• Tidak ada hasil yang ditemukan

Operasional Variabel Penelitian

METODOLOGI PENELITIAN

D. Operasional Variabel Penelitian

D. Operasional Variabel Penelitian

Operasional variabel penelitian merupakan spesifikasi kegiatan penelitian dalam mengukur suatu variabel. Spesifikasi tersebut menunjukkan pada dimensi-dimensi dan indikator-indikator dari variabel penelitian yang diperoleh melalui pengamatan dan penelitian terdahulu. 1. Variabel Independen

35 a. Risiko Audit

Risiko audit merupakan tingkat auditor dalam menerima suatu tingkat ketidakpastian tertentu dalam pelaksanaan audit yang akan dilakukannya, dalam hal ini unsur variabel indikatornya, yaitu sebagai berikut:

1) Risiko Inhern

Risiko inheren merupakan risiko yang berasal dari adanya kemungkinan kesalahan material yang dikandung oleh laporan keuangan yang di audit.

2) Risiko Pengendalian

Risiko Pengendalian merupakan risiko yang berasal dari adanya kemungkinan kesalahan yang berasal dari ketidakmampuan sistem pengawasan intern untuk menemukan, menghindari kesalahan secara dini.

3) Risiko Deteksi

Risiko deteksi merupakan risiko yang berasal dari adanya kemungkinan akuntan tidak menemukan kesalahan atau salah saji yang material sewaktu melakukan audit

Pengukuran variabel ini menggunakan instrumen skala interval dengan 5 (lima) poin. Skala interval merupakan skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang tentang fenomena sosial. Dengan skala ini, maka variabel yang diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut digunakan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item

36 instrumen yang berupa pertanyaan atau pertanyaan dimana setiap jawabannya memiliki gradasi dari sangat setuju (skor 5), setuju (skor 4), netral (skor 3), tidak setuju (skor 2), dan sangat tidak setuju (skor 1) (Sugiono, 2004).

b. Independensi Auditor

Independensi audit merupakan penggunaan cara pandang yang tidak bias dalam pelaksanaan pengujian audit, evaluasi hasil pengujian tersebut dan pelaporan hasil temuan audit (Arens et.al 2008:132), dalam hal ini unsur variabel indikatornya, yaitu sebagai berikut:

1) Independensi Dalam Fakta

Independensi dalam fakta merupakan sikap kejujuran di dalam diri akuntan dalam mempertimbangkan fakta-fakta dan adanya pertimbangan objektif, tidak memihak di dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya.

2) Independensi Dalam Penampilan

Independensi dalam penampilan merupakan ketaatan akuntan publik kepada sejumlah aturan yang ditetapkan oleh organisasi profesi guna menampilkan citra independensi akuntan publik di mata masayarakat, dirumuskan dengan pendekatan “sejumlah batasan” (Roger W. Bartlett 1991:11).

Pengukuran variabel ini menggunakan instrumen skala interval dengan 5 (lima) poin. Skala interval merupakan skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang

37 tentang fenomena sosial. Dengan skala ini, maka variabel yang diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut digunakan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang berupa pertanyaan atau pertanyaan dimana setiap jawabannya memiliki gradasi dari sangat setuju (skor 5), setuju (skor 4), netral (skor 3), tidak setuju (skor 2), dan sangat tidak setuju (skor 1) (Sugiono, 2004).

2. Variabel Dependen

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah opini audit. Opini audit menurut kamus standar akuntansi Ardiyos (2007) mengatakan bahwa laporan yang diberikan seorang akuntan publik terdaftar sebagai hasil penilaiannya atas kewajaran laporan keuangan yang disajikan perusahaan. Jenis opini audit yang akan dibahas dalam penelitian ini menyangkut tentang kelima unsur opini audit menurut Standar Profesional Akuntan Publik (PSA 29), yaitu pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion), pendapat wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelasan (modified unqualified oponion), pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion), pendapat tidak wajar (adverse opinion), dan pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer of opinion)

38 Tabel. 3.1

Operasional Variabel

Variabel Sub Variabel Indikator Skala

Risiko Audit

(X1) Risiko Inhern

Bentuk dan jenis usaha Budaya kerja usaha

Pengukuran tingkat kompleksitas

transaksi

•Penilaian motivasi usaha

Pengamatan laporan audit terdahulu •Penerimaan klien

Pemeriksaan laporan transaksi tidak

rutin

Pencatatan saldo perkiraan dan

transaksi •Penggolongan tingkat penyalahgunaan transaksi Ordinal Risiko Pengendalian

Struktur organisasi klien Pembagian tugas kerja Uji kelayakan usaha

Keberadaan dan kelengkapan asersi

pengendalian

Kerjasama jaringan usaha

•Pengamatan aliran kinerja pelaporan usaha

Teknik dalam sistem pengendalian

Ordinal

Risiko Deteksi

Penetapan prosedur audit

Sistem perencanaan dan supervisi Perencanaan menerima tingkat resiko Sistem pengawasan audit

•Penginterprestasian hasil prosedur audit

Pengujian subtantif terhadap saldo

akun

Hubungan penetapan dengan risiko

inhern dan pengendalian

Ordinal

39 Sambungan Table. 3.1 Independensi Auditor (X2) Independensi Dalam Fakta

Jujur dalam kata dan perbuatan •Pendapat berdasarkan hasil audit

Bertanggung jawab atas semua

kinerja audit

Kebebasan dalam berpikir dan

berpendapat

Bersifat netral

Rekomendasi sesuai kondisi dan

fakta

Penyalahgunaan kata-kata laporan

audit

•Penilaian dan saran terhadap fakta dan dampak

Ordinal

Independensi Dalam Penampilan

•Menjaga nama baik profesi

Memasyarakat dan

mensosialisasikan profesi

Penghitungan besaran komisi

hasil audit

Kepentingan pribadi dan usaha

klien

Pertimbangan hubungan Penggunanan advertensi untuk

memperoleh klien

Penetapan pendapat atas laporan

audit Ordinal Opini Audit (Y) Pernyataan Pendapat

Perencanaan dan pencanangan

pendekatan audit

Menguji pengendalian usaha Pelaksanaan prosedur analitis • Pelaksanaan pengujian terinci

terhadap saldo

• Perhatian tahap penyelesaian

Perhatian tahap penerbitan Pertimbangan keefektivan dalam

penentuan faktor risiko

Ordinal

40 E. Metode Analisis Data

Data yang terkumpul selanjutnya diuji dan dianalisis dengan Statistical Package for The Social Sciences (SPSS) versi 16.0. Adapun analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Uji Kualitas Data

Dilakukan pengujian kualitas data yang terkumpul dengan menggunakan pengujian sebagai berikut:

a. Uji Validitas Data

Validitas data penelitian ditentukan oleh proses pengukuran yang akurat. Suatu instrumen pengukuran dikatakan valid jika instrumen tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur (Indriantoro dan Supomo, 2002). Untuk melakukan uji validitas instrumen penelitian digunakan teknik Pearson Correlation yaitu dengan cara mengkorelasikan skor tiap item dengan skor totalnya. Jika korelasi antara skor masing-masing butir pertanyaan dengan total skor mempunyai tingkat signifikansi di bawah 0.05, maka butir pertanyaan tersebut dinyatakan valid dan sebaliknya (Ghozali, 2005:45).

b. Uji Reliabilitas Data

Menurut Indriantoro dan Supomo (2002) konsep reliabilitas dapat dipahami melalui ide dasar konsep tersebut yaitu konsistensi. Uji reliabilitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah kuesioner menunjukkan tingkat ketepatan, keakuratan,

41 kestabilan, atau konsistensi instrumen tersebut dalam mengungkapkan gejala tertentu dari sekelompok individu.

Untuk menguji tingkat reliabilitas konstruk dalam penelitian ini digunakan teknik uji Cronbach Alpha. Suatu konstruk dikatakan realiabel jika nilai Cronbach Alpha > 0,60 (Ghozali, 2001).

2. Uji Asumsi Klasik a. Uji Multikolinieritas

Pengujian ini dilakukan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan terdapat problem multikolinieritas (multikol) atau variabel tidak ortogonal. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen (Santoso, 2002).

Untuk menguji asumsi multikolinieritas dapat digunakan nilai VIF dan tolerance. Dimana jika nilai VIF terletak disekitar

1 dan tolerance mendekati angka 1 maka terjadi

multikolinieritias. Multikolinieritas terjadi jika nilai VIF dan tolerance lemah, yakni dibawah angka 0,5.

Untuk mendeteksi ada atau tidaknya Multikoloneritas di dalam model regresi adalah sebagai berikut:

1) Menganalisis matrik kolerasi variabel bebas. Jika antara variabel bebas ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya di atas 90%), maka hal ini indikasi adanya multikolinieritas.

42 2) Multikolinieritas yang dapat dilihat dari nilai tolerance dan

lawannya Variance Inflation Factor (VIF). Suatu model regresi yang bebas multikolinieritas adalah mempunyai angka tolarance mendekati 1.

Tolerance mengukur variabilitas variabel bebas yang terpilih yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel bebas lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF=1/ tolerance) dan menunjukkan adanya kolonieritas yang tinggi. Nilai cutoff yang umum dipakai adalah nilai tolerance 0,10 atau sama dengan VIF di atas 10. Setiap peneliti harus menentukan tingkat kolonieritas yang masih dapat dia tolerir. Sebagai misal nilai tolerance 0,10 sama dengan tingkat multikolonieritas 0,95. Walaupun multikolonieritas dapat dideteksi dengan nilai tolerance dan VIF, tetapi kita masih tetap tidak mengetahui variabel-variabel bebas mana sajakah yang saling berkorelasi (Santoso, 2002).

b. Uji Heteroskedastisitas

Penggunaan uji ini dilakukan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dan residual dari suatu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedasitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas.

Untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitas, dapat dilakukan dengan melihat grafik Normal P-P Plot dan titik-titik

43 menyebar mengelilingi garis diagonal, maka pengujian ini bebas dari heteroskedastisitas dan sebaliknya jika titik-titik pada grafik tidak mengelilingi garis diagonal atau berada jauh dari garis-garis diagonal maka diindikasikan adanya heteroskedastisitas. Sedangkan pada scater plot, jika pada grafik tersebut ada pola tertentu seperti titik-titik yang membentuk pola teratur (bergelombang, melebar, dan menyempit) maka diindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas dan jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Santoso, 2002). c. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk apakah dalam model regresi, variabel independen dan variabel dependen keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Untuk mengujinya dapat dilakukan analisis grafik atau dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi komulatif dari data sesungguhnya dengan ditribusi komulatif dari distribusi normal. Jika distribusi adalah nominal maka garis yang mengambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya (Ghozali, 2001).

62 3. Uji Hipotesis

Uji hipotesis yang digunakan dengan menggunakan metode analisis regresi berganda (multiple regression analysis). Metode ini digunakan untuk menguji kuat tidaknya pengaruh dua atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen dengan nilai signifikannya sebesar 0.05 (Ghozali, 2001).

a. Uji Koefesien Determinasi (Adjusted R-Square)

Uji koefesien determinasi ditunjukkan untuk melihat seberapa besar kemampuan variabel independen menjelaskan variabel dependen yang dilihat melalui adjusted R Square karena variabel independennya lebih dari satu. Jika nilai Adjusted R-Square adalah 1 berarti kuatnya kemampuan fluktusasi variabel dependen seluruhnya dapat dijelaskan oleh variabel indpenden dan tidak ada faktor lain yang menyebabkan fluktuasi variabel dependen, sebaliknya jika nilainya mendekati angka 0, maka semakin rendah kemampuan fluktuasi variabel dependen (Santoso, 2002).

b. Uji t (Pengujian secara parsial)

Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen secara individual terhadap variabel dependen. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh masing-masing variabel independen secara individual terhadap variabel dependen digunakan tingkat signifikansi 5% atau ( ) = 0.05. Jika probability t lebih besar

63

dari 0.05 maka tidak ada pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen (koefisien regresi tidak signifikan), sedangkan jika nilai probability t lebih kecil dari 0.05 maka terdapat pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen (koefisien signifikan) (Ghozali, 2005:85).

c. Uji F (Pengujian secara simultan)

Uji F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama terhadap variabel dependen atau terikat. Probabilitas lebih kecil dari 0.05, maka hasilnya signifikan berarti terdapat pengaruh dari variabel independen secara bersama terhadap variabel dependen (Ghozali, 2005:84).

64

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Obyek Penelitian

Dokumen terkait