• Tidak ada hasil yang ditemukan

Orang Rantau Mengalah : Dari Kongres ke Seminar dan Dari Bukitinggi ke Kota Padang

YANG TERCERMIN DALAM KKM TAHUN 2010

5.1. Orang Rantau Mengalah : Dari Kongres ke Seminar dan Dari Bukitinggi ke Kota Padang

Masalah KKM Tahun 2010 masih saja menjadi ajang kontroversi antara yang menghajatkan dengan berusaha yang menolaknya. Setelah rencana KKM Tahun 2010 ditunda beberapa kali, dan rencana tempatpun sudah beberapa kali pula diubah (dari Kota Bukittinggi ke Kota Padang). Berbagai lembaga masyarakat seperti LKAAM, MUI, DKSB Sumatera Barat dan lainnya menyarankan agar kongres diubah menjadi seminar saja. Namun, ada dua hal yang menjadi penyebab sehingga gagasan tersebut muncul. Pertama, penggunaan istilah “kongres”, dan kedua menyangkut cara atau prosedur.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Ketika, Balai Pustaka (2005 : 587), kongres artinya “pertemuan besar para wakil organisasi (politik, sosial, profesi) untuk mendiskusikan dan mengambil keputusan mengenai berbagai pelbagai masalah”. Jadi ada dua kata kunci dari kongres ini, pertama “para wakil organisasi” dan “mengambil keputusan”. Hal ini menyiratkan, bahwa kongres mempunyai stakeholder (pemangku kepentingan), dalam hal kebudayaan Minangkabau

tentulah kaum adat (ninikmamak), ulama, cerdik pandai, bundokanduang dan pemuda, dan tentu saja Pemerintah Propinsi Sumatera Barat dan kabupaten/kota hingga nagari-nagari se Propinsi Sumatera Barat. Para pemangku kepentingan ini adalah pihak yang akan terikat dengan keputusan yang dihasilkan oleh kongres. Jadi persoalan inilah yang paling mengemuka untuk mengubah kongres menjadi seminar.

Kedua, menyangkut cara. Cara yang dilakukan oleh pihak panitia penyelenggara belum mengajak secara keseluruhan stakeholder yang ada untuk beriya-bertidak, mendiskusikan apa yang hendak dikongreskan-didiskusikan dan diputuskan. Termasuk juga menentukan materi, pembicara, dan batas-batas yang berkaitan atau dengan kata lain tata tertib kongres itu sendiri.

KKM Tahun 2010 ditolak untuk dilaksanakan oleh berbagai elemen di Minangkabau, karena Gebu Minang sebagai panitia penyelenggara “mamanjek dari pucuak” tidak dari pangkal. Karena itu disarankan, adakan saja seminar dengan meteri yang sama. Begitulah imbauan yang disampaikan berbagai tokoh masyarakat, Basril Djabar misalnya mengatakan “ Kita tidak menolak KKM Tahun 2010, tapi KKM harus diusung oleh semua elemen bukan oleh Gebu Minang saja. Ide ini dari Gebu Minang bagus tapi adakan seminar saja dulu. Lantas lembaga-lembaga lain di`Sumatera Barat, adakan pula seminar yang menjurus pada KKM” (Singgalang, Senin 6 Desember 2010).

Sabtu, 4 Desember 2010 di Taman Budaya diadakan rapat. Rapat tersebut kembali menegaskan untuk menolak KKM Tahun 2010. Dalam rapat itu hadir, Ketua Gebu Minang Jawa Timur, Firdaus HB, dan Lusi Bebasari Navis, parantau dari Jakarta. Kemudian Darman Moenir, Muhammad Ibrahim Ilyas, Zainuddin Datuak Rajo Lenggang, M. Sayuti Datuk Rajo Penghulu, Sutan Lukman, Musdaril Katik Jo Mangkuto, Alda Wimar, Rizal Tanjung, Muhammad Isa Gautama, Nina Rianti dan Yeyen Kiram. Rapat membahas KKM yang akan dilaksanakan di Padang oleh Gebu Minang. Mereka meminta walikota Padang, Fauzi Bahar menolaknya (Singgalang, Senin 6 Desember 2010).

Sudah berkeliling mencari solusi atas kebuntuan konflik pelaksanaan KKM Tahun 2010, akhirnya ditangan Walikota Padang-Fauzi Bahar, bisa ditemukan jalan keluarnya. Fauzi Bahar menyarankan agar pelaksanaan KKM Tahun 2010 dilaksanakan di Kota Padang tapi harus diganti menjadi seminar (Haluan, Senin 6 Desember 2010). Usulan perubahan nama kongres menjadi seminar merupakan solusi yang terbaik dan diharapkan bisa diterima berbagai pihak, baik yang pro maupun kontra. Namanya menjadi Seminar Kebudayaan Minangkabau (SKM).

Perihal ini sebetulnya tidak terlepas dari adanya penolakan dari Pemerintah Kota Bukittinggi yang mengeluarkan

statementHari Jum’at tanggal 3 Desember 2010 menolak dengan

tegas Kota Bukitinggi dijadikan tempat penyelenggaraan KKM Tahun 2010 tanggal 12-13 Desember 2010. Melihat situasi yang demikian Gebu Minang sebagai penyelenggara berencana memindahkan pelaksanaan KKM Tahun 2010 ke Kota Padang tersebut.

Respon dengan cepatpun dilakukan oleh Gerakan Menolak KKM Tahun 2010 yakni melakukan pertemuan pada Minggu sore, 5 Desember 2010 di Taman Budaya Padang Sumatera Barat dengan topik diskusi menyikapi dipilihnya Kota Padang sebagai tempat pelaksanaan KKM Tahun 2010. Pertemuan yang dihadiri LKAAM, ninika Mamak VIII Suku Padang, Ikatan Keluarga Padang (IKP), Haris Effendi Thahar (Ketua DKSB), Hawari Siddik (tokoh masyarakat Kurai), M. Sayuti Datuk Rajo Penghulu (Ketua LKAAM Sumatera Barat), Sutan Lukman, Musra Dahrizal Katik Jo Mangkuto, Darman Moenir, Lusi Bebasari Navis (perantau Jakarta), Firdaus HB (Ketua GB Jawa Timur), Yayen Kiram, Muhammad Ibrahim Ilyas, dan Isa Gautama. Mereka meminta agar format diubah dari kongres menjadi seminar. Bahkan bagi pihak yang penolak KKM Tahun 2010, bila Gebu Minang bersikukuh tidak mau merubah format kegiatan apalagi dengan dialihkannya tempat penyelenggaran KKM tersebut ke Kota Padang juga mersepon yakni akan melakukan perlawanan agar KKM Tahun 2010 tak digelar di Kota Padang (Haluan, Senin 6 Desember 2010).

Akhirnya pihak penyelenggara memutuskan untuk merubah kongres menjadi seminar. Hasil ini didapatkan setelah melakukan rapat intern antara panitia penyelenggara di Jakarta. Ini merupakan sebuah solusi dan jalan tengah. Sebab begitu banyak aksi penolakan yang dilakukan berbagai elemen masyarakat yang ada di Sumatera Barat serta Badan Kordinasi Gebu Minang di daerah, seperti Gebu Minang Jawa Timur. Disebabkan adanya perubahan format kegiatan dari kongres menjadi seminar maka Gebu Minang Jawa Timur akhirnya mendukung perubahan dan kegiatan ini (Haluan, Sabtu 11 Desember 2010).

Sudah hampir bisa dipastikan Gebu Minang menerima tawaran jalan tengah yang diajukan Walikota Fauzi Bahar untuk mengganti Kongres Kebudayaan Minangkabau (KKM) menjadi Seminar Kebudayaan Minangkabau (SKM). Usaha ini merupakan untuk kedua kalinya Walikota Fauzi Bahar berkomunikasi dengan Streering Committee KKM, Saafroeddin Bahar. Tapi di kalangan panitia pelaksana sampai Magrib kemarin itu rupanya masih belum bulat benar untuk menerima perubahan format dari kongres ke seminar. Bahkan Ketua OC Gebu Minang Zulhendri Chaniago masih menyatakan tetap akan melaksanakan kongres di Padang (Haluan, Kamis 9 Desember 2010). Mengenai tempat dilaksanakan di Kampus UPI, Lubuk Begalung Padang (Posmetro Padang, Kamis 9 Desember 2010). Untuk mensosialisasikan ini maka pantia membuat pengumuman di media cetak yang ada di Kota Padang. Hal ini dilakukan oleh pihak panitia untuk memberitahukan kepada seluruh masyarakat bahwa SKM Gebu Minang Tahun 2010 jadi dilaksanakan. Pengumuman tersebut berisi tentang tempat penyelenggaraan kegiatan, pokok bahasan dalam seminar, dan keynote speaker dalam kegiatan tersebut.

Pengumuman telah dibuat dengan mencantumkan tempat kegiatan SKM GB Tahun 2010, namun persoalan lain muncul yakni berkaitan dengan tempat penyelenggaraan SKM GB Tahun 2010. Pihak kampus UPI Lubuk Begalung tidak mengizinkan kegiatan ini dilaksanakan dikampus tersebut. Pertimbangan keamanan lebih ditonjolkan sebab sebelumnya kegiatan ini mendapat respon

ada yang pro dan kontra serta masalah administrasi yakni tempat tersebut harus dibayar 10 hari lebih awal sebelum acara tersebut dilaksanakan. Hal ini tidak dilakukan oleh pihak panitia yakni Gebu Minang.

Akhirnya, menyikapi situasi yang demikian pihak panitia penyelenggara memindahkan kegiatan ke Hotel Basko, Padang. Sebuah hotel yang berada di pusat Kota Padang. Sejalan dengan itu, untuk kedua kalinya pihak penyelenggara kegiatan membuat pengumuman di media cetak. Seperti pengumuman sebelumnya berisi tentang tempat penyelenggaraan kegiatan, pokok bahasan dalam seminar, dan keynote speaker dalam kegiatan tersebut. Terjadi perubahan yakni semula UPI Lubuk Begalung, pengumuman kedua ini yakni Hotel Basko, Padang.

Gambar

Pengumuman SKM GB TahunPertama 2010

Gambar

Pengumuman SKM GB Tahun Pertama 2010 Kedua Haluan :9Desember 2010

5.2. Pelaksanan Seminar Kebudayaan Minangkabau Gebu