B. Pertanggung Jawaban Pidana dalam Tindak Pidana Perpajakan
1. Orang-Perorangan (Natuurlijk Persoon) a.Kesalahan
Secara doktriner, Kesalahan diartikan sebagai keadaan psychis yang tertentu pada orang yang melakukan perbuatan pidana dan adanya hubungan antara kesalahan tersebut dengan perbuatan yang dilakukan yang sedemikian rupa, hingga orang itu dapat dicela karena melakukan perbuatan tadi.67 Kesalahan tidak mungkin ada tanpa melakukan perbuatan yang bersifat melawan hukum, bertentangan dengan undang-undang. Dengan perkataan lain, kesalahan tidak mungkin ada tanpa perbuatan pidana.68
Van Hammel mengatakan bahwa kesalahan dalam suatu delik berhubungan dengan aspek psikologis, dimana ada hubungan antara keadaan jiwa sipembuat dan terwujudnya unsur-unsur delik karena perbuatannya. Kesalahan adalah pertanggung jawaban dalam hukum (schuld is de verantwoordelijkheid rechtens). Pada pelanggaran norma yang dilakukan karena kesalahan, sifat melawan hukum biasanya merupakan segi luarnya, dimana yang bersifat melawan hukum itu adalah perbuatannya. Sedangkan, yang bertalian dengan kehendak dari dalam si pembuat adalah kesalahan.69
Vos, dengan pandangan yang memisahkan antara tindak pidana dengan kesalahan dengan unsurnya masing-masing (pandangan dualistis), menyatakan pengertian kesalahan mempunyai tiga tanda khusus, yaitu :
1. Kemampuan bertanggung jawab dari orang yang melakukan perbuatan (toerekeningsvatbaarheid van de dader)
67 Moeljatno, Op. Cit., Hlm. 63.
68 Bambang Poernomo, Op. Cit., Hlm 150.
69 Made Sadhi Astuti dalam Simon Nahak, Hukum Pidana Perpajakan (Malang : Setara Press, 2014), Hlm 77-78.
2. Hubungan batin tertentu dari orang yang melakukan perbuatannya itu dapat berupa kesengajaan dan kealpaan.
3. Tidak terdapat dasar alasan yang menghapus pertanggungjawaban bagi si pembuat atas perbuatannya itu.
Simons mengatakan bahwa “kesalahan” adalah keadaan psikis orang yang melakukan perbuatan dan hubungannya dengan perbuatan yang dilakukan, yang demikian rupa sehingga orang itu dapat dicela karena perbuatan tersebut.70 Menurut Roeslan Saleh, seseorang
mempunyai kesalahan apabila pada waktu melakukan “perbuatan pidana”, dilihat dari segi masyarakat, ia dapat dicela oleh karenanya sebab dapat dianggap berbuat lain, jika memang
tidak ingin berbuat demikian. “dilihat dari segi masyarakat” ini menunjukan pandangan yang
normatif mengenai kesalahan. Seperti diketahui, mengenai kesalahan ini dulu orang berpandangan psikologis. Demikan misalnya pandangan dari pembentuk W.v.S tetapi kemudian pandangan ini ditinggalkan orang dan orang lalu berpandangan normatif. Ada atau tidaknya perbuatan tidaklah ditentukan bagaimana dalam keadaan senyatanya batin terdakwa, tetapi bergantung pada bagaimana penilaian hukum mengenai keadaan batinnya itu, apakah dinilai ada kesalahan atau tidak ada.71
Bachtiar Agus Salim menyatakan bahwa untuk adanya kesalahan yang mengakibatkan dipidananya seseorang itu. Maka haruslah dipenuhi beberapa syarat : 72
1. Terang melakukan perbuatan pidana, perbuatan yang bersifat melawan hukum 2. Mampu bertanggung jawab
3. Melakukan perbuatan tersebut dengan sengaja atau karena kealpaanya 4. Tidak adanya alasan pemaaf.
70 Roeslan Saleh dalam Djoko Prakoso, Hukum Penitensier di Indonesia (Yogyakarta, Liberty, 1988), Hlm. 106.
71 Ibid.
Berdasarkan pengertian kesalahan tersebut tersimpul, bahwa untuk adanya kesalahan harus dipikirkan adanya dua hal di samping melakukan perbuatan/tindak pidana, yaitu :
1. Adanya keadaan psychis (batin) yang tertentu
2. Adanya hubungan tertentu antara keadaan batin tersebut dengan perbuatan yang dilakukan, hingga menimbulkan celaan dalam masyarakat.
Syarat pertama mengandung arti, bahwa keadaan batin pelaku haruslah sedemikian rupa, hingga pelaku mengerti makna dari perbuatannya, misalnya pelaku telah dewasa.
Syarat kedua mengandung arti, bahwa antara keadaan batin tersebut dengan perbuatan yang dilakukan haruslah sedemikian rupa, sehingga atas perbuatannya itu ia patut dicela, misalnya jiwanya itu normal atau sehat, dengan keadaan batin seperti itulah pelaku mestinya insyaf atau sadar terhadap perbuatannya. Syarat kedua inilah yang secara teoritis sering
disebut dengan istilah “kemampuan bertanggung jawab”. Hanya terhadap orang-orang yang jiwanya normal inilah, dapat harapkan tingkah lakunya sesuai dengan pola yang dianggap baik dalam masyarakat, sehingga terhadap pelanggarnya dapat dicelakan padanya.73
Dasar adanya tindak pidana adalah asas legalitas sedangkan dasar dapat dipidananya pembuat adalah asas kesalahan. Ini berarti bahwa pembuat tindak pidana hanya akan dipidana jika ia mempunyai kesalahan dalam melakukan tindak pidana tersebut. Kapan seseorang dikatakan mempunyai kesalahan dalam melakukan tindak pidana tersebut. Kapan seseorang dikatakan mempunyai kesalahan merupakan hal yang menyangkut masalah pertanggungjawaban pidana. Seseorang mempunyai kesalahan bilamana pada waktu melakukan tindak pidana, dilihat dari segi kemasyarakatan ia dapat dicela oleh karena perbuatan tersebut.74
73 Moeljatno dalam A Fuad Usfa & Tongat, Pengantar Hukum Pidana (Malang : UMM Press, 2004), Hlm. 75.
74 Dwidja Priyatno, Kebijakan Legislasi tentang Sistem Pertanggungjawaban Pidana Korporasi di Indonesia (Bandung : Utomo, 2004) Hlm, 30-31.
Sudarto juga menyatakan hal yang sama, yaitu “dipidananya seseorang tidaklah cukup
apabila orang itu telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum. Jadi meskipun perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik dalam undang-undang dan tidak dibenarkan (an objective breach of a penal provision), namun hal tersebut belum memenuhi syarat untuk penjatuhan pidana. Untuk pemidanaan masih perlu adanya syarat untuk penjatuhan pidana. Untuk pemidanaan masih ada syarat, bahwa orang yang melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan atau bersalah (subjektive guilt). Dengan perkataan lain, orang tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya atau jika dilihat dari sudut perbuatannya, perbuatannya baru dapat dipertanggungjawabkan kepada orang tersebut.75
Pertanggungjawaban dalam hukum pidana berkaitan dengan apakah dalam melakukan perbuatannya, pelaku mempunyai kesalahan atau tidak. Sebab, dalam hukum pidana, berlaku asas geen straf zonder schuld; actus non facit reum nisi mens sit rea, dimana seseorang tidak dapat dipidana jika tidak ada kesalahan.76
Kesalahan terbagi atas dua bentuk, yaitu kesalahan yang dilakukan berdasarkan kealpaan dan kesalahan yang dilakukan karena kesengajaan untuk mencapai tujuan tertentu.
b. Kesengajaan
Pertanggungjawaban pidana ditentukan dari adanya “sifat melanggar hukum” dalam
suatu perbuatan. Sifat melanggar hukum merupakan sifat terpenting dari tindak pidana. Apabila sifat melanggar hukum dihubungkan dengan keadaan psikis (jiwa) pelaku tindak pidana, maka perbuatannya dapat berupa “kesengajaan” (opzet) atau “kelalaian” (culpa). Akan tetapi, kebanyakan tindak pidana mempunyai unsur kesengajaan bukan unsur kelalaian.
Dalam teori hukum pidana di Indonesia, kesengajaan terbagi atas tiga macam, yaitu77 :
75 Sudarto dalam Dwidja Priyatno, Op. Cit., Hlm, 31.
76 Moeljatno, Op. Cit., Hlm 165.
1. kesengajaan yang bersifat tujuan, dalam hal ini si pelaku dapat dikenai pertanggungjawaban karena kesengajaan dalam melakukan suatu tindak pidana, sehingga pantas dikenakan hukuman pidana. Karena dengan adanya kesengajaan yang bersifat tujuan ini, berarti si pelaku benar-benar menghendaki mencapai suatu akibat yang menjadi pokok alasan diberikannya ancaman hukuman.
2. kesengajaan secara keinsyafan kepastian, kesengajaan ini ada apabila si pelaku dalam perbuatannya tidak bertujuan untuk mencapai akibat yang menjadi dasar dari delik, tetapi ia tahu benar bahwa akibat itu pasti akan mengikuti perbuatan itu. 3. kesengajaan secara keinsyafan kemungkinan, kesengajaan ini yang tidak disertai
bayangan suatu kepastian akan terjadi akibat perbuatan yang bersangkutan, melainkan hanya dibayangkan suatu kemungkinan belaka akan akibat itu.
Menurut penjelasan MvT (Memorie van Toelichting), bahwa sengaja (Opzet) berarti (bewuste) richting van den wil op een bepaald misdriff. (kehendak yang disadari yang ditujukan untuk melakukan kejahatan tertentu). Menurut penjelasan tersebut “sengaja” (Opzet)
sama dengan willen en wetens (dikehendaki dan diketahui).
Hal ini dibantah oleh Van Hattum yang mengatakan bahwa willen tidak sama dengan
weten. Jadi, dengan sengaja dan willen dan wetens tidak sama. Seseorang yang willen
(hendak) berbuat sesuatu belum tentu menghendaki juga akibat yang pada akhirnya sungguh-sungguh terjadi karena perbuatan tersebut. Menurut praktek katanya, hakim sangat sering
mempersamakan dua pengertian “dikehendaki” dan “diketahui” yang tidak sama itu, yaitu
“dengan sengaja” meliputi pula “mengetahui” bahwa perbuatan yang dilakukan adalah suatu
pelanggaran hukum.
Sehubungan dengan apa yang dikemukakan oleh van hattum ini, perlu diingat bahwa
sebagian besar penulis hukum pidana mengatakan bahwa “sengaja” itu sesuatu pengertian
dilarang oleh undang-undang. Menurut jonkers, sudah memadai jika pembuat dengan sengaja melakukan perbuatan atas pengabaian (natalen) mengenai apa yang oleh undang-undang tentukan sebagai dapat dipidana. Tidak perlu dibuktikan bahwa pelanggar mengetahui dapatnya dipidana perbuatannya atau pengabaiannya, juga tidak tahu bahwa perbuatan tersebut dilarang atau tidak bermoral.
Perbuatan Karena Kesengajaan (Dolus)78, adalah perbuatan yang didasari oleh kehendak dan keinsyafan atas akibat yang akan terjadi karena perbuatannya.79Pada umumnya, Perbuatan Pidana seringkali dilakukan dengan sengaja oleh pelaku untuk mencapai tujuan tertentu, salah satunya mendapatkan keuntungan.
Dalam Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sendiri lebih banyak Pasal yang memuat unsur kesengajaan daripada kelalaian dalam melakukan tindak pidana diantaranya Pasal 39 ayat (1), Pasal 39A, Pasal 41A huruf c, Pasal 41B, Pasal 41C Ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4).
Salah satunya dalam Pasal 39 ayat (1) Undang-undang KUP yang rumusannya mengatur tentang perbuatan pidana yang didasari atas unsur kesengajaan, perbuatan berupa manipulasi laporan pajak yang dapat merugikan keuangan negara.
Kelalaian
Kelalaian atau culpa menurut MvT (Memorie van Toelichting) terletak antara sengaja dan kebetulan. Bagaimanapun juga, culpa itu dipandang lebih ringan dengan sengaja. Oleh karena itu, Hazwinkel – suringa mengatakan delik culpa itu merupakan delik semu (quasidelict), sehingga diadakan pengurangan pidana. Dalam memori jawaban pemerintah (MwA), mengatakan bahwa siapa yang melakukan kejahatan dengan sengaja berarti
78 Willens en Watens (menghendaki, menginsyafi atau mengetahui)
mempergunakan salah kemampuannya, sedangkan siapa karena salahnya (culpa), melakukan kejahatan berarti tidak mempergunakan kemampuannya yang ia harus mempergunakan.80 Van Hamel membagi culpa atas dua jenis :
1. Kurang melihat ke depan yang perlu 2. Kurang hati-hati yang perlu.
Yang pertama terjadi jika Terdakwa tidak membayangkan secara tepat atau sama sekali tidak membayangkan akibat yang akan terjadi. Sedangkan, yang kedua misalnya, ia menarik picu pistol karena mengira tidak ada isinya (padahal ada).
Vos mengeritik pembagian Van Hamel mengenai culpa (schuld) ini dengan mengatakan bahwa tidak ada batas yang tegas antar kedua bagian tersebut. Ketidakhati-hatian itu sering timbul karena kurang melihat ke depan. Oleh karena itu, Vos membuat bagian juga, yaitu kalau Van Hamel membedakan dua jenis culpa maka Vos membedakan dua unsur (element) culpa itu. Yang pertama ialah Terdakwa dapat melihat ke depan apa yang akan terjadi. Yang kedua, ketidakhati-hatian (tidak dapat dipertanggungjawabkan) perbuatan yang dilakukan (atau pengabaian) atau dengan kata lain harus ada perbuatan yang tidak boleh atau tidak dengan cara demikian dilakukan.
Menurut Vos selanjutnya, dapat melihat ke depan suatu akibat merupakan syarat subjektif (pembuat harus dapat melihat ke depan). Misalnya seorang anak kecil yang memindahkan wisel rel kereta api sehingga kereta api keluar rel, tidaklah ia bersalah (culpa) jika ia tidak tahu apakah wisel rel kereta api itu. Tetapi culpa itu ada pula segi objektifnya, yaitu sesudah dilakukan perbuatan, dikatakan pembuat dapat melihat ke depan akibatnya jika seharusnya ia telah perkirakan. Ia sebagai orang normal dari sekelompok orang yang dapat melihat ke depan akibatnya itu. Jadi, seorang profesional dipandang lebih dapat melihat ke depan dibanding orang awam.
80 Hazwinkel – Suringa dalam Jur Andi Hamzah, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Perkembangannya (Jakarta : Softmedia, 2012). Hlm 168.
Mengenai kekuranghati-hatian, Vos mengatakan ada beberapa perbuatan yang dapat melihat ke depan suatu akibat, tetapi bukan culpa. Contoh dokter yang melakukan operasi berbahaya yang dilakukan menurut keahliannya yang dapat melihat ke depan adanya kemungkinan kematian, tetapi bukanlah culpa. Disini, perbuatan tersebut masih dapat dipetanggungjawabkan. Jadi, untuk dipandang sebagai culpa, masih harus ada unsur kedua, yaitu pembuat berbuat sesuatu yang lain daripada yang seharusnya ia lakukan. Maksud Vos ialah masih harus ada unsur kedua yaitu kurang hati-hati.81
Perbuatan Karena Kealpaan, Kealpaan (Culpa) : seseorang yang melakukan perbuatan atas dasar kealpaan, dimana ia tidak mengindahkan adanya larangan.82
Simons mempersyaratkan dua hal untuk culpa83 : 1. Tidak adanya kehati-hatian.
2. Kurangnya perhatian terhadap akibat yang mungkin.
Pasal-pasal yang mengatur tentang Perbutan Pidana di bidang Perpajakan karena kelalaian antara lain, Pasal 38, Pasal 41 ayat (1)
Dalam Undang-undang No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, yang dimaksud Kelalaian menurut penjelasan dalam Pasal 38, berarti tidak sengaja, lalai, tidak hati-hati, atau kurang mengindahkan kewajibannya sehingga perbuatan tersebut dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara.
Terdapat ketentuan untuk memenuhi unsur kelalaian dalam Pasal 38 UU KUP, yaitu perbuatan tersebut bukan merupakan perbuatan yang pertama kali. Artinya telah terjadi beberapa kali bahkan berulang kali dilakukan barulah dapat dikategorikan sebagai Perbuatan Pidana yang dilakukan dengan kelalaian.
c. Kemampuan Bertanggung Jawab
81 H.B Vos dalam Jur Andi Hamzah, Ibid., Hlm 169.
82 Teguh Prasetyo, Ibid, Hlm. 106.
Secara Yuridis Formal, tidak terdapat rumusan dalam KUHP yang memberi batasan tentang Kemampuan Bertanggung Jawab. Persoalan yang berkaitan dengan kemampuan bertanggung jawab diserahkan kepada doktrin.84
Secara doktriner, untuk adanya kemampuan bertanggung jawab harus ada dua hal, yaitu : 85
1. Adanya kemampuan untuk membeda-bedakan antara perbuatan yang baik dan yang buruk, yang sesuai dengan hukum dan yang bertentangan dengan hak.
2. Adanya kemampuan untuk menentukan kehendaknya menurut keinsyafan tentang baik dan buruknya perbuatan tersebut..
Menurut ketentuan dalam KUHP, seseorang tidak dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya karena dua alasan, yaitu : 86
1. jiwanya cacat dalam tumbuhnya 2. jiwanya terganggu karena penyakit
Menurut Memorie Van Toelichting (MvT), seseorang tidak dapat dipertanggungjawabkan perbuatannya karena : 87
a. Ia tidak menginsyafi/menyadari akan perbuatan yang dilakukan b. Ia tidak bebas menentukan perbuatannya.
d. Tidak adanya Alasan Pemaaf
Dalam teori hukum pidana biasanya alasan-alasan yang menghapuskan pidana dibeda-bedakan menjadi :
1. Alasan Pembenar, yaitu alasan yang menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan, sehingga apa yang dilakukan oleh terdakwa lalu menjadi perbuatan yang patut dan benar.
84 Ibid., Hlm. 75.
85 Ibid., Hlm. 75-76.
86 Ibid., Hlm. 76.
2. Alasan Pemaaf, yaitu alasan yang menghapuskan kesalahan terdakwa. Perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa tetap bersifat melawan hukum jadi tetap merupakan perbuatan pidana, tetapi dia tidak dipidana.
3. Alasan Penghapus Penuntutan, di sini persoalannya bukan ada alasan pembenar maupun alasan pemaaf, jadi tidak ada pikiran mengenai sifatnya perbuatan maupun sifatnya orang yang melakukan perbuatan, tetapi pemerintah menganggap bahwa atas dasar utilitas atau kemanfaatannya kepada masyarakat, sebaiknya tidak diadakan penuntutan. Yang menjadi pertimbangan di sini ialah kepentingan umum. Kalau perkaranya tidak dituntut, tentunya yang melakukan perbuatan tidak dapat dijatuhi pidana. Contoh, Pasal 53 kalau terdakwa dengan suka-rela mengurungkan niatnya percobaan untuk melakukan sesuatu kejahatan.88
Alasan yang menghilangkan sifat melawan hukum tindak pidana dalam kepustakaan disebut dengan Alasan Pembenar, sedangkan alasan yang menghapuskan kesalahan disebut dengan Alasan Pemaaf.89
Dalam pertanggung jawaban Pidana, terdapat alasan pemaaf dan alasan pembenar yang dapat menghapus pidana, antara lain :
Dibedakannya alasan pembenar dari alasan pemaaf karena keduanya mempunyai fungsi yang berbeda. Bahkan Wilson mengatakan terdapat moral force yang berbeda pada kedua defense tersebut. Adanya alasan pembenar berujung pada pembenaran atas tindak pidana yang sepintas lalu melawan hukum, sedangkan adanya alasan pemaaf berdampak pada pemaafan sekalipun telah melakukan tindak pidana yang melawan hukum.90
Dalam pertanggungjawaban pidana, hanya dianut alasan pemaaf. Sebab dalam teori alasan pembenar menghapus sifat melawan hukum dan perbuatan dalam KUHP yang
88 Moeljatno, Op. Cit., Hlm 148.
89Chairul Huda, Dari Tiada Pidana Tanpa Kesalahan menuju kepada Tiada Pertanggung jawaban Pidana Tanpa Kesalahan (Jakarta : Kencana, 2006), Hlm 121.
dilarang, maka perbuatan yang semula melawan hukum menjadi dapat dibenarkan dengan demikian pelakunya tidak dipidana.
Dasar Pemaaf atau fait d’excuse, sifat melanggar hukum dari dari semua unsur tindak pidana tetap ada. Tetapi, hal-hal khusus menjadikan pelaku tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain, dihapuskan kesalahannya. Termasuk dasar pemaaf adalah penyakit, kekurangan daya pikir, daya paksa (overmacht), bela paksa, lampau batas (noorweerexes), dan perintah jabatan yang tidak sah.
Alasan Pemaaf atau schulduitsluitingsgrond ini menyangkut pertanggungjawaban seseorang terhadap perbuatan pidana yang telah dilakukannya atau criminal responsibility. Alasan Pemaaf ini menghapuskan kesalahan orang yang melakukan delik atas dasar beberapa hal.
Alasan Pemaaf ini dapat kita jumpai di dalam hal orang itu melakukan perbuatan pidana dalam keadaan :
1. Tidak dipertanggungjawabkan (ontoerekeningsvaatbaar) 2. Pembelaan terpaksa yang melampaui batas (noodweer excess) 3. Daya paksa (overmacht).91
Tanggung jawab terhadap Pelaku Tindak Pidana Perpajakan dapat diuraikan sebagai berikut :
1) Tanggung Jawab Pidana Bagi Wajib Pajak (Perorangan) Yang Melakukan Tindak Pidana Perpajakan.
Wajib pajak yang bertanggung jawab atas suatu tindak pidana berarti secara sah dapat dikenakan pidana atas tindakan yang telah dilakukannya itu. Suatu pidana dapat dikenakan secara sah, apabila tindakan tersebut telah ada aturannya dalam suatu undang-undang yang berlaku atas tindakan yang dilakukannya.
Penerapan pidana merupakan tindakan yang diarahkan kepada suatu tujuan, yang tidak lain, untuk memperbaiki atau memberi sanksi kepada pelanggar hukum agar ia menjadi orang baik dan memperhatikan ketentuan-ketentuan pidana dalam bidang perpajakan, sehingga orang yang mengadili juga mengetahui arti dari apa yang dilakukannya itu. Dengan demikian, pertanggungjawaban pidana adalah keputusan dalam keadaan konkret yang diberikan terhadap pelaku tindak pidana. Pengertian subjek pidana meliputi dua hal, yaitu siapa yang melakukan tindak pidana (pelaku tindak pidana) dan siapa yang dipertanggungjawabkan. Tanggung jawab perorangan merupakan tanggung jawab yang sangat mendasar, yang melekat bagi setiap orang yang melakukan perbuatan tindak pidana di bidang perpajakan.92
2) Tanggung Jawab Pidana Bagi Pegawai/Pejabat Direktorat Jenderal Perpajakan Yang Melakukan Tindak Pidana Perpajakan
Tanggung jawab melekat pada pegawai/pejabat yang melakukan tindak pidana di bidang perpajakan di lingkungan direktorat jenderal perpajakan, yang meliputi : a. Kantor Pelayanan Pajak (disingkat KPP) sebagai tempat Wajib Pajak terdaftar, tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan, dan/atau tempat objek pajak terdaftar sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16/MK.03/2011 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 35), baik di tingkat kantor Pratama pada tingkat Kabupaten/Kota Setempat, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) tingkat provinsi, maupun Kantor Direktorat Jenderal Pajak pada tingkat Pusat dibawah naungan Menteri Keuangan Republik Indonesia di jakarta; dan (b) Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (disingkat KPPN), yakni instansi vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kantor Wilayah Direktorat Jendel
Perbendaharaan, yang menjadi mitra kerja KPP (Pasal 1 ayat 2 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16/MK.03/2011).93
Pelaksanaan kegiatan sebagai peneliti, Verifikasi, Pembahasan Akhir Hasil Verifikasi, Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, Pemeriksaan Bukti Permulaan (BUPER), Penyidikan Tindak Pidana di bidang Perpajakan, Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (disingkat P3B) sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (3), (4), (5), (6), (7), (8), (9), dan (10) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pelaksana Hak dan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 162, dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5268) yang secara prinsip mengatur tata cara penerimaan pembayaran Wajib Pajak, harus sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.94
Ketika dalam kegiatan pemungutan kewajiban Wajib Pajak yang diterima pegawai/pejabat perpajakan yang tidak sesuai dengan seharusnya, maka pegawai/pejabat yang bertugas yang paling bertanggung jawab atas kerugian negara tersebut.
Pejabat yang dimaksud, pejabat fungsional dan penerima setoran uang Wajib Pajak atau kepala seksi penghitungan setoran uang Wajib Pajak, karena tugas mereka adalah melayani dan meneliti setiap penerimaan uang Wajib Pajak, baik pembayaran Wajib Pajak perorangan atau Badan Hukum yang telah disetorkan dengan bukti setoran Wajib Pajak berupa Surat Setoran Pajak (SSP), Surat Tagihan Pajak (STP), Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan Badan (PPh Badan), Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPNbm), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), Surat Keputusan Keberatan (SKK).
3) Tanggung Jawab Pidana Pihak Ketiga Yang Melakukan Tindak Pidana Perpajakan.
93 Simon Nahak, Ibid. Hlm 102-103.
Pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak pidana di bidang perpajakan terhadap pihak ketiga dirumuskan dalam UU KUP sebagai berikut :
Pasal 35 ayat (1) dan (2) UU KUP menentukan :
1. Apabila dalam menjalankan ketentuan perundang-undangan perpajakan diperlukan keterangan atau bukti dari bank, akuntan publik, notaris, konsultan pajak, kantor adminsitrasi, dan/atau pihak ketiga lainnya, yang mempunyai hubungan dengan wajib pajak yang dilakukan pemeriksaan pajak, penagihan pajak, atai penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan, atas perminataan tertulis dari Direktorat Jenderal Pajak, pihak-pihak tersebut wajib memberikan keterangan atau bukti yang diterima.
2. Dalam hal pihak-pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terikat oleh kewajiban merahasiakan, untuk keperluan pemeriksaan, penagihan pajak, atau penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan, kewajiban merahasiakan tersebut ditiadakan, kecuali untuk bank, kewajiban merahasiakan ditiadakan atas permintaan tertulis dari Menteri Keuangan.
3. Tata Cara permintaan keterangan atau bukti dari pihak-pihak yang terikat oleh kewajiban merahasiakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
Sedangkan dalam Pasal 35A Ayat (1) dan (2) UU KUP ditentukan bahwa :
1. Setiap instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain wajib memberikan data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan kepada Direktur Jenderal Pajak yang ketentuannya diatur dalam Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan