LAMPUNG TIMUR **)
7 SIMPULAN UMUM DAN SARAN
7.1 Simpulan Umum
Karakter daur hidup rajungan (P. pelagicus) di perairan pesisir Lampung Timur sedikit berbeda dengan rajungan species yang sama pada penelitian lain di daerah distribusinya. Dengan mengungkap perkembangan gonad dari rajungan betina (NBF) dan betina mengerami telur (BEF) serta fekunditas, diperoleh indikator karakter daur hidup dari biologi reproduksi menurut ukuran yang dapat dijadikan pilihan dalam penetapan ukuran minimum yang boleh ditangkap (minimum legal size, MLS), yaitu pada lebar karapas (CW) antara 103−115 mm. Pola pemijahan secara parsial dan berlangsung sepanjang tahun serta fekunditas tinggi. Pemijahan bersifat kontinyu- musiman (seasonal-continuous spawning) dan puncaknya pada periode April−Juni dan September-Oktober/November serta puncak pemijahan pertama cenderung memiliki kelimpahan BEF dan fekunditas tinggi. Produktivitas reproduksi tinggi dengan ditandai oleh fekunditas, sehingga keberadaan populasi rajungan dapat bertahan dari tekanan eksploitasi dan kondisi lingkungan selama ini.
Rajungan BEF dengan seluruh kategori perkembangan embrio tertangkap pada hampir seluruh area, sehingga daerah pemijahan pada perairan yang luas, terindikasi mulai dari stratifikasi S1 (terutama pada akhir musim penghujan dan selama musim kemarau) hingga perairan S3 atau lebih. Umumnya daerah disribusi BEF di dalam wilayah studi tumpang tindih dengan daerah tangkapan. Daerah pembesaran (nursery habitat) terdapat pada hampir seluruh perairan S1, sehingga rajungan kategori juvenil dan pra-deawasa tertangkap hampir sepanjang tahun, terutama pada periode Agustus- September dan Desember-April. Nursery habitat tumpang tindih dengan habitat pra- dewasa dan dewasa kelamin di S1, sehingga bagian dari perairan ini masih potensial untuk penangkapan. Kelimpahan rajungan tinggi pada bulan Desember-Mei (musim barat/penghujan) dan biomass tertinggi pada bulan Maret, kelimpahan dan biomass di sub-area A1 dan A2 tinggi dari bulan Februari-Mei. Perairan S2 merupakan area yang potensial untuk penangkapan sepanjang tahun, sedangkan di S3 selama 8 bulan.
Rajungan di perairan pesisir Lampung Lampung Timur tergolong berukuran besar dibanding species yang sama di beberapa daerah lain di Indonesia. Pola pertumbuhan cenderung alometrik positif, sehingga potensial dalam pembentukan biomass. Pertumbuhan rajungan jantan sedikit lebih cepat daripada betina, namun keduanya tergolong cepat, sehingga berumur pendek dengan estimasi umur maksimum (tmaks) <3 tahun. Estimasi umur rajungan betina mencapai kematangan seksual dan
reproduktif masing-masing adalah ~0.70 tahun (~8.4 bulan) dan ~0.85 tahun (~10.0 bulan). Pola rekrutmen seiring dengan pola pemijahan, terindikasi mempunyai dua musim puncak (periode April-Mei dan Agustus-September). Keduanya tampak tumpang tindih satu sama lain, sehingga puncak rekrutmen yang tinggi terindikasi satu kali dalam setahun (Agustus-September), seiring dengan pola musim kelimpahan dan penangkapan. Rasio eksploitasi sangat tinggi (E = 0.76) dan status sumberdaya lebih tangkap. Hal ini berkaitan dengan ukuran rata-rata pertama kali tertangkap (Lc50) lebih
kecil dari Lm50, proporsi rajungan berukuran <Lm50 yang tertangkap masing-masing
~17.1% dan ~7.4% dari jumlah individu dan volume tangkapan serta proporsi BEF/NBF dan BEF/total individu masing-masing ~16.2% dan ~6.4%. Dengan laju eksploitasi saat ini, seyogyanya Lc50 pada ukuran lebar karapas 115 mm. Untuk mendapatkan Y’/R dan B’/R optimum, Lc50 pada lebar karapas antara 115−135 mm.
Pola penangkapan rajungan di setiap stratifikasi area bervariasi sesuai dengan kelimpahannya dan diduga berkaitan dengan siklus hidup, tingkah laku rajungan dan lingkungan perairan. Pola musim tangkapan terdiri atas musim puncak, sedang dan paceklik. Secara umum musim puncak penangkapan pada bulan Desember/Januari− April/Mei dan musim paceklik dari bulan Juli/Agustus−September/Oktober serta musim sedang berada diantaranya. Usaha penangkapan rajungan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Penangkapan di S1 sangat menguntungkan dan efisien pada musim puncak tangkapan dibanding di S2−S3. Namun, hasil tangkapan di S1 terdiri atas rajungan kategori juwana dan pra-dewasa (data gabungan) masing-masing ~33.6% dan ~21.3% dalam jumlah individu dan volume tangkapan. Usaha penangkapan di S1−S3 selama tiga musim mempunyai keuntungan tinggi (Rp. 8,155,164 per-bulan) dengan keuntungan minus selama musim paceklik sebesar Rp. 5,687,009. Nelayan semakin terhutang kepada pembina dan atau supplier pada penangkapan di musim paceklik.
Upaya pengelolaan berkelanjutan perikanan rajungan dengan strategi pengendalian penangkapan adalah secara terintegrasi, yaitu: (a) memberlakukan MLS sesuai dengan kondisi ekonomi nelayan saat ini pada lebar karapas 105 mm dan ditingkatkan secara gradual untuk mencapai kondisi optimum berdasarkan kondisi stok; (b) penerapan MLS diikuti dengan konservasi nursery habitat dan penggunaan alat tangkap bubu yang dilengkapi lubang pelarian (escape vent); (c) penutupan penangkapan pada periode Agustus-Oktober dan pengembangan mata pencaharian alternatif; (d) standarisasi alat tangkap dan pengaturan daerah tangkapan; (e) melepaskan kembali rajungan BEF yang tertangkap dalam kondisi hidup. Implementasi upaya di atas diiringi dengan pendataan hasil tangkapan per-unit upaya, pengembangan mata pencaharian alternatif pada saat penutupan musim penangkapan, peningkatan kohesi dan kapasitas nelayan serta perbaikan kebijakan pengelolaan.
7.2 Saran
Dengan status sumberdaya dan perikanan saat ini, diperlukan peningkatan pemahaman dan kesadaran pemangku kepentingan (stakeholder) utama perikanan tangkap rajungan (nelayan, pembina, supplier), industri pengolahan dan eksportir rajungan serta instansi terkait dalam pengedalian penangkapan di perairan S1, BEF dari S1−S3, mengurangi upaya penangkapan dan meningkatkan efisisensi. Diperlukan kerjasama seluruh pemangku kepentingan untuk peningkatan pemahaman dan penyadaran dalam menyepakati tujuan pengelolaan secara terintegrasi di atas, kemudian pembinaan dan pengawasan kepada pemangku kepentingan utama, menciptakan perikanan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Diperlukan pula penguatan kelembagaan pengelolaan perikanan rajungan dengan tata kelola yang lebih baik (good governance). Perubahan kebijakan dilakukan berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi menurut indikator pengelolaan berkelanjutan yang disepakati.
Perlu dilakukan penelitian, diantaranya: (1) studi standarisasi alat tangkap dan optimasi pengunaan bubu; (2) kemampuan pulih stok dengan kebijakan yang diberlakukan; (3) aspek sosial nelayan dan kelembagaan keuangan serta alternatif pemberdayaan nelayan rajungan; (4) memastikan unit stok di seluruh perairan bagian barat Laut Jawa; (5) migrasi pemijahan; (6) distribusi larva; (7) hubungan spawner- rekruit dan resiliensi stok terkait kapasitas eksploitasi dan kondisi klimatologi.
Dengan beberapa penelitian di atas, diharapkan semakin lengkap dalam menggambarkan karakteristik biologi populasi dan status stok rajungan dikaitkan dengan eskploitasi dan kondisi lingkungan dalam jangka panjang serta menunjang upaya pengelolaan secara taktis dan adaptif untuk keberlanjutan perikanan rajungan.