• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi 1. Ruang Lingkup Audit Dibatasi. Auditor tidak berhasil mengumpulkan bukti-bukti audit yang mencukupi untuk mempertimbangkan

2.3. Opini Going Concern

Menurut Belkoui (2000) going concern adalah dalil yang menyatakan bahwa suatu entitas akan menjalankan terus operasinya dalam jangka waktu yang cukup lama untuk mewujudkan proyeknya, tanggung jawab serta aktivitas-aktivitasnya yang tiada henti. Dalil ini memberi gambaran bahwa entitas

diharapkan untuk beroperasi dalam jangka waktu yang tidak terbatas atau tidak diarahkan menuju arah likuidasi. Suatu operasi yang berlanjut dan berkesinambungan diperlukan untuk menciptakan suatu konsekuensi bahwa laporan keuangan yang terbit disuatu periode mempunyai sifat sementara, sebab masih merupakan suatu rangkaian laporan keuangan yang berkelanjutan. Sebagai contoh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh peralatan, persediaan, dan aktiva yang diharapkan dapat memberikan manfaat beberapa periode mendatang, hal tersebut didasarkan pada asumsi bahwa perusahaan akan terus eksis dimasa yang akan datang.

Going concern dipakai sebagai asumsi dalam laporan keuangan sepanjang

tidak terbukti adanya informasi yang menunjukkan hal berlawanan. Biasanya informasi yang signifikan dianggap berlawanan dengan asumsi kelangsungan hidup usaha yang berhubungan dengan ketidakmampuan satuan usaha dalam memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo tanpa melakukan penjualan sebagian besar aktiva kepada pihak luar melalui bisnis biasa, restrukturisasi hutang, kerugian operasi yang berulang terjadi dan kegiatan serupa yang lain (PSA 30, para 1). Kelangsungan hidup suatu satuan usaha selalu dihubungkan dengan kemampuan manajemen membawa satuan usaha tersebut untuk survive selama mungkin. Sejalan dengan peran agen dalam hubungan keagenan, manajer diberikan kewenangan untuk menjalankan usaha termasuk mengambil keputusan untuk menjamin kelanjutan organisasi.

Berkaitan dengan auditing, teori agensi menjelaskan adanya perbedaan kepentingan antara prinsipal dan agen maka auditor ditunjuk prinsipal untuk dapat

mengevaluasi pertanggungjawaban atas mandat yang diberikan yang selanjutnya auditor sebagai representasi prinsipal akan melakukan proses audit dan memberikan pendapat/ opini atas hasil audit laporan keuangan.

Opini audit laporan keuangan merupakan salah satu pertimbangan yang penting bagi investor dalam menentukan keputusan berinvestasi karena opini yang diberikan merupakan pernyataan kewajaran dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum (SPAP,2001:110, alinea 1).

Dengan demikian auditor memiliki tanggung jawab atas opini yang diberikan terhadap laporan keuangan yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, arus kas dan laporan perubahan modal (SPAP,2001:110,alinea 2) Auditor harus berhati-hati dalam mengeluarkan opini audit suatu perusahaan dengan melihat hal-hal yang tidak tampak dibalik laporan keuangan seperti masalah kontinuitas entitas sebab seluruh aktivitas transaksi yang telah dan akan terjadi secara implisit terkandung di dalam laporan keuangan. Hal ini berarti, menuntut auditor untuk mewaspadai hal-hal potensial yang dapat mengganggu kelangsungan hidup suatu satuan usaha. Auditor perlu memberikan suatu pernyataan mengenai kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidup usahanya, apabila ada keraguan mengenai kelangsungan hidup suatu perusahaan maka auditor perlu mengungkapkan dalam laporan opini audit (Going Concern Audit Report) dimana auditor diizinkan untuk memilih apakah akan mengeluarkan unqualified modified

Pentingnya laporan audit yang berhubungan dengan going concern, yang selanjutnya opini yang diberikan disebut dengan opini going concern (Mutchler, 1986; Mutchler et al.,1997, Ramadhany, 2004 dan Mirna dan Indira, 2007) adalah untuk memberikan peringatan awal bagi pemegang saham guna menghindari kesalahan dalam pembuatan keputusan. Hal ini telah diatur dalam PSA 29 paragraf 11 yang menyatakan bahwa keraguan yang besar tentang kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya (going concern) merupakan keadaan yang mengharuskan auditor menambahkan paragraf penjelasan dalam laporan audit walaupun tidak mempengaruhi pendapat wajar

tanpa pengecualian. Akers et al. (2003) menyatakan bahwa auditor tidak diminta untuk

melakukan prosedur audit khusus untuk menentukan adanya keraguan akan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan usahanya. Prosedur audit yang dilakukan sama dengan prosedur audit lainnya, antara lain seperti prosedur analitik, penelaahan ketaatan perusahaan terhadap perjanjian hutang. Dalam melaksanakan prosedur audit, auditor bertanggung jawab untuk mengevaluasi adanya kondisi dan peristiwa yang dapat menimbulkan kesangsian besar terhadap kemampuan perusahaan untuk mempertahankan hidupnya (PSA 30, 2001) seperti antara lain adanya modal kerja negatif, rugi operasi, arus kas operasi negatif, buruknya rasio-rasio keuangan penting, adanya tuntutan pengadilan / litigasi, hilangnya manajemen kunci. Konsisten dengan temuan Mutchler (1984) yang meneliti persepsi auditor tentang pembuatan keputusan opini going concern,

hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar auditor tidak melakukan prosedur audit khusus untuk mendeteksi adanya masalah going concern

Karena opini going concern dipertimbangkan oleh para investor untuk pengambilan keputusan berinvestasi maka manajemen perlu memperhatikan kondisi dan peristiwa yang dapat menimbulkan diterimanya opini tersebut karena ketika mengevaluasi kemampuan perusahaan untuk melanjutkan usahanya, auditor akan memperhatikan semua kejadian dan peristiwa yang relevan, sebagai contoh untuk melihat ketidak mampuan klien memenuhi perjanjian hutang dapat dilihat dari buruknya rasio likuiditas maupun menurunnya rasio operasi perusahaan.

Lebih jauh dari prosedur analitik dapat diketahui juga adanya penyimpangan negatif antara anggaran keuangan dan realisasinya. Disisi lain dalam memberikan opini going concern auditor harus memperhatikan rencana manajemen dan menentukan bukti apakah rencana manajemen tersebut dapat mengatasi kondisi buruk dalam periode waktu tidak lebih dari satu tahun. Sebagai contoh jika terdapat rencana manajemen untuk menjual aktiva maka perlu diperoleh bukti apakah aktiva yang akan dijual tersebut marketable dan apakah terdapat pembatasan penjualan aktiva serta dampak dari penjualan aktiva tersebut. Manajemen seringkali membuat rencana manajemen yang prospektif, oleh karenanya auditor harus membaca seluruh informasi keuangan dan asumsi atas informasi tersebut termasuk membandingkan informasi tahun ini dengan tahun sebelumnya (Ellingsen et al, 1989)

2. 4. Standar yang relevan dengan keputusan Opini Going Concern

Pembahasan opini going concern dalam penelitian ini menggunakan tiga standar yaitu SAS 59 (1988), PSA 30 (2001) dan ISA 570 (2004). Pemahaman standar berikut ini untuk memberikan petunjuk bahwa opini going concern yang diterima perusahaan pada dasarnya melalui pertimbangan auditor yang memperhatikan standar sekaligus merupakan hasil negosiasi dengan manajemen.

AU Seksi 341 (SAS No.59) mengharuskan auditor memberikan warning

kepada pemakai laporan keuangan, akan adanya suatu kesangsian mengenai kemampuan perusahaan sebagai suatu entitas, untuk bisa bertahan hidup, paling tidak dalam satu periode akuntansi setelah periode laporan keuangan atau disebut juga dengan “periode waktu pantas”. Entitas yang dimaksud disini adalah “economic entity” bukan “legal entity”. Pada beberapa kasus bisa saja ditemukan adanya perusahaan yang secara ekonomi tidak lagi beroperasi, tetapi secara legal belum dibubarkan atau yang dikenal dengan istilah ”PT Kosong”.

SAS No.59 meminta auditor secara aktif untuk mempertimbangkan

apakah hasil prosedur pemeriksaan yang dilakukan menunjukkan adanya keraguan tentang kemampuan perusahaan untuk melanjutkan usahanya sebagai

going concern. Standard tersebut memberikan petunjuk tentang kondisi atau

kejadian yang perlu dipertimbangkan auditor ketika terdapat informasi yang bertentangan dengan asumsi pelaporan keuangan yang menyatakan perusahaan akan tetap eksis. Kondisi dan kejadian tersebut termasuk trend negatif seperti kerugian operasi yang berulang, kegagalan dalam membayar pinjaman, restrukturisasi hutang, berhentinya pekerjaan dan kesulitan masalah tenaga kerja

dan faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan hambatan perusahaan untuk beroperasi.

SAS No.59 juga meminta auditor untuk mempertimbangkan rencana manajemen untuk mengatasi kondisi kesulitan tersebut. Jika terdapat keraguan tentang kemampuan perusahaan untuk melanjutkan usahanya dalam satu periode waktu yang tidak lebih dari satu tahun setelah tanggal laporan keuangan setelah mengevaluasi rencana manajemen maka auditor harus memasukkan paragraph penjelas dalam opininya. Setelah SAS No.59, laporan audit going concern dipertimbangkan menjadi “modified” opinion. Beberapa penelitian tentang keputusan opini going concern menggunakan data dari periode waktu sebelum diberlakukannya SAS No.59.

Penelitian pertama yang menggunakan data setelah SAS No.59 dilakukan oleh Raghunandan dan Rama (1995) yang membuktikan bahwa auditor mengeluarkan opini going concern baik kepada perusahaan yang kemudian menjadi bangkrut maupun kepada perusahaan yang mengalami kegagalan keuangan tetapi tidak bangkrut. Mereka juga membuktikan bahwa proporsi perusahaan bangkrut yang sebelumnya menerima opini going concern secara signifikan lebih besar setelah berlakunya SAS No.59 secara efektif, dilaporkan sejumlah 62% perusahaan bangkrut setelah SAS No.59 sebelumnya menerima opini going concern satu tahun sebelum kebangkrutan.

Indonesia mengadopsi AU Seksi 341 (SAS No.59) menjadi SA Seksi 341 (PSA No.30) tentang “Pertimbangan Auditor atas Kemampuan Entitas dalam Mempertahankan Kelangsungan Hidupnya” , yang berlaku secara efektif mulai

tahun 1998. Pernyataan Standar Auditing No.30 (SPAP, 2001) mewajibkan auditor bertanggung jawab untuk mengevaluasi apakah terdapat kesangsian besar terhadap kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam periode pantas tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan keuangan diaudit. Auditor harus melakukan evaluasi apakah terdapat “kesangsian” bukan “kepastian”. Kesangsian dimaksud berada antara tanggal neraca hingga tanggal neraca tahun berikutnya, atau dengan kata lain mencakup juga semua peristiwa setelah tanggal neraca (peristiwa kemudian).

Berkaitan dengan laporan auditor atas laporan keuangan auditan, PSA 29 paragraf 11 menyatakan bahwa keraguan yang besar tentang kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya (going concern) merupakan keadaan yang mengharuskan auditor menambahkan paragraf penjelasan dalam laporan audit walaupun tidak mempengaruhi pendapat wajar tanpa pengecualian

PSA 30 paragraf 6 menyebutkan bahwa auditor dapat mengidentifikasi informasi mengenai kondisi atau peristiwa tertentu yang jika dipertimbangkan secara keseluruhan, menunjukkan adanya kesangsian besar tentang kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu yang pantas. Contoh kondisi dan peristiwa yang dapat menimbulkan keraguan auditor :

1. Trend negatif , sebagai contoh kerugian operasi yang berulangkali terjadi,