• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN PENYELESAIAN PEKERJAAN

2.2 Pembangunan Pusat Pertumbuhan dan Optimasi Aset Daerah

2.2.3 Optimasi Aset

Setiap aset yang direncanakan perlu memperhitungkan optimasi aset bersangkutan. “Optimasi aset adalah rangkaian kegiatan, tindakan, proses, atau cara-cara agar sebuah rancangan, sistem, atau keputusan yang telah ditentukan berfungsi sempurna, lengkap, atau efektif sesuai rencana atau harapan” (Sugiama, 2013:227). Sedangkan menurut Siregar (2004:519) optimasi aset merupakan proses kerja dalam manajemen aset yang bertujuan untuk

LAPORAN AKHIR

13

mengoptimalkan potensi fisik, lokasi, nilai, jumlah/volume, legal dan ekonomi yang dimiliki aset tersebut. Berdasarkan kedua pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa optimasi aset adalah salah satu proses kerja dalam manajemen aset yang bertujuan untuk mengoptimalkan potensi aset yang ada baik itu potensi fisik, legal, maupun ekonomi dari suatu aset sehingga aset tersebut dapat memberikan profit dan benefit bagi perusahaan, serta dapat meminimalkan risiko atas kepemilikan aset tersebut. Analisis optimasi suatu aset dapat dilakukan dengan Highest and Best Use Analysis (Siregar, 2004). Berdasarkan tujuannya, optimasi aset ditujukan untuk memaksimalkan potensi aset sehingga dapat mengurangi biaya dan meningkatkan pendapatan.

2.2.3.1 Highest and Best Use Analysis

Analisis Highest and Best Use penting untuk dilakukan terutama untuk mengestimasi nilai pasar yang digunakan dalam penilaian properti. Berdasarkan The Uniform Standards of Professional Appraisal Practice (Hidayati dan Harjanto, 2014), definisi Highest and Best Use sebagai berikut: “the reasonably probable and legal use of vacant land or an improved property, which is physically possible, appropiately supported, financially feasible, and that results in the highest value.” Sebuah analisis HBU adalah upaya untuk mencari keyakinan yang paling memungkinkan atas penggunaan tanah atau bangunan yang paling memungkinkan secara fisik, diijinkan secara legal, layak secara keuangan, dan menghasilkan nilai yang paling tinggi. HBU juga dapat didefinisikan sebagai penggunaan yang paling mungkin dan optimal dari suatu properti, yang secara fisik dimungkinkan, telah dipertimbangkan secara memadai, secara hukum diizinkan, secara finansial layak, dan menghasilkan nilai tertinggi dari properti tersebut sebagaimana ditegaskan dalam Kode Etik Penilaian Indonesia (KEPI) dan Standar Penilaian Indonesia (SPI) (MAPPI, 2013).

Tujuan analisis Highest and Best Use adalah untuk mengetahui pengembangan yang tepat atas suatu aset yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Namun tujuan analisis Highest and Best Use akan berbeda pada properti berupa tanah kosong dan properti yang telah dibangun (Hidayati dan Harjanto, 2014) yang ditujukan untuk mengetahui:

1. Kegunaan Tertinggi dan Terbaik untuk Tanah Kosong

Kegunaan tertinggi dan terbaik untuk tanah kosong harus memperhatikan hubungan antara kegunaan yang ada pada saat ini dengan semua kegunaan potensialnya. Penggunaan aset saat ini terkait dengan tupoksi suatu organisasi. Dengan demikian, analisis Highest and Best

LAPORAN AKHIR

14

Use pada tanah kosong bertujuan mengembangkan potensi tanah kosong tersebut agar dapat dibangun menjadi aset penunjang organisasi untuk melaksanakan kegiatan sesuai dengan tupoksinya.

2. Kegunaan Tertinggi dan Terbaik dari Properti yang telah Terbangun

Tujuan analisis Highest and Best Use untuk properti yang telah dibangun adalah untuk mengidentifikasi kegunaan dari properti yang diharapkan dapat menghasilkan tingkat pengembalian tertinggi dari modal yang diinvestasikan. Untuk mengetahui tingkat pengembalian dari investasi diperlukan estimasi atas penggunaan tertinggi dan terbaik atas properti tersebut.

Kriteria analisis HBU sebagaimana dinyatakan dalam KEPI & SPI (MAPPI, 2013) secara umum dikaji berdasarkan empat kriteria yang harus dipenuhi dalam menganalisis kegunaan tertinggi dan terbaik. Keempat aspek tersebut yaitu aspek legal, aspek fisik, aspek finansial, dan aspek produkivitas maksimal. Analisis HBU mencakup 5 aspek yang perlu dikaji. Kelima aspek tersebut:

1. Aspek Legal Aset; 2. Aspek Fisik Aset; 3. Aspek Pemasaran; 4. Aspek Keuangan;

5. Aspek Produktivitas Maksimum.

Rangkaian detail pekerjaan tersebut di atas dapat dirangkum secara skematik sebagaimana dicerminkan dalam Gambar 2.10 berikut:

LAPORAN AKHIR

15

Sumber: Sugiama, 2013

Gambar 2. 1 Alur Proses Analisis the Highest and Best Use (HBU) untuk Pemanfaatan Aset Tertinggi dan Terbaik

1. Analisis Aspek Legal

Secara Hukum Diizinkan (Aspek Legal) yaitu mempertimbangkan batasan/retriks hukum dari penggunaan aset yang akan dikaji oleh pelaku pasar pada saat penentuan harga aset. Apabila retriks berbeda dengan peraturan tata kota, maka penilai harus merujuk kepada ketentuan yang lebih membatasi. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan penilai antara lain:

a. Peruntukkan (zoning) b. Retriksi/ Batasan c. Peraturan Bangunan d. Kontrak/ Perjanjian

e. Hak Menggunakan/Status Kepemilikan

f. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) g. Distrik/ Area Bersejarah

h. Peraturan Lingkungan PENINJAUAN UMUMPOTENSI ASET Analisis aspek fisik Analisis aspek pemasaran/ pengguna ANALISISKRITIS ASPEK-ASPEK DALAM HBU_PLUS TINGKAT PENGGUNAAN TERTINGGI DAN TERBAIK Legally permissible Physically possible Marketable Financially feasible Maximally productive Analisis aspek Keuangan Analisis aspek Legal

LAPORAN AKHIR

16

i. Kemungkinan Perubahan Dimasa Depan

j. Atribut Legal (perizinan)

2. Analisis Aspek Fisik

Secara Fisik Dimungkinkan (Aspek Fisik) yaitu mempertimbangkan karakteristik fisik dari aset yang akan dikaji oleh pelaku pasar pada saat penentuan harga aset. Beberapa hal yang menjadi faktor pertimbangan dalam aspek fisik sebagai berikut:

a. Ukuran aset;

b. Bentuk dan Kegunaan aset;

c. Lebar Hadap Jalan (Frontage) dan dimensi;

d. Kemudahan Akses;

e. Ketersediaan dan Kapasitas Utilitas;

f. Lokasi dalam Market Area; g. Topografi;

h. Water Frontage;

i. Kondisi Tanah dan Lapisan Bawah Tanah;

j. Banjir dan Kemungkinan Tanah Longsor.

3. Aspek Pemasaran

Pasar adalah semua pembeli aktual dan potensial dari suatu produk atau jasa, dan pemasaran adalah proses dimana perusahaan menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan dengan tujuan untuk menangkap nilai dari pelanggan sebagai imbalannya (Kotler dan Amstrong; 2008:6). Pada analisis kelayakan aspek pemasaran (Sugiama, 2013), aspek pemasaran secara umum dapat mencakup analisis unsur STP (Segmenting, Targeting, dan Positioning) serta analisis bauran pemasaran.

a. STP (Segmenting, Targeting, and Positioning)

Banyak organisasi yang memanfaatkan pemasaran sasaran yaitu dengan membagi pasar kedalam segmen-segmen pasar utama, membidik satu atau dua bahkan lebih segmen, dan mengembangkan produk serta program pemasaran yang dirancang khusus bagi masing-masing

LAPORAN AKHIR

17

segmen. Guna melakukan segmentasi pasar, penentuan target dan menentukan posisi pasar, ada tiga langkah utama sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2.11.

Sumber: Kotler, P. & Amstrong, G., 2003

Gambar 2. 2 Segmenting, Targeting, and Positioning

Penjelasan dari masing-masing tahapan tersebut disajikan sebagaimana di bawah ini:

1) Segmentasi Pasar (Segmenting)

Menurut Kotler dan Armstrong (2003, 285), segmenting (segmentasi pasar) adalah “membagi suatu pasar menjadi kelompok pembeli yang berbeda yang memiliki kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang berbeda”. Pada dasarnya, pasar dapat dibagi menjadi pasar konsumen dan pasar bisnis. Adapun variabel segmentasi untuk pasar konsumen mencakup segmentasi geografis, demografis dan fsikografis (Kotler dan Armstrong; 2003),:

Selanjutnya, segmentasi pasar bisnis menurut Kotler dan Keller (2013) didasarkan pada: a) Demografis (industri, ukuran, dan lokasi);

b) Variabel operasi (teknologi, status pengguna dan non pengguna);

c) Pendekatan pembelian (organisasi fungsi pembelian, struktur kekuatan, sifat dan hubungan eksisting, kebijakan pembelian umum, dan kriteria pembelian);

d) Faktor situasional (urgensi, aplikasi spesifik, ukuran atau pesanan);

e) Karakteristik pribadi (kemiripan pembeli dan penjual, sikap terhadap risiko, dan loyalitas); Jadi untuk analisis STP ini harus dipetakan untuk segmentasi pasar konsumen dan juga pasar bisnis untuk produk MICE yang akan dipasarkan.

LAPORAN AKHIR

18

Segmentasi pasar mengungkap segmen pasar yang berpeluang bagi suatu perusahaan. Selanjutnya, perusahaan harus mengevaluasi berbagai segmen dan memutuskan berapa banyak dan menuntaskan segmen yang mana yang akan menjadi sasaran. Menurut Munandar (dalam Pradipta, 2014), dalam memilih pasar sasaran yang optimal, perlu diperhatikan beberapa kriteria berikut:

a) Responsif

Pasar sasaran harus responsif terhadap produk atau program-program pemasaran yang dikembangkan.

b) Potensi penjualan

Potensi penjualan harus cukup luas. Semakin besar pasar sasaran, semakin besar nilainya. Besarnya bukan hanya ditentukan oleh jumlah populasi tapi juga daya beli dan keinginan pasar untuk memiliki produk tersebut.

c) Pertumbuhan yang memadai

Pasar tidak dapat dengan segera bereaksi. Pasar tumbuh perlahan-lahan sampai akhirnya meluncur dengan cepat dan mencapai titik pendewasaan.

d)Jangkauan media

Pasar sasaran dapat dicapai dengan optimal kalau pemasar tepat memilih media untuk mempromosikan dan memperkenalkan produknya.

3) Penetapan Posisi Pasar (Positioning)

Menurut Kotler dan Armstrong (2003) penetapan posisi pasar (positioning) adalah perumusan pemosisian bersaing dan produk dan menciptakan bauran pemasaran yang lebih rinci. Menurut Kotler dan Armstong (2003) tugas dalam positioning terdiri dari tiga langkah:

a) Mengidentifikasi keunggulan bersaing

Suatu keunggulan di atas pesaing dengan menawarkan nilai lebih kepada konsumen, baik melalui harga yang rendah atau dengan menyediakan lebih banyak manfaat yang mendukung penetapan harga lebih mahal.

b) Memilih keunggulan bersaing yang tepat

Secara umum, perusahaan perlu menghindari tiga kesalahan positioning. Pertama adalah under positioning yaitu gagal dalam memposisikan perusahaan sesungguhnya. Maksudnya

LAPORAN AKHIR

19

adalah pembeli tidak tahu dengan tegas sesuatu yang khusus dari perusahaan. Kesalahan kedua adalah over positioning yaitu memberikan gambaran yang sempit tentang perusahaan. Kesalahan ketiga, confused positioning yaitu menghindari pembeli mendapatkan citra perusahaan yang membingungkan.

c) Mengkomunikasikan dan menyampaikan posisi yang dipilih ke pasar

Setelah menetapkan satu posisi yang akan dipergunakan, perusahaan harus membuat gerakan yang tegas dalam menyampaikan dan mengkomunikasikan posisi yang diinginkan kepada pasar sasaran. Pada intinya adalah menjabarkan taktik strategi positioning secara rinci, seperti mendesain bauran pemasaran produk, harga, distribusi, dan promosi.

b. Bauran Pemasaran

Beberapa ahli memberikan bermacam-macam definisi tentang pemasaran. Menurut Stanton (dalam Umar, 2005:31) pemasaran adalah “keseluruhan sistem yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan usaha, yang bertujuan merencanakan, menentukan harga, hingga mempromosikan dan mendistribusikan barang-barang atau jasa yang akan memuaskan kebutuhan pembeli baik yang aktual maupun yang potensial”. Dari definisi tersebut, dapat diketahui pengertian pemasaran adalah kegiatan usaha yang dimulai dari perencanaan sampai dengan pendistribusian barang/jasa kepada pembeli aktual maupun potensial.

Adapun ruang lingkup bauran pemasaran menurut Morrison dalam Sugiama (2013) terdiri dari 8P yakni product, pricing, place, promotion, people, physical evidence, process dan packaging. Berikut ini penjelasan bauran pemasaran.

Produk

Produk adalah pemahaman subyektif dari produsen atas sesuatu yang bisa ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai tujuan organisasi melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen. Jadi dapat disimpulkan bahwa produk adalah pemahaman subyektif produsen mengenai jasa yang ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Pengembangan suatu produk melibatkan pendefinisian manfaat yang akan ditawarkan produk tersebut. Manfaat yang dikomunikasikan dan dihantarkan dapat berupa atribut produk yang meliputi kualitas, fitur, serta gaya dan desain (Kotler dan Amstrong, 2003).

LAPORAN AKHIR

20

Harga

Menurut Kotler dan Amstrong (2003), harga adalah jumlah uang yang harus dibayarkan untuk memperoleh produk. Adapun menurut Suliyanto (dalam Pradipta, 2014) bahwa harga adalah sejumlah uang dan atau barang yang dibutuhkan untuk mendapatkan kombinasi dari barang lain yang disertai dengan pemberian jasa. Dapat disimpulkan bahwa harga merupakan sejumlah uang yang dibayarkan untuk memperoleh produk disertai pemberian jasa. Beberapa pendekatan penetapan harga di antaranya biaya, laba dan persaingan (Kotler dan Amstrong; 2003).

Tempat

Tempat adalah tugas untuk membawa barang ke pasar. Kemajuan dalam pemesanan tempat secara elektronik dan sistem komunikasi sedang mengubah cara distribusi. Distribusi termasuk saluran distribusi, pemerataan distribusi, lokasi gerai, wilayah penjualan, tingkat inventaris, serta lokasi dan transportasi.

Promosi

Promosi terdiri atas seluruh metode pengkomunikasian produk jasa yang ditawarkan pada pasar yang ditargetkan. Peralatan promosi termasuk pemasangan iklan above-the-line yang biayanya telah dibayar seperti televisi, radio, iklan pers, iklan di bioskop dan poster kampanye; pemasangan iklan below-the-line mengacu pada promosi penjualan yang meliputi memberikan contoh produk jasa secara cuma-cuma, kupon diskon, persaingan, titik penjualan, dan pengiriman bahan promosi secara langsung (direct mailing), penjualan pribadi, dan publisitas.

Sumber Daya Manusia

People atau manusia berarti memusatkan pada mutu sumber data manusia yang terlibat dengan produk, keterampilan, pengetahuan, motivasi, serta kepedulian mereka pada pelanggan. Sifat-sifat karyawan termasuk keramahan, bagaimana menampilkan diri, kesediaan membantu, kemampuan pendekatan, sopan santun, pengetahuan, dan kompetensi.

Bukti Fisik

Physical evidence atau bukti fisik maksudnya adalah perhatian dipusatkan pada dekor, lingkungan, dan suasana produk atau dimana produk akan dikonsumsi. Bentuk bukti fisik

LAPORAN AKHIR

21

termasuk ukuran, gedung, citra perusahaan, suasana, kenyamanan, fasilitas, dan kebersihan.

Proses

Process atau proses berkaitan dengan efisiensi dan kinerja proses yang dinilai. Sifat proses adalah kecepatan, efisiensi, waktu pelayanan, sistem pembuatan janji, dan formulir serta dokumen. Berkenaan dengan proses, perlu kemudian dikembangkan standar-standar pelayanan dalam bentuk Operations Process Chart (OPC), Flow Process Chart (FPC), dan Standard Operating Procedure (SOP).

Paket

Packaging atau merancang paket berarti para pemasar dalam kepariwisataan perlu memiliki kemampuan merancangpaket wisata yang didalamnya mencakup layanan transportasi, akomodasi dan lainnya (Morrison dalam Sugiama, 2013).

4. Analisis Aspek Finansial

Aspek finansial yaitu mempertimbangkan hasil pendapatan yang memadai atau arus kas untuk menghasilkan pengembalian investasi yang dilakukan terhadap alternatif penggunaan aset yang secara hukum diizinkan dan secara fisik dimungkinkan. Untuk properti penghasil pendapatan, uji finansial berfokus pada analisis tingkat balikan modal investasi dibandingkan dengan tingkat balikan pasar yang disyaratkan untuk mengetahui penggunaan yang layak secara finansial. Asumsi yang digunakan dalam uji finansial harus berdasarkan hasil analisis lokasi, permintaan dan penawaran, serta analisis risiko. Hal-hal yang dilakukan dalam mengkaji aspek finansial antara lain:

a. Partisipan pasar yang melakukan pembelian di lingkungan properti atau area pasar. b. Lama waktu pemasaran atau penjualan yang dibutuhkan.

c. Fasilitas pembiayaan yang tersedia.

d. Efektivitas kekuatan daya beli yang memadai di lingkungan properti atau area pasar. e. Keuntungan yang didapatkan.

Analisis kelayakan keuangan, kegunaan yang memungkinkan perlu dianalisis lebih lanjut dalam menghasilkan pendapatan, tingkat pengembalian (return), apakah sama, lebih kecil atau lebih besar dari biaya operasi dan sebagainya. Semua kegunaan yang diekspektasikan dapat

LAPORAN AKHIR

22

memberi positive return dianggap memiliki kelayakan keuangan. Untuk menentukan kelayakan keuangan, seorang penilai mengestimasi pendapatan kotor yang akan diterima(future gross income) yang diekspektasikan dari setiap potensial kegunaan tertinggi dan terbaik dari aset tersebut.

Analisis finansial dimulai dengan analisa biaya pengembangan, analisa penjualan dan pendapatan, biaya operasional, proyeksi cash flow, analisa kelayakan investasi. Berdasarkan pada penjelasan mengenai aspek finansial dalam kajian HBU, dapat disimpulkan bahwa kelayakan finansial dari alternatif pengembangan yang dianalisis dapat dilihat dari faktor-faktor kelayakan finansial suatu proyek yang meliputi net operating income (NOI), payback period (PP), net present value (NPV), internal rate of return (IRR) dan return on investment (ROI).

5. Analisis Aspek Produktivitas Maksimal

Aspek produktivitas maksimum mengkaji kegunaan tertinggi dan terbaik yang menghasilkan produktivitas yang maksimum/nilai tertinggi. Menurut (Hidayati dan Harjanto, 2014:58) nilai tertinggi yang dimaksud yaitu nilai yang konsisten dengan tingkat pengembalian (rate of return). Untuk menganalisis kelayakan dalam hal finansial, ada beberapa alat analisis sebagai tolok ukur yang digunakan. Alat analisis tersebut meliputi Net Operating Income (NOI), Payback Period (PB), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Return on Investment (ROI). Alternatif kegunaan yang menghasilkan tingkat pengembalian investasi yang positif dan tertinggi adalah alternatif yang memenuhi kriteria penggunaan tertinggi dan terbaik atas suatu aset.

2.2.3.2 Penggunaan dan Pemanfaatan Aset

Salah satu bentuk dari optimasi aset dalam ruang lingkup Pemerintah adalah dengan cara memaksimalkan penggunaan dan pemanfaatan aset. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2014 pengertian penggunaan dan pemanfaatan adalah sebagai berikut:

1. Penggunaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh Pengguna Barang dalam mengelola dan menatausahakan Barang Milik Negara/Daerah yang sesuai dengan tugas dan fungsi instansi yang bersangkutan.

LAPORAN AKHIR

23

2. Pemanfaatan adalah pendayagunaan Barang Milik Negara/Daerah yang tidak digunakan untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi Kementerian/Lembaga/satuan kerja perangkat daerah dan/atau optimalisasi Barang Milik Negara/Daerah dengan tidak mengubah status kepemilikan.

Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan dan pemanfaatan adalah kegiatan pengelolaan dan penatausahaan aset sesuai tugas pokok dan fungsi serta pendayagunaan diluar tugas pokok dan fungsi, sehingga aset dapat digunakan secara optimal selama masa ekonomisnya. Mengacu pada Peraturan Pemerintah No 27 Tahun 2014 mengenai Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, dapat diuraikan mengenai penggunaan dan pemanfaatan suatu aset. Dalam penggunaan aset ditentukan terlebih dahulu mengenai peruntukkan aset, kemudian dari peruntukkan aset dapat diketahui mengenai penggunaan aset tersebut. Penggunaan harus disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi dari aset tersebut, jangan sampai penggunaan yang dilakukan keluar dari tugas pokok dan fungsi yang telah ditetapkan. Setelah penggunaan aset terpenuhi, maka aset dapat di dayagunakan diluar tugas pokok dan fungsinya tersebut. Kegiatan pendayagunaan diluar tugas pokok dan fungsi ini disebut pemanfaatan.

Berikut adalah gambaran mengenai operasi/pemakaian aset yang) diadopsi dari PP Nomor 27 Tahun 2014 mengenai pemakaian aset:

Sumber: PP Nomor 27 Tahun 2014 dalam Sugiama (2013)

Operasi/Pemakaian

Pemanfaatan Aset

Sewa Aset

Pinjam Pakai Aset

Kerja Sama Pemanfaatan Aset Bangun Guna Serah atau Bangun

Serah Guna Kerja Sama Penyediaan

Infrastruktur Penggunaan Aset

LAPORAN AKHIR

24

Gambar 2. 3 Pengembangan Investasi melalui Alternatif Penggunaan dan Pemanfaatan Aset

Barang Milik Daerah (BMD)

Berdasarkan Gambar 2.3, dapat diketahui bahwa terdapat bentuk-bentuk pemanfaatan aset meliputi sewa, pinjam pakai, kerjasama pemanfaatan, bangun guna serah atau bangun serah guna dan Kerjasama Penyediaan Infrastruktur sebagaimana dalam paparan di bawah ini:

1. Sewa

Sewa adalah pemanfaatan Barang Milik Negara oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dan menerima imbalan berupa uang tunai. Penyewaan Barang Milik Negara dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan Barang Milik Negara yang belum/tidak dipergunakan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi penyelenggaraan pemerintahan.

2. Pinjam Pakai

Pinjam pakai Barang Milik Negara adalah penyerahan penggunaan Barang Milik Negara antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dalam jangka waktu tertentu tanpa menerima imbalan dan setelah jangka waktu berakhir, Barang Milik Negara tersebut diserahkan kembali kepada pemerintah pusat. Barang Milik Negara yang dapat dipinjam pakaikan adalah tanah dan/atau bangunan, serta Barang Milik Negara selain tanah dan/atau bangunan.

3. Kerjasama Pemanfaatan

Kerjasama pemanfaatan adalah pendayagunaan Barang Milik Negara oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dalam rangka peningkatan pendapatan dan sumber pembiayaan lainnya. Kerjasama pemanfaatan Barang Milik Negara dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan Barang Milik Negara yang belum/tidak dipergunakan, meningkatkan penerimaan negara dan mengamankan Barang Milik Negara.

4. Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna

Bangun Guna Serah (BGS) adalah pemanfaatan tanah milik pemerintah pusat oleh pihak lain dengan mendirikan bangunan dan/atau sarana, berikut fasilitasnya, kemudian di dayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati. Selanjutnya tanah beserta bangunan dan/atau sarana, berikut fasilitasnya, diserahkan kembali kepada Pengelola Barang setelah berakhirnya jangka waktu yang telah disepakati. Sedangkan Bangun Serah Guna (BSG) adalah Pemanfaatan Barang Milik Negara/Daerah

LAPORAN AKHIR

25

berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, dan setelah selesai pembangunannya diserahkan untuk didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang disepakati.

5. Kerja Sama Penyediaan Infrastruktur

Kerja Sama Penyediaan Infrastruktur adalah kerja sama antara Pemerintah dan Badan Usaha untuk kegiatan penyediaan infrastruktur sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

2.2.3.3 MICE (

Meeting, Incentive, Convention, Exhibition)

Industri pariwisata memiliki beragam sektor layanan yang dapat dijadikan sebagai layanan bisnis. Ladkin dan Julie Spiller (2000) menyatakan bahwa, khususnya untuk layanan pertunjukkan ada beberapa bentuk layanan yang dapat dilakukan, namun yang paling populer adalah penyediaan layanan MICE yakni Meeting, Incentives, Convention, dan Exhibition. Berdasarkan konsep produk di atas selanjutnya produk yang berbasis MICE perlu diidentifikasi dan dikembangkan mana yang berpotensi untuk dipasarkan. Dalam hal jasa MICE sudah jelas delivery produk akan dilakukan di tempat di mana akan terjadi interaksi antara penjual (pihak penyelenggara MICE) dan pembeli seperti tamu, undangan, ataupun penonton. Setiap layanan MICE memerlukan prasarana dan sarana, serta layanan pendukung yang menjadi prasyarat penyelenggaraan MICE tersebut. Prasarana yang harus disediakan berupa:

1. infrastruktur transportasi untuk mempermudah aksesibilitas menuju area MICE,

2. lahan dan bangunan (termasuk di dalamnya tempat parkir, gedung dan lainnya) di mana MICE akan diselenggarakan.

Adapun sarana yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan MICE antara lain berupa: 1. peralatan dan perlengkapan

2. makanan dan minuman

Setiap penyelenggaraan MICE tentu memiliki multiplier effect pada beragam sektor usaha, dan mendorong perluasan kesempatan kerja baik untuk lingkungan lokal bahkan secara nasional. Tinggi rendahnya pengaruh tersebut sangat bergantung pada beragam faktor, di antaranya pengaruh faktor skala MICE yang diselenggarakan. Penyelenggaraan MICE berskala

LAPORAN AKHIR

Dokumen terkait