BAB II DISKRIPSI LOKASI PENELITIAN
2.2. Organisasi Kedaerahan Minangkabau di Kota Medan
2.2.1. Organisasi BM3 (Badan Musyawarah Masyarakat Minang)
Badan Musyawarah Masyarakat Minang Sumatera Utara mempunyai sekretariat tetap sekaligus Gedung dan Aula yang terletak di pusat kota medan, tepatnya pada Jalan Adinegoro No. 1 Gaharu Mumah Gadang BM3 Sumatera Utara. Masyarakat Minang yang merantau kekota Medan dan yang terdaftar sebagai anggota BM3 menyebut sekretariat BM3 dengan sebutan Rumah Gadang BM3 Sumatera Utara. Hal tersebut diberi nama sesuai Rumah adat Minangkabau yaitu Rumah Gadang. Secara umum tidak ada batas khusus terhadap wilayah-wilayah yang menjadi cakupan Badan Musyawarah Masyarakat Minangkabau, hal tersebut dikarenakan perkumpulan atau organisasi paguyuban yang berasal dari minangkabau lebih tertuju kepada daerah asal masyarakat itu sendiri, bukan berdasarkan wilayah yang ditempati di Kota Medan.
Jumlah organisasi yang cukup banyak akhirnya menjadi masalah bagi suku bangsa Minangkabau yang merantau di Kota Medan, karena menyebabkan terjadinya pengkotakan dan benturan di kalangan mereka saat itu. Pada tahun
1965, Walikota Medan saat itu, yaitu Drs. Surkani mengundang berbagai organisasi sosial suku bangsa Minangkabau yang ada saat itu untuk berdialog.
Dari pertemuan itu, keluarlah ide untuk menghimpun seluruh suku bangsa Minangkabau yang merantau di Sumatera Utara. Akhirnya pada tahun 1971, atas kesepakatan bersama suku bangsa Minangkabau yang merantau di Kota Medan lewat suatu proses musyawarah yang difasilitasi oleh Pemerintahan Kota Medan saat itu, maka didirikanlah Badan Musyawarah Masyarakat Minang (BM3), dengan Ketua Umum Brigjend Sofyar. Berdirinya Badan Musyawarah Masyarakat Minang (BM3) ini tidak serta merta menghapus berbagai organisasi sosial suku bangsa Minangkabau yang telah ada sebelumnya. Badan Musyawarah Masyarakat Minangkabau (BM3) ini, lebih seperti wadah atau “payung panji”
yang menampung berbagai macam organisasi sosial di dalamnya.
Gambar 2: Rumah Gadang BM3 Medan.
A. Kegiatan Badan Musyawarah Masyarakat Minang (BM3)
Kegiatan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi paguyuban tidak terlepas dari program kerja dari bidang kepengurusan organisasi tersebut seperti mengadakan arisan dan pengajian yang biasanya dikelola oleh bidang kerohanian, begitu juga dengan kesenian yang dikelola oleh organisasi tersebut. Ada wadah yang menjalakan atau mengaktifkan kesenian di organisasi tersebut. Pada BM3 terdapat tujuh Bidang keorganisasian yang menjalankkan program kerja organisasi BM3. Bidang tersebut adalah sebagai Berikut:
1. Bindang Organisasi Internal dan Eksternal
Bidang organisasi Internal dan Eksternal adalah Bidang yang bertugas sebagai pengelola keangotaan atau dalam organisasi dan bertugas sebagai pengelola hubungan dengan luar organisasi. Kegiatan yang biasa dilakukan oleh bidang ini adalah melakukan komunikasi yang baik dengan organisasi paguyuban lainnya dan menghadiri undangan dari organisasi paguyuban lainnya, seperti menghadiri acara dari ikatan Keluarga Aceh dan sebagainya.
2. Bidang Ekonomi dan Keuangan
Bidang Ekonomi dan keuangan adalah bidang yang mengurus atau bertugas mengatur keuangan suatu organisasi dan bekerjasama dengan bendahara umum organisasi.
3. Bidang Pengadaan Sarana Prasarana
Bidang pengadaan Sarana Prasarana adalah bidang yang bertanggung jawab terhadap sarana dan prasarana pada BM3 yang telah ada dan mengelola prasarana yang telah ada.
4. Bidang Kesejahteraan
Bidang yang mengelola dan bertugas untuk kesejahteraan anggota pada BM3.
5. Bidang Sosial dan Dakwah
Bidang Sosia dan dakwah adalah bidang yang bertugas sebagai pengelola dan sebagai wadah untuk berdakwah dan menambah ilmu agama. Kegiatan yang biasa dikelola oleh bidang sosial dan dakwah adalah melakukan pengajian dan arisan setiap bulannya, mengadakan bakti sosial untuk memberi nafkah fakir dan miskin.
6. Bidang Pengabdian Masyarakat
Bidang Pengabdian Masyarakat adalah bidang yang mempunyai progam kerja bertujuan untuk mengabdi kepada masyarakat. Kegiatan biasa yang dilakukan oleh bidang ini adalah membantu masyarakat dalam bidang ekonomi atau bidang lainnya.
7. Bidang Kesenian dan Budaya
Bidang kesenian dan budaya adalah bidang yang bertanggung jawab sebagai wadah masyarakat minangkabau untuk melestarikan kebudayaan minangkabau itu sendiri. Bidang kesenian itu sendiri diwakili oleh sebuah ikatan Kesenian yang mengelola. Kegiantan yang biasa dilakukan oleh bidang kesenian dan budaya adalah melakukan
latihan tari dan Randai setiap minggunya. Mengisi acara pernikahan dan acara-acara lainnya apabila ada panggilan untuk mengisinya.
B. Struktur Organisasi BM3 (Badan Musyawarah Masyaraat Minangkabau) Medan.
Struktur Organisasi Bandan Musyawarah Masyarakat Minangkabau Kota Medan Periode 2015 sampai 2020 adalah sebagai berikut:
Gambar 3: Struktur Organisasi BM3
2.2.2. Organisasi Ikatan Keluarga Bayur (IKB)
IKB atau Ikatan Keluarga Bayur Medan Mempunyai Sekretariat Tetap sekaligus gedung dan aula yang berlokasi di Medan Halat. Tepatnya beralamat Jalan Utama 125/ 71 Matsu II Medan City. Sekretariat IKB juga diberi nama sama dengan nama rumah adat Sumatera Barat yaitu Rumah Gadang. Secara umum tidak ada batas khusus terhadap wilayah-wilayah yang menjadi cakupan IKB, hal tersebut dikarenakan perkumpulan atau organisasi paguyuban yang berasal dari
Penasehat: Syahrudin Ali
Ketua Umum:
Delyuzar
Sekretaris:
Irvan Masyar
Bendahara:
Eldina Amelia
Wakil Ketua:
Wahyudi
Minangkabau lebih tertuju kepada daerah asal masyarakat itu sendiri, bukan berdasarkan wilayah yang ditempati di Kota Medan.
Ikatan Keluarga Bayur Medan berdiri pada tahun 11 Mei 1952, Ada beberapa tokoh Bayur yang mendirikan Ikatan keluarga Bayur, yaitu Luthan Sutan Tunaro Sebagai Penasehat organisasi, Ibrahim Sutan Syarifudin sebagai ketua Pertama Ikatan Keluarga Bayur. Menurut mantan ketua IKB periode 2012-2017 yaitu bapak Irianli Suni S.E (Sutan Bagindo), IKB adalah organisasi paguyuban yang pertama kali berdiri di kota Medan. IKB jauh lebih dahulu terbentuk dari pada Badan Musyawarah Masyarakat Minang yang sekarang menjadi payung panji masyarakat Minang di kota Medan.
Gambar 4: Rumah Gadang IKB
A. Kegiatan Organisasi IKB
Kegiatan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi paguyuban tidak terlepas dari program kerja dari bidang kepengurusan organisasi tersebut seperti
mengadakan arisan dan pengajian yang biasanya dikelola oleh bidang sosial dan dakwah, begitu juga dengan kesenian yang dikelola oleh organisasi tersebut. Ada wadah yang menjalakan atau mengaktifkan kesenian di organisasi tersebut. Pada Ikatan Keluarga Bayur terdapat tujuh Bidang keorganisasian yang menjalankkan program kerja organisasi IKB. Bidang tersebut adalah sebagai Berikut:
1. Bindang Organisasi Internal dan Eksternal
Bidang organisasi Internal dan Eksternal adalah Bidang yang bertugas sebagai pengelola keangotaan atau dalam organisasi dan bertugas sebagai pengelola hubungan dengan luar organisasi. Kegiatan yang biasa dilakukan oleh bidang ini adalah melakukan komunikasi yang baik dengan organisasi paguyuban lainnya dan menghadiri undangan dari organisasi paguyuban lainnya, seperti menghadiri acara dari ikatan Keluarga Aceh dan sebagainya.
2. Bidang Ekonomi dan Keuangan
Bidang Ekonomi dan keuangan adalah bidang yang mengurus atau bertugas mengatur keuangan suatu organisasi dan bekerjasama dengan bendahara umum organisasi.
3. Bidang Pengadaan Sarana Prasarana
Bidang pengadaan Sarana Prasarana adalah bidang yang bertanggung jawab terhadap sarana dan prasarana pada IKB yang telah ada dan mengelola prasarana yang telah ada.
4. Bidang Kesejahteraan
Bidang yang mengelola dan bertugas untuk kesejahteraan anggota pada IKB.
5. Bidang Sosial dan Dakwah
Bidang Sosia dan dakwah adalah bidang yang bertugas sebagai pengelola dan sebagai wadah untuk berdakwah dan menambah ilmu agama. Kegiatan yang biasa dikelola oleh bidang sosial dan dakwah adalah melakukan pengajian dan arisan setiap bulannya, mengadakan bakti sosial untuk memberi nafkah fakir dan miskin.
6. Bidang Pengabdian Masyarakat
Bidang Pengabdian Masyarakat adalah bidang yang mempunyai progam kerja bertujuan untuk mengabdi kepada masyarakat. Kegiatan biasa yang dilakukan oleh bidang ini adalah membantu masyarakat dalam bidang ekonomi atau bidang lainnya.
7. Bidang Kesenian dan Budaya
Bidang kesenian dan budaya adalah bidang yang bertanggung jawab sebagai wadah masyarakat minangkabau untuk melestarikan kebudayaan minangkabau itu sendiri. Bidang kesenian itu sendiri diwakili oleh sebuah ikatan Kesenian yang mengelola. Kegiantan yang biasa dilakukan oleh bidang kesenian dan budaya adalah melakukan latihan tari dan Randai setiap minggunya. Mengisi acara pernikahan dan acara-acara lainnya apabila ada panggilan untuk mengisinya.
B. Struktur Organisasi IKB
Gambar 5: Struktur Organisasi IKB
2.3. Pentas Hiburan Tradisional di Kota Medan.
Pekan Raya Sumatera Utara atau sering disebut PRSU merupakan salah satu pentas hiburan tradisional masyarakat yang sangat bersar. PRSU yang terletak di jalan Medan-Binjei Km 6 ini biasanya diadakan satu kali satu tahun yang juga merupakan ajang pesta budaya, budaya yang ditampilkan mulai dari kesenian tari tradisional, adat-istiadat, rumah adat tradisional, makanan tradisional Sumatera Utara, semua kabupaten dan kota di Sumatera Utara ikut terlibat dalam pagelaran akbar tersebut. Keberadaan PRSU ini sangat penting dan perlu di kota Medan mengingat Medan sendiri merupakan kota yang majemuk, masyarakat kota Medan sangat antusias terhadap kehadiran PRSU, hal tersebut bisa juga memperkenalkan budaya Sumatera Utara. Namun belum ada perwakilan dari etnis
Penasehat: Niniak Mamak, Alim Ulama, Cadaiak Pandai
Sekretaris: H Hendri Madri
Ketua : Tamrin K Piliang
Bendahara:
Surya Putra Sani
di luar Sumatera Utara yang masyarakatnya termasuk yang dominan di kota Mdan, seperti suku bangsa Minangkabau dan Aceh.
2.4. Grup Kesenian Minangkabau di Kota Medan.
Kehadiran Rumah Gadang Badan Musyawarah Masyarakat Minang di kota Medan sebagai tempat bermusyawarah dan sebagai pusat kegiatan budaya suku bangsa Minangkabau ,BM3 lewat departemen kebudayaannya mengelolah sedikitnya 15 kelompok kesenian Minangkabau. Yaitu, Riak Miang, Riak Danau, Ikatan kesenian Sri Antokan, Tuah Sakato, Taratak Minang, Kesenian Pulau Brayan Darat (KPBD), Sumarak Anjuang, Ikatan Kesenian Minang Saiyo, Ikatan Kesenian Ranah Minang, Lawang indah, Lawang Sakato,Sinar Mnang, Sarumpun Manau, Binuang Sati, Carano Sati, dan Ikatan Kesenian Bayur. Penulis Memfokuskan penelitian kepada 2 ikatan kesenian yang masih aktif sampai saat ini, yaitu Ikatan Kesenian Sri Antokan dan Ikatan Kesenian Bayur.
2.4.1. Ikatan Kesenian Sri Antokan
Ikatan kesenian Sri Antokan atau disingkat dengan IKSA, didirikan pada tahun 1966. Pendiri Ikatan kesenian sri antokan ini adalah seorang tokoh seni di nusantara yaitu bapak Pustami Kabal. Pustami Kabal adalah pelopor kesenian nusantara dari Minangkabau, dia juga merupakan seorang duta kesenian di Malaisya pada masa itu. Menurut uda Dedi salah seorang informan pada ikatan
seni Sri Antokan dan sekaligus pemain Randai pada Ikatan Sri Antokan ini.
Wilayah Minangkabau yang mencakup IKSA adalah Tanjung Raya, Tanjung Mutiara, Lubuk Basung, namun tidak tertutup kemungkinan anak-anak dari wilayah diluar tersebut masuk dalam Ikatan Kesenian Sri Antokan.
Kesenian Minangkabau yang pernah di latih di IKSA seperti tari Rantak, tari Pasambahan,Tari Payuang, Tambua Tasa dan Randai. Tari yang masih aktif sampai sekarang adalah tari Rantak, tari Pasambahan dan Tambua Tasa.
Sementara Randai dilatih apabila ada kebutuhan yang mendesak dari pengurus BM3 atau dari pihak-pihak tertentu.
2.4.2. Ikatan Kesenian Bayur
Ikatan Kesenian Bayur adalah kelompok kesenian yang dibentuk oleh Ikatan Keluarga Bayur. Ikatan Kesenian Bayur terbentuk karena perpanjangan dari salah satu bidang kepengurusan Ikatan Keluarga Bayur yaitu Seksi Seni Dan Budaya yang terbentuk seiring kepengurusan pertama Ikatan Kelaurga Bayur kota Medan yaitu pada tahun 1952. Ikatan kesenian Bayur periode 2012 sampai 2017 di ketuai oleh Edimas Putra atau yang bergelar Sutan Pangulu. Bapak Edimas Putra atau Sutan Pangulu sekaligus pelatih silat dan Randai pada Ikatan Kesenian Bayur. Ikatan kesenian bayur mempunyai jadwal latihan tari dan Randai setiap malam selasa, berbagai macam kesenian Minangkabau diajarkan seperti tari gelombang, tari rantak, tari pasambahan, tari indang.
BAB III
KESENIAN RANDAI MINANGKABAU
3.1. Sejerah Kesenian Randai
Randai merupakan seni teater di Minangkabau karena didalamnya ada dialog dan suatu cerita yang disampaikan,dan unsur lain yaitu musik dan tari.
Dalam pertunjukan Randai ada beberapa alat musik yang digunakan seperti alat musik tiup yaitu Saluang, Pupuik Sarunai, dan Bansi .Begitu juga dengan alat musik pukul seperti Gandang ,Talempong dan Tassa. Semua alat musik tersebut adalah alat musik Tradisional Minangkabau. Sementara itu tari dan gerakan-gerakan Randai diambil dari gerakan-gerakan dasar Silat di Minagkabau, seperti Silat Harimau, Silat Kumango dan lain-lain.
Dendang juga merupakan unsur yang sangat penting dalam pertunjukan Randai. Dendang merupaan nyanyian dalam Randai untuk menyampaikan cerita yang akan dibawakan dalam Randai tersebut. Dendang tersebut akan diiringi oleh musik Randai seperti Talempong dan Saluang.
Istimewanya adalah penonton juga merupakan pelaku didalam Randai dan merupakan suatu ciri khas dalam teater tradisional .Kesenian tradisional Minangkabau pada umumnya selalu menggambarkan sifat kebersamaan dan kegotongroyongan .hal ini sesuai dengan kehidupan masyarakatnya yang sebagian besar sebagai petani .Sebagai petani tentulah sifat kegotongroyongan sangat penting dan sifat tersebut terlihat dari gerakan-gerakan randai tersebut.
Menurut khairul Harun dalam Pustaka Wisata Budaya kesenian Randai Minagkabau sudah melewati perjalanan sejarah yang cukup panjang seja abat ke20 ,randai banyak berkembang di wilayah darek yang menjadi pusat peradaban kebudayaan Minangkabau . Keberadaan kesenian Randai sebagai tradisi Minangkabau sudah lama hidup di masyarakat Minangkabau bahkan sudah ada sebelum Islam masuk ke Minagkabau .Randai berasal dari kata andai atau handai yang berarti berbicara menggunakan kias , ibarat, pantun serta petatah petitih.
Randai adalah penyajian kaba Minangkabau dalam bentuk drama atau teater tradisional dengan pola lingkaran. Ia juga disebut sebagai teater rakyat populer bagi masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat yang merangkai lagu-lagu, tari, musik, seni bela diri, dan akting untuk menceritakan cerita-cerita rakyat Minangkabau. Secara historis kehadiran randai di tengah masyarakat Sumatera Barat sejalan dengan perjalanan sejarah masyarakatnya yang lebih dikenal dengan latar kebudayaan Minangkabau. Sampai saat ini belum ada catatan sejarah yang dapat dijadikan petunjuk, kapan kesenian randai itu muncul dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, serta siapa pencipta kesenian itu pertama kali.
Rusydi (2007:1) mengatakan, bahwa para budayawan, seniman Sumatera Barat serta para pemimpin adat penghulu, niniak mamak baik yang berada dikelembagaan LKAAM (Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau), sepakat mengatakan bahwa kesenian randai lahir bersamaan dengan kehadiran serta perjalanan budaya itu sendiri yang dapat kita lihat diantaranya dalam catatan
“Tambo Alam Minangkabau” meskipun tambo ini tidak mempunyai catatan tanggal dan tahun kejadian yang pasti seperti catatan sejarah Randai merupakan
salah satu bagian dari pengembangan kultur budaya dan nilai-nilai tradisional bagi masyarakat Minangkabau, yang lahir bersamaan dengan kedatangan masyarakat di mana adat tersebut adalah kesepakatan nilai-nilai budaya selaku masyarakat sosial.
Dalam pertunjukkan randai terdapat beragam unsur pendukung, seperti:
unsur musik, tari, vokal (dendang), silat, seni teater, kostum dan teks. Baik-buruknya pertunjukan randai tergantung dari bagaimana para pemain randai membawakan cerita teks. Menurut (Rusydi, 2007:29), Teks randai pada garis besarnya bertujuan untuk penggambaran tradisi kehidupan masyarakat yang penuh lika-liku peristiwa, penggambaran kultur budaya adat masyarakat Minangkabau, penggambaran masyarakat seperti merantau, kesenian anak nagari, silat, tari, musik dan sastra, untuk menyampaikan pesan adat dan agama (media informasi dan pendidikan), media hiburan dan sarana untuk berkomunikasi antar masyarakat sambil menyaksikan pertunjukkan Randai.
3.2. Fungsi Kesenian Randai
Kesenian Tradisional Minangkabau Seperti Randai merupakan permainan adat, dan dikenal juga dengan istilah pamenan anak nagari (Permainan anak negri). Pamenan anak nagari merajuk pada permainan anak di daerah tersebut.
Akan tetapi, secara filosofi seperti yang dikemukakan oleh Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto (Mak katik) merupakan salah seorang seniman budaya Miangkabau adat merupakan sesuatu yang melekat pada fisik dan batin individu
yakni individu pembentuk masyarakat di nagari tersebut. Randai bagi masyarakat miangkabau tidak hanya satu kesenian tradisi. Akan tetapi, Randai juga merupakan Media pendidikan dan pengajaran tentang filsafah, etika, dan adat bagi masyarakat. Dalam Randai memuat nilai-nilai hidup.
Dulu Pertunjukan Randai di Minangkabau terkait dengan upacara-upacara tradisional masyarakatnya. Dalam upacara tersebut Randai tidak saja diperanan menjadi pelengkap yang berfungsi untuk menjadi hiburan dan penyemangat upacara-upacara adat, tetapi sebagai kesenian tradisional Minangkabau, Randai juga memberikan kesempurnaan dalam adat istiadat di minangkabau. Dulu biasanya randai ditampilkan sebagai pengantar ulu ampek ,ulu ampek adalah seni gerak yang ditampilkan pada saat pengangkatan penghulu.
3.3. Tatacara Pertunjukan Randai
Seluruh pemain Randai berbaris memasuki arena pertunjukan termasuk pemain dendang dan pemain galembong. Pemain galembong memasuki arena pertunjukan dengan melakukan gerakan sambah dengan artian pemain randai menyampaikan permintaan maaf kepada penonton dengan gurindam persembahan. Apabila acara persembahan selesai, pembawa galembong meneriakan hep ta hep ta dan seterusnya sampai membentuk formasi lingkaran, hep ta merupakan kode dan tempo dalam bermain Randai. Selanjutnya penyajian
cerita yang di sertai gurindam dengan dialog. Sejak awal sampai akhir cerita gurindam dan dialok silih berganti.
Apabila pangko tuo randai melihat permainan Randai sudah agak lelah, ia membisikkan kepada gurindam supaya pemainan Randai di istirahatkan, waktu insitrahat diisi dengan pertunjuan kesenian lain. Pada dasarnya segala bentuk kesenian dan segala bentuk atrasik anak Randai waktu itu bisa ditampilkan. Jika waktu istirahat sudah dirasakan cukup pangka tuo Randai mengatakan kepada pembawa galembong meneruskan pertunjukan Randai.
3.3.1 Waktu dan tempat pertunjukan Randai
Pertunjukan Randai tidak menghendaki tempat yang khusus, bisa saja ditampilkan pada tempat yang datar dengan areal 5x6 meter atau sekedar bisa untuk pemain galembong membentuk formasi melingkar, penonton berkeliling duduk dan berdiri melingkari pemain-pemain Randai. Walaupun kadangkala dibuat bangku-bangku dari bambu untuk para penonton yang terhormat seperti, niniak mamak atau panghulu dan wali nagari. Namun itu bukan suatu keharusan yang dilakukan.
3.3.2 Pemeran Dalam Randai
1. Pembawa galembong
Pembawa Galembong adalah semua penari Randai yang memakai celana galembong. Galembong adalah celana khusus untuk pertunjukan Randai yang juga mempunyai fungsi sebagai alat musik internal pada Randai, Galembong adalah celana yang mempunyai kaki celana yang berukuran lebar sehingga bisa dimainkan dengan cara dipukul.
Gambar 6: Pembawa Galembong Randai.
2. Gorai
Gorai adalah pemimpin dalam pertunjukan Randai. Gorai memberi kode kepada pemain Randai lainnya untuk meneruskan dan memberhentikan Randai.
Biasanya Gorai memberi kode seperti hep-ta hep-ta. Gorai harus mempunyai suara unik dan keras agar bisa terdengar oleh seluruh pemain Randai.
3. Tukang Dendang
Tukang Dendang adalah bebrapa orang yang menyampaikan gurindam dalam Randai. Tukang dendang biasanya dimainkan oleh perempuan. Kostum tukang dendang adalah memakai baju adat Minangkabau, biasanya memakai baju anak daro.
4. Pemain musik
Pemain musik adalah orang yang mengiringi Dendang dan Pemain Randai.
Pemain musik merupaan unsur vital dalam sebuah pertunjukan Randai. walaupun pemain musik tidak wajib ada di sebtiap Randai namun musik dapat menghidupkan suatu pertunjukan Randai yang membuat Randai menjadi lebih menarik. Alat-alat musik yang biasanya dipakai untuk mengiringi sebuah pertunjukan Randai seperti Gandang, Saluang, Pupuik Sarunai, Talempong.
Gambar 7: Pemain Musik Randai
5. Pemeran Cerita
Pemeran Cerita adalah orang yang memerankan sebuah drama atau teater pada cerita Randai. Banyaknya pemeran cerita dalam sebuah Randai tergantung terhadap cerita yang dibawakan. Cerita Randai biasanya memerankan tokoh-tokoh minang seperti, datuak, malin, bundo kanduang, pandeka, alim ulama, cadiak pandai dan lain-lain.
Gambar 8: Pemeran cerita dalam Randai
3.3.3 Cerita Dalam Randai
Berdasarkan Kaba yang beredar dan berkembang di wilayah Minangkabau, ada banyak cerita yang di ekspresikan kedalam kesenian Randai, salah satunya adalah Randai Sutan Pamenan. Berikut ini adalah contoh teks Randai Sutan Pamenan yang telah disusun kembali oleh Wisran Hadi.
Randai Sutan Pamenan berdasarkan cerita (kaba) yang asli dan disusun kembali oleh Wisran Hadi.
Pelakon:
1. SUTAN PAMENAN
2. TUANKU RAJO TUO (Ayah Sutan Pamenan)(Bapak dari Sutan Pamenan) 3. RAJO ANGEK GARANG
4. BUJANG SALAMAIK 5. INYIAK RANG PALADANG
6. RANIK JINTAN (Tunangan Rajo Angek Garang) SARATO
URANG-URANG DI GALAGGANG I.
RANDAI PEMBUKAAN Kalibuik kapa nak rang Tiku
Kapa nakodo di muaro Dijapuik kaba rang daulu Kaba Tuanku Rajo Tuo Bapak dek Puti Sari Malu
Junjuangan Puti Linduang Bulan Urang tasabuik sajak daulu Urang kiramaik sati pulo Hati di dalam raso ka ramuak Pikiran indak namuah tanang Curito habih gurindam masuak Sinan bakato Tuanku Rajo Tuo (Kelibut kapal anak orang tiku) (Kapal nahkoda di muara) (Dijemput kabar orang dahulu) (kabar tuanku Raja tua)
(Bapak dari Putri sari malu )
(Junjungan putri dari lindung bulan) (Orang tarnama dari dahulu)
(Orang kiramat dan juga sakti) (Remuk rasa hati didalam) (Pikiran tidak mau tenang) (Cerita habis Gurindam masuk)
TUANKU RAJO TUO;
Denai nan banamo Tuanku Rajo Tuo Tuo baasa bausali
Tuo jo adaik jo limbago
Tau diereang dengan gendeang Tau dirantiang nak kamancucuak
Takilek rupo dalam camin Denai dibaliak itu pulo Aluran badan diri denai Denai baranak duo urang Sikua jantan sikua batino
Nan gadang banamo Sutan Pamenan Nan ketek banamo Puti Sarimalu Tantangan diri Sutan Pamenan Siang bamain sipak rago Malam mamancak jo basilek Gilo bahuru hura sajo
Dek bapak kayo mande batuah Mamak disambah urang pulo
(Saya yang bernama tuanku raja tua) (Tua diasah bausali Tua)
(dengan adat dan limbaga) (Tahu dengan aturan adat)
(Tahu dengan Ranting yang akan menusuk) (Terkilat dalam cermin)
(saya dibalik itu pula) (Aluran badan diri saya) (Saya berana dua orang)
(Satu laki-laki satu perempuan) (yang besar bernama sutan pamenan) (yang kecil bernama putri sari malu) (Tantangan diri Sutan Pamenan) (Siang bermain Sepak Raga) (Malam memencak dan bersilat) (yang hanya berhura-hura saja) (karna ayah kaya dan ibu ternama) (paman yang disegani)
(Tantangan hidup putri sari malu) (hidup yang selalu di junjung) (yang lihai bertenun dan bersuri)
II.
RANDAI SUTAN PAMENAN;
Manolah ayah kanduang denai
Agak kamari molah tagak Ado mukasuik nak disampaikan (Dimanakah ayah kandung saya) (kesini lah ayah )
(ada sesuatu yang akan saya sampaikan ) TUANKU RAJO TUO;
Anak kanduang Sutan Pamenan
Anak kanduang Sutan Pamenan