Tarian Saman Aceh
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM TARIAN SAMAN
Memasuki era global, masyarakat Indonesia tidak hanya cukup dengan memiliki kompetensi atau kemampuan intelektual melainkan juga karakter kerja keras, mandiri dan kemampuan kerja sama dengan masyarakat majemuk di berbagai kawasan di dunia. Globalisasi merupakan peluang bagi bangsa Indonesia untuk berperan serta meningkatkan kemampuan kerja sama, bersaing dan mandiri memanfaatkan potensi sumber daya alam yang telah ada.21
Globalisasi memang tidak bisa ditolak, hal ini merupakan tantangan sekaligus ancaman. Tantangan tersebut harus segera disikapi dengan tindakan yang aktif, bukan hanya pasif menerima pengaruhnya. Pemberdayaan siswa melalui pengembangan pendidikan karakter pada semua mata pelajaran dan semua jenjang merupakan salah satu cara untuk menyikapi tantangan tersebut. Pemberdayaan tersebut antara lain dilakukan melalui pembelajaran yang mengangkat persoalan ketiadaan karakter bangsa yang nampak dalam kehidupan para siswa serta melalui proses dialog partisipatif sehingga memungkinkan mereka memiliki kemampuan untuk beremansipasi, berlatih dan mempraktekkan karakter dalam proses pembelajaran.
20 Mahmud Ibrahim dan A. R. Hakim Aman Pinan, Syariat dan Istiadat…,, hlm. 20.
116
Untuk menyikapi perubahan yang ada di era global, maka pendidikan karakter harus menyiapkan generasi muda yang merancang masa depan dan fleksibel dalam menghadapi masalah sekitar serta dapat beradaptasi terhadap perubahan dan tantangan yang ada. Perubahan dalam masyarakat Indonesia nampak dari bergesernya kehidupan agraris ke industri dan masyarakat industri ke masyarakat pasca industri. Fenomena terbentuknya
masyarakat yang berubah dari goods-producing ke service economy,
terbentuknya masyarakat profesional karena jenis pekerjaannya serta masyarakat teknologi intelektual, akan menjadi ciri masyarakat Indonesia pada era global.22
Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, Ali Ibrahim Akbar menyatakan bahwa kesuksesan seseorang tidak
ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard
skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang- orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.23
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya,
22 Alfret Jhon, Membangun Karakter Tangguh: Mempersiapkan Generasi Anti
Kecurangan, (Surabaya: Portico Publising, 2010), hlm. 8.
117
dan adat istiadat.24 Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman
nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama,
lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia yang berguna.25
Saman dapat mempengaruhi karakter masyarakat Aceh. hal tersebut didukung dengan kecintaan masyarakat Aceh terhadap saman. Adapun program pendidikan karakter sangat berhubungan dengan tarian saman Aceh. Isi saman tercermin dari lirik yang didendangkan Syekh serta gerakan penari saman sendiri. Biasanya karangan/isi saman yang dilagukan oleh syekh ialah kutipan-kutipan dari sastra hikayat-hikayat Aceh dan nasihat tokoh adat (teuku) atau agama (teungku) Aceh. Saman ini memiliki lirik yang indah dan isinya bermakna ajakan untuk berdakwah sesuai dengan konteksnya, sehingga para penggemar saman selain mengikuti liriknya juga memaknai isi lagunya dalam kehidupan sehari-hari, dengan demikian saman ini sangat tepat dalam merealisasikan pendidikan karakter bagi remaja sebagai generasi penerus bangsa. Saman adalah kesenian daerah gayo yang terkenal sampai ke mancanegara, saman memiliki keunikan selain lirik lagu yang indah juga mengandung pendidikan-pendidikan berupa amanah, nasehat dan hiburan sesuai dengan konteksnya. Akibat keunikan tersebut sehingga masyarakat sangat cinta dan gemar mendengarnya, bahkan masyarakat sangat suka menyaksikan pertunjukkan saman pada acara-acara keagamaan dan kenegaraan. Pertunjukan saman bukan hanya di daerah Aceh, bahkan sering di adakan di tingkat-tingkat nasional bahkan internasional, oleh karena itu saman ini diharapkan dapat menjadi wadah pembelajaran pendidikan karakter.
Saman dapat mencerminkan bahwa karakter masyarakat Aceh pada umumnya. Sampai sekarang saman berhasil mempengaruhi masyarakat. Kata-kata yang terkandung dalam saman mampu melunakkan hati orang yang keras sekalipun. Hal ini dibuktikan dengan suksesnya saman
24 Rizki Afandi. “Integrasi Pendidikan Karakter”…,hlm. 92.
118
pendidikan karakter sebagaimana tertera pada lampiran. Kekhasan dalam persuasiflah yang membuat saman masih dibutuhkan dikalangan masyarakat Aceh. Keindahan gerakan saman yang dimainkan secara bersama serta suara
syekh dengan rapa’i semakin membuat saman disukai oleh masyarakat. Sejak
dulu, tarian saman digunakan sebagai kesenian yang mengandung nasehat, pendidikan, nilai dan norma, keagamaan dan renungan kehidupan yang memotivasi untuk menjadi lebih baik lagi.
TARI SAMAN SEBAGAI MEDIA INTERNALISASI NILAI QUR’AN
Pendidikan sebagai suatu upaya sadar untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Usaha sadar itu tidak terlepas dari lingkungan peserta didik berada, terutama dari lingkungan budayanya, karena peserta didik hidup tak terpisahkan dalam lingkungannya dan bertindak sesuai
dengan kaidah-kaidah budayanya.26 Dalam pengertian lain pendidikan
karakter dimaknai dengan penanaman nilai-nilai sesuai dengan budaya
bangsa dengan komponen aspek pengetahuan, sikap perasaan, dan tindakan,
baik terhadap Tuhan yang Maha Esa baik untuk diri sendiri, masyarakat dan
bangsanya.27 Pendidikan yang tidak dilandasi oleh prinsip itu akan
menyebabkan peserta didik tercabut dari akar budayanya. Ketika hal ini terjadi, maka mereka tidak akan mengenal budayanya dengan baik sehingga ia menjadi orang “asing” dalam lingkungan budayanya. Selain menjadi orang asing, yang lebih mengkhawatirkan adalah dia menjadi orang yang tidak
menyukai budayanya.28
Pendidikan karakter dihadirkan untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan yang akan terjadi pada generasi penerus bangsa. Melalui pendidikan karakter, generasi muda diharapkan akan hidup makmur dan terus berusaha mencapai tujuan bangsa Indonesia. Penanaman pendidikan karakter kepada generasi muda Indonesia ialah salah satu solusi untuk membentuk cara berpikir, cara bertindak, dan cara menyelesaikan masalah
26UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
27 Rizki Afandi. “Integrasi Pendidikan Karakter”…, hlm. 88.
28 Bambang Soenarko, Konsep Pendidikan Karakter, (Kediri: Universitas Nusantara
119
sesuai dengan norma dan nilai kebangsaan. Pendidikan karakter merupakan cara unggulan yang sedang digalakkan untuk menata pola pikir generasi muda untuk masa depan bangsa.
Pendidikan karakter dapat direalisasikan melalalui lingkungan keluarga, kurikulum atau proses pembelajaran sekolah, kegiatan ko- kulikuler, teman bermain dan seni daerah.29 Salah satu seni daerah di Aceh
adalah saman. Adapun program nasional pendidikan karakter itu telah sejak dulu di tanamkan oleh tarian saman. Dari 18 pendidikan karakter, karakter yang paling sering terdapat dalam isi saman ialah religius, toleransi, demokrasi, semangat kebangsaan, cinta tanah air, cinta damai, peduli lingkungan, dan peduli sosial. Adapun Internalisasi ajaran-ajaran Al-Qur’an melalui lirik-lirik atau isi saman yang mengandung nilai-nilai pendidikan karakter adalah sebagai berikut:
1. Religius
Apabila ditelusuri sangat banyak ayat-ayat yang berbicara tentang keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, salah satunya adalah fiman
Allah SWT dalam Al-Qur’an:
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman
mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan
dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”30
Lirik tarian saman yang telah disisipkan nilai-nilai Al-Qur’an surah Al- An’am ayat 82 tersebut adalah sebagai berikut: Alhamdulillah, lon pujo Tuhan yang that murahan siroe hadharot. Neubi teurang hate wahee yaa Tuhan, neubri pikiran kamobeusehat. Hajat terjemah ayat Al-Qur’an nyen cara nazam peukeuset ayat. Ubak Muhammad firman Tuham nuyue bacakan kepada
29 Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum Kemendiknas, Bahan
Pelatihan Penguatan …, hlm. 7.
120
ummat. Yang artinya adalah: Alhamdulillah, segala puji bagi Allah dzat yang sangat pemurah sifatnya. Terangkanlah hati kami wahai Tuhan kami, berilah kami akal yang bersih. Dalam menerjrmahkan ayat Al-Qur’an dengan cara kata per kata. Nabi Muhammad menyampaikan perintah Allah kepada ummat
2. Toleransi
Kata toleransi bermakna menghargai keyakinan orang lain serta tidak
mudah terprovokasi terhadap isu-isu yang dapat memunculkan
permasalahan pemahaman, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
Artinya: “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”31
Adapun dalam lirik saman yang telah disisipkan nilai-nilai Al-Qur’an surah Al-Kafirun ayat 6 adalah sebagai berikut: Tajak beutroeh taeu taeu beudeuh, bek rugo meuh hate saket. Bek tat kayeh tangah kue ateuh susah geuneuluh kaki meupalet.Tamututo beuk meuleupa-leupah, peulara lidah nyeu gohlom muesiklek, sebab nari tubit lam babah meunyeu kaleupah han ek le ta let. Yang artinya pergi harus sampai menyaksikan sendiri, supaya tidak rugi kata hati yang sakit. Jangan kita susahkan hal yang sudah susah. Dalam berbicara jangan berlebih-lebihan, pelihara lidah sebelum ada yang tersakiti, sebab perkataan yang sudah keluar sulit untuk ditarik kembali.
3. Demokrasi
Prinsip nilai-nilai demokrasi terdapat dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT:
121
Artinya: “yang mendengarkan Perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik
di antaranya. Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan
mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.32
Maksudnya perkataan disini ialah mereka yang mendengarkan ajaran- ajaran Al Quran dan ajaran-ajaran yang lain, tetapi yang diikutinya ialah ajaran-ajaran Al Quran karena ia adalah yang paling baik. Adapun dalam lirik saman yang telah disisipkan nilai-nilai Al-Qur’an surah Az-Zumar ayat 18
adalah sebagai berikut: Beu saban pakat haba sapeu kheun. Tulong-
teumeulong nanggroe tapuga. Ngen nikmat dame nyang Allah bri. Mita raseuki leupah lagoina. Yang secara garis besar artinya adalah menyamakan musyawarah dan pendapat. Tolong-menolong membangun bangsa. Dengan nikmat damai yang telah Allah berikan. Mencari rezeki tidak lagi sulit.
4. Semangat Kebangsaan
Prinsip nilai-nilai semangat kebangsaan terdapat dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya Kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk
menyampaikannya”.33
Lirik saman yang telah disisipkan nilai-nilai Al-Qur’an surat Saba’ ayat 34 adalah sebagai berikut: Tanoh keuneubah endatu moyang. Cuco pejuang aneuk panglima, geupeutheun nanggroe dak syahit lam prang Nyan keudum sayang aneuk beumulia, Meukuta alam sinan meuneumat, Rayeuk that hikmah youh awai mula. Po teumeuruhom yang peukeung adat. Syiah kuala meuhat nyan hukom geubina. Arti dari lirik tersebut adalah tanah yang
diwariskan para pendahulu. Cucu pejuang anak panglima yang
32 Lihat Al-Qur’an Surah Az-Zumar: 18.
122
mempertahankan bangsa meskipun syahid dalam perang. Itu semua akhlak yang begitu mulia, mengendalikan alam, sangat besar hikmah itu semua. Tokoh adat/teuku yang mengkokohkan adat. Ulama/tengku yang membina hukum.
5. Cinta Tanah Air atau Nasionalisme
Prinsip nilai-nilai cinta tanah air atau nasionalisme terdapat dalam Al- Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT
Artinya: “dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali.”34
Dalam tarian saman, lirik yang dimaksud dalam Al-Qur’an surah Al-
Baqarah ayat 126 tersebut adalah sebagai berikut: Aceh beu aman beu aman
bek lee ro darah ro dara. Seuramoe Meukah seuramoe Meukah beukeung agama. Adapun terjemahannya adalah sebagai berikut: Aceh harus aman harus aman jangan ada lagi pertumpahan darah. Serambi Meukah, serambi Meukah harus kuat dalam aqidah/agama.
6. Cinta Damai
Prinsip nilai-nilai cinta damai terdapat dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT:
123
Artinya: “dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang- orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang- orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang
mengandung) keselamatan.”35
Lirik dalam tarian saman yang telah disisipkan nilai-nilai Al-Qur’an surah Al-Furqon ayat 63 tersebut adalah: Dari pada tameupeurang get ta meuget. Antra bangse atra bangsa syehdara pih na. Kasih sayang rahmat neulimpah neuberi ya Allah keu kamo domna. Tameumat jaroh lepah that meutuwah, meunan geusurah rasul anbiya. Yang berarti janganlah lagi berperang, indah berbaikkan. Harta utuh tiada lusuh tetap teguh saudaraku. Kasih dan sayang rahmat berlimpah beri ya Allah untuk kami semua. Berjabat tangan sangatlah indah, itu ajaran rasul mulia.
7. Peduli Lingkungan
Prinsip nilai-nilai peduli lingkungan terdapat dalam Al-Qur’an,
sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya: “dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah
Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.36
Lirik tarian saman yang telah disisipkan nilai-nilai Al-Qur’an surah Al-
A’raf: 56 adalah sebagai berikut:Kuala dambu oh musim barat. Jitop lebakat
payah ta buekaa. Nanggroe lon hanco jisampo bakat. Timu ngen barat ka
35 Lihat Al-Qur’an Surah Al-Furqan: 63.
124
saban safa. Jino hai rakan, beudeuh laju ta bangon bangsa. Artinya adalah ketika musim barat menghampiri. Menutupi semua bakat yang sulit untuk dibuka kembali. Negeri ini hancur dihantam bencana alam. Timur dan barat sama rata. Sekarang wahai saudaraku, mari kita bangun kembali bangsa kita.
8. Kepekaan Sosial
Nilai-nilai kepekaan sosial terdapat dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya: “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah
menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka
kumpulkan.”37
Ayat tersebut disisipkan dalam lirik tarian saman berikut: Lam hudep tameusare, lam meugle ta meubila-bila. Lam lampoh ta meutulong alang, lam meublang ta meusyehdara. Lam hudep beu ta meusaboh, ta meujroh beulagei saboh ma. Peunyaket hate ta peugadoh, peutimoh bila-meubila. Artinya adalah dalam didup sama rata, dalam bersawah kita bantu-membantu. Dalam berkebun kita tolong-menolong. Dalam bertani kita menjadi bersaudara. Dalam hidup kita satu tujuan, berbaikan seperti satu ibu. Penyakit hati mari kita hilangkan, tumbuhkan sikap membantu.
KESIMPULAN
Sebagai sebuah karya seni tari, musik dan sastra, saman memiliki nilai- nilai tersendiri sesuai dengan penciptaan saman itu sendiri. Nilai-nilai dalam
125
karya seni tari mencerminkan sikap kebersamaan dan kekompakkan masyarakat Aceh dalam mempererat persaudaraan sebagai suatu tradisi
(pemeulia jamee), seni musik akan mencerminkan kekayaan budaya yang berbeda-beda tetapi satu tujuan serta seni sastra yang biasanya berisi puji- pujian kepada Allah SWT, ajakkan untuk mencintai pemimpin, menjaga kebudayaan dengan melestarikannya serta ajakkan semangat kebangsaan
(krue seumangat).38 Hal itulah yang ingin disampaikan kepada pembaca atau
pendengar. Melalui gerakan saman yang dipandu oleh seorang syekh akan mampu mempengaruhi masyarakat untuk larut dalam pertunjukkan tari saman.
Metode penyampaian nasihat melalui budaya merupakan salah satu alternatif untuk membentuk pendidikan karakter, sebagaimana firman Allah
SWT dalam Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 125:
Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”39
Pada ayat di atas, yang menjadi kata kunci perintah untuk
menyampaikan kebaikan melalui dakwah bil-lisan adalah kata bil-hikmah
yakni menyerukan kebaikan kepada manusia dengan kata-kata yang penuh hikmah dan memiliki arti yang paling dalam. Sehingga pada dataran praktis, saman mampu mengubah pandangan sebuah masyarakat akan sesuatu. Secara logika, saman dapat menanamkan pendidikan karakter kepada
38 Mahmud Ibrahim dan A. R. Hakim Aman Pinan. Syariat dan Istiadat..., hlm. 20.
126
generasi muda bangsa dan secara otomatis menghindarkan peserta didik dari perasaan asing dari budaya terdekatnya serta terhindar dari pola pikir menerima apa adanya pengaruh budaya tanpa proses pertimbangan dan penyaringan.
Tarian saman sebagai media dalam pembentukan karakter berbasis nilai-nilai Al-Qur’an dinilai telah mampu untuk mengkontruksi pandangan masyarakat akan pendidikan karakter. Sehingga pendidikan karakter bukan hanya ada pada kurikulum-kurikulum pendidikan formal melainkan juga dapat direalisasikan melalui seni dan budaya, seperti melalui tarian saman Aceh. Dimana dalam tarian saman tersebut tidak lepas dari kata-kata nasehat, saran dan kritikan bernuansa persahabatan dan religius.
Tarian saman secara praktek dapat mempengaruhi pandangan, karakter dan kepribadian masyarakat. Adapun Internalisasi ajaran-ajaran Al- Qur’an yang tersirat dalam lirik-lirik atau isi saman, mengandung nilai-nilai pendidikan karakter yang mampu memberikan dampak positif untuk terwujudnya tatanan masyarakat yang bermartabat. Karakter yang paling sering tampak antara lain: religius, toleransi, demokrasi, semangat kebangsaan, cinta tanah air, cinta damai, peduli lingkungan, dan peduli sosial. Tari saman sebagai sebuah budaya bangsa diyakini mampu untuk mengubah pandangan masyarakat, sehingga diharapkan budaya yang bernafaskan nilai-
nilai Al-Qur’an dapat diwujudkan dan diterapkan ditengah-tengah
masyarakat yang sangat kental dengan kebudayaannya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011.
Alfret Jhon, Membangun Karakter Tangguh: Mempersiapkan Generasi Anti
Kecurangan, Surabaya: Portico Publising, 2010.
Amirul Hadi, Aceh Sejarah, Budaya, dan Tradisi, Jakarta: Pustaka Obor, 2010.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kurikulum Kemendiknas, Bahan
Penelitian Penguatan Metedologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-nilai Budaya Untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa:
127
Pengembangan Pendidikan dan Karakter Bangsa, Jakarta: Kemendiknas, 2010.
Bambang Soenarko, Konsep Pendidikan Karakter, Kediri: Universitas
Nusantara PGRI Kediri, 2010.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banda Aceh, Petunjuk Singkat Museum
Negeri Aceh, Banda Aceh: Diskebpar, 1982.
Doni Koesoema, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman
Global, Jakarta: Grasindo, 2007.
Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2001.
M. Dien Madjid, Sejarah Aceh, Perdagangan, Diplomasi, dan Perjuangan
Rakyat, Jakarta: Pustaka obor, 2013.
Madyo Eko Susilo dan R. B. Kasihadi, Dasar-Dasar Pendidikan, Semarang: Effhar Offset, 1988.
Mahmud Ibrahim dan A. R. Hakim Aman Pinan, Syariat dan Istiadat,
Takengon: Yayasan Maqaman Mahmuda, Tanpa Tahun.
Muhammad Ali, Kamus Lengkap Bahsa Indonesia Modern, Jakarta: Pustaka Amani, Tanpa Tahun.
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam: Upaya Pembentukan Pemikiran
danKepribadian Muslim, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006.
Rizki Afandi, “Integrasi Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar”, dalam Jurnal Pedagogia Vol.1 No.1 Desember, 2011. Republik Indonesia, UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional.