BAB III METODE PENELITIAN
D. Operasional Variabel
Variabel operasional adalah sebuah konsep yang mempunyai
variasi nilai yang diterapkan dalam suatu penelitian. Adapun cara
pengukuran dari variabel ini adalah dengan menggunakan skala
pengukuran Likert. Berikut ini adalah variabel-variabel yang akan
diteliti, yaitu:
Dua peraturan menteri keuangan akan digunakan dalam
pelaksanaan Account Representative yaitu :
a. Tugas AR berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan RI No.
98/KMK.01/2006
1) Melakukan pengawasan kepatuhan perpajakan Wajib Pajak.
Pengawasan memberikan arti bahwa AR adalah pegawai DJP
yang ditugaskan menjadi pengawas (lawan) wajib pajak atas
kepatuhan kewajiban perpajakannya. Pengawasan disini dapat
berupa mengawasi bagaimana utang pajak dari wajib pajak
apakah wajar, mencari potensi pajak yang belum tergarap dari
wajib pajak, mengawasi apakah wajib pajak telah membayar
pajaknya sesuai dengan pajak yang seharusnya dibayar,
mengawasi apakah wajib pajak mendapatkan sanksi berupa
bunga atas keterlambatan pembayaran pajaknya yang pada
intinya mengawasi kepatuhan dan kewajiban wajib pajak
Penilaian AR terhadap point ini AR dapat menceklis pada
kolom Sangat Baik (SB) apabila AR sudah melakukan 5
pengawasan seperti yang sudah dijelaskan pada uraian diatas.
AR dapat menceklis pada kolom Baik (B) apabila AR sudah
melakukan 4 pengawasan seperti yang sudah dijelaskan pada
uraian diatas. AR dapat menceklis pada kolom Cukup Baik
(CB) apabila AR sudah melakukan 3 pengawasan seperti yang
sudah dijelaskan pada uraian diatas. AR dapat menceklis pada
kolom Kurang Baik (KB) apabila AR sudah melakukan 2
pengawasan seperti yang sudah dijelaskan pada uraian diatas.
AR dapat menceklis pada kolom Tidak Baik (TB) apabila AR
hanya melakukan salah satu dari pengawasan seperti yang
sudah dijelaskan pada uraian diatas.
2) Bimbingan/himbauan dan konsultasi teknis perpajakan kepada
Wajib Pajak.
Konsultasi memberikan arti bahwa AR adalah pegawai DJP
yang ditugaskan menjadi konsultasi internal DJP untuk wajib
pajak, dengan kata lain AR adalah mitra (kawan) bagi wajib
pajak dalam hal memberikan bimbingan (assistance) berupa
informasi (information) ataupun pengetahuan (education)
perpajakan. Konsultasi disini dapat berupa penjelasan
mengenai ketentuan pajak yang berlaku guna memudahkan
memberikan penjelasan tentang perhitungan pajak yang benar
dan bagaimana perlakuan perpajakan terhadap pencatatan
akuntansi, memberikan pengarahan kepada wajib pajak tentang
bagaimana wajib pajak dapat mengerti akan timbulnya pajak
terutang sesuai dengan peraturan perpajakan, memberikan
sosialisai mengenai perundang-undangan pajak yang baru,
memberikan informasi/ konsultasi yang dibutuhkan oleh wajib
pajak secara baik.
Penilaian AR terhadap point ini AR dapat menceklis pada
kolom Sangat Baik (SB) apabila sudah melakukan 5 konsultasi
teknis seperti yang sudah dijelaskan diatas. AR dapat
menceklis pada kolom Baik (B) apabila AR sudah melakukan
4 konsultasi teknis seperti yang sudah dijelaskan pada uraian
diatas. AR dapat menceklis pada kolom Cukup Baik (CB)
apabila sudah melakukan 3 konsultasi teknis seperti yang
sudah dijelaskan diatas. AR dapat menceklis kolom Kurang
Baik (KB) apabila AR sudah melakukan 2 konsultasi teknis
seperti yang sudah dijelaskan pada uraian diatas. AR dapat
menceklis pada kolom Tidak Baik (TB) apabila AR hanya
melakukan salah satu konsultasi teknis seperti yang sudah
3) Penyusunan Profil Wajib Pajak.
Profil wajib pajak tidak berbeda jauh dengan company profile
yang dibuat perusahaan tertentu. Intinya profile ini
memberitahukan hal-hal yang dipandang perlu diketahui oleh
pihak fiskus. Maka tidak heran bila AR getol mencari
informasi lebih lanjut tentang wajib pajak yang ditangani
olehnya baik dengan cara melakukan visit, hunting lewat
media online/internet, penelitian berkas dan lain sebagainya,
yang dimaksud dengan profile adalah informasi mengenai
wajib pajak yang memuat identitas dan kegiatan usaha serta
riwayat aktivitas perpajakannya secara berkesinambungan
yang dapat diklarifikasikan atas sata permanen, data
akumulatif dan data lain. Tujuan profile wajib pajak adalah
untuk menyajikan informasi yang dapat digunakan terutama
untuk bahan analisis, mengukur tingkat resiko dan kepatuhan
wajib pajak serta untuk lebih mengenal wajib ajak yang
terdaftar di unit kerjanya dan dapat memonitor perkembangan
usaha wajib pajak bersangkutan dan melakukan pengawasan,
penggalian potensi dan pelayanan yang lebih baik.Data
permanen meliputi: Identitas wajib pajak, struktur organisasi,
nomor rekening koran bank (jika ada), status modal
saham dan struktur permodalan, pengurus dan komisaris, surat
persetujuan BKPM, Surat persetujuan Menteri Keuangan
untuk pembukuan dalam bahasa asing, Fasilitas perpajakan,
pohon kepemilikan/hubungan istimewa, kegiatan usaha dan
flowchart, kapasitas produksi, proses produksi, input/ bahan
baku, supplier utama, output/ hasil produksi, customer utama,
tenaga kerja, prespektus. Data akumulatif meliputi: Data
perkembangan usaha (Rekapan laporan rugi laba, rekap neraca,
Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP)), kewajiban
perpajakan mengenai (pelaporan, pembayaran, ketetapan,
restitusi, tunggakan, keberatan dan banding, pemeriksaan dan
tindakan penagiahan aktif), Data lawan transaksi/ pihak ketiga
(supplier, customer, pihak-pihak yang mempunyai hubungan
istimewa, pemotong/pemungut, kreditur, debitur, transaksi
hubungan istimewa, laporan periodik kepada pihak ketiga.
Penilaian AR terhadap point ini dikatakan Sangat Baik (SB)
apabila AR mengetahui semua detai tentang Wajib Pajak yang
ditanganinya baik melalui data permanen maupun data
akumulatif.
4) Analisis Kinerja Wajib Pajak, rekonsiliasi data Wajib Pajak
dalam rangka intensifikasi.
Kinerja wajib pajak berkaitan dengan kepatuhan wajib pajak
apabila tepat waktu dalam menyampaikan surat
pemberitahuan, tidak mempunyai tunggakan pajak untuk
semua jenis pajak kecuali tunggakan pajak yang telah
memperoleh izin mengangsur atau menunda pembayaran
pajak, laporan keuangan diaudit oleh akuntan publik/ lembaga
pengawasan keuangan pemerintah dengan pendapat wajar
tanpa pengecualian selama 3 tahun berturut-turut, dan tidak
pernah dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang
perpajakan.
Penilaian AR terhadap point ini, AR dapat menceklis pada
kolom Sangat Baik (SB) apabila wajib pajak yang ditangani
oleh AR tersebut dapat memenuhi 4 kriteria sebagai wajib
pajak patuh. AR dapat menceklis pada kolom Baik (B) apabila
wajib pajak yang ditangani oleh AR tersebut memenuhi 3
kriteria sebagai wajib pajak patuh. AR dapat menceklis pada
kolom Cukup Baik (CB) apabila wajib pajak yang ditangani
oleh AR tersebut memenuhi 2 kriteria sebagai wajib pajak
patuh. AR dapat menceklis pada kolom Kurang Baik (KB)
apabila wajib pajak yang ditangani oleh AR hanya memenuhi
1 kriteria sebagai wajib pajak patuh. AR dapat menceklis
kolom Tidak Baik (TB) apabila wajib pajak yang ditangani
Rekonsiliasi data wajib pajak, pada tugas ini AR
mengumpulkan informasi tentang wajib pajak dan informasi
lain yang terkait dengan usaha wajib pajak. Melakukan
penelitian rekonsiliasi/data matching atas data yang diperoleh
dengan data yang ada di SPT wajib pajak. Sehingga dapat
dibuat uraian hasil penelitian rekonsiliasi data wajib pajak dan
menyampaikannya kepada kepala seksi pengawasan dan
konsultasi. Akuntansi yang dilakukan oleh perusahan atau
organisasi pada umumnya mengacu kepada prinsip akuntansi/
standar akuntansi keuangan (SAK), sedangkan pada
perpajakan, akuntansi lebih mengacu pada peraturan dan
perundang-undangan perpajakan. Hal tersebut dapat
menimbulkan perbedaan dalam perhitungan, khususnya laba
menurut akuntansi (komersial) dengan laba menurut
perpajakan (fiskal) maka diperlukan adanya koreksi/
rekonsiliasi fiskal.
Penilaian AR dalam point ini AR dapat menceklis kolom
Sangat Baik (SB) apabila AR sudah melakukan rekonsiliasi
data wajib pajak secara tepat dan benar.
5) Melakukan evaluasi hasil banding berdasarkan ketentuan yang
Banding dilakukan apabila wajib pajak tidak atau belum puas
dengan keputusan yang diberikan atas keberatan, wajib pajak
dapat mengajukan banding kepada pengadilan pajak dengan
syarat: tertulis dalam bahasa indonesia, dalam jangka waktu 3
bulan sejak keputusan atas keberatan diterima, alasan yang
jelas, dilampiri salinan surat keputusan atas keberatan,
terhadap satu keputusan diajukan satu surat banding, jumlah
pajak yang terutang dimaksud telah dibayar sebesar 50%.
Setelah AR menerima disposisi dari Kepala Seksi Pengawasan
dan Konsultasi mengenai Surat Keputusan Banding/ Surat
Keputusan Peninjauan Kembali, AR meneliti dan membuat
konsep uraian pelaksanaan putusan banding/ peninjauan
kembali dan konsep surat Keputusan Pelaksanaan Putusan
Banding/ Peninjauan Kembali serta menyampaikannya kepada
Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi. AR menerima
disposis dari Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi
mengenai Surat Putusan Banding atau Surat Keputusan
Peninjauan Kembali. Kemudian membuat konsep evaluasi
putusan banding atau Surat Keputusan Peninjauan Kembali
dan menyampaikannya kepada Kepa Seksi Pengawasan dan
Penilaian dalam point ini AR dapat menceklis kolom Sangat
Baik (SB) apabila sudah melakukan peninjauan banding sesuai
peraturan perundang-undangan.