• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAGELARAN RANDAI DI PERANTAUAN. Study Etnografi di Kota Medan SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PAGELARAN RANDAI DI PERANTAUAN. Study Etnografi di Kota Medan SKRIPSI"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

PAGELARAN RANDAI DI PERANTAUAN

“Study Etnografi di Kota Medan”

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Ilmu Sosial dalam Bidang Antropologi

Oleh:

ALFI SYUKRI 130905097

DEPARTEMEN ANTROPOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU POLITIK DAN ILMU SOSIAL

PERNYATAAN ORGINALITAS

Pagelaran Randai di Perantauan

“Study Etnografi di Kota Medan”

SKRIPSI

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajuan untuk memperoleh gelar keserjanaan disuatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.

Apabila dikemudian hari terbukti lain atau tidak seperti yang saya nyatakan disini, saya bersedia diproses secara hukum dan siap meninggalkan kelar sarjana saya.

Medan, November 2017 Penulis

Alfi Syukri

(3)

ABSTRAK

ALFI SYUKRI, 2017. Judul skripsi: Pagelaran Randai di Perantauan “Study Etnografi di Kota Medan”. Skripsi ini terdiri dari 5 BAB, 91 halaman, 17 daftar gambar, 17 daftar pustaka.

Tulisan ini berjudul Pagelaran Randai di Perantauan, Randai yang di ambil adalah study etnografi di kota Medan. Tujuan dari tulisan ini adalah mendeskripsikan bagaimana pagelaran Randai di kota Medan serta perubahannya.

Wujud pagelaran Randai yang dimaksud adalah bagaimana eksistensi, dan pelestarian kesenian Randai di kota Medan serta mendeskripsikan bagaimana Randai di kota Medan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dimana penelitian ini bermaksud memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan secara holistic. Untuk memperoleh data penelitian yang dibutuhkan, menggunakan tekni observasi wawancara. Observasi yang penulis lakukan adalah observasi partisipan dimana penulis ikut langsung di lapangan. Wawancara yang dilakukan dalam penelitian adalah wawancara mendalam, yaitu penulis dan informan berinteraksi satu sama lain dalam waktu yang relatif lama sehingga penulis dapat membangun rapport (hubungan baik) dengan informan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih ada masyarakat Minangkabau yang peduli akan budaya sendiri sehingga masih ada upaya-upaya yang dilakukan oleh perkumpulan masyarakat Minangkabau untuk melestarikan Randai di kota Medan, seperti yang dilakukan oleh Ikatan keluarga Bayur dan Badan Musyawarah Masyarakat Minangkabau Medan. Randai di perantauan terdapat dua bentuk yaitu Randai seperti daerah asal Minangkabau dan Randai yang mengalami perubahan, Randai yang mengalami perubahan baik dari segi fungsi, gerakan, Alat musik, tempat pertunjukan maupun formasi. Randai yang mengalami perubahan seperti gerakan Randai yang mengambil gerakan tarian modern, Alat musik elektronik sebagai pengganti pemain musik Randai yang sudah mulai berkurang di daerah perantauan. Akibat Randai yang memakan waktu terlalu lama dalam pertunjukan mengakibatkan kurangnya minat pertunjukan Randai di perantauan akibat dari hal tersebut menurunnya orderan terhadap Randai di perantauan dan mengalami kelangkaan personil atau pelaku dalam Randai.

Kata-kata Kunci: Kesenian, Pagelaran Randai, Perubahan, Perantauan.

(4)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan Syukur saya ucapkan kehadirat Allah Yang Maha Esa atas berkat dan karuni-Nya Saya dapat Menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) pada departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sumatera Utara.

Skripsi ini merupakan akhir dari perkuliahan saya dan awal bagi saya untuk belajar hal yang baru kembali. Saya ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada kedua orang tua saya, Bapak Bustaman dan Ibu Ermadewita yang telah berjuang dan bekerja keras serta memberi semangat agar saya tetap rajin kuliah, belajar, dan sukses dalam pendidikan. Mereka bekerja tanpa lelah dan pamrih akan keberhasilan saya. Mereka berharap saya akan jadi orang yang sukses nantinya dan dapat mengangkat derajat keluarga, terima kasih juga saya ucapkan kepada kedua saudara saya, kakak saya Nurul Fatma dan suaminya Arif Ade Putra, dan Adik saya Muhammad Aldi Fikri yang selalu mendukung dan memberi semangat kepada saya. Tanpa kasih sayang dan dukungan mereka semua, mungkin perkuliahan saya tidak sesemangat ini.

Terkhusus saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Ibu Dra, Nita Savitri, M. Hum, Sebagai dosen pembimbing skripsi saya yang telah banyak mencurahkan waktu dan ilmu untuk membantu saya menyelesaikan permasalahan perkuliahan dan skripsi. Dimulai dari pengajuan judul hingga pembekalan saya menulis hasil penelitian skripsi. Oleh karena itu, saya sudah anggap sebagai orang

(5)

tua saya di rantau. Sungguh sebuah pengalaman yang berharga untuk saya.

Semoga ibu dan keluarga selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Fikarwin Zuska, sebagai ketua Departemen Antropologi Fisip Universitas Sumatera Utara. Terima kasih juga kepada bapak Agustrisno, M.Sp, Sebagai sekretaris Departemen Antropologi FISIP Universitas Sumatera Utara. Saya berterima kasih juga kepada pembimbing akademik saya yaitu Ibu Dra.Tjut Syahriani M.soc, M.sc, kepada kak Nur sebagai staf Departemen Antropologi, saya ucapkan terima kasih karena telah membantu dan mempermudah segala informasi serta urusan perkuliahan saya.

Terima kasih juga kepada dosen-dosen Antropologi FISIP USU Ibu Sabariah Bangun, ibu Mariana Makmur, Bapak Yance, Bapak Lister Brutu, Ibu Rytha Tambunan, Bapak Zulkifli, Bapak Rhamdani Harahap, Bapak Ermansyah, Bapak Nurman,Ibu Sri Alem Br. Sembiring yang telah memberikan ilmunya dan juga mendidik saya menjadi karakter mahasiswa yang baik. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada informan saya Uda dedi, Uda Aznil, Uda Ainal, Mak gaek, Bapak Edimas Putra (Sutan Pangulu), Muhammad Hasyim, yang mana telah memberikan berbagai macam informasi untuk skripsi saya.

Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada senior saya di Antropologi angkatan 2012, Ida Rahmadani, yang telah memberi nasehat dan membantu saya untuk lebih mudah dalam menyelesaikan skripsi. Terima kasih juga kepada Senior pada jurusan lain Rahmad hidayat, Roni Andriska, Febri, Fauza, Dedi Amin,

(6)

Rian, yang telah memberi nasehat kepada saya selama kuliah saya berlangsung di Univeristas Sumatera Utara. Terima kasih juga kepada teman-teman seperjuangan dari Organisasi Ikatan Mahasiswa Imam Bonjol yaitu Achil, Jimmy, Fadil, Farel, Subqi, Anin, Rendi, Rozi, Tio, Syafri, Nadira, Azita, Mirza, Adik, Elvi, Ami, Dewi, Ulfa, Nia dan banyak lagi yang tidak bisa disebutkan nama satu persatu- satu.

Kerabat dekat saya di Antropologi Sosial Angkatan 2013 seperti Andhika, Pandu, Rizki, Mega, Nazla, Rajali, Marie, Putra, Daniel, Dedek, Bambang, Ammar, Indri, Una dan banyak lainya yang tidak bisa disebutkan namanya satu persatu. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada kerabat junior seperti Vero, Afdhal, Yosri, Bima. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada sahabat saya dari kecil yang berada di kampung halaman, Andre Marta dan Fandi Synapa yang selalu memeberikan dukungan dan semangat serta juga tempat berbagi cerita suka maupun duka.

Medan, Desember 2017

Penulis

Alfi Syukri

(7)

RIWAYAT HIDUP

Alfi Syukri, Lahir pada tanggal 21 November 1994 di Batusangkar Sumatera Barat. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Anak dari pasangan Bustaman dan Ermadewita. Penulis memulai pendidikannya di Taman Kanak-kanak Al-Amin Batusangkar pada tahun 2000. Kemudian masuk ke sekolah dasar SDN 05 Tabek Batusangkar dan selesai pada tahun 2007.

Melanjutkan sekolah tingkat pertama SMP Negeri 3 Pariangan Tanah Datar dan selesai pada tahun 2010. Pada tahun 2013 menyelesaikan sekolah menengah atas di SMA 1 Pariangan Tanah Datar. Kemudian penulis melanjutkan ke Perguruan

(8)

Tinggi Negeri di Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara Pada tahun 2013.

Selama pendidikan di Antropologi FISIP USU, penulis juga mengikuti berbagai kegiatan seperti kepanitiaan inisiasi, seminar di kampus, pengalaman organisasi dan anggota kepanitiaan dalam berbagai organisasi, berikut penjabarannya :

1. Peserta Inisiasi Antropologi Sosial FISIP USU di Danau Toba-Parapat, Sumatera Utara (2013)

2. Peserta PMB Ikatan Mahasiswa Imam Bonjol USU di Sibolangit (2013)

3. Peserta Imib Leadersip Training pada tahaun 2014

4. Panitia Penyambutan Hari Besar Islam Ikatan Mahasisaw Imam Bonjol tahun (2014)

5. Panitia Balai Kerapatan Anggota IMIB USU (2014)

6. Panitia PMB IMIB USU di Sayum Sabah Sibolangit tahun (2014) 7. Panitia Pagelaran Budaya Minagkabau IMIB USU di Gelanggan

Mahasiswa Usu (2015)

8. Top Scorer Sepak Bola Fisip USU (2015)

9. Ketua Panitia pelatihan kepemimpinan IMIB USU di Pancur Batu (2015)

10. Kepala Bidang PTKP pada kepengurusan Organisasi IMIB USU tahun 2014-2015

11. Panitia Sek. Keamanan Inisiasi Antropologi 2015

(9)

12. Mengikuti PKL TBM di Kelurahan Suka Raja Medan (2016)

13. Peserta Training Of Facilitator mata kuliah pembangunan masyarakat di hotel Candi Medan (2016)

(10)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang mana atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat skripsi yang berjudul “Pagelaran Randai di Perantauan, Studi Etnografi di Kota Medan”. Penulis skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sastra Satu (S1) pada Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Skripsi ini berisi kajian berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada anggota organisasi paguyuban Minangkabau di kota Medan, anggota kelompok grup kesinian Minangkabau, dan masyarakat Minangkabau di Kota Medan. Mengkaji apa itu kesenian Randai Minangkabau, bagaimana pagelaran Randai di kota Medan, siapa saja pelaku pelestarian Randai di kota Medan dan melihat perubahan di dalamnya.

Penulis menyadari bahwa skripsi masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi isi maupun dari teknik penulisan. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat diharapkan karena kesempurnaan di masa yang akan datang. Semoga skripsi ini bermanfaat dan memberi kontribusi demi kemajuan ilmu pengetahuan.

Medan, Desember 2017

Penulis

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN... i

PERNYATAAN ORIGINALITAS ... ii

ABSTRAK ... iii

UCAPAN TERIMA KASIH... iv

RIWAYAT HIDUP ... vii

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 6

1.4 Lokasi Penelitian ... 7

1.5 Tinjauan Pustaka ... 8

1.6 Metode Penelitian ... 13

1.7 Pengalaman Penelitan ... 16

1.8 Sistematika Penelitian ... 19

BAB II DISKRIPSI LOKASI PENELITIAN... 20

2.1. Gambaran Umum Kota Medan ... 20

2.2. Organisasi Kedaerahan Minangkabau di Kota Medan ... 24

2.2.1. Organisasi BM3 (Badan Musyawarah Masyarakat Minang) di Kota Medan ... 25

2.2.2. Organisasi IKB ( Ikatan Keluarga Bayur) ... 29

2.3. Pentas Hiburan Tradisional di Kota Medan ... 33

2.4. Grup Kesenian Minangkabau di Kota Medan ... 33

2.4.1 Ikatan Kesenian Sri Antokan ... 34

2.4.2 Ikatan Kesenian Bayur ... 35

BAB III PAGELARAN RANDAI... 36

3.1. Sejarah Kesenian Randai ... 36

3.2. Fungsi Kesenian Randai ... 38

3.3. Tata cara Pertunjukan Randai... 39

3.3.1. Waktu dan Tempat Pertunjukan Randai ... 40

3.3.2. Pemeran dalam Randai ... 40

3.3.3. Cerita dalam Randai ... 43

3.3.4. Alat MusikPengiring Randai ... 62

(12)

BAB IV PAGELARAN RANDAI DI PERANTAUAN... 68

4.1. Pagelaran Randai di kota Medan ... 68

4.1.1 Pagelaran Randai pada Grup Kelompok Kesenian Sri Antokan BM3 Medan ... 69

4.1.2 Pagelaran Randai pada Kelompok Kesenian Ikatan Keluarga Bayur Medan ... 71

4.2. Fungsi Pagelaran Randai di kota Medan ... 73

4.3. Tata cara Pagelaran Randai di kota Medan ... 73

4.4. Pelaku Randai di kota Medan ... 76

4.4.1. Pemain Randai ... 76

4.4.2. Pelatih Randai ... 76

4.5. Perubahan Randai di kota Medan ... 77

4.5.1. Perubahan Tari dalam Randai ... 78

4.5.2. Perubahan Pada Formasi dalam Randai ... 81

4.5.3. Perubahan pada Musik pengiring dalam Randai ... 81

4.5.4. PendapatMasyarakatterhadapperubahanRandai…….. ... 83

4.6. Kendala Pelestarian Randai di kota Medan ... 84

4.6.1. Kurangnya Peminat Randai ... 84

4.6.2. Waktu yang Terbatas ... 85

4.6.3. Sulitnya Mencari Personil dalam Randai ... 86

4.6.4. Sulitnya Mencari Pelatih Randai ... 87

BAB V PENUTUP... 88

5.1 Kesimpulan ... 88

5.2 Saran ... 89

DAFTAR PUSTAKA ... 91 LAMPIRAN

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Peta kota Medan... 24

Gambar 2. Rumah Gadang BM3... 26

Gambar 3.Struktur Organisasi BM3... 29

Gambar 4. Rumah Gadang IKB... 30

Gambar 5. Struktur Organisasi IKB... 33

Gambar 6. Pembawa Galembong Randai... 41

Gambar 7. Pemain Musik Randai... 42

Gambar 8. Pemeran Cerita dalam Randai... 43

Gambar 9. Saluang... 63

Gambar 10. Talempong... 64

Gambar 11. Gandang... 65

Gambar 12. Rabab... 66

Gambar 13. Galembong... 67

Gambar 14. Berlatih Randai di IKB... 72

Gambar 15. Formasi Randai... 82

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah

Pada saat ini kita sudah memasuki era globalisasi, dimana globalisasi begitu mudah diterima oleh masyarakat yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mempu mengubah dunia secara mendasar. Gejala yang menonjol sebagai dampak dari globalisasi adalah terjadinya perubahan budaya dalam masyarakat tradisional yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat terbuka. Begitu juga dengan masyarakat yang merantau, globalisasi telah merubah budaya mereka menjadi terbuka, ditambah lagi oleh faktor telah bercampurnya sebuah kebudayaan dengan kebudayaan lain atau akulturasi.

Berbicara perubahan budaya artinya kita berbicara mengenai proses pergeseran, pengurangan penambahan dan perkembangan unsur-unsur dalam suatu kebudayaan yang terjadi melalui interaksi antara masyarakat pendukung suatu kebudayaan dengan unsur-unsur kebudayaan baru dan penyesuaian unsur- unsur kebudayaan tersebut.Kemampuan berubah merupakan sifat yang penting dalam kebudayaan manusia, tanpa itu kebudayaan tidak akan mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang senantiasa berubah. Sebagaimana kebudayaan memiliki sifat dinamis, yaitu selalu bergerak dan mengalami perubahan baik secara cepat maupun secara lambat.

(15)

Begitu juga dengan kesenian yang merupakan salah satu unsur dari kebudayaan juga ikut mengalami perubahan akibat globalisasi. Kesenian merupakan pola pikir manusia untuk menciptakan karya-karya seni sebagai bentuk kepuasan batin. Melalui karya-karya seni seperti seni sastra, seni musik, seni tari, seni lukis, dan seni drama manusia dapat mengekspresikan ide-ide nilai- nilai, cita-cita dan perasaanya. Banyak hal pada pengalaman yang tidak dapat di ungkapkan dengan bahasa rasional.

Karya-karya seni yang diciptakan oleh manusia dapat dinikmati dandi tonton oleh siapa saja, tidak memandang suku bangsa ataupun kebangsaan, jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan dan status sosial. Kesenian yang bersifat tradisional sudah berakar dan diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya serta menjadi bentuk identitas kelompok yang membedakan dengan kelompok lainnya. Melalui kesenian dapat diketahui sistem dan norma yang berlaku pada suatu masyarakat.

Sebagaimana yang kita ketahui tradisi merantau adalah sebahagian daripada sejarah sosial dan ekonomi masyarakat Melayu salah satunya etnis Minangkabau. Merantau dalam dunia yang tanpa sempadan sebelum wujudnya negara bangsa adalah sesuatu yang lumrah dilakukan oleh masyarakat Melayu untuk mengubah dan meningkatkan status kehidupan seseorang. Merantau dikalangan masyarakat Minang telah berlaku sejak zaman sebelum kemerdekaan yaitu pada tahun 1900, sebahagian masyarakat Minang telah merantau ke wilayah

(16)

timur pulau Sumatera dan seterusnya ke Semananjung Tanah Melayu terutamanya ke Kuala Lumpur.1

Dengan budaya merantau ini secara tidak langsung masyarakat Minangkabau membawa kebudayaannya kedaerah perantauan. Salah satu dari unsur kebudayaan adalah kesenian. Menurut Koentjaraningrat (2009: 165) ada tujuh unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia.

Ketujuh unsur yang dapat kita sebut sebagai isi pokok dari tiap kebudayaan di dunia adalah Bahasa, Sistem Pengetahuan, Organisasi Sosial, Sistem Peralatan Hidup, Teknologi, Sistem Mata pencaharian, Sistem Kepercayaan, dan yang terakhir adalah Kesenian.

Randai merupakan seni teater di Minangkabau karena didalamnya ada dialog dan suatu cerita yang disampaikan, dan unsur lain yaitu musik dan tari.

Dalam pertunjukan Randai ada beberapa alat musik yang digunakan seperti alat musik tiup yaitu Saluang, Pupuik Sarunai, dan Bansi. Begitu juga dengan alat musik pukul seperti Gandang, Talempong dan Tassa. Semua alat musik tersebut adalah alat musik Tradisional Minangkabau. Sementa itu tari dan gerakan-gerakan Randai diambil dari gerakan dasar Silat di Minagkabau, seperti Silat Harimau, Silat Kumango dan lain-lain. Dendang juga merupakan unsur yang sangat penting dalam pertunjukan Randai. Dendang merupaan nyanyian dalam Randai untuk menyampaikan cerita yang akan dibawakan dalam Randai tersebut. Dendang tersebut akan diiringi oleh musik Randai seperti Talempong dan Saluang.

1Nu rindah Aryanu“Strategi Adaptasi Orang Minangkabau”, Jurnal Unnes, Puwokerto, 2013,Hal.

27.

(17)

Istimewanya adalah penonton juga merupakan pelaku didalam Randai dan merupakan suatu ciri khas dalam teater tradisional. Kesenian tradisional Minangkabau pada umumnya selalu menggambarkan sifat kebersamaan dan kegotongroyongan. Hal ini sesuai dengan kehidupan masyarakatnya yang sebagian besar sebagai petani. Sebagai petani mempunyai sifat kegotongroyongan sangat penting dan sifat tersebut terlihat dalam gerakan randai tersebut.

Menurut Yulfian Azrizal (1994;71) “Randai adalah sebuah kesenian yang merupakan permainan anak nagari di Minangkabau. Suatu gerakan yang membentuk lingkaran, kemudian melangkah kecil-kecil secara perlahan, sambil menyampaikan cerita lewat nyanyian secara bergantian.

Mursal Ensten dalam Edy Sedyawati (1986:111), mengungkapkan bahwa :“Randai adalalah suatu bentuk keseniaan tradisional yang hidup bersama tradisi yang berlaku dalam masyarakat minangkabau. Ia hadir bersama upacara-upacara dan acara-acara yang ada dalam masyarakat tradisional Minangkabau”.

Berbicara tentang perubahan pada Randai, berarti kita berbicara tentang perubahan budaya. Artinya kita bicara mengenai proses pergeseran, pengurangan, penambahan, dan perkembangan unsur-unsur dalam suatu kebudayaan yang terjadi melalui interaksi antara masyarakat pendukung suatu kebudayaan dengan unsur kebudayaan yang baru dan melakukan penyesuaian terhadap unsur kebudayaan tersebut.

Menurut Aryandini (2000: 45), seperti kehidupan manusia yang selalu tumbuh dan berkembang, kesenian sebagai salah satu wujud karya manusia juga

(18)

tumbuh dan berkembang. Perkembangan kesenian berdasar waktu atau periode terbagi atas dua yaitu kesenian kuno atau tradisional dan kesenian modern.

Kesenian tradisional atau kuno merupakan suatu kesenian yang dihasilkan secara turun-temurun atau kebiasaan berdasarkan norma-norma yang sudah berlaku.

Sedangan kesenian modern merupakan kesenian yang menghasilkan karya seni modern, karena didalamnya ada unsur pembaharuan, baik dari segi penggunaan media, teknik berkarya, maupun unsur gagasan atau ide.

Randai merupakan salah satu contoh kesenian tradisional atau kuno.

Kesenian Randai memiliki perkembangan yang sangat luas sekali sebagai salah satu kesenian tradisional yang mencakup berbagai macam unsur seni di Minangkabau, baik dari sudut lokasi pertunjukan, maupun perkembangan pertunjukan Randai itu sendiri. Salah satu dampaknya adalah semakin bertambah kuatnya eksistensi Randai sebagai kesenian tradisional Minangkabau.

Randai yang akan penulis teliti adalah bagaimana wujud kesenian Randai yang dipergelarkan di perantauan. Penulis akan melihat bagaimana fungsi Randai diperantauan, bagaimana tatacara pagelaran Randai diperantauan, dan juga melihat siapa saja yang terlibat dalam pagelaran Randai diperantauan. Semua permasalahan diatas bisa dilihat bagaimana wujud Randai diperantauan apakah ada perubahan yang terjadi terhadap Randai yang telah dibawa oleh masyarakat Minangkabau keperantauan khususnya kota Medan.

(19)

1.2.Rumusan Masalah

Berangkat dari uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah pagelaran Randai diperantauan, khususnya kota Medan adalah :

1. Siapa saja yang melakukan Pagelaran Randai di kota Medan ? 2. Dalam rangka apa kesenian Randai dipergelarkan diperantauan?

3. Bagaimana tata cara pagelaran Randai tersebut diperantauan ?

4. Apakah ada perbedaan Randai yang berasal dari Sumatera Barat dengan Randai yang dipergelarkan di kota Medan?

1.3.Tujuan dan Manfaat Penelitian 1) Tujuan Penelitian

 Untuk mengetahui bagaimana eksistensi kesenian teater tradisional Randai di perantauan .

 Untuk mengetahui bagaimana cara penyajian Randai di perantauan

dan apa perbedaannya dengan Randai yang masih asli dari Sumatra Barat.

 Untuk mengetahui fungsi Randai ditampilkan di kota Medan

khususnya bagi masyarakat minang . 2) Manfaat penelitian

Hasil penelitian ini secara teoritis diharapan dapat memberian sumbangan pemikiran dalam memperkaya wawasan sekaligus memperoleh pengetahuan empirik tentang kesenian tradisional Randai.

(20)

Kemudian agar generasi muda dapat mencintai kesenian tradisional Randai khususnya dari etnik Minangkabau agar tetap hidup dan berkembang pada era globalisasi ini .

1.4. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di kota Medan, tepatnya di dua Organisasi Paguyuban Minangkabau di kota Medan yaitu Badan Musyawarah Masyarakat Minang (BM3) Sumatera Utara dan Ikatan Keluarga Bayur (IKB) Medan yang masih mempunyai grup kesenian Minangkabau.Kedua organisasi tersebut merupakan organisasi yang masih mempunyai kelompok kesenian minang yang masih aktif, banyak tari-tarian yang di ajarkan di dalam kedua organisasi tersebut seperti tari Rantak, tari Pasambahan, tari Indang. Badan Musyawarah Masyarakat Minang Sumatera Utara mempunyai sekretariat tetap sekaligus Gedung dan Aula yang terletak di pusat kota Medan, tepatnya pada Jalan Adinegoro No. 1 Gaharu Mumah Gadang (BM3) Sumatera Utara. Masyarakat Minang yang merantau kekota medan dan yang terdaftar sebagai anggota (BM3) menyebut sekretariat BM3 dengan sebutan Rumah Gadang (BM3) Sumatera Utara. Hal tersebut diberi nama sesuai Rumah adat Minangkabau yaitu Rumah Gadang.

IKB atau Ikatan Keluarga Bayur Medan Mempunyai Sekretariat Tetap sekaligus gedung dan aula yang berlokasi di Medan Halat. Tepatnya beralamat Jalan Utama 125/ 71 Matsu II Medan City. Sekretariat IKB juga diberi nama sama dengan nama rumah adat Sumatera Barat yaitu Rumah Gadang. IKB dan BM3

(21)

termasuk organisasi kedaerahan yang aktif di Sumatera Utara khususnya kota Medan.

1.5.Tinjauan Pustaka

Kepustakaan merupakan salah satu sarana (sumber data) untuk membantu sebuah penelitian. Walaupun penelitian ini bersifat penelitian lapangan, namun kepustakaan dalam beberapa hal dapat mendukung penelitian ini, baik sebagai sumber data maupun perbandingan dalam penelitian ini. Mengenai tema penelitian tentang kesenian Randai di perantauan ini, belum ada kajian yang membahas secara spesifik tentang Randai yang hidup dan berkembang di perantauan. Ada banyak penelitian tentang Randai ini ,diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Maizarti Program Pasca Sarjana ISI Padang Panjang, tentang hidupnya kembali Randai Salapan studi kasus di Pandang Panjang. Penelitian ini lebih membahas bagaimana Randai Salapan ini bisa hidup kembali setelah sekian lama fakum atau mati. Kemudian ada juga penelitian lain tentang Randai di Sanggar Minang Saiyo Desa Sijantang Kota Sawahlunto yang di teliti oleh Megawati Mariti sebagai tugas akhir di Universitas Negri Pandang, penelitian Megawati ini lebih berfocus kepada pelestarian kesenian Randai di daerah Randai itu berasal.

Penelitian yang penulis lakukan mengenai kebudayaan, oleh karena itu diperlukan konsepsi mengenai kebudayaan dengan fokus pada bagian dan unsur kebudayaan, yaitu kesenian. Seperti yang dikemukakan Koentjaraningrat (2009:

165) ada tujuh unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di

(22)

dunia, salah satunya adalah Kesenian. Lebih lanjut Koenjaraningrat menjelasan, kesenian merupakan unsur kebudayaan yang keberadaannya sangat diperlukan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Kesenian merupakan salah satu unsur atau elemen yang harus tetap dilestarikan keberadaannya, karena sebagai bentuk aktifitas seni budaya, kesenian mempunyai nilai yang sangat tinggi yang harus dilestarikan demi lestarinya budaya bangsa.

Dalam khasanah Antropologi, cabang ilmu yang mendalami tentang seni tradisional dalam sebuah masyarakat dinamakan dengan Folklor, menurut AlanDundes(1991; 101)mendefinikan folklore sebagai cabang ilmu antropologi

yang mempelajari tentang seni tradisional yang meliputi kesusastraan rakyat, tarian, cerita prosa rakyat, teka-teki, mainan rakyat, seni pertujukan/sandiwara, pribahasa, syair rakyat/nyanyian rakyat dan hikayat baik dalam bentuk lisan maupun yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic devive).

Kasim Achmad dari Direktorat Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2004), mendefinisikan kesenian tradisional sebagai suatu bentuk seni yang bersumber dan berakar serta telah dirasakan sebagai milik sendiri oleh masyarakat lingkungannya. Pengolahannya didasarkan atas cita-cita masyarakat pendukungnya. Hasil kesenian tradisional biasanya diterima sebagai tradisi, pewarisan yang dilimpahkan dari angkatan tua kepada angkatan muda. Sedangkan kesenian nontradisional, dalam beberapa bidang seni sering disebut kesenian modern, yaitu suatu bentuk seni yang penggarapannya didasarkan atas cita rasa baru di kalangan masyarakat pendukungnya. Cita rasa baru ini umumnya adalah

(23)

hasil pembaruan atau penemuan (inovasi atau sebagai akibat adanya pengaruh dari luar dan bahkan sering pula ada yang bersumber dari cita rasa “Barat”) Terdapat kesenian tradisional yang pendukungnya masih banyak, tetapi terdapat pula kesenian tradisional yang pendukungnya mulai surut. Kesenian yang pendukungnya mulai surut pelan-pelan akan lenyap dari muka bumi dan akan tergantikan dengan jenis kesenian yang baru. Kondisi semacam ini bukanlah hal yang mengkhawatirkan karena merupakan sesuatu yang alamiah (sunatullah).

Hanya kesenian yang mampu beradaptasi dengan perubahanlah yang akan tetap eksis.

Dan yang lebih penting, sebagaimana definisi yang dibuat oleh Kasim Achmad, eksistensi kesenian tradisional sangat tergantung kepada bagaimana generasi tua dalam menyiapkan generasi penerus yang akan mengelola kesenian tradisional tersebut di kemudian hari. Jika mereka tidak menyiapkan regenerasi kesenian tradisional dengan baik, terutama untuk para pemainnya, maka masa depan kesenian tradisional tersebut akan terancam.

Mengutip Franz Boas (dalam Birx, 2011: 866), dimana beliau mengatakan :

“Diffusionsm as a corrective to unilijeal evolutionary concepcions of culture change, which articulated the development of cultural traits as a product of independet and isolated trail and error rather than as a product of permeable social worlds facilitating cultural exchange.”

(Penyebaran sebagai korektif untuk keturunan konsepsi evolusi perubahan budaya, yang diartikulasikan dengan perkembangan dan ciri-ciri budaya sebagai produk percobaan independen yang terisolasi dan kesalahan bukan sebagai produk dari dunia sosial yang dapat ditembus memfasilitasi pertukaran budaya).

(24)

Dalam teori ilmu sosial budaya, dua faktor penting yang berpengaruh dalam proses perubahan kebudayaan yaitu; faktor pertama adalah faktor kekuatan dari dalam masyarakat itu sendiri (internal forces), dan faktor kedua yaitu faktor keuatan yang muncul dari luar (external forces). Masing-masing faktor saling berpengaruh terhadap terjadinya proses perubahan kebudayaan,meskipun tidak sesalu sama tingkat dominasinya. Hal itu sangat tergantung adanya tekanan yang mendesak terhadap pergeseran budaya,baik tekanan yang berasal dari dalam maupun dari luar.2

Lebih rinci dijelaskan oleh Marun (2000; 50), faktor yang menyebabkan kebudayaan mengalami perubahan yaitu;

 Disebabkan perubahan lingkungan alam, misalnya perubahan iklim, kekurangan bahan makanan atau bahan bakar,atau berkurangnya jumlah penduduk. Semua ini memaksa orang untuk beradaptasi.

 Perubahan yang disebabkan adanya kontak dalam suatu

kelompok masyarakat yang memiliki norma-norma, nilai- nilai dan teknologi yang berbeda.

 Perubahan yang terjadi karena discovery (penemuan) dan

invention (Penciptaan bentuk baru).

 Perubahan yang terjadi karena suatu masyarakat atau suatu

bangsa mengadopsi beberapa elemen kebudayaan material yang telah dikebangkan oleh bangsa lain ditempat lain.

2Slamet Subiatoro, “Perubahan Fungsi Seni Tradisi”, Jurnal Seni Isi, Yogyakarta, 1999, No. VI/04 Mei, hal. 343.

(25)

Pengadopsian elemen-elemen kebudayaan yang bersangkutan dimungkinkan oleh apa yang disebut difusi, yaitu proses persebaran unsur-unsur kebudayaan dari masyarakat yang satu kemasyarakat lain.

 Perubahan yang terjadi karena suatu bangsa memodifikasi

cara hidupnya dengan mengadopsi suatu pengetahuan atau kepercayaan baru, atau karena perubahan dalam pandangan hidup dan konsepsinya tentang realitas hidup.

Kesenian Randai yang hidup di perantauan merupakan salah satu contoh dari globalisasi yang berdampak kepada kebudayaan suatu masyarakat.

Ketertarikan Penulis terhadap kesenian Randai diperantauan adalah bagaimana wujud dari Randai di perantauan itu sendiri dan bagaimana Randai dapat bertahan ditengah arus globalisasi informasi serta faktor dari percampuran kebudayaan atau akulturasi didaerah perantauan. Kesenian Randai di kota Medan telah mengalami perubahan-perubahan baik dari sisi pertunjukan seperti tempat pertunjukan, gerakan Randai, musik Randai, pelaku Randai, bahkan cerita Randai. Tidak hanya dari sisi pertunjukan, Randai juga berubah dari segi fungsi. Fungsi disini lebih dekat kepada fungsi menurut Bronislaw Malinowsky. Menurut Bronislaw Malinowsky (1884-1942) fungsi kebudayaan itu adalah Kemampuannya untuk memenuhi beberapa kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar yaitu kebutuhan sekunder dari para warga suatu masyarakat.

Kebutuhan pokok adalah seperti makanan dan reproduksi (melahirkan keturunan)

(26)

Hal diatas mempunyai tujuan yaitu agar permainan tersebut tetap bertahan supaya dapat menarik peminatnya, khususnya masyarakat Minangkabau di kota Medan dan sekitarnya. Sehingga budaya Minangkabau dapat menampakkan identitasnya dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman di daerah perantauan. Oleh karena itu, kesenian sebagai bagian dari kebudayaan masih tetap bertahan sebagai identitas budaya masyarakat Minangkabau.

1.6. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif.

Metode kualitatif dimana penelitian bermaksud untuk memahami fenomena apa yang dialami oleh subjek peneliti misalnya, perilaku, persepsi, motivasi ,tindakan secara holistic. Untuk itu dilakukan langkah-langkah dan teknik penelitian sebagai berikut :

a. Teknik observasi

Teknik observasi yang digunakan adalah observasi partisipasi yaitu peneliti ikut terlibat langsung dilapangan. Penulis melakukan pengamatan dengan cara mengamati waktu ruang dan tempat, siapa pelaku yang terlibat, alat-alat yang digunakan ,waktu , peristiwa serta aktifitas yang dilakukan oleh pelaku dari Randai tersebut. Penulis telah melakukan obeservasi partisipan di IKB dan BM3 adalah menyaksikan latihan Randai dan Tari, bahkan sesekali penulis mengikuti gerakan apa yang diajarkan oleh pelatih Randai, pada rumah gadang BM3 penulis melakukan observasi partisipan, penulis ikut bergabung dan bercerita di kedai

(27)

BM3 sembari mencari data mengenai hal yang berkaitan dengan Randai dan BM3.

Tujuan untuk melakukan observasi partisipasi adalah untuk lebih memahami bagaimana permasalahan kesenian Randai tersebut diperantauan peneliti dapat mengamati bagaimana pagelaran Randai dikota Medan tersebut .

b. Teknik Wawancara

Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang penulis lakukan. Penulis melakukan wawancara dengan pengurus IKB(Ikatan Keluarga Bayur) dan Pengurus BM3(Badan Musyawarah Masyarakat Minangkabau) selaku informan. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara mendalam, yaitu penulis berinteraksi satu sama lain dalam waktu yang relatif lama sehingga penulis dapat membangun rapport (hubungan baik) dengan informan. Penulis membagi informan menjadi tiga jenis yaitu: informan kunci dan informan biasa dan informan pangkal . Informan kunci adalah orang yang betul-betul paham degan seluk beluk BM3 dan IKB, yang paling penting adalah paham mengenai kesenian Randai.Penulis telah mewawancarai Pelatih Randai bapak Edimas Putra pada IKB, uda Haznil,uda Dedi dan uda Ainal pada BM3 .

Selanjutnya informan biasa, informan biasa adalah orang-orang yang terlibat dalam Kesenian Randai, seperti pemain Randai, pendendang Randai, pemain musik Randai. Penulis telah mewawancarai penikmat kesenian Randai di kota Medan seperti uda Rahmat Hidayat.

(28)

Informan Pangkal adalah yang pertama kali memberi petunjuk terhadap objek penelitian dan memberikan arahan menuju informan kunci. Mak Gaek dan Muhammad Hasyim merupakan informan pangkal yang telah penulis wawancarai sebelum menemukan informan kunci.

Wawancara dilakukann secara langsung akan tetapi tidak tertutup kemungkinan wawancara dilakukan melalui handphone. untuk menjaga agar wawancara tetap pada fokus penelitian, penulis juga mengguanakan interview guide (panduan wawancara)sehingga pertanyaan-pertanyaan yang dilakukan tetap terarah dan tidak lari dari fokus penelitian.

c. Analisis data

Semua data yang diperoleh dari hasil Obserbasi partisipasi dan wawancara ,dioalah dan dianalisis dengan pernyataan. Pada akhirnya kegiatan ini bertujuan untuk memeriksa kembali kelengkapan lapangan hasil wawancara, Kemudian data tersebut disampaikan dalam bentuk laporan sebagai tujuan akhir dari penelitian.

d. Studi Kepustakaan

Studi kepustakan ialah segala usaha yang dilakukan oleh penulis untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti. Informasi itu dapat diperoleh dari buku-buku ilmiah, laporan penelitian, karangan-karangan ilmiah, tesis dan disertasi, peraturan-peraturan, ketetapan-ketetapan, buku tahunan, ensiklopedia dan sumber-sumber tertulis baik tercetak maupun elektronik lain.Studi kepustkaan merupakan suatu kegiatan yang

(29)

tidak dapat dipisahkan dari suatu penelitian. Teori-teori yang mendasari masalah dan bidang yang akan diteliti dapat ditemukan dengan melakukan studi kepustakan. Dengan melakukan studi kepustakan peneliti dapat memanfaatkan semua informasi dan pemikiran-pemikiran yang relevan dengan penelitiannya.Penulis akan melakukan studi kepustakaan baik sebelum maupun selama dia melakukan penelitian. Studi kepustakan memuat sitematis tentang kajian literatur dan hasil penelitian sebelumnya yang ada hubungannya dengan penelitian yang akan dilakukan.

1.7. Pengalaman Penelitian

Penelitian ini penulis mulai pada bulan Juni sampai dengan bulan September 2017 di Ikatan Keluarga Bayur Medan dan di Badan Musyawarah Masyarakat Minang. Kedua Organisasi Paguyuban tersebut merupakan organisasi kedaerahan Sumatera Barat atau Minangkabau yang masih aktif sampai sekarang di kota Medan. Pada saat penulis melakukan bimbingan proposal dengan pembimbing yaitu ibu Nita Savitri, penulis menyebutkan susah sekali mencari kajian pustaka mengenai Randai di Perantauan karena kebanyakan kajian-kajian mengenai Randai ini hanya terdapat pada daerah asalnya yaitu Sumatera Barat atau wilayah Minangkabau saja.

Setelah proposal penelitian penulis di acc oleh jurusan dan mendapat surat izin ke lapangan, penulis langsung melakukan penelitian di kedua Organisasi

(30)

paguyuban BM3 atau Badan Musyawarah Masyarakat Minang dan IKB atau Ikatan Keluarga Bayur kota Medan.

Penulis terlebih dahulu melakukan obeservasi ke BM3, Ketika penulis mengantar surat penelitian ke Rumah Gadang BM3, penulis langsung menemui seseorang yang sebelumnya sudah kenal dengan penulis. Mak Gaek adalah panggilan dari Informan pangkal penulis ketika mengantarkan surat penelitian ke BM3. Mak Gaek merupakan Senior atau tetua yang sudah lama tinggal di sebelah Rumah Gadang BM3, Mak Gaek merupakan penjaga kedai disana yang biasa tempat duduk- duduk bagi masyarakat minangkabau yang ingin bermain domino, koa, bahkan hanya sekedar minum kopi. Di kedai tersebut penulis melihat beberapa foto-foto kesenian Randai BM3 yang pernah aktif, dan penulis juga melihat berbagai macam alat musik Minangkabau tersusun rapi di ruangan bagian belakang kedai tersebut. Penulis mengantarkan surat lapangan tidak sendiri, melainkan ditemani oleh salah seorang teman penulis yang juga merupakan mahasiswa Antropologi stambuk 2014 yaitu Vero Kurniawan.

Penulis menemukan kendala ketika mengantar surat penelitian tersebut, karena pengurus BM3 tersebut hanya sesekali melakukan rapat dan datang ke Rumah Gadang tersebut. Pada akhirnya penulis harus bersabar menunggu sampai pengurus di BM3 penulis temui karena Rumah pengurus yang lumayan jauh dari Rumah Gadang BM3. Setiap Jumat Malam penulis mendatangi Rumah Gadang BM3 karena pada malam tersebut merupakan jadwal latihan dari IKSA atau Ikatan Kesenian Sri Antokan. Disanalah Penulis melakukan penelitan setiap jumat malam. Setelah tiga minggu berturut-turut penulis menyaksikan latiahn kesenian

(31)

miang di Rumah gadang BM3, barulah penulis melakukan wawancara dengan informanKey. Penulis melakukan wawancara mendalam dengan ketua IKSA yaitu bapak Arman Piliang.

Penulis juga melakukan penelitian di Ikatan Keluarga Bayur kota Medan, Ikatan Keluarga Bayur merupakan ikatan kedaerahan Minangkabau yang paling aktif pada saat sekarang ini. Penulis langsung datang ke Rumah Gadang IKB untuk mengantarkan surat penelitian, pada saat tiba di Rumah Gadanng IKB, penulis melihat ada beberapa kesenian Minang yang di ajarkan disana, penulis langsung menemui pelatih dan memberikan surat izin lapangan. Setiap Selasa malam penulis datang ke Rumah Gadang Ikatan Keluarga bayur karena selasa malam merupakan hari latihan Ikatan Kesenian Keluarga Bayur. Sebelum penulis melakukan wawancara mendalam dengan informan kunci di IKB, penulis selalu bercerita dengan anak dari pelatih Randai dan Silat IKB, dia juga adalah salah seorang mahasiswa UMSU tingkat akhir, dan penulis sembari bertanya mengenai siapa pelatih dan Ketua IKB sebelum melakukan wawancara mendalam.

Kemudain setelah pelatih selesai melatih, penulis langsung menemui Informan kunci, Informan kunci di IKB bernama Sutan, dia adalah seorang pelatih silat dan Randai.

Sebagaimana yang disarankan oleh dosen pembimbing supaya mencari buku-buku yang berkaitan dengan penelitian penulis di perpustakaan- perpustakaan yang ada di kota Medan, penulis pergi ke perpustakaan kota Medan untuk mencari buku, perustakaan USU dan juga perpustakaan, Selama penulis mencari buku, penulis ditemani oleh dua teman yaitu Syafri Mahardianto dan

(32)

Roni Andriska, selain menemani penulis tujuan mereka adalah juga mencari buku karena juga merupakan mahasiswa yang sedang membuat tugas akhir kuliah.

1.8. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pembahasan skripsi secara keseluruhan menjadi sistematis, penyusun sedemikian rupa ke dalam sistematika penulisan. Masing- masing bab terdiri dari beberapa sub bab. Adapun sistematika penyusunannya sebagai berikut ;

 BAB I berisi latar belakang masalah, rumasan masalah, tujuan dan

manfaat penelitian, lokasi penelitian,tinjauan pustaka, metode penelitian, pengalaman penelitian dan sitematika penulisan.

 BAB II berisi gambaran umum lokasi penelitian.

 BAB III berisi tentang gambaran topik penelitian, yaitu sejarah

kesenian Randai, fungsi permainan Randai, tata cara Pertunjukan Randai.

 BAB IV berisi jawaban dari rumusan masalah penelitian yakni

tentang wujud pagelaran Randai di perantauan, perubahan Randai di perantauan.

 BAB V berisi kesimpulan dari semua bab tentang keseluruhan hasil penelitian dan juga kesimpulan analisis teori berdasarkan data penelitian serta saran penelitian.

(33)

BAB II PENDAHULUAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITAN DAN ORGANISASI KEDAERAHAN MINANGKABAU

2.1. Gambara Umum Kota Medan.

Salah satu kota yang menjadi tujuan merantau adalah kota Medan. Secara Geografis Kota Medan terletak di bagian utara Pulau Sumatera. Posisi koordinatnya adalah 3°35LU dan 98°$0BT Kota medan berbatasan dengan Selat Malaka di sebelah utara dan Kabupaten Deli Serdang disebelah barat dan timur.

Medan menjadi salah satu tempat yang strategis karena berada di jalur pelayaran Selat Malaka. Dengan demikian, kota Medan menjadi pintu gerbang kegiatan ekonomi domestik dan mancanegara yang melalui Selat Malaka. Selain itu Medan berbatasan dengan Deli Serdang dan juga beberapa daerah kaya sumber daya alam , Mempengaruhi kota Medan dalam Hal ekonomi sehingga mempunyai kerjasama yang baik antar daerah sekitarnya. Luas Kota Medan adalah sekitar 20.510 hektar atau setara dengan 265, 10 KM2. Dengan kata lain, Medan memiliki wilayah 3,6%

dari keseluruhan Sumatera Utara. Kota medan jika dilihat dari topografi nya cendrung miring ke utara. Kota ini berada pada 2,5 hingga 3,5 meter di atas perukaan laut. BeberapaSungai yang mengalir Kota Medan adalah Sungai Belawan, Sungai Badera, Sungai Sikambing dan Sungai Tuntungan. Kota Medan dipimpin oleh seorang walikota. Secara administratif, Medan terdiri atas 151 Kelurahan dan 21 kecamatan, diantaranya adalah Medan Tuntungan, Medan Johor, Medan Amplas, Medan Denai, Medan Area, Medan Kota, Medan Maimun,

(34)

Medan Polonia, Medan Baru, Medan Selayang, Medan Sunggal, Medan Helvetia, Medan Petisah Medan Barat, Medan Timur, Medan Perjuangan, Medan Tembung, Medan Deli, Medan Labuhan, Medan Marelan, Medan Belawan.

Perkembangan Kota Medan yang cukup pesat dari waktu ke waktu mendorong terjadinya migrasi besarbesaran dari berbagai suku bangsa untuk mencoba mengadu nasib di kota ini, tak terkecuali suku bangsa Minangkabau.

Suku bangsa Minangkabau terkenal dengan tradisi merantau. Merantau dalam pengertian di sini adalah meninggalkan kampung halaman mereka dan menetap di tempat lain yang dianggap dapat memberikan kehidupan yang layak (Amir B, 1982: 219). Proses merantau menurut Naim (1984: 228) disebabkan oleh tiga faktor, yaitu: faktor ekologi dan geografis, faktor ekonomi dan faktor pendidikan.

Selain faktor-faktor itu, proses merantau pada suku bangsa Minangkabau juga didorong oleh nilai budayanya (Pelly, 1988: 19). Hal itu tertuang dalam pepatah berikut:

Karatau madang di hulu Babuah babungo alun Marantau bujang dahulu Di rumah baguno balun (Karatau madang di hulu Berbuah berbunga belum Merantau bujang dahulu Di rumah berguna belum)

Besarnya migrasi dari berbagai suku bangsa pendatang ini jumlahnya tidak tetap dan sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi saat itu. Lebih lanjut, Naim

(35)

(1984) menjelaskan bahwa besarnya migrasi suku bangsa Minangkabau ke Kota Medan pada tahun-tahun permulaan tidak pernah terdata secara pasti. Namun data sensus pada tahun 1930 menunjukkan angka sebanyak 5.048 jiwa suku bangsa Minangkabau yang bertempat tinggal di Kota Medan. Dalam jangka waktu lima puluh tahun kemudian yaitu tahun 1980 terjadi kenaikan dengan total jumlah penduduk 141.507 jiwa. Keberadaan suku bangsa Minangkabau di Kota Medan pada masa dahulu dari tahun ke tahun jumlahnya tidak tetap. Hal ini dipengaruhi oleh keadaan atau situasi politik pada masa itu, baik di daerah rantau ataupun di daerah asalnya. Misalnya pada masa Perang Dunia II dan perang kemerdekaan Indonesia, kebanyakan perantau kembali ke kampungnya. Sedangkan ketika terjadi pemberontakan PRRI jumlah perantau ke Kota Medan meningkat.

Namun, data statistik menunjukkan bahwa angka rata-rata kenaikan perantau Minangkabau sejalan dengan kenaikan rata-rata penduduk Kota Medan secara keseluruhannya. Beradanya suatu kelompok masyarakat tertentu di daerah perantauan bukan berarti hanya merupakan sekumpulan orang-orang yang tersebar di tanah rantau, tetapi mereka juga makhluk sosial yang mengaktualisasikan budayanya. Oleh karena itu, orang-orang yang tinggal di daerah rantau ini biasanya membentuk suatu kelompok-kelompok sesuku bangsa atau sedaerah guna memenuhi kebutuhan psikologis mereka. Kelompok sesuku bangsa yang dibentuk oleh perantau ini, biasa disebut paguyuban (Depdikbud, 2000: 2).

(36)

Gambar 1: Peta Kota Medan.

2.2. Organisasi Kedaerahan Minangkabau di Kota Medan.

Paguyuban dapat berbentuk atau bersifat kesukubangsaan maupun kedaerahan. Kata paguyuban sendiri berasal dari kata “guyub” dalam bahasa Jawa yang artinya “bersama-sama” atau “kumpul”. Paguyuban yang bersifat kesukubangsaan, anggotanya berasal dari suku bangsa yang sama atau satu suku bangsa, misalnya Badan Musyawarah Masyarakat Minang (BM3), Putra Jawa Kelahiran Sumatera (PUJAKESUMA). Paguyuban yang bersifat kedaerahan, anggotanya berasal dari daerah yang sama atau satu daerah. Bisa yang berasal dari satu kotamadya, kabupaten maupun daerah propinsi, seperti Ikatan Keluarga Labuhan Batu (IKLAB). Dengan demikian paguyuban suku bangsa mengacu pada kesatuan suku bangsa. Sedangkan paguyuban kedaerahan mengacu pada kesatuan

(37)

daerah asal. Konsep paguyuban dalam penelitian ini juga identik atau disamakan dengan organisasi sosial. Badan Musyawarah Masyarakat Minang (BM3) adalah organisasi sosial berdasarkan kesukubangsaan yang dibentuk dan berdiri pada tahun 1967 di Kota Medan, dengan tujuan untuk menghimpun dan menyatukan seluruh masyarakat Minangkabau yang merantau ke Sumatera Utara.

2.2.1. Organisasi BM3 (Badan Musyawarah Masyarakat Minangkabau) Kota Medan.

Badan Musyawarah Masyarakat Minang Sumatera Utara mempunyai sekretariat tetap sekaligus Gedung dan Aula yang terletak di pusat kota medan, tepatnya pada Jalan Adinegoro No. 1 Gaharu Mumah Gadang BM3 Sumatera Utara. Masyarakat Minang yang merantau kekota Medan dan yang terdaftar sebagai anggota BM3 menyebut sekretariat BM3 dengan sebutan Rumah Gadang BM3 Sumatera Utara. Hal tersebut diberi nama sesuai Rumah adat Minangkabau yaitu Rumah Gadang. Secara umum tidak ada batas khusus terhadap wilayah- wilayah yang menjadi cakupan Badan Musyawarah Masyarakat Minangkabau, hal tersebut dikarenakan perkumpulan atau organisasi paguyuban yang berasal dari minangkabau lebih tertuju kepada daerah asal masyarakat itu sendiri, bukan berdasarkan wilayah yang ditempati di Kota Medan.

Jumlah organisasi yang cukup banyak akhirnya menjadi masalah bagi suku bangsa Minangkabau yang merantau di Kota Medan, karena menyebabkan terjadinya pengkotakan dan benturan di kalangan mereka saat itu. Pada tahun

(38)

1965, Walikota Medan saat itu, yaitu Drs. Surkani mengundang berbagai organisasi sosial suku bangsa Minangkabau yang ada saat itu untuk berdialog.

Dari pertemuan itu, keluarlah ide untuk menghimpun seluruh suku bangsa Minangkabau yang merantau di Sumatera Utara. Akhirnya pada tahun 1971, atas kesepakatan bersama suku bangsa Minangkabau yang merantau di Kota Medan lewat suatu proses musyawarah yang difasilitasi oleh Pemerintahan Kota Medan saat itu, maka didirikanlah Badan Musyawarah Masyarakat Minang (BM3), dengan Ketua Umum Brigjend Sofyar. Berdirinya Badan Musyawarah Masyarakat Minang (BM3) ini tidak serta merta menghapus berbagai organisasi sosial suku bangsa Minangkabau yang telah ada sebelumnya. Badan Musyawarah Masyarakat Minangkabau (BM3) ini, lebih seperti wadah atau “payung panji”

yang menampung berbagai macam organisasi sosial di dalamnya.

Gambar 2: Rumah Gadang BM3 Medan.

(39)

A. Kegiatan Badan Musyawarah Masyarakat Minang (BM3)

Kegiatan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi paguyuban tidak terlepas dari program kerja dari bidang kepengurusan organisasi tersebut seperti mengadakan arisan dan pengajian yang biasanya dikelola oleh bidang kerohanian, begitu juga dengan kesenian yang dikelola oleh organisasi tersebut. Ada wadah yang menjalakan atau mengaktifkan kesenian di organisasi tersebut. Pada BM3 terdapat tujuh Bidang keorganisasian yang menjalankkan program kerja organisasi BM3. Bidang tersebut adalah sebagai Berikut:

1. Bindang Organisasi Internal dan Eksternal

Bidang organisasi Internal dan Eksternal adalah Bidang yang bertugas sebagai pengelola keangotaan atau dalam organisasi dan bertugas sebagai pengelola hubungan dengan luar organisasi. Kegiatan yang biasa dilakukan oleh bidang ini adalah melakukan komunikasi yang baik dengan organisasi paguyuban lainnya dan menghadiri undangan dari organisasi paguyuban lainnya, seperti menghadiri acara dari ikatan Keluarga Aceh dan sebagainya.

2. Bidang Ekonomi dan Keuangan

Bidang Ekonomi dan keuangan adalah bidang yang mengurus atau bertugas mengatur keuangan suatu organisasi dan bekerjasama dengan bendahara umum organisasi.

3. Bidang Pengadaan Sarana Prasarana

(40)

Bidang pengadaan Sarana Prasarana adalah bidang yang bertanggung jawab terhadap sarana dan prasarana pada BM3 yang telah ada dan mengelola prasarana yang telah ada.

4. Bidang Kesejahteraan

Bidang yang mengelola dan bertugas untuk kesejahteraan anggota pada BM3.

5. Bidang Sosial dan Dakwah

Bidang Sosia dan dakwah adalah bidang yang bertugas sebagai pengelola dan sebagai wadah untuk berdakwah dan menambah ilmu agama. Kegiatan yang biasa dikelola oleh bidang sosial dan dakwah adalah melakukan pengajian dan arisan setiap bulannya, mengadakan bakti sosial untuk memberi nafkah fakir dan miskin.

6. Bidang Pengabdian Masyarakat

Bidang Pengabdian Masyarakat adalah bidang yang mempunyai progam kerja bertujuan untuk mengabdi kepada masyarakat. Kegiatan biasa yang dilakukan oleh bidang ini adalah membantu masyarakat dalam bidang ekonomi atau bidang lainnya.

7. Bidang Kesenian dan Budaya

Bidang kesenian dan budaya adalah bidang yang bertanggung jawab sebagai wadah masyarakat minangkabau untuk melestarikan kebudayaan minangkabau itu sendiri. Bidang kesenian itu sendiri diwakili oleh sebuah ikatan Kesenian yang mengelola. Kegiantan yang biasa dilakukan oleh bidang kesenian dan budaya adalah melakukan

(41)

latihan tari dan Randai setiap minggunya. Mengisi acara pernikahan dan acara-acara lainnya apabila ada panggilan untuk mengisinya.

B. Struktur Organisasi BM3 (Badan Musyawarah Masyaraat Minangkabau) Medan.

Struktur Organisasi Bandan Musyawarah Masyarakat Minangkabau Kota Medan Periode 2015 sampai 2020 adalah sebagai berikut:

Gambar 3: Struktur Organisasi BM3

2.2.2. Organisasi Ikatan Keluarga Bayur (IKB)

IKB atau Ikatan Keluarga Bayur Medan Mempunyai Sekretariat Tetap sekaligus gedung dan aula yang berlokasi di Medan Halat. Tepatnya beralamat Jalan Utama 125/ 71 Matsu II Medan City. Sekretariat IKB juga diberi nama sama dengan nama rumah adat Sumatera Barat yaitu Rumah Gadang. Secara umum tidak ada batas khusus terhadap wilayah-wilayah yang menjadi cakupan IKB, hal tersebut dikarenakan perkumpulan atau organisasi paguyuban yang berasal dari

Penasehat: Syahrudin Ali

Ketua Umum:

Delyuzar

Sekretaris:

Irvan Masyar

Bendahara:

Eldina Amelia

Wakil Ketua:

Wahyudi

(42)

Minangkabau lebih tertuju kepada daerah asal masyarakat itu sendiri, bukan berdasarkan wilayah yang ditempati di Kota Medan.

Ikatan Keluarga Bayur Medan berdiri pada tahun 11 Mei 1952, Ada beberapa tokoh Bayur yang mendirikan Ikatan keluarga Bayur, yaitu Luthan Sutan Tunaro Sebagai Penasehat organisasi, Ibrahim Sutan Syarifudin sebagai ketua Pertama Ikatan Keluarga Bayur. Menurut mantan ketua IKB periode 2012- 2017 yaitu bapak Irianli Suni S.E (Sutan Bagindo), IKB adalah organisasi paguyuban yang pertama kali berdiri di kota Medan. IKB jauh lebih dahulu terbentuk dari pada Badan Musyawarah Masyarakat Minang yang sekarang menjadi payung panji masyarakat Minang di kota Medan.

Gambar 4: Rumah Gadang IKB

A. Kegiatan Organisasi IKB

Kegiatan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi paguyuban tidak terlepas dari program kerja dari bidang kepengurusan organisasi tersebut seperti

(43)

mengadakan arisan dan pengajian yang biasanya dikelola oleh bidang sosial dan dakwah, begitu juga dengan kesenian yang dikelola oleh organisasi tersebut. Ada wadah yang menjalakan atau mengaktifkan kesenian di organisasi tersebut. Pada Ikatan Keluarga Bayur terdapat tujuh Bidang keorganisasian yang menjalankkan program kerja organisasi IKB. Bidang tersebut adalah sebagai Berikut:

1. Bindang Organisasi Internal dan Eksternal

Bidang organisasi Internal dan Eksternal adalah Bidang yang bertugas sebagai pengelola keangotaan atau dalam organisasi dan bertugas sebagai pengelola hubungan dengan luar organisasi. Kegiatan yang biasa dilakukan oleh bidang ini adalah melakukan komunikasi yang baik dengan organisasi paguyuban lainnya dan menghadiri undangan dari organisasi paguyuban lainnya, seperti menghadiri acara dari ikatan Keluarga Aceh dan sebagainya.

2. Bidang Ekonomi dan Keuangan

Bidang Ekonomi dan keuangan adalah bidang yang mengurus atau bertugas mengatur keuangan suatu organisasi dan bekerjasama dengan bendahara umum organisasi.

3. Bidang Pengadaan Sarana Prasarana

Bidang pengadaan Sarana Prasarana adalah bidang yang bertanggung jawab terhadap sarana dan prasarana pada IKB yang telah ada dan mengelola prasarana yang telah ada.

4. Bidang Kesejahteraan

(44)

Bidang yang mengelola dan bertugas untuk kesejahteraan anggota pada IKB.

5. Bidang Sosial dan Dakwah

Bidang Sosia dan dakwah adalah bidang yang bertugas sebagai pengelola dan sebagai wadah untuk berdakwah dan menambah ilmu agama. Kegiatan yang biasa dikelola oleh bidang sosial dan dakwah adalah melakukan pengajian dan arisan setiap bulannya, mengadakan bakti sosial untuk memberi nafkah fakir dan miskin.

6. Bidang Pengabdian Masyarakat

Bidang Pengabdian Masyarakat adalah bidang yang mempunyai progam kerja bertujuan untuk mengabdi kepada masyarakat. Kegiatan biasa yang dilakukan oleh bidang ini adalah membantu masyarakat dalam bidang ekonomi atau bidang lainnya.

7. Bidang Kesenian dan Budaya

Bidang kesenian dan budaya adalah bidang yang bertanggung jawab sebagai wadah masyarakat minangkabau untuk melestarikan kebudayaan minangkabau itu sendiri. Bidang kesenian itu sendiri diwakili oleh sebuah ikatan Kesenian yang mengelola. Kegiantan yang biasa dilakukan oleh bidang kesenian dan budaya adalah melakukan latihan tari dan Randai setiap minggunya. Mengisi acara pernikahan dan acara-acara lainnya apabila ada panggilan untuk mengisinya.

(45)

B. Struktur Organisasi IKB

Gambar 5: Struktur Organisasi IKB

2.3. Pentas Hiburan Tradisional di Kota Medan.

Pekan Raya Sumatera Utara atau sering disebut PRSU merupakan salah satu pentas hiburan tradisional masyarakat yang sangat bersar. PRSU yang terletak di jalan Medan-Binjei Km 6 ini biasanya diadakan satu kali satu tahun yang juga merupakan ajang pesta budaya, budaya yang ditampilkan mulai dari kesenian tari tradisional, adat-istiadat, rumah adat tradisional, makanan tradisional Sumatera Utara, semua kabupaten dan kota di Sumatera Utara ikut terlibat dalam pagelaran akbar tersebut. Keberadaan PRSU ini sangat penting dan perlu di kota Medan mengingat Medan sendiri merupakan kota yang majemuk, masyarakat kota Medan sangat antusias terhadap kehadiran PRSU, hal tersebut bisa juga memperkenalkan budaya Sumatera Utara. Namun belum ada perwakilan dari etnis

Penasehat: Niniak Mamak, Alim Ulama, Cadaiak Pandai

Sekretaris: H Hendri Madri

Ketua : Tamrin K Piliang

Bendahara:

Surya Putra Sani

(46)

di luar Sumatera Utara yang masyarakatnya termasuk yang dominan di kota Mdan, seperti suku bangsa Minangkabau dan Aceh.

2.4. Grup Kesenian Minangkabau di Kota Medan.

Kehadiran Rumah Gadang Badan Musyawarah Masyarakat Minang di kota Medan sebagai tempat bermusyawarah dan sebagai pusat kegiatan budaya suku bangsa Minangkabau ,BM3 lewat departemen kebudayaannya mengelolah sedikitnya 15 kelompok kesenian Minangkabau. Yaitu, Riak Miang, Riak Danau, Ikatan kesenian Sri Antokan, Tuah Sakato, Taratak Minang, Kesenian Pulau Brayan Darat (KPBD), Sumarak Anjuang, Ikatan Kesenian Minang Saiyo, Ikatan Kesenian Ranah Minang, Lawang indah, Lawang Sakato,Sinar Mnang, Sarumpun Manau, Binuang Sati, Carano Sati, dan Ikatan Kesenian Bayur. Penulis Memfokuskan penelitian kepada 2 ikatan kesenian yang masih aktif sampai saat ini, yaitu Ikatan Kesenian Sri Antokan dan Ikatan Kesenian Bayur.

2.4.1. Ikatan Kesenian Sri Antokan

Ikatan kesenian Sri Antokan atau disingkat dengan IKSA, didirikan pada tahun 1966. Pendiri Ikatan kesenian sri antokan ini adalah seorang tokoh seni di nusantara yaitu bapak Pustami Kabal. Pustami Kabal adalah pelopor kesenian nusantara dari Minangkabau, dia juga merupakan seorang duta kesenian di Malaisya pada masa itu. Menurut uda Dedi salah seorang informan pada ikatan

(47)

seni Sri Antokan dan sekaligus pemain Randai pada Ikatan Sri Antokan ini.

Wilayah Minangkabau yang mencakup IKSA adalah Tanjung Raya, Tanjung Mutiara, Lubuk Basung, namun tidak tertutup kemungkinan anak-anak dari wilayah diluar tersebut masuk dalam Ikatan Kesenian Sri Antokan.

Kesenian Minangkabau yang pernah di latih di IKSA seperti tari Rantak, tari Pasambahan,Tari Payuang, Tambua Tasa dan Randai. Tari yang masih aktif sampai sekarang adalah tari Rantak, tari Pasambahan dan Tambua Tasa.

Sementara Randai dilatih apabila ada kebutuhan yang mendesak dari pengurus BM3 atau dari pihak-pihak tertentu.

2.4.2. Ikatan Kesenian Bayur

Ikatan Kesenian Bayur adalah kelompok kesenian yang dibentuk oleh Ikatan Keluarga Bayur. Ikatan Kesenian Bayur terbentuk karena perpanjangan dari salah satu bidang kepengurusan Ikatan Keluarga Bayur yaitu Seksi Seni Dan Budaya yang terbentuk seiring kepengurusan pertama Ikatan Kelaurga Bayur kota Medan yaitu pada tahun 1952. Ikatan kesenian Bayur periode 2012 sampai 2017 di ketuai oleh Edimas Putra atau yang bergelar Sutan Pangulu. Bapak Edimas Putra atau Sutan Pangulu sekaligus pelatih silat dan Randai pada Ikatan Kesenian Bayur. Ikatan kesenian bayur mempunyai jadwal latihan tari dan Randai setiap malam selasa, berbagai macam kesenian Minangkabau diajarkan seperti tari gelombang, tari rantak, tari pasambahan, tari indang.

(48)

BAB III

KESENIAN RANDAI MINANGKABAU

3.1. Sejerah Kesenian Randai

Randai merupakan seni teater di Minangkabau karena didalamnya ada dialog dan suatu cerita yang disampaikan,dan unsur lain yaitu musik dan tari.

Dalam pertunjukan Randai ada beberapa alat musik yang digunakan seperti alat musik tiup yaitu Saluang, Pupuik Sarunai, dan Bansi .Begitu juga dengan alat musik pukul seperti Gandang ,Talempong dan Tassa. Semua alat musik tersebut adalah alat musik Tradisional Minangkabau. Sementara itu tari dan gerakan- gerakan Randai diambil dari gerakan dasar Silat di Minagkabau, seperti Silat Harimau, Silat Kumango dan lain-lain.

Dendang juga merupakan unsur yang sangat penting dalam pertunjukan Randai. Dendang merupaan nyanyian dalam Randai untuk menyampaikan cerita yang akan dibawakan dalam Randai tersebut. Dendang tersebut akan diiringi oleh musik Randai seperti Talempong dan Saluang.

Istimewanya adalah penonton juga merupakan pelaku didalam Randai dan merupakan suatu ciri khas dalam teater tradisional .Kesenian tradisional Minangkabau pada umumnya selalu menggambarkan sifat kebersamaan dan kegotongroyongan .hal ini sesuai dengan kehidupan masyarakatnya yang sebagian besar sebagai petani .Sebagai petani tentulah sifat kegotongroyongan sangat penting dan sifat tersebut terlihat dari gerakan-gerakan randai tersebut.

(49)

Menurut khairul Harun dalam Pustaka Wisata Budaya kesenian Randai Minagkabau sudah melewati perjalanan sejarah yang cukup panjang seja abat ke20 ,randai banyak berkembang di wilayah darek yang menjadi pusat peradaban kebudayaan Minangkabau . Keberadaan kesenian Randai sebagai tradisi Minangkabau sudah lama hidup di masyarakat Minangkabau bahkan sudah ada sebelum Islam masuk ke Minagkabau .Randai berasal dari kata andai atau handai yang berarti berbicara menggunakan kias , ibarat, pantun serta petatah petitih.

Randai adalah penyajian kaba Minangkabau dalam bentuk drama atau teater tradisional dengan pola lingkaran. Ia juga disebut sebagai teater rakyat populer bagi masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat yang merangkai lagu- lagu, tari, musik, seni bela diri, dan akting untuk menceritakan cerita-cerita rakyat Minangkabau. Secara historis kehadiran randai di tengah masyarakat Sumatera Barat sejalan dengan perjalanan sejarah masyarakatnya yang lebih dikenal dengan latar kebudayaan Minangkabau. Sampai saat ini belum ada catatan sejarah yang dapat dijadikan petunjuk, kapan kesenian randai itu muncul dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, serta siapa pencipta kesenian itu pertama kali.

Rusydi (2007:1) mengatakan, bahwa para budayawan, seniman Sumatera Barat serta para pemimpin adat penghulu, niniak mamak baik yang berada dikelembagaan LKAAM (Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau), sepakat mengatakan bahwa kesenian randai lahir bersamaan dengan kehadiran serta perjalanan budaya itu sendiri yang dapat kita lihat diantaranya dalam catatan

“Tambo Alam Minangkabau” meskipun tambo ini tidak mempunyai catatan tanggal dan tahun kejadian yang pasti seperti catatan sejarah Randai merupakan

(50)

salah satu bagian dari pengembangan kultur budaya dan nilai-nilai tradisional bagi masyarakat Minangkabau, yang lahir bersamaan dengan kedatangan masyarakat di mana adat tersebut adalah kesepakatan nilai-nilai budaya selaku masyarakat sosial.

Dalam pertunjukkan randai terdapat beragam unsur pendukung, seperti:

unsur musik, tari, vokal (dendang), silat, seni teater, kostum dan teks. Baik- buruknya pertunjukan randai tergantung dari bagaimana para pemain randai membawakan cerita teks. Menurut (Rusydi, 2007:29), Teks randai pada garis besarnya bertujuan untuk penggambaran tradisi kehidupan masyarakat yang penuh lika-liku peristiwa, penggambaran kultur budaya adat masyarakat Minangkabau, penggambaran masyarakat seperti merantau, kesenian anak nagari, silat, tari, musik dan sastra, untuk menyampaikan pesan adat dan agama (media informasi dan pendidikan), media hiburan dan sarana untuk berkomunikasi antar masyarakat sambil menyaksikan pertunjukkan Randai.

3.2. Fungsi Kesenian Randai

Kesenian Tradisional Minangkabau Seperti Randai merupakan permainan adat, dan dikenal juga dengan istilah pamenan anak nagari (Permainan anak negri). Pamenan anak nagari merajuk pada permainan anak di daerah tersebut.

Akan tetapi, secara filosofi seperti yang dikemukakan oleh Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto (Mak katik) merupakan salah seorang seniman budaya Miangkabau adat merupakan sesuatu yang melekat pada fisik dan batin individu

(51)

yakni individu pembentuk masyarakat di nagari tersebut. Randai bagi masyarakat miangkabau tidak hanya satu kesenian tradisi. Akan tetapi, Randai juga merupakan Media pendidikan dan pengajaran tentang filsafah, etika, dan adat bagi masyarakat. Dalam Randai memuat nilai-nilai hidup.

Dulu Pertunjukan Randai di Minangkabau terkait dengan upacara-upacara tradisional masyarakatnya. Dalam upacara tersebut Randai tidak saja diperanan menjadi pelengkap yang berfungsi untuk menjadi hiburan dan penyemangat upacara-upacara adat, tetapi sebagai kesenian tradisional Minangkabau, Randai juga memberikan kesempurnaan dalam adat istiadat di minangkabau. Dulu biasanya randai ditampilkan sebagai pengantar ulu ampek ,ulu ampek adalah seni gerak yang ditampilkan pada saat pengangkatan penghulu.

3.3. Tatacara Pertunjukan Randai

Seluruh pemain Randai berbaris memasuki arena pertunjukan termasuk pemain dendang dan pemain galembong. Pemain galembong memasuki arena pertunjukan dengan melakukan gerakan sambah dengan artian pemain randai menyampaikan permintaan maaf kepada penonton dengan gurindam persembahan. Apabila acara persembahan selesai, pembawa galembong meneriakan hep ta hep ta dan seterusnya sampai membentuk formasi lingkaran, hep ta merupakan kode dan tempo dalam bermain Randai. Selanjutnya penyajian

Gambar

Gambar 1: Peta Kota Medan.
Gambar 2: Rumah Gadang BM3 Medan.
Gambar 3: Struktur Organisasi BM3
Gambar 4: Rumah Gadang IKB
+7

Referensi

Dokumen terkait

sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “ PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL, KECERDASAN INTELEKTUAL, KECERDASAN SPIRITUAL DAN PERILAKU BELAJAR TERHADAP

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antara daya tahan hidup umur nyamuk Ae aegypti baik jantan atau betina yang diberi makanan

Penyakit DBD disebabkan virus dengue (DENV) yang terdiri dari empat serotipe virus yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3 dan DENV-4 dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ( Ae. aegypti

Penelitian ini menyimpulkan bahwa larutan gula merah dan ragi efektif digunakan sebagai atraktan nyamuk Aedes aegypti, dan hasil analisis menunjukkan bahwa

ekosistem dan batas- batasnya  Menemukan adanya interaksi dalam ekosistem  Menyimpulkan tipe interaksi berdasarkan gejala yang teramati  Menyususn rantai makanan menjadi

Mitra dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah pengrajin dengan bahan baku limba perca batik Syafitri Batik Craftdengan hasil produksi boneka kain dan

Dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang terkait dengan praktik poligami di Tunisia dalam perspektif pemikiran Ibnu Asyur, yaitu: Bagaimana pandangan maqashid

Iik Abdul Rofik (UIN 2011) Dalam skripsinya yang berjudul “ Bimbingan agama Islam terhadap Narapidana dalam meningkatkan prilaku keagamaan”(study deskriptif di lembaga