• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: Fakhru Robbani

Dalam dokumen What this is student? (Halaman 157-191)

Abstrak

Era disrupsi atau era revolusi industri 4,0 merupakan jaman yang banyak terjadi perubahan dan inovasi yang sangat besar dalam dunia bisnis, namun akhirnya merambah ke berbagai bidang karena serba digital. Dalam dunia pendidikan, peningkatan sumber daya manusia terkait digitalisasi sangat diperlukan untuk mengakses segala informasi dan menyampaikannya kepada maasyarakat dengan mudah, murah, dan cepat lewat dunia maya.

Perubahan dalam bidang ekonomi sangat jelas, misalnya dari bentuk mall, swalayan dan gerai-gerai berinovasi menjadi toko online. Permasalahannya, bagaimana tantangan dan solusi pembelajaran bahasa Indonesia bagi mahasiswa yang sudah 12 tahun telah mempelajarinya?

yang selama ini berbasis pengetahuan dalam buku teks dan membeo, tidak menantang. Dan, bagaimana tantangan bagi dosen dalam mendesain materi dan menerapkan metode pembelajaran dengan tuntutan output menjadi manusia yang cinta tanah air, berkarakter kuat dan memiliki kecakapan hidup dan kerja dalam menghadapi tuntutan zaman.

Tujuannya untuk mengungkap tantangan bagi mahasiswa dan dosen dalam pembelajaran bahasa Indonesia di era disrupsi tersebut. Metode dalam pengumpulan data

menggunakan metode dokumentasi (data kepustakaan dan hasil ujian matakuliah Bahasa Indonesia mahasiswa) dengan teknik observasi dan catat dengan analisis metode deskriptif kualitatif dan komparatif. Hasilnya menunjukkan adanya pentingnya perubahan dan inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia yang efektif membangun kreativitas dan literasi yang kuat.

Kata kunci: bahasa Indonesia, berkarakter, disrupsi, pembelajaran, tantangan.

Disrupsi dan Perubahan Perilaku

Efek lainnya pada kondisi disrupsi berupa perubahan perilaku. Gejala perubahan perilaku diawali dengan munculnya kecemasan-kecemasan pada individu, kelompok masyarakat, organisasi maupun pada perusahaan. Pada individu kecemasan yang paling tampak adalah kecemasan pada masalah ekonomi, seperti kehilangan pekerjaan dan keterpurukan ekonomi. Kecemasan pada masalah ekonomi berdampak kepada permalasahan lainnya seperti kecemasan terhadap masalah keluarga, biaya sekolah anak, kesehatan dan pada kebutuhan pokok keluarga. Keadaan tersebut kemudian akan menjadi penyebab tekanan (stress) pada pikiran dan psikologi individu serta berdampak kepada

lingkungan keluarga. Untuk mengatasi keadaan ini diperlukan adanya manajemen stress agar dampak yang ditimbulkan relatif dapat diatasi.74 Pada aspek lainnya akibat stress dapat menjadikan adanya perubahan paradigma dalam kehidupan individu. Kecendrungan sikap individualis adalah gejala yang tampak nyata di masyarakat. Sikap individualis pada satu sisi dapat dimaklumi sebagai cerminan kecemasan yang dialaminya, namun sikap ini juga mengakibatkan sikap tidak peduli kepada lingkugan. Tampak dari keadaan ini adalah menjadikan keadaan lingkungan yang tidak peduli kepada keadaan lingkungan sosial disekitarnya. Pada masyarakat Indonesia yang umumnya masih mempunyai kohesifitas (kedekatan) sosial yang tinggi pada lingkungan adalah keadaan yang dapat mengancam kehidupan sosial.

Nilai-nilai sosial dan norma yang telah ada menjadi hal yang akan terancam melalui sikap yang individualis.

Pada masyarakat menurunnya sikap-sikap humanis karena perubahan sikap individu merupakan keadaan yang sangat mengkhawatirkan karena nilai-nilai tersebut umumnya adalah nilai yang telah berbaur dengan nilai-nilai

74 Sala-roca, J., & Esturg, M. E. (2010). Disruptive behaviour of students in Primary education and emotional intelligence

agama. Secara tidak langsung, keadaan tersebut akan mengurangi sikap dan perilaku masyarakat dalam menjalan nilai-nilai keagamaan. Dari keadaan tersebut dapat dipahami bahwa perubahan-perubahan keadaan era disrupsi secara tidak langsung mengancam keadaan norma sosial di masyarakat.

Pada dunia industri, disrupsi setidaknya memunculkan dua hal penting yaitu:

(1) pengurangan tenaga kerja75 (2) persaingan yang keras.

Johnstone dan Kivima mengemukakan bahwa disrupsi telah menyebabkan tingkat pengangguran semakin tinggi. Banyak perusahaan yang telah menggantikan tenaga kerjanya dengan tenaga mesin dan serta pemanfaatan teknologi. Upaya yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dapat dipahami denngan pendekatan efisiensi dan memenuhi kebutuhan konsumen yang secara umum menghendaki pelayanan yang mudah dan praktis. Tindakan perusahaan mengurangi tenaga pekerja kemudian berlanjut dengan efek sosial lainnya seperti meningkatnya angka

75Johnstone, P., & Kivimaa, P. (2018). Energy Research &

Social Science Multiple dimensions of disruption , energy transitions and industrial policy. Energy Research & Social Science.

pengangguran dan kerawanan sosial lainnya. Persaingan yang keras pada era disrupsi memunculkan inovasi dalam melakukan adaptasi.76 Inovasi tersebut umumnya banyak dilakukan pada bidang marketing dan pelayanan yang praktis. Marketing yang paling sering digunakan pada masa disrupsi adalah marketing online (daring) yang dipandang sebagai cara praktis untuk meningkatkan penjualan produk-produk dari perusahaan-perusahaan.

Solusi

Terhadap keadaan disrupsi telah banyak dilakukan solusi-solusi diantaranya memberikan penyadaran keadaan disrupsi, meningkatkan aspek humanis pada pendidikan dan mengembangkan rasa tanggungjawab. Masa disrupsi tak bisa lagi dihindari, akan terus berlangsung dan menuntut adanya adaptasi yang cepat pada masyarakat. Untuk mengatasi masalah ini maka upaya penyadaran kepada masyarakat harus terus dilakukan.77 Upaya yang dilakukan harus dapat memberikan penjelasan bahwa disrupsi dapat memberikan peluang positif namun dapat juga memberikan

76Kramer, G. J. Energy Scenarios (Exploring Disruption and

innovation. Energy Research and Social Science.2018

77 Clarke, D., Murphy, C., & Lorenzoni, I. Place attachment, disruption and transformative adaptation. Journal of Environmental Psychology. 2018.

peluang negatif. Pemberian informasi yang jelas kepada masyarakat diharapkan dapat menyadarkan untuk segera beradaptasi dengan keadaan. Tema kesadaran yang terpenting adalah menumbuhkan harapan bahwa dengan potensi yang dimiliki, masyarakat akan tetap mempunyai peluang yang sama untuk maju, berkarakter dan meningkatkan kesejahteraannya. Selain meningkatkan kesadaran, upaya lain yang telah dilakukan adalah mengembangakan nilai-nilai humanis dalam lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah. Suasana dan sikap individualis harus dikembalikan kepada keadaan yang humanis. Keadaan dan perkembangan teknologi tidak dibiarkan menganggu dan merusak tata nilai yang ada dimasyarakat, sekolah serta lingkungan lainnya.

Upaya mengembalikan nilai ditengah pesatnya perkembangan teknologi dan industri akan menjamin manusia tetap mempunyai nilai-nilai kemanusiaan yang harus tetap dijunjung tinggi oleh masyarakat serta menjamin kelangsungan kehidupan bermasyarakat yang baik. Nilai-nilai humanis yang telah ada dan tidak bertentangan dengan norma-norma agama sebaiknya dipertahankan sebagai acuan dalam mengembalikan nilai-nilai dan perilaku masyarakat.

Upaya ini diharapkan dapat menempatkan nilai-nilai

kenanusiaan dan pertimbangan dalam mengembangkan teknologi dan industri.

Mereka mahasiswa akan memimpin gerakan mahasiswa ditengah-tengah akselerasi perubahan dunia pendidikan pascapandemi yang situasinya tidak akan sama lagi dengan periode sebelumnya. Mahasiswa selalu mewarnai perkembangan Indonesia. Sejak era kolonial, kelompok mahasiswa telah berperan aktif dalam menginisiasi upaya-upayakemerdekaan, sepeti mereka yang belajar di STOVIA, di antaranya Sutomo dan Wahidin Sudirohusodo. Mereka belajar di Belanda melalui Perhimpunan Indonesia seperti Tjipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantoro atau Bung Hatta beserta para aktivis yang bergerak di lembaga pendidikan lainnya. Mereka ikut menggerakkan kemerdekaan Indonesia.

Mahasiswa sebagai penyalur aspirasi masyarakat untuk mengontrol kebijakan pemerintahyang tidak sesuai dengan kepentingan rakyat. Perubahan-perubahan besar di Indonesia yang terjadi pada 1996 ketika kehidupan rakyat semakin sulit, atau pada 1998 saat pemerintah tidak percaya lagi oleh rakyat, semuaya melibatkan gerakan mahasiswa.

Peran-peran tersebut akan terus berlangsung sesuai dengan zamannya. Bagi mahasiswa sendiri, keterlibatan dalam

organisasi dapat memberi bekal dalam banyak hal, menyiapkan diri ketika mereka lulus kuliah nantinya.

Kehidupan dalam masyarakat tidak seperti dalam kelas di kampus yang semuanya terkontrol. Dengan berorganisasi, mereka dapat memahami secara lebih utuh realitas di masyarakat. Memperluas pergaulan dan jaringan sosial merupakan keuntungan lain. Para kativis mahasiswa selalu berinteraksi dengan banyak orang, baik dengan masyarakat, jejaring mahasiswa di kampus atau kota lain, termasuk dengan para senior yang telah sukses. Tentu hal tersebut akan menjadi modal mereka mewujudkan perubahan masyarakat atau membangun jejaring pribadinya yang nanti akan berpengaruh terhadap karirnya di masa depan.

Melatih kepemimpinan merupakan pelajaran penting yang didapat ketika memasuki organisasi mahasiswa.

Latihan kepemimpinan tidak dapat diperoleh dari buku, tetapi hrus dijalani saat menggelar berbagai kegiatan yang melibatkan banyak orang yang harus dikelola dengan baik.

Kemampuan lain yang diperoleh menjadi aktivis mahasiswa adalah luasnya wawasan. Umumnya, aktivis mahasiswa memiliki kegiatan diskusi rutin yang didalamnya membahas berbagai isu sosial kemasyarakatan yang lintas

disiplin keilmuan yang ditekuni didalam kampus. Dengan demikian, mereka melihat persoalan dari perspektif yang lebih luas karena wawasan yang dimilikinya tidak terbatas atau terkotak-kotak dalam disiplin ilmu yang terbatas.

Kemampuan komunikasi personal merupakan ketrampilan penting yang tak akan mampu digantikan teknologi.

Kapasitas inilahyang diasah saat menjadi aktivis mahasiswa dengan interaksinya yang luas yang meliputi bermacam-macam orang dengan karakter berbeda. Ketrampilan komunikasi inilah yang nantinya menentukan keberhasilan mereka dimasa mendatang.

Dengan berbagai soft skill yang diperoleh selama menjadi mahasiswa, para aktivis memiliki peluang lebih besar diterima kerja, memiliki kemungkinan lebih sukses dalam menjalani karirnya dimasa depan atau membangun usahanya sendiri dibandingkan dengan mereka yang hanya berkutat pada kegiatan akademik saja. Dunia kerja selama ini merasa kesulitan mendapatkan tenaga kerja yang memenuhi kualifikasi. Sementara, disisi lain, lulusan baru juga kesuloitan mendapatkan pekerjaan. Perkembangan baru menuntut perubahan strategi untuk menarik minat para mahasiswabaru untuk terlibat di dalamnya. Biaya kuliah yang mahal menuntut mahasiswa untuk fokus

menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan. Kuliah daringyang sekarang berjalan karena pandemu mungkin akan terus diselenggarakan dalam tingkatan tertentu. Hal ini juga akan mempengaruhi pola gerakan mahasiswa. Mahasiswa baru jugabergeser minatnya denagn menekuni kegiatan mahasiswa yang sesuaai denagn minat dan hobinya, atau secara langsung menunjang profesi mereka di masa mendatang tanpa perlu mengikuti kegiatan organisasi ekstra kampus seperti kegiatan pers mahasiswa, mapala, fotografi, pramuka atau kegiatan lainnya. Untuk terampil dalam bidang profesi tertentu, kini pun tidak harus kuliah mengingat banyak materi yang bisa dipelajari secara gratis di internet atau bisa mengikuti berbagai program sertifikasi yang diakui secara internasional. Sejumlah perusahaan global tidak lagi mensyaratkan pynya gelar tertentu, yang penting adalah kopetensinya. Tren seperti in tentu akan meluas dan akan mempengaruhi gerakan mahasiswa.

Selama ini, organisasi ekstra kampus seperti PMII, HMI, IMM dan lainnya cenderung menjadi tempat berkumpulnya para mahasiswa yang memiliki minat dalam bidang sosial politik. Para senior mereka banyak yang menjadi politisi sukses, namun hal ini membuat mahasiswa yang tidak

memiliki minat dalam bidang tersebut kurang tertarik terlibat di dalamnya.

Selama menjadi aktivis, paraa mahaasiswa umumnya memiliki sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah atau perusahaan yang merugikan rakyat, namun ketika mereka sukses berkarir sebagai pejabat, terdapat aktivis mahasiswa yang kemudian tersandung korupsi. Apa yang merek apelajari dan perjuangkan ketika menjadi mahasiswa sudah jauh berbeda dengan yang dilakukannya ketika menduduki posisi strategis yang seharusnya memberi peluang melakukan perubahan melalui wewenang yang dimilikinnya. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) selama ini telah menjadi tempat belajar, mengembangakn sikap kritis serta menjadi wadah aktualisasi pembelaan rakyat terhadapmahasiswa NU.

Organisasi ini mesti terus beradaptasi dengan situasi baru ketika proses pembelajaran semakin melibatkan teknologi, tuntutan profesionalitas dunia kerja, serta munculnya disrupsi daam berbagai bidang kerja.

Era disrupsi dimulai tahun 2020. Banyak masyarakat yang mengatakan pada 2020 merupakan masa tersebut. Di mana banyak hal baru terjadi dan bermunculan, dilihat dari kondisi dan kejadian inilah yang

melatarbelakangi banyak orang menyebutkan di tahun 2020 merupakan era disrupsi. Pengertian dari disrupsi adalah sebuah era di mana terjadinya inovasi dan perubahan secara besar-besaran dan secara fundemental mengubah semua sisitem, tatanan dan landscape yang ada ke cara-cara baru.

Alasan pertama terciptanya disrupsi yakni bisa dilihat dari perubahan yang terjadi langsung pada bagian mode bisnis, sehingga mereka yang tidak menggunakan cara tersebut akan keluar dari ekosistem dan akibatnya pemain yang masih menggunakan cara dan sistem yang lama akan kalah dalam persaingan, dilansir dari www.ui.ac.id. Bukan hanya perubahan yang terjadi pada bisnis dan ekonomi, namun perubahan utama dari munculnya disrupsi yakni sejak hadirnya teknologi digital, yang mengubah sistem di Indonesia maupun di global. Perkembangan teknologi digital mampu menggantikan pekerjaan manusia. Platform digital mampu mengubah produksi, distribusi dan iklan di media.

Dari sinilah, belajar melalui media-media para pengusaha mulai belajar dan cepat beradaptasi kemudian mengubah model bisnis mereka. Tidak hanya itu, perubahan ke sistem digital menimbulkan kegiatan aktivitas manusia lebih menunjuk ke arah eksperimen teknologi digital.

Masyarakat juga lebih menikmati dengan dunia digital tersebut, misalnya informasi-informasi yang ditampilkan secara konventional sekarang sudah tidak lagi ditampilkan dengan cara begitu tetapi sudah di dalam dunia digital.

Informasi ini sudah ditampilkan dalam dunia digital seperti, Facebook, WhatsApp, Instagram, maupun Twitter. Tentu saja era disrupsi ini akan terus berlanjut berdasarkan industri kreatif kedepannya dengan ide-ide baru yang bermunculan atau gagasan-gagasan baru yang mungkin akan lebih membantu perubahan yang lebih besar lagi.

Disrupsi berpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan yang baru. Disrupsi menggantikan teknologi lama yang serbafisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat.Tak ada yang tak terdampak disrupsi. Pengecualian bisa terjadi apabila kamu benar-benar cerdik berinovasi, membentuk kembali model bisnis dengan cara-cara baru. Pengeculian juga bisa terjadi apabila para elite dan masyarakatnya mau meyusun ulang undang-undang atau peraturan lama, atau memberi ruang sedikit lebih leluasa pada pembaruan.

“Disrupsi menggantikan pasar lama, industri, dan teknologi, yang mengahasilkan suatu kebaruan yang lebih

efisien dan menyeluruh. Ia bersifat destruktif dan kreatif!”

kata Clayton Christensen, profesor di Harvard Business School.

Inovasi memang sejatinya destruktif sekaligus kreatif. Karena itulah, selalu ada yang hilang, memudar, lalu mati. Semua ini menakutkan sekaligus bisa membuat kita membentengi diri secara berlebihan. Di sisi lain, ada hal baru yang hidup. Meski ada lapangan kerja yang hilang, selalu ada yang menggantikannya, yang membutuhkan kreativitas, semangat kewirausahaan, dan cara-cara baru.

Begitulah siklus alam.

Sayangnya, 90% kegiatan manusia sehari-hari, kalau bukan perbaikan, adalah pengulangan (iteration), termasuk mengulang agar mendapatkan hasil yang lebih baik atau terperangkap dalam kebiasaan. Bila kamu pernah mendengar bahwa bangsa Jepang tak kenal strategi (tidak memakai strategi manajemen), itulah yang membuat perekonomian Jepang antara 1960-2000 berhasil menguasai dunia. Itu pula yang membuat perekonomiannya melambat, lalu negatif pada awal abad ke-21.

Kita juga mengenal inovasi yang amat populer pada akhir abad ke-20, yang berarti membuat sesuatu yang baru.

Pupuk kimia, komputer, ponsel, metode hidroponik dalam

pertanian, irigasi, angkutan container, tenaga listrik, kincir angin, mesin giling, kereta api, dan seterusnya lahir sebagai bentuk inovasi dari cara-cara lama yang tidak praktis, lambat dan tidak produktif. Tiga sampai sembilan persen produk terkemuka di dunia ini adalah hasil inovasi.

Apa jadinya begitu semua inovasi sudah berada di tempatnya, tapi masih banyak orang yang belum terjangkau?

Bukankah inovasi ditujukan untuk kemakmuran umat manusia? “Cobalah cara yang berbeda,” begitu saran para ahli. Dan itulah yang didapat generasi millennials abad ke-21: Disruption.

Gegap gempita pergerakan mahasiswa dalam politik negara tercatat gemilang semasa Presiden Soekarno hingga dekade awal Orde Baru. Benih-benihnya telah tersemai sejak masa penjajahan. Tidak tanggung-tanggung memang, segelintir mahasiswa melahirkan gerakan Kebangkitan Nasional. Pentolan-pentolan mahasiswa, baik yang kuliah di Hindia maupun di Negeri Belanda, pada akhirnya menjadi pemimpin bangsa yang idealis dengan kenegarawanan kebangsaan yang murni. Sebut saja Hatta dan Syahrir.

Puncak gerakan mahasiswa Indonesia dicapai pada dekade menjelang Presiden Soekarno tumbang. Kala itu, mahasiswa tidak memikirkan dirinya sendiri untuk meraih

gelar dan hidup layak setelah menyandang gelar sarjana.

Mereka memilih universitas untuk berjuang memenuhi panggilan nurani bangsanya. Kampus-kampus besar di tanah air mirip parlemen tanpa partai politik.

Mereka tidak ambil pusing soal masa studi.

Mahasiswa menjelma menjadi warga negara yang terhormat. Dari sinilah mencul ungkapan bahwa mahasiswa adalah agen perubahan. Ini sama sekali bukan retorika kosong atau isapan jempol. Mahasiswa memiliki prinsip-prinsip kebenaran yang mereka perjuangkan. Kampus dan sistem kuliah justru mengikuti arus pergerakan mahasiswa.

Hal ini terbukti dengan munculnya program-program kampus membangun bangsa. KKN (Kuliah Kerja Nyata) adalah sebuah program bagi mahasiswa terlibat dalam persoalan bangsa dan berperan di dalamnya. Seorang mahasiswa IPB pergi ke Pulau Buru untuk KKN dan baru kembali setelah 13 tahun bekerja bersama warga desa.

Orde Baru menarik mahasiswa Indonesia ke kampus dengan program NKK BKK, mengembalikan mahasiswa ke jalur yang benar versi politis Orde Baru. Gerakan mahasiswa bergolak di dalam kampus-kampus dan memilih sikap yang anti pemerintah. Lantas gerakan ini meledak pada 1998. Namun mahasiswa tidak memiliki kekuatan

uang atau modal, ketika selama mereka menjadi gerakan di kampus-kampus, Orde Baru sama sekali mengubah tatanan ideologi dan politik bangsa.

Maka, gerakan mahasiswa pasca 1998 atau setelah Reformasi, sepertinya tidak bermakna lagi. Selanjutnya, memang pergantian generasi, ketika sosok-sosok mahasiswa seperti Soe Hok Gie atau Hariman Siregar, semakin terkubur dalam lipatan sejarah pergerakan mahasiswa.

Mahasiswa yang sebelumnya adalah subjek intelektual yang ditempa di kampus-kampus, kini menjadi objek atau bahan baku produk tenaga kerja yang harus dibentuk oleh perguruan tinggi untuk menyuplai kebutuhan tenaga murah pabrik-pabrik kaum kapitalis.

Mahasiswa semakin pragmatis. Kuliah adalah investasi yang semakin mahal. Maka Tujuan kuliah hanya satu: mendapat pekerjaan. Menjadi penganggur setelah tamat kuliah adalah aib keluarga dan universitas. Maka di balik tujuan mencetak tenaga kerja yang dijual di bursa kerja untuk menggerakkan pabrik-pabrik, sekaligus untuk bersembunyi, dikenalkan ideologi baru bernama kewirausahaan.

Mahasiswa dipersiapkan untuk tetap menjadi calon-calon kapitalis yang sukses dan mencipta pabrik yang

mempekerjakan ratusan orang. Hal ini mengubah potret mahasiswa Indonesia. Tidak ada lagi gerakan sosial politik praktis. Yang ada kini adalah gerakan pemikiran mahasiswa yang produktif secara ekonomis.

Gerakan mahasiswa memang sudah mati, lebih mati lagi ketika kampus-kampus menerima mahasiswa milenial.

Bahkan keadaan ini mendisrupsi kampus. Krurikulum perguruan tinggi diubah semata-mata untuk melayani mereka. Mereka tidak tahu gap-gap yang terjadi, misalnya di antara dosen.

Organisasi kemahasiswaan benar-benar tidak mampu lagi berperan total. Organisasi mahasiswa dengan berbagai kegiatan dijadikan kambing hitam penghambat masa studi.

Namun demikian, organisasi atau lembaga-lembaga mahasiswa tetap bertahan karena ada sosok-sosok mahasiswa yang militan. Sayang mereka kurang berperan karena tiada dukungan infrastruktur ideologi dan politik gerakan mahasiswa.

Sejak program Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka digelontorkan oleh Kemendikbud, ada arus balik gerakan mahasiswa. Kementerian menyiapkan berbagai program idealis yang bisa diikuti oleh mahasiswa untuk berperan dalam mengatasi persoalan bangsa. Negara

menghargai keterlibatan ini dengan SKS sehingga mahasiswa yang terlibat tidak rugi secara administrasi akademik.

Disrupsi ini dapat menjungkirbalikkan keadaan yang berlaku dan berjalan hingga berdampak besar dalam keseluruhan sistem pendidikan. Ini merupakan tantangan dan peluang bagi dunia pendidikan untuk manusia.

Keberadaan Tekhnologi dapat dimanfaatkan dalam segala kehidupan manusia, hal ini memberikan tantangan dan peluang berkembangnya inovasi dan kreatifitas dalam proses belajar dan mengajar. Selain itu akan memberikan dampak suasana pembelajaran yang lebih terkonsentrasikan.

Menurut Prof. Sarbiran tantangan dan peluang di era disrupsi perlu dihadapi dengan cara dilakukan secara terus menerus (continuous improvement), tanpa takut dan menyerah (resilience), mengikuti kemampuan beradaptasi (adaptivity), memiliki integritas (integrity), memiliki kompetensi (competency), memiliki dasar agama (religious).

Era disrupsi sudah melanda dunia pendidikan.

Online education sudah mulai dilakukan beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Dunia telah berubah, TVRI yang dulunya nomor satu terpuruk ke nomor 14 karena terdisrupsi. Orang terkaya di dunia bukan pebisnis minyak

atau otomotif melainkan bergeser pada teknologi informasi.

Demikian dikatakan Direktur LPP TVRI Helmy Yahya dalam acara Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di GOR UNY, Selasa (14/8).

Lebih lanjut diungkapkan pada era sekarang adalah era sharing ekonomi yang memaksimalkan media online.

“Mindset mahasiswa harus diubah karena kedepan berbisnis adalah serba digitalisasi melalui internet” kata Helmy Yahya. Lulusan University of Miami tersebut mengungkapkan banyak perusahaan gulung tikar karena banyak yang beralih via online termasuk cara bepergian dengan ojek. Yang bisa bertahan bukanlah yang terkuat atau paling pintar melainkan yang tercepat dalam melakukan perubahan. Era disrupsi merupakan penjabaran dari inovasi, mengubah value dengan kecepatan, lebih murah dan lebih bervariasi, mengubah perilaku model bisnis serta menyingkirkan pemain lama.

Selama pandemi Covid-19 berlangsung, sudah ada 1.600 inovasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi.

Selama pandemi Covid-19 berlangsung, sudah ada 1.600 inovasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi.

Dalam dokumen What this is student? (Halaman 157-191)

Dokumen terkait