• Tidak ada hasil yang ditemukan

Serangga-Serangga Predator

2. Ordo Hemiptera

Predator dari ordo Hemiptera yang akan banyak kita bahas adalah bug atau kepik sejati True bugs, meskipun banyak dari golongan ini adalah phytophagous. Serangga pradewasa dari kepik sejati ini sering dikenal sebagai nimfa, yanag mempunyai kesamaan bentuk dengan imagonya, meskipun ada perbedaan dalam ukuran, tingkat kemasakan kelamin, dan sayap yang belum sempurna (wing bud). Sayap dari serangga dewasa umumnya diletakkan sejajar tubuhnya, di atas abdomennya. Salah satu yang sangat membedakan dengan ordo lainnya adalah alat mulut yang dimilikinya berupa rostrum (stilet) dan kepik predator umumnya amemanjangkan ke deapan rostrum ketika memangsa mangsanya untuk menusuk, kemudian menghisap cairan tubuhn mangsanya, ketika tidak melakukan aksinya, rostrum diletakkan di bawah tubuhnya. Telur dari kepik predator umumnya diletakkan secara kelompok di tanaman, ada juga yang memasukkan telur ke dalam jaringan tanaman

Kepik predator pada umumnya predator generalis, imago dan nimfanya memakan telur, serangga pradewasa dan imago dari berbagai serangga dan tungau. Ada 21 famili dari ordo ini yang bertindak sebagai predator, meskipun tidak semua akan dibahas dalam buku ini. Kepik ini dapat dicirikan dengan adanya sayap yang menebal pada hamapir 2/3 bagian sayapnya dan selebihnya adalah membranous, dan ketika istirahat maka sayap diletakkana overlap satu sama lainnya sehingga memberikana kenampakan bentuk X jika kita lihat dari dorsal.

50

Bab 3. Serangga Berguna dan Teknik Pengendalian hayati

a. Famili Anthocoridae

Famili ini berukuran kecil kurang dari 5 mm. Beberapa spesies dari famili sangat penting dalam pengendalian hayati beberapa phytophagous Thrips dan telur beberapa serangga hama seperti hama Ostrinia nubilalis. Orius tristicolor direaring untuk mengendalikan Thrips pada pertanaman bunga di rumah kaca.

Montandoniola moraguesi telah diintroduksikan ke Hawaii untuk mengendalikan Gynaikothrips ficorum. Genus Orius telah tersedia secara komersial untuk

mengendalikan Thrips di rumah kaca (Gambar 3.4).

Gambar 3.4. Orius insidiosus (Famili Antochoridae)

https://www.hobbyfarms.com/minute-pirate-bugs-small-insects-with-a-big-bite/ b. Famili Miridae

Famili ini berjumlah cukup besar (gambar 3.5), ada yang bertindak sebagai hama serius pada pertanaman Lygus lineolaris dan sangat sulit membedakan antara mirid yang bertindak sebagai hama dan predator. Kepik predator Deraeocoris spp. Memangsa aphid dan serangga kecil lainnya. Tytthus mundulus diintroduksikan untuk mengendalikan hama pada tanaman tebu Perkinsiella saccharicida.

51 Rekayasa Agroekosistem dan Konservasi Musuh Alami

Gambar 3.5 . Cyrtorhinus lividipennis

c. Famili Nabidae

Banyak dari famili ini adalah predator yang sering kita jumpai di rerumputan dan herba. Nabidae memakan telur serangga, Aphid, dan serangga kecil lainnya, serta serangga bertubuh lunak. Nabis ferus sangat terkenal sebagai predator kutu loncat Psylid kentang (Gambar 3.6), Paratrioza cockerelli dan wereng dauan tanaman beet gula, Circulifer tenellus.

Gambar 3.6. Predator Nabis ferus

d. Famili Reduviidae

Famili dari kepik yang dikenal luas sebagai predator adalah famili Reduviidae. Sebagian besar Reduviidae adalah kepik buas meskipun ada Reduviidae penghisap darah vertebrata (Susilo, 2007). Mereka sebagian besar adalah predator bagi

52

Bab 3. Serangga Berguna dan Teknik Pengendalian hayati

serangga lain (Kalshoven, 1981). Reduviidae memiliki jumlah yang melimpah dan tersebar diseluruh dunia, mereka adalah jenis predator yang rakus (sehingga disebut juga “kepik pembunuh”), dan sebagian besar adalah predator yang umum/tidak sepesifik mangsa. Selain itu mereka membunuh mangsa lebih dari yang mereka butuhkan untuk menjadikannya kenyang dan jangkauannya luas (Schaefer dan Panizzi , 2000).

Menurut Sahayaraj (2007), predator family Reduviidae memiliki karekteristik sebagai berikut :

1. biasanya memiliki kaki depan yang berfungsi untuk memegang dan menahan mangsa.

2. bermigrasi dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari makanan ketika populasi mangsa habis dalam satu periode tertentu.

3. tersebar dalam daerah semi-kering, hutan semak, hutan dan agroekosistem dengan berbagai suhu dan kelembapan.

4. memiliki kemampuan untuk mengenali bahan kimia.

Kepik pembunuh memiliki banyak habitat yang berbeda. Kepik pembunuh banyak berada diareal pertanaman. Hidup dibawah kayu dan berada pada tempat yang menyerupai dirinya sesuai dengan ukuran dan bentuknya (Kalshoven, 1981). Kepik pembunuh sangat bervariasi dalam ukuran tubuh dan bentuk, mulai dari kecil atau ramping dan kuat hingga besar. Fitur karakteristik yang membedakan mereka dari semua Hemiptera yang lain adalah pada stiletnya terbagi menjadi 3 ruas. Family Reduviidae mudah diidentifikasi karena ukurannya yang cukup besar dan merupakan kepik pembunuh yang berbulu (Sahayaraj, 2007). Kepik pembunuh berukuran sedang sampai besar (mencapai 36 mm) dengan ciri kepala memanjang, bagian belakang kepala menggenting mirip leher dan rostum pendek dan kokoh (Susilo, 2007). Rostum yang pendek dan kuat di cengkeram melengkung dibawah kepala ketika istirahat. Beberapa kepik sebagian aktif selama siang hari dan yang seperti ini memiliki warna yang cerah, yang lain aktif pada malam hari (Kalshoven, 1981). Sebagian besar sepesies berwarna hitam atau coklat tetapi memiliki banyak

53 Rekayasa Agroekosistem dan Konservasi Musuh Alami

varietas warna dan ukuran. Reduviidae memiliki antena yang terbagi menjadi 4 ruas (Sahayaraj, 2007). Banyak anggota Reduviidae yang bagian tengah abdomennya melebar sehingga tepi samping abdomennya tidak tertutupi oleh sayapnya (Susilo, 2007).

Telur dari kepik pembunuh umumnya diletakkan secara berkelompok ditanaman. Ada juga yang dimasukkan kedalam jaringan tanaman. Lebih dari satu minggu setelah telur diletakkan maka telur-telur tersebut akan menetas menjadi nimfa. Beberapa nimfa memiliki kelenjar pelekat untuk melindungi diri karena dapat tertempel oleh puing-puing kotoran sebagai penyamaran. Ketika berburu gerakannya lambat, tapi ketika akan menerkam mangsa gerakannya mendadak cepat. Setelah menangkap mangsa dengan segera kepik pembunuh akan melepaskan racunnya. Sebagian besar mangsa dihisap beberapa kali oleh beberapa nimfa secara bersamaan. Kanibalisme terlihat dalam keadaan terkurung yaitu ketika populasi melimpah sementara ruang dan mangsa yang ada terbatas. Fekunditas dari kepik pembunuh ini bisa sangat tinggi (Kalshoven, 1981).

Berdasarkan penelitian Cahyadi (2004), terhadap salah satu sepesies dari Reduviidae yaitu kepik pembunuh S. annulicornis diketahui bahwa :

1. nimfa instar 1 berwarna jingga dengan ukuran panjang tubuh ± 1,73 mm dengan lama setadia nimfa instar 1 yaitu 11 hari.

2. nimfa instar 2 berwarna jingga dengan ukuran ± 4,26 mm dengan lama setadian nimfa instar 2 adalah 8 hari.

3. nimfa instar 3 berwarna jingga dan pada seluruh tungkai terdapat bercak yang berwarna hitam, ukuran panjang tubuh ± 8,5 mm, lama setadia nimfa instar 3 adalah 8 hari.

4. nimfa instar 4 berwarna jingga kecoklatan dengan warna hitam pada tangkai toraks, ukuran panajang tubuh ± 12-15 mm, lama stadia nimfa instar 4 yaitu 12 hari.

5. nimfa instar 5 berwarna jingga tua kecoklatan dengan warna hitam pada bagian toraks, abdomen dan keseluruhan tungkai. Ukuran panjang tubuh ± 14-15 mm dengan lama stadia 5 yaitu 19 hari.

54

Bab 3. Serangga Berguna dan Teknik Pengendalian hayati

Mangsa dari kepik pembunuh adalah berbagai jenis ulat (Spodoptera, Helicoverpa (Lepidoptera: Noctuidae)), kumbang (Epilachna (Coccinellidae), Bostrichidae, Chrysomelidae), berbagai jenis kepik (Dysdercus (Pyrrhocoridae), Helopeltis (Miridae), walang sangit), kutu tanaman (kutu tepung, kutu daun), Psocid (Psocoptera), dan rayap (Susilo, 2007)

Reduviidae ini cukup potensial sebagai agen pengendali biologi. Berdasarkan penelitian Grundy and Maelzer (2000), larva Helicoverpa spp. pada tanaman kapas menurun setelah pelepasan 3 atau lebih nimfa P. plagipennis per meter baris tanaman. Pada kedelai, populasi dari Creontiades dilutes dan Chrysodeixis spp., secara segnifikan dapat menurun setelah pelepasan 2 nimfa per meter baris tanaman. Hasil panen secara segnifikan meningkat setelah pelepasan 1,38 nimfa per meter baris tanaman yang memberikan hasil setara dengan perlakuan insektisida (Grundy, 2002). Biaya yang dikeluarkan dalam memproduksi predator R.

Marginatus untuk dilepas dilapang juga lebih murah jika dibanding dengan

pestisida dan aplikasi Nuclear Polyhedrosis Virus (Sahayaraj, 2002). Reduviidae berpotensial dipakai sebagai agen pengendali hayati bila dilakukan pelepasan di lapang secara inundatif (Grundy and Maelzer, 2002; Grundy, 2004).

Rhinocoris adalah genus yang tersebar luas diseluruh dunia dari famili Reduviidae.

Terdapat tujuh spesies dan salah satu diantaranya adalah Rhinocoris fuscipes. Semua dari sepesies yang ada tersebut berada dalam suatu agroekosistem dan digunakan sebagai program pengendalian hayati dalam banyak tanaman (Sahayaraj, 2007). Rhinocoris fuscipes adalah kepik yang berwarna merah dan hitam dengan garis putih pada perut, umumnya memangsa ulat (Spodoptera,

Heliothis) dan aphis pada tanaman tembakau (Kalshoven, 1981). Rhinocoris fuscipes memiliki warna yang cerah, memiliki spot dan merupakan reduvid yang

polyphagus. Warna hitam bergaris terdapat dibagian bawah perut dan didasar sayap terlihat pada instar yang lebih tua. Kebanyakan ditemukan di daerah semi kering, hutan semak belukar, dan hutan tropis (Sahayaraj, 2007). Berikut ini adalah imago

55 Rekayasa Agroekosistem dan Konservasi Musuh Alami

Gambar 3.7. Predator Rhinocoris fuscipes

Rhinocoris fuscipes bertelur dalam bentuk kumpulan telur. Telur diletakkan dalam

bentuk kelompok yang saling berdempetan dari satu sisi ke sisi telur yanga lain. Telur(panjang 0,85 mm dan lebar 0,39 mm) lonjong, berwarna merah marun atau kecoklatan dan pada bagian atas telur terdapat seperti cincin berwarna putih. Telur diletakkan dalam bentuk kelompok masing-masing melekat pada bagian bawah ke substrat dan terperekat oleh semen coklat dan posisi telur adalah vertikal. Telur yang dapat diletakkan hingga mencapai 58,37 butir. Telur akan menetas setelah 8 sampai 11 hari, dan bervariasi dari musim ke musim. Nimfa yang baru menetas tidak akan makan selama 2 sampai 3 hari. Lama nimfa adalah 34,21 hari atau 33-44 hari dan rata-rata imago berumur 41,22 hari (Sahayaraj, 2007). Telur diletakkan secara berkelompok 10-35, satu betina meletakkan 80 telur dalam 6 minggu. Dilaboratorium dari telur hingga dewasa butuh waktu selama 7,5 -9,5 minggu, tetapi di india durasinya adalah 5-8 minggu. Fase dewasa hidup hingga 3 bulan (Kalshoven, 1981).

56

Bab 3. Serangga Berguna dan Teknik Pengendalian hayati

Instar nimfa ditemukan berada dibawah batu atau di semak. Mereka tidak ditemukan berada dengan indukan mereka atau dalam kelompok. Instar nimfa berwarna merah oranye dengan mata hitam, kuning cerah, kaki berwarna kehijauan dengan bintik-bintik coklat (Sahayaraj, 2007). Ketika terganggu maka mimfa akan memproduksi cairan lengket (Kalshoven, 1981).

Kisaran mangsa dari Rhinocoris fuscipes adalah Heliothis armigera, Corcyra

cephalonica, Chilo partellus (Swinh.), Achaea janata L., Plute/la xyloste/la (F), Helicoverpa armigera (F), Myzus persicae S., Oicladispa armigera (Oliver) Epilachna 12-stigma Muls., E. vigintioctopunctata (Fabr.), Raphidopalpa foveicollis Lucas, Semiothisa pervolagata Walker, Oiacrisia oblique Walk, Terias hecab (Linn.), Coptosi/la pyranthe (Linn.), Calocoris angustatus Leth., Cyrtacanthacris succincta Kirby, Oysdercus cingulatus Dist., Earias vittelle (F), E. insulana Biosd (Sahayaraj, 2007).

e. Famili Phymatidae

Famili ini dikenal sebagai kepik penyergap, dengan perilaku menunggu di dekat bunga dan apabila mangsanya seperti lebah, tabuhan, lalat berada dalam jangkauan, maka dia menyergap dengan menggunakan tungkai depannya yang bersifat raptorial.

f. Famili Lygaeidae

Kebanyakan dari famili ini adalah Phytophagous. Kepik bermata besar (bigeyed

bug) Geocoris spp. Adalah predator yang sangat penting dengan mangsanya yanag

bervariasi baik serangga atau tungau. Geocoris punctipes dapat memakan 1600 tungau selama perkembangan nimfa dan 80 tungau per hari untuk imagonya. Kepik jenis ini sering ditemukan pada areal pertanina yang aplikasi pestisida minimum. Kepik ini juga menjadi predator pada kepik yang lain.

57 Rekayasa Agroekosistem dan Konservasi Musuh Alami

Gambar 3.8. Predator Geocoris spp g. Famili Pentatomidae.

Famili ini mudah dikenal dengan adanya pronotum yang berbentuk seperti perisai, sehingga sering disebut kepik perisau. Kepik ini berukuran 10-15 mm, umumnya berwarna hijau, coklat, beberapa dengan warna yang cerah. Kebanyakan dari Pentatomidae juga Phytophagous, akan tetapi ada beberapa yang bertindak sebagai predator. Cantheconidae spp. Adalah predator bagi ulat Limacodidae seperti Oreta,

Setora. Andrallus spinides adalah predator yanag sering dijumpai di pertanaman

padi dengan ciri tubuh berwarna coklat, dan adanya spines pada pronotumnya.

58

Bab 3. Serangga Berguna dan Teknik Pengendalian hayati