BAB VI PEMBINAAN TNI
PENGGUNAAN KEKUATAN TNI
33. Operasi Militer untuk Perang (OMP). Penggunaan
kekuatan TNI pada Operasi Militer untuk Perang dilakukan setelah ada pernyataan perang yang dikeluarkan oleh Presiden melalui mekanisme pengambilan keputusan politik negara, dengan pertimbangan sebagai berikut:
a. Tujuan. Penggunaan kekuatan TNI pada
Operasi Militer untuk Perang merupakan jalan terakhir yang terpaksa harus dipilih setelah berbagai upaya damai dalam penyelesaian konflik antarnegara tidak
dapat dicapai. Operasi Militer untuk Perang dilakukan untuk tujuan mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, serta keselamatan bangsa dan negara dari kekuatan militer negara lain yang melakukan agresi terhadap Indonesia dan/atau dalam konflik bersenjata dengan satu atau beberapa negara lain.
b. Sasaran. Sasaran penggunaan kekuatan TNI
pada OMP adalah ter-tangkal dan terusirnya berbagai bentuk ancaman dari kekuatan militer negara lain yang melakukan agresi terhadap Indonesia dan/atau dalam konflik bersenjata dengan satu negara atau lebih.
c. Sifat. Penggunaan kekuatan TNI untuk
menghadapi ancaman kekuatan militer negara lain bersifat defensif aktif yang dijabarkan sebagai berikut:
1) Defensif Strategis. Operasi yang bersifat Defensif Strategis mendahulukan tindakan penangkalan dan pencegahan dini yang di-kembangkan untuk meniadakan, membatalkan niat musuh, dan menghambat gerakan musuh atau menjebak musuh dengan tujuan mengubah perbandingan dan perimbangan kekuatan TNI menjadi lebih kuat sehingga dapat beralih kepada operasi ofensif strategis.
2) Ofensif Strategis. Operasi yang bersifat Ofensif Strategis meng-gelar kekuatan dan kemampuan pertahanan, untuk menghancurkan, melumpuhkan, mendis-organisasikan atau me-lemahkan kekuatan
musuh di tempat asalnya ataupun saat perjalanan, serta menghindari risiko peng-gunaan wilayah NKRI sebagai ajang peperangan dengan strategi militer menggunakan pertahanan berlapis sebagai berikut:
a) Lapis pertama. Pertahanan militer menghadang dan menghancurkan musuh di luar wilayah ZEEI.
b) Lapis kedua. Pertahanan militer menghadang dan menghancurkan musuh di wilayah ZEEI.
c) Lapis ketiga. Pertahanan militer menghadang dan menghancurkan musuh di wilayah laut teritorial dan perairan kepulauan (archipelagic waters) Negara Kesatuan Republik Indonesia.
d) Lapis keempat. Pertahanan militer menghadang dan menghancurkan musuh di daratan.
d. Daerah operasi. Daerah Operasi Militer untuk Perang meliputi:
1) Wilayah laut dan udara di atasnya mulai dari batas ZEEI ke arah luar/ laut bebas;
2) Wilayah laut dan udara di atasnya mulai
batas ZEEI sampai dengan batas wilayah teritorial Indonesia;
3) Wilayah teritorial di luar daerah pemukiman masyarakat sipil;
4) Seluruh wilayah NKRI merupakan daerah operasi militer sebagai medan perang berlarut.
e. Strategi. Penyelenggaraan Operasi Militer untuk Perang dirumuskan dalam bentuk Strategi Pertahanan Nusantara (SPN), yaitu strategi pertahanan yang bersifat semesta yang memadukan unsur-unsur kekuatan TNI dan seluruh sumber daya nasional dalam rangka menegakkan kedaulatan negara dan mem-pertahankan keutuhan wilayah serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. SPN merupakan pertahanan wilayah mulai dari garis batas terluar yurisdiksi nasional sampai dengan garis pantai dalam wilayah Indonesia yang didasarkan pada konsep pertahanan berlapis, pergeseran wilayah pertahanan dan pertahanan rakyat semesta. SPN diselenggarakan untuk menghadapi serangan dari luar
dengan wilayah pertahanan terdiri atas tiga lapis, yaitu Mandala Pertahanan Luar, Mandala Pertahanan Utama dan Mandala Pertahanan Dalam. SPN dirancang berdasarkan strategi penangkalan dan strategi pertahanan berlapis.
1) Strategi penangkalan diarahkan untuk mencegah dan membatalkan niat musuh me-lakukan invasi atau agresi ke wilayah atau bagian wilayah NKRI.
2) Strategi pertahanan berlapis dilaksana-kan dalam bentuk operasi tempur yang disusun dalam bentuk Mandala Perang sebagai berikut.
a) Mandala Pertahanan Luar. Mandala Pertahanan Luar adalah kekuatan TNI sebagai andalan awal yang digelar di Mandala Pertahanan Luar, yaitu wilayah laut dan udara di atasnya mulai dari batas ZEEI ke arah luar.
b) Mandala Pertahanan Utama. Mandala Pertahanan Utama adalah kekuatan tempur sebagai andalan utama untuk memenangkan waktu dan merebut inisiatif dalam pertempuran, apabila perlu, dengan mengorbankan ruang untuk men-jebak dan menghancurkan musuh. Mandala Pertahanan Utama digelar di wilayah laut dan udara di atasnya, mulai batas wilayah laut teritorial Indonesia sampai dengan ZEEI.
c) Mandala Pertahanan Dalam. Mandala Pertahanan Dalam adalah kekuatan TNI sebagai andalan terakhir apabila Mandala Pertahanan Luar dan Mandala Pertahanan Utama dapat di-tembus musuh. Sebagai benteng ter-akhir, Mandala Pertahanan Dalam harus mati-matian dengan segala resiko yang harus dipikul, sesuai dengan tekad dan niat bangsa Indonesia untuk pantang menyerah, dengan kegiatan operasi dalam bentuk perang berlarut untuk mengungguli kekuatan musuh, kemudian mengusir musuh ke luar dari wilayah Indonesia.
f. Pengerahan Kekuatan TNI. Pengerahan
kekuatan TNI pada Operasi Militer untuk Perang dapat dilakukan di wilayah darat, laut dan udara dengan TNI sebagai komponen utama pertahanan negara bersama dengan komponen bangsa lainnya melaksanakan Operasi Militer untuk Perang dalam rangka perang semesta dengan tetap berpedoman kepada prinsip pengerahan kombatan dan nonkombatan secara proporsional dan pantang menyerah sampai dapat memenangkan perang.
g. Asas Perang. Asas-asas yang digunakan TNI
dalam pelaksanaan operasi militer untuk perang adalah sebagai berikut:
1) Asas Tujuan. Tugas-tugas TNI harus dilaksanakan secara terukur mengarah pada pencapaian tujuan sesuai penahapan sasaran yang jelas serta realistis. Tujuan Operasi Militer untuk Perang yang ditetapkan TNI adalah me-ngalahkan atau menghancurkan kekuatan tempur serta mengusir musuh ke luar dari wilayah Indonesia.
2) Asas Mobilitas. Kemampuan mobilitas diperlukan untuk melaksanakan tugas secara responsif, menjamin kebebasan bertindak, mengembangkan hasil yang dicapai, dan mencegah kehancuran pasukan sendiri. Asas mobilitas menetapkan satuan TNI untuk tidak mempertahankan medan operasi secara statis, tetapi mampu memproyeksikan kekuatan dari satu daerah ke daerah lain guna mendapatkan keunggulan strategis.
3) Asas Pemusatan. Kekuatan dan pe-nguatan dipusatkan pada daerah operasi dan sasaran tertentu untuk menjamin penyelesaian tugas dalam ruang dan waktu yang ditentukan, kemudian melanjutkan tugas pada tahap operasi selanjutnya secara bertahap guna memperoleh keunggulan di setiap tahap.
4) Asas Keamanan. Tindakan keamanan harus senantiasa dilakukan terhadap kegiatan, informasi, alat utama dan sistem persenjataan, dan personel dengan tujuan untuk mencegah musuh dapat memperoleh keuntungan.
5) Asas Kedalaman. Asas kedalaman yang diwujudkan dalam penetapan daerah operasi dan penggelaran kekuatan secara berlapis-lapis dilaksanakan untuk menjamin penyelenggaraan pertahanan negara secara berkelanjutan.
6) Asas Informasi. Memonitor setiap per-kembangan dan situasi serta kondisi yang aktual dan melaporkan informasi secara dini, mem-percepat adaptasi terhadap setiap perubahan, serta senantiasa membina dan mengembang-kan kesadaran masyarakat untuk melakumengembang-kan respons dan lapor cepat.
7) Asas Penghematan. Dalam perang harus dipertimbangkan penggunaan kekuatan secara proporsional. Segala faktor harus diperhitungkan dengan cermat, efektif dan efisien sehingga pada tempat yang tepat dapat dikerahkan kekuatan secara tepat dan menentukan dilaksanakan dengan mempertimbangkan faktor waktu, tempat, dan cara-cara yang tidak di-harapkan oleh musuh sehingga dapat meng-ubah imbangan daya tempur.
8) Asas Pendadakan. Tindakan pendadakan dilaksanakan dengan mempertimbangkan faktor waktu, tempat, dan cara-cara yang tidak diharapkan oleh musuh sehingga dapat mengubah imbangan daya tempur.
9) Asas Kesatuan Komando. Dalam pelaksanaan perang, kesatuan komando mutlak diperlukan. Perang terikat pada satu tujuan, ruang, dan waktu, pembagian/pemisahan dalam sasaran sehingga diperlukan pengendalian baik terpusat atau desentralisasi pelaksanaan.
10) Asas Kekenyalan. Pembinaan dan peng-gunaan kekuatan TNI harus memiliki ke-mampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi dan kondisi yang relatif cepat berubah. 11) Asas Kerahasiaan. Dalam pelaksanaan perang, kerahasiaan mutlak diperlukan mulai dari tahap perencanaan sampai pelaksanaan guna memberikan pendadakan sehingga dapat merebut inisiatif.
12) Asas Keunggulan Moral. Keunggulan moral merupakan faktor penentu keberhasilan tugas, dilandasi motivasi yang kuat, semangat juang pantang menyerah, hubungan atasan dan bawahan yang kohesif, latihan yang keras, dukungan yang memadai dan prosedur operasional yang jelas. Semangat pantang menyerah dimaksudkan untuk tetap melakukan perlawanan terhadap kekuatan bersenjata musuh sampai memperoleh kemenangan.
13) Asas Kesemestaan. Dalam pe-nyelenggaraan perang dilaksanakan dengan mengerahkan segenap potensi nasional.
14) Asas Tidak Mengenal Menyerah. Prinsip dasar bangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman atau lawan yang lebih besar sekalipun adalah semangat dan motivasi untuk tidak boleh terhenti sebelum mencapai keberhasilan yang didasari oleh semangat pantang menyerah. 15) Asas Ofensif. Tindakan ofensif rupakan cara yang paling efektif dan me-nentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara jelas. Oleh karena itu, semangat ofensif harus senantiasa tertanam kuat dalam setiap pelaksanaan operasi militer. 16) Asas Massal. Operasi secara massal dapat dilakukan dengan menyinkronisasikan dan mengintegrasikan secara tepat semua ke-mampuan yang dimiliki pasukan gabungan sehingga dalam waktu singkat dapat diperoleh hasil yang menentukan.
17) Asas Manuver. Manuver merupakan gerakan pasukan untuk menempatkan musuh pada posisi yang tidak menguntungkan baginya melalui fleksibilitas dalam mengaplikasikan daya tempur yang dimiliki.
18) Asas Kesederhanaan. Kesederhanaan dilaksanakan dengan menyiapkan rencana yang jelas, perencanaan yang sederhana, dan perintah yang tegas untuk menjamin bahwa perintah yang diberikan dapat dimengerti.
19) Asas Pengendalian. Pengendalian me-rupakan suatu kegiatan pengerahan dan peng-gunaan kekuatan TNI yang dilaksanakan secara bijak, sesuai dengan kebutuhan.
20) Asas Ketekunan/Kekerasan Hati. Ke-tekunan merupakan suatu kegiatan secara ter-ukur dari aplikasi kemampuan TNI untuk melaksanakan perang berlarut, dalam rangka mendukung tujuan strategis.
21) Asas Legitimasi. Pelaksanaan operasi militer yang dilaksanakan oleh TNI sudah berdasar peraturan perundang-undangan yang berlaku dan keputusan politik negara.
22) Asas Perlawanan Teratur Secara Terus Menerus (asas perlawanan secara berlanjut). Perang yang dilaksanakan oleh TNI harus dapat diselesaikan secara cepat untuk menghindari penderitaan rakyat yang besar dan ber-kelanjutan. Namun, apabila perang tidak dapat diselesaikan secara singkat, perjuangan melalui perlawanan yang gigih dan menentukan harus dapat dijaga keberlanjutannya sampai mencapai tujuan.
23) Asas Keutuhan dan Kesatuan Ideologi dan Politik. Pelaksanaan perang harus didasari oleh keutuhan dan kesatuan ideologi dan politik karena keanekaragaman ideologi dan politik hanya akan membawa perpecahan dan per-pecahan akan selalu berujung pada kehancuran.
Keutuhan dan kesatuan ideologi dan politik harus berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945 yang telah diyakini kebenarannya dan telah teruji sepanjang waktu.