• Tidak ada hasil yang ditemukan

Organ Pendukung Direksi

BAB 4 MEKANISME KERJA DIREKSI

4.2 Organ Pendukung Direksi

Direksi dapat membentuk komite-komite dalam rangka mendukung efektivitas pelaksanaan tugas-tugasnya dan untuk memenuhi peraturan perundang-undangan yang

berlaku. Komite yang berada di bawah Direksi yang telah dibentuk Perusahaan adalah Komite Haircut, Komite Kebijakan Kredit dan Pengelolaan Risiko (KKPR), dan Komite Investasi. Ketentuan lebih lanjut mengenai komite Direksi diatur dalam piagam tersendiri yang ditetapkan oleh Direksi.

4.2.2 Sekretaris Perusahaan

Sekretaris Perusahaan dibentuk untuk menjalankan tugas-tugas administrasi dan kesekretariatan yang berkaitan dengan seluruh kegiatan Direksi dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. Tanggung jawab Sekretaris Perusahaan adalah sebagai berikut:

1. Mencatat dan mendistribusikan risalah rapat Direksi kepada pihak terkait.

2. Mewakili Direksi dalam menyampaikan pemanggilan dan bahan rapat Direksi kepada para peserta rapat.

Direksi melakukan evaluasi atas kinerja Sekretaris Perusahaan setiap tahun.

4.3 Hubungan Kerja Direksi dengan Pihak-Pihak Terkait

Direksi sebagai pengelola Perusahaan, melaksanakan koordinasi dengan Dewan Komisaris, dengan Pemegang Saham dalam penyelenggaraan RUPS, Otoritas Jasa Keuangan, Komite Audit dan Komite Remunerasi (jika ada), Komite Haircut, dan Komite KKPR.

4.3.1 Hubungan Kerja Direksi dengan Dewan Komisaris

Tugas utama Direksi adalah melaksanakan pengurusan Perusahaan di bawah pengawasan Dewan Komisaris, termasuk di dalamnya adalah tindakan yang berkaitan dengan pengembangan kegiatan dan kinerja pengurusan Perusahaan. Hubungan kerja Direksi dan Dewan Komisaris mencakup hal-hal berikut:

1. Dalam melakukan tindakan-tindakan hukum tertentu, Direksi tidak memiliki otoritas penuh. Direksi harus memperoleh persetujuan tertulis dari Dewan Komisaris.

Tindakan-tindakan tersebut berkaitan dengan:

a. Memperoleh barang-barang tidak bergerak atau harta kekayaan lain;

b. Membuat, mengubah, membatalkan dan mengakhiri perjanjian yang penting menurut keputusan Dewan Komisaris;

c. Memberikan kuasa untuk mewakili Perusahaan di hadapan sesuatu badan

d. Menetapkan atau mengubah rencana kerja dan anggaran Perusahaan;

e. Menetapkan susunan organisasi Perusahaan dan perubahannya;

f. Menetapkan dan mengubah peraturan tentang:

1) Persyaratan penerimaan para pemakai jasa Perusahaan;

2) Tata cara penyelenggaraan kliring dan penjaminan yang teratur, wajar, dan efisien;

3) Pendisiplinan, pembekuan pemakaian jasa, atau pemutusan hubungan antara Perusahaan dengan para pemakai jasa; dan

4) Peraturan lain yang diperlukan dalam menjalankan kegiatan usaha Perusahaan

g. Memindahkan hak atau mengagunkan sebagian harta kekayaan Perusahaan senilai kurang dari 3/5 (tiga per lima) kekayaan bersih Perusahaan;

h. Memberikan atau memperoleh pinjaman, mengeluarkan obligasi atau memberikan jaminan atau aval yang meliputi kurang dari 3/5 (tiga per lima) kekayaan bersih Perusahaan; dan

i. Mendirikan perusahaan baru, melakukan penyertaan modal, mengurangi atau menambah penyertaan modal dalam perusahaan lain.

2. RJPP, RKAT, laporan tahunan Perusahaan, rencana lain yang berhubungan dengan pelaksanaan usaha dan kegiatan Perusahaan, serta pembagian tugas dan wewenang anggota Direksi yang tidak didasarkan pada penetapan OJK, yang dirancang dan diusulkan oleh Direksi, ditandatangani bersama dengan Dewan Komisaris sebelum diajukan kepada OJK untuk memperoleh persetujuan.

3. Direksi memberikan penjelasan tentang hal-hal mengenai Perusahaan yang ditanyakan oleh Dewan Komisaris atau komite Perusahaan di tingkat Dewan Komisaris. Direksi wajib memberikan akses dan informasi secara tepat waktu dan komprehensif kepada Dewan Komisaris.

4. Direksi dapat mengundang Dewan Komisaris atau salah satu anggota Dewan Komisaris untuk menjelaskan, memberikan masukan, atau melakukan diskusi terhadap suatu permasalahan. Kehadiran Dewan Komisaris dalam Rapat Direksi juga dimungkinkan atas permintaan Dewan Komisaris atau salah satu anggota Dewan Komisaris untuk hadir dalam rapat Direksi guna memberikan pandangan-pandangan terhadap hal-hal yang dibicarakan.

5. Direksi menyampaikan laporan berkala keuangan Perusahaan kepada Dewan Komisaris.

6. Bersama-sama dengan Dewan Komisaris melakukan kajian visi dan misi Perusahaan secara berkala.

7. Direksi mengetahui dan memberikan izin organ yang membantu Direksi untuk melakukan hubungan kerja dengan organ yang membantu Dewan Komisaris.

8. Direksi dan Dewan Komisaris melakukan rapat gabungan untuk membahas isu-isu strategis Perusahaan, seperti kinerja (performance) Perusahaan, permasalahan operasional, permasalahan terkait laporan keuangan, dan isu-isu Perusahaan lain yang dianggap penting.

9. Direksi menindaklanjuti arahan dan/atau keputusan Dewan Komisaris sebagai pengawas.

10. Direksi dapat menghadiri rapat Dewan Komisaris, jika diminta.

11. Direksi dapat menyelenggarakan RUPS atas permintaan Dewan Komisaris.

12. Direksi memilih dan mengangkat Sekretaris Dewan Komisaris berdasarkan usulan Dewan Komisaris.

13. Direksi sebagai penganggung jawab program peningkatan kapabilitas organ Dewan Komisaris, dapat meminta informasi keikutsertaan program peningkatan kapabilitas yang diikuti Dewan Komisaris.

14. Direksi meminta persetujuan pengangkatan dan pemberhentian Kepala Satuan Pemeriksa Internal (SPI) kepada Dewan Komisaris.

4.3.2 Hubungan Kerja Direksi dengan Pemegang Saham dalam Penyelenggaraan RUPS Hubungan kerja Direksi dalam Penyelenggaraan RUPS adalah sebagai berikut:

1. Direksi diangkat oleh RUPS, sehingga dalam setiap 1 (satu) tahun Direksi menyelenggarakan pertemuan dengan pemegang saham paling sedikit 2 (dua) kali, yaitu:

a. RUPS tahunan untuk menyampaikan laporan tahunan yang telah ditelaah oleh Dewan Komisaris untuk mendapat persetujuan RUPS dan laporan keuangan termasuk laporan keuangan Dana Jaminan untuk mendapat pengesahan rapat;

b. RUPS Luar Biasa untuk meminta persetujuan dan pengesahan atas RKAT Perusahaan.

2. Jika laporan pertanggungjawaban diterima oleh RUPS, Direksi telah terbebas dari tanggung jawab untuk periode yang telah berlalu.

4.3.3 Hubungan Kerja Direksi dengan OJK

1. Direksi bertanggung jawab dalam penyampaian laporan Perusahaan kepada OJK.

Rincian laporan yang perlu disampaikan dapat dilihat pada bagian 3.1 angka 4 tentang tugas Direksi terkait komunikasi.

2. Direksi wajib memenuhi panggilan OJK untuk mengadakan rapat apabila terdapat peristiwa khusus.

4.3.4 Hubungan Kerja Direksi dengan Komite Audit dan Komite Remunerasi (jika ada) Hubungan kerja Direksi dengan Komite Audit dan Komite Remunerasi (jika ada) adalah sebagai berikut:

1. Hubungan kerja Direksi dengan Komite Audit dan Komite Remunerasi (jika ada) bersifat tidak langsung karena Komite Audit dan Komite Remunerasi (jika ada) dibentuk oleh Dewan Komisaris. Oleh sebab itu, Direksi tidak diperbolehkan mempengaruhi Komite Audit dan Komite Remunerasi (jika ada) dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab untuk menjamin independensi.

2. Direksi dapat memberikan dukungan melalui pengarahan, pemberian perintah, dan koordinasi dengan organ-organ di bawahnya untuk mendukung efektivitas dan kelancaran tugas dan tanggung jawab Komite Audit dan Komite Remunerasi (jika ada), terutama dalam hal penyediaan dan penyiapan berbagai data dan informasi yang diperlukan.

3. Direksi sebagai penanggung jawab program peningkatan kapabilitas organ Dewan Komisaris, dapat meminta informasi keikutsertaan program peningkatan kapabilitas yang diikuti Komite Audit dan Komite Remunerasi (jika ada).

4.3.5 Hubungan Kerja Direksi dengan Komite Haircut

Hubungan Kerja Direksi dengan Komite Haircut adalah sebagai berikut:

1. Direksi menyediakan data yang benar dan sesuai dengan peraturan dan best practice yang berlaku di bidang pasar modal dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan perhitungan Haircut Saham.

2. Direksi mengembangkan kriteria penilaian kinerja Komite Haircut, baik secara kolektif maupun individu, dengan mengacu pada tugas dan tanggung jawab Komite Haircut yang diatur dalam Piagam Komite Haircut.

4.3.6 Hubungan Kerja Direksi dengan Komite KKPR

Hubungan Kerja Direksi dengan Komite KKPR adalah sebagai berikut:

1. Direksi dapat melakukan pertemuan maupun berkomunikasi dengan Komite KKPR secara berkala, untuk membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan saran, masukan, dan rekomendasi terkait dengan kebijakan investasi Dana Jaminan guna memastikan bahwa dalam pelaksanaan operasional harian terkait dengan pengadministrasian dan pengelolaan Dana Jaminan sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku, termasuk permasalahan-permasalahan operasional yang berisiko tinggi dan penting untuk dikomunikasikan.

2. Direksi menyampaikan laporan pengelolaan risiko manajemen Penjaminan Penyelesaian Transaksi Bursa kepada Komite KKPR sesuai mekanisme yang ditetapkan oleh Komite KKPR.

3. Direksi meminta rekomendasi kepada Komite KKPR sehubungan dengan kebijakan kredit dan pengelolaan risiko guna mendukung pelaksanaan Penjaminan Penyelesaian Transaksi Bursa serta memberikan rekomendasi atas penanganan gagal bayar pada Anggota Kliring.

4. Direksi meminta rekomendasi kepada Komite KKPR tentang penyisihan laba bersih Perusahaan yang wajib disisihkan untuk pembentukan Cadangan Jaminan.

5. Direksi menyampaikan tembusan laporan keuangan Dana Jaminan setiap bulan kepada Komite KKPR.

6. Direksi meminta persetujuan Komite KKPR atas usulan biaya yang berkaitan dengan jasa akuntansi dan audit laporan keuangan Dana Jaminan yang akan dibebankan pada Dana Jaminan.

7. Berkoordinasi dengan Komite KKPR untuk melakukan penelaahan atas pengaduan yang diterima dari pihak ketiga, antara lain Anggota Kliring dan OJK mengenai indikasi penyimpangan terkait dengan manajemen risiko perusahaan serta pengelolaan dan pengadministrasian Dana Jaminan.

8. Direksi menindaklanjuti laporan dari Komite KKPR tentang kecurangan atau indikasi kecurangan yang berhubungan dengan kebijakan kredit dan pengelolaan risiko di Perusahaan serta kebijakan investasi Dana Jaminan dan Cadangan Jaminan.

9. Direksi mengembangkan kriteria penilaian kinerja Komite KKPR, baik secara kolektif maupun individu, dengan mengacu pada tugas dan tanggung jawab Komite KKPR yang diatur dalam Piagam Komite KKPR.

4.3.7 Hubungan Kerja Direksi dengan Komite Investasi

1. Direksi mengangkat dan memberhentikan Komite Investasi.

2. Direksi dapat melakukan pertemuan maupun berkomunikasi dengan Komite Investasi secara berkala, untuk membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan saran, masukan, dan rekomendasi terkait dengan strategi investasi keuangan guna memastikan bahwa strategi tersebut mampu mengoptimalkan hasil pengelolaan investasi keuangan dan sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku.

3. Direksi menindaklanjuti laporan dari Komite Investasi tentang kecurangan atau indikasi kecurangan yang berhubungan dengan pengelolaan investasi keuangan.

4. Direksi menilai dan mengembangkan kriteria penilaian kinerja Komite Investasi, baik secara kolektif maupun individu, dengan mengacu pada tugas dan tanggung jawab Komite Investasi yang diatur dalam Piagam Komite Investasi.

4.3.8 Hubungan Kerja Direksi dengan SPI

1. Direksi dapat memberikan petunjuk umum mengenai lingkup pekerjaan dan aktivitas-aktivitas yang akan diperiksa tanpa memberikan batasan terhadap lingkup atau frekuensi pemeriksaan.

2. Direktur Utama atas nama Direksi menetapkan kewenangan, tanggung jawab dan lingkup pekerjaan SPI yang tertuang dalam Piagam SPI.

3. Direktur Utama atas nama Direksi menetapkan Kebijakan Pemeriksaan Internal SPI.

4. Direksi memberikan dukungan penuh kepada SPI agar SPI mempunyai tingkat independensi yang penuh terhadap divisi yang diperiksa dengan cara melindungi penugasan audit internal dari campur tangan dan/atau pembatasan ruang lingkup audit internal oleh divisi maupun manajemen divisi yang diperiksa.

5. Direksi dapat menugaskan SPI untuk melaksanakan investigasi/pemeriksaan khusus apabila diperlukan.

6. Direksi melakukan komunikasi secara langsung dengan SPI, baik secara berkala maupun insidentil.

7. Direksi memfasilitasi koordinasi antara SPI dan Komite KKPR untuk melakukan penelaahan atas pengaduan yang diterima dari pihak ketiga, antara lain Anggota Kliring dan OJK, mengenai indikasi penyimpangan terkait dengan manajemen risiko Perusahaan serta pengelolaan dan pengadministrasian Dana Jaminan.

8. Direksi (melalui Direktur Utama) menerima dan menindaklanjuti pelaporan dari SPI yang mencakup:

a. Evaluasi pengendalian internal, sistem manajemen risiko, dan tata kelola perusahaan.

b. Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dan/atau hal–hal lain yang dianggap penting untuk diketahui Direksi.

c. Pelanggaran atau indikasi pelanggaran yang material atas sistem operasional dan pengendalian internal Perusahaan.

d. Laporan audit dari auditor eksternal, OJK, dan/atau pengawas otoritas lain.

4.4 Penilaian Kinerja Direksi

Dokumen terkait