• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3. Orang terjepit antara 2 (dua) kepentingan. 82

Dengan mendasarkan pada perkembangan keadaan di masyarakat, pasal ini harus ditafsirkan secara luas. Makna “pengaruh daya paksa” disini termasuk pula opini publik yang mengancam kesehatan psikis korban perkosaan yang hamil. Niat korban perkosaan untuk menggugurkan kandungannya belum tentu hanya berasal dari nuraninya saja, karena ia sadar bahwa embrio/janin tersebut tidak berdosa. Namun ketakutan akan persepsi masyarakat bahwa anak yang ia lahirkan adalah anak di luar nikah, melahirkan anak tanpa suami, anaknya nanti akan dicap sebagai anak haram dan pandangan-pandangan yang bersifat minor lainnya cenderung memicu niat korban perkosaan untuk menggugurkan kandungannya.

Opini masyarakat tersebut dapat dikategorikan sebagai “daya paksa” (overmacht) yang berasal dari luar diri korban perkosaan dan secara sosiologis memaksa korban perkosaan untuk menggugurkan kandungannya agar dapat terhindar dari stigma-stigma buruk di masyarakat. Aspek ini harus diperhatikan dalam proses pemidanaan oleh hakim. Apabila hal ini diabaikan ada kemungkinan korban perkosaan akan mengalami tekanan psikis bertubi-tubi tanpa ada kepedulian sama sekali dari masyarakat, aparat penegak hukum maupun pemerintah.

Dengan demikian, seorang hakim dalam proses peradilan pidana khususnya dalam kasus abortus provocatus pada korban perkosaan tidak hanya berkedudukan sebagai pelaksana undang-undang saja. Namun lebih dari itu, hakim harus mampu menafsirkan hukum agar pemberlakuannya sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini. Lebih jauh lagi, hakim harus mampu menemukan hukum (rechtsvinding) dalam menangani kasus-kasus yang spesifikasinya ada di luar undang-undang. Dengan demikian, hakim sebagai praktisi hukum juga harus berperan serta dalam mengembangkan hukum yang mengandung aspek-aspek keadilan dan kemanfaatan hukum sebagaimana ditegaskan dalam UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman tidak hanya bagi para pihak yang bersangkutan namun juga bagi masyarakat luas.

Perumusan delik abortus provocatus tidak terlepas dari proses dan konteks sosial pada waktu KUHP itu dibuat. Seperti diketahui, KUHP yang merupakan induk dari hukum pidana (tertulis) di Indonesia itu merupakan

hasil konkordansi dari WvS Belanda. Dari perumusan delik yang berkitan dengan perempuan sebagai korbannya dapat disimpulkan, bahwa eksistensi perempuan sebagai manusia utuh belum diakui. Hal ini secara gamblang dapat dilihat dari pereduksian hakekat perempuan sebagai manusia hanya terbatas pada alat kelaminnya, seperti yang dapat dilihat pada pasal tentang perkosaan. Menurut KUHP dikatakan ada perkosaan apabila seorang laki-laki dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksakan persetubuhan dengan perempuan di luar perkawinan. Sedangkan menurut batasan medis, dikatakan ada persetubuhan jika ada penetrasi penis ke dalam vagina. Dengan demikian seorang laki-laki yang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksakan oral seks atau anal seks, atau bahkan memasukkan benda-benda lain ke dalam vagina seorang perempuan tidak dapat dijerat dengan pasal perkosaan ini. Demikian juga jika yang melakukan pemaksaan persetubuhan adalah suami dari perempuan tersebut.

Aborsi memang mengundang banyak kontroversi, misalnya mengenai hak janin dan hak ibu hamil, atau mengenai konsep awal kehidupan, apakah sejak terjadinya konsepsi atau beberapa minggu/bulan setelah itu. Perbedaaan pandangan inilah yang menyebabkan timbulnya dua aliran yang memperdebatkan masalah aborsi. Menurut K. Bertens dalam Lukman Hakim Nainggolan, Gerakan Pro Life menekankan hak janin untuk hidup. Bagi mereka mengaborsi janin sama dengan pembunuhan (murder) gerakan Pro Choice mengedepankan pilihan si perempuan mau melanjutkan kehamilannya atau mengakhirinya dengan aborsi. Bagi mereka perempuan

mempunyai hak untuk memilih antara dua kemungkinan itu, orang lain dalam masalah ini tidak dapat ikut campur.83

Pereduksian eksistensi perempuan sebagai manusia utuh tersebut sekaligus menunjukkan kurang diakuinya atau tidak adanya perlindungan terhadap hak-hak perempuan atas tubuh dan jiwanya. Dalam kasus abortus provocatus ada hak dari perempuan atas tubuh dan jiwanya (karena abortus provocatus seringkali juga mengancam jiwa perempuan yang mengandung ). Soal apakah ada hak dari janin atas tubuh dan jiwanya amat tergantung pada batasan kapan janin dikatakn mempunyai bentuk tubuh seorang manusia serta kapan janin dikatakan mempunai jiwa/nyawa. Apabila janin dianggap mempunyai hak, tanpa mempersoalkan kapan hak itu muncul atau diakui, maka sebenarnya pada kasus abortus provocatus terjadi konflik antara dua hak, yaitu hak perempuan yang hamil bertentangan dengan hak janin. Dengan demikian untuk menentukan apakah perempuan (korban perkosaan) yang melakukan abortus provocatus atas kandungannya dapat dipidana atau tidak dapat dinilai dari kepentingan manakah yang lebih utama.

Pertentangan antara kedua pandangan tersebut memang masih dirasakan sampai sekarang. Oleh karena itu melalui legalisasi abortus provocatus pada korban perkosaan dengan memenuhi beberapa syarat seperti yang diatur melalui Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, diharapkan selain memberikan perlindungan hukum terhadap perempuan korban perkosaan yang kemudian hamil dan memilih abortus provocatus

sebagai cara untuk mengakhiri kehamilannya, juga menjadi alternatif pemecahan masalah yang objektif yang dipilih oleh masyarakat khususnya bagi mereka yang mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki sebagai akiat dari tindak pidana perkosaan. Sebenarnya, beberapa Negara yang telah melegalkan aborsi memberi pilihan yang layak bagi ibu-ibu yang memiliki anak di luar nikah. Selain tersedianya klinik aborsi di mana-mana, jika perempuan memutuskan menyimpan janin yang dia kandung, biasanya tersedia dua alternatif: sebagai single mother, atau pengaturan adopsi untuk bayi tersebut. Sebagai single mother dia beserta bayinya akan mendapatkan dukungan material, seperti tunjangan makanan, kesehatan, biaya hidup bahkan sekolah bagi anak dari pemerintah. Tetapi pemerintah Indonesia tidak akan mampu melakukan hal tersebut melihat perekonomian Negara yang sedang mengalami krisis, jangankan mengharapkan tunjangan, perlakuan manusiawi pun sulit di dapat bagi perempuan yang bernasib seperti ini.

Perdebatan antara pandangan pro life dan pro choice memang tidak akan pernah selesai dan merupakan pilihan sulit bagi masyarakat yang mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki. Pokok dari permasalahan abortus provocatus ini adalah karena adanya kehamilan yang tidak dikehendaki, dan untuk mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki tersebut harus ada upaya-upaya dari pemerintah dan masyarakat dalam mencegah permasalahan ini. Dan salah satu upaya yang sudah dilakukan adalah melakukan perubahan yang lebih progresif melalui legalisasi Undang-Undang

No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan terhadap abortus provocatus pada korban perkosaan.

Oleh karena itu, perlu segera disosialisasikan kepada masyarakat bahwa korban perkosaan adalah tetap manusia yang mempunyai hak sama dengan manusia lainnya. Mereka patut mendapat perlakuan sama dengan manusia lainnya, termasuk penghargaan dan penghormatan serta perlindungan atas haknya untuk melakukan abortus provocatus. Keputusan untuk melakukan abortus provocatus oleh korban perkosaan yang hamil tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain. Satu-satunya akibat yang dirasa mengganjal adalah karena keputusan itu menimbulkan gesekan-gesekan dengan norma-norma masyarakat. Tapi sepenjang tidak merugikan orang lain, keputusan untuk melakukan abortus provocatus tetap harus dihormati. Hal ini juga demi kebaikan si korban sendiri daripada meneruskan kehamilannya tetapi menimbulkan banyak dampak buruk jangka panjang baik bagi dirinya sendiri, anak hasil perkosaan tersebut maupun masyarakat luas.

Berdasarkan uraian hasil penelitian di atas, berikut ini melalui ilustrasi bagan yang disajikan, penulis mengharapkan dapat memudahkan di dalam memahami objek permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini:

BAB V PENUTUP A. Simpulan

Hasil

Dokumen terkait