LAMPUNG TIMUR **)
6 PENGELOLAAN PERIKANAN RAJUNGAN
6.2 Opsi Pengelolaan dan Konsekwensinya
6.2.1 Opsi Pengelolaan
Opsi (alternatif) pengelolaan perikanan rajungan di perairan pesisir Lampung Timur dengan pengendalian penangkapan adalah melalui pendekatan: (1) keberlanjutan stok dan konservasi, (2) pengembangan ekonomi nelayan dan tata kelola
perikanan rajungan (Gambar 6.1) Strategi pengelolaan dalam keberlanjutan stok dan konservasi adalah melalui kebijakan operasional penerapan ukuran yang boleh ditangkap (MLS) dan perlindungan populasi pemijah atau rajungan BEF. Penerapan MLS yang sesuai dan memadai, diiringi dengan konservasi nursery habitat dan penggunaan alat tangkap rajungan berupa bubu yang dilengkapi dengan lubang pelarian (escape vent). Sementara itu, upaya pengelolaan dengan pendekatan perlindungan populasi yang memijah (BEF) adalah dengan melepaskan BEF yang tertangkap dan masih hidup dan atau pemeliharaan. Pendekatan pengelolaan untuk pengembangan ekonomi nelayan dan tata kelola perikanan rajungan ditempuh melalui kebijakan pengelolaan operasional penangkapan dan produksi, peningkatan kohesi dan kapasitas nelayan rajungan serta perbaikan kebijakan pengelolaan. Beberapa upaya pengelolaan dalam operasional penangkapan dan produksi, peningkatan kohesi dan kapasitas nelayan rajungan serta perbaikan kebijakan pengelolaan tidak menjadi ruang lingkup kajian ini, sehingga tidak dibahas.
Gambar 6.1 Opsi strategi dan upaya pengelolaan perikanan rajungan (P. pelagicus) secara terintegrasi di perairan pesisir Lampung Timur. Opsi upaya pengelolaan yang berada dalam tanda kotak dengan garis putus-putus dan titik dua sebagai penunjang bahasan dan garis putus-putus saja adalah di luar ruang lingkup dan bahasan kajian ini
a. Penerapan ukuran minimum yang boleh tangkap
Penerapan ukuran minimum yang boleh ditangkap (minimum legal size, MLS) menurut kriteria biologi sudah banyak dilakukan terhadap perikanan krustasea, moluska dan ikan (King 1995; FAO 2006). Pada awalnya ketentuan ini mempunyai tujuan dalam perspektif pasar, yakni untuk mendapatkan individu hasil tangkapan yang berukuran besar dan mempunyai harga tinggi, sedangkan dari perspektif sumberdaya untuk melindungi populasi berukuran kecil (Hill 1992; Walker 1992; Winstanley 1992). Mortalitas penangkapan rajungan dewasa dikompenasi dengan penurunan tangkapan terhadap rekruit dengan penerapan MLS. MLS umumnya ditetapkan berdasarkan ukuran rata-rata populasi mencapai matang gonad 50% (Lm50)
dan ditingkatkan 10% apabila terjadi peningkatan intensitas penangkapan (Caddy & Mahon1995). Kendati demikian, kadangkala MLS pada Lm50 tidak memadai dalam
strategi pengelolaan berbasis ukuran untuk menjamin ketersedian stok pemijah,
spawning stock (Corgos & Freire 2006). Selain itu, penentapan MLS sangat dipengaruhi oleh karakteristik populasi dan produktivitasnya, pertimbangan responnya terhadap tekanan eksploitasi dan kondisi lingkungan, sehingga sebaiknya MLS >Lm50
(Walker 1992). Sebagai contoh, MLS rajungan (P. armatus yang sebelumnya dikenal sebagai P. pelagicus) di perairan sebelah barat Australia, ditetapkan berdasarkan ukuran rata-rata populasi mencapai matang gonad 95% (Lm95) (de Lestang et al.
2013a).
Berdasarkan analisis aspek biologi reproduksi, MLS disarankan pada ukuran lebar karapas lebih besar dari ukuran rajungan betina mulai reproduktif atau ukuran yang mempunyai kecenderungan memijah dua kali (lebar karapas >111 mm) dan sebaiknya pada ukuran 115 mm (Bab 2). Tujuannya adalah untuk memberi kesempatan pertumbuhan stok dan perkembangan kepada rekruit, meningkatkan populasi BEF (reproductive capacity) dan keberhasilan reproduksi. Tujuan lain adalah untuk mendapatkan Y’/R dan B’/R optimum secara biologi dengan ukuran rata-rata lebar karapas pertama kali tertangkap (Lc50) antara 115−135 mm (Bab 4). Gambar 6.2
menyajikan alternatif pola pergeseran Lc50 dari kondisi saat ini (Lc50 = 99.4 mm)
menjadi Lc50 antara 115−135 mm CW atau delaying the size at first capture.
Gambar 6.2 Alternatif pola pergeseran Lc50 dari kondisi eksisting pada kurva
logistik di sebelah kiri menjadi kurva di sebelah kanan dengan MLS 115 mm CW untuk mendapatkan kondisi bagian bawah dari hasil dan biomass per-penambahan baru relatif optimum
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100 105 110 115 120 125 130 135 140 145 150 Pr o p o rsi ( % )
Ukuran lebar karapas (mm)
Proporsi-2 Eksisting
Penerapan MLS ditunjang dengan opsi upaya taktis dan adaptif, yakni: (1) konservasi nursery habitat; (2) penggunaan alat tangkap bubu.
a.1. Konservasi nursery habitat
Penerapan MLS saja tidak cukup untuk mencegah terjadinya penangkapan lebih terhadap rekruit (rajungan juwana dan pra-dewasa serta dewasa kelamin yang kurang reproduktif) di S1. Hal ini disebabkan karena alat tangkap yang dominan digunakan adalah jaring insang dasar dan alat tangkap ini bersifat tidak selektif dalam penangkapan rajungan. Untuk menghindari ketentuan tentang MLS, diduga rajungan yang tertangkap berukuran kecil dari MLS akan dibuang oleh nelayan dalam kondisi yang sudah mati dan pada akhirnya akan meningkatkan kematian populasi akibat pembuangan tersebut (mortality discarded) dan growth overfishing (Hill 1992; Winstanley 1992; FAO 2006; Tzanatos et al. 2007). Tujuan lain zona konservasi adalah untuk memberi perlindungan terhadap habitat penting rajungan. Opsi zona konservasi nursery habitat rajungan adalah pada sebagian area S1 di sebelah timur TNWK (unit-area S1A1−S1A3).
a.2. Penggunaaan alat tangkap bubu
Dalam menunjang penerapan MLS dapat pula melakukan penangkapan menggunakan bubu (traps) di S1 dan di luar zona konservasi. Diperlukan penggantian alat tangkap jaring insang dasar menjadi bubu yang mempunyai lubang pelarian (escape vent). Penggunaan alat tangkap bubu yang dilengkapi lubang pelarian mempunyai tujuan agar rajungan berukuran <MLS dapat keluar melalui escape vent.
Boutson et al. (2009) melaporkan bahwa escape vent yang baik adalah berbentuk bujur sangkar (square) dengan posisi di sisi samping bawah bubu. Dilaporkan pula, berdasarkan penelitian laboratorium dengan escape vent ber-ukuran 8.0x8.0 cm (P x L) mampu meloloskan 70% rajungan yang belum matang kelamin (immature crabs) dengan panjang karapas (CL) <46 mm. Selain itu, ukuran rata-rata pertama kali tertangkap (L50%) dengan alat tangkap bubu lipat tipe kotak yang dilengkapi escape vent berukuran 4.5 x 3.5 cm dan 5.0 x 3.5 cm (P x L) masing-masing adalah 44.4 mm dan 48.7 mm CL. Hasil percobaan di lapangan juga menunjukkan bahwa L50% bubu
dengan escape vent berukuran 4.5 x 3.5 cm adalah pada 46.9 mm CL, rata-rata dapat meloloskan immature crabs antara 11−70.5% dan tidak mempengaruhi tangkapan terhadap dewasa kelamin. Hasil penelitian di Sulawesi Tenggara juga menunjukan bahwa bubu rajungan dengan dimensi escape vent 5 x 3.5 cm (P x L), dapat meloloskan sebagian besar rajungan berukuran lebar karapas <100 mm (La Sara, Kom. Pribadi, 25 Februari 2015). Perlu dilakukan penelitian tentang escape vent, termasuk efisiensi usaha penangkapan rajungan denga bubu di perairan pesisir Lampung Timur.
Perbedaan biaya investasi pengadaan alat tangkap bubu dibanding jaring insang dasar diasumsikan seimbang dengan akumulasi biaya perawatan dan umur teknis alat tangkap, terutama untuk penangkapan di S1. Hal ini mengingat bahwa biaya perawatan jaring insang dasar sangat tinggi dan umur teknisnya pendek (1−3 bulan), sedangkan umur teknis bubu mencapai satu tahun dengan biaya perawatan yang lebih murah (Gardenia 2006).
Alat tangkap bubu dapat pula digunakan untuk penangkapan rajungan di S2−S3. Kendati demikian, alat tangkap bubu yang dilengkapi escape vent tidak menjamin terseleksinya rajungan BEF untuk tertangkap di area ini. Umumnya rajungan yang ditangkap dengan bubu, masih hidup selama terperangkap hingga beberapa saat setelah dikeluarkan dari bubu dan ditempatkan di sarana penampungan hasil
tangkapan. Penggunaan alat tangkap ini dapat menunjang pengelolaan terhadap perlindungan BEF agar diberi kesempatan untuk menetaskan telurnya.
b. Perlindungan terhadap rajungan betina mengerami telur (BEF)
Opsi ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan kapasitas reproduksi dan keberhasilannya serta peningkatan rekrutmen sepanjang tahun dalam pemulihan stok. Penerapan MLS dengan atau tanpa diiringi konservasi nursery habitat akan meningkatkan intensitas penangkapan di S2−S3. Distribusi rajungan BEF dominan di S2−S3 dan umumnya tumpang tindih dengan daerah tangkapan. Rajungan BEF yang tertangkap dalam kondisi hidup dilepaskan segera kembali ke laut. Alternatif lainnya adalah memelihara rajungan BEF di suatu area perairan pantai hingga menetaskan telurnya sebagai program bank larva (crab bank larvae). Metode ini tidak mengurangi hasil tangkapan nelayan, tetapi menundanya beberapa hari. Alternatif ini memerlukan kajian kelayakkan lokasi, sarana yang digunakan, tingkat kepadatan dan makanan rajungan BEF hingga menetaskan telurnya serta faktor keamanan. Namun demikian, pelepasan rajungan BEF dalam kondisi hidup atau pemeliharaanya dan bahkan larang- an untuk tidak menangkap BEF, mengalami kendala untuk direalisasikan apabila menggunakan alat tangkap jaring insang dasar. Hal ini disebabkan karena rajungan yang terlilit jaring relatif membutuhkan waktu untuk dilepaskan, kecuali dengan menggunting bagian jaring. Selain itu, umumnya rajungan BEF dalam kondisi pingsan atau sudah mati pada saat dilepaskan dari jaring yang sudah terendam di dalam air antara 8−12 jam dan selama transportasi ke pangkalan pendaratan hasil tangkapan. c. Pengelolaan operasional penangkapan dan produksi
Pelaksananan pengelolaan ini dilakukan dengan: (1) penutupan musim penangkapan; (2) standarisasi alat tangkap rajungan dan pengaturan daerah tangkapan; (3) pendataan hasil tangkapan.
c.1. Penutupan musim penangkapan
Tujuan upaya pengelolaan ini adalah untuk mengurangi intensitas penangkapan dalam setahun dengan penutupan penangkapan pada bulan Agustus−Oktober. Kendati periode tersebut merupakan tidak musim tangkap rajungan (musim paceklik), kenyataannya masih dilakukan penangkapan di S1 dan S2.
Tujuan lain dari upaya ini adalah:
(1) Meningkatkan kelayakkan dan efisiensi usaha dalam setahun dengan meniadakan keuntungan minus pada musim paceklik. Nelayan yang akan terdampak adalah sekitar 20−30 armada yang berdomisili di Desa Margasari dan masih melakukan penangkapan rajungan pada periode tersebut (Bab 5).
(2) Memberikan kesempatan kepada rekruit untuk tumbuh dalam peningkatan biomass stok, karena salah satu puncak rekrutmen terindikasi pada periode
Agustus−September (Sub-bab 4.3.3). Selain itu, diharapkan rekruit dapat tumbuh
dan berkembang menjadi kategori yang berukuran lebih reproduktif selama kurun waktu 3 bulan. Berdasarkan estimasi pertumbuhan, rajungan pada ukuran lebar karapas 103 mm (Lm50) akan tumbuh menjadi ukuran 115 mm (Lr50) dan
rajungan kategori juwana berukuran lebar karapas antara 8.1−9.1 mm, akan tumbuh menjadi berukuran >100 mm dalam jangka waktu tersebut.
(3) Memberikan kesempatan kepada rajungan betina untuk memijah yang terindikasi
mempunyai musim puncak pemijahan kedua pada bulan September−November.
Hal ini tergambar dari tingginya proporsi BEF yang tertangkap di unit area S1A2−S1A3 dan S2A2−S2A3 pada periode tersebut (Sub-bab 3.3.2).
c.2. Standardisasi alat tangkap dan pengaturan daerah tangkapan
Tujuan upaya pengelolaan ini adalah untuk pengaturan penangkapan yang bertanggungjawab, memberikan kontribusi dalam penurunan upaya dalam menekan laju eskploitasi yang tinggi selama ini. Standarisasi alat tangkap ini juga mendukung penerapan MLS, diantaranya ukuran mata jaring insang dasar yang diperkenankan untuk digunakan dan panjangnya (dalam pis). Alat tangkap jaring insang dasar sebaiknya hanya dioperasikan pada perairan S2−S3.
Untuk alat tangkap bubu, standarisasi berkaitan dimensi escape vent dan jumlah unit bubu per-armada. Bubu yang dilengkapi escape vent diprioritaskan untuk nelayan kecil yang menangkap rajungan di S1 (di luar zona konservasi). Selain itu, tidak menggunakan alat tangkap yang merusak habitat dasar perairan.
c.3. Pendataan hasil tangkapan
Tujuan upaya pengelolaan ini juga untuk meningkatkan pelaksanaan penangkapan rajungan yang bertanggungjawab. Nelayan secara langsung dan atau melalui pembina serta supplier diwajibkan melaporkan hasil tangkapannya per-unit upaya (trip), sehingga diperoleh data hasil tangkapan per-unit upaya (CPUE) harian, bulanan dan tahunan yang dapat dipercaya (reable data). Data tersebut dapat pula digunakan untuk pengkajian stok dengan model dinamika biomass (biomass dynamic model) untuk penentuan limit dan target reference point (LRP dan TRP) atau kuota tangkapan. Selain itu, pendataan dan atau pelaporan juga terhadap rajungan BEF yang tertangkap dan dalam kondisi sudah mati, sesuai dengan PerMenKP No. 1 tahun 2015. d. Peningkatan kohesi dan kapasitas nelayan
Nelayan mempunyai keterbatasan tingkat pengetahuan tentang pentingnya keberlanjutan stok rajungan bagi keberlanjutan usaha serta adanya persyarakat ekolabel dalam ekpsor daging rajungan. Selain itu, rendahnya kesadaran dan ketaatan nelayan, termasuk pembina dan supplier terhadap penangkapan rajungan yang berperan penting dalam menjamin keberhasilan reproduksi dan rekruitmen serta keberlanjutan stok. Untuk itu, diperlukan penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan tentang pengelolaan perikanan rajungan. DKP setempat bekerjasama dengan
stakeholder terkait di dorong untuk lebih intensif dalam memberikan penyuluhan dan pembinaan kepada nelayan, pembina dan supplier. Partisipasi aktif dan kepatuhan pemangku kepentingan dalam mewujudkan pengelolaan rajungan yang bertanggung jawab perlu ditingkatkan. Selain itu, diperlukan penguatan kelembagaan pengelolaan dan peningkatan peran lembaga keuangan dan atau koperasi dalam pengembangan ekonomi nelayan rajungan.
e. Perbaikan kebijakan pengelolaan
Strategi pengelolaan dengan penerapaan MLS, perlindungan BEF, pengelolaan operasional penangkapan dan produksi dengan berbagai upaya penunjang dapat saja tidak akan berjalan dengan baik, tanpa didukung oleh ketentuan dan aturan. Untuk itu, diperlukan perbaikan/tambahan ketentuan pengelolaan dan diiringi dengan penegakan aturan penangkapan rajungan. Apabila diperlukan, adanya larangan memperjual belikan rajungan berukuran <MLS, BEF dan pada musim penutupan penangkapan. Dengan adanya larangan tersebut, semua komponen terkait dalam penangkapan hingga pemasaran rajungan mempunyai tanggungjawab yang proporsional dalam mendukung kebijakan dan pelaksanaan perikanan tangkap rajungan yang bertanggung jawab serta berkelanjutan.