PEMETAAN YANG SETUJU , MENOLAK DAN NETRAL ATAS KEGIATAN KKM
4.2. Pemetaan yang Setuju, Menolak dan Netral Atas KKM Tahun 2010
Pemetaan yang setuju, Menolak dan netral atas dilakukannya KKM Tahun 2010 memang sulit untuk dilakukan mengingat begitu beragamnya pandangan dari berbagai lembaga yang menyatakan atas hal tersebut. Begitu juga dengan perihal perorangan yang melakukan pro, kontra dan netral atas KKM Tahun 2010 tersebut. Penulis hanya menjelaskan perihal lembaga saja dalam pemetaan ini. Alasannya pertama, dalam perjalanannya individu baik yang setuju, menolak dan netral atas KKM Tahun 2010 tersebut tidak terlepas dari lembaga tempat ia bekerja. Kedua, pernyataan yang ia keluarkan mengenai hal tersebut selalu dikaitkan atau mengatasnamakan lembaga tempat ia bekerja. Walaupun disadari beberapa nama seperti Wisran Hadi, Darman Moenir, Hawari Sidik selalu mengatakan bahwa ia mengatasnamakan pribadi dalam persoalan KKM Tahun 2010 ini. Ini tercermin dalam beberapa wawancara dengan penulis serta argumentasinya dalam beberapa surat khabar lokal terbitan Padang.
4.2.1. Kelompok Setuju KKM Tahun 2010 Gebu Minang
Cikal bakal Gebu Minang yang berawal dari gagasan spontan Presiden Soeharto ketika peresmian Pekan Penghijauan Nasional tahun 1982 di Desa Aripan Singkarak, Kabupaten Solok, Presiden bertatap muka dengan para petani Sumatera Barat. Seorang petani berdiri dan meminta traktor serta alat alat pertanian kepada presiden. “Kalian sebetulnya mempunyai
kekuatan....” jawab presiden dalam forum temu wicara itu. Kepala negara mengingatkan akan besarnya potensi para perantau Minang yang jumlahnya hampir sama banyaknya dengan penduduk Sumatera Barat sendiri dan tersebar di seluruh Indonesia bahkan luar negeri. Gagasan spontan Presiden Soeharto inilah yang mengilhami lahirnya istilah Gebu Minang, awalnya merupakan singkatan dari Gerakan Seribu (rupiah) Minangkabau yaitu semacam konsep alternatif partisipatif pembangunan dari bawah yang diprakarsai masyarakat sendiri, dan sejak Musyawarah Besar (Mubes) III pada tanggal 5 sampai 6 Januari 2001 di Bukit Tinggi telah diputuskan Gebu Minang yang semula merupakan Gerakan Seribu Minang diubah menjadi Gerakan Ekonomi dan Budaya Minang (Undri, 2009).
KKM Tahun 2010 dilaksanakan oleh Gebu Minang sebagai amanat dari Musyawarah Besar (Mubes) Gebu Minang tahun 2005 di Sawahlunto. Ini dijadikan sebagai dasar utama oleh kepengurusan Gebu Minang untuk melakukan Kongres Kebudayaan Minangkabau serta sebagai program kerja yang harus mereka lakukan tahun 2010. Bagi pihak Gebu Minang, adapun landasan melaksanakan kegiatan ini yakni untuk membangkitkan kebudayaan Minangkabau dengan (1) Menyepakati Pedoman Pengamalan “Adaik Basandi Syarak ~ Syarak Basandi Kitabullah”, (ABS SBK). (2) Pembangunan Nagari dan Kesejahteraan Masyarakat Petani. (3) Pemberdayaan Potensi Maritim dan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir. (4) Pembangunan nagari dan pemulihan hak anak nagariatas tanah ulayat. Serta (5) Mitigasi dan Kesiap-siagaan Menghadapi Bencana.
4.2.2. Kelompok yang Menolak KKM Tahun 2010
1. LKAAM (Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau)
LKAAM (singkatan dari Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau) adalah sebuah organisasi yang dibuat oleh pemerintah daerah Provinsi Sumatera Barat yang bertujuan untuk melestarikan adat dan budaya Minangkabau di Sumatera Barat. Salah satu lembaga sosial yang mewakili kepentingan masyarakat adat di Sumatera Barat adalah Lembaga Kerapatan Adat Alam
Minangkabau (LKAAM). Organisasi ini idealnya merupakan wadah penyaluran aspirasi komunitas adat dalam hubungannya dengan pelestarian nilai-nilai adat dalam masyarakat, disamping, tentunya, dalam menjaga kepentingan komunitas adat itu sendiri. Namun dalam perjalanan sejarahnya ternyata fungsi itu kurang terlihat signifkan. Oleh karena, secara historis, struktur Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau sebagai organisasi yang mewadahi ninikmamak dan pemuka adat, sebenarnya tidak terdapat dalam struktur kepemimpinan tradisional masyarakat di daerah ini ; tidak ada organisasi penghulu di atas penghulu-penghulu Nagari. Hubungan antar Nagari hanya ada bersifat kultural semata, yaitu adat Minangkabau. Bahkan tidak ada garis hirarkhi antara nagari-nagari itu sendiri dengan pusat kerajaan Pagaruyung sendiri.
Pembentukan wadah organisasi LKAAM bukanlah muncul dari masyarakat, akan tetapi merupakan inisiatif dari aparat pemerintah, yaitu berawal dari munculnya gagasan dari Panglima Komando Antar Daerah Letjen TNIMokoginta dan Panglima Kodam III/17 Agustus. Pada awalnya masyarakat Sumatera Barat sangat optimis dengan dibentuknya wadah LKAAM ini, karena dengan demikian berbagai kepentingan komunitas adat akan terlindungi dari intervensi kepentingan-kepentingan di luarnya, yang dengan itu pula eksistensinya akan tetap terpelihara di tengah-tengah perubahan-perubahan politik di negara ini. Hal ini memang sejak lama diidamkan oleh masyarakat, khususnya sejak nagari-nagari tidak lagi memiliki otonomi atas wilayahnya oleh karena adanya struktur supra nagari yang memiliki otoritas yang lebih kuat.
Di awal kemerdekaan kepentingan komunitas adat di daerah ini diwakili oleh Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM). Majelis Kerapatan Adat ini telah
memperlihatkan peranannya dalam mempertahankan
kepentingan komunitas etnik pada waktu Kerapatan Adat Nagari (KAN) tidak lagi dimasukkan menjadi bahagian dari kepemimpinan Nagari dalam Maklumat Residen Sumatera Barat No. 20 dan 21 tanggal 21 Mei 1946. Pada Pemilu pertama 1955,
organisasi ini bahkan menjadi satu kekuatan politik di Sumatera Barat, yaitu : Partai Kerapatan Adat.
Prakarsa untuk mewadahi ninik mamak dan penghulu adat dalam organisasi LKAAM oleh kalangan militer di awal Orde Baru, sebenarnya lebih didorong oleh keinginan untuk membersihkan para penghulu adat yang terlibat dengan kegiatan Partai Komunis. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila kemudian organisasi ninik mamak ini sangat dekat dengan pemerintah dan kalangan ABRI. Ketua LKAAM sendiri dipegang oleh Baharuddin Dt Rangkayo Basa yang adalah juga Kepala Jawatan Penerangan Sumatera Barat. Sedangkan Kapten Saafroeddin Bahar (perwira Kodam) yang sekaligus Ketua DPD Golongan Karya juga duduk dalam sekretariat LKAAM sendiri. Dengan demikian organisasi ini sebenarnya lebih banyak berperan sebagai perpanjangan tangan pemerintah dan Golongan Karya. Sebagai penyangga kepentingan pemerintah,-menjelang Pemilu 1971-organisasi ini telah memperlihatkan peran aktifnya dalam mensosialisasikan kekuatan politik Orde Baru, dalam mencari dukungan masyarakat, terutama di wilayah pedesaan hingga mengantarkan Golkar menjadi kekuatan mayoritas di daerah ini pada Pemilu 1971.
Dalam perihal dilakukanya kegiatan KKM Tahun 2010, LKAAM merupakan lembaga yang resmi menolak kegiatan tersebut. Alasannya adalah bahwa menurut LKAAM, kegiatan KKM Tahun 2010 akan membentuk Majelis Adat dan Syara’ (MAS). Praktis, jika MAS terbetuk maka LKAAM akan tersingkir. Sebab menurut Gebu Minang sebagai penyelenggara KKM Tahun 2010, pembentukan MAS disebabkan karena ketidakberdayaan lembaga adat yang ada seperti LKAAM dan MUI. Keberatan LKAAM tersebut kemudian dituangkan dalam sepucuk surat dan dialamatkan kepada Gebu Minang di Jakarta (Singgalang, Rabu 24 Maret 2010).