• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4. Observasi

Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian yang berkaitan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.4

E. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini, yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah berupa instrumen yang bersifat mengukur (angket), karena berisi pernyataan-pernyataan dengan alternatif jawaban yang memiliki standar jawaban tertentu. Di samping itu, untuk mendapatkan data penunjang kesimpulan yang diharapkan diakhir penelitian ini, digunakan instrumen non tes pedoman wawancara dan dokumen-dokumen pembelajaran.

1. Kuesioner

Kuesioner digunakan untuk mengetahui sejauh mana guru dan siswa dalam pengimplementasian pembelajaran inkuiri. Dalam penelitian ini, kuesioner yang digunakan adalah kuesioner bentuk check list.

2. Pedoman Wawancara

Wawancara berisikan pertanyaan yang diajukan kepada guru dan siswa setelah peneliti memberikan kuesioner untuk memperoleh data lebih lengkap.

3. Dokumentasi

Dokumen-dokumen berupa RPP dan LKS yang digunakan dalam pembelajaran inkuiri untuk dibandingkan dan disesuaikan dengan hasil observasi dan kuesioner.

4

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, (Bandung: Alfabeta, 2010), cet. Ke 11, h. 203.

4. Observasi

Observasi ini berupa lembar observasi yang dilakukan untuk mendukung data-data yang didapat serta menjadi salah satu bukti dan pengamatan dalam penggunaan pendekatan inkuiri yang digunakan di sekolah.

F. Prosedur Penelitian

Secara garis besar penelitian yang dilakukan dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:

1. Tahap persiapan, meliputi :

a. Studi literatur untuk merumuskan masalah

b. Penyusunan proposal penelitian kemudian diseminarkan

c. Perbaikan proposal penelitian kemudian mendapatkan dosen pembimbing

d. Menyusun instrument penelitian berupa lembar kuesioner ( diadopsi dari jurnal penelitian Todd Campbell, Nor Hashidah Abd-Hamid, Heather Chapman)

e. Meminta pertimbangan instrument penelitian kepada dosen pembimbing dan pakar bahasa di pusat bahasa UIN

f. Melakukan uji instrument dengan menyebar 28 buah kuesioner. Hal ini dilakukan agar kuesioner yang akan disebarkan sesuai dengan data yang ingin diperoleh dari lapangan dan juga sekaligus untuk mendapatkan masukan mengenai kuesioner itu sendiri, apakah ada bahasa yang sulit dimengerti oleh responden atau tidak.

g. Setelah uji instrument pertama kemudian instrument diujikan kembali di sekolah lain untuk memperoleh data yang dianggap valid dan reliable.

2. Tahap pelaksanaan, meliputi:

a. Melakukan observasi ke MA Negeri di Jakarta Selatan untuk mendapatkan izin penelitian dan informasi mengenai penggunaan pendekatan pembelajaran yang digunakan di sekolah tersebut.

b. Pengambilan sample dilakukan untuk menentukan kelas mana yang akan dijadikan sebagai objek penelitian dengan menggunakan teknik

random sample (acak).

c. Menyebar angket atau kuesioner kepada seluruh siswa dan guru bidang studi biologi yang menjadi objek penelitian.

d. Menganalisis hasil jawaban responden atas pernyataan dan pertanyaan dalam kuesioner.

e. Melakukan wawancara langsung dengan guru terkait dengan inkuiri yang digunakan serta wawancara dengan siswa yang dipilih sesuai kemampuan yang dimiliki, mulai dari kemampuan tinggi, sedang dan rendah.

f. Meminta data-data dokumentasi pada guru terkait dengan penyusunan RPP dan LKS yang digunakan.

3. Tahap akhir, meliputi:

a. Membandingkan dan menganalisis hasil jawaban kuesioner dengan hasil jawaban wawancara serta menilai kesesuian RPP dan LKS yang digunakan dalam penggunaan inkuiri.

b. Hasil analisis kemudian dideskripsikan secara rinci sesuai dengan fakta dan data yang didapat.

c. Hasil deskripsi diamati dan diobservasi oleh dosen pembimbing 1 dan dosen pembimbing 2.

d. Penarikan kesimpulan berdasarkan hasil deskripsi yang telah dilakukan. Penarikan kesimpulan merupakan langkah paling akhir dalam prosedur penelitian.

G. Kalibrasi Instrumen

Sebelum instrument digunakan instrument terlebih dahulu diuji coba. Data hasil uji coba dianalisis yaitu validitas instrument dan reliabilitas instrumen.

1. Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Sebuah instrument dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang hendak diukur. Sehubungan dengan itu, maka peneliti perlu melakukan uji validitas:

a. Kuesioner

Dalam penelitian ini validitas yang akan digunakan adalah validitas konstruk. Dalam hal ini, instrumen yang akan digunakan, diuji validitasnya berdasarkan pendapat ahli. Setelah melakukan validitas konstruk kemudian dilakukan validitas isi yang berkenaan dengan isi dan format dari instrumen.5 Validitas isi dilakukan dengan melakukan uji coba instrumen untuk mengetahui apakah ada pernyataan-pernyataan pada setiap indikator instrumen yang tidak dimengerti. Validitas instrumen pada penelitian ini juga diperoleh dari pakar pusat bahasa dan konsultasi dengan dosen pembimbing.

b. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara dalam penelitian ini digunakan validitas konstruk. Validitas konstruks merupakan validitas yang berkenaan dengan konstruk atau struktur dan karakteristik psikologis aspek yang akan diukur dengan instrumen.6 Untuk validitas pedoman wawancara dilakukan melalui konsultasi dosen pembimbing.

2. Reliabilitas

Reliabilitas alat penilaian adalah ketepatan atau keajegan alat tersebut dalam menilai apa yang dinilainya. Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Pengujian reliabilitas menggunakan rumus Spearman Brown.7

5 Sukmadinata, op.cit., h. 229 6 Ibid. 7 Arikunto, op.cit.,h. 223

r

11 = 2 ����

1+ ���

Keterangan :

r11 = reliabilitas instrumen

rxy = indeks korelasi antara dua belahan instrumen

Dalam menghitung reliabilitas dengan teknik ini peneliti membuat tabel analisis butir pertanyaan. Dari analisis ini skor-skor dikelompokkan menjadi dua berdasarkan belahan bagian soal. Teknik yang digunakan adalah teknik belahan awal dan akhir, adapun yang dimaksud dengan belahan pertama adalah skor butir dari butir nomor 1 sampai 15 dari 30 nomor butir, dan belahan kedua skor-skor butir separuh nomor-nomor terakhir. Setelah skor belahan pertama dikorelasikan dengan skor belahan kedua lalu dihitung reliabilitas instrument dengan rumus Spearman-Brown.

Dari hasil uji coba instrument dengan menggunakan rumus sprearman brown diperoleh reliabilitasnya adalah 0,97 termasuk kedalam criteria tinggi.

H. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian, kemudian dilakukan analisis data. Dalam hal ini, teknik analisis data yang dilakukan antara lain: 1. Data kuantitatif meliputi kuesioner, dokumentasi dan observasi dengan

criteria persentase sebagai berikut: a. 80-100 = BaikSekali

b. 66-79 = Baik c. 56-65 = Cukup d. 40-55 = Kurang e. 30-39 = KurangSekali

2. Data kualitatif meliputi hasil wawancara dengan guru dan siswa yang dideskripsikan pada masing-masing sekolah di MAN Se-Jakarta Selatan.

42

BAB IV

TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Temuan Penelitian

Temuan penelitian berupa data guru dan siswa serta perangkat pembelajaran sebagai dokumentasi yang terkait dengan penggunaan pendekatan inkuiri yang digunakan di MAN Se-Jakarta Selatan.

1. Data Guru

Data penggunaan inkuiri didapatkan berdasarkan pengumpulan data melalui kuesioner dan wawancara yang dilakukan terhadap 6 guru biologi pada setiap sekolah yakni MA A, MA B, MA C, MA D, MA E, dan MA F. a. Kuesioner

Adapun data guru yang didapat dari hasil kuesioner dapat dilihat pada tabel 4.1. di bawah ini:1

Tabel 4.1. Skor Penggunaan Inkuiri Guru dalam Pembelajaran Biologi

*)

Keterangan:

1 : Membuat pertanyaan penelitian 4 : Pengumpulan data 2 : Merancang penelitian 5 : Membuat kesimpulan 3 : Melakukan penelitian 1 Lampiran 11, h. 93. Responden Indikator* Skor

Total Persentase Kategori

1 2 3 4 5 MA A 6 7 11 9 12 45 64,3% Jarang MA B 6 7 10 9 13 45 64,3% Jarang MA C 8 9 10 14 19 60 85,7% Sering MA D 6 8 8 9 12 43 61,4% Jarang MA E 6 7 12 13 16 54 77,1% Sering MA F 8 6 8 5 14 41 58,6% Jarang Jumlah 40 44 59 59 86 288 - - Jumlah maksimal 60 60 90 90 120 420 - - Persentase 66,6% 73,3% 65,5% 65,5% 71,7% 68,5 %

Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan pendekatan inkuiri dalam pembelajaran biologi dapat dilihat bahwa untuk setiap indikator inkuiri 66,6 % guru menggunakan indikator 1 yakni guru menyuruh siswa untuk membuat pertanyaan penelitian, 73,3 % menggunakan indikator 2 yakni guru memberikan kesempatan pada siswa untuk merancang penelitian, 65,5 % menggunakan indikator 3 yakni guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan penelitian, 65,5 % menggunakan indikator 4 yakni guru memberi kesempatan untuk melakukan pengumpulan data dan 70,8 % menggunakan indikator 5 yakni guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat kesimpulan. Sedangkan dari 6 sekolah yang dijadikan objek penelitian, ada 4 guru (66,7%) menggunakan pendekatan inkuiri dengan kategori jarang dan 2 guru (33,3%) menggunakan pendekatan inkuiri dengan kategori sering. Dan rata-rata yang didapatkan sebesar 68,5 yang temasuk kategori baik.2

Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya guru sudah menerapkan inkuiri secara langsung, namun untuk penerapannya sebagian besar guru masih jarang melakukannya.

b. Hasil Wawancara

Berdasarkan hasil wawancara yang telah disajikan pada lampiran, menunjukkan bahwa guru di MAN Se-Jakarta Selatan telah memenuhi kualifikasi.Hal ini dibuktikan dengan pengalaman mengajar yang rata-rata sudah di atas 12 tahun dan pendidikan guru yang seluruhnya telah menyelesaikan program strata 1.

Dalam hal penerapan pendekataninkuiri, hasil wawancara menyatakan bahwa sebenarnya guru sudah menerapkan inkuiri, walaupun ada beberapa yang belum mengenal inkuiri.Akan tetapi, jika dilihat dari kegiatan praktikum sebenarnya guru sudah menerapkan pendekatan tersebut.Namun, jika dilihat dari penyusunan prosedur penelitian sebagian besar guru masih menggunakan inkuiri terstruktur.Kendala dalam

2

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi), (Jakarta: Bumi Aksara,2009), h. 244.

penerapan inkuiri ada beberapa aspek mulai dari kesulitan guru dalam mengkondisikan kelas, artinya siswa terkadang sangat aktif sehingga sulit diatur. Dari 6 sekolah terdapat 5 sekolah yang mengalami hal tersebut, sehingga dapat diartikan bahwa guru masih mengalami kesulitan dalam penerapan inkuiri pada saat praktikum. Selain itu, aspek ketersediaan alat dan bahan praktikum menjadi salah satu kendala dalam melaksanakan praktikum yaitu sebesar 16,7% serta kendala alokasi waktu yaitu sebanyak 50% sehingga dapat diartikan bahwa kesempatan untuk melakukan praktikum atau kegiatan inkuiri kecil.

2. Data Siswa

Data siswa yang disajikan terdiri dari data kuesioner dan data wawancara.Data ini berupa jumlah dan persentase penggunaan inkuiri yang disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.

a. Kuesioner

Adapun untuk data kuesioner terdiri dari 2 jenis kuesioner yakni kuesioner inkuiri terstruktur dan kuesioner inkuiri terbimbing.Hal ini dilakukan berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan ketika kegiatan penyelidikan berlangsung.

1) Inkuiri Terstruktur

Inkuiri terstruktur merupakan jenis inkuiri yang pembelajarannya masih membutuhkan instruksi dan prosedur penelitian yang disusun oleh guru.Maka dari itu, kuesioner tersusun dari beberapa pernyataan yang indikatornya lebih mengarah pada inkuiri terstruktur. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada guru, didapatkan bahwa sekolah yang melakukan inkuiri terstruktur antara lain MA A, MA B, MA D, MA E, dan MA F. Hal ini berdasarkan penggunaan prosedur penelitian yang diberikan guru kepada siswa dalam melakukan penelitian.Maka kuesioner yang diberikan, yakni kuesioner yang terdiri dari 5 pernyataan dengan pilihan jawaban “ya atautidak”beserta alasan pemilihan jawaban.Berikut adalah tabeljawaban kuesioner siswa yang terkait dengan penggunaan inkuiri terstruktur.

Tabel 4.2. Jawaban Kuesioner Inkuiri Terstruktur Siswa Pernyataan* MA A MA B MA D MA E MA F Jumlah Rata-rata Jumlah siswa (n) Persentase (%) Jumlah siswa (n) Persentase (%) Jumlah siswa (n) Persentase (%) Jumlah siswa (n) Persentase (%) Jumlah siswa (n) Persentase (%) (n) (%) (n) (%) 1 31 100 31 100 33 100 22 100 30 100 147 500 29,4 100 2 11 35,5 19 61,3 24 72,7 21 95,4 25 83,3 100 348,2 20 69,6 3 12 38,7 30 96,7 28 84,8 21 95,4 27 90 118 405,6 23,6 81,1 4 19 61,3 31 100 33 100 22 100 26 86,7 131 448 26,2 89,6 5 16 51,6 30 96,7 28 84,8 22 100 25 83,3 121 416,4 24,2 83,3 Jumlah 89 287,1 141 454,7 146 442,3 108 490,8 133 443,3 617 - - Rata-rata 17,8 57,4 28,2 90,9 29,2 88,5 21,6 98,2 26,6 88,7 423,6 - 84,7 *)Keterangan :

1 = Guru biologi memberikan petunjuk penyelidikan langkah demi langkah sebelum melakukan penyelidikan 2 = Penyelidikan dilakukan oleh guru biologi di depan kelas

3 = Kami membuat catatan rinci selama penyelidikan, selain data-data lain yang dikumpulkan 4 = Kami menghubungkan kesimpulan dengan pengetahuan ilmiah yang kami miliki

Berdasarkan tabel 4.2. dapat diketahui bahwa dari beberapa sekolah menunjukkan jumlah dan persentase yang hampir sama, meskipun ada beberapa menunjukkan angka yang berbeda. Untuk mempermudah mempelajari tabel 4.2. mengenai jumlah dan persentase penggunaan inkuiri terstruktur di MAN Se-Jakarta Selatan, maka data disajikan dalam gambar 4.1.

Gambar 4.1. Persentase Penggunaan Inkuiri Terstruktur

Berdasarkan gambar 4.1. di atas, dapat dilihat bahwa dari 5 sekolah MA di Jakarta Selatan, setiap sekolah memiliki persentase yang tidak jauh berbeda satu sama lain yaitu sekolah yang melakukan kegiatan inkuiri terstruktur adalah sekolah MA E dengan persentase 23%, selanjutnya sekolah MA B, MA D, dan MA F melakukan kegiatan inkuiri dengan persentase 21% dan sekolah MA A melakukan kegiatan inkuiri dengan persentase terendah yakni 14%. Jika dilihat dari persentase pada setiap pernyataan dapat dilihat pada gambar 4.2. berikut.

Gambar 4.2. Persentase Pernyataan Inkuiri Terstruktur 14%

21%

21% 23%

21%

Persentase Inkuiri Terstruktur

MA A MA B MA D MA E MA F 24% 16% 19% 21% 20%

Persentase Inkuiri Terstruktur

pernyataan 1 pernyataan 2 pernyataan 3 pernyataan 4 pernyataan 5

Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa pada pernyataan pertama yaitu guru biologi memberikan petunjuk penyelidikan langkah demi langkah sebelum melakukan penyelidikan mendapatkan rata-rata 24%, untuk pernyataan kedua yaitu penyelidikan dilakukan oleh guru biologi di depan kelas mendapat rata-rata sebesar 16%, pernyataan ketiga yaitu kami membuat catatan rinci selama penyelidikan, selain data-data lain yang dikumpulkan mendapat rata-rata sebesar 19%, sedangkan untuk pernyataan ke empat yaitu kami menghubungkan kesimpulan dengan pengetahuan ilmiah yang kami miliki rata-ratanya sebesar 21%, dan pernyataan ke lima yaitu kami menyempurnakan kesimpulan yang kami buat sendiri rata-ratanya sebesar 20%.

Dari kelima pernyataan dapat dikatakan bahwa pernyataan yang paling tinggi persentasenya adalah pernyataan pertama yakni dengan persentase 23%.Hal ini membuktikan bahwa kegiatan yang paling banyak dilakukan dalam penyelidikan adalah guru biologi memberikan petunjuk penyelidikan langkah demi langkah sebelum melakukan penyelidikan. Jadi, sebelum melakukan penyelidikan atau kegiatan praktikum guru memberikan petunjuk penyelidikan terlebih dahulu sehingga siswa melakukan praktikum sesuai prosedur yang telah dijelaskan guru sebelumnya. Dan hal ini dapat dikatakan bahwa kegiatan praktikum atau penyelidikan yang mereka lakukan masih dalam bimbingan dan instruksi dari guru belum sepenuhnya dari siswa.

2) Inkuiri Terbimbing

Menurut Nely Andriayani, dkk. mengatakan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing (Guidedinquiry) yaitu suatu pembelajaran inkuiriyang dalam pelaksanaannya guru

menyediakanbimbingan atau petunjuk cukup luas kepada siswa.3 Inkuiri terbimbing adalah salah satu jenis inkuiri yang lebih memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuannya serta melatih siswa untuk mencari solusi atas masalah-masalah yang nantinya akan muncul dalam penyelidikan.

Adapun sekolah yang menerapkan inkuiri ini adalah MA C dengan jumlah 28 siswa kelas XI IPA 2 karena pada sekolah ini siswa diberi kebebasan untuk membuat rancangan percobaan sendiri dengan rumusan masalah, membuat hipotesis, melakukan penyelidikan sendiri, mengumpulkan data, menganalisis data dan membuat kesimpulan dengan sendiri.

Adapun hasil persentase dari jawaban kuesioner siswa MA C dapat dilihat pada tabel 4.3. di bawah ini :

Tabel 4.3. Jawaban Kuesioner Inkuiri Terbimbing Siswa

Sekolah Pernyataan* Jumlah Rata-rata 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 MA C 26 21 24 24 26 21 17 5 23 21 208 20,8 (%) 92,8 75 85,7 85,7 92,8 75 60,7 17,8 82,1 75 742,6 74,3 *)Keterangan :

1 = pada pembelajaran biologi, saya merumuskan pertanyaan penelitian yang akan dijawab melalui penyelidikan

2 = kami mengajukan sendiri pertanyaan penelitian

3 = kami merancang sendiri langkah-langkah penyelidikan biologi yang akan dilakukan

4 = kami melakukan penyelidikan biologi sendiri berdasarkan penelitian yang telah kami rancang

5 = kami aktif berpartisipasi dalam penyelidikan biologi yang telah kami rancang sendiri

6 = kami menentukan sendiri data yang dikumpulkan

7 = kami membuat catatan rinci selama penyelidikan, selain data-data lainnya yang dikumpulkan

8 = kami memutuskan sendiri, kapan data harus dikumpulkan dalam penyelidikan 9 = kami mengembangkan sendiri kesimpulan dari penyelidikan yang dilakukan 10 = kami mempertimbangkan cara menafsirkan data dan bukti ketika membuat

kesimpulan

3

Nely Andriyani, dkk., “Efektifitas Penerapan Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) Pada Mata Pelajaran Fisika Pokok Bahasan Cahaya di Kelas VII SMP Negeri 2 Muara Padang,” Makalah disampaikan pada Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2011 (SNIPS 2011), Bandung, Indonesia, 22-23 Juni 2011, h. 1.

Untuk mempermudah mempelajari Tabel 4.3. mengenai jumlah dan persentase penggunaan inkuiri terbimbing di MAN Se-Jakarta Selatan, maka data disajikan dalam gambar 4.3.

Gambar 4.3. Persentase Pernyataan Inkuiri Terbimbing

Berdasarkan gambar 4.3. dapat dilihat bahwa persentase terbesar terdapat pada pernyataan 1 dengan persentase sebesar 13%, sedangkan untuk pernyataan 3, 4, dan 5 dengan persentase sebesar 12%, pernyataan 9 dengan persentase sebesar 11%, pernyataan 2, 6 dan 10 dengan persentase 10%, pernyataan 7 memiliki persentase sebesar 8%, dan pernyataan 8 memiliki persentase terendah sebesar 2%.

Dari 10 penyataan ternyata pernyataan yang paling banyak dilakukan adalah pernyataan pertama (pada pembelajaran biologi, saya merumuskan pertanyaan penelitian yang akan dijawab melalui penyelidikan) dengan persentase 13%. Sedangkan persentase terendah adalah penyataan ke 8 (kami memutuskan sendiri, kapan data harus dikumpulkan dalam penyelidikan) sebesar 2%.

Jika dikalkulasikan antara penerapan inkuiri terstruktur yang berjumlah 84,7% dengan inkuiri terbimbing yang berjumlah 74,3% maka rata-rata yang didapatkan adalah 79,5 yang termasuk kategori baik.4 4 Arikunto.Loc.cit. 13% 10% 12% 12% 12% 10% 8% 2% 11% 10%

Persentase Inkuiri Terbimbing

pernyataan 1 pernyataan 2 pernyataan 3 pernyataan 4 pernyataan 5 pernyataan 6 pernyataan 7 pernyataan 8 pernyataan 9 pernyataan 10

b. Hasil Wawancara

Wawancara dilakukan pada siswa dengan kemampuan tinggi, sedang dan rendah yang dipilih oleh guru biologi. Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa pada siswa yang berkemampuan tinggi sebagian besar siswa yakni sebesar 83,3% hanya menjadi anggota kelas. Hal ini membuktikan bahwa keaktifan siswa dalam kegiatan kelas sangat minim kemudian 3 siswa (50%) menyukai biologi karena pengajaran guru dan adanya kegiatan praktikum.Serta 50% karena ingin mempelajari alam dan kehidupan sekitar. Sedangkan untuk siswa yang berkemampuan sedang sebenarnya sama dengan kemampuan tinggi sebagian besar hanya menjadi anggota kelas dan 50% menyukai biologi karena pengajaran dan adanya kegiatan praktikum serta keinginan siswa dalam mempelajari diri sendiri. Dan pada siswa yang berkemampuan rendah pula sebagian besar hanya menjadi anggota kelas, menyukai biologi karena pengajaran guru dan adanya kegiatan praktikum.

Jika dilihat pada proses pembelajaran yang dilakukan guru selama ini di kelas berdasarkan siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan berkemampuan sedang mengatakan bahwa guru lebih sering menerapkan metode pembelajaran seperti ceramah, diskusi, dan tanya jawab di kelas, namun siswa paham dengan pembelajaran yang disampaikan oleh guru, dan siswa sering menerima motivasi pada pembelajaran yang disampaikan guru, serta siswa pernah melakukan praktikum dengan persentase masing-masing 100%. Sedangkan untuk siswa yang berkemampuan rendah mengatakan bahwa guru lebih sering menerapkan metode pembelajaran seperti ceramah, diskusi, dan tanya jawab di kelas dan 83,3% mengaku paham dengan pembelajaran yang disampaikan oleh guru, 16,7% mengaku kurang paham dengan pengajaran guru di kelas, namun siswa sering menerima motivasi pada pembelajaran yang disampaikan guru, serta siswa pernah melakukan praktikum dengan persentase 100%.

Sedangkan jika dilihat dari penerapan inkuiri berdasarkan tinjauan siswa yang memiliki kemampuan tinggi mengatakan bahwa telah

melakukan praktikum rata-rata 2 kali, sebagian siswa sebanyak 5 sampel atau sekitar 83,3 % melakukan praktikum sesuai dengan prosedur yang telah dibuat guru. Sebagian lagi sebanyak 1 sampel atau sekitar 16,7% melakukan praktikum sesuai dengan prosedur yang telah dibuat siswa. Kemudian Siswa melakukan praktikum setelah guru menjelaskan prosedur praktikum yaitu sebanyak 5 sampel atau 83,3%, sebagian lagi sebanyak 1 sampel atau 16,7 % siswa melakukan praktikum tanpa penjelasan dari guru, serta siswa mengumpulkan data selain dari hasil praktikum juga didapat dari beberapa sumber seperti buku paket, artikel dan internet yaitu sebanyak 100%.

Menurut siswa yang berkemampuan sedang dikatakan bahwa siswa telah melakukan praktikum rata-rata 2 kali sebagian siswa sebanyak 5 sampel atau sekitar 83,3 % melakukan praktikum sesuai dengan prosedur yang telah dibuat guru. Sebagian lagi sebanyak 1 sampel atau sekitar 16,7% melakukan praktikum sesuai dengan prosedur yang telah dibuat siswa. Siswa melakukan praktikum setelah guru menjelaskan prosedur praktikum yaitu sebanyak 5 sampel atau 83,3%, sebagian lagi sebanyak 1 sampel atau 16,7 % siswa melakukan praktikum tanpa penjelasan dari guru. Siswa mengumpulkan data selain dari hasil praktikum juga didapat dari beberapa sumber seperti buku paket, artikel dan internet yaitu sebanyak 100%.

Begitupun dengan siswa berkemampuan rendah mengatakan bahwa siswa telah melakukan praktikum rata-rata 2 kali. Sebagian siswa sebanyak 5 sampel atau sekitar 83,3 % melakukan praktikum sesuai dengan prosedur yang telah dibuat guru. Sebagian lagi sebanyak 1 sampel atau sekitar 16,7% melakukan praktikum sesuai dengan prosedur yang telah dibuat siswa. Siswa melakukan praktikum setelah guru menjelaskan prosedur praktikum yaitu sebanyak 5 sampel atau 83,3%, sebagian lagi sebanyak 1 sampel atau 16,7 % siswa melakukan praktikum tanpa penjelasan dari guru. Siswa mengumpulkan data selain dari hasil praktikum juga didapat

dari beberapa sumber seperti buku paket, artikel dan internet yaitu sebanyak 100%.

3. Dokumentasi

Dalam penelitian ini dokumentasi merupakan data untuk melihat ada atau tidaknya kegiatan inkuiri dalam RPP dan terlampir LKS. Adapun analisis data dilakukan dengan menemukan indikator-indikator inkuiri pada setiap kegiatan yang telah dirancang dalam RPP serta LKS yang diberikan pada saat kegiatan praktikum.

Tabel 4.4. Hasil Analisis RPP Terlampir LKS

No Indikator RPP MA A MA B MA C MA D MA E MA F Jumlah (n) Persentase (%) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) 1. Merumuskan Pertanyaan Penelitian - - - - - 1 16,7 2. Mengajukan Pertanyaan - - - 3 50 3. Merancang Penelitian - - - - - 1 16,7 4. Merumuskan Hipotesis - - - - - 1 16,7 5. Melakukan Penelitian *√ *√ *√ 6 100 6. Mengumpulkan Data penelitian * * *√ 6 100 7. Menganalisis Data *√ *√ *√ 6 100 8. Membuat Kesimpulan - *√ 5 83,3 Jumlah 4 5 7 4 4 5 - 60,4 Persentase (%) 50 62,5 87,5 50 50 62,5 Keterangan :  = Terlampir LKS

Rencana pembelajaran merupakan salah satu hal penting dalam kegiatan belajar mengajar. Tetapi pada kenyataannya, terdapat beberapa guru yang mengajar tidak sesuai rencana pelaksanaan pembelajaran yang dibuat. Sehingga rencana pembelajaran hanya menjadi sebagai pelengkap administrasi yang hanya akan menjadi dokumen. Hal ini dibuktikan dengan masih ditemukannya 3 dari 6 sekolah yang tidak secara eksplisit ditemukan kegiatan praktikum dalam RPP melainkan terlampir LKS. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat jumlah persentase seberapa besar indikator inkuiri yang terdapat pada rencana pelaksanaan pembelajaran.

Berdasarkan pada tabel di atas bahwa kegiatan inkuiri yang tercantum pada rencana pembelajaran pada sekolah A sebesar 50%, pada sekolah B sebesar 62,5%, pada sekolah C sebesar 87,5%, pada sekolah D sebesar 50%, pada sekolah E sebesar 50%, dan sekolah F sebesar 62,5%. Sedangkan jika dilihat berdasarkan setiap indikator inkuiri pada indikator pertama yakni merumuskan pertanyaan penelitian sebesar 16,7%, pada indikator ke 2 yakni mengajukan pertanyaan sebesar 50%, pada indikator ke 3 yakni merancang penelitian sebesar 16,7%, pada indikator ke 4 yakni merumuskan hipotesis sebesar 16,7%, pada indikator ke 5 yakni melakukan penelitian sebesar 100%, pada indikator ke 6 yakni

Dokumen terkait