cumi-cumi dan lobster (Ditjen Perikanan Tangkap, 2005)
5 HASIL DAN PEMBAHASAN
4) Operasi Penangkapan
5.4 Pengembangan Armada Penangkapan Ikan Pelagis
Penentuan arah pengembangan armada penangkapan ikan pelagis di Kabupaten Belitung bersandar pada analisis SWOT yang bersumber dari hasil analisis holistik terhadap faktor internal dan faktor eksternal yang diperkirakan mempengaruhi pengembangan armada di masa yang akan datang. Berdasarkan hasil analisis SWOT ditentukan prioritas strategi pengembangan yang akan dijadikan acuan pembuatan strategi pengembangan armada penangkapan ikan pelagis di Kabupaten Belitung. Berikut disajikan diagram alir pengkajian arah pengembangan armada penangkapan ikan pelagis di Kabupaten Belitung (Gambar 10).
Gambar 12. Diagram alir pengkajian arah pengembangan armada penangkapan ikan pelagis di Kabupaten Belitung
Mulai Data: Kekuatan Kelemahan Ancaman Peluang Tidak Tentukan Matriks IFAS dan EFAS
Sesua:i Bobot >=0; <=1 Rating >=1;<= Tentukan Matriks SWOT Sesuai Cetak Prioritas Strategi Pengembangan Selesai Ya Tidak Ya Ya 5
Faktor internal bermuara pada identifikasi kekuatan dan kelemahan yang selanjutnya dituangkan dalam matriks Internal Factor Analysis Strategic. Adapun faktor eskternal berisi hasil identifikasi peluang dan ancaman dan dituangkan dalam bentuk matriks External Factor Analysis Strategic yang diberi bobot sesuai dengan tingkat kepentingannya. Kisaran bobot yang digunakan berkisar antara 0,0-1,0. Semakin tinggi bobot yang diberikan mengindikasikan faktor tersebut memiliki tingkat kepentingan yang semakin tinggi. Selain bobot hasil identifikasi diberi rating dengan skala mulai 5 (out standing) sampai dengan 1 (poor) untuk kekuatan dan peluang, sebaliknya untuk kelemahan dan ancaman rating yang diberikan merupakan invers dari nilai-nilai tersebut.
Berdasarkan inputan data faktor internal yaitu kekuatan diantaranya : tersedianya sumberdaya ikan pelagis yang cukup, armada penangkapan cukup tersedia, sumber nelayan berlimpah, dukungan dari Departemen Kelautan dan Perikanan, tersedianya alternatif pembiayaan investasi; sedangkan kelemahannya : baiay operasional armada penangkapan tinggi, terbatasnya daya dukung infrastruktur yang tersedia, rendahnya pendidikan nelayan, sistem perizinan armada penangkapan, fasilitas permodalan tidak mendukung usaha perikanan.
Faktor eksternal yang terinput yaitu peluang yang mencakup : jaringan pemasaran komoditas perikanan internasional, regional, dan lokal, sebagai kawasan perikanan barat Indonesia, peluang pengembangan teknologi yang lebih baik, ditetapkannya program investasi oleh pemerintah; sedangkan ancaman mencakup : penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, adanya praktek IUU fishing, adanya gangguan perompakan.
Berdasarkan faktor internal dan eksternal tersebut di atas, maka strategi yang diambil adalah melalui : (1) pengembangan iklim usaha penangkapan yang kondusif, (2) peningkatan armada perikanan ikan pelagis, (3) pembenahan sistem perizinan armada penangkapan, (4) pembenahan sarana penangkapan ikan, (5) pembenahan sistem permodalan, (6) motorisai armada perikanan ikan pelagis, (7) perbaikan kegiatan monitoring, controlling, dan surveilance.
Matriks IFAS dan EFAS pengembangan armada penangkapan ikan pelagis di Kabupaten Belitung disajikan pada Tabel 15 dan 16 berikut.
Tabel 15. Matriks analisis faktor strategi internal (IFAS) pengembangan armada penangkapan ikan pelagis di Kabupaten Belitung
Kode Faktor-Faktor Strategi Internal Bobot SkorBobot X
Skor Kemungkinan Pengembangan Kekuatan (Strenght)
S1 Sumberdaya ikan pelagis cukup
tersedia 0.15 3 0.45
Pemanfaatan sumberdaya secara rasional
S2 Armada penangkapan cukup tersedia 0.18 4 0.72 Mendukung peningkatan produksi ikan pelagis
S3 Sumberdaya nelayan berlimpah 0.07 2 0.14 Mempermudah proses usaha perikanan ikan pelagis S4 Departemen Kelautan dan Perikanan
mendukung 0.12 3 0.36
Mendukung usaha perikanan ikan pelagis
S5 Tersedianya alternatif pembiayaan
investasi 0.09 2 0.18
Mempercepat proses pengembangan perikanan ikan pelagis
Kelemahan (Weakness)
W1 Biaya operasional armada
penangkapan tinggi 0.06 2 0.12
Penyediaan bantuan biaya operasional
W2
Daya dukung beberapa infrastruktur penunjang usaha penangkapan terbatas
0.09 3 0.27
Penyediaan infrastruktur penunjang penangkapan
W3 Rendahnya pendidikan nelayan 0.05 3 0.15
Peningkatan kualitas SDM para awak kapal dengan pelatihan dan pembinaan
W4 Sistem perizinan armada
penangkapan 0.12 3 0.36 Perbaikan sistem perizinan W5 Fasilitas permodalan tidak
mendukung usaha perikanan 0.07 4 0.28 Perbaikan permodalan
Total 1.00
Tabel 16. Matriks analisis faktor strategi eksternal (EFAS) pengembangan armada penangkapan ikan pelagis di Kabupaten Belitung
Kode Faktor-Faktor Strategi Eksternal Bobot Skor Bobot X
Skor Kemungkinan Pengembangan Peluang (Opportunity)
O1
Jaringan pemasaran komoditas perikanan Internasional, regional dan lokal
0.12 3 0.36 Inventarisasi dan identifikasi permintaan pasar
O2
Propinsi Bangka Belitung menjadi etalase kawasan perikanan barat Indonesia
0.2 4 0.8
Peningkatan usaha perikanan ikan pelagis di Propinsi Bangka Belitung
O3 Peluang penerapan teknologi yang
lebih baik 0.18 2 0.36 Peningkatan produksi O4 Ditetapkannya program intensif
investasi oleh pemerintah 0.12 3 0.36
Peningkatan skala usaha penangkapan ikan pelagis
Ancaman (Threats)
T1 Penggunaan alat tangkap yang tidak
ramah lingkungan 0.11 3 0.33
Upaya peningkatan kesadaran bersama perihal pengelolaan sumberdaya
T2 Adanya praktik IUU 0.15 4 0.6 Perbaikan manajemen sumberdaya
T3 Adanya gangguan perompakan 0.12 2 0.24 Perbaikan sistem pengawasan
Dengan:
Nilai 1 = tidak penting, Nilai 2 = sedikit penting, Nilai 3 = cukup penting, Nilai 4 = penting, dan Nilai 5 = sangat penting
Berdasarkan faktor-faktor strategis pengembangan armada penangkapan ikan pelagis di Kabupaten Belitung dianalisis pula Matriks SWOT untuk menggambarkan relasi diantara faktor yang ada. Hubungan antara faktor-faktor tersebut menghasilkan 7 kemungkinan strategi pengembangan usaha yang dikelompokkan dalam 4 strategi utama, yaitu strategi SO, strategi ST, strategi WO dan strategi WT (Tabel 16).
Tabel 17. Matriks SWOT pengembangan usaha perikanan ikan pelagis di Kabupaten Belitung
No Unsur
SWOT Keterkaitan Jumlah
Bobot Ranking
Strategi SO
1 SO1
Pengembangan iklim usaha penangkapan yang kondusif
S1,S4,S5,O1,O2,O4
2.51 2 Strategi ST
2 ST1 Motorisasi armada perikanan ikan pelagis
S1,S2,S3,S4,S5,T1,T2,T3 3.02 1
Strategi WO
3 WO1 Peningkatan SDM para nelayan
W3,O2,O3 1.31 7
4 WO2
Pembenahan sistem perizinan armada penangkapan
W4,O1,O2
1.52 4 5 WO3 Pembenahan sarana penangkapan ikan
W2,O1,O2 1.43 5
6 WO4 Pembenahan sistem permodalan
W1,W5,O1,O2,O4 1.92 3
Strategi WT
7 WT1
Perbaikan kegiatan monitoring, controlling dan surveilance
W3, T1, T2, T3
1.32 6
Berdasarkan hasil analisis SWOT tersebut pada Tabel 17 tersebut di atas dapat dipergunakan sebagai arahan dan kebijakan dari program pengembangan armada penangkapan ikan pelagis. Urutan kebijakan berdasarkan hasil SWOT sebagai berikut :
(1)Motorisasi armada perikanan ikan pelagis
Armada penangkapan ikan pelagis di Kabupaten Belitung di dominasi armada berukuran kurang dari 5 GT. Jika dilihat dari analisis finansial maka armada penangkapan baik rawai hanyut maupun jaring insang hanyut masih layak dikembangkan tetapi dengan potensi yang berlimpah maka kemungkinan untuk pengembangan yaitu dengan menangkap di jalur 2 (6-12 mil). Untuk menjangkau sumberdaya ikan pelagis di jalur 2 maka dibutuhkan armada penangkapan dengan ukuran lebih besar dari 10 GT. Namun ini semua tidak serta merta bisa dilakukan dengan mudah, karena memerlukan modal yang besar dan belum tentu dapat dijangkau oleh nelayan. Oleh karena itu perlu kerjasama antara pemertintah setempat pemerintah pusat dan para stakeholder yang terlibat dalam usaha penangkapan ikan untuk mencari solusi yang tepat dalam rencana motorisasi armada perikanan.
(2)Pengembangan iklim usaha penangkapan yang kondusif
Usaha penangkapan ikan pelagis di Kabupaten Belitung cukup menjanjikan jika dikembangkan dengan maksimal. Terlihat dari hasil analisis kelayakan finansial didapat bahwa usaha penangkapan ikan pelagis layak dikembangkan. Banyak faktor yang menyebabkan agar usaha penangkapan berhasil diantaranya yaitu : sumberdaya yang cukup, infrastruktur yang lengkap, dukungan pemerintah daerah dan pusat, permodalan yang cukup, sumberdaya manusia yang terlatih dan sebagainya. Usaha penangkapan harus ditunjang dari berbagai pihak yaitu pihak internal maupun eksternal yang terlibat dalam usaha ini.
(3)Pembenahan sistem permodalan
Untuk mengatasi rendahnya aksesibiltas nelayan terhadap sumber permodalan maka dikembangkan konsep perbankan mikro. Fokus pembiayaan pada perbankan mikro adalah usaha kecil/sederhana. Skim kredit yang ditawarkan pun lebih fleksibel serta didukung oleh birokrasi yang sederhana. Dengan begitu maka seharusnya pihak pemerintah daerah setempat melakukan kerjasama dengan pihak lembaga keuangan untuk merealisasikannya. Namun pemerintah pusat juga memiliki program dalam rangka pemberdayaan
ekonomi masyarakat pesisir untuk membantu nelayan kecil guna mendapatkan modal agar usahanya berkembang.
(4)Pembenahan sistem perizinan armada penangkapan
Sistem perizinan sudah diatur dengan peraturan yang telah disusun dengan baik. Namun kenyataannya di lapangan seringnya terjadi pelanggaran mengenai sistem perizinan armada di lapangan. Kapal-kapal yang memiliki ukuran lebih besar dari 30 GT yang seharusnya memiliki izin dari pusat terkadang hanya memiliki izin dari pihak Provinsi sehingga jika terjadi pemeriksaan di laut akan terjadi pelanggaran yang mengakibatkan terhambatnya proses operasi penangkapan.
Seharusnya ada kerjasama antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah setempat baik tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten untuk mematuhi setiap aturan yang berlaku sehingga tumpang tindih kewenangan.
(5)Pembenahan sarana penangkapan ikan
Pengembangan sarana penangkapan di Kabupaten Belitung juga diarahkan pada upaya peningkatan taraf hidup nelayan melalui peningkatan pendapatan para nelayan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengaplikasikan sistem multipurpose gear/vessel. Pada sistem ini, kegiatan penangkapan tidak hanya dilakukan dengan satu jenis alat tangkap saja namun dikombinasikan dengan alat tangkap lain. Infrastruktur pendukung pengembangan usaha perikanan yang tersedia di Kabupaten Belitung relatif lengkap. Hanya saja fasilitas pendukung infrastruktur belum memadai sehingga pemanfaatannya kurang optimal. Salah satunya adalah ketersediaan es, solar dan air bersih. Kendala ketersediaan es dan solar tergambar dari sulitnya nelayan memperoleh es dan solar saat hendak melaut. Kendala air bersih pun terlihat dari tingginya kandungan-kandungan bahan kimia yang terdapat pada sumber air bersih serta sulitnya memperoleh air bersih terutama pada musim kemarau. Oleh karena itu agar operasi penangkapan dapat berjalan secara optimal maka penyediaan fasilitas pendukung infrastruktur segera direlaisasikan.
(6) Perbaikan kegiatan monitoring, controlling dan surveilance
Perairan Kabupaten Belitung dan Laut Cina Selatan merupakan daerah yang rawan kegiatan perompakan serta pencurian ikan oleh nelayan-nelayan asing. Salah satu cara untuk mengatasi kegiatan pengawasan adalah pembentukan sistem pengawasan berbasis masyarakat (SISWASMAS). Siswasmas adalah sistem pengawasan yang melibatkan peran aktif masyarakat dalam mengawasi dan mengendalikan pengelolaan dan pemanfaatan kelautan secara bertanggungjawab. Prosedur kerja siswasmas dimulai dari identifikasi tindak pidana perikanan oleh kapal-kapal penangkap ikan asing/Indonesia karena pelanggaran wilayah perairan maupun penggunaan alat tangkap yang dilarang. Masyarakat/kelompok masyarakat yang menemukan pelanggaran tersebut dapat melaporkan ke pihak yang berwenang untuk selanjutnya dilakukan tindakan pengejaran dan penangkapan. Secara operasional nelayan dapat membentuk kelompok-kelompok penangkapan (cluster) yang terdiri atas beberapa kapal dan beroperasi di daerah yang relatif berdekatan. Setiap anggota kelompok dilengkapi dengan fasilitas komunikasi yang dapat langsung diakses oleh stasiun pengawas dan kelompok-kelompok penangkapan lainnya. Saat terjadi tindakan perompakan maka dengan cepat informasi dapat segera ditindaklanjuti oleh aparat berwenang.
(7) Peningkatan Sumberdaya Manusia para nelayan
Peningkatan sumberdaya manusia para nelayan yaitu dengan cara berbagai program antara lain melalui pendidikan dan latihan teknis, serta sosialisasi mengenai perundang-undangan dan peraturan daerah yang berlaku. Secara teknis kegiatan pembinaan dapat dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Belitung melalui program-program rutin dinas-dinas terkait maupun pemerintah pusat. Karena para nelayan sebagai pelaku langsung usaha penangkapan ikan di lapangan perlu dikembangkan kemampuan dan keterampilannya, baik dari segi teknis penangkapan maupun peraturan yang berlaku.