari-hari di kelas.

3.5.3 Kuesioner

Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan/pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2014: 193).Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan kuesioner dalam beberapa hal yaitu analisis kebutuhan dan validasi produk. Kuesioner analisis kebutuhan diberikan kepada guru dan siswa kelas IV SDN Perumnas Condongcatur untuk menganalisis kebutuhan terkait LKS dan pendekatan saintifik. Kuesioner validasi produk ditujukan kepada ahli-ahli untuk menilai kelayakan LKS yang dibuat.Selain kepada para ahli, kuesioner validasi produk juga diberikan kepada siswa untuk menilai kelayakan LKS yang dibuat.

3.5.4 Tes

Teknik pengumpulan data menggunakan tes bertujuan untuk mengukur kemampuan dasar dan pencapaian prestasi (Arikunto, 2006: 223). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pretest dan posttest. Pretest dan posttest tersebut digunakan untuk mengetahui prestasi belajar siswa sebelum dan setelah menggunakan LKS dalam uji coba terbatas. Pretest dilakukan sebelum uji coba terbatas dan posttest dilakukan setelah uji coba terbatas.

3.6 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian (Sanjaya, 2014: 247). Peneliti menggunakan beberapa instrumen di antaranya adalah kuesioner, pedoman wawancara, dan matriks triangulasi untuk teknik nontes dan soal pretest-postest untuk teknik tes.

3.6.1 Pedoman Observasi

Observasi dilaksanakan pada pembelajaran IPA kelas IV SDN Perumnas Condongcatur dan penerapan pendekatan saintifik serta penggunaan LKS IPA. Aspek yang di observasi ketika pembelajaran IPA kelas IV adalah ketersediaan LKS IPA, pelaksanaan lima tahapan pendekatan saintifik, dan partisipasi siswa. Peneliti mencatat hal-hal ynag berkaitan dengan aspek yang diobservasi setiap rentang waktu tertentu. Kisi-kisi observasi pembelajaran IPA kelas IV dapat dilihat pada tabel 3.1.

Tabel 3.1 Kisi-kisi Observasi Pembelajaran IPA kelas IV No Kisi-kisi Observasi

1 Ketersediaan LKS IPA untuk mengajar

2 Kesulitan belajar yang dialami siswa dalam mengikuti 5 tahapan pendekatan saintifik pada pembelajaran IPA 3 Partisipasi siswa dalam mengikuti

praktikum IPA

Pedoman observasi telah divalidasi oleh guru SD. Uji validitas pada instrumen non tes yang digunakan untuk mengukur sikap adalah validitas konstruk (Sugiyono, 2014: 170). Validitas konstruk mengacu pada sejauh mana suatu instrumen mengukur konsep dari suatu teori yaitu menjadi dasar penyusunan instrumen (Widoyoko, 2012: 145). Karena itu, pedoman observasi tersebut diuji dengan uji validitas konstruk. Selan itu, peneliti juga menggunakan pendapat para ahli (expert judgement) untuk meminta pendapat tentang instrumen yang telah disusun. Melalui validasi konstruk yang dilakukan oleh ahli tersebut, diperoleh

hasil rerata skor validasi pedoman observasi. Hasil validasi pedoman observasi dapat dilihat pada lampiran.

3.6.2 Pedoman Wawancara

Wawancara ditujukan kepada beberapa narasumber yaitu kepala Sekolah SDN Perumnas Condongcatur, Guru kelas IV dan siswa kelas IV. Wawancara yang dilakukan bertujuan untuk menganalisis kebutuhan LKS IPA berbasis pendekatan saintifik.

3.6.2.1 Wawancara Kepala Sekolah

Pengumpulan data melalui wawancara yang pertama ditujukan kepada kepala SDN Perumnas Condongcatur. Teknik wawancara yang dipilih adalah teknik wawancara terencana-tidak terstruktur sehingga peneliti hanya menyusun rencara wawancara, tetapi tidak menggunakan format dengan urutan yang baku (Yusuf, 2014: 377). Adapun rencana wawancara dengan kepala sekolah, dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3.2Kisi-kisi Pedoman Wawancara Kepala Sekolah

No. Topik Pertanyaan

1. Informasi berkaitan dengan sekolah:

a. Kurikulum yang digunakan di sekolah b. Jumlah siswa kelas IV

2. Ketersediaan LKS di Sekolah

a. LKS yang sudah ada di sekolah

b. LKS yang pernah dikembangkan oleh guru di sekolah c. Pengadaan LKS IPA berbasis pendekatan saintifik di sekolah 3. Penggunaan LKS IPA dalam pembelajaran

4. Penelitian yang pernah dilakukan di sekolah berkaitan dengan LKS Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah, peneliti mendapatkan informasi bahwa di sekolah tersebut telah menggunakan kurikulum 2013.Ketersediaan LKS pada setiap matapelajaran juga sudah lengkap, namun LKS yang digunakan yaitu berupa LKS yang berisi dengan materi dan soal- soal.Selain itu LKS yang digunakan belum memuat tahapan saintifik.

3.6.2.2 Wawancara Guru Kelas IV

Kegiatan wawancara yang kedua ditujukan kepada guru kelas IV. Wawancara yang dilakukan menggunakan teknik wawancara terencana tidak

terstruktur. Adapun rencana wawancara dengan guru kelas IV dapat dilihat pada tabel 3.2.

Tabel 3.3Kisi-kisi Pedoman wawancara kepada Guru Kelas IV

No Topik Pertanyaan No.

Pertanyaan

1 Pemahaman guru tentang pendekatan saintifik 1 dan 2

2 Pelaksanaan lima langkah pendekatan saintifik di pembelajaran 3 dan 4 3 Kesulitan yang dihadapi guru dalam implementasi pendekatan

saintifik

5 4 Kesulitan siswa mengikuti lima langkah pendekatan saintifik 6 5 Manfaat bagi siswa setelah menerapkan pembelajaran saintifik 7

Dari hasil wawancara dengan guru kelas IV, peneliti mendapatkan informasi tentang pendekatan yang digunakan pada setiap pembelajaran khususnya pada pembelajaran IPA. Pemahaman guru mengenai pendekatan saintifik masih kurang, pada proses pembelajaran guru belum menerapkan lima tahapan pendekatan saintifik secara keseluruhan.

3.6.2.3 Wawancara Siswa Kelas IV

Selain kepada guru kelas IV, kegiatan wawancara juga ditujukan kepada siswa kelas IV. Wawancara yang dilakukan menggunakan teknik wawancara terencana-tidak terstruktur.Adapun rencana wawancara dengan siswa kelas IV dapat dilihat pada tabel 3.3 di bawah ini.

Tabel 3.4 Pedoman wawancara kepada siswa kelas IV

No. Pertanyaan

1. Warna apa yang paling kamu sukai? 2. Mengapa kamu menyukai warna tersebut? 3. Gambar apa yang kamu sukai?

4. Kamu menyukai LKS yang seperti apa? a. Bergambar

b. Soal-soal c. Berwarna

5. Apakah LKS membantumu dalam memahami materi yang diberikan oleh guru?

7. Ukuran huruf pada LKS yang kamu sukai seperti apa? (besar, sedang, atau kecil)

8. Apakah bahasa yang digunakan dalam LKS mudah dipahami? 9. Apakah kamu memahami petunjuk yang ada dalam LKS?

Dari hasil wawancara siswa kelas IV, peneliti mendapatkan informasi mengenai LKS yang disukai oleh siswa. Secara keseluruhan siswa menyukai LKS yang bergambar, berwarna, serta terdapat kegiatan-kegiatan yang menuntun siswa untuk melakukan percobaan. Selain itu siswa juga menyukai bentuk LKS yang divariasi dengan bentuk huruf yang menarik dan berukuran sedang serta bahasa yang mudah dipahami.

Pedoman wawancara tersebut telah divalidasi oleh guru SD dan para ahli (expert judgment). Instrumen tersebut divalidasi agar dapat digunakan untuk mengumpulkan data yang valid selama penelitian. Uji Validitas pada instrumen non tes yang digunakan untuk mengukur sikap adalah validitas konstruk (Sugiyono, 2014: 170). Validitas konstruk mengacu pada sejauh mana suatu instrumen mengukur konsep dari suatu teori yaitu menjadi dasar penyusunan instrumen (Widoyoko, 2012: 145). Karena itu, pedoman wawancara tersebut diuji dengan uji validitas konstruk. Selan itu, peneliti juga menggunakan pendapat para ahli (expert judgement) untuk meminta pendapat tentang instrumen yang telah disusun. Melalui validasi konstruk yang dilakukan oleh guru SD dan ahli, diperoleh hasil rerata skor validasi pedoman wawancara. Hasil validasi pedoman wawancara guru dan siswa dapat dilihat pada lampiran.

Dokumen terkait