6) Prinsip pembangunan secara holistic, artinya musrenbang kelurahan dimaksudkan untuk menyusun rencana pembangunan, bukan rencana
4.3.3. Organisasi Pelaksana
Organisasi pelaksana PNPM mandiri Perkotaan terdiri dari lima tingkat, yaitu tingkat nasional, tingkat propinsi, tingkat kota, tingkat kecamatan dan
tingkat kelurahan. Dalam penelitian ini yang akan dianalisa adalah organisasi pelaksana PNPM Mandiri Perkotaan yang dikoordinir oleh Walikota Kota Pontianak. Proses implementasi PNPM Mandiri Perkotaan di Kota Pontianak merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari PNPM Mandiri yang telah diatur dalam Pedoman Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri. Organisasi penyelenggaraan PNPM Mandiri Perkotaan secara struktur organisasi berada dibawah Tim Pengendali PNPM Mandiri Nasional, yakni Kementrian Pekerjaan Umum sebagai lembaga penyelenggara dan menugasi Direktorat Jendral Cipta Karya untuk menyelenggarakan PNPM Mandiri Perkotaan. Sedangkan untuk pelaksanaan di lapangan, dibentuk Unit Manajemen Proyek (Project Management Unit = PMU) yang dipimpin oleh seorang kepala unit yang akan bertanggung jawab langsung kepada Dirjen Cipta Karya dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan.
Di tiap kota, implementasi PNPM mandiri Perkotaan dipimpin oleh seorang Korkot (Koordinator Kota) yang dibantu oleh beberapa tenaga ahli sesuai kebutuhan. Sedangkan di tingkat kelurahan, tiap 7 sampai dengan 10 kelurahan didampingi oleh Tim Fasilitator yang telah dikontrak oleh Satker Provinsi dan bertanggung jawab langsung kepada Korkot. Disamping itu di tiap kelurahan, warga masyarakat didorong untuk memilih para relawan (sekurang-kurangnya 30 orang setiap kelurahan) yang berperan sebagai agen pembangunan dan bekerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan warga di kelurahannya masing-masing, terutama warga miskin dan kelompok masyarakat rentan lainnya. Secara rinci hubungan kerja antar unsur pelaksana
PNPM Mandiri Perkotaan dari tingkat pusat sampai dengan tingkat masyarakat adalah sebagai berikut :
Gambar 4. 5
Struktur Organisasi Pengelolaan PNPM Mandiri Perkotaan
Sumber : Kantor Walikota Pontianak, 2011
Organisasi pelaksana di tingkat Kota dikoordinasikan langsung oleh walikota melalui Bappeda kota dengan menunjuk Tim Koordinasi Pelaksana PNPM (TKPP) yang anggotanya terdiri dari pejabat instansi terkait d daerah dibawah koordinasi TKPKD Kota. TKPKD Kota dalam PNPM Mandiri Perkotaan berperan mengkoordinasikan TKPP dari berbagai program penanggulangan kemiskinan. Tim Koordinasi Pelaksanaan PNPM Mandiri perkotaan ini mempunyai tugas :
1) Melakukan sosialisasi program PNPM Mandiri Perkotaan kepada camat. PJOK dan perangkat kecamatan di wilayah kerjanya
2) Memfasilitasi berlangsungnya koordinasi dan konsolidasi dalam pelaksanaan PNPM mandiri perkotaan di wilayah kerjanya
3) Melakukan pemantauan pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayah kerjanya
4) Melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala.
Sebagai pelaksana administratif di tingkat Kota berdasarkan keputusan Menteri Pekerjaan Umum, atas usulan walikota setempat ditunjuk Satker Pembangunan Infrastrukur Permukiman Kota yang mempunyai tugas :
1) Menyalurkan dan mengadministrasikan dana BLM PNPM mandiri Perkotaan
2) Melakukan pemantauan pemanfaatan dana yang disalurkan
3) Bersama Korkot dan TKPP menindaklanjuti berbagai pengaduan terkaitdengan PNPM mandiri Perkotaan di wilayah kerjanyasampai ke proses hokum ke tangan penegak hokum dengan tetap mengutamakan penyelesaian secara kekeluargaan.
Di tingkat Kota, Pemerintah Propinsi mengangkat Koordinator Kota (Korkot) PNPM Mandiri Perkotaan yang dibantu beberapa Asisten Korkot di bidang manajemen keuangan, teknik/infrastruktur, manajemen data dan penataan ruang untuk pengendalian pelaksanaan kegiatan di bawah koordinasi
Team Leader KMW.
Di tingkat kecamatan, unsur utama pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan adalah : Camat dan perangkatnya serta Penanggung Jawab Operasional
Kegiatan (PJOK) dengan peran dan tugas masing-masing unsur sebagai berikut :
1) Camat, berperan memberikan dukungan dan jaminan atas kelancaran pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayah kerjanya, dengan rincian tugasnya :
(1) Melakukan sosialisasi program PNPM mandiri Perkotaan kepada lurah dan perangkat lurah di wilayah kerjanya
(2) Memfasilitasi berlangsungnya koordinasi dan konsolidasi dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayah kerjanya
(3) Melakukan pemantauan pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayah kerjanya dan menerima serta memverifikasi laporan para lurah (4) Mendorong dan mendukung tumbuhnya forum LKM tingkat
kecamatan
(5) Memfasilitasi berlangsungnya integrasi antara rencana program masyarakat dan program daerah lainnya dalam musrenbang kecamatan (6) Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan forum LKM di tingkat
kecamatandan kota, KSM dan kelompok peduli lainnyauntuk meningkatkan keberhasilan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayah kerjanya
(7) Berkoordinasi dengan PJOK dan Tim Fasilitator dalam penyelesaian persoalan, konflik dan penanganan pengaduan mengenai pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayahnya.
2) Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK), adalah perangkat kecamatan yang diangkat oleh walikotauntuk pengendalian kegiatandi
tingkat kelurahan administrasi pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan yang tugas pokoknya adalah :
(1) Memantau pelaksanaan PNPM mandiri Perkotaan di wilayah kerjanya (2) Melaksanakan administrasi program berupa penandatanganan SPPB,
memproses SPPB ke bank pembayar
(3) Membuat laporan bulanan pelaksanaan tugas setiap bulan
(4) Membuat laporan pertanggungjawaban pada akhir masa jabatan dan menyerahkannya kepada walikota paling lambat satu bulan setelah masa tugasnya berakhir
(5) Melakukan koordinasi dan sinkronisasi kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan dengan KMW dan Tim Fasilitator untuk bersama-sama menangani penyelesaian permasalahandan pengaduan mengenai pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayahnya
(6) Melakukan pemeriksaan terhadap penggunaan dana yang telah disalurkan kepada masyarakat sesuai dengan usulan yang disetujui fasilitator
Sedangkan di tingkat kelurahan , unsur utama pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan adalah : Lurah dan perangkatnya, Relawan masyarakat, Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) , Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). 1) Lurah, berperan memberikan dukungan dan jaminan agar pelaksanaan
PNPM Mandiri perkotaan di wilayah kerjanya dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan aturan yang berlaku, sehingga tujuan yang diharapkan melalui PNPM Mandiri Perkotaan dapat tercapai dengan baik. Untuk itu lurah dapat mengerahkan perangkat kelurahan sesuai dengan
fungsinya masing-masing. Secara rinci tugas dan tanggung jawab lurah dalam implementasi PNPM Mandiri Perkotaan adalah sebagai berikut : (1) Membantu sosialisasi tingkat kelurahan dan Rembug Kesiapan
Masyarakat yang menyatakan kesiapan seluruh masyarakat untuk mendukung dan melaksanakan PNPM Mandiri Perkotaan
(2) Memfasilitasi tereselenggaranya pertemuan pengurus RT/RW dan masyarakat dengan KMW/Tim Fasilitator dan relawan masyarakat dalam upaya penyebarluasan informasi dan pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan
(3) Memfasilitasi pelaksanaan pemetaan swadaya (community Self
Survey) dalam rangka pemetaan kemiskinan dan potensi sumber daya
masyarakat yang dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat
(4) Memfasilitasi proses pembentukan LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat)
(5) Memfasilitasi dan mendukung penyusunan Program Jangka Menengah Penanggulangan Kemiskinan dan rencana tahunannya oleh masyarakat yang diorganisasikan oleh lembaga kepemimpinan masyarakat setempat
(6) Memfasilitasi koordinasi dan sinkronisasi kegiatan yang terkait dengan penanggulangan kemiskinan termasuk peninjauan lapangan oleh berbagai pihak yang berkepentingan
(7) Memfasilitasi PJM Pronangkis sebagai program kelurahan untuk dibahas dalam musrenbang kelurahan
(8) Memberi laporan bulanan kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayahnya kepada Camat
(9) Berkoordinasi dengan Tim Fasilitator, relawan masyarakat dan LKM, memfasilitasi penyelesaian persoalan dan konflik serta penanganan pengaduan yang muncul dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayah kerjanya.
Apabila dilihat dari struktur organisasi pelaksana PNPM Mandiri Perkotaan, nampak adanya pengaturan yang jelas hubungan antara bagian-bagian dari komponen dan posisi masing-masing. Spesifikasi pembagian-bagian kerja dan fungsi-fungsinya saling terkait dengan adanya garis koordinasi, garis pelaporan maupun garis pengendalian, sehingga menunjukkan tingkat-tingkat spesialisai, hirarki, wewenang dan hubungan dari masing-masing komponen. Melalui struktur organisasi yang baik dapat mewujudkan pembagian kerja dan tanggung jawab sehingga tercipta harmonisasi dan akhirnya tujuan program dapat tercapai.
PNPM Mandiri Perkotaan dirancang sebagai gerakan bersama yang terpadu dalam penanggulangan kemiskinan melalui proses pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat memerlukan keterlibatan berbagai pihak, antara lain pemerintah, kelompok ahli, dunia usaha dan masyarakat luas. Berbagai pihak yang terlibat dalam implementasi program ini tergambar pada struktur organisasi pelaksanan PNPM mandiri Perkotaan di atas, dari level paling bawah yakni masyarakat sampai dengan level yang paling atas (pemerintah pusat).
Keterlibatan pemerintah pusat dan daerah dalam implementasi PNPM Mandiri Perkotaan sesuai perannya diharapkan dapat :
1) Menumbuhkan iklim yang mendukung untuk upaya pemberdayaan masyarakat khususnya masyarakat miskin
2) Mendorong ‘pelembagaan’ mekanisme yang menjamin terwujudnya komunikasi, koordinasi dan keterpaduan antara pemerintah dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat
3) Melakukan audit untuk semua pelaku PNPM Mandiri Perkotaan.
Perangkat pemerintah khususnya pemerintah daerah harus mampu untuk mengalihkan perannya sebagai pelaksana menjadi fasilitator atau pendamping warga dan selalu berorientasi pada pengembangan masyarakat dengan mengedepankan prakarsa masyarakat (Pedoman PNPM Mandiri Perkotaan, 2010). Apabila dilihat dalam pedoman tersebut, maka pelaksana program yang paling dekat dengan upaya pemberdayaan masyarakat dalam implementasi PNPM mandiri Perkotaan adalah masyarakat kelurahan yang terorganisir dalam relawan masrarakat, LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat) dan KSM (Kelompok Swadaya masyarakat).
Relawan masyarakat adalah pelopor-pelopor penggerak dari masyarakat yang mengabdi tanpa pamrih, ikhlas dan peduli serta memiliki komitmen kuat pada kemajuan masyarakat di wilayahnya. PNPM Mandiri Perkotaan mendorong masyarakat untuk membantu melaksanakan seluruh tahapan kegiatan dalam program ini agar bermanfaat bagi masyarakat miskin serta seluruh masyarakat di wilayahnya. Dengan demikian peran utama relawan masyarakat adalah :
1) Pelopor perubahan
2) Penggerak masyarakat dalam menjalani seluruh proses PNPM Mandiri Perkotaan yang memang direncanakan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat atau peningkatan kapasitas, sehingga secara rinci relawan diharapkan menjadi pelopor dalam siklus program : refleksi kemiskinan, pemetaan swadaya, pembentukan BKM, pengorganisasian KSM, perencanaan partisipatif dan sebagainya
3) Pengawalan nilai-nilai luhur, seperti transparansi, demokrasi, kejujuran dan sebagainya. Sehingga setelah LKM terbentuk, para relawan harus berfungsi sebagai pengawas partisipatif terhadap keseluruhan proses. 4) Mitra kerja LKM, oleh sebab itu para relawan membentuk Forum relawan
dan berhak mendapat informasi perkembangan kegiatan penanggulangan kemiskinan yang dipimpin oleh LKM.
Organisasi masyarakat kelurahan lain yang menjadi pelaksana PNPM Mandiri Perkotaan adalah LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat) yang berperan sebagai ‘Dewan Amanah’ atau ‘Pimpinan Kolektif’ organisasi masyarakat kelurahan setempat. LKM ini bertanggung jawab menjamin keterlibatan semua lapisan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan yang kondusif untuk pengembangan keswadayaan masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan khususnya dan pembangunan masyarakat kelurahan pada umumnya. Oleh sebab itu peran utama LKM adalah sebagai berikut :
1) Mengorganisasikan warga secara partisipatif untuk merumuskan rencana jangka menengah (3 tahun) pennggulangan kemiskinan dan diajukan ke PJOK untuk mencairkan dana BLM
2) Sebagai dewan pengambilan keputusan untuk hal-hal yang menyangkut pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan pada khususnya dan penanggulangan kemiskinan pada umumnya di tingkat komunitas
3) Mempromosikan dan menegakkan nilai-nilai luhur dalam setiap keputusan yang diambil dan kegiatan pembangunan yang dilaksanakan
4) Menumbuhkan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat miskin agar mampu meningkatkan kesejahteraan mereka
5) Mengembangkan jaringan LKM di tingkat kecamatan dan kota sebagai mitra kerja pemerintah daerah dan wahana untuk menyuarakan aspirasi masyarakat diwilayahnya
6) Menetapkan kebijakan dan mengawasi proses pemanfaatan dana BLM (Bantuan Langsung Masyarakat) yang sehari-hari dikelola oleh UPK. Berdasarkan hasil penelitian terhadap organisasi pelaksana dalam implementasi PNPM Mandiri Perkotaan d Kota Pontianak menunjukkan bahwa masing-masing implementor telah melaksanakan fungsinya, tetapi masih terkendala pada sumber daya manusianya. Unsur pelaksana program ini adalah pemerintah sebagai pemegang otoritas kebijakan dan pihak swasta sebagai konsultan dan penggerak dalam implementasi PNPM Mandiri Perkotaan. Adanya unsur swasta dalam implementasi program ini menunjukkan bahwa konsep good governace sudah diterapkan. Secara konseptual good governance menggabungkan unsur pemerintah, swasta dan
masyarakat dalam penyelanggaraan pemerintahan (Tlokroamidjojo, 2000 : 54), termasuk juga dalam menerapkan kebijakan publik. Sudah waktunya pemerintah lebih berperan sebagai facilitating dan enabling (yang memungkinkan masyarakat sendiri berperan aktif sebagai pelaku ekonomi sosial) serta berperan sebagai empowering rather than serving
(memberdayakan dari pada melayani) menurut Osborne (1998 : 96) Pernyataan tegas Drucker (1997 : 68) bahwa semua hal yang dapat dikerjakan lebih baik atau dengan hasil yang sama oleh organisasi non-pemerintah seharusnya tidak dikerjakan sama sekali oleh pemerintah.
Dalam rangka implementasi PNPM mandiri Perkotaan di Kota Pontianak juga sudah menerapkan konsep good governance, dimana pemerintah telah memberikan kepercayaan kepada pihak swasta (konsultan pelaksana) untuk mengelola program ini dengan memberikan supervisi kepada pemerintah daerah dan masyarakat. Konsultan pelaksana meliputi Konsultan Manajemen Pusat (KMP) yang berkedudukan di pusat, Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) di tingkat provinsi dan Koordinator Kota di tingkat Kota serta penempatan tenaga-tenaga pendamping atau fasilitator kelurahan (faskel).
Konsultan Manajemen Pusat bertugas melaksanakan tugas PMU (Program Manajemen Unit) dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan, khususnya dalam pengendalian mutu yang menyangkut substansi. Secara umum tugas KMP meliputi perencanaan, koordinasi, monitoring dan supervisi (pengendalian), pelaporan dan melakukan tindakan penanggulangan terhadap berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan. Sedangkan KMW bertugas melakukan perencanaan, persiapan,
pelaksanaan, koordinasi, monitoring, supervisi dan pelaporan seluruh kegiatan pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di Satuan Wilayah kerja. Ruang lingkup kegiatan KMW adalah sebagai berikut :
1) Perencanaan, terhadap strategi pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di lingkup satuan wilayah kerjanya yang kemudian disosialisasikan kepada instansi pemerintah daerah setempat dan masyarakat setelah dikonsultasikan dan mendapat persetujuan KMP
2) Orientasi dan persiapan untuk tingkat pusat dan daerah dengan mendukung dan sebagian terlibat pada proses lokakarya orientasi, sosialisasi dan kampanye nasional PNPM Mandiri Perkotaan serta kegiatan lainnya. 3) Pelaksanaan :
(1) Sebagai pelaksana lapangan kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayah kerja masing-masing
(2) Menjamin realisasi pemberdayaan masyarakat dilakukan secara tepat melalui manajemen dan fasilitasi yang benar dan tepat oleh team fasilitator
(3) Memfasilitasi, mengkoordinasi dan mendukung pembentukan Forum BKM tingkat Kota dan menghubungkan dengan stakeholders lainnya, termasuk dinas pemerintah kota dalam rangka membangun kemitraan serta networking yang saling menguntungkan diantara mereka.
(4) Mengkondisikan masyarakat, kelompok-kelompok masyarakat serta kekuatan-kekuatan sosial yang ada termasuk didalamnya perangkat pemerintah kota agar memahami esensi dan substansi PNPM Mandiri
Perkotaan, sehingga dapat memberikan dukungan maupun control yang memadai
(5) Membangun dan mengembangkan kapasitas pemerintah local dan stakeholders lainnya untuk bekerja lebih efektif dengan masyarakat dalam menanggulangi kemiskinan
(6) Mendorong dan mengembangkan terbentuknya kelompok independen yang berfungsi sebagai control sosial bagi PNPM mandiri Perkotaan (7) Menumbuhkembangkan dan melembagakan kembali nilai-nilai dan
prinsip PNPM Mandiri perkotaan sebagai bagian proses pembangunan lokal, khususnya dalam penanggulangan kemiskinan
(8) Menjamin berfungsinya SIM PNPM Mandiri Perkotaan melalui pengelolaan dan penyediaan input data yang akurat
(9) Berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan kota dalam rangka menyelesaikan berbagai masalah yang ada dan mendukung kelancaran pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan.
4) Koordinasi, kepada seluruh pihak terkait di wilayah kerja masing-masing, yaitu instansi pemerintah daerah, LSM lokal, lembaga komunitas dan masyarakat lokasi sasaran
5) Monitoring, terhadap seluruh pelaksanaan kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan di satuan wilayah kerjanya dengan membuat laporan yang didasarkan pada data
6) Supervisi, terhadap pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh fasilitator. Lembaga konsultan yang ada pada PNPM Mandiri perkotaan diberi kepercayaan untuk memberikan bantuan teknik atau pendampingan dan
pengembangan kapasitas kepada pemerintah daerah. Bentuk bantuan yang diberikan kepada pemerintah mencakup : a) Fasilitas pertemuan-pertemuan musyawarah di tingkat daerah, b) Pendalaman pemahaman maupun penyebarluasan informasi, c) penyediaan media-media sosialisasi , d) kunjungan lapangan dalam rangka pendalaman pemahaman dan penggalian aspirasi masyarakat, e) pengorganisasian, monitoring, fasilitas, supervise dan evaluasi bersama.
Menurut Jones (1995: 33) untuk mengukur kinerja atau keefektifan organisasi dapat digunakan tiga pendekatan, yaitu: External resource
approach, Technical approach dan Internal systems approach. External resource approach adalah pengukuran yang didasarkan pada kemampuan
sumber daya yang dimiliki dan dikelola oleh organisasi untuk mencapai kinerja atau efektifitas. Technical approach adalah pengukuran yang didasarkan pada kemampuan tehnologi yang diterapkan oleh organisasi untuk mencapai kinerja atau efektifitas. Sedangkan Internal system approach, yaitu pengukuran yang didasarkan pada kemampuan organisasi dalam mengembangkan dan membuat sesuatu yang baru (inovasi) untuk merespon secara cepat terhadap perubahan lingkungan.
Dalam implementasi kebijakan publik, organisiaisi pelaksana yang berperan dominan sebagai implementor, kinerjanya secara internal akan ditentukan oleh kapasitas organisasi yang dimilikinya. Menurut Goggins (1990: 120): “Organizational or administrative capacity refers to an
institutional ability to take purposeful action”. Kinerja organisasi secara
dimilikinya. Selanjutnya kapasitas organisasi merupakan fungsi dari struktur, personil dan karakteristik financial yang dimiliki oleh badan pemerintah sebagai implementing organizational.
Adapun bentuk-bentuk dan jenis pelatihan yang diberikan kepada pemerintah daerah seperti yang diuraiakan dalam Pedoman PNPM Mandiri Perkotaan adalah pelatihan (coaching) perencanaan partisipatif. Pelatihan ini dilakukan untuk pemerintah kota yang difasilitasi oleh Konsultan Manajemen Wilayah (KMW), dalam bentuk :
1) Peningkatan kapasitas kepada pemerintah kota dan pelaku lainnya tentang perencanaan partisipatif yang berbasis community based development 2) Peningkatan kapasitas pengelolaan dan pengendalian system informasi
manajemen PNPM Mandiri Perkotaan
3) Peningkatan kapasitas system informasi manajemen berbasis website di tingkat pemerintah kota, yang bertujuan agar dapat mengelola, mengendalikan serta memantau seluruh perkembangan kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayahnya secara transparan dan akuntabel
4) Peningkatan kapasitas pengelolaan pengaduan masyarakat
Titik berat pelaksanaan bantuan pendampingan di tingkat pemerintah kota adalah membangun kesadaran kritis bagi perangkat pemerintah daerah dan kelompok peduli untuk mencapai sinergi antara masyarakat, pemerintah dan kelompok peduli serta reformasi kebijakan, program dan penganggaran yang berorientasi pada masyarakat miskin. Disamping itu pemerintah kota harus membangun media pengaduan masyarakat untuk menampung berbagai keluhan dari masyarakat. Tujuannya agar terbangun kontrol sosial warga
dalam memonitor seluruh pelaksanaan kegiatan sehingga segala bentuk penyimpangan dapat dikurangi serta diantisipasi lebih dini oleh pemerintah kota dan masyarakat itu sendiri. Media pengaduan ini sampai sekarang juga belum berjalan secara efektif, karena masyarakat belum melihat media ini dapat membantu aspirasi mereka.
Pelatihan perencanaan partisipatif lebih difokuskan pada lurah maupun pejabat diatasnya sebagai target pelatihan, dengan harapan bahwa bekal pengetahuan yang dimiliki oleh lurah dapat mentransfer pengetahuannya tentang PNPM mandiri Perkotaan kepada aparat dan masyarakatnya. Kenyataannya seluruh paket pelatihan yang dilakukan oleh PNPM Mandiri perkotaan tidak mengikutsertakan seluruh perangkat kelurahan, sehingga menjadi kesulitan ketika pelatihan itu hanya diberikan kepada lurah dan ternyata terjadi mutasi jabatan. Pada hal program ini adalah program yang berkelanjutan dan berkesinambungan, sehingga dalam setiap kegiatan yang ada dalam PNPM Mandiri Perkotaan juga harus berkelanjutan. Kurangnya ketrampilan pengelolaan terutama yang menyangkut pengetahuan akan pelaksanaan strategi pemberdayaan merupakan problem tersendiri yang dihadapi oleh pelaksana program, sebab minimnya sumberdaya yang dapat digunakan untuk pelatihan profesional.
Pihak swasta selain konsultan-konsultan pelaksana di atas (KMP dan KMW), yang terlibat dalam implementasi PNPM Mandiri Perkotaan adalah Tim Fasilitator yang merupakan pelaksana proyek dan pendamping masyarakat untuk mensosialisasikan kepada masyarakat tentang PNPM Mandiri Perkotaan serta melakukan intervensi dalam rangka pemberdayaan
masyarakat untuk membantu masyarakat merumuskan dan melaksanakan kegiatan penanggulangan kemiskinan. Untuk itu tugas utama fasilitator adalah sebagai pelaksana proyek dan sebagai pendamping masyarakat dalam implementasi PNPM Mandiri perkotaan. Sebagai pendampingan masyarakat, maka rincian tugasnya adalah :
1) Melaksanakan kegiatan-kegiatan sosialisasi 2) Melaksanakan kegiatan-kegiatan pelatihan
3) Melaksanakan kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat
Tugas-tugas tim fasilitator tersebut diarahkan untuk mendorong masyarakat agar mau terlibat dalam proses pemberdayaan masyarakat untuk menanggulangi kemiskinan. Bersama para relawan masyarakat, fasilitator memfasilitasi KSM untuk mengidentifikasi peluang usaha sekaligus memberikan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat miskin. Tugas ini akan terasa berat apabila masyarakat miskin tersebut tidak mendukungnya. Untuk itu yang diperlukan adalah pemberian advokasi dan membangun jalinan kemitraan antar semua pelaku atau implementor agar bermanfaat bagi masyarakat dan pihak lainnya.
Advokasi (Suharto, 2008:124) adalah proses yang melibatkan seperangkat tindakan politis yang dilakukan oleh warga Negara yang terorganisir untuk mentransformasikan hubungan-hubungan kekuasaan. Tujuan advokasi adalah untuk mencapai perubahan kebijakan tertentu yang bermanfaat bagi penduduk yang terlibat dalam proses tersebut. Advokasi yang efektif dilakukan sesuai dengan rencana strategis dan dalam kerangka waktu yang sesuai. Dalam implementasi PNPM Mandiri Perkotaan diperlukan adanya advokasi, karena
pendekatan dalam program ini adalah pemberdayaan masyarakat dan pemerintah daerah untuk penenggulangan kemiskinan.
Advokasi kebijakan dapat menjadi sarana untuk mengembangkan partisipasi masyarakat, mengubah karakter pengambil kebijakan dan pada akhirnya mengadakan perubahan di tingkat local. Menurut Dede Mariana (2006: 214), advokasi kebijakan diarahkan untuk mencapai outcome berupa: (1) penguatan kapasitas pengorganisasian masyarakat sebagai basis partisipasi dan (2) perubahan watak birokrasi dan parlemen sebagai bagian dari institusi pengambil keputusaa (decision maker).
Keberhasilan advokasi banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain pendidikan analis kebijakan, dukungan stakeholders dan kejelasan sasaran atau audiens advokasi. Advokasi yang efektif mempunyai karakteristik sebagai berikut: jelas sasarannya, berorientasi pada hasil, terencana, kreatif, relevan dengan kebutuhan masyarakat, persuasif, strategis, berpengaruh dan terukur. Namun demikian ada dua faktor penting yang sangat menentukan keberhasilan advokasi, yaitu :
1) Pengetahuan mengenai siapa yang terlibat dalam atau terpengaruh oleh proses kebijakan publik
2) Pengetahuan mengenai perangkat kelembagaan apa saja yang diperlukan bagi implementasi kebijakan.
Dalam implementasi PNPM Mandiri Perkotaan, advokasi dilakukan dengan memfasilitasi dan membimbing masyarakat secara intensif agar masyarakat mengikuti ketentuan Pedoman PNPM mandiri Perkotaan dalam seluruh tahapan kegiatan yang ada dalam implementasi program ini. Advokasi
disini lebih banyak dilakukan oleh tim fasilitator bekerja sama dengan relawan