• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODELOGI PENELITIAN

E. Operasional Variabel Penelitian

Operasional variabel adalah bagaimana menemukan dan mengukur variabel-variabel tersebut dilapangan dengan merumuskan secara singkat dan jelas, serta tidak menimbulkan berbagai tafsiran. Pertanyaan atau pernyataan dalam kuesioner untuk masing-masing variabel dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan sekala likert. Kemudian jawaban yang didapat akan dibuat skor tertinggi bernilai 5 (empat) dan terendah 1 (satu). Untuk jawabannya yaitu sangat tidak setuju (STS) = skor 1, tidak setuju (TS) = skor 2, netral (N) = skor 3, setuju (S) = skor 4, dan sangat setuju (ST) = skor 5.

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdapat 2 variabel, yaitu: 1. Variabel Independen

Variabel independen adalah variabel bebas dan mempengaruhi variabel lain (dependen). Variabel independen dalam penelitian ini adalah sikap skeptisme auditor, profesionalisme auditor dan tekanan anggaran waktu. a. Sikap Skeptisme Auditor

Sikap skeptisme auditor merupakan indikator dalam hal kualitas audit seorang auditor dalam mengevaluasi bukti audit secara terus menerus dan auditor tersebut mampu menemukan pelanggaran-pelanggaran yang ada pada laporan keuangan. Semua item pertanyaan diukur pada skala likert 1 sampai 5.

b. Profesionalisme Auditor

Profesionalisme telah menjadi isu yang kritis untuk profesi akuntan karena dapat menggambarkan kinerja akuntan tersebut terutama dalam hal kualitas auditnya. Pengukuran dalam penelitian ini menggunakan 5 dimensi profesionalisme auditor dalam Herawaty dan Susanto (2008). Semua item pertanyaan diukur pada skala likert 1 sampai 5.

c. Tekanan Anggaran Waktu

Azad (1994) dalam Prasita dan Adi (2007) menemukan bahwa kondisi yang tertekan (secara waktu), auditor cenderung berperilaku disfungsional yang pada gilirannya dapat menghasilkan laporan audit dengan kualitas rendah. Riset Coram dkk dalam Prasita dan Adi (2007) menunjukkan terdapat penurunan kualitas audit pada auditor yang

mengalami tekanan dikarenakan anggaran waktu yang sangat ketat. Semua item pertanyaan diukur pada skala likert 1 sampai 5.

2. Variabel Dependen

Variable dependen adalah variabel tidak bebas atau yang dipengaruhi variabel lain. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kualitas audit. Kualitas jasa sangat penting untuk meyakinkan bahwa profesi bertanggung jawab kepada klien, masyarakat umum dan aturan-aturan. Kualitas audit seorang auditor diharapkan dapat menemukan pelanggaran-pelanggaran dalam laporan keuangan klien dan laporan keuangan bisa diterima oleh pihak eksternal atau para pemakai laporan keuangan yang berkepentingan.

Tabel 3.1 Operasional Variabel

Variabel Sub Variabel Indikator Skala

Sikap skeptisme auditor (X1) Noviyanti (2008) a. Auditor diharapkan mempunyai sikap skeptisme terhadap proses audit. b. Sikap skeptisme berpengaruh dalam menemukan pelanggaran-pelanggaran dalam laporan keuangan. c. Auditor dalam mengevaluasi temuan audit harus menggunakan sikap skeptisme.

d. Tuntutan professional seorang auditor dalam mengaudit mengakibatkan tumbuhnya sikap skeptisme

e. Auditor diharapkan mempunyai sikap skeptis terhadap temuan audit yang berhubungan dengan wajar dan tidaknya laporan keuangan.

f. Bersikap cermat dan seksama dalam melaksanakan tugas audit merupakan faktor sikap skeptisme. Interval Profesional Auditor (X2) Herawaty dan Susanto (2008) 1. Pengabdian pada Profesi (dedication). a. Menggunakan pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki dalam proses audit.

b. Menggunakan keahlian yang dimiliki dalam proses audit.

c. Menggunakan

pengalaman yang dimiliki dalam proses audit.

Interval

Tabel 3.1 Operasional Variabel (Lanjutan)

Variabel Sub Variabel Indikator Skala

2. Kewajiban Sosial (social obligation) a. Selalu meletakkan kepentingan pribadi dibawah kepentingan masyarakat dalam menciptakan profesionalisme auditor. b. Sikap profesional selalu

tercipta dari lingkungan profesi atau lingkungan organisasi.

c. Memenuhi standar

kualitas dan

profesionalisme dalam setiap penugasan sehingga dapat memberikan pelayanan yang baik kepada Publik.

Interval

3. Kemandirian (autonomy demands)

a. Selalu bersikap percaya diri akan kemampuan yang dimiliki dalam proses audit.

b. Menggunakan sikap independensi auditor dalam setiap proses audit. c. Selalu melihat

pengalaman-pengalaman audit sebelumnya dalam membuat keputusan audit.

Interval 4. Keyakinan Terhadap Peraturan Profesi (belief in self-regulation)

a. Menerima kritik dan saran dari rekan sesama profesi yang berhubungan dengan kinerja sebagai seorang auditor.

b. Percaya dan yakin akan nasihat dari rekan sesama profesi.

c. Keyakinan terhadap peraturan profesi menjadi motor bagi auditor untuk memberikan hasil pekerjaan serta pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Interval

Tabel 3.1 Operasional Variabel (Lanjutan)

Variabel Sub Variabel Indikator Skala

5. Hubungan dengan sesama profesi (professional community affiliation)

a. Menjaga hubungan baik dengan rekan seprofesi. b. Melakukan interaksi

dengan sesama profesi sehingga dapat menambah pengetahuan auditor. c. Melakukan interaksi

dengan sesama profesi sehingga semakin bijaksana dalam membuat perencanaan dan pertimbangan dalam proses pengauditan. Interval Tekanan Anggaran Waktu (X3) Prasita dan Adi (2007)

a. Auditor sering dihadapkan pada pengalokasian waktu pemeriksaan yang sangat ketat dan kaku.

b. Auditor dituntut untuk dapat menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu, sesuai dengan waktu yang telah disepakati dengan klien.

c. Auditor sering menghadapi tekanan dari pengalokasian waktu yang sangat ketat oleh klien, akibatnya dapat mengancam kualitas audit. d. Adanya tekanan anggaran

waktu dapat

mengakibatkan

penghentian audit secara dini (prematur sign off). e. Tekanan anggaran waktu

menyebabkan

menurunnya efektifitas dan efisiensi kegiatan pengauditan.

Interval

Tabel 3.1 Operasional Variabel (Lanjutan)

Variabel Sub Variabel Indikator Skala

f. Adanya tekanan anggaran waktu dapat menyebabkan gagal mengivestigasi isu-isu relevan, yang pada gilirannya dapat menghasilkan laporan audit dengan kualitas rendah.

g. Kualitas audit bisa menjadi semakin buruk, bila alokasi waktu yang dianggarkan tidak realistis dengan kompleksitas audit yang diterimanya.

h. Anggaran waktu yang stabil dapat meningkatkan kualitas jasa audit.

i. Semakin lama proses audit yang dilakukan oleh akuntan publik, maka akan mempengaruhi kualitas audit. Kualitas Audit (Y) Laila dan Irawati (2002) a. Pendidikan yang berhubungan dengan profesi auditor dapat meningkatkan kualitas audit.

b. Pengalaman menjadi pelajaran yang baik bagi auditor dalam proses audit.

c. Auditor dituntut memiliki integritas dalam meningkatkan kualitas audit

d. Auditor dituntut menggunakan standar auditing dalm proses audit agar tercipta kualitas audit.

e. Auditor dituntut independen dalam proses audit.

Interval

Tabel 3.1 Operasional Variabel (Lanjutan)

Variabel Sub Variabel Indikator Skala

f. Auditor dituntut dapat mengetahui temuan yang bersifat material dan tidak material.

g. Auditor dituntut melakukan audit dengan cermat dan seksama. h. Auditor dituntut

obyektivitas dalam hal mengungkap fakta atas kecurangan yang terjadi dalam laporan keuangan. i. Auditor selalu

mendahulukan

kepentingan publik daripada kepentingan pribadi.

j. Auditor dapat memberikan pernyataan apakah wajar atau tidak laporan keuangan tersebut.

k. Auditor dituntut menggunakan sifat profesional dalam proses audit.

l. Auditor dituntut mempunyai rasa skeptisme terhadap temuan audit sehingga dapat meningkatkan kualitas audit.

BAB IV

Dokumen terkait