• Tidak ada hasil yang ditemukan

8. Kepala Bagian Operasional

6.1 Profitabilitas dan Efisiensi Usaha .1 Return On Assets Ratio .1 Return On Assets Ratio

6.1.2 Operational Eficiency Ratio

Operational Eficiency Ratio (OER) atau Rasio Efisiensi Operasional dapat digunakan oleh suatu badan usaha khususnya bank untuk mengetahui seberapa besar tingkat efisiensi usaha. Nilai OER yang didapat dengan cara membandingkan antara jumlah biaya operasional dan jumlah pendapatan operasional. Pendapatan operasional BPRS Al Salaam diperoleh dari penyaluran dana yang terdiri dari penyaluran dana pihak ketiga bukan bank dan penyaluran dana dari bank-bank lain. Unsur biaya operasional BPRS Al Salaam terdiri dari

Sebelum Konversi Sesudah Konversi

pembayaran bagi hasil, administrasi dan umum, personalia dan biaya penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP).

Semakin kecil nilai OER, maka usaha bank akan semakin efisien. Nilai OER dari BPRS Al Salaam dari tahun 2005-2007 dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Hasil Perhitungan Rasio OER BPRS Al Salaam Tahun 2005-2007 Tahun Σ Biaya Operasional

(Rp)

Σ Pendapatan Operasional (Rp)

OER

(%) Keterangan 2005 13.366.998.400 14.831.049.661 90,13 Sebelum

konversi 2006 13.171.084.644 14.124.267.672 93,25 Proses

konversi 2007 20.552.347.334 22.438.282.249 91,60 Sesudah konversi Rata-rata 15.696.810.126 17.131.199.861 91,63

Sumber : PT BPRS Al Salaam Amal Salman (2008)

Trend nilai OER dari tahun 2005-2007 berfluktuasi, tahun 2005 OER mencapai 90,13 persen, tahun 2006 mengalami peningkatan menjadi 93,25 persen, kemudian tahun 2007 menurun menjadi 91,60 persen. Menurut penilaian kesehatan BPRS kinerja BPRS Al Salaam masih tergolong sehat karena tidak keluar dari batasan normal untuk OER yaitu <93,52 persen, baik sebelum konversi maupun sesudah konversi. Hal tersebut menunjukkan BPRS Al Salaam telah mampu mencapai efisiensi dalam menjalankan usahanya, yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat keuntungan. Akan tetapi bila dilihat dari rata-rata keseluruhan dari rasio tersebut masih cukup besar, dimana rata-rata OERnya dari tahun 2005-2007 sebesar 91,63 persen. Kriteria OER yang baik adalah semakin kecil nilai OER maka akan semakin baik dan efisien kinerja BPRS Al Salaam.

Berdasarkan hasil uji-t yang telah dilakukan maka didapatkan nilai rata-rata OER sesudah konversi ternyata lebih rendah 2,62 persen. Ketika proses konversi diperlukan biaya yang tidak sedikit seperti biaya untuk training para

karyawan, pengadaan software yang baru, pembukaan kantor-kantor cabang baru dan biaya perekrutan karyawan yang baru. Kebijakan untuk menyediakan dana bantalan likuiditas, yang dilandasi oleh adanya kemungkinan terjadinya penarikan dana dalam jumlah besar oleh para nasabah yang tidak setuju dengan proses konversi. Ketidaksetujuan tersebut dikarenakan kekhawatiran nasabah terhadap kemampuan pengelolaan BPRS setelah mengubah prinsip usahanya menjadi syariah. Besarnya dana pihak ketiga (DPK) berupa tabungan dan deposito juga membawa konsekuensi terhadap meningkatnya jumlah biaya dana yang harus ditanggung oleh BPRS Al Salaam. Biaya umum mengalami peningkatan terutama berkaitan dengan pelaksanaan konversi syariah baik untuk proses perijinan, persiapan berbagai perlengkapan administrasi dan kegiatan sosialisasi kepada para nasabah dalam bentuk customer gathering maupun kegiatan yang lain.

Hal ini diperkuat dengan grafik yang menunjukkan menjelang konversi BPRS Al Salaam mengalami peningkatan biaya operasional, namun setelah menjadi syariah biaya operasional kembali dapat ditekan. Hasil perhitungan uji-t dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Hasil Perhitungan Uji-t OER pada PT BPRS Al Salaam Amal Salman Tahun 2005-2007

Mean N Selisih

Mean t-hitung t-tabel α P-value OER

Sebelum Konversi

89,81

OER Sesudah Konversi

87,19

18 2,62 -10,18 2,064 0,05 0,000

Sumber : PT BPRS Al Salaam Amal Salman (2008)

Dari hasil uji-t yang telah dilakukan, nilai hitung sebesar |-10,18| nilai t-hitung lebih besar dari t-tabel, dengan nilai P-value menunjukkan signifikansi

0,000, karena uji yang dilakukan berupa one tailed maka 0,000/2 yang hasilnya lebih kecil dari nilai α (0,05) hasil yang lebih kecil menunjukkan bahwa terjadi perubahan yang signifikan dari sisi OER antara sebelum dan sesudah konversi.

Jika dilihat dari sisi nilai P-value dapat dijadikan bukti kuat untuk menolak H0 yang menyatakan bahwa rata-rata OER sesudah konversi lebih kecil jika dibandingkan dengan sebelum konversi. Secara rata-rata dapat dikatakan bahwa bahwa OER pada saat proses konversi lebih tinggi dibandingkan sebelum konversi, hal tersebut dapat dianggap wajar karena ketika awal proses konversi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun sesudah konversi garis trend pada grafik OER menunjukkan penurunan. Hal ini berarti sesudah konversi tingkat efisiensi usaha mengalami perbaikan dibandingkan pada saat proses konversi.

Grafik perkembangan OER tiga tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Perkembangan OER PT BPRS Al Salaam Amal Salman Tahun 2005-2007

Sumber : PT BPRS Al Salaam Amal Salman (2008)

0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 100.00

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 bulan

persen

Sebelum Konversi Sesudah Konversi

Pengaruh jumlah pembiayaan dan nasabah terhadap keuntungan BPRS Al Salaam dapat dianalisis dengan model regresi berganda, dimana variabel bebas yang mempengaruhi variabel tidak bebasnya antara lain jumlah nasabah pembiayaan modal kerja (X1), jumlah pembiayaan modal kerja (X2), jumlah nasabah pembiayaan investasi (X3), jumlah pembiayaan investasi (X4), jumlah nasabah pembiayaan konsumsi (X5) dan jumlah pembiayaan konsumsi (X6). Data yang digunakan adalah data rata-rata dari X1, X2, X3, X4, X5 dan X6 per bulan dari bulan Januari tahun 2005 sampai dengan bulan Desember tahun 2007, dengan total pengamatan sebanyak 36. Hasil pengolahan regresi model yang pertama (persamaan 4.1) dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Hasil Analisis Pengaruh Jumlah Pembiayaan dan Nasabah Terhadap Keuntungan BPRS Al Salaam Model 1

Simpangan

Variabel Koefisien Baku Thitung Pvalue VIF

Regresi Koefisien

Constant 22032730 192005461 0,11 0,909

Nasabah Modal Kerja (X1) 1285029 1764999 0,73 0,473 6,2 Pembiayaan Modal Kerja (X2) -0,2590 0,1839 -1,41 0,170* 8,5 Nasabah Investasi (X3) 384112 2319426 0,17 0,870 14,4 Pembiayaan Investasi (X4) -0,0386 0,1914 -0,20 0,842 16,7 Nasabah Konsumsi (X5) 1311870 1406825 0,93 0,359 8,6 Pembiayaan Konsumsi (X6) -0,0472 0,1421 -0,33 0,742 11,5

Dummy 128632789 110569184 1,16 0,254 2,8

S = 199797947 R-Sq = 21,4% R-Sq(adj) = 1,7%

F-Hit = 1,09 DW statistik = 2,17 Keterangan:

* = Nyata pada tingkat kepercayaan 80%

Pengujian terhadap ketepatan model fungsi keuntungan dengan melihat koefisien determinasi (R2), Fhitung, Thitung, maupun Pvalue dari masing-masing parameter, hasil pengolahan regresi menghasilkan model kesatu sebagai berikut :

Y = 22032730 + 1285029 X1 - 0,259 X2 + 384112 X3 - 0,039 X4 + 1311870 X5

- 0,047 X6 +1,29E+08 D

Hasil pengolahan regresi menghasilkan model yang kedua sebagai berikut : LnY = 132,5 + 4,191LnX1-5,415LnX2 - 0,335LnX3 - 3,108LnX4 +

3,776LnX5 + 1,096LnX6 + 0,307 D

Secara rinci model persamaan 4.2 (Model 2) dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Hasil Analisis Pengaruh Perkembangan Pembiayaan dan Jumlah Nasabah Terhadap Keuntungan BPRS Al Salaam Model 2

Simpangan

Tabel 12. Hasil Analisis Pengaruh Perkembangan Pembiayaan dan Jumlah Nasabah Terhadap Keuntungan BPRS Al Salaam Model 3

Simpangan

Hasil analisis menunjukkan bahwa model kesatu masih mengandung

multikolinearitas dimana nilai dari VIF dari model masih ada yang diatas sepuluh, sama halnya dengan model kedua, sehingga kedua model tersebut belum memenuhi persyaratan sebagai model yang dapat digunakan. Setelah dilakukan analisis dengan pendugaan model lain maka didapatkan model terbaik untuk analisis pengaruh jumlah pembiayaan dan nasabah terhadap keuntungan BPRS Al Salaam adalah model ketiga, hasil analisis regresi menghasilkan model :

LnY = 46,46 + 4,757LnX1 -7,310LnX2 -0,230LnX4 -7,039LnX5+6,852LnX6 + 0,307 D

Berdasarkan Tabel 12, hasil pendugaan analisis regresi diperoleh koefisien determinan (R2) sebesar 24,7 persen dan koefisien determinasi terkoreksi (Radj) sebesar 9,1 persen. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 24,7 persen mempunyai arti bahwa 24,7 persen keragaman keuntungan dapat diterangkan oleh variabel-variabel bebas: jumlah nasabah modal kerja (X1), jumlah pembiayaan modal kerja (X2), pembiayaan investasi (X4), jumlah nasabah konsumsi (X5), jumlah pembiayaan konsumsi (X6). Keragaman keuntungan BPRS Al Salaam masih perlu diterangkan oleh variabel lain di luar model yeng telah digunakan sebesar 75,3 persen.

Dari hasil dugaan terlihat bahwa uji F signifikan pada selang kepercayaan 90 persen. Pengujian variabel bebas secara parsial dilakukan dengan uji-t, hasil ini menunjukkan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh nyata adalah variabel pembiayaan modal kerja (X2) dan pembiayaan konsumsi (X6) nyata pada selang kepercayaan 90 persen. Sedangkan variabel-variabel yang tidak berpengaruh nyata adalah variabel jumlah nasabah modal kerja (X1), jumlah pembiayaan investasi (X4), jumlah nasabah konsumsi (X5) dan variabel dummy.

Dari pendugaan model tersebut dilakukan pemeriksaan terhadap asumsi OLS. Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai R2 dan banyaknya jumlah koefisien yang signifikan. Jumlah R2 yang diperoleh adalah sebesar 24,7 persen dengan jumlah koefisien yang signifikan sebanyak dua variabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa model yang digunakan tidak terdapat masalah multikolinearitas. Uji Autokorelasi dapat dilihat dari nilai Durbin Watson, jika nilai Durbin Watson berada di antara 1,55 dan 2,35, maka model tersebut tidak memiliki masalah autokorelasi. Hasil analisis regresi menunjukkan nilai Durbin Watson dalam model sebesar 2,09, sehingga dapat disimpulkan bahwa model tidak mempunyai masalah autokorelasi.

Dalam model regresi berganda nilai koefisien regresi adalah merupakan nilai elastisitas dari masing-masing variabel tersebut. Berdasarkan Tabel 12 nilai koefisien regresi yang bertanda positif adalah variabel: pembiayaan konsumsi (X6), sedangkan variabel yang bertanda negatif adalah: pembiayaan modal kerja (X2). Angka positif pada koefisien regresi menunjukkan hubungan yang searah antara keuntungan dengan penggunaan faktor-faktor keuntungan. Sedangkan angka negatif pada koefisien regresi menunjukkan hubungan yang berkebalikan antara keuntungan dengan penggunaan faktor-faktor keuntungan.

Variabel pembiayaan konsumsi secara parsial berpengaruh nyata terhadap keuntungan, dapat dilihat dari nilai Thitung. Nilai Thitung variabel pembiayaan konsumsi sebesar 2,00 lebih besar dibandingkan dengan nilai Ttabel sebesar 1,282 pada taraf nyata 10 persen. Pembiayaan konsumsi dalam model mempunyai pengaruh positif, artinya setiap ada kenaikan jumlah pembiayaan konsumsi, maka keuntungan yang diperoleh BPRS Al Salaam akan meningkat. Pembiayaan

konsumsi mempunyai pengaruh positif karena jika dilihat dari jumlah pembiayaan merupakan pembiayaan terbesar yang disalurkan BPRS Al Salaam yaitu Rp 40.165.862.788.

Variabel pembiayaan konsumsi berpengaruh nyata terhadap keuntungan pada tingkat kepercayaan 90 persen. Nilai elastisitas pembiayaan konsumsi dalam fungsi keuntungan sebesar 6,852 yang artinya bahwa setiap penambahan pembiayaan konsumsi sebesar Rp 100.000, maka keuntungan akan meningkat sebesar Rp 685.200 dengan asumsi faktor lain dianggap tetap (cateris paribus).

Berpengaruhnya variabel pembiayaan konsumsi terhadap keuntungan karena pembiayaan konsumsi merupakan pembiayaan yang terbesar yang disalurkan BPRS Al Salaam dan mempunyai resiko tingkat pengembalian pembiayaan yang paling kecil dibandingkan dengan pembiayaan lainnya. Sehingga dengan pembiayaan konsumsi yang lebih besar maka BPRS Al Salaam akan memperoleh bagi hasil yang lebih besar pula.

Jumlah pembiayaan konsumsi setiap tahunnya mengalami peningkatan.

Pada tahun 2005 saat BPRS Al Salaam masih beroperasi secara konvensional jumlah pembiayaan konsumsi mencapai Rp 17.207.876.762. Tahun 2006 meningkat sebesar 16,44 persen menjadi Rp 20.037.001.306, dan pada tahun 2007 setelah BPRS Al Salaam beroperasi secara syariah jumlah pembiayaan konsumsi meningkat sebesar 100 persen menjadi Rp 40.165.862.788. Pembiayaan konsumsi memberikan pengaruh yang positif terhadap tingkat keuntungan BPRS Al Salaam.

Variabel pembiayaan modal kerja secara parsial berpengaruh nyata terhadap keuntungan, dapat dilihat dari nilai Thitung. Variabel pembiayaan modal kerja mempunyai nilai Thitung sebesar 1,75 lebih besar dibandingkan dengan nilai

Ttabel sebesar 1,282 pada taraf nyata 10 persen. Pembiayaan modal kerja dalam model mempunyai pengaruh negatif, artinya setiap penurunan pembiayaan modal kerja akan meningkatkan keuntungan. Hal ini dikarenakan pembiayaan modal kerja mempunyai resiko tingkat pengembalian pembiayaan yang paling besar, karena pembiayaan yang diperuntukkan modal kerja sensitif terhadap fluktuasi usaha. Pembiayaan modal kerja yang disalurkan BPRS Al Salaam sampai saat ini terfokus pada sektor perdagangan. Resiko tingkat pengembalian pembiayaan modal kerja mencapai lima persen dari total pembiayaan yang bermasalah.

Pembiayaan modal kerja berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 90 persen. Nilai elastisitas pembiayaan modal kerja dalam fungsi keuntungan sebesar -7,310 yang artinya bahwa setiap penurunan pembiayaan modal kerja sebesar Rp 100.000, maka keuntungan akan meningkat sebesar Rp 731.000 dengan asumsi faktor lain dianggap tetap (cateris paribus). Sehingga diharapkan BPRS Al Salaam lebih memperhatikan dalam penyaluran pembiayaan modal kerja.

Berdasarkan hasil analisis regresi variabel jumlah nasabah modal kerja (X1) mempunyai pengaruh yang positif terhadap keuntungan. Hal ini karena walaupun jumlah nasabah modal kerja mempunyai jumlah yang paling sedikit, namun nilai dari pembiayaan modal kerja untuk satu nasabah umumnya besar. Nilai elastisitas nasabah modal kerja 4,757, artinya setiap ada kenaikan jumlah nasabah modal kerja sebanyak satu orang akan meningkatkan keuntungan sebesar Rp 4,757.

Variabel jumlah pembiayaan investasi (X4) mempunyai pengaruh yang negatif terhadap keuntungan dikarenakan pembiayaan investasi yang disalurkan BPRS Al Salaam sebagian besar diberikan kepada pegawai dan juga kepada perorangan. Hal ini dikarenakan daya serap pembiayaan investasi terhadap

pegawai kecil sehingga tidak memberikan nilai yang signifikan terhadap keuntungan. Nilai elastisitas pembiayaan investasi -0,230, nilai tersebut menunjukkan bahwa setiap penurunan pembiayaan investasi sebesar Rp 100.000 maka keuntungan akan meningkat sebesar Rp 23.000.

Jumlah nasabah konsumsi (X5) mempunyai pengaruh negatif terhadap keuntungan. Hal ini dikarenakan tingkat imbalan yang diberikan kepada nasabah kecil sehingga tingkat pengembalian imbalan (expected return) yang diharapkan kurang memberikan hasil yang signifikan meskipun jumlah nasabah konsumsi besar yaitu 45,86 persen dari total keseluruhan nasabah. Nilai elastisitas pembiayaan konsumsi -7,039, artinya setiap ada penurunan jumlah nasabah konsumsi sebanyak satu orang akan meningkatkan keuntungan sebesar Rp 7,039.

Jika dilihat dari hasil analisis regresi variabel jumlah nasabah modal kerja (X1), variabel jumlah nasabah investasi (X4), dan variabel jumlah nasabah konsumsi (X5) tidak berpengaruh terhadap keuntungan namun pada kenyataannya variabel tersebut berpengaruh pada keuntungan BPRS Al Salaam. Hal ini dikarenakan kemungkinan ada faktor-faktor lain diluar itu seperti :

1. Efisiensi biaya, yang terdiri dari :

a) Biaya penghapusan penyisihan aktiva produktif (PPAP) b) Biaya personalia, khususnya account officer

c) Biaya administrasi dan umum, seperti iklan dan promosi

2. Perolehan dana dari nasabah tidak disalurkan sebagai pembiayaan, sehingga dana akan disimpan dalam bentuk giro dan tabungan.

3. Menjaga pembiayaan yang ada terhindar dari tingkat resiko pengembalian pembiayaan, agar pembayaran pembiayaan dari nasabah lancar.

Sejak didirikan hingga sekarang BPRS Al Salaam telah berkembang dengan berdirinya lima kantor cabang, dan 17 kantor kas. Pertambahan kantor cabang dan kantor kas diikuti oleh peningkatan pembiayaan yang disalurkan dan pertambahan jumlah nasabah, yang diharapkan dapat meningkatkan keuntungan yang diperoleh BPRS Al Salaam.

Keuntungan yang diperoleh BPRS Al Salaam pada tahun 2005 adalah Rp 1.464.051.261, tahun 2006 menurun sebesar 34,89 persen menjadi Rp 953.183.028, sedangkan pada tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 97,85 persen menjadi Rp 1.885.934.915. Jumlah pembiayaan dan nasabah BPRS Al Salaam dari tahun 2005 hingga tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Jumlah Pembiayaan dan Nasabah BPRS Al Salaam Tahun 2005-2007 Jumlah

Tahun Pembiayaan (Rp)

Perubahan (%)

Nasabah (Orang)

Perubahan (%)

2005 52.792.000.000 - 7888 -

2006 62.874.000.000 9,63 8579 8,76

2007 88.776.000.000 41,20 9849 14,80

Sumber : PT BPRS Al Salaam Amal Salman (2008)

Pada tahun 2005 ketika BPRS Al Salaam masih menggunakan prinsip usaha secara konvensional, pembiayaan yang disalurkan adalah Rp 52.792.000.000. Tahun 2006 mengalami peningkatan sebesar 19,09 persen, pada tahun 2007 setelah BPRS Al Salaam mengubah prinsip usahanya menjadi syariah pembiayaan yang disalurkan meningkat sebesar 41,19 persen.

Peningkatan pembiayaan yang disalurkan pada tahun 2006 tidak diikuti dengan peningkatan keuntungan. Penurunan keuntungan yang terjadi pada tahun 2006 dikarenakan BPRS Al Salaam pada tahun tersebut sedang melakukan konversi usaha dari prinsip usaha konvensional menjadi syariah. Pada saat berlangsungnya proses konversi diperlukan biaya yang tidak sedikit sehingga

berpengaruh pada perolehan keuntungan BPRS Al Salaam. Biaya umum mengalami peningkatan terutama berkaitan dengan pelaksanaan konversi syariah baik untuk proses perijinan, persiapan berbagai perlengkapan administrasi dan kegiatan sosialisasi kepada para nasabah dalam bentuk customer gathering maupun kegiatan yang lain.

Di samping itu BPRS Al Salaam melakukan penghentian pemberian pembiayaan sementara kepada nasabah. Penghentian pembiayaan dilakukan untuk menjaga likuiditas, namun hal tersebut berakibat menurunnya pendapatan BPRS Al Salaam karena dana yang ada tidak disalurkan sehingga menjadi dana yang tidak produktif. Pendapatan operasional BPRS Al Salaam pada tahun 2005 Rp 14.831.049.661, kemudian tahun 2006 turun menjadi Rp 14.124.267.672, tahun 2007 meningkat menjadi Rp 22.438.282.249. Pada tahun 2007 setelah proses konversi, keuntungan yang diperoleh BPRS Al Salaam mengalami peningkatan sebesar 97,85 persen. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa BPRS Al Salaam mempunyai kredibilitas dalam menjalankan usaha secara syariah.

BPRS Al Salaam dalam menyalurkan pembiayaan kepada nasabah, menitikberatkan kepada banyaknya jumlah nasabah dibandingkan dengan pemberian pembiayaan kepada satu nasabah dalam jumlah besar. Hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko tingkat pengembalian pembiayaan dan menambah database BPRS Al Salaam guna pengembangan usaha dalam upaya pembukaan cabang baru.

Penelitian yang pernah dilakukan Yudistira (2004) adalah menggunakan empat variabel. Walaupun variabel yang digunakan sama yaitu jumlah nasabah dan jumlah kredit yang disalurkan, namun pada penelitian ini lebih spesifik

berdasarkan jenis penggunaan. Hal ini bertujuan agar hasil yang diperoleh lebih detil, sehingga bank dapat melakukan langkah-langkah yang lebih konkret dalam menjalankan kegiatan usaha guna memperoleh keuntungan yang diinginkan.

Penelitian yang dilakukan Yudistira (2004) dengan jumlah variabel yang digunakan sebanyak empat. Variabel bebas yang mempengaruhi variabel tak bebasnya adalah jumlah nasabah bulanan (NBL), jumlah kredit bulanan (KBL), jumlah nasabah berjangka (NBJ) dan jumlah kredit berjangka (KBJ). Data yang digunakan adalah data rata-rata dari NBL, KBL, NBJ, dan KBJ per bulan dari bulan Desember 1999 hingga bulan November 2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua variabel yang digunakan berpengaruh terhadap keuntungan yang diperoleh BPR Gebu Kujang Kinantan. Hasil pengolahan regresi dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Hasil Analisis Pengaruh Perkembangan Kredit dan Jumlah Nasabah Terhadap Keuntungan BPR Gebu Kujang Kinantan

Simpangan

Variabel Koefisien Baku Thitung Pvalue VIF

Regresi Koefisien

Constant -12611576 1950835 -6,46 0,0000

NBL 63193 12379 5,11 0,0000 2,0

KBL 0,0159 0,002437 6,53 0,0000 2,9

NBJ 210212 491250 4,28 0,0000 9,4

KBJ -0,028458 0,005592 -5,08 0,0000 9,7

S = 1329931 R-Sq = 84,4% R-Sq(adj) = 82,9%

F-Hit = 56,72 DW statistik = 2,20

Berdasarkan hasil uji-t secara individu pada koefisien NBL, KBL, NBJ, dan KBJ, terlihat bahwa kenaikan atau penurunan jumlah nasabah dan nilai kredit berjangka berpengaruh secara signifikan terhadap keuntungan pada taraf kepercayaan 5%. Variabel yang mempunyai pengaruh paling besar adalah variabel NBJ, nilai koefisien NBJ adalah sebesar 210212. Nilai tersebut

menunjukkan bahwa setiap ada kenaikan jumlah nasabah kredit berjangka sebanyak satu orang akan meningkatkan keuntungan sebesar Rp 210.212,00.

Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa kredit bulanan memberikan pengaruh positif baik dari jumlah nasabahnya maupun jumlah kreditnya, artinya setiap kenaikan jumlah nasabah bulanan dan jumlah kredit bulanan akan meningkatkan keuntungan yang diperoleh BPR Gebu Kujang Kinantan. Pada kredit berjangka menunjukkan bahwa jumlah nasabah berjangka mempunyai pengaruh yang positif artinya setiap kenaikan jumlah nasabah berjangka akan meningkatkan keuntungan BPR Gebu Kujang Kinantan. Sedangkan jumlah kredit berjangka mempunyai pengaruh yang negatif artinya setiap penurunan jumlah kredit berjangka yang disalurkan akan meningkatkan keuntungan BPR Gebu Kujang Kinantan.

Dari perbandingan tersebut terlihat perbedaan yang signifikan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian Yudistira (2004). Hasil penelitian Yudistira (2004) menyatakan bahwa semua variabel bebas yang mempengaruhi variabel tak bebasnya berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Sedangkan pada penelitian ini hanya ada dua variabel bebas yang berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 90 persen terhadap variabel tak bebasnya.

Walaupun variabel yang digunakan sama yaitu jumlah nasabah dan jumlah kredit atau pembiayaan yang disalurkan namun pada penelitian ini variabel jumlah nasabah dan jumlah pembiayaan diuraikan lebih spesifik. Hal ini membuktikan bahwa penguraian variabel menjadi lebih spesifik mempengaruhi hasil analisis.

8.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa :

1. Rata-rata ROA syariah lebih besar dibandingkan dengan sebelum konversi.

Rata-rata ROA sebelum konversi sebesar 1,358, sedangkan rata-rata ROA sesudah konversi sebesar 1,633. Hal ini menunjukkan setelah menjadi syariah adanya peningkatan kemampuan manajemen BPRS Al Salaam didalam mengelola aset atau kekayaan yang dimiliki terhadap perolehan laba atau keuntungan. Tingkat efisiensi usaha BPRS Al Salaam setelah menjadi syariah membaik, hal ini berdasarkan nilai rata-rata OER syariah lebih kecil dibandingkan dengan sebelum konversi. Rata-rata OER sebelum konversi sebesar 89,81, sedangkan rata-rata OER sesudah konversi sebesar 87,19.

2. Model ketiga merupakan hasil analisis regresi yang menunjukkan bahwa tidak ada masalah multikolinear. Pengujian varibel bebas secara parsial dilakukan dengan uji-t, menunjukkan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh nyata adalah variabel pembiayaan modal kerja (X2) dan pembiayaan konsumsi (X6) nyata pada selang kepercayaan 90 persen.

8.2 Saran

Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka penulis memberikan saran kepada BPRS Al Salaam untuk :

1. Setelah BPRS Al Salaam merubah kegiatan usahanya dari konvensional sebaiknya lebih diterapkan complien syariah hal ini bertujuan untuk peningkatan keuntungan dari berbagai macam jenis pembiayaan.

2. Dalam pengembangan pembiayaan sebaiknya BPRS Al Salaam melakukan analisis pasar sehingga kebutuhan pembiayaan perbankan syariah lebih tepat sasaranya ke masyarakat. Ekspansi pasar perlu ditingkatkan terutama untuk pembiayaan konsumsi yang banyak diminati oleh masyarakat. Pembiayaan modal kerja perlu dikembangkan mengingat kebutuhan masyarakat akan perbankan cukup tinggi khususnya untuk modal kerja.

Antonio, M. S. 2001. Bank Syariah Dari Teori Ke Praktik. Gema Insani. Jakarta.

Asosiasi Bank Syariah Indonesia. 2005. Standar Operasional Produk BPR Syariah. Jakarta.

Bank Indonesia. 1999. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan.

Candrayasa. 2000. Analisis Efektifitas Penyaluran Kredit Umum Pedesaan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi di Bank Rakyat Indonesia Unit Diponegoro Surabaya. Skripsi. Jurusan Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian.

Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Dendawijaya, L. 2001. Manajemen Perbankan. Cetakan Pertama. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Direktorat Perbankan Syariah. Bank Indonesia. 2008. Statistik Perbankan Syariah.

Gujarati, D dan Zaim, S. 1978. Ekonometrika Dasar. Erlangga. Jakarta.

Hartati, Sri. 2005. Pengaruh Pembiayaan Terhadap Pertumbuhan Penjualan, Laba dan Aset Nasabah (Studi Kasus Pembiayaan Mudharabah di PT BPRS Amanah Ummah Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor). Skripsi.

Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

Institut Bankir Indonesia. 2001. Bank Syariah : Konsep, Produk dan Implementasi Operasional. Djambatan. Jakarta.

Indriyani, Y. 2007. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Frekuensi Pembiayaan UMKM (PT BPRS Amanah Ummah Leuwiliang, Bogor). Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

Irmayanto, J. 1999. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Edisi Pertama.

Universitas Trisakti. Jakarta

Lipsey. 1997. Pengantar Mikroekonomi. Edisi Kesepuluh. Jilid 1. Binarupa Aksara. Jakarta.

Munawir, S. 1995. Analisa Laporan Keuangan. Liberty. Yogyakarta.

Nicholson, W. 2001. Teori Ekonomi Mikro. Edisi Kedua. PT RajaGrafindo

Nicholson, W. 2001. Teori Ekonomi Mikro. Edisi Kedua. PT RajaGrafindo

Dokumen terkait