BAB IV HASIL ANALISA DATA
2. Observasi Umum Responden I
Patton (dalam Poerwandari, 2007) menegaskan bahwa observasi merupakan metode pengumpulan data esensial dalam penelitian, apalagi penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif.
Tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas-aktivitas, dan makna kejadian yang diamati tersebut. Deskripsi harus akurat, faktual sekaligus teliti tanpa harus dipenuhi berbagai hal yang tidak relevan (Poerwandari, 2007).
Hal-hal yang sangat penting dalam melakukan observasi adalah peneliti melaporkan hasil observasinya secara deskriptif, tidak interpretatif. Pengamat tidak mencatat kesimpulan atau interpretasi, melainkan data konkrit berkenaan dengan data yang konkrit berkenaan dengan fenomena yang diamati (Poerwandari, 2007).
Beberapa alat observasi yang digunakan antara lain anecdotal, catatan berkala, check-list, rating scale, dan mechanical devices (Rahayu & Ardani,
2004). Penelitian ini menggunakan alat observasi berupa anecdotal dimana observer mencatat hal-hal yang penting sesegera mungkin pada tingkah laku istimewa saat penelitian berlangsung.
Observasi dalam penelitian ini digunakan hanya sebagai alat tambahan yang dilakukan pada saat wawancara berlangsung untuk melihat reaksi responden, antara lain: ekspresi wajah, gerakan tubuh, intonasi suara, melihat bagaimana reaksi calon responden ketika peneliti meminta kesediaannya untuk diwawancarai, bagaimana sikap partisipan terhadap peneliti, bagaimana sikap dan reaksi responden terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, bagaimana keadaan responden saat wawancara, hal-hal yang sering dilakukan responden dalam proses wawancara.
D. Alat bantu pengambilan data
Menurut Poerwandari (2007), dalam metode wawancara, alat yang terpenting adalah peneliti sendiri. Untuk memudahkan pengumpulan data, peneliti membutuhkan alat bantu. Alat bantu yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah berupa pedoman wawancara, dan alat perekam.
1. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara disusun berdasarkan teori-teori dalam BAB II, sehingga peneliti mempunyai kerangka pikiran tentang hal-hal yang ingin ditanyakan. Tema-tema yang dapat menjadi pedoman wawancara adalah bagaimana kehidupan individu sebelum menderita penyakit jantung koroner (latar
belakang kehidupan, pekerjaan, hubungan keluarga, tujuan hidup), setelah menderita penyakit jantung koroner (pandangan responden terhadap apa yang ia alami, reaksi fisik dan psikologis yang dirasakan, tujuan hidup responden), dan reaksi orang-orang di sekeliling responden setelah menderita penyakit jantung koroner.
Pedoman wawancara tidak digunakan secara kaku, karena tidak tertutup kemungkinan peneliti menanyakan hal-hal di luar pedoman wawancara agar data yang dihasilkan lebih akurat dan lengkap.
2. Alat Perekam (Tape Recorder)
Usaha yang dilakukan peneliti untuk mempermudah dalam mencatat hasil wawancara maka peneliti menggunakan alat bantu berupa alat perekam (tape recorder) ini akan digunakan untuk merekam wawancara yang dilakukan sehingga semua data penting yang diungkapkan subjek tidak ada yang terlupakan. Rekaman wawancara berguna untuk membuat verbatim sehingga mempermudah dalam melakukan pengkodean dan analisis data. Penggunaan tape recorder ini akan dilakukukan dengan seizin subjek penelitian (Poerwandari, 2001).
3. Lembar Observasi
Observasi dilakukan bersamaan dengan proses wawancara dengan tujuan untuk menyesuaikan antara informasi yang disampaikan oleh responden dengan gerakan tubuh responden. Hal-hal yang terjadi selama berlangsungnya penelitian dicatat dalam lembar observasi. Catatan observasi akan memudahkan peneliti
dalam mendapatkan dan mengingat kejadian selama proses wawancara serta memperkuat makna.
E. Kredibilitas dan Validitas Penelitian
Adapun dalam pendekatan kualitatif dikenal istilah kredibilitas yaitu istilah yang paling banyak dipilih untuk mengganti konsep validitas yang dimaksudkan untuk merangkum bahasan menyangkut kualitas penelitian kualitatif. Kredibilitas studi kualitatif terletak pada keberhasilannya mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks (Poerwandari, 2001).
Menurut Sarantakos (dalam Poerwandari, 2001) ada empat jenis validitas yang digunakan dalam penelitian kualitatif yaitu :
1. Validitas kumulatif
Validitas kumulatif dicapai bila temuan dari studi-studi lain mengenai topik yang sama menunjukkan hasil yang kurang lebih serupa.
2. Validitas komunikatif
Validitas komunikatif diperoleh melalui konfirmasi kembali data dan analisis pada subjek penelitian. Data-data dan hasil analisis yang diperoleh akan dikonfirmasikan kembali pada subjek penelitian yang dalam hal ini adalah lansia penderita penyakit jantung koroner.
Validitas argumentatif tercapai bila presentasi temuan dan kesimpulan dapat diikuti dengan baik rasionalnya, serta dapat dibuktikan dengan melihat kembali ke data mentah.
4. Validitas ekologis
Validitas ekologis menunjuk pada sejauh mana studi dilakukan pada kondisi alamiah dari subjek penelitian yang diteliti, sehingga kondisi “apa adanya” dan kehidupan sehari-hari menjadi konteks penting penelitian. Patton (dalam Poerwandari, 2001) mengusulkan beberapa cara untuk meningkatkan kredibilitas penelitian kulaitatif antara lain ;
1. Mencatat bebas hal-hal penting serinci mungkin, mencakup catatan
pengamatan ojektif terhadap setting, subjek penelitian ataupun hal-hal yang terkait. Peneliti juga menyediakan catatan khusus yang memungkinkan menuliskan berbagai alternative konsep, skema atau metafora yang terkait dengan data. Catatan in sangat penting dalam memudahkan, mengembangkan analisis dan interpretasi.
2. Mendokumentasikan secara lengkap dan rapi data yang terkumpul, proses
pengumpulan data dan strategi analisisnya.
3. Memanfaatkan langkah-langakah dan proses yang diambil peneliti
sebelumnya sebagai masukan bagi peneliti untuk melakukan pendekatan terhadap penelitiannya dan menjamin pengumpulandata yang berkualitas untuk penelitiannya sendiri.
4. Menyertakan ‘partner’ atau orang yang dapat berperan sebagai pengkritik yang dapat memberikan saran-saran dan pembelaan yang akan
memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap analisis yang dilakukan oleh peneliti.
5. Melakukan upaya-upaya konstan untuk menemukan kasus-kasus negatif,
pemahaman peneliti tentang pola dan kecenderungan yang telah peneliti identifikasikan akan meningkat bila juga memberikan perhatian pada kasus-kasus yang tidak sesuaidengan pola tersebut.
6. Melakukan pengecekan dan pengecekan kembali (checking dan
rechecking) data, dengan usaha menguji kemungkinan dugaan-dugaan yang berbeda peneliti perlu mengembangkan pengujian-pengujian untuk mengecek analisis, dengan mengaplikasikannya pada data, serta mengajukan pertanyaan tentang data.
F. Prosedur penelitian
Prosedur penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan yang diungkapkan Bogdan (dalam Moleong, 2005). Terdapat tiga tahapan dalam prosedur penelitian kualitatif, yaitu tahapan pralapangan, pekerjaan lapangan, tahapan analisa data.
1. Tahap Pralapangan
Pada tahap persiapan penelitian, peneliti melakukan sejumlah hal yang diperlukan untuk melaksanakan penelitian (Moleong, 2005) yaitu sebagai berikut :
a. Mengumpulkan berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat
Peneliti mengumpulkan berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat yang berhubungan dengan lansia yang menderita penyakit jantung
koroner, baik melalui orang-orang di sekitar, teman-teman, dosen, artikel, internet untuk meyakinkan peneliti mengenai aspek-aspek psikologis yang terjadi pada lansia penderita penyakit jantung koroner. Setelah itu, peneliti merumuskan masalah yang ingin diteliti sesuai dengan fenomena yang diperoleh.
b. Mempersiapkan landasan teoritis
Peneliti mengumpulkan berbagai informasi dan teori yang berhubungan dengan social support, lansia dan penyakit jantung koroner.
c. Menyusun pedoman wawancara
Peneliti menyusun butir-butir pertanyaan berdasarkan kerangka teoritis untuk menjadi pedoman wawancara.
d. Persiapan untuk pengumpulan data
Peneliti mencari beberapa orang responden yang sesuai dengan kriteria sampel yang telah ditentukan, meminta kesediaannya (inform concent) untuk menjadi responden penelitian.
e. Membangun rapport
Setelah memperoleh kesediaan dari responden penelitian (tanda tangan responden pada lembar inform concent), peneliti memulai untuk membangun rapport. Sebelum melakukan penelitian ini peneliti telah menghubungi responden I untuk meminta waktunya. Responden I merupakan teman ayah peneliti yang sudah lama berteman. Sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat maka peneliti bertemu dengan responden I. Peneliti mencoba membangun rapport dengan responden dengan beramah
tamah dan menanyakan kabar responden. Setelah itu, peneliti menjelaskan tentang tujuan penelitian ini, responden dengan senang hati bersedia untuk membantu peneliti. Responden bersedia untuk diwawancarai oleh peneliti. Wawancara dilakukan sebanyak dua kali. Rapport juga dilakukan pada responden II. Peneliti mengenal responden II saat responden II hendak melakukan pengobatan penyakit jantung koroner yang ia derita. Peneliti mulai membangun rapport kepada responden II dengan beramah tamah dan menanyakan keadaan responden II saat itu. Peneliti menanyakan kesediaan responden II untuk terlibat dalam penelitian. Responden II bersedia membantu peneliti dan mau diwawancarai. Peneliti dan responden II menentukan jadwal dan tempat akan dilakukan wawancara. Peneliti menjelaskan tujuan dari penelitian ini dan meminta kesediaan responden II menjadi responden dalam penelitian ini. Wawancara dengan responden II juga dilakukan sebanyak dua kali.
2. Tahap pelaksanaan penelitian
Setelah diadakan kesepakatan maka peneliti mulai melakukan wawancara, namun sebelumnya membina rapport agar responden penelitian merasa nyaman dan tidak merasa asing. Wawancara akan dilakukan di tempat yang ditentukan oleh responden penelitian dan percakapan akan direkam dengan menggunakan tape recorder mulai dari awal hingga akhir, dan peneliti juga akan mencatat bahasa non-verbal responden saat wawancara berlangsung.
Proses wawancara seluruhnya dilakukan dalam jangka waktu kurang lebih satu bulan sepuluh hari, dari tanggal 21 Januari 2009 sampai dengan tanggal 28
Februari 2009. Pelaksanaan pengambilan data responden I (Bapak Johan) dilakukan sebanyak dua kali wawancara yaitu wawancara I dilakukan pada hari Rabu, 21 Januari 2009 pada pukul 11.00-13.00 WIB, wawancara II dilakukan pada hari Jum’at, 6 Februari 2009 pada pukul 10.00-11.00 WIB. Pelaksanaan pengambilan data responden II (Bu Risdiana) dilakukan sebanyak dua kali, yaitu wawancara I dilakukan pada hari Jum’at, 6 Februari 2009 pada pukul 12.00-14.00 WIB, wawancara II dilakukan pada hari Sabtu, 28 Februari 2009 pada pukul 15.00-17.30 WIB.
3. Tahap pencatatan data
Data yang diperoleh dari wawancara dituangkan ke dalam bentuk verbatim berupa tulisan. Sedangkan data yang didapatkan dengan metode observasi berupa data deskriptif berbentuk narasi. Data ini selanjutnya akan dianalisis sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan.
4. Prosedur analisa data
Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2005) mengemukakan analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Data akan dianalisis menurut prosedur penelitian kualitatif, dengan mengumpulkan verbatim wawancara dan mengolah data dengan metode kualitatif.
Menurut Poerwandari (2007) proses analisis data adalah sebagai berikut : a. Koding
Koding adalah proses membubuhkan kode-kode pada materi yang diperoleh. Koding dimaksudkan untuk dapat mengorganisasikan dan mensistematisasi data secara lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan dengan lengkap gambaran tentang topik yang dipelajari. Semua peneliti kualitatif menganggap tahap koding merupakan tahap yang penting, meskipun peneliti yang satu dengan yang peneliti yang lain memberikan usulan prosedur yang tidak sepenuhnya sama. Pada akhirnya penelitilah yang berhak (dan bertanggungjawab) memilih cara koding yang dianggapnya paling efektif (Poerwandari, 2001)
b. Organisasi Data
Highlen dan Finley (dalam Poerwandari, 2001) menyatakan bahwa organisasi data yang sistematis memungkinkan peneliti untuk (a) memperoleh data yang baik, (b) mendokumentasikan analisis yang dilakukan, serta (c) menyimpan data dan analisis yang berkaitan dengan penyelesaiaan penelitian. Hal-hal yang penting untuk disimpan dan diorganisasikan adalah data mentah (catatan lapangan, dan kaset hasil rekaman), data yang sudah selesai diproses, data yang sudah ditandai/dibubuhi kode-kode khusus dan dokumentasi umum yang kronologis mengenai pengumpulan data dan langkah analisis.
Penggunaan analisis tematik memungkinkan peneliti menemukan pola yang pihak lain tidak bisa melihatnya secara jelas. Pola atau tema tersebut tampil seolah secara acak dalam tumpukan informasu yang tersedia. Analisis tematik merupakan proses mengkode informasi, yang dapat menghasilkan daftar tema, model tema, atau indikator yang kompleks, kualifikasi yang biasanya terkait dengan tema itu atau hal-hal di antara gabungan dari yang telah disebutkan. Tema tersebut secara minimal dapat mendeskripsikan fenomena dan secara maksimal memungkinkan interpretasi fenomena.
d. Tahapan Interpretasi
Kvale (dalam Poerwandari, 2001) menyatakan interpretasi mengacu pada upaya memahami data secara lebih ekstensif sekaligus mendalam. Peneliti memiliki perspektif mengenai apa yang sedang diteliti dan menginterpretasi data melalui perspektif tersebut. Proses interpretasi memerlukan distansi (upaya mengambil jarak) dari data, melalui langkah-langkah metodis dan teoritis yang jelas serta memasukkan data ke dalam konteks konseptual yag khusus.
BAB IV
HASIL ANALISA DATA
Pada bab ini akan diuraikan hasil analisa wawancara dalam bentuk narasi. Untuk mempermudah pembaca dalam memahami gambaran social support pada lansia penderita penyakit jantung koroner, maka akan dijabarkan, dianalisa, dan diinterpretasi persubjek. Analisa data akan dijabarkan dengan menggunakan aspek-aspek yang terdapat dalam pedoman wawancara.
A. Responden I (Johan) 1. Analisa Data (Johan)
a. Identitas Diri Responden I (Johan)
Tabel 1. Gambaran Umum Responden I
Keterangan Responden I
Nama Samaran Johan
Jenis Kelamin Laki-laki
Usia 66 tahun
Agama Islam Status Menikah
Pendidikan terakhir AKPER
Pekerjaan Pensiunan Dinas Kesehatan
Tahun Diagnosa PJK 1994
Tahun Operasi 2007
b. Deskripsi Data Responden I
Responden I dalam penelitian ini adalah seorang bapak yang bernama Johan. Seorang laki-laki yang berusia 66 tahun bersuku Mandailing. Johan menderita penyakit jantung koroner sejak tahun 1994 hingga saat ini tahun 2009. Sejak diagnosa dokter yang mengatakan bahwa beliau mengidap penyakit jantung
koroner ini, baru tahun 2007 ia melakukan operasi by-pass pintas koroner yang dilaksanakan di Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta. Operasi tersebut dapat dilaksanakan karena saat itu Johan mengalami anfal akibat penyakit jantung koroner yang ia derita selama belasan tahun.
Johan memiliki lima orang anak yaitu dua orang perempuan dan tiga orang laki-laki. Keempat anak-anaknya telah menikah dan memiliki tempat tinggal masing-masing, hanya satu orang anak laki-lakinya yang belum menikah. Johan tinggal bersama dengan istri dan anak lelakinya yang belum menikah.
Johan memiliki postur tubuh yang tinggi dan besar. Tinggi badannya mencapai 175 cm dengan berat badan 65 kg. Johan merupakan seorang pensiunan pegawai dinas kesehatan salah satu rumah sakit umum yang ada di Medan. Johan memiliki banyak teman di tempat ia bekerja sebelum pensiun. Meskipun ia sudah pensiun, namun ia masih sering terlihat di Rumah Sakit Pirngadi Medan. Ia diberikan tugas yang ringan oleh direktur rumah sakit yaitu mengontrol keadaan rumah sakit itu, khususnya kebersihan rumah sakit.
Setiap harinya, Johan melakukan berbagai aktivitas seperti jalan pagi rata-rata tiga sampai empat kilometer setelah melaksanakan sholat shubuh bersama-sama warga setempat yang ikut melakukan jalan pagi itu. Setelah melakukan jalan pagi ia pulang ke rumah untuk sarapan, minum obat, mandi dan pergi ke rumah sakit untuk melakukan kontrol kebersihan rumah sakit dan kondisi jantungnya.
Siang harinya ia makan siang bersama istrinya. Istri responden telah mengatur pola makan responden dengan mengikuti anjuran dokter. Setiap sore ia
menghabiskan waktu bersama anak dan cucunya yang senantiasa datang untuk menyenangkan hatinya.
2. Observasi Umum Responden I
Tabel 2. Waktu wawancara Responden I
No Responden Hari/tanggal wawancara Waktu wawancara Tempat wawancara 1 Johan Rabu/21 Januari 2009 11.00-13.00 Di RSU. Pirngadi Medan 2 Johan Jumat/6 Februari 2009 10.00-11.00 Di RSU. Pirngadi Medan
Peneliti mengenal Johan dari orang tua peneliti yang merupakan teman satu instansi pekerjaan saat Johan belum pensiun dari pekerjaannya sebagai pegawai dinas kesehatan di Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan. Pada pertemuan pertama sebagaimana telah dijanjikan oleh peneliti sebelumnya melalui telepon untuk bertemu di rumah sakit karena responden akan melakukan kontrol kondisi jantungnya di rumah sakit itu. Pertemuan ini diawali dengan meminta kesediaan responden untuk terlibat dalam penelitian ini Pertemuan ini merupakan upaya peneliti untuk membangun rapport dan juga menjelaskan tujuan dari penelitian yang diadakan. Peneliti ingin memastikan kesesuaian karakteristik responden dengan ketetapan yang telah ditetapkan sebelumnya. Setelah mengetahui kesesuaian karakteristik tersebut, maka peneliti meminta kesediaan Johan untuk menandatangani surat pernyataan kesediaan menjadi responden penelitian dan
Johan bersedia untuk terlibat dalam penelitian ini untuk menjadi salah seorang responden penelitian.
Pertemuan pertama dilakukan pada tanggal 21 Januari 2009 pukul 11.00-13.00 WIB. Peneliti telah membuat janji pertemuan sebelumnya melalui telepon untuk bertemu di rumah sakit Pirngadi pukul 10.00 WIB, namun karena responden hendak melakukan kontrol jantung maka pukul 11.00 WIB peneliti dapat melakukan wawancara dengan responden. Saat itu Johan datang sendiri ke suatu ruangan keamanan di rumah sakit itu yang merupakan tempat anaknya yang bekerja sebagai petugas keamanan di rumah sakit itu. Ruangan itu berukuran 3 x 4 meter, terdapat beberapa kursi plastik berwarna putih yang sudah agak kekuning-kuningan. Terdapat sebuah televisi di ruangan tersebut, namun saat diadakan wawancara televisi dalam keadaan tidak menyala. Dinding-dinding ruangan tersebut dilapisi cat berwarna kuning berlantaikan semen biasa. Peneliti dan responden duduk berhadap-hadapan di kursi-kursi plastik yang ada di ruangan tersebut. Saat wawancara dilakukan peneliti ditemani oleh orang tua peneliti dan anak Johan yang sedang bertugas yang berjarak 2 meter dari peneliti dan responden.
Johan mengenakan kemeja lengan pendek berwarna putih yang dipadukan dengan celana panjang berwarna coklat. Johan membawa ponselnya yang berada di dalam tas pinggangnya. Rambutnya yang mengkilat dan berminyak dihiasi beberapa diantaranya yang berwarna putih.
Pada saat wawancara, Johan sesekali menyilangkan kakinya. Johan menceritakan bagaimana awalnya ia terkena penyakit jantung koroner. Johan tetap
memelihara kontak mata dengan peneliti saat bercerita. Johan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti dengan baik dan jelas. Johan terlihat beberapa kali memegang dadanya saat menceritakan penyakit yang ia derita. Wawancara kedua dilakukan dua minggu setelah wawancara pertama selesai dan waktu tersebut telah disepekati bersama oleh peneliti dan responden. Pertemuan ini berlangsung pada tanggal 06 Februari 2009 pukul 10.00-11.00 WIB. Pada pertemuan ini Johan datang sendiri ke ruangan keamanan RSU Pirngadi Medan. Wawancara dilakukan pada tempat yang sama dengan wawancara pertama yaitu di kursi plastik di ruangan keamanan RSU Prirngadi Medan, karena tempat tersebut merupakan tempat wawancara yang cukup kondusif dan nyaman bagi peneliti dan responden untuk melakukan wawancara. Saat wawancara kedua ini, Johan mengenakan kemeja berwarna hitam dengan corak bunga berwarna abu-abu dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam, dan memakai sepatu yang kelihatannya baru saja disemir.
Pada saat wawancara kedua, Johan memegang beberapa lembar kertas yang merupakan berkas untuk melakukan kontrol kondisi jantungnya, karena waktu itu bersamaan dengan jadwal kontrol jantungnya. Johan tetap memelihara kontak mata dengan peneliti. Johan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti dengan seksama. Terlihat sesekali memegang dagunya saat menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti. Saat wawancara berakhir Johan memberikan senyumannya kepada peneliti sambil menitipkan salam kepada orangtua peneliti yang juga merupakan temannya.