• Tidak ada hasil yang ditemukan

What this is student?

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "What this is student?"

Copied!
249
0
0

Teks penuh

(1)

What this is student?

(2)

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2014

TENTANG HAK CIPTA Lingkup Hak Cipta

Pasal 1

Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ketentuan Pidana Pasal 113

1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).

2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak

Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

3. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak

Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (l) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/ atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

4. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang

dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).

(3)

What this is student?

Akhmad Arfani, Akhmad Bakhtiar, Choirun Nisrina, Fatkhur Robbani, M. Husain Haekal, Ihza Maulina, Nagita Histimuna Aisyah, Nur Kholis, Siti Nisrofah,

Sholekhah

CV PELITA AKSARA GEMILANG

(4)

Copyright © 2021 Akhmad Arfani, Akhmad Bakhtiar, Choirun Nisrina, Fatkhur Robbani, M. Husain Haekal, Ihza Maulina, Nagita Histimuna Aisyah, Nur Kholis,Siti

Nisrofah, Sholekhah

Penyunting : Wiji Nurasih Desain Sampul : Mulyono

Penata Letak : Inayatur Rizqiyah

Diterbitkan pertama kali oleh

CV PELITA AKSARA GEMILANG Sumuran Wetan RT 01/RW 06,

Kragilan, Mojolaban, Sukoharjo 57554 Surel : [email protected] Facebook : Elsage Publisher

Instagram : elsage.publisher WhatsApp : 085728650142

Cetakan pertama, November 2021 xii + 237 hlm; 14,8 x 21

ISBN: 978-623-6136-66-9

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.

Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

(5)

KATA PENGANTAR

Kehadiran buku ini, sebagai bentuk upaya menulis bersama yang digagas oleh Dema IAIN Pekalongan 2021. Buku ini bercerita seputar peran mahasiswa di era revolusi industri 4.0 dan muslim society 5.0. Buku ini merupakan hal yang sangat layak untuk diapresiasi. Mahasiswa sebagai pemeran utama di era digital ini, harus dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya tidak hanya sebatas pada bidang akademik semata namun juga dalam mengasah soft skill melalui kreativitas lewat sebuah karya.

Bagi mahasiswa, mengungkapkan gagasan, ide dalam bentuk tulisan menjadi suplemen utama untuk dapat mengembangkan daya nalar, pola pikir, dan berpikir kritis.

Budaya literasi di kalangan mahasiswa sebagai agent of change dan kaum intelektual yang dipercaya masyarakat harus terus ditingkatkan untuk memberikan perubahan ke arah yang lebih baik serta meningkatkan produktivitas mahasiswa.

Seorang mahasiswa mutlak menjadi pembelajar sepanjang hayat (life long learner) yang artinya peka

(6)

terhadap hal-hal baru dan selalu mengasah keterampilannya sesuai dengan kebutuhan saat ini agar dapat beradaptasi dan berkembang dengan baik dalam menghadapi tantangan global.

Apa yang ditulis oleh mahasiswa IAIN Pekalongan dalam buku ini sebagai bentuk dan peran konkret dalam memperkaya literasi khususnya selama pandemi di mana mahasiswa terbatas ruang geraknya. Buku ini menyuguhkan tema-tema yang aktual dan kontekstual dalam merespon apa yang terjadi saat ini yang meliputi; budaya mahasiswa khususnya pasca pandemi, literasi digital bagi generasi Z, hoax di era disrupsi hingga pembinaan moralitas mahasiswa merupakan topik-topik yang hangat untuk dikaji.

"Menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah,” sebagaimana yang diutarakan oleh Pramoedya Ananta Toer.

Sebagai penutup. Semoga karya ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi pembaca terkait peran dan kontribusi mahasiswa

Pekalongan, 27 Oktober 2021 Rektor

Dr. Zaenal Mustaqim, M.Pd

(7)

KATA SAMBUTAN PERTAMA

Asalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh Hidup mahasiswa!

Mahasiswa merupakan garda terdepan pencetus ide dan gagasan, penjaga marwah intelektual bangsa dan pewaris peradaban budaya kritis masyarakat.

Mahasiswa digadang sebagai suara rakyat yang tanpa gentar menjadi genderang suara kebenaran bagi mereka yang menindas atau dzalim terhadap sesama.

Kampus jangan sampai mengkerdilkan mahasiswa dengan regulasi yang membungkam mahasiswa untuk bersuara, mengasingkan mahasiswa dari realitas sosial, karena jika terjadi maka mahasiswa akan menjadi absurd, apatis dengan keadaan, lemah dalam nalar kritisnya, tumpul pisau analisisnya, sehingga gugup dan gagap dalam mengurai problematika.

Biarkanlah suara lantang nan keras itu menggema dengan penuh ambisi idealisme tanpa sekat birokrat, selama masih benar dalam koridor ilmiah seharusnya itu bukan

(8)

beban bagi pemangku kebijakan kampus apalagi sampai takut dan mengintimidasi.

Mahasiwa bukanlah perahan yang hanya didikate mengangkat akreditasi saja, tapi diberi dan diminta untuk menelisik lebih dalam keadaan kampus, birokrat serta masyarakat.

Semoga mahasiswa segera bosan terjebak dalam problem internalnya dan kampus atau pemerintah jangan ada alibi pembungkaman suara mahasiswa lagi.

Perguruan tinggi layaknya kapal yang berlayar membawa merah putih berlayar jauh ketengah samudra, ditangan mereka suara kita harus dijawab.

Riril Widi Handoko Presiden mahasiswa IAIN Pekalongan 2021

(9)

KATA SAMBUTAN KEDUA

Assalamualaikum Salam Mahasiswa Salam Literasi

Yang saya hormati Rektor IAIN Pekalongan Presiden Mahasiswa IAIN Pekalongan

Dan Teman-teman yang sudah turut serta menulis di buku ini.

Pertama saya sedikit menjelaskan terkait buku ini.

Buku ini di tulis oleh para mahasiswa yang mengikuti kegiatan sekolah literasi. Sekolah literasi itu salah satu proker dari Dema IAIN Pekalongan 2021 yang bertujuan meningkatkan kualitas minat baca, tulis dan cakap berargumen setiap individu mahasiswa. Salah satu rencana tindak lanjutnya adalah membuat sebuah artikel ilmiah tentang berbagai aspek dalam tubuh mahasiswa.

Kedua saya mengucapkan banyak terimakasih terhadap pihak yang ikut serta merealisasikan program ini.

Dan saya selaku perwakilan pengurus Dema memohon maaf

(10)

sebesar-besarnya apabila ada kekurangan dan kekeliruan yang terjadi di kegiatan acara atau penyetakan buku ini.

Ketiga saya berharap semuanya tidak pernah merasa cukup dalam belajar apalagi puas dengan apa yang sudah dicapai. Tanamkan dalam diri kita rasa haus akan ilmu.

Semakin banyak ilmu yang kita dapat semakin rasa haus terasa di tenggorokan kita. artinya teruslah melangkah maju, berproses di manapun kita berada, jadikan setiap tempat yang kita lewati, diami menjadi tempat menimba ilmu.

Tetap semangat menulisnya, tetap semangat belajarnya, tetap semangat mengejar cita-citanya. Jadilah mahasiswa yang selalu dibutuhkan di manapun kita berada. Hidup Mahasiswa!

Akhmad Arfani.

Menteri Riset dan Kajian Dema IAIN Pekalongan 2021.

Kabinet Nathasagraha.

(11)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... v

KATA SAMBUTAN PERTAMA ... vii

KATA SAMBUTAN KEDUA ... ix

DAFTAR ISI ... xi

BUDAYA MAHASISWA DI LINGKUNGAN KAMPUS, BUDAYA SEBAGAI FAKTOR KEMAJUAN BANGSA ... 1

Oleh : M. Husain Haekal ... 1

PERAN MAHASISWA DALAM PERKEMBANGAN LITERASI ... 19

Oleh : Ihza Maulina ... 19

MAHASISWA SEBAGAI PELAKU PERKEMBANGAN ERA SOCIETY... 37

Oleh : Choirun Nisrina ... 37

MAHASISWA CERDAS TANGKAL BERITA HOAKS DI ERA DISRUPSI ... 53

Oleh : Nagita Histimuna Aisyah ... 53

PERAN MAHASISWA DALAM PERKEMBANGAN LITERASI ... 75

Oleh : Sholekhah ... 75

GERAKAN MORAL MAHASISWA BERBASIS DIGITALISASI ... 95

Oleh : Siti Nisrofah ... 95

(12)

PERAN MAHASISWA DALAM PERKEMBANGAN

LITERASI... 117

Oleh : Nur Kholis AJ ... 117

MAHASISWA DALAM LINGKARAN ERA DISRUPSI ... 145

Oleh: Fakhru Robbani ... 145

PERGERAKAN MAHASISWA MILENIAL DALAM MENYONSONG BONUS DEMOGRAFI DI ERA SOCIETY 5.0 ... 179

Oleh : Akhmad Bakhtiar ... 179

MAHASANTRI DALAM MENEGUHKAN ASWAJA AN-NAHDLIYAH DI KAMPUS ... 207

Oleh : Akhmad Arfani ... 207

BIOGRAFI PENULIS ... 224

DAFTAR PUSTAKA ... 227

(13)

BUDAYA MAHASISWA DI LINGKUNGAN KAMPUS, BUDAYA SEBAGAI FAKTOR

KEMAJUAN BANGSA

Oleh : M. Husain Haekal

(14)

Mahasiswa

Mahasiswa adalah sekelompok penganalisis tubuh manusia yang bertanggungjawab mengembangkan keterampilan penalaran pribadi. Mahasiswa adalah seseorang yang mempunyai kesempatan belajar di universitas atau dijenjang perguruan tinggi. Pemahaman ini berkaitan dengan orang-orang yang sedang belajar, berusaha mencari pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan komposisi kepribadian, sebagai persiapan kehidupan masa depan, membuatnya bahagia di dunia dan di kehidupan yang kekal. Seorang mahasiswa siap untuk mencari dan mendalami regulasi di lapangan. Dapatkan minat ilmiah dengan membaca, mengamati dan memilih bahan bahan bacaan yang perlu ditinjau lebih lanjut dijelaskan dalam berbagai karya ilmiah.

Mahasiswa juga penuh dengan nuansa dinamis dan sikap ilmiah yang memungkinkan orang melihat sesuatu berdasarkan realitas objektif, sistematis dan rasional.

Sebagai siswa harus belajar mengenal dan memahami diri sendiri. Siswa mengacu pada orang yang mempelajari atau menyelidiki, yaitu orang yang mempelajari, meneliti, menggunakan ide secara aktif dan hati-hati dalam

(15)

B A N G S A

memahami ilmu. Mahasiswa aktif belajar secara mandiri maupun di bawah bimbingan dosen".1

Mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa dan dinilai mampu bersaing, menjadi kebanggaan, bisa bersatu, berkomunikasi, menanamkan kesadaran dalam hati nurani untuk ikut membangun bangsa. Mahasiswa juga diakui sebagai cendekiawan atau cendekiawan dalam masyarakat.

Kombinasi dalam pemahaman masyarakat untuk meningkatkan kepercayaan Indonesia dan kesempatan untuk menjadi seorang intelektual bisa menjadi kekuatan menuju Indonesia Hebat. Selain itu, siswa merupakan aset yang sangat berharga berharga. Suatu negara memiliki harapan yang tinggi terhadap siswa. Seorang penerus yang memiliki tingkat loyalitas yang tinggi terhadap kemajuan negara khususnya dalam dunia pendidikan.

Tipologi Mahasiswa

Secara umum ada dua jenis mahasiswa menurut kepribadiannya. Pertama, mahasiswa akademik adalah mahasiswa yang menonjol dalam bidang akademis

1Mei Mita, Bella Luluk Widya Ratna. Perilaku Malas Belajar Mahasiswa di Lingkungan Kampus Universitas Trunojo Madura.

Kompetisi Vol12,No 2, Oktober 2018.

(16)

menjadikan mahasiswa memiliki kewajiban aktif di universitas, tingkat kehadiran tinggi, menyelesaikan pekerjaan rumah, masuk tepat waktu dengan nilai yang sempurna atau nilai yang sangat baik. Kedua, aktivis mahasiswa adalah mahasiswa yang suka beraktivitas di luar tempat duduknya, belajar di organisasi kemahasiswaan di dalam dan di luar kampus, Indeks prestasi akademik sedang, dan derajat gelar universitas yang tidak pasti bahkan bisa dikeluarkan (DO).

Dari perspektif dua tipologi yang berlawanan terlihat jelas kehidupan pelajar. Jika itu termasuk dalam kategori pertama, maka jalurnya selama kuliah, mahasiswa melintas tak jauh dari asrama dan lingkar kampus. Meskipun jika Anda termasuk kategori kedua, Anda akan melewati banyak jalan yang tidak dilalui kalau dia belum pernah menginjakkan kaki di kampus.2

Kami percaya bahwa idealnya, siswa harus begitu kegiatan akademik dan non akademik. Dengan cara ini, ketika Anda lulus, apa yang Anda dapatkan tidak hanya

2Mei Mita, Bella Luluk Widya Ratna. Perilaku Malas Belajar Mahasiswa Di Lingkungan Kampus Universitas Trunojo Madura.

Kompetisi Vol12, No 2, Oktober 2018.

(17)

B A N G S A

dapat meningkatkan kualitas diri, tetapi juga keunggulan kompetitif dalam persaingan langsung ke dunia nyata.

Peran mahasiswa

a. Iron Stock yaitu siswa diharapkan menjadi orang dengan kemampuan dan budi pekerti luhur nantinya bisa gantikan generasi sebelumnya. Fokusnya adalah pada peran mahasiswa sebagai iron stock.

b. Guardian of value berarti mahasiswa dapat berperan penjaga nilai-nilai sosial. Mahasiswa adalah seorang sarjana yang selalu mencari setiap kebenaran dengan memikirkan secara ilmiah setiap masalah yang ada.

c. Agent of Change, adalah mahasiswa sebagai agen perubahan. Karena menjadi mahasiswa adalah fase memperoleh pendidikan tinggi sebagai jalan membentuk pribadi yang siap melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dan memberikan kontribusi untuk negara.

d. Moral force, mahasiswa sebagai kekuatan moral harus memiliki perilaku, pakaian, sikap, perilaku dan perilaku kata-kata bagus.

(18)

e. Social Control, mahasiswa sebagai pengontrol sosial menjadikan diri Anda jembatan antar komunitas dengan pemerintah.3

Kebudayaan Kampus

Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Budha yang merupakan bentuk jamak dari Buddha (pemikiran atau nalar) yang diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan kecerdasan dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris budaya berasal dari bahasa latin colere yang artinya dalam proses atau pekerjaan. Bisa juga diartikan sebagai bercocok tanam atau bertani. Kata budaya terkadang diterjemahkan sebagai "budaya" dalam bahasa Indonesia.4

Kebudayaan atau culture adalah segala pikiran dan benda yang diciptakan oleh manusia dalam perkembangan sejarahnya. Ruth Benedict memandang budaya sebagai cara berpikir dan bertindak yang terlihat dalam kehidupan sekelompok orang dan membedakannya dari kelompok lain.

3 Faruk. Metode Penelitian Sastra: Sebuah Penjelajahan Awal.

(Yogyakarta: Pustaka belajar, 2012).

4 Ramdani Wahyu. Ilmu Budaya Dasar (Bandung: Pustaka Setia, 2012). Hal. 95.

(19)

B A N G S A

Para ahli sepakat bahwa budaya adalah perilaku manusia, suatu proses adaptasi berdasarkan apa yang telah dipelajari.5

Keragaman definisi budaya tidak dapat dibahas satu per satu. Di sini, setidaknya dapat ditentukan bahwa

“budaya adalah keseluruhan sistem tindakan manusia dan konsep kerja yang dibentuk melalui pembelajaran dalam kehidupan bermasyarakat”.6

Hakikat budaya itu berbeda, tetapi karena semua budaya adalah produk dari sikap (keagungan Budi), maka semua budaya selalu tertib, cantik, berguna, dan mulia, memberi orang perasaan damai, gembira, bahagia, dll. Ciri budaya telah menjadi tanda dan tolak ukur tinggi rendahnya derajat peradaban suatu negara.

Ki Hajar Dewantara mengartikan kebudayaan sebagai kemenangan atau hasil dari perjuangan hidup, yaitu perjuangan dengan dua kekuatan yang berkuasa dan abadi, yaitu kekuatan alam dan kekuatan zaman. Budaya tidak memiliki bentuk yang kekal, tetapi terus berubah seiring

5 Sarjono. Agus R. Pembebasan Budaya-Budaya Kita (Jakarta:

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.1994). Hal. 5

6 Koentjoroningrat. Manusia dan Kebudayaan Indonesia (Jakarta:

Djambatan, 1990) Hal. 5

(20)

dengan perubahan alam dan zaman atau keakraban kita dengan aspek dinamis.7

Pada dasarnya antropolog memiliki dua pandangan tentang konsep budaya, terkadang keduanya pada hakikatnya berbeda antara satu makna dengan yang lain.

Pandangan ini dikembangkan oleh Ward H. Goodnow (Ward H. Goodenough 1961). 8 Rogwr M. Keesing menjelaskan perbedaan antara perilaku mentalitas dan pola perilaku.

1.) Kebudayaan sebagai pola dari perilaku.

Dari beberapa sudut pandang antropolog, pemahaman konseptual tentang budaya sebagai mode perilaku dapat dilihat. Menurut Koentjaraningrat budaya dapat diartikan sebagai produk manusia yang berwujud yaitu:

a) Konsep kompleks tentang nilai norma regulasi.

b) Kompleks aktivitas dan tindakan yang berpusat pada manusia dalam masyarakat.

7 Ki Hadjar Dewantara, Kebudayaan (Yogyakarta: Penerbit Majlis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1994). Hal. 23

8 Roger M. Keesing. Antropologi Budaya, Suatu Perspektif Kontemporer, jilid I, terj. Samuel Gunawan (Jakarta: Erlangga, 1989).

Hal. 68.

(21)

B A N G S A

c) Suatu bentuk budaya yang dihasilkan oleh karya manusia.9

Dari ketiga kategori tersebut, definisi budaya tersebut dapat dibedakan menjadi dua pilihan yang lebih substantif, yaitu budaya dalam bentuk yang terlihat secara fisik dan budaya dalam bentuk pengetahuan atau pemikiran yang tidak terlihat. Jika pengetahuan atau pemikiran itu tersebar dalam bentuk tingkah laku manusia dengan pengetahuan atau pemikiran maka akan terlihat.

2.) Kebudayaan sebagai pola perilaku.

Sudut pandang budaya yang mencerminkan pola perilaku pada dasarnya memperlakukan budaya sebagai atau mendefinisikannya sebagai sistem nilai dan norma, atau lebih tepatnya, sistem pengetahuan dalam konteks ini dipandang sebagai kekuatan untuk membentuk pola dan memaksa energi manusia terlepas dari sudut pandang ini.

menitikberatkan pada aspek atau bidang psikologis, tetapi esensinya bukanlah terminal atau pengetahuan sebagai produk apriori, bukan hanya bidang spiritual atau pengetahuan dalam pandangan ini mengacu pada suatu sistem. Pengetahuan inti dari pandangan garis pemikiran

9Koentjaraningrat. Pengertiann Ilmu Antropologi. (Jakarta: Aksara Baru, 1989). Hal. 186

(22)

pada dasarnya mendefinisikan budaya sebagai suatu sistem nilai dan norma, sistem nilai dan norma tersebut menjadi pedoman masyarakat setelah negosiasi,10 dan pada dasarnya sudut pandang ini juga merupakan produk dari metode fenomenologi.

Unsur-unsur Kebudayaan dalam masyarakat

Koentjoningrat juga mengemukakan bahwa semua negara di dunia dapat menemukan tujuh unsur budaya, dan ketujuh unsur tersebut yaitu:

1) Bahasa

2) Sistem pengetahuan 3) Organisasi sosial

4) Sistem dan teknologi peralatan kehidupan 5) Sistem mata pencaharian

6) Sistem agama 7) Sistem seni.

Pandangan ini jelas berarti bahwa budaya adalah mode refleksi perilaku saya, yang juga dapat diartikan sebagai seperangkat keyakinan, nilai, dan pola perilaku atau

10 Paulo B. Horton dan Chaster L. Hunt sosiologi, jilid 1. Terj.

Aminudin Rahm dan Tita Sobari. (Jakarta: Erlangga, 1991). Hal. 59

(23)

B A N G S A

kebiasaan yang dipelajari dan dibagikan oleh anggota masyarakat secara umum.11

Budaya sebagai faktor kemajuan dan kemunduran bangsa

Banyak pengertian yang menjelaskan tentang budaya, akan tetapi singkatnya budaya adalah cara manusia merespon lingkungan untuk bertahan hidup, dan mereka akan menang, jika budaya itu afirmatif, itu berarti strategi bertahan hidup dan kemenangan. Kita harus memahami bahwa inilah Dasar Ukuran untuk menilai tingkat kebudayaan tanpa harus pragmatis, perlu diakui bahwa kebudayaan bukanlah seni yang indah yang dianggap sebagai fakta kebudayaan yang tinggi.

Manusia terbagi menjadi kaya dan miskin. Sebagian besar orang miskin berada di negara berkembang, meskipun beberapa berhasil keluar dari kemiskinan. Kesenjangan berupa ketimpangan sosial di negara-negara maju yang demokratis, meskipun masih terdapat kemiskinan di antara masyarakat yang mengalami perbedaan ras, agama, dan

11 T.O Ihromi, Ed. Pokok-pokok Antropologi Budaya (Jakarta:

Gramedia, 1990). Hal. 21

(24)

pendidikan, hal ini terlihat jelas di daerah kumuh di berbagai pelosok perkotaan.

Melalui teori evolusi klasik, teori evolusi baru, dan paradigma "ketergantungan" yang menganalisis kemiskinan dan ketidakadilan sosial di negara-negara berkembang, secara praktis masih penting untuk merevitalisasi metode budaya atau mewujudkan pemahaman tentang kemajuan manusia saat ini. Saat ini, aliran kebudayaan Barat dapat mengancam kemajuan kebudayaan nasional. Saat menanam pohon dan menegaskan budaya baru yang dibawanya, imperialisme secara paksa menghancurkan budaya negara-negara kolonialnya. Pengakuan pertama yang harus dihancurkan oleh imperialisme adalah sejenis kesadaran intelektual. Kesadaran intelektual ini pada akhirnya akan mempengaruhi dan meracuni pandangan untuk memenuhi apa yang mereka inginkan. Wajar jika cara berpikir negara-negara kolonial sesuai dengan keinginannya, maka semua cara hidup dan budaya bangsa juga akan sejalan dengan budaya Barat. Peraturan budaya Barat semakin merasuk di hati masyarakat adat. Secara kultural, wajah masyarakat Indonesia dihadapkan pada pilihan yang tidak bisa dihindari sebagai berikut:

(25)

B A N G S A

1. Suka atau tidak suka, masyarakat adat harus menerima kekuatan budaya Barat. Selama ini budaya Barat sudah masuk arus utama, dan aturan budaya Barat lambat laun akan menghilangkan budaya asli.

2. Melalui perlindungan yang kuat terhadap budaya asli dan budaya agama dari serangan budaya Barat, masyarakat adat yang paling kuat dapat menahan dan mencegah datangnya budaya Barat.

3. Dengan menjauhkan semua faktor negatif dari budaya Barat dan beradaptasi secara selektif dan kritis dengan budaya dapat mencapai perkembangan budaya yang sehat tanpa melepaskan diri dari interaksi internasional, terutama gesekan dengan faktor budaya Barat.12

Kampus

Kampus menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI yaitu merupakan Area gedung pengajaran utama (universitas, perguruan tinggi), semua kegiatan pengajaran dan pengelolaan administrasi dilakukan di area ini.

Kampus merupakan wadah untuk membekali mahasiswa dengan ilmu dan memiliki peran tertentu, Ini

12 Ramdani Wahyu. Ilmu Budaya Dasar.(Bandung: Pustaka Setia,2012). Hal. 95.

(26)

sangat penting dalam pembelajaran. Lingkungan kampus yang ada, seperti perpustakaan, ruangan ruang belajar, laboratorium, masjid, kantor dosen dan karyawan dapat berkontribusi perkembangan keilmuan siswa. Siswa memiliki aturan untuk ditemukan, Jelajahi dan jelajahi bidang sains melalui membaca, observasi, dan seleksi.

Bacalah materi yang akan direview, kemudian tuangkan ke dalam berbagai karya ilmiah. Kuliah di perguruan tinggi sangat menarik, mengasyikkan, dan memiliki keunikan tersendiri terutama dalam memahami hal-hal tertentu kita diberikan kebebasan dan keleluasaan. Berpikir, bereksperimen dan kreatif. Mahasiswa mempunyai kebebasan karena tampil sebagai orang dewasa yang memahami kebutuhan hari esok, dan semua peraturan yang ada harus dipatuhi. Mahasiswa tidak sepenuhnya bergantung pada dosen. Penyedia data Dosen bukan menerima secara mutlak, tapi menganalisa, mengkritisi dan mencari materi.

Membandingkan materi yang diberikan dosen, bukan semuanya. Hal ini hanya sebagai pendorong bagi mahasiswa untuk mengkaji secara kritis materi perkuliahan yang diberikan oleh dosen.13

13 Mei Mita, Bella Luluk Widya Ratna. “Perilaku Malas Belajar Mahasiswa Dilingkungan Kampus Universitas Trunojo Madura.

(27)

B A N G S A

a. Tri Dharma Perguruan Tinggi

Tri Dharma Pendidikan Tinggi merupakan tiga pilar dasar pola pikir dan kewajiban mahasiswa negara sebagai intelektual. Karena siswa berada di garda depan perubahan menjadi lebih baik di negara kita. Jika kita melihat kembali sejarah, pernyataan ini menjadi jelas Sebagian besar perubahan besar di negeri ini diprakarsai oleh pelajar, dalam hal ini pemuda Indonesia. Pendidikan tinggi memiliki fungsi trinitas: pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Ketiga dharma ini saling terkait, dan dharma pertama (pendidikan: teoritis) dan kedua (penelitian: inovatif) harus secara khusus mendukung dharma ketiga (layanan: transformasi). Penelitian tidak hanya untuk penelitian itu sendiri, skor kredit, promosi, uang.

1. Pendidikan

Sebagai mahasiswa cendekiawan Indonesia terhitung 5% dari jumlah penduduk Indonesia, sehingga berkewajiban untuk meningkatkan kualitasnya sendiri guna meningkatkan kualitas negeri secara keseluruhan berdasarkan ilmu yang diperoleh dalam pendidikan kampus pada bidang keilmuan tertentu. Mahasiswa dan pendidikan merupakan satu

Kompetisi Vol12,No 2, Oktober 2018.

(28)

kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, oleh karena itu ketika mahasiswa melaksanakan segala aktivitas dalam kehidupan, segala sesuatu harus dilandasi oleh pertimbangan rasional, bukan perkelahian. Itulah yang disebut kematangan siswa.

2. Penelitian

Penelitian di bidang pendidikan tinggi merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mencari kebenaran secara sistematis berdasarkan kaidah dan metode ilmiah (scientific research) guna memperoleh informasi, data dan informasi yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian ketidakbenaran, kebenaran atau hipotesis ilmiah.

3. Pengabdian pada Masyarakat

Mahasiswa menempati lapisan kedua dalam hubungan sosial, yaitu sebagai penghubung antara masyarakat dan pemerintah. Mahasiswa adalah orang yang paling dekat dengan masyarakat dan memiliki pemahaman yang jelas tentang situasi di masyarakat. Sebagai mahasiswa sudah menjadi kewajiban untuk mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah menyangkut kepentingan rakyat karena sebagian besar keputusan pemerintah saat ini telah terkontaminasi oleh kepentingan politik tertentu, dan kami mahasiswa yang bermata tajam tetapi tidak tercemar oleh kepentingan yang sama. Dapat dengan jelas melihat

(29)

B A N G S A

konspirasi anti-politik terdalam dari titik terdalam, dan ini seringkali mengeksploitasi kepentingan rakyat.14

Setelah memahami dari beberapa penjelasan yang sudah dijabarkan diatas kita pastinya mengetahui, bahwa suatu bangsa atau negara akan maju ketika memiliki suatu kebudayaan yang dapat menunjang kualitas mahasiswa. Dan disinilah peran penting seorang mahasiswa yang konon katanya mahasiswa sebagai agent of change, agen of control dll, mahasiswa memerlukan adanya budaya yang dapat menunjang kuaitas dan mutu. Maka dari itu peran mahasiswa dilingkungan sangat penting guna menciptakan suasana budaya literasi dilingkungan kampus, karena pada dasarnya yang namanya ilmu itu tidak hanya bisa didapat dibangku kelas dikampus saja, adanya budaya literasi ini sangat membantu karena ruang lingkup dari literasi sendiri itu cakupannya sangat luas.

14 Bukmman Lian. Tanggungjawab Tridharma Perguruan Tinggi Menjawab Kebutuhan Masyarakat. Prosending Seminar Nasional Pendidikan Program Pasca Sarjana Universitas PGRI Palembang 03 Mei 2019.

(30)
(31)

PERAN MAHASISWA DALAM PERKEMBANGAN LITERASI

(Peran Mahasiswa Generasi Z Terhadap Literasi Digital Menuju Generasi Alpha)

Oleh : Ihza Maulina

(32)

Dalam abad ke-20 Masehi banyak terjadi kemajuan di berbagai aspek kehidupan. Salah satu efek dari kemajuan zaman abad ini membawa percepatan arus modernitas ilmu pengetahuan dan teknologi atau disingkat IPTEK. Ilmu pengetahuan semakin bertambah seiring berkembangnya penelitian para ilmuan dan kaum intelektual. Jenis atau bidang keilmuan yang sudah beraneka ragam memicu banyaknya pilihan karir. Misalnya saja sekarang ini ilmu hukum sudah terpecah menjadi beberapa fokus, antara lain hukum tata negara, hukum keluarga, hukum ekonomi, hukum perdagangan, hukum agraria, hukum internasional, dan masih banyak lagi. Tentu saja karir pada masing-masing bidang keilmuan berbeda.

Di samping ilmu pengetahuan yang berkembang, percepatan kemajuan juga dapat dilihat dari teknologinya.

Perkembangan di bidang teknologi menduduki peringkat pertama dalam rangka membawa perubahan pada keadaan sosial mesyarakat di dunia.15 Dengan semakin cepatnya perkembangan teknologi juga menghilangkan sekat jarak antar individu satu dengan individu yang lain. Fenomena ini

15 Robby Darwis Nasution. Pengaruh Modernisasi dan Globalisasi terhadap Perubahan Sosisal Budaya di Indonesia (Ponorogo: Universtas Muhammadiyah Ponorogo), Hal. 2.

(33)

dapat dilihat dari maraknya situs belanja online yang membuat masyarakat tidak perlu keluar rumah, hanya tinggal menunggu barangnya sampai diantarkan oleh kurir.

Handphone pintar atau yang disebut smartphone dengan segala fitur aplikasinya memudahkan aktivitas kehidupan sehari-hari masyarakat. Tidak jarang pula orang lebih suka menonton YouTube dari pada televisi, lebih suka menggunakan WhatsApp dari pada SMS, dan dengan HP pintar itu masyarakat tidak lagi menggunakan telepon malah beralih ke video call agar dapat melihat wajah lawan bicara.

Kecepatan internet juga yang membuat semuanya mudah, sehingga masyarakat lebih mengonsumsi data internet daripada pulsa.

Munculnya modernisasi ditandai dengan mulai merebaknya globalisasi, bahwa setiap individu atau negara mulai saling bekerjasama dan peniadaan sekat atau batas antar negara.16 Sebagian besar masyarakat di Indonesia menyambut dengan baik adanya perkembangan teknologi canggih tersebut. Terbukti dengan sikap mereka yang sangat menyukai alat-alat canggih seperti smartphone yang

16 Alviani Harara, Budaya Hedonisme dalam Masyarakat Era Global,

http://www.acdemia.edu/7277965/Budaya_Hedonisme_dalam_Masyara kat_Era_Global_Oleh_Alviani_Harara?auto=download

(34)

mempermudah segala aktivitas dan sifatnya praktis atau mudah dibawa ke mana-mana. Istilah modernisasi menurut Hutington, merupakan suatu proses perubahan ketika masyarakat yang sedang memperbaharui dirinya berusaha mendapatkan ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki masyarakat modern.17 Perubahan masyarakat terjadi karena cepatnya perkembangan teknologi komunikasi, seperti contoh pada abad ke-20 ini kecepatan internet di Indonesia sampai 10 Mbps.

Perkembangan teknologi atau digitalisasi lambat laun akan menghilangkan kebiasaan yang sifatnya konvensional, seperti menaiki sepeda ke sekolah, berbelanja di pasar, mendengarkan radio, membaca koran, dan lain- lain. Segala informasi mudah didapat dari internet, sehingga tidak heran jika masyarakat lebih suka membaca lewat mbah google yang serba tahu dan mendunia. Informasi-informasi yang didapatkan dari internet jika tidak di-filter, maka budaya modern luar akan mudah masuk dan mempengaruhi moral masyarakat Indonesia. Informasi yang tersebar di internet tidak semuanya aman untuk dibaca dan dijadikan

17 Nanang Martono, Sosiologi Perubahan Sosial : Perspektif Klasik, Modern, Posmodern, dan Poskolonial. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), Hal. 81.

(35)

sebagai lifestyle bagi masyarakat. Buku yang menjadi sumber aman untuk dibaca, sekarang sudah jarang dikonsumsi oleh masyarakat, kecuali orang-orang akademis.

Ini membuktikan bahwa budaya membaca buku konvensional terjadi penurunan drastis dalam perkembangan literasi di Indonesia.

Penelitian PISA menunjukkan rendahnya tingkat literasi Indonesia dibanding negara-negara di dunia.

Penelitian ini dilakukan di 72 negara yang respondennya adalah anak-anak usia sekolah (15 tahun). Di antara negara yang dijadikan sebagai sampling ada yang error, kurang lebih 2 hingga 3 skor. Indonesia berada pada rangking 62 dari 70 (bukan 72 karena 2 negara tidak memenuhi kualifikasi penelitian yaitu Malaysia dan Kazakhtan). Skor Indonesia untuk sains adalah 403, membaca adalah 397, dan matematika adalah 386. Sedangkan penelitian CCSU merilis peringkat literasi negara-negara dunia pada Maret 2016.

Indikator yang dijadikan penilaian, antara lain perpustakaan, surat kabar, pendidikan, dan ketersediaan komputer. Nah, Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei.

Indonesia masih unggul dari satu negara, yakni Bostwana yang berada di kerak peringkat literasi. Peringkat pertama

(36)

ada negara Finlandia, disusul Norwegia, Islandia, Denmark, Swedia, Swiss, AS, dan Jerman.18

Padahal hampir 80-90% pengetahuan dan keilmuan dihasilkan dari membaca. Kegiatan ini yang semestinya menjadi rutinitas masyarakat untuk mengembangkan keilmuan dibidangnya masing-masing. Apalagi membaca dibudayakan kepada anak sejak usia dini. Sehingga besarnya nanti menjadi pribadi yang kritis, percaya diri, jujur, bijaksana dan peka terhadap lingkungan sekitar. Ketika jiwa pecinta buku yang tertanam pada anak-anak mandeg, bisa jadi karena istilah panggilan kutu buku pada zaman digital ini sering dijadikan bahan cemoohan. Anak zaman now lebih ingin dianggap keren karena gadget-nya yang mahal daripada buku dalam tasnya.

Menurut teori perkembangan arus globalisasi, anak yang lahir tahun 2011-2025 tergolong generasi alpha yang lahir sesudah generasi Z. Karakteristik generasi ini menurun dari generasi Z yang dahulunya sudah akrab dengan gadget atau lebih dikenal dengan generasi internet (iGeneration).

Generasi alpha cirinya sangat terdidik, karena masuk

18 Danu Damarjati, Benarkah Minat Baca Orang Indonesia Serendah Ini?, dalam berita detiknews Sabtu, 5 Januari 2019, https://news.detik.com/berita/d-4371993/benarkah-minat-baca-orang- indonesia-serendah-ini (diakses pada tanggal 14 April 2021)

(37)

sekolah lebih awal dan banyak belajar serta rata-arata memiliki orang tua yang kaya.19Seharusnya generasi alpha ini mampu membawa perubahan besar bagi Indonesia. Lalu, apakah literasi akan selalu turun dari generasi ke generasi selanjutnya? Bagaimanakah peran mahasiswa yang lahir pada generasi Z terhadap perkembangan literasi? Upaya apakah yang dilakukan mahasiswa saat ini untuk memupuk cinta literasi pada anaknya yang lahir pada generasi alpha?

Sependek ingatan penulis pasca mengikuti Sekolah Literasi yang diadakan DEMA IAIN Pekalongan, ada salah satu pemateri yang menyampaikan perihal Sejarah Literasi di Dunia. Menurut Ibu Qomariah, literasi merupakan kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, menguasai sains, teknologi atau digital. Literasi sangat dipengaruhi pada melek huruf sebagai dasarnya mengembangkan kemampuannya. 20 Perubahan dinamika literasi dapat dipengaruhi juga oleh faktor politik, sosial dan ekonomi.

Berdasarkan tingkatannya, literasi dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu literasi dasar, literasi tingkat menengah, dan

19 Robby Darwis Nasution. Pengaruh Modernisasi dan Globalisasi terhadap Perubahan Sosisal Budaya di Indonesia. (Ponorogo:

Universtas Muhammadiyah Ponorogo), Hal. 2.

20 Siti Qomariah. Sejarah Literasi di Dunia. dalam acara Sekolah Literasi DEMA IAIN Pekalongan, 27-29 Maret 2021.

(38)

literasi tingkat atas. Nah, Indonesia menempati posisi literasi tingkat dasar sampai saat ini (2021).

Pada tingkatan literasi dasar, ada 6 jenis yaitu literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital (teknologi), literasi finansial, serta literasi budaya dan kewargaan. Keenam literasi ini merupakan literasi yang disepakati dalam World Economic Forum 2015. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan juga menggunakan keenam literasi dasar ini dalam Gerakan Literasi Nasional. Jika melihat kondisi Indonesia, literasi tidak seimbang dengan pencapaian yang disodorkan pada segala aspek kehidupan masyarakat. Contoh, keseimbangan bacaan tentang sains kurang karena masih banyak manusia yang dengan seenaknya merusak lingkungan. Lagi, keseimbangan bacaan tentang finansial kurang karena masih banyak masyarakat yang pengangguran. Kesejahteraan dan kualitas hidup sebuah negara dapat dicapai dengan baik, jika masyarakatnya mampu mengimplementasikan literasinya.

Tentu menjadi PR besar bagi seluruh bangsa Indonesia untuk mewujudkan peningkatan peringkat literasi. Kualitas kesejahteraan bangsa Indonesia akan maju karena bangsanya sendiri.

(39)

Di tengah arus modernisasi, subjek yang berpengaruh pada perkembangan literasi salah satunya mahasiswa. Mengapa mahasiswa? Karena mahasiswa sebagai penguasa digital. Mahasiswa yang lahir pada abad ke-20-an termasuk pada generasi Z yang berarti sudah melek akan penggunaan teknologi seperti gadget. Generasi Z adalah generasi yang lahir di tengah ledakan inovasi teknologi di berbagai bidang dengan akses yang semakin mudah dan murah. Kemudahan tersebut membawa komunikasi dan interaksi secara intens melalui situs jejaring, seperti Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp dan berbagai aplikasi lainnya. Pemanfaatan media sosial sudah sering digunakan untuk komunikasi dan memperoleh informasi. Apalagi sejak dituntut untuk mengikuti aturan pemerintah terkait pembelajaran daring atau online, mahasiswa sudah akrab dengan media belajar online.

Berdasarkan Survey Siemens Lifestyle mengungkapkan bahwa smartphone menjadi bagian hidup dan nafas manusia sehari-hari. Sektar 79% penduduk Indonesia merasa sangat kehilangan ketika smartphone mereka tidak ada di sekitarnya. Sementara 21% tidak sadar memeriksa smartphone mereka ketika mendengar nada

(40)

bunyi pengiriman SMS, WhatsApp, telepon dan lain-lain.21 Pada intinya, smartphone menjadi alat penting yang digunakan mahasiswa sehari-hari, baik dalam komunikasi, perkuliahan, maupun jual beli online. Dilihat dari data Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) tentang Presentase Pengguna Internet Berdasarkan Usia, presentase tertinggi diduduki oleh rentang usia 18-25 tahun yaitu 49.00% (kominfo, 2014). Ini berarti mahasiswa termasuk pengguna dan penguasa jejaring atau internet.

Maraknya budaya penggunaan gadget dikalangan mahasiswa tentunya akan menimbulkan dampak positif dan negatif. Adapun dampak positifnya, antara lain menambah ilmu pengetahuan, mempermudah komunikasi, memperluas jaringan pertemanan dan dapat mengakses serta membaca file dokumen. Sedangkan dampak negatifnya, antara lain menimbulkan kecanduan, resiko terkena radiasi, mengganggu tidur, merusak otak, penglihatan terganggu, mengganggu pendengaran, mempengaruhi perilaku, dan mengurangi interaksi.22 Dari pengamatan penulis, dampak yang paling sering terjadi lebih condong ke arah negatif.

21 Nurudin. Sistem Komunikasi di Indonesia. (Jakarta : Raja Grafindo Rosada, 2005) Hal. 189.

22 Puji Asmaul Husna, “Pengaruh Media Gadget Pada Perkembangan Karakter Anak”, dalam jurnal Vol. 2 Nomor 2.

(41)

Melalui berbagai media sosial dan jejaring tersebut, mahasiswa generasi Z cepat mendapatkan informasi, teman dan hiburan. Sebagian besar daya tarik mahasiswa generasi Z terhadap dunia maya lebih tinggi daripada membaca buku.

Mahasiswa sekarang lebih asyik dengan filter instagram, uji coba gerakan baru di Tik-Tok, bermain game online, atau scroll status WhatsApp hingga pemberitahuan status baru sudah tidak muncul lagi. Kegiatan tersebut diulang-ulang beberapa kali sehingga menjadi kecanduan hiburan dari gadget tersebut. Aktivitas ini disebut dengan doomscrolling, yaitu menggulir media sosial secara berulang-ulang.

Pengalaman waktu perkuliahan tatap muka pun, mahasiswa tidak lagi sering membawa buku di kelas. Hanya dengan gadget-nya yang serba fungsional, akhirnya dijadikan sebagai buku catatan sekaligus mencari bahan atau meteri perkuliahan. Sudah jarang lagi fenomena menggunakan tas gendong, sekarang beralih tas kecil yang isinya dapat ditebak yaitu satu buah bolpoin, buku binder, bedak, cermin, dan charger HP. Itu berlaku untuk mahasiswa perempuan persis pengamatan penulis.

Sedangkan mahasiswa laki-laki lebih simpel lagi, hanya berbekal bolpoin satu dengan buku kecil dalam tas pinggangnya.

(42)

Aktivitas mahasiswa dan gaya hidup seperti di atas pasti ada maksud dan tujuannya. Dari berbagai karakter mahasiswa yang berbeda akhirnya tipe-tipe mengikuti perkuliahan sangat beragam bentuknya. Tipe sederhana seperti hanya membawa gadget, bukan berarti malas untuk membawa buku dan bolpoin. Gaya kuliah semacam ini sebagai bentuk pemanfaatan teknologi dalam belajar. Tipe yang tetap membawa buku catatan adalah bentuk keterbatasan atau selera dalam menggunakan gadget, lebih suka mencatat di buku. Tipe lain lagi, ada mahasiswa yang membawa buku bacaan tentang perkuliahan tersebut sehingga cukup menggaris bawahi kata penting dan menambahkan keterangan dalam bacaan tersebut. Dari fenomena inilah, mahasiswa mempunyai gaya belajarnya masing-masing. Hanya saja mahasiswa perlu menerapkannya sesuai dengan porsi dan kebutuhan saja.

Padahal dalam peralihan kehidupan sekolah dengan kampus terdapat perbedaan. Jika siswa dalam sekolah hanya fokus mendengarkan dan menulis apa yang diperintahkan guru, maka lain dengan kehidupan kuliah yang serba mandiri dan harus berani untuk show up terhadap keilmuan masing-masing jurusannya. Metode belajar dalam sekolah cenderung manut terhadap gurunya. Sedangkan dalam

(43)

perkuliahan, seorang mahasiswa dapat menyanggah ataupun menyarankan metode belajar yang baik ketika di kelas.

Mahasiswa harus mulai aktif bertanya, berdiskusi, dan mampu menjawab pertanyaan dosen dengan tanpa bantuan smartphone-nya. Jika terus kecanduan terhadap benada tersebut, akan menururnkan pikiran kritis yang belum tentu ada dasarnya. Berbeda dengan mahasiswa yang senantiasa membaca buku sebagai sumber bacaan utama, mereka cenderung memiliki penuturan kata yang arif serta bersifat kritik membangun.

Kebiasaan-kebiasaan mahasiswa tersebut, seperti yang sudah disebutkan di atas menjadi tantangan tersendiri dalam membangun kualitas belajar atau kuliahnya.

Keseringan perilaku doomscrolling memicu kemalasan dan tidak terkendalinya informasi-informasi yang didapatkan.

Ketidakseimbangan aktivitas belajar dengan bermain gadget akan mengganggu sistem kerja otak. Kemudahan akses informasi menurunkan kecintaan terhadap bacaan konvensional seperti buku, koran, majalah, buletin, atau kitab-kitab klasik. Selain itu, dalam mengakses informasi di internet rawan terjadi ketidakvalidan data, sehingga menimbulkan informasi hoaks. Berbagai tantangan ini, mahasiswa generasi Z dituntut untuk mengatasinya dengan

(44)

bijak dalam penggunaan sosial media atau situs internet.

Jika tidak dapat seimbang, kualitas belajar dan kemampuan literasinya akan terganggu.

Dalam menjawab tantangan maraknya penggunaan gadget, mahasiswa generasi Z dapat melakukan upaya berikut ini untuk meminimalisir kecanduan yang merusak semangat belajar.

Pertama, tentukan prioritas belajar yang pasti.

Mahasiswa memiliki hak terhadap dirinya sendiri untuk menentukan prioritas. Dalam hal ini berarti membagi waktu antara belajar atau kegiatan membaca, kegiatan di luar kuliah seperti organisasi, kerja, bahkan dengan keluarga.

Menurut penulis, waktu membaca yang paling fresh ialah saat sehabis sholat subuh dan menjelang maghrib. Namun, kondisi seperti ini kembali kepada dirinya masing-masing untuk membagi waktu dengan baik.

Kedua, hindari ke-gabut-an yang memicu kemalasan. Biasanya ketika mahasiswa jenuh dengan perkuliahannya, mereka akan memilih untuk doomscrolling (menjelajahi sosial media atu per satu). Untuk menghindari hal ini, mahasiswa dapat melakukan aktivitas lain yang lebih bermanfaaat dan tidak menurunkan daya tahan tubuh alias lelah. Daripada melakukan aktivitas tersebut secara berulang

(45)

hingga berujung tidak mendapat apa pun, lebih baik mendengarkan podcast yang bersifat mendidik. Rasa ingin tahu dunia maya yang berlebih akan merusak pikiran bahkan merubah perilaku mahasiswa.

Ketiga, mengadakan kegiatan diskusi. Mahasiswa satu dengan yang lainnya mengadakan forum untuk membahas tentang pengetahuan keilmuannya masing- masing. Misal, mahasiswa sesama jurusan, mahasiswa dalam satu lingkup organisasi, atau bentuk forum diskusi yang satu frekuensi. Pemikiran-pemikiran dari teman-teman mahasiswa lain akan menjadi bahan pertimbangan dari informasi yang didapatkan dari internet maupun buku.

Sehingga forum merupakan salah satu bentuk penguatan literasi.

Keempat, menemukan cara membaca yang nyaman.

Tidak semua mahasiswa memiliki cara membaca yang sama. Ada mahasiswa dengan metode membaca dengan teknik scaming (keseluruhan), ada pula dengan teknik full reading (dari awal bab sampai akhir bab secara detail), ada yang suka dengan part tertentu saja, bahkan ada yang hanya membaca sinopsis dari buku tersebut. Selain trik membaca, suasana yang nyaman juga akan membawa mahasiswa betah untuk membaca. Maka, temukan tempat terbaik saat

(46)

membaca, seperti kamar, ruang belajar, rooftop, di bawah pohon, ataupun di cafe-cafe.

Kelima, mulailah belajar memanfaatkan media secara bijak dan kreatif. Mahasiswa era modernisasi tentu sudah akrab dengan berbagai aplikasi. Manfaatkanlah media tersebut untuk kampanye literasi sesuai dengan minatnya masing-masing. Misalnya, situs YouTube digunakan untuk membuat konten edukatif, Instagram digunakan untuk menginformasikan pengetahuan singkat melalui pamflet dan caption, TikTok yang berbasis vidio dapat digunakan untuk vlog edukatif, bahkan mahasiswa disarankan belajar editing gambar, kata-kata, dan vidio untuk menunjang kampanye literasi.

(47)

Berdasarkan pada upaya-upaya tersebut, mahasiswa sebagai sosok yang serba tahu dan dianggap masyarakat paling tahu maka perlu adanya gerakan yang masif terhadap literasi. Berhubung sekarang sudah terkena arus modernisasi, alat yang bisa diupayakan adalah smartphone itu sendiri. Dalam mengejar perkembangan teknologi, literasi digital menjadi perantara untuk berupaya meningkatan cinta terhadap literasi. Apalagi mahasiswa sebagai penguasa media dan paham dengan dunia digital, sudah semestinya dapat mengoperasikan dan memanfaatkan dengan baik. Etika sebagai mahasiswa juga perlu ditingkatkan agar tidak sembarangan menyalahgunakan teknologi. Peran mahasiswa dalam perkembangan literasi era modernisasi dapat disalurkan melalui media yang mereka kuasai. Sekarang justru malah banyak mahasiswa yang menjadikan media sebagai pekerjaan sampingan, misalkan youtuber, pembuat content creator, dan online shop. Dengan demikian, inilah bentuk peran mahasiswa generasi Z untuk mempersiapkan generasi alpha (generasi tahun 2011-2025) yang nantinya akan meneruskan perjuangan menghadapi perkembangan literasi.

(48)
(49)

MAHASISWA SEBAGAI PELAKU PERKEMBANGAN

ERA SOCIETY

Oleh : Choirun Nisrina

(50)

Teknologi informasi semakin berkembang seiring berjalannya waktu. Manusia berlomba-lomba menciptakan atau berinovasi, bertransformasi mempercanggih teknologi.

Semakin canggihnya teknologi ini sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Hal hal yang sebelumnya sangat sulit dilakukan oleh manusia, akan dipermudah dengan berbagai macam teknologi yang berkembang sekarang. Semua aspek kehidupan akan dipermudah dengan perkembangan teknologi ini.

Sekarang kita sedang dihadapkan pada era society.

Yang mana masyarakat terpusat pada manusia dapat menyeimbangkan antara kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial menggunakan sistem yang mengintegrasikan dunia maya dan fisik (COJG 2019).23

Society merupakan sebuah konsep yang dikembangkan demi terbentuknya masyarakat super smart yang memiliki pola perilaku mengoptimalkan pemanfaatan Internet Of Things, Big Data dan Artificial Intelligence

23 Hendarsyah, Decky. Desember 2019. “E-Commerce di Era Industri 4.0 dan Society 5.0”. Jurnal Ilmiah Ekonomi Kita. Vol.8, No.

02, https://ejournal.stiesyariahbengkalis.ac.id/index.php/iqtishaduna

(51)

sebagai solusi untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.24

Ketika manusia sudah optimal memanfaatkan hal hal tersebut, maka manusia tak perlu bekerja fisik untuk memenuhi kehidupannya. Segala sesuatu yang dibutuhkan sudah ada dalam dunia maya. Meskipun segalanya dipermudah, tetapi manusia juga harus pandai dalam memanfaatkannya.

Fukuyama, mengatakan bahwa tujuan dari society adalah untuk mewujudkan masyarakat di mana manusianya menikmati hidup sepenuhnya. Pertumbuhan ekonomi dan perkembangan teknologi ada untuk tujuan itu dan bukan untuk kemakmuran segelintir orang. Meskipun society berasal dari Jepang, tujuannya bukan hanya untuk kesejahteraan satu negara. Kerangka kerja dan teknologi yang dikembangkan akan berkontribusi untuk menyelesaikan tantangan masyarakat di seluruh dunia.25

Apakah Indonesia sudah siap menghadapi Era Society? Pendidikan di Indonesia saat ini sedang memasuki

24 Setiawan, Dimas dan Mei Lenawati. April 2020. “Peran dan Strategi Perguruan Tinggi Dalam Menghadapi Era Society 5.0”. Jurnal of Computer, Information System & Technology Management. Vol.3, No. 1, Hal.3.

25 Setiawan, Dimas dan Mei Lenawati. April 2020. Peran dan Strategi …. Hal.3

(52)

era industri, trend pendidikan di Indonesia saat ini adalah pembelajaran online yang menggunakan internet sebagai penghubung antara guru dan siswa. Belum sepenuhnya menggunakan teknologi di era industri, sekarang sudah dihadapkan dengan era society yang mana dalam bidang pendidikan, satu atau lebih siswa dalam proses pembelajaran tatap muka dengan robot yang dirancang khusus untuk menggantikan atau mengontrol pendidik dari jarak jauh.

Terlepas dari ada atau tidaknya guru, proses mengajar bisa terjadi kapan saja, di mana saja.26

Apakah Indonesia akan mengikuti era society atau tetap akan bertahan pada era industri?

Dalam hal ini, siap atau tidak, Indonesia harus mengikuti perkembangan era. Walaupun hanya sebagian yang sudah bisa mengikutinya.

Lalu bagaimana Indonesia mempersiapkannya?

Ada dua hal prioritas yang harus diperhatikan Indonesia dalam peningkatan Sumber Daya Manusia dalam persaingan di kancah internasional di saat ini ada dua

26 Nastiti Faulinda Ely. April 2020. Kesiapan Pendidikan Indonesia Menghadapi era society 5.0. Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan . Vol.5, No. 1, Hal.62.

(53)

prioritas yakni 27 : pertama, proses penggunaan, pembelajaran dan pencetakan karakter mahasiswa di dalam perguruan tinggi. Kedua, pendidikan Indonesia harus mulai merdeka dalam belajar dan menjadikan guru sebagai penggerak.

Dari kedua hal tersebut dapat disimpulkan bahwa Indonesia tidak hanya menyiapkan pendidikan dengan kecerdasan yang cuma-cuma. Karena dalam era ini masyarakat berpusat keseimbangan. Di mana internet berperan sebagai pembantu menjalani kehidupan dan teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri dan perkembangan teknologi dapat meminimalkan adanya kesenjangan pada manusia dan mencegah adanya permasalah-permasalahan dikemudian hari.

Mahasiswa sebagai pelaku perkembangan era society di Indonesia dari masyarakat dan generasi mudanya harus menanamkan arah pandang yang jelas, karena di bidang pendidikan era society lebih berfokus pada creativity, critical thingking, communicaion dan collaboration atau yang dikenal dengan 4Cs.28

27 Ni Nyoman Lisna Handayani. 2020. Pembelajaran Era Disruptif Menuju Era Society 5.0. https://prosiding.iahntp.ac.id.

28 Ibid, Hal:64.

(54)

1. Creativity (kreatifitas)

Kreatifitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, baik yang benar- benar merupakan hal baru atau sebuah ide baru yang diperoleh dengan cara menghubungkan beberapa hal yang sudah ada dan menjadikannya suatu hal baru.

Yang dapat mengarah pada inovasi yang berkelanjutan.

Penting bagi generasi muda untuk memiliki sifat kreatif, yang mana sangat dibutuhkan untuk berperang dalam era yang semakin maju ini dan cenderung akan membangun pola kerja mereka dengan keterampilan interpersonal yang kuat dan diperkaya dengan keterampilan soft skill yang tertuang dalam society.

Tingkat kesadaran untuk menciptakan sesuatu yang baru dan bermanfaat yang bisa bersaing di dunia adalah harapan yang tertuju kepada generasi muda Indonesia.

2. Critical Thingking (Berpikir Kritis)

Berpikir kritis merupakan keterampilan yang memungkinkan seseorang membuat keputusan yang logis, berdasarkan informasi yang didapat dan

(55)

diolah sesuai kemampuan. Bisa dikatakan juga bahwa critical thingking dihasilkan dari berfikir yang tidak sesuai dengan menstrem yang berlaku dimasyarakat, atau dikatakan juga sebagai penanya dari fenomena yang biasa terjadi dimasyarakat.

Berfikir kritis ini menjadi dasar seseorang menemukan sesuatu yang baru. Biasanya juga akan menciptakan semangat bagi seseorang untuk mencari jalan keluarnya.

Bagaimana cara agar seseorang terbiasa berfikir positif? Sebenarnya ada banyak cara, tapi yang paling mudah dan mendasar adalah

“BANYAK MEMBACA”. Dari membaca seseorang akan terbuka pikirannya. Kebiasaan membaca berdampak pada kemampuan berpikir kritis.29

Selain membaca, ada juga menulis. Tak banyak orang yang berani menulis. Tapi didasarkan dengan membaca, seseorang akan lebih

29 Suhartono. Juni 2014. “Pengaruh Kebiasaan Membaca, Kemampuan Berfikir Kritis, dan Penguasaan Struktur Sintaksis Terhadap Keterampilan Menulis Ilmiah”. Jurnal Lentera Pendidikan . Vol.17, No. 1, Hal.44.

(56)

terbiasa untuk menulis, karena seseorang akan terbiasa menjumpai kalimat kalimat yang enak dan pantas untuk dituliskan.

3. Communication (komunikasi)

Yang dimaksud disini adalah Communication skill adalah kemampuan atau keterampilan seseorang untuk dapat memahami informasi dengan lebih akurat dan cepat. Karena itu keterampilan komunikasi sangat dibutuhkan dalam era ini.

4. Collaboratian (kolaborasi)

Kolaborasi yang dimaksud adalah kerjasama dengan beberapa instrumen penting, yang instrumen tersebut sudah berada dalam era society.

Sehingga hasil dari kerjasama tersebut akan berdampak baik bagi Indonesia. Indonesia akan terbiasa dengan hal hal yang berhubungan dengan era society. Selain itu, mereka harus sadar bahwa untuk mengahadapi era society ini harus mempunyai kemampuan kemanpuan yang meliputi :

1. Leadership (kepemimpinan)

(57)

Tak harus menjadi pemimpin untuk orang lain. Cukup memimpin diri sendiri untuk tepat pada tujuan utama. Dalam era society ini jiwa kepemimpinan yang ada dalam diri generasi muda harus ditanamkan. Kemampuan membawa diri untuk menguasai, memilih, dan berperan dalam era society ini.

2. Digital literacy

Yaitu kemampuan untuk menelusuri, mengevaluasi, dan membuat informasi secara efektif dan kritis menggunakan berbagai teknologi digital. Kurnianingsih, Rosini, dan Ismayati (2017) mengungkapkan karakteristik literasi digital tidak hanya mengacu pada keterampilan operasi dan menggunakan berbagai perangkat teknologi informasi dan komunikasi, tetapi juga untuk proses membaca dan memahami sajian isi perangkat teknologi serta proses menciptakan dan menulis menjadi sebuah pengetahuan baru.30

30 Saputra, Hendra Nelva dan Salim. 2020. “Potret Mahasiswa dalam Penggunaan Literasi Digital ”. Jurnal Komunikasi Pendidikan . Vol.4, No. 2, Hal.95.

http://journal.univetbantara.ac.id/index.php/komdik.

(58)

3. Communication

Yaitu kemampuan berkomunikasi dengan orang lain menggunakan berbagai teknologi.

4. Emotional intelligence

Yaitu kemampuan seseorang dalam menggunakan dan memahami emosi (baik emosi orang lain maupun emosi diri sendiri). Yang mana akan menimbulkan rasa peka kepada orang lain dan dunia sekitar.

5. Enterpreneurship

Yaitu proses penerapan inovasi dan kreativitas untuk menciptakan sesuatu yang berbeda dan bernilai, serta memiliki kemampuan menghadapi tantangan hidup dengan menghadapi peluang yang ditimbulkan oleh berbagai resiko dan ketidakpastian demi mencapai keuntungan dan proses pertumbuhan.

6. Global citizenship

Yaitu kemampuan untuk berperan aktif dalam menghadapi dan mengatasi tantangan global dan menjadi kontributor yang proaktif untuk dunia yang lebih damai, toleran, inklusif dan aman.

(59)

7. Problem solving

Yaitu kemampuan untuk menyelesaikan segala masalah dan mengambil keputusan yang sulit. Tujuannya adalah untuk menemukan solusi yang tepat tanpa menyebabkan masalah yang lain.

8. Team-working

Yaitu kemampuan untuk bekerja di dalam tim. Team-working adalah salah satu soft skill yang akan menunjang keberhasilan. Hal ini karena seseorang tidak bisa melakukan sesuatu sendirian, jika ada kelompok atau partner akan bisa berkomunikasi, mendengarkan dan mengeksekusi pekerjaan secara terkoordinasi. Selain itu, ketika mengalami kesulitan maka akan lebih mudah terselesaikan ketika didiskusikan dengan orang lain, dan pasti akan mudah menemukan sebuah ide atau gagasan baru.

Kesiapan Indonesia dalam hal pendidikan ini dilihat dari pertama infrastruktur. Apakah pemerintah sudah berusaha meningkatkan pemerataan pembangunan dan perluasan koneksi internet ke semua wilayah Indonesia?

Seperti yang kita ketahui, bahwa saat ini belum semua wilayah Indonesia dapat terhubung dengan koneksi internet.

(60)

Sebagian wilayah pedalaman Indonesia masih kesulitan menjangkau internet. Masyarakat mereka harus keluar ke wilayah kota untuk sekedar bisa memanfaatkan koneksi internet.

Kedua, dari segi SDM. Apakah pengajar sudah memiliki keterampilan dibidang digital dan berpikir kreatif ? Dalam hal ini guru dituntut untuk lebih inovatif dan dinamis dalam mengajar di kelas. Realitasnya, masih sedikit pengajar yang memiliki keterampilan dibidang digital.

Pengajarannya juga monoton seperti dulu. Belum ada perkembangan untuk metode pengajarannya.

Ketiga, apakah pemerintah sudah bisa menyinkronkan antara pendidikan dan industri agar nantinya lulusan dari perguruan tinggi maupun sekolah dapat bekerja sesuai dengan bidangnya dan sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan oleh industri? kita melihat sendiri banyak sekali pengangguran berpendidikan yang tercatat di Indonesia.

Keempat, apakah Indonesia sudah menerapkan teknologi sebagai alat kegiatan belaar-mengajar? Mungkin hal ini sudah mulai diterapkan. Mengingat adanya pandemi di Indonesia. Tapi sejauh ini masyarakat masih beradaptasi dengan hal itu.

(61)

Mengenai ke empat hal tersebut bukan hanya pemerintah yang harus berperan. Masyarakat dan generasi mudanya juga harus siap ikut berpartisipasi. Karena jika hanya pemerintah saja yang bergerak, tapi kita sebagai pelakunya tidak mengikutinya, maka tidak akan berhasil.

Pemerintah hanya sebagai jalan dan penyedia fasilitas saja.

Peran Perguruan Tinggi Dalam Menciptakan Generasi Muda Era Society Dunia pendidikan sangat penting dalam menyongsong Revolusi Era Society. Dunia pendidikan sebagai salah satu pencetak generasi berilmu harus dapat menyesuaikan perkembangan yang ada dengan pembelajaran yang diberikan. Dengan penyesuaian tersebut maka Indonesia akan tetap menyesuaikan perkembangan yang ada karena didukung dengan para profesional. 31 Jenjang pendidikan tertinggi di negara Indonesia adalah perguruan tinggi. Yang mana perguruan tinggi adalah wadah bagi negara Indonesia untuk menciptakan generasi generasi penerus bangsa yang berkualitas. Maka dari itu, antara mahasiswa dan perguruan tinggi harus sama sama dikelola dengan benar agar menjadi perguruan tinggi berkualitas

31 Mumtaha, Hani Atun dan Halwa Annisa Khoiri. 2019. Analisis Dampak Perkembangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 Pada Perilaku Masyarakat Ekonomi (E-Commerce). Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Teknik . Vol.4, No. 2, Hal.60.

(62)

yang bisa menciptakan generasi panerus yang berkualitas pula. Perguruan tinggi dan mahasiswanya juga harus sama sama sadar bahwa keberhasil adanya generasi era society ini tidak terlepas dari perguruan tinggi dan mahasiswanya.

Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristek Dikti), Muhammad Nasir, menerangkan bahwa ada empat hal yang harus menjadi perhatian perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan memiliki kompetensi.

Pertama, pendidikan berbasis kompetensi menjadi salah satu misi utama perguruan tinggi di era sekarang (Pemerintah, 2005). Setiap mahasiswa mempunyai bakat dan kemampuannya masing-masing oleh karena itu, pendekatan teknologi informasi dibutuhkan untuk membantu menentukan program studi yang tepat sesuai dengan kemampuannya.

Kedua, pemanfaatan ( IoT ) Internet of things pada dunia pendidikan. Dengan adanya IoT dapat membantu komunikasi antara dosen, mahasiswa dalam proses belajar mengajar.

Tiga, pemanfaatan virtual/augmented reality dalam dunia pendidikan. Dengan digunakannya augmented reality dapat membantu mahasiswa dalam memahami teori-teori

Referensi

Dokumen terkait

Wujud budaya belajar dalam kehidupan dapat dilihat pada dua kategori bentuk, Pertama, Perwujudan budaya belajar yang bersifat abstrak, dan kedua perwujudan budaya yang

Hubungan dalam wacana dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu hubungan bentuk (kohesi) dan hubungan makna (koherensi). Konsep kohesi mengacu pada hubungan bentuk

Sejalan dengan pandangan bahwa bahasa itu terdiri atas bentuk dan makna, hubungan dalam wacana dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu hubungan bentuk yang

Berkenaan dengan kajian budaya, maka peneliti menjatuhkan pilihan pada batik yang menjadi isu dalam identitas budaya Indonesia dengan mengemukakan dua alasan;

Dengan adanya sumber data dan tipe prinsip, maka prinsip-prinsip pengembangan kurikulum dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu prinsip umum yang didalamnya

Selanjutnya kalau diperhatikan ancaman pidana perzinaan itu menurut hukum Islam, dapat dibedakan berdasarkan subyek tindak pidananya menjadi dua jenis kategori tindak

Konsep-konsep kesebangunan dan kekongruenan yang tersaji pada rumah adat Using dapat dibedakan menjadi dua hal, yaitu (1) konsep yang terukur, dengan bentuk-bentuk

Kelelahan pada individu dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani. Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul