DAFTAR PUSTAKA
ORGANISASI KEAGAMAAN ISLAM
Membicarakan manajemen organisasi Islam tak lengkap rasanya bjika belum membahas organisasi keagamaan Islam. Menurut teori sosiologi organisasi keagamaan merupakan perkumpulan sosial yang dibuat oleh
masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak
berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam lingkup suatu agama tertentu. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri. Konsep organisasi keagamaan yang dipakai adalah adalah suatu pendekatan, kegiatan, atau sistem kehidupan yang spiritual yang terkadang dipandang sebagai kegiatan yang irasional. Organisasi keagamaan yang khusus mengurus upacara dan hubungan dengan tuhan yang dinamakan tarekat
16M. Syafi’i Antonio, Bank Syariah: Wacana Ulama dan Cendekiawan, (Jakarta: Bank
Indonesia dan Tazkia Institute, 1999), hlm. 15.
17 Dwi Suwiknyo, Pengantar Akuntansi Syariah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010),
63
(jalan menuju kebenaran). Kelompok masyarakat yang religius atau agama secara teologis yang telah menjadi antropologis itu, mengembangkan segenap sistem budayanya dari ajaran ajaran tuhan atau wahyunya yang diungkap dalam kitab suci.
Sebelum agama-agama besar masuk di indonesia, agama-agama yang ada di nusantara telah berkembang lebih dahulu. Namun ajaran didalamnya masih bersifat primitif, hal ini disebabkan karena kehadiran agama yang baru lebih banyak melakukan sosialisasi melalui sikap adaptif. Adaptif dalam artian proses penyebaranya dilakukan secara pelan pelan tanpa secara tekstual suasuai persis dari mana agama itu berasal. Sikap adaptif ini dilakukan mengingat begitu sulitnya melakukan perubahan secara merata pada semua ajaran. Pola adaptasi ini kemudian melahirkan keinginan untuk melakukan gerakan pemurnian pemikiran Islam dari pengaruh budaya- budaya lokal.18 Sejalan dengan itu pula pihak kolonial melakukan
kolonialisasi secara fisik dengan mengandalkan senjata. Umat Islam menyikapi hal ini dengan membentuk berbagai perkumpulan untuk
menyatukan taktik perjuangan melawan kolonial, seperti Jam’iyat khair, Serikat Dagang Islam (SDI), NU, Muhammadiyah, Persatuan Islam (Persis). Dibawah ini akan dipaparkan beberapa organisasi di indonesia yang masih berdiri dan bahkan menjadi organisasi keagamaan terbesar di indonesia bahkan dunia yag mungkin bisa dijadikan contoh manajemen organisasi Islam dalam bidang agama
1. Nahdatul Ulama
Nahdlatul Ulama (kebangkitan Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat NU, adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi. Namun demikian, nahdlah menurut istilah Nahdlatul Ulama adalah al-Muhafazhah ‘alal Qadimish Shalih wal Akhdzu bil Jadidi Ashlah (menjaga dan mempertahankan tradisi lama yang baik dan
18 Ridwan Lubis, Agama Dalam Perbincangan Sosiologi, (Bandung: Cipta Pusaka Media
64
berkreasi untuk membuat peradaban baru yang lebih baik. Organisasi ini di pimpin oleh K.H. Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar. NU menganut paham
Ahlussunnah wal Jama’ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah
antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya al-Qur'an, sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Tujuan dari organisasi ini adalah menegakkan ajaran Islam menurut faham
Ahlussunnah waljama’ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.19
Dahulu NU dipandang sebagai suatu organisasi keagamaan yang kolot dan banyak menerima kritik dari kaum modernis. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa Nu itu benar-benar sangat konservatif. Di kalangan kepemimpinan NU, yang menjadi konflik adalah kebutuhan untuk memenuhi tuntutan pengikut kolot dan kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan suatu partai politik modern agar bisa bersaing dengan efektif. Sedangkan di Muhammadiyah yang menjadi konflik adalah antara keinginan untuk momodernisir Islam dan kebutuhan untuk menjamin bahwa ini tidak akan menuju ke sekularisme. Berbagai kegiatannya pun tidak jauh berbeda dengan sekarang, seperti pidato keliling ke desa-desa setempat tentang hal-hal sosial politik dan keIslaman, pengajian mingguan yang teratur (pengaosan) oleh para ahli agama atau anggota dewan pimpinan. Para pemimpinnya pun mencemooh orang yang datang ke pengaosan tapi lalu tertidur dan yang tidak ikut serta dalam kegiatan organisasi.
salah satu alasan NU didirikan adalah sebagai wadah umat Islam di indonesa untuk mengembangkan dakwah Islamiyah, baim itu dakwah Bil llisan maupun bil hal. Banyak sekali kegiatan kegiatan dakwah yang telah dilakukan oleh NU sejak berdirinya. Diantaranya usaha usaha tersebut adalah: (1) Di bidang agama, melaksanakan dakawah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan.; (2) Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan
65
nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas, (3) Di bidang Sosial Budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keIslaman dan kemanusiaan, (4) Di bidang Ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menik-mati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.20
Kegiatan kegiatan yang ada di NU di lakukan dan di organisir oleh banyak lembaga yang dibawah naungan NU. Pergerakan organisasi di NU sudah merambat diseluruh wilayah indonesia bahkan sudah mempunyai perwakilan di lluar negeri. NU merupakan organisasi terbesar di Indonesia, bahkan di dunia yang memiliki anggota kurang lebih sekitar 70 juta jiwa, organisasi ini dikenal dengan organisasi tradisonal, karena sebagaian besar anggotanya berada di pedasaan. Selain itu pula lembaga lembaga dibawahnya masih banyak dikelola dengan cara tradisonal. prinsip-prinsip dasar yang dicanangkan Nahdlatul Ulama (NU) telah diterjemahkan dalam perilaku kongkrit. Manajemen yang ada di Nahdlatul Ulama sebagian besar saat ini sudah mulai mengimplementasikan manajemen modern, hal ini bisa terlihat dengan kemampuan mengeola jaringan dan anggota yang ada di dunia hal ini bisa dibuktikan saat ini NU mengelola 31 Pengurus Wilayah, 339 Pengurus Cabang, 12 Pengurus Cabang Istimewa 2.630 Majelis Wakil Cabang, 37.125 Pengurus Ranting. Jumlah tersebut belum terhitung banom dan lembaga lembaga lainnya. Mengelola lembaga besar seperti NU memerlukan koordinasi yang cukup kuat antar pengurus yang ada di internal NU.
Meskipun terkadang NU masih menggunakan metode yang “dianggap”
tradisional. NU banyak mengambil kepeloporan dalam sejarah bangsa Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa organisasi ini hidup secara dinamis dan responsif terhadap perkembangan zaman. Prestasi NU antara lain: (1) Menghidupkan kembali gerakan pribumisasi Islam, sebagaimana diwariskan oleh para walisongo dan pendahulunya, (2) Mempelopori perjuangan kebebasan bermadzhab di Mekah, sehingga umat Islam sedunia bisa
66
menjalankan ibadah sesuai dengan madzhab masing-masing, (3)
Mempelopori berdirinya Majlis Islami A'la Indonesia (MIAI) tahun 1937, yang kemudian ikut memperjuangkan tuntutan Indonesia berparlemen, (4) Memobilisasi perlawanan fisik terhadap kekuatan imperialis melalui Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada tanggal 22 Oktober 1945.21
2. Muhamammadiyah
Muhammadiyah adalah salah satu organisasi/lembaga Islam terbesar di Indonesia yang didirikan pada zaman kolonial oleh KH. Ahmad Dahlan tepatnya pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H atau bertepatan dengan 18 November 1912 M. Namun, akan tetapi baru bisa mendapatkan pengesahan secara hukum administratif dari pemerintah Hindia-Belanda pada tanggal 22 Agustus 1914 M. Sesunggungnya KH. Ahmad Dahlan sudah mengajukan permohonan pengesahan sejak 20 Desember 1912. Surat tersebut itu tercantum di dalam Gouverenment Besluit No. 81, di antaranya berisi bahwa lembaga ini hanya boleh beroprasi di wilayah Yogyakarta saja, dan diberi limit waktu hanya 29 tahun dan harus memperpanjang lagi setelah waktu tersebut. Akan tetapi sebelum waktu tersebut pemerintah Hindia belanda mengalami kekalahan dan digantikan oleh jepang. Sehingga permohonan kembali izin itu diajukan kembali kepada pemerintah Jepang dengan berbagai syarat yang disepakati. sebagai gerakan maupun organisasi Islam muhammadiyah jelas memiliki sebuah tujuan.
Tujuan utamanya adalah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dengan berpedoman pada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber amal dan ibadah. Akan tetapi semua itu, itu tidak akan bisa tercapai tanpa adanya suatu gerakan dan usaha yang dilakukan. Bentuk gerakan bagi Muhammadiyah adalah dengan kekuatan organisasi. Karena menurut Muhammadiyah, cita-cita dan tujuan tidak bisa berhasil tanpa adanya sokongan, dukungan, dan kerjasama dari semua lapisan dan sekelompok masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan isi pokok pikiran yang keenam dari
Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, yaitu: “Bahwa perjuangan
67
Muhammadiyah hanya akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan berhasil, apabila dikerjakan dengan organisasi. Organisasi adalah satu- satunya alat dan cara perjuangan sebaik-baiknya.” Muhammadiyah sebagai
gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar berpendapat bahwa organisasi
merupakan salah satu metode yang terbaik untuk menggerakkan kegiatan
da’wah.
Adapun tugas dakwah Muhammadiyah sebagai suatu organisasi adalah
merencanakan, memprogramkan sistem, dan metode da’wah untuk seluruh
lapisan masyarakat. Sedangkan anggota Muhammadiyah berperan sebagai
Muballigh atau Da’i. Selain itu Muhammadiyah sering disebut sebagai gerakan pembaharu atau tajdid. Sasaran tajdid adalah manusia itu sendiri, yakni pemeluk dan pemimpin Islam dan yang diperbaharui adalah cara berfikir, cara memahami, dan meng-interpretasikan, mengimplementasikan ajaran Islam. Pembaharuan ataupun tajdid dianggap sangat penting, dikarenakan perubahan zaman yang selalu dinamis dan terus berubah, maka
perkembangan ilmu pengetahuan pun harus bertambah maju.22
Setiap organisasi pasti memiliki cara, proses, ataupun strategi untuk mengatur oraganisasinya supaya tetap eksis di kalangan masyarakat. Cara atau proses untuk pengelolaan inilah yang dinamakan dengan manajemen. Begitupun Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi selalu bergerak dengan dinamis, sehingga mau tidak mau harus mengikuti perkembangan sejarah dan sosial kemanusiaan. Oleh karena itulah Muhammadiyah selalu mengadakan perumusan-perumusan yang sesuai guna menjalankan misi
da’wah dan mengatur masyarakat yang ada.23 Di antara upaya
Muhammadiyah dalam hal ini adalah sebagai berikut: (1) Dalam bermasyarakat. Dengan penyelenggaraan amal usaha bagi masyarakat, sehingga masyarakat dapat merasakan keberadaan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam. Dan masyarakatnya pun dapat mewujudkan kehidupan yang makmur dan dan diridhai Allah; (2) Dalam berpolitik. Muhammadiyah
22 Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: Pustaka
LP3ES, 1996), hlm. 45.
23 Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kemuhammadiyahan SMA, (Jakarta: PP Pimpinan
68
sebagai sebuah organisasi atau gerakan da’wah yang bergerak dalam segala
bidang, tidak menjalin hubungan organisatoris dengan partai politik apa pun, sehingga terbuka untuk semua kalangan masyarakat yang ingin ikut bergabung dalam organisasi tersebut; (3) Dalam Ukhuwah Islamiyah. Sesuai dengan kepribadiannya, Muhammadiyah akan bekerjasama dengan umat Islam manapun juga dalam usaha menyiarkan dan mengenalkan dienul Islam serta membela kepentingan yang ada di dalamnya.
Namun, dalam melakukan kerjasama tersebut, Muhammadiyah tidak menggabungkan dan mengkoordinasikan organisasinya dengan institusi lain. Ada pun salah satu upaya untuk mengatur perangkat organisasi tersebut adalah dengan mengadakan pembinaan terhadap pimpinan dan anggotanya dalam bermacam-macam aspek pendidikan dan pembinaan secara continue atau berkesinambungan, sehingga menghasilkan pimpinan dan anggota yang berkualitas. Organisasi agama terbentuk atas dasar sifat unik manusia yang sosial. Organisasi agama terjalin dalam berbagai kegiatan mulai dari kehidupan keluarga sampai dengan bidang sosial ekonomi. Pada masyarakat yang kompleks organisasi agama diperlukan untuk menyelenggarakan pertemuan, pengajaran, ritual dan menjalin hubungan antar anggota organisasi tersebut dengan baik.
KESIMPULAN
Setelah melihat berbagai macam pemaparan diatas lantas kita berpikir Apa yang dimaksud dengan manajemen organisasi Islam? Apakah manajemen organisasi Islam hanya sebuah nama. Pertanyaan ini layak dikemukakan pada saat seseorang ingin melihat perbedaan-perbedaan mendasar dari manajemen organisasi yang dipahami secara umum dengan manajemen organisasi Islam. Pada dasarnya rumusan atau definisi suatu organisasi sama saja satu dengan lainnya, tetapi yang perbedaannya terletak pada visi, misi, strategi dan programnya. Ketika orang-orang berkumpul menetapkan suatu tujuan yang pencapaiannya diikat oleh etika dan prinsip Islam, maka itulah yang disebut dengan manajemen organisasi Islam. Rumusannya bisa saja disebutkan sebagai suatu wadah di mana di dalamnya
69
terdapat orang-orang muslim yang paling bekerjasama yang diikat oleh nilai- nilai atau aturan-aturan Islam untuk tujuan syi’ar Islam. Satu hal yang perlu
digaris bawahi, kendati suatu organisasi menyebutkan “Islam” sebagai bagian
dari namanya belum tentu disebut organisasi Islam, jika visi dan misinya
tidak dalam rangka syi’ar Islam. Sebaliknya, kalaupun suatu organisasi tidak secara spesifik memberi “label” Islam sebagai nama organisasinya, tetapi visi
dan misinya untuk kepentingan Islam, maka ia layak disebut sebagai organisasi Islam.
Oleh karena itu, pemberian nama “Islam” tidak langsung otomatis
membuat organisasi tersebut di sebut sebagai organisasi Islam. Hal mendasar yang menjadikan suatu organisasi dikatakan organisasi Islam adalah asasnya. Dari asas ini akan muncul visi dan misi syi’ar Islam dan pada langkah berikutnya tentu kegiatan-kegiatannya akan diarahkan pada pencapaian tujuan itu secara Islami pula. Dengan demikian, perbedaan mendasar antara manajemen organisasi yang umum dengan organisasi- organisasi Islam, di antaranya adalah: (1) bahwa manajemen organisasi Islam memiliki komitmen yang jelas terhadap kemajuan Islam, (2) bahwa manajemen organisasi Islam dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan sesuai dengan prinsip, nilai dan etika Islam, (3) bahwa manajemen organisasi Islam mendasarkan diri kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Ibrahim Abu Sinn, Manajemen Syariah: Sebuah Kajian Historis dan Kontemporer, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008.
Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: Pustaka LP3ES, 1996.
Departemen Agama, Al-Quran dan Terjemahannya, Jakarta: Departemen Agama, 1971.
Dwi Suwiknyo, Pengantar Akuntansi Syariah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.
Fatkhul Aziz Aminudin, Manajemen Dalam Perspektif Islam, Majenang: Pustaka El-Bayan, 2012.
70
H. B. Siswanto, Pengantar Manajemen, Jakarta: Bumi Aksara, 2006.
Henry Mintzberg, “The Manager's Job, Folkdore and Fa”, dalam Harvard Business Review, 2002.
Jawahir Tanthowi, Unsur-Unsur Manajemen Menurut Ajaran Al-Qur’an, Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1983.
Khalimi, Ormas-Ormas Islam, Jakarta: Gaung Persada Press Jakarta, 2010. M. Manulang, Dasar-Dasar Manajemen Organisasi, Jakarta: Ghalia Indonesia,
1983.
M. Rosyid Ridla dan Bayu Mitra Adhyatma Kusuma, “Analisis Sound Governance Sebagai Upaya Meningkatkan Daya Saing Perguruan Tinggi
Islam (Studi di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)”, dalam Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 2 No. 2, 2016
M. Syafi’i Antonio, Bank Syariah: Wacana Ulama dan Cendekiawan, Jakarta: Bank Indonesia dan Tazkia Institute, 1999.
Munif Solikhan, “Elaborasi Manajemen Organisasi Islam dalam Al-Qur’an Surat As-Shaff”, dalam Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 1 No. 2, 2015.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kemuhammadiyahan SMA, Jakarta:
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2000.
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2008.
Ridwan Lubis, Agama Dalam Perbincangan Sosiologi, Bandung: Cipta Pusaka Media Perintis, 2010.
Suhendra, Manajemen dan Organisasi dalam Realita Kehidupan, Bandung: Mandar Maju, 2008.
Sutarto, Dasar Dasar Organisasi, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1989.
Syafaruddin, Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2005.
Veitshal Rival Zainal et al, Islamic Management: Meraih Sukses Melalui Praktek Manajemen Gaya Rasululloh Secara Istiqomah, Yogyakarta: BPFE, 2013.
Zaeni Mukhtarom, Dasar-Dasar Manajemen Dakwah, Yogyakarta: Al-Amien Press, 1996.
71