SOCIAL SUPPORT PADA LANSIA PENDERITA PENYAKIT
JANTUNG KORONER
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi
Oleh:
HARTIKA PRATIWI
041301077
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LEMBAR PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya
bahwa skripsi saya yang berjudul :
Social Support Pada Lansia Penderita Penyakit Jantung Koroner
Adalah hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan untuk
memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penelitian skripsi ini saya kutip dari
hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan
kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dalam skripsi ini,
saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera
Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, Maret 2009
Hartika Pratiwi
041301077 Materai
Social support pada lansia penderita penyakit jantung koroner Hartika Pratiwi dan Raras Sutatminingsih, M.Si., psikolog
ABSTRAK
Rata-rata prevalensi penderita penyakit jantung bertambah seiring bertambahnya usia, khususnya setelah usia 45 tahun karena semakin tua usia seseorang maka kemungkinan besar terjadi perubahan-perubahan di dalam pembuluh darah (Pierce, 2007). Bagi penderita penyakit jantung koroner kehidupan selanjutnya merupakan suatu babak baru yang penuh tantangan dan perubahan. (Pramudiani, 1995). Penyakit jantung koroner yang dialami oleh lansia dapat menimbulkan ketidakmampuan fisik dan mental dalam menjalani kegiatan hidup sehari-hari. Taylor (2003) mengemukakan bahwa social support dapat menurunkan kemungkinan penyakit, kecepatan untuk segera pulih dari penyakit yang diderita dan mengurangi risiko kematian yang disebabkan oleh penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang social support yang pada lansia penderita penyakit jantung koroner.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif supaya dapat memahami penghayatan subjektif yang dirasakan oleh responden. Karakteristik responden adalah pria atau wanita penderita penyakit jantung koroner yang berusia 60 tahun ke atas yang berdomisili di Medan. Teknik pengambilan sampel adalah dengan menggunakan teknik berdasarkan teori/konstruk operasional (theory-based/operational construct sampling). Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (in-depth interviewing) dan observasi saat wawancara berlangsung.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketika seseorang menderita penyakit jantung koroner maka individu akan membutuhkan social support. Responden I dan responden II dalam penelitian ini membutuhkan dan menerima keempat bentuk social support dalam menjalani kehidupan selanjutnya.
Saran penelitian bagi lansia penderita penyakit jantung koroner supaya dapat menerima kondisinya dan dapat menggunakan social support yang diterimanya secara tepat, bagi keluarga, yayasan ataupun praktisi kesehatan yang menangani lansia penderita penyakit jantung koroner serta masyarakat luas perlu memberikan social support yang tepat yang dibutuhkan oleh lansia penderita penyakit jantung koroner agar dapat menjalani kehidupan selanjutnya.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia yang senantiasa menyertai penulis sehingga saya
diberikan kekuatan dan kemampuan untuk dapat menyelesaikan skripsi ini.
Shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah
menjadi suri teladan. Penyusunan skripsi yang berjudul “Social Support pada
Lansia Penderita Penyakit Jantung Koroner” dilakukan dalam rangka memenuhi
salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi Fakultas Psikologi USU
Medan.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai
pihak, baik dari masa perkuliahan samapai pada penyusunan skripsi ini sangatlah
sulit bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu penulis mengucapkan
terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Chaerul Yoel, Sp.A(K) selaku Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Raras Sutatminingsih, M.Si, psikolog selaku dosen dosen pembimbing
skripsi. Terima kasih atas waktu, kesabaran, pemikiran dalam memberikan
saran, semangat, petunjuk dan bimbingan dalam penelitian ini, sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
3. Ibundaku yang paling saya cintai dan sayangi di dunia ini, Ibu Dra. Hj Sri
Suharni, yang telah melahirkan saya ke dunia ini, dan telah mencintai dan
Terima kasih atas doa yang selalu mama panjatkan untuk keberhasilan
anak-anakmu, nasehat dan kesabaran yang selalu mengiringi langkah
anak-anakmu. Betapa besar perjuangan dan pengorbanan mama saat
memperjuangkan anak-anak mama. Terima kasih buat segalanya, mama
adalah motivasiku untuk menjadi manusia yang lebih baik.
4. Ayahanda tercinta, bapak Syafrul Azhar B, terimakasih atas doa dan
dukungan yang senantiasa papa berikan, termasuk memperkenalkan
responden dalam penelitian ini.
5. Adikku, Bobby Syahril dan Ricky Ramadhan dan Sarah yang selalu
memberikan semangat dan dukungan untuk menyelesaikan skripsi ini.
Terima kasih atas semua bantuan yang kalian berikan selama ini.
6. Saudaraku yang telah mendoakan dan mendukungku selama ini (Tek Ani,
Tek Ina, Om Syaf, Om Dhani, Bang Deddy, Kak Suti, Lia, Bella, Dea,
Tarisya, Ai, Rara dan Fahri).
7. Kepada seluruh dosenku di Fakultas Psikologi yang telah mengajariku
ilmu Psikologi, dan seluruh guru-guru di SMAN 1 Medan, SMP 2 Medan,
SD Negri Sunggal yang telah mendidikku tanpa pamrih dan mengajariku
akan ilmu pengetahuan hingga sampai saat ini.
8. Buat kedua responden dalam penelitian ini, terima kasih banyak buat
kesempatan dan waktu yang diberikan. Terima kasih kerja sama yang telah
terjalin selama ini hingga penyelesaian skripsi ini.
9. Teman-temanku (Opi, Ami, Dwi, Renny, Cahyanti, Stefany, Ruth, Dona,
semangat yang kalian berikan. Teman-teman seperjuangan yang sedang
skripsi dan seminar, mudah-mudahan kita semua akan meraih kesuksesan.
10. Semua pihak yang telah mendukung penelitian ini yang tidak mungkin
disebutkan satu persatu. Semoga Allah meridhoi semua yang telah kita
lakukan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa terdapat kekurangan dalam skripsi
ini, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
semua pihak untuk menyempurnakan penelitian ini. Akhirnya penulis berserah
diri kepada Allah SWT dengan harapan bahwa skripsi ini dapat memberikan
manfaat bagi semua pihak.
Medan, Maret 2009
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN ABSTRAK
KATA PENGANTAR ………. i
DAFTAR ISI ………... iv
DAFTAR TABEL ………viii
DAFTAR LAMPIRAN ……….ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang masalah ……….. 1
B. Perumusan Masalah ………. 9
C. Tujuan Penelitian ………... 9
D. Manfaat Penelitian ………... 10
E. Sistematika penulisan ………... 11
BAB II LANDASAN TEORI A. Social support 1. Definisi Social Support ……… 12
2. Bentuk-bentuk Social Support ……… 14
3. Sumber-sumber Social support ……… 15
4. Social Support dan Kesehatan ……….…………. 17
2. Faktor Resiko Penyakit Jantung Koroner ………. 20
3. Gejala Penyakit Jantung Koroner ……… 23
4. Kondisi Psikologis Penderita Penyakit Jantung Koroner ..24
C. Lansia 1. Definisi lansia ………27
2. Tugas perkembangan lansia ………. 27
3. Lansia sebagai penerima social support ……….. 28
D. Social support pada lansia penderita penyakit jantung koroner .. 29
E. Paradigma Penelitian ……… 31
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Kualitatif ……….. 32
B. Responden Penelitian ………... 33
1. Karakteristik Responden Penelitian ……… 33
2. Jumlah Responden Penelitian ……….. 33
3. Prosedur Pengambilan Responden ……….. 33
4. Lokasi Penelitian ………... 34
C. Metode Pengambilan Data ………. 34
1. Wawancara ……….. 35
2. Observasi ………. 36
D. Alat Bantu Pengambilan data ………. 37
1. Pedoman Wawancara ………... 37
3. Lembar Observasi ……… 38
E. Kredibilitas dan Validitas Penelitian ……….. 39
F. Prosedur penelitian ……….. 41
1. Tahap Pralapangan ………... 41
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian ………. 43
3. Tahap pencatatan data ………. 44
4. Prosedur analisa data ……….. 44
BAB IV HASIL ANALISA DATA A. Responden I ……… 47
1. Analisa Data ………. 47
a. Identitas Diri Responden I ……… 47
b. Deskripsi Data Responden I ………. 47
2. Observasi Umum Responden I ………. 49
3. Data Wawancara Responden I ……….. 52
a. Gambaran Penyebab PJK yang Diderita ………...52
b. Gambaran Gejala Fisik dan Kondisi Psikologis pada Responden I ……… 53
c. Gambaran Social Support pada Responden I …… 58
4. Pembahasan Data Responden I ………. 69
B. Responden II ……… 74
1. Analisa Data ………. 74
b. Deskripsi Data Responden II………. 74
2. Observasi Umum Responden II………. 75
3. Data Wawancara Responden II……….. 77
a. Gambaran Penyebab PJK yang Diderita ………...77
b. Gambaran Gejala Fisik dan Kondisi Psikologis pada Responden II……… 79
c. Gambaran Social Support pada Responden II……81
4. Pembahasan Data Responden II ……….88
C. Analisa Data Antar Responden ……… 93
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN A. Kesimpulan ………. 98
B. Diskusi ………100
C. Saran ……….. 103
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Gambaran Umum Responden I ... ... 47
Tabel 2. Waktu Wawancara Responden I ………... 49
Tabel 3. Gambaran Social Support Responden I ... 73
Tabel 4. Gambaran Umum Responden II ... 74
Tabel 5. Waktu Wawancara Respopnden II ... 75
Tabel 6. Gambaran Social Support Responden II ... 92
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1. Verbatim Subjek I ……….. 1
Verbatim Subjek II ………. 38
LAMPIRAN 2. Pedoman Wawancara ... 63
Lembar Observasi ... 66
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Usia tua adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang, yaitu
suatu periode di mana seseorang telah “beranjak jauh” dari periode terdahulu yang
lebih menyenangkan, atau beranjak dari waktu yang penuh manfaat. Sama halnya
seperti setiap periode lainnya dalam rentang hidup seseorang, usia lanjut ditandai
dengan perubahan fisik dan psikologis tertentu. Perubahan-perubahan ini sesuai
dengan hukum kodrat manusia yang pada umumnya dikenal dengan istilah
“menua”. Perubahan-perubahan tersebut mempengaruhi struktur baik fisik
maupun mentalnya dan keberfungsiannya juga (Hurlock, 1999)
Penuaan merupakan bagian dari proses biologis, di mana dari tahun ke
tahun tubuh akan mengalami perubahan dan akan semakin memburuk kondisinya,
seperti : kulit yang makin menipis dan mengkerut, dinding arteri yang tidak lentur
lagi, penurunan fungsi otak, dan lain-lain. Sebenarnya penuaan tidak hanya
sekedar bagian dari proses biologis, melainkan juga melibatkan proses psikologis
(Lahey, 2007).
Penuaan dihubungkan dengan meningkatnya prevalensi masalah kesehatan
fisik dan mental yang pada akhirnya menghasilkan ketidakmampuan fisik, atau
kesulitan dalam melakukan kegiatan yang mendasar yang dibutuhkan dalam
kehidupan sehari-hari (Mavandadi, dkk., 2007). Ketidakmampuan sering
usia, termasuk hilangnya kemandirian, berada di dalam sebuah lembaga-lembaga
tertentu dan kematian (Bruce dalam Mavandadi, dkk., 2007).
Sebagian besar tugas perkembangan usia lanjut lebih banyak berkaitan
dengan kehidupan pribadi seseorang daripada kehidupan orang lain. Menurut
Havighurst (dalam Hurlock, 1999) salah satu tugas perkembangan pada usia lanjut
adalah menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan.
Perubahan kondisi fisik pada usia lanjut terjadi ke arah yang memburuk, proses
dan kecepatannya sangat berbeda untuk masing-masing individu walaupun usia
mereka sama.
Masa lanjut usia membawa penurunan fisik yang lebih besar dibandingkan
periode-periode usia sebelumnya. Semakin lanjut usia seseorang, maka
kemungkinan memiliki beberapa penyakit atau dalam keadaan sakit meningkat.
Penurunan kekuatan fisik membatasi kegiatan orang yang berada pada usia lanjut,
penyakit yang melemahkan dapat membuat orang merasa tidak berdaya
(Atkinson, 2003).
Hampir tiga perempat dari seluruh orang lanjut usia meninggal akibat
serangan jantung, kanker, atau stroke (Santrock, 2005). Terdapat beberapa
penyebab kematian pada orang lanjut usia di Amerika Serikat adalah kondisi
kronis seperti penyakit-penyakit yang tergolong ke dalam ‘terminal illness’ yaitu
penyakit jantung, stroke, dan lemahnya pernafasan. Pada kenyataannya, penyakit
jantung, kanker, dan stroke terhitung enam puluh persen yang menyebabkan
kematian pada lansia di Amerika Serikat (NCHS, dalam Papalia 2007). Hal ini
terminal illness seperti penyakit jantung koroner, stroke, diabetes, merupakan faktor utama penyebab kematian di Indonesia (Sutrisno, 2007).
Rata-rata prevalensi penderita penyakit jantung bertambah seiring dengan
bertambahnya usia, khususnya setelah usia 45 tahun (NCHS, dalam Sarafino,
2006). Pernyataan tersebut didukung oleh Pierce (2007) yang menyatakan bahwa
salah satu faktor yang beresiko yang memiliki asosiasi kuat dengan penyakit
jantung adalah usia, semakin tua usia seseorang maka kemungkinan besar terjadi
perubahan-perubahan di dalam pembuluh darah. Hal ini dapat dilihat dari
komunikasi personal yang dilakukan peneliti terhadap salah seorang penderita
penyakit jantung koroner :
“…sekarang inikan usia saya 65 tahun, saya dikasih tau sama dokter kalau saya menderita penyakit ini waktu saya umurnya 55 tahun…”
(Komunikasi personal, 11 Maret 2008)
Dewasa ini penyakit jantung, termasuk penyakit jantung koroner telah
menjadi penyebab kematian utama di Indonesia. Penyebabnya adalah terjadinya
hambatan aliran darah pada arteri koroner yang menyuplai darah ke otot jantung.
Salah satu hambatan berupa plak yaitu penimbunan atherosclerosis di dinding
pembuluh arteri, dan prosesnya memakan waktu yang amat panjang, bahkan dapat
bertahun-tahun, kemungkinan dimulai sejak masa muda yang seringkali
memuncak menjadi serangan jantung dan operasi pintas koroner (Soeharto, 2004).
Penyakit jantung koroner adalah penyakit akibat dari penyempitan dan
penyumbatan arteri koroner yang berfungsi untuk menyuplai jantung dengan
darah yang penuh oksigen. Peradaran darah menjadi terhambat dengan adanya
suplai oksigen dapat menyebabkan nyeri, hal ini disebut dengan angina pectoris
yang biasa terjadi pada dada, lengan, punggung atau leher. Berkurangnya suplai
darah dalam waktu yang cukup lama, mengakibatkan rusaknya bagian dari
jaringan jantung (myocardium), kondisi ini disebut dengan myocardial infarction
atau serangan jantung (Sarafino, 2006). Ada banyak sebab yang menjurus ke arah
terbentuknya plak itu dapat disederhanakan sebagai pola makan dan pola hidup
yang tidak benar, serta faktor genetika (Soeharto, 2004).
Pola hidup atau tingkah laku seseorang dan keturunan memegang peranan
penting dengan penyakit jantung koroner. Dalam hubungan ini dikenal dengan
adanya ‘faktor resiko penyakit jantung koroner’, yaitu kondisi yang berkaitan
dengan meningkatnya resiko timbulnya penyakit jantung koroner. Menurut
American Heart Association dan National Cholesteol Education Program (dalam Suharto, 2004) faktor-faktor resiko penyakit jantung koroner antara lain adalah
kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah, hipertensi, diabetes mellitus,
merokok, stres, kegemukan atau kurang beraktivitas dan keturunan, jenis
kelamin, dan usia. Kebanyakan orang yang menderita penyakit jantung paling
tidak memiliki salah satu dari beberapa faktor resiko yang ada.
Hal ini dapat dilihat dari komunikasi personal yang dilakukan peneliti
terhadap salah seorang penderita penyakit jantung koroner :
“…Ya saya kan orang pasaran, memang saya lumayan agak jahat juga dulu, saya dulu suka minum-minum lah gitu kan, merokok saya pun kuat kali, terus saya pun nggak pernah jaga-jaga makanan saya, semua saya makan…”
Bagi penderita penyakit jantung kehidupan selanjutnya merupakan suatu
babak baru yang penuh tantangan dan perubahan. Mengingat bahwa penyakit
jantung tergolong ke dalam penyakit kronis yang berlangsung lama dan sulit
untuk disembuhkan (Pramudiani, 1995). Banyak penderita serangan jantung yang
melakukan suatu perubahan untuk kesehatannya, baik di dalam gaya hidup
mereka dan sikap hidup yang lebih besar, apabila dibandingkan dengan orang
yang tidak mengalami penyakit ini. Sebagian dari pasien mudah untuk melakukan
program rehabilitasi, tetapi ada juga yang sulit sehingga memperburuk keadaan
penyakitnya. Hal ini dapat dilihat dari penuturan pasien penyakit jantung koroner :
“…Kalau dulu kan saya sempat depresi pas awal-awalnya, tetapi setelah semuanya saya jalani, ya… saya udah pasrah aja lah gitu, soalnya semuakan udah saya jalani, segala anjuran dokter untuk minum obat, olahraga dan menjaga makanan yang berlemak gitu udah saya turuti, sekarang saya serahkan sama Allah saja penyakit saya ini…”
(Komunikasi personal, 11 Maret 2008).
Sebuah usaha untuk dapat menghilangkan konsekuensi negatif dan
meningkatkan kualitas hidup dengan adanya ketidakmampuan fisik terdapat
faktor-faktor psikososial yang berperan dalam mencegah atau menunda
munculnya dan memajukan kesembuhan dari ketidakmampuan yang dialami oleh
individu pada usia lanjut (Mavandadi, dkk., 2007).
Salah satu faktor yang berperan dalam mengembangkan dan mengarahkan
ketidakmampuan adalah social support. Keberadaan social support dapat
mengurangi kelelahan sosial dan mengurangi stres, meningkatkan perasaan
Sebagaimana mestinya social support dapat menolong pasien penyakit
jantung untuk dapat memulihkan kembali kepada keadaan penderita penyakit ini,
mengurangi distress dan menyembuhkan gejala-gejala penyakit jantung koroner,
khususnya saat penderita berada di rumah sakit (Elizur, dalam Taylor 2003).
Social support yang diberikan selama berada di rumah sakit dapat memprediksi gejala-gejala depresi selama masa penyembuhan, dan depresi merupakan faktor
risiko yang berhubungan dengan meninggalnya akibat penyakit jantung koroner
(Brummet, dalam Taylor 2003).
Social support didefinisikan sebagai informasi, cinta, perhatian dan penghargaaan yang berasal dari orang lain yaitu orangtua, kekasih, teman-teman
dan komunitas yang memberikan keuntungan bagi seseorang (Siegel, dalam
Taylor, 2003). Seseorang yang sedang menjalani penyembuhan suatu penyakit
memerlukan social support yang seringkali sulit mereka peroleh karena tidak
semua orang dapat akan memperoleh social support yang ia butuhkan (Sarafino,
2006).
Taylor (2003) mengemukakan bahwa social support dapat menurunkan
kemungkinan penyakit, kecepatan untuk segera pulih dari penyakit yang diderita
dan mengurangi risiko kematian yang disebabkan oleh penyakit.
Social support muncul untuk menolong individu dalam menangani atau memperkecil komplikasi dari kondisi medis dan gangguan yang lebih serius
(Taylor, 2003). Menurut Beckman (dalam Sarafino, 2006) orang yang
Rocco (dalam Kumolohadi, 2001) menyebutkan bahwa social support
mempunyai peran penting dalam kesehatan mental.
Adanya social support turut memperlancar hubungan interpersonal
seseorang. Lynch dan Syme (dalam Kumolohadi, 2001) menyebutkan bahwa
dalam penelitian ditemukan bahwa perbedaan social support dapat mempengaruhi
angka kematian, sehingga dapat dikatakan bahwa social support turut
mempengaruhi kesehatan fisik seseorang. Pasien penyakit jantung koroner yang
menerima sedikit social support dalam hidupnya dan rendahnya self efficacy
untuk membawa mereka dapat menanggulangi penyakitnya terlihat sedikit dan
lebih lambat dalam mengatasi penyakitnya (Bastone, dalam Sarafino 2006).
Social support juga berperan dalam pembentukan kepercayan diri yang bermanfaat untuk mengatasi masalah dalam kehidupan (La Rocco, dalam
Kumolohadi, 2001). Selanjutnya Kobasa (dalam Sarafino, 2006) menambahkan
bahwa social support memiliki kemungkinan untuk dapat mengurangi rasa sakit
dan mempercepat penyembuhan.
Penyakit jantung dan hubungan keluarga mempunyai hubungan yang erat.
Tingkat ketidakmampuan seorang pasien dipengaruhi oleh seberapa baik mereka
dan keluarganya melakukan penyesuaian diri terhadap kondisinya. Keluarga
memperoleh dampak yang sangat besar pada proses rehabilitasi penyakit jantung,
pasien akan menilai lebih baik, patuh pada perawatan medis dan lebih cepat
sembuh jika memeperoleh semangat atau dukungan dari keluarga. Hal ini sejalan
dengan yang dikemukakan oleh Papalia & Olds (2007) yang menyatakan bahwa
tersebut (significant others) memberi kontribusi yang terbesar dalam
meningkatkan harga diri seseorang dan dengan harga diri yang tinggi dapat
mempercepat proses penyembuhan.
Kumolahadi (2001) menjelaskan sejumlah orang lain yang potensial
memberikan dukungan disebut sebagai significant others, misalnya adalah
suami/istri, anak, orang tua, saudara/kerabat, dan teman akrab. Di Matteo (1991)
mendefinisikan social support sebagai dukungan yang berasal dari orang lain
seperti teman, keluarga, tetangga, dan teman sekerja. Hal ini sesuai dengan
penuturan salah seorang lansia penderita penyakit jantung koroner :
“…Ya saat saya menjalani penyakit yang saya derita ini saya banyak dikasih tau sama kawan-kawan kerja saya tempat berobat yang bagus untuk dapat menyembuhkan penyakit ini, anak-anak saya juga selalu memberikan semangat supaya saya mau terus menjalani pengobatan sampai pulih, mereka selalu mengatakan kepada saya kalau saya nggak boleh menyerah sama penyakit, kalau saya kuat, penyakit saya juga akan kalah lah gitu kira-kira…”
(Komunikasi Personal, 25 Mei 2008)
Sarafino (2006) mengemukakan bahwa social support terdiri dari
beberapa komponen, yaitu : dukungan emotional/esteem, dukungan
instrumental/tangible, dukungan informational, dan dukungan companionship. Berdasarkan sudut pandang seorang lansia penderita penyakit jantung
koroner mengatakan bahwa mereka membutuhkan social support dalam
menghadapi penyakit yang sedang ia derita. Hal ini dapat dilihat dari penuturan
salah seorang lansia yang berumur 65 tahun penderita penyakit jantung koroner :
Rasanya bahagia…lah hati saya ini, adalah pengobat penyakit yang diberi Tuhan kepada saya, itu ajalah yang buat saya semangat, dukungan dari anak-anak yang terutama”
(Komunikasi personal, 11Maret 2008).
Setelah mengetahui penuturan dari salah seorang lansia penderita peyakit
jantung koroner, dapat diketahui bahwa lansia penderita penyakit ini
membutuhkan social support saat menjalani penyakit yang sedang ia derita, dalam
hal ini khususnya adalah emotional/esteem support, yakni kebutuhan untuk
mendapatkan perhatian dan rasa empati dari significant others yang dalam hal ini
adalah anaknya.
Berdasarkan permasalahan yang dikemukan di atas peneliti ingin
mengetahui bagaimana social support pada lansia penderita penyakit jantung
koroner.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka peneliti merumuskan beberapa
pertanyaan penelitian yang akan dijawab melalui penelitian ini. Dalam hal ini
pertanyaan utama dalam penelitian ini adalah : Bagaimanakah social support pada
lansia penderita penyakit jantung koroner ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana social
D. Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan ada dua manfaat yang dapat diambil,
diantaranya yaitu :
1. Manfaat Teoritis Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi
perkembangan ilmu psikologi, khususnya di bidang Psikologi Klinis
dalam rangka perluasan teori, terutama berkenaan dengan stres dan
social support pada lansia penderita penyakit jantung koroner dan dapat dijadikan sebagai bahan penunjang untuk penelitian lebih lanjut.
2 Manfaat Praktis
a. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan
informasi bagi keluarga, masyarakat dan lembaga-lembaga atau
yayasan yang bergerak dalam masalah penyakit jantung koroner
tentang pentingnya social support pada lansia penderita penyakit
jantung koroner.
b. Penelitian ini dapat berguna saat lansia penderita penyakit jantung
koroner dalam masa penyembuhan, yakni dapat membantu
keluarga dan orang-orang di sekitarnya agar dapat memberikan
social support yang tepat dalam rangka membantu lansia dalam menghadapi penyakit jantung koroner. Sehingga social support
yang diberikan menjadi efektif dalam membantu lansia dalam masa
I.E. Sistematika Penulisan
Penulisan ini dirancang dengan susunan sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan
Berisikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian serta sistematika penulisannya.
BAB II : Landasan Teori
Berisikan teori-teori yang menjelaskan data penelitian yaitu teori
tentang, social support, lansia, dan penyakit jantung koroner.
BAB III : Metodologi Penelitian
Berisikan pendekatan yang digunakan, metode pengumpulan
data, alat bantu pengumpulan data penelitian, subjek penelitian,
BAB II
LANDASAN TEORI
A Social Support
1. Definisi Social Support
Social support didefinisikan bervariasi, dari frekuensi kontak interpersonal dan besarnya keluarga untuk menata kehidupan (Strain & Payne, dalam
Orsega-Smith, 2007). Wils & Fegan (dalam Sarafino, 2006) mengatakan bahwa social
Support adalah perasaan nyaman, diperhatikan, dihargai, atau menerima pertolongan dari orang atau kelompok lain..
Seseorang akan menerima social support tergantung pada jumlah,
komposisi, kedekatan, dan frekuensi dari kontak seseorang dengan jaringan
sosialnya (Wills & Fegan, dalam Sarafino 2006). Dukungan ini bisa berasal dari
sumber-sumber yang berbeda, orang-orang yang dicintai, keluarga, teman, rekan
sekerja, tenaga medis, atau komunitas organisasi.
Orang dengan social support mempercayai bahwa mereka dicintai,
dihargai, dan merupakan bagian dari jaringan sosial (Sarafino, 2006). Keterikatan
secara sosial dan hubungan dengan orang lain yang berlangsung lama diterima
sebagai aspek kepuasan secara emosional dalam kehidupan. Hal ini dapat
menghentikan efek dari stres, menolong seseorang menghadapi pristiwa yang
membuat stres, dan kemungkinan mengurangi stres akibat keadaan kesehatan
Yangyang (2006) mengemukakan bahwa Social support didasarkan pada
partisipasi yang aktif dengan salah satu anggota jaringan sosial dan saling
menguntungkan satu sama lain secara sosial. Cronkite (dalam Fridlander, 2007)
menambahkan bahwa yang termasuk ke dalam social support adalah
sumber-sumber sosial dimana individu merasa bersedia atau secara aktual ditawarkan
untuk bergabung dengan mereka di dalam hubungan tolong-menolong.
Social support diasumsikan sebagai persepsi seseorang yang bersedia terhadap dukungan yang berasal dari orang lain, seperti teman dan keluarga dan
juga pandangan yang kompleks secara alami mengenai sejarah dari hubungan
individu yang memberi dukungan dan konteks lingkungannya (Hobfoll, dalam
Friedlander 2007). Social support juga didefinisikan sebagai kegiatan yang
ditampilkan oleh seseorang dengan bantuan orang lain dalam menghadapi suatu
tujuan yang diinginkan (Kaplan dalam Orsega-Smith, 2007).
Berdasarkan penjelasan pengertian social support yang dikemukakan di
atas dapat disimpulkan bahwa social support adalah perasaan nyaman baik secara
fisik maupun psikologis yang diperoleh dari sumber-sumber yang berbeda seperti
keluarga, teman-teman, rekan kerja, dan lainnya yang memiliki keterikatan secara
sosial yang berpartisipasi secara aktif untuk menolong seseorang yang
membutuhkan pertolongan.
Definisi social support diperlukan dalam penelitian ini untuk memahami
2. Bentuk-bentuk Social Support
Social support terdiri dari beberapa bentuk, Wills & Fegan (dalam Sarafino, 2006) mengemukakan bentuk-bentuk social support, yaitu :
a. Emotional / esteem support
Jenis dukungan ini melibatkan rasa empati, perduli terhadap seseorang
sehingga memberikan perasaan nyaman, perhatian, dan penerimaan secara
positif, dan memberikan semangat kepada orang yang ia hadapi. Taylor
(2003) berpendapat dengan menyediakan kenyamanan dan menjamin
dengan mendalami perasaan dan sehingga seseorang yang menerima
dukungan ini akan merasa dicintai dan dihargai. Tolsdorf (dalam Orford,
1992) mengatakan bahwa ini termasuk ke dalam bentuk bantuan dorongan,
kehangatan, cinta atau dukungan emosional. Leavy (dalam Orford, 1992)
mengatakan yang termasuk ke dalam dukungan ini adalah perhatian,
kepercayaan, dan empati. Jacobson (dalam Orford, 1992) menuliskan yang
termasuk ke dalam dukungan ini adalah memelihara perasaan atau
kenyamanan dan mengarahkan individu untuk mempercayai bahwa ia
dikagumi, dihargai, dan dicintai, dan orang lain bersedia untuk
memberikan perhatian dan rasa aman.
b. Tangibel atau Instrumental Support
Dukungan jenis ini meliputi bantuan yang diberikan secara langsung atau
nyata, sebagaimana orang yang memberikan atau meminjamkan uang atau
langsung menolong teman sekerjanya yang sedang mengalami stress.
materi, seperti melayani, bantuan secara financial, atau benda-benda yang
dibutuhkan.
c. Informational support
Jenis dukungan ini adalah dengan memberikan nasehat, arahan, sugesti
atau feedback mengenai bagaimana orang melakukan sesuatu. Dukungan
ini dapat dilakukan dengan memberikan informasi yang dibutuhkan oleh
seseorang.
d. Companionship Support
Dukungan jenis ini merupan kesediaan untuk meluangkan waktu dengan
orang lain, dengan memberikan perasaan keanggotaan dalam suatu
kelompok orang yang tertarik untuk saling berbagi dan kegiatan sosial. Hal
ini dapat mengurangi stres dengan terpenuhi kebutuhan affiliation dan
berhubungan dengan orang lain, dengan menolong seseorang yang
terganggu dari kekhawatiran akan masalah yang ia miliki, atau
memfasilitasi perasaan yang positif (Cohen &Wills dalam Orford 1992).
Apabila kita mengetahui bentuk-bentuk social support yang ada maka kita
akan mengetahui bentuk social support yang bagaimana yang diterima lansia
penderita penyakit jantung koroner.
3. Sumber-sumber Social Support
Sumber-sumber social support merupakan aspek yang penting untuk
dipahami. Sumber-sumber social support banyak diperoleh dari lingkungan
diperlukan penting untuk diketahui. Meskipun secara umum terdapat konsekuensi
yang positif kesehatan terhadap social support, tetapi social support akan lebih
efektif jika terdapat kecocokan hubungan antara orang yang membutuhkan
dukungan dengan sumber-sumber social support tersebut, sehingga social support
memiliki makna yang berarti bagi kedua belah pihak (House, dkk dalam Thoits,
2000).
Menurut Rook dan Dooley (dalam Sri Kuntjoro, 2002) ada dua sumber
social support yaitu : a. Sumber artificial
Social support yang artificial adalah social support yang dirancang ke dalam kebutuhan primer seseorang, misalnya social support akibat
bencana alam melalui berbagai sumbangan sosial.
b. Sumber natural
Social support yang natural diterima individu melalui interaksi sosial dalam kehidupannya secara spontan dengan orang-orang yang berada di
sekitarnya, misanya : anak, istri, suami, rekan kerja dan kerabat. Social
support ini bersifat non-formal.
Dengan mengetahui sumber-sumber social support yang ada maka kita
dapat mengetahui sumber-sumber social support yang efektif dan diperlukan pada
4. Social support dan kesehatan
Social support memiliki hubungan yang erat dengan kesehatan. Keberadaan social support memberi keuntungan bagi kesehatan seseorang
(Berkman, dalam Sarafino 2006). Kesehatan maksudnya adalah seseorang yang
terbebas dari gejala gangguan psikiatris atau psikologi distress (Orford, 1992).
Social support muncul untuk menolong individu dalam menangani atau memperkecil komplikasi dari kondisi medis dan gangguan yang lebih serius
(Taylor, 2003).
Fleeming (dalam Sarafino, 2006) mengatakan bahwa social support juga
dihubungkan dengan dengan berkurangnya stres dari bermacam-macam sumber
lainnya. Untuk dapat menjelaskan bagaimana social support dapat mempengaruhi
kesehatan, Wills & Fegan (dalam Sarafino, 2006) mengemukan dua buah teori
yaitu :
1. Buffering hypothesis
Stres akan menurunkan kondisi kesehatan seseorang, dan social support
muncul sebagai pelindung dari stres yang ada. Social support
mempengaruhi kesehatan dengan cara melindungi seseorang untuk
melawan efek-efek negatif dari stres tingkat tinggi. Buffering effect bekerja
dengan dua cara, yaitu : pertama saat seseorang bertemu dengan stressor
yang kuat, dan yang kedua adalah social support dapat memodifikasi
respon-respon seseorang sesudah munculnya stressor. Pemberian social
seseorang tidak mengalami stres maka social support yang diberikan tidak
akan berfungsi.
2. Direct effect hypothesis / main effects
Mempertahankan social support dapat memberikan keuntungan pada
kesehatan seseorang, baik ada atau tidak dalam keadaan stress. Tingginya
social support dapat mendorong seseorang untuk membangun gaya hidup sehat. Individu dengan social support dapat merasakan, karena orang lain
memperhatikannya dan membutuhkannya, mereka akan rajin berolahraga,
makan teratur, dan tidak merokok atau meminum alkohol.
Kedua teori di atas penting untuk dipahami bagi orang yang akan
memberikan social support, karena tidak selamanya social support dapat
mengurangi stres dan memberi keuntungan pada kesehatan. Hal ini terjadi karena
satu hal, meskipun social support tersedia untuk seseorang namun ia tidak merasa
bahwa itu adalah sebuah dukungan (Dunkle-Scheter, dkk, dalam Sarafino 2006).
B. PENYAKIT JANTUNG KORONER 1. Definisi Penyakit Jantung Koroner
Dewasa ini penyakit jantung koroner, telah menjadi penyebab kematian
utama di Indonesia. Seperti dimaklumi, penyebabnya adalah terjadinya hambatan
aliran darah pada arteri koroner yang menyuplai darah ke otot jantung. Salah satu
hambatan berupa plak, dan prosesnya memakan waktu yang amat panjang, bahkan
dapat bertahun-tahun, mungkin dimulai sejak masa muda yang seringkali
sebab yang menjurus ke arah terbentuknya plak itu dapat disederahanakan sebagai
pola makan dan pola hidup yang tidak benar, serta faktor genetika (Soeharto,
Imam, 2004).
Jantung berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh. Otot jantung
memerlukan oksigen dan nutrisi yang cukup. Oksigen dan nutrisi diangkut oleh
darah melalui pembuluh darah yang disebut arteri koroner. Persoalan akan timbul
bila oleh sesuatu sebab terdapat halangan atau kelainan di arteri koroner, sehingga
tidak cukup suplai darah, yang berarti juga kurangnya suplai oksigen dan nutrisi
untuk menggerakkan jantung secara normal. Keadaan tersebut dikenal sebagai
penyakit jantung koroner (PJK) (Soeharto, 2004).
Coronary heart disease (CHD) adalah penyakit yang disebabkan oleh penyempitan pembuluh nadi (artherosclerosis) dimana terbatas pada tumpukan
lemak yang dapat menimbulkan penyakit atau serangan jantung (myocardial
infarction) (Sarafino, 2006).
Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa penyakit
jantung koroner adalah penyakit yang ditimbulkan adanya plak pada jantung yang
mengakibatkan tersumbatnya aliran darah dan oksigen menuju jantung. Peneliti
memasukkan teori definisi penyakit jantung koroner, sebagai tambahan informasi
2. Faktor Resiko Penyakit Jantung Koroner
Faktor resiko adalah segala sesuatu yang dapat meningkatkan
kemungkinan untuk terkena suatu penyakit. Faktor resiko penyakit jantung
koroner umumnya dibagi ke dalam dua golongan besar (AHA, dalam Soeharto
2004) :
a. Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol
1) Usia
Rata-rata prevalensi penderita penyakit jantung bertambah seiring
dengan bertambahnya usia. Jika seseorang telah berusia 45 tahun
maka resiko penyakit jantung koroner semakin tinggi.
2) Jenis kelamin
Pria lebih beresiko dibandingkan dengan wanita yang menderita
penyakit jantung koroner dengan perbandingan 3:1. Tetapi tidak
demikian dengan wanita yang sudah menopause, kepekaannya hampir
sama dengan pria.
3) Riwayat penyakit jantung dalam keluarga
Keluarga yang pernah menderita penyakit jantung koroner pada usia
muda, maka anggota keluarga lainnya memiliki resiko tinggi untuk
mendapatkan penyakit jantung koroner.
b. Faktor resiko yang dapat dikontrol
1) Dislipidemia
Dislipidemia terjadi akibat meningkatnya beban kerja jantung dan
2) Hipertensi
Hipertensi disertai kadar kolesterol darah yang tinggi meningkatkan
insiden penyakit jantung koroner 16 kali lipat. Hipertensi merupakan
penyebab utama terjadinya komplikasi kardiovaskuler dan merupakan
masalah utama kesehatan masyarakat yang mengalami transisi dalam
sosial ekonomis.
3) Merokok
Kebiasaan merokok memiliki kemungkinan untuk menderita penyakit
jantung koroner lebih besar, karena keadaan jantung dan paru-paru
tidak dapat bekerja secara efisien. Merokok dapat mengakibatkan
sempitnya pembuluh darah yang meningkatkan resiko penyakit
jantung koroner.
4) Diabetes mellitus
Diabetes mellitus atau kencing manis dapat meningkatkan resiko
penyakit jantung koroner. Kencing manis dapat menyebabkan
terbentuknya plak aterosklerotis pada dinding pembuluh darah yang
disebabkan gangguan metabolisme glukosa sistemik.
5) Diet lemak jenuh dan kolesterol
Resiko penyakit jantung koroner sejalan dengan peninggian kadar
kolesterol lipoprotein densitas rendah (LDL) dan sebaliknya kolesterol
lipoprotein densitas tinggi (HDL). Apabila LDL dan kolesterol
meningkat serta HDL menurun akan terjadi penimbunan kolesterol di
6) Inaktivitas fisik
Korelasi antara inaktivitas fisik (kurang atau tidak berolahraga) dan
meningkatnya insiden penyakit jantung koroner sangat erat. Insiden
penyakit jantung koroner hampir 2 kali lipat lebih banyak pada pria
yang kurang melakukan aktivitas fisik dibanding dengan mereka yang
secara teratur berolahraga.
7) Stres
Stres yang dialami oleh seseorang dapat meningkatkan resiko terkena
penyakit jantung koroner. Dampak yang ditimbulkan dari stres dapat
menimbulkan gangguan irama jantung yang fatal, gangguan aliran
darah koroner secara langsung maupun tidak langsung sebagai akibat
spasme pembuluh darah koroner. Stres juga erat kaitannya dengan
faktor resiko lainnya, seperti hipertensi, dislipidemia dan merokok.
8) Kegemukan
Kegemukan merupakan salah satu faktor resiko penyakit jantung
koroner. Kegemukan dapat mendorong timbulnya faktor resiko lain
seperti hipertensi, diabetes mellitus, kurang beraktivitas yang
selanjutnya akan meningkatkan resiko penyakit jantung koroner.
Peneliti memasukkan teori faktor-faktor resiko yang menyebabkan
penyakit jantung koroner, mengingat bahwa penyakit jantung koroner dapat
terjadi karena lebih dari satu faktor yang dapat menyebabkan lansia menderita
koroner berhubungan dengan social support yang diperoleh oleh penderita
penyakit jantung koroner tersebut.
3. Gejala Penyakit Jantung Koroner
Tangggapan fisik terhadap perkembangan Penyakit jantung koroner
berbeda. Tidak semua orang dengan PJK memiliki simtom atau manifestasi
tertentu, tetapi manifestasi yang umum menurut American Health Association
(AHA) adalah sebagai berikut :
a. Tidak ada simtom.
Banyak dari mereka yang mengalami PJK tidak merasakan ada sesuatu
yang tidak enak atau tanda-tanda suatu penyakit. Kondisi ini disebut
dengan silent ischemia.
b. Angina
Formalnya disebut angina pectoris. Angina umumnya ditunjukkan dengan
sakit dada sementara sewaktu melakukan gerakan fisik atau olahraga.
c. Angina (unstable angina).
Sakit dada yang terasa tiba-tiba terasa sewaktu dalam keadaan istirahat
terjadi lebih berat terjadi lebih berat secara tiba-tiba.
d. Serangan jantung.
Bila aliran darah ke pembuluh arteri koroner terhalang sepenuhnya
terjadilah serangan jantung atau myocardial infarction (MI).
Peneliti memasukkan gejala-gejala penyakit jantung koroner tersebut
dialami oleh penderita penyakit jantung koroner akan berdampak dengan social
support yang akan ia terima.
4. Kondisi Psikologis Penderita Penyakit Jantung Koroner
Pada saat individu mengalami penyakit kronis seperti jantung koroner,
maka inidividu dan keluarganya akan mengalami goncangan dan ketakutan, hal
ini disebabkan sesuatu yang dialami tidak pernah diduga sebelumnya. Taylor
(2003) mengemukakan reaksi-reaksi yang ditimbulkan oleh individu yang
menderita penyakit kronis seperti penyakit jantung koroner adalah :
a. Shock : reaksi pertama individu saat mengalami diagnosa fisik mengenai masalah kesehatan yang kronis. Rasa keterkejutan dan kebingungan atau
prilaku yang muncul secara otomatis. Shock terjadi sebentar atau akan
berlajut beberapa minggu , shock terjadi untuk beberapa tingkat situasi
krisis yang dialami oleh seseorang, dan ketegasan itu muncul tanpa
peringatan.
b. Denial : mekanisme pertahanan diri seseorang dimana seseorang menghindari kenyataan bahwa ia menderita sakit. Individu akan menolak
kenyataan bahwa ia menderita suatu penyakit.
c. Anxiety : rasa kecemasan akan segera muncul setelah adanya diagnosis penyakit kronis pada diri seseorang. Banyak pasien yang ditakuti suatu
perubahan yang potensial akan terjadi dalam hidup mereka dan masa
depan mereka adalah kematian. Masalah kecemasan tidak hanya
baik. Kecemasan juga tinggi saat seseorang mengharapkan perubahan gaya
hidup yang muncul dari penyakit ataupun treatment, saat merasa mereka
tergantung dengan profesional kesehatan, saat mereka mengalami kejadian
berulang-ulang.
d. Depression : depresi kemungkinan akan terjadi setelah proses denial dan anxiety muncul. Depresi merupakan reaksi terakhir terhadap penyakit kronis, karena sering menghabiskan waktu pasien untuk memahami
kenyataan kondisi mereka. Depresi tidak hanya akan menghasilkan
distress tetapi juga disebabkan oleh gejala-gejala yang dialami dan bagaimana masa depan seseorang dengan penyakitnya. Depresi yang
muncul karena penyakit dan treatment juga dapat dihubungkan dengan
bunuh diri dan lansia.
Radley (1994) menambahkan bahwa penderita penyakit kronis seperti
penyakit jantung koroner dapat mengalami tiga akibat dari panyakit yang
dideritanya dan pengobatan yang dijalani. Adapun ketiga akibat tersebut adalah :
a. Impairment : kehilangan atau mengalami abnormalitas fungsi fisiologis atau anatomis (hendaya).
b. Disability : keterbatasan dalam kemampuan untuk mengerjakan suatu tugas atau untuk menjalankan peran secara normal.
c. Handicap : kerugian yang bersifat sosial berupa perlakuan dari orang lain atau kepada orang lain dengan impairment atau disability tertentu.
Ketiga hal ini dapat mempengaruhi penderitanya. Selanjutnya Charmaz
dapat dialami oleh orang yang hidup dengan penyakit kronis seperti penyakit
jantung koroner adalah :
a. Kehidupan yang terbatas (restricted life). Hal ini terjadi bila seseorang
terpaksa “terkurung” di rumah baik karena sakit yang dirasakannya
maupun pengobatan yang dijalani.
b. Keterasingan sosial (social isolation). Hal ini merupakan akibat dari
penyakit atau pengobatan sehingga penderita terpaksa tidak melakukan
interaksi sosial dengan orang lain atau dapat juga berasal dari perasaan
penderita sendiri bahwa orang lain akan memperlakukan mereka berbeda.
c. Definisi diri yang tidak baik (discrediting definition of self). Hal ini terjadi
saat orang lain menunjukkan rasa ingin tahu berlebihan, sikap tidak
bersahabat atau rasa tidak nyaman saat berhubungan dengan penderita.
Kemungkinan terjadi karena penderita tidak dapat lagi melakukan
pekerjaan sederhana dengan mudah seperti dulu. Keadaan ini dapat
menjadi sumber meningkatnya penilaian negatif terhadap diri sendiri.
d. Merasa menjadi beban bagi orang lain (becoming a burden on others). Hal
ini terjadi jika seseorang menderita sakit yang berat sehingga tidak dapat
lagi menjalankan tugasnya seperti dulu. Hal ini dapat menimbulkan
perasaan tidak berguna baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Berbagai reaksi yang dapat terjadi pada penderita penyakit jantung koroner
dapat mengakibatkan masalah psikologis bagi penderita. Peneliti memasukkan
penyakit jantung koroner dapat menyebabkan individu membutuhkan dukungan
sosial yang dapat mempengaruhinya dalam menjalani kehidupannya.
C. Lansia
1. Definisi lansia
Lansia adalah istilah yang digunakan bagi orang yang sudah mencapai
periode penutup dalam periode kehidupan seseorang (Hurlock, 1999). Indonesia
memiliki batasan usia lanjut yang tercantum dalam Undang-undang No. 12/1998
tentang Kesejahteraan Usia Lanjut (dalam Hardywinoto, 1999) yang berbunyi :
“…Lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas…”
Seiring dengan bertambahnya usia tidak dapat dihindari penurunan kondisi
fisik, baik berkurangnya kekuatan fisik yang menyebabkan individu menjadi cepat
lelah maupun menurunnya kecepatan reaksi yang menyebabkan gerak-geriknya
menjadi lamban.
Selain itu timbulnya penyakit yang biasanya tidak hanya satu macam
tetapi beragam, menyebabkan usia lanjut memerlukan bantuan, perawatan dan
obat-obatan untuk proses penyembuhan atau sekedar mempertahankan agar
2. Tugas perkembangan lansia
Menurut Havighurst (dalam Hurlock, 1999) tugas perkembangan masa
lansia adalah sebagai berikut :
2. Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya income
(penghasilan) keluarga .
3. Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup.
4. Membentuk hubungan dengan orang-orang seusia.
5. Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan.
6. Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes.
3. Lansia sebagai penerima social support
Penuaan dihubungkan dengan meningkatnya prevalensi masalah kesehatan
fisik dan mental yang pada akhirnya menghasilkan ketidakmampuan fisik, atau
kesulitan dalam melakukan kegiatan yang mendasar yang dibutuhkan dalam
kehidupan sehari-hari (Mavandadi, dkk., 2007). Pada masa lanjut usia membawa
penurunan fisik yang lebih besar dibandingkan periode-periode usia sebelumnya,
semakin lanjut usia seseorang, maka kemungkinan memiliki beberapa penyakit
atau dalam keadaan sakit meningkat (Santrock, 2005).
Secara umum kondisi medis sering terjadi pada masa lanjut usia (Wolff,
dalam Onedera, 2008). Social support berperan dalam membantu melakukan
kegiatan sehari-hari, diantara keadaan yang relatif sehat, komunitas orangtua yang
tinggal pada suatu lembaga, yang sedang diserang stroke, orangtua yang
merupakan pasien rumah sakit dengan bermacam-macam kondisi medis yaitu
stroke atau penyakit jantung (Wilcox, Mavandadi, dkk., 2007). Social support
muncul untuk menolong individu dalam menagani atau memperkecil komplikasi
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat kita ketahui bahwa lansia yang
menderita penyakit jantung koroner berperan sebagai penerima social support
karena meningkatnya prevalensi permasalahan kondisi fisik dan psikisnya.
D. Social support pada lansia penderita penyakit jantung koroner
Masa lanjut usia akan membawa masalah baru. Penurunan kekuatan fisik
membatasi kegiatan orang yang berada pada usia lanjut. Orang-orang lanjut usia
akan terjangkit suatu penyakit sebagai bagian dari proses penuaan yang
merupakan proses yang alami dan tidak dapat dihindari. Penyakit yang
melemahkan dapat membuat seorang lansia merasa tidak berdaya. (Pierce, 2007).
Santrock (2005) mengemukakan bahwa hampir tiga perempat dari seluruh
orang lanjut usia meninggal akibat serangan jantung, kanker, atau stroke. Penyakit
jantung koroner di Indonesia saat ini tercatat sebagai pembunuh nomor satu.
Yakni tingkat kematiaannya mencapai 26%. Saat ini diperkirakan jumlah
penderita jantung koroner di Indonesia berkisar 300 ribu sampai 400 ribu orang
) .
Kehidupan seorang penderita penyakit jantung koroner, termasuk lansia
adalah suatu yang penuh perubahan dan tantangan. Penyakit jantung koroner yang
dialami oleh lansia dapat menimbulkan ketidakmampuan fisik dan mental dalam
menjalani kegiatan hidup sehari-hari. Penderita akan menjalani proses pengobatan
dan pemulihan yang panjang dan melelahkan.
Seseorang yang sedang menjalani penyembuhan suatu penyakit
bahwa social support dapat menurunkan kemungkinan penyakit, kecepatan untuk
segera pulih dari penyakit yang diderita dan mengurangi risiko kematian yang
disebabkan oleh penyakit.
Pendekatan biopsikososial yang mempunyai asumsi bahwa proses
kesembuhan ditentukan oleh interaksi variabel-variabel biologis, psikologis dan
sosial (Schwatz, dalam Pramudiani, 1995). Social support merupakan variabel
lingkungan yang mempunyai hubungan yang positif dengan kesehatan
(Pramudiani, 1995).
Berdasarkan uraian tersebut dapat dilihat besarnya peranan social support
dalam memberi dampak yang positif bagi proses kesembuhan pada penderita
E. Paradigma berpikir
Lansia
Perubahan kondisi fisik
Penyakit jantung koroner
Perubahan-perubahan dan tantangan hidup.
Social support
Bentuk-bentuk social support (Wills & Fegan dalam
Sarafino, 2006)
a. Emotional/esteem support.
b. Tangibel/instrumental support
c. Informational support d. Companionship
support
Sumber-sumber social support (Dooley, dalam Sri Kuntjoro, 2002).
a. sumber artificial.
b. Sumber
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Kualitatif
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
kualitatif untuk mengetahui bagaimana social support pada lansia penderita
penyakit jantung koroner. Hal ini disebabkan karena peneliti berusaha memahami
subyek dari kerangka berpikirnya sendiri (Creswell, dalam http;//rumahbelajar
psikologi.com). peneliti ingin mengetahui stres dan social support pada lansia
penderita penyakit jantung koroner dari sudut pandang subjek penelitian itu
sendiri.
Penelitian Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2005) mendefenisikan
metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif
berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat
diamati.
Sejalan dengan definisi tersebut, Kirk dan Miller (dalam Moleong, 2005)
mendefenisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu
pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pada
manusia baik dalam kawasannya maupun peristilahannya. David dan Williams
(dalam Moleong, 2005) menulis bahwa penelitian kualitatif adalah pengumpulan
data pada suatu latar alamiah, dan dilakukan oleh orang atau peneliti yang tertarik
Moleong (2005) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif adalah
penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami
oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dll, secara
holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu
konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
B Responden Penelitian
1. Karakteristik Responden Penelitian
Adapun karaktertistik responden yang akan digunakan dalam penelitian
telah disesuaikan dengan tujuan penelitian yang akan diteliti adalah :
• laki-laki / perempuan
• usia 60 tahun ke atas
• menderita penyakit jantung koroner
2. Jumlah Responden Penelitian
Menurut Patton (dalam Poerwandari, 2001), penelitian kualitatif memiliki
sifat yang luwes, oleh sebab itu tidak ada aturan yang pasti mengenai jumlah
sampel yang harus diambil dalam penelitian kualitatif. Jumlah responden sangat
tergantung pada apa yang dianggap bermanfaat dan dapat dilakukan dengan waktu
dan sumber daya yang tersedia. Jumlah responden yang akan diambil dalam
penelitian ini adalah 2 orang.
3. Prosedur Pengambilan Responden
Prosedur pengambilan sampel dalam penelitian ini berdasarkan konstruk
berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, berdasarkan teori atau konstruk
operasional sesuai dengan studi-studi sebelumnya, atau sesuai dengan tujuan
penelitian (Poerwandari, 2001).
4. Lokasi
Penelitian ini akan dilakukan di kota Medan, karena terdapat alasan
kemudahan bagi peneliti dalam menemukan sampel, mengingat sejak tahun 2003
sampai 2007, sudah banyak dilakukan tindakan angiografi koroner sebanyak 928
kasus, tindakan PCI pemasangan stent 189 kasus yang merupakan penaganan
penyakit jantung koroner di RS H. Adam Malik Medan (Majid, 2007).
Berdasarkan alasan tersebut memang telah ditemui beberapa kasus
penyakit jantung koroner di kota Medan. Lokasi penelitian dapat berubah
sewaktu-waktu dan disesuaikan dengan keinginan dari subyek penelitian agar
subyek merasa nyaman.
C. Metode Pengambilan Data
Menurut Lofland dan Lofland (dalam Moleong, 2005) sumber utama
dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan. Kata-kata dan tindakan ini
dapat dicatat melalui catatan tertulis, pengambilan foto dan statistik. Pencatatan
sumber data utama dapat dilakukan dengan wawancara dan observasi yang
merupakan hasil gabungan dari kegiatan melihat, mendengar dan bertanya.
Dalam penelitian yang dilakukan, penelitian menggunakan metode
penelitian ini beralasan data yang dikumpulkan dari hasil wawancara berupa
percakapan antara peneliti dengan subjek yang akan diteliti untuk mengetahui
bagaimana social support dan stres pada lansia penderita penyakit jantung
koroner.
1. Wawancara
Wawancara adalah proses komunikasi interaksional antara dua pihak,
dimana paling tidak salah satu pihak memiliki tujuan tertentu dan di dalamnya
terdapat pertanyaan dan menjawab pertanyaan (Stewart & Cash, 2000).
Wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh
pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang berkenaan dengan topik yang
diteliti dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, hal ini
merupakan keunggulan pendekatan kualitatif dibandingkan dengan pendekatan
lain (Banister dkk, 1994).
Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara
mendalam (in-depth interview). Banister (1994) menjelaskan bahwa wawancara
mendalam adalah wawancara yang tetap menggunakan pedoman wawancara,
namun penggunaannya tidak sekedar wawancara terstruktur. Pedoman wawancara
berisi “open-ended question” yang bertujuan agar arah wawancara tetap sesuai
dengan tujuan penelitian (Poerwandari, 2007). Pedoman wawancara disusun
berdasarkan teori penyakit jantung koroner dari Sarafino (2006) dan Suharto
jantung koroner, teori social support dari Wills & Fegan (2006) dan teontang
lansia oleh Hurlock dan Havighurst (1999).
Berdasarkan teori-teori inilah, pedoman wawancara disusun untuk
memperoleh data tentang social support pada lansia penderita jantung koroner.
Peneliti akan menggali perasaan yang dihadapi penderita penyakit jantung koroner
akibat kondisi fisik dan psikologis yang dideritanya, bagaimana dukungan sosial
yang diterimanya.
2. Observasi
Patton (dalam Poerwandari, 2007) menegaskan bahwa observasi merupakan
metode pengumpulan data esensial dalam penelitian, apalagi penelitian dengan
menggunakan pendekatan kualitatif.
Tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari,
aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas-aktivitas, dan makna
kejadian yang diamati tersebut. Deskripsi harus akurat, faktual sekaligus teliti
tanpa harus dipenuhi berbagai hal yang tidak relevan (Poerwandari, 2007).
Hal-hal yang sangat penting dalam melakukan observasi adalah peneliti
melaporkan hasil observasinya secara deskriptif, tidak interpretatif. Pengamat
tidak mencatat kesimpulan atau interpretasi, melainkan data konkrit berkenaan
dengan data yang konkrit berkenaan dengan fenomena yang diamati
(Poerwandari, 2007).
Beberapa alat observasi yang digunakan antara lain anecdotal, catatan
2004). Penelitian ini menggunakan alat observasi berupa anecdotal dimana
observer mencatat hal-hal yang penting sesegera mungkin pada tingkah laku
istimewa saat penelitian berlangsung.
Observasi dalam penelitian ini digunakan hanya sebagai alat tambahan yang
dilakukan pada saat wawancara berlangsung untuk melihat reaksi responden,
antara lain: ekspresi wajah, gerakan tubuh, intonasi suara, melihat bagaimana
reaksi calon responden ketika peneliti meminta kesediaannya untuk diwawancarai,
bagaimana sikap partisipan terhadap peneliti, bagaimana sikap dan reaksi
responden terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, bagaimana keadaan
responden saat wawancara, hal-hal yang sering dilakukan responden dalam proses
wawancara.
D. Alat bantu pengambilan data
Menurut Poerwandari (2007), dalam metode wawancara, alat yang
terpenting adalah peneliti sendiri. Untuk memudahkan pengumpulan data, peneliti
membutuhkan alat bantu. Alat bantu yang akan digunakan dalam penelitian ini
adalah berupa pedoman wawancara, dan alat perekam.
1. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara disusun berdasarkan teori-teori dalam BAB II,
sehingga peneliti mempunyai kerangka pikiran tentang hal-hal yang ingin
ditanyakan. Tema-tema yang dapat menjadi pedoman wawancara adalah
belakang kehidupan, pekerjaan, hubungan keluarga, tujuan hidup), setelah
menderita penyakit jantung koroner (pandangan responden terhadap apa yang ia
alami, reaksi fisik dan psikologis yang dirasakan, tujuan hidup responden), dan
reaksi orang-orang di sekeliling responden setelah menderita penyakit jantung
koroner.
Pedoman wawancara tidak digunakan secara kaku, karena tidak tertutup
kemungkinan peneliti menanyakan hal-hal di luar pedoman wawancara agar data
yang dihasilkan lebih akurat dan lengkap.
2. Alat Perekam (Tape Recorder)
Usaha yang dilakukan peneliti untuk mempermudah dalam mencatat hasil
wawancara maka peneliti menggunakan alat bantu berupa alat perekam (tape
recorder) ini akan digunakan untuk merekam wawancara yang dilakukan sehingga semua data penting yang diungkapkan subjek tidak ada yang terlupakan.
Rekaman wawancara berguna untuk membuat verbatim sehingga mempermudah
dalam melakukan pengkodean dan analisis data. Penggunaan tape recorder ini
akan dilakukukan dengan seizin subjek penelitian (Poerwandari, 2001).
3. Lembar Observasi
Observasi dilakukan bersamaan dengan proses wawancara dengan tujuan
untuk menyesuaikan antara informasi yang disampaikan oleh responden dengan
gerakan tubuh responden. Hal-hal yang terjadi selama berlangsungnya penelitian
dalam mendapatkan dan mengingat kejadian selama proses wawancara serta
memperkuat makna.
E. Kredibilitas dan Validitas Penelitian
Adapun dalam pendekatan kualitatif dikenal istilah kredibilitas yaitu istilah
yang paling banyak dipilih untuk mengganti konsep validitas yang dimaksudkan
untuk merangkum bahasan menyangkut kualitas penelitian kualitatif. Kredibilitas
studi kualitatif terletak pada keberhasilannya mencapai maksud mengeksplorasi
masalah atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi
yang kompleks (Poerwandari, 2001).
Menurut Sarantakos (dalam Poerwandari, 2001) ada empat jenis validitas
yang digunakan dalam penelitian kualitatif yaitu :
1. Validitas kumulatif
Validitas kumulatif dicapai bila temuan dari studi-studi lain mengenai
topik yang sama menunjukkan hasil yang kurang lebih serupa.
2. Validitas komunikatif
Validitas komunikatif diperoleh melalui konfirmasi kembali data dan
analisis pada subjek penelitian. Data-data dan hasil analisis yang diperoleh
akan dikonfirmasikan kembali pada subjek penelitian yang dalam hal ini
adalah lansia penderita penyakit jantung koroner.
Validitas argumentatif tercapai bila presentasi temuan dan kesimpulan
dapat diikuti dengan baik rasionalnya, serta dapat dibuktikan dengan
melihat kembali ke data mentah.
4. Validitas ekologis
Validitas ekologis menunjuk pada sejauh mana studi dilakukan pada
kondisi alamiah dari subjek penelitian yang diteliti, sehingga kondisi “apa
adanya” dan kehidupan sehari-hari menjadi konteks penting penelitian.
Patton (dalam Poerwandari, 2001) mengusulkan beberapa cara untuk
meningkatkan kredibilitas penelitian kulaitatif antara lain ;
1. Mencatat bebas hal-hal penting serinci mungkin, mencakup catatan
pengamatan ojektif terhadap setting, subjek penelitian ataupun hal-hal
yang terkait. Peneliti juga menyediakan catatan khusus yang
memungkinkan menuliskan berbagai alternative konsep, skema atau
metafora yang terkait dengan data. Catatan in sangat penting dalam
memudahkan, mengembangkan analisis dan interpretasi.
2. Mendokumentasikan secara lengkap dan rapi data yang terkumpul, proses
pengumpulan data dan strategi analisisnya.
3. Memanfaatkan langkah-langakah dan proses yang diambil peneliti
sebelumnya sebagai masukan bagi peneliti untuk melakukan pendekatan
terhadap penelitiannya dan menjamin pengumpulandata yang berkualitas
untuk penelitiannya sendiri.
4. Menyertakan ‘partner’ atau orang yang dapat berperan sebagai pengkritik
memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap analisis yang dilakukan
oleh peneliti.
5. Melakukan upaya-upaya konstan untuk menemukan kasus-kasus negatif,
pemahaman peneliti tentang pola dan kecenderungan yang telah peneliti
identifikasikan akan meningkat bila juga memberikan perhatian pada
kasus-kasus yang tidak sesuaidengan pola tersebut.
6. Melakukan pengecekan dan pengecekan kembali (checking dan
rechecking) data, dengan usaha menguji kemungkinan dugaan-dugaan yang berbeda peneliti perlu mengembangkan pengujian-pengujian untuk
mengecek analisis, dengan mengaplikasikannya pada data, serta
mengajukan pertanyaan tentang data.
F. Prosedur penelitian
Prosedur penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini sesuai
dengan yang diungkapkan Bogdan (dalam Moleong, 2005). Terdapat tiga tahapan
dalam prosedur penelitian kualitatif, yaitu tahapan pralapangan, pekerjaan
lapangan, tahapan analisa data.
1. Tahap Pralapangan
Pada tahap persiapan penelitian, peneliti melakukan sejumlah hal yang
diperlukan untuk melaksanakan penelitian (Moleong, 2005) yaitu sebagai berikut :
a. Mengumpulkan berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat
Peneliti mengumpulkan berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat
koroner, baik melalui orang-orang di sekitar, teman-teman, dosen, artikel,
internet untuk meyakinkan peneliti mengenai aspek-aspek psikologis yang
terjadi pada lansia penderita penyakit jantung koroner. Setelah itu, peneliti
merumuskan masalah yang ingin diteliti sesuai dengan fenomena yang
diperoleh.
b. Mempersiapkan landasan teoritis
Peneliti mengumpulkan berbagai informasi dan teori yang berhubungan
dengan social support, lansia dan penyakit jantung koroner.
c. Menyusun pedoman wawancara
Peneliti menyusun butir-butir pertanyaan berdasarkan kerangka teoritis
untuk menjadi pedoman wawancara.
d. Persiapan untuk pengumpulan data
Peneliti mencari beberapa orang responden yang sesuai dengan kriteria
sampel yang telah ditentukan, meminta kesediaannya (inform concent)
untuk menjadi responden penelitian.
e. Membangun rapport
Setelah memperoleh kesediaan dari responden penelitian (tanda tangan
responden pada lembar inform concent), peneliti memulai untuk
membangun rapport. Sebelum melakukan penelitian ini peneliti telah
menghubungi responden I untuk meminta waktunya. Responden I
merupakan teman ayah peneliti yang sudah lama berteman. Sesuai dengan
perjanjian yang telah dibuat maka peneliti bertemu dengan responden I.