cumi-cumi dan lobster (Ditjen Perikanan Tangkap, 2005)
5 HASIL DAN PEMBAHASAN
4) Operasi Penangkapan Ikan
Tahapan pengoperasian jaring insang hanyut terdiri atas beberapa tahapan yaitu persiapan, pencarian fishing ground, penurunan jaring (setting), perendaman (soaking), pengangkatan jaring (hauling) dan penanganan hasil tangkapan.
(1) Tahap persiapan
Persiapan operasi penangkapan dilakukan sebelum memulai trip penangkapan. Pada tahap ini dipersiapkan seluruh kebutuhan logistik operasi penangkapan serta pemeriksaan kondisi kapal, mesin dan penempatan alat tangkap yang dilakukan oleh nahkoda. Persiapan kebutuhan logistik yang meliputi solar, es, air tawar dan ransum umumnya dilakukan oleh pemilik kapal/nahkoda atau perusahaan yang bermitra dengan nelayan. Jangka waktu persiapan dapat memakan waktu hingga 2 hari karena kendala dalam pengadaan solar dan es. (2) Pencarian lokasi penangkapan
Pencarian lokasi tangkapan dipimpin langsung oleh nahkoda yang sekaligus berperan sebagai fishing master. Dalam penentuan lokasi penangkapan, nahkoda mengacu pada kebiasaan pribadi dan pengalaman nelayan jaring insang hanyut lainnya. Lama trip penangkapan berlangsung antara 3-5 hari tergantung lokasi tangkapan yang dituju.
(3) Penurunan jaring
Bila lokasi penangkapan ikan telah ditemukan dan dianggap potensial maka penurunan jaring siap dilakukan. Penurunan jaring dilakukan pada sore hingga malam hari, yaitu antara pukul 17.30-20.00 WIB. Untuk satu hari operasi umumnya jaring hanya diturunkan satu kali. Teknis penurunan jaring dimulai dengan menurunkan pelampung tanda yang diikuti dengan penurunan badan jaring hingga pelampung terakhir diturunkan. Aktivitas penurunan jaring biasanya dilakukan pada sebelah kanan kapal bagian haluan. Pada akhir tahap setting, tali selambar diikatkan pada bagian haluan kapal. Lama penurunan untuk satu rangkaian jaring sebanyak 40 pis berlangsung selama 30 menit. (4) Perendaman
Lama perendaman jaring insang hanyut sangat tergantung pada kondisi bulan. Pada awal bulan lama perendaman hanya berkisar antara 3-4 jam, sedangkan pada akhir bulan perendaman dapat dilakukan hingga 9 jam. Satu hal yang
menjadi acuan nelayan dalam menentukan lama perendaman adalah jika bulan mulai timbul maka secepatnya harus dilakukan pengangkatan jaring. Sembari menunggu waktu pengangkatan jaring beragam aktivitas dilakukan oleh nelayan diantaranya istirahat, membersihkan dek kapal dan adapula yang memancing ikan.
(5) Penarikan jaring
Penarikan jaring umumnya dilakukan sebelum bulan mulai terang. Mekanisme penarikan jaring dimulai dengan pengangkatan pelampung jaring, penarikan badan jaring tiap pis dan diakhiri dengan pengangkatan pelapung tanda. Untuk satu rangkaian jaring sebanyak 40 pis dibutuhkan waktu hauling sekitar 2-3 jam. Waktu tersebut dapat dipersingkat menjadi 1,5-2 jam dengan jalan menarik jaring sambil menjalankan kapal ke arah depan.
(6) Penanganan hasil tangkapan
Penanganan hasil tangkapan diawali dengan pengambilan ikan yang terjerat pada mata jaring. Ikan-ikan yang telah terlepas diletakkan di geladak kapal sampai seluruh rangkaian jaring dinaikkan ke atas kapal. Sebelum dimasukkan ke dalam cool box, ikan terlebih dahulu disiram dengan air laut dan selanjutnya disortir menurut jenis dan ukuran. Cool box diisi dengan es curah sekitar 1 balok dan disusun sedemikian rupa hingga seluruh bagian tubuh ikan tertutup es. Variasi penanganan lain yang sering dipraktekkan oleh nelayan jaring insang hanyut adalah dengan mencampur es curah dengan air laut. Berdasarkan pengalaman nelayan, dengan metode penanganan tersebut maka setelah 5 hari operasi maka jumlah ikan yang dikategorikan rijek tidak mencapai 10% dari hasil tangkapan. Pada kondisi saat hasil tangkapan melimpah, kegiatan penanganan tidak dapat berlangsung secara optimal karena pembersihan serta pemberian es tidak dapat dilakukan secara total. Pemberian es hanya diperuntukkan bagai ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
5.2.2 Rawai hanyut 1) Kapal
Kabupaten Belitung berkisar antara 10-13,5 m untuk panjang (LOA), 1,6-2,1 m untuk lebar (B) dan 1,1-1,7 m untuk dalam (D). Dari dimensi tersebut maka diketahui bahwa tonase kapal berkisar antara 3,49 sampai 9,9 GT. Gambar 8 menunjukkan kapal pancing rawai hanyut.
Gambar 10. Kapal rawai hanyut di Kabupaten Belitung
Mesin penggerak yang umum digunakan pada kapal rawai hanyut adalah mesin inboard berkekuatan 20-120 PK yang berbahan bakar solar. Seperti halnya kapal jaring insang, merk mesin yang dominan digunakan adalah pada kapal pancing adalah Dongfeng dan Jiandong terutama untuk mesin dengan kekuatan 20-60 PK. Adapun mesin dengan kekuatan 60-120 PK umumnya merupakan hasil modifikasi mesin mobil merk Isuzu Panther dan Mitsubishi PS 100 dan PS 120. Demikian halnya dengan jenis propeler yang dipasang, umumnya digunakan propeller dengan bentuk propeller ellips dengan dua maupun tiga bilah yang terbuat dari bahan kuningan. Propeler dua bilah dipasang pada mesin berkekuatan kecil sedangkan yang tiga bilah dipasang pada mesin berkekuatan besar.
Seluruh kapal pancing di Kabupaten Belitung telah dilengkapi dengan palkah dan rumah kapal. Rumah kapal terletak dibagian tengah kapal dan
berfungsi sebagai ruang kemudi sekaligus ruang navigasi dan komunikasi kapal. Bentuk rumah kapal pada kapal pancing ada yang persegi panjang dan ada pula yang kubus.
Jumlah palkah pada kapal pancing berkisar antara 2-4 buah dengan volume tiap palkah antara 1,64-3,12 m3. Palkah-palkah yang terdapat pada kapal pancing tidak berinsulasi sehingga hanya digunakan sebagai tempat penyimpanan jangkar. Untuk menyimpan hasil tangkapan nelayan menggunakan cool box. Jumlah cool box yang dibawa oleh setiap kapal bervariasi antara 2-4 buah. Dari hasil pengamatan, letak palkah umumnya berada dibagian haluan kapal. Pada beberapa sampel pengamatan ditemukan pula palkah yang terletak tepat dibelakang rumah kapal. Variasi jumlah palkah serta posisinya pada kapal sangat tergantung pada selera pemilik.
2) Alat Tangkap
Nelayan di Kabupaten Belitung menggunakan rawai hanyut untuk menangkap ikan pelagis. Seperangkat pancing garandong terdiri atas roller, tali, swivel (optional), kail dan pemberat. Roller berfungsi sebagai sarana penggulung tali agar tidak kusut saat setting maupun hauling.
Tali pancing dirangkai hingga terbentuk satu struktur tali yang disebut tali utama (main line). Bahan yang digunakan tali tesebut adalah nylon monofilament berwarna putih. Nelayan umumnya menggunakan bahan dengan nomor 300-500 untuk tali utama sedangkan untuk branch line ukuran yang lebih kecil, yaitu nomor 200.
Fungsi kail adalah sebagai tempat melekatkan umpan sehingga ikan tertarik memakannya dan akhirnya tertangkap pada bagian ini. Nelayan biasanya memadukan antara nomor pancing 9 dan 7 atau 6 dan 8. Pada saat pemasangan kail pada tali diusahakan agar mata kail menghadap keatas.
Pemberat berfungsi untuk merenggangkan tali agar pergerakan umpan menjadi tampak natural. Untuk itu maka bagian ini diletakkan setelah kail. Bahan yang umum digunakan sebagai pemberat adalah timah dengan berat berkisar antara 100-200 gr.
Gambar 11. Ilustrasi alat tangkap rawai hanyut 3) Nelayan
Operasi penangkapan ikan pelagis dengan pancing biasanya dilakukan oleh 3-4 orang nelayan (ABK). Setiap ABK memiliki peran yang sama yaitu sebagai pemancing. Pendapatan masing-masing nelayan didasarkan pada sistem bagi hasil. Sistem yang berlaku adalah 50% untuk nelayan dan 50% untuk pemilik. Pembagian ini diberlakukan setelah seluruh biaya operasional dikeluarkan dari penerimaan penjualan ikan.