• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.3. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Implementasi PNPM Mandiri Perkotaan di Kota Pontianak Kurang Berhasil Dalam Mencapai

4.3.1. Program yang Diidealkan

Jenis kegiatan yang ada dalam PNPM Mandiri Perkotaan dalam bentuk bantuan untuk masyarakat Kota Pontianak diwujudkan dalam bentuk bantuan pendampingan dan bantuan dana.

1) Bantuan pendampingan, diwujudkan dalam bentuk penugasan konsultan dan fasilitator beserta dukungan dana operasional untuk mendampingi dan memberdayakan masyarakat agar mampu merencanakan dan melaksanakan program masyarakat untuk menanggulangi kemiskinan di kelurahan masing-masing.

2) Bantuan dana, diberikan dalam bentuk dana BLM (Bantuan Langsung Masyarakat) yang bersifat stimulan dan sengaja disediakan untuk memberi kesempatan kepada masyarakat untuk berlatih dengan mencoba

melaksanakan sebagian rencana kegiatan penanggulangan kemiskinan yang telah direncanakan.

Proses pendampingan dalam implementasi PNPM Mandiri Perkotaan belum dapat menghasilkan masyarakat yang peduli dengan kemiskinan dan pelestarian lingkungan serta belum mampu mengaktualisasikan dirinya sebagai bagian dari upaya penanggulangan kemiskinan di Kota Pontianak. Disamping itu, LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat) yang sudah terbentuk belum dapat sepenuhnya dipercaya, aspiratif representative dan akuntabel. PJM Pronangkis belum tersusun sebagai wadah untuk mewujudkan sinergi berbagai program penanggulangan kemiskinan yang komprehensif dan sesuai dengan aspirasi serta kebutuhan masyarakat dan relawan masyarakat sebagai penggerak proses pembangunan partisipatif di wilayahnya. Bantuan Pendampingan dalam program ini belum dapat menghasilkan kegiatan dan forum pemantauan partisipatif untuk memastikan pelaksanaan kegiatan penanggulangan kemiskinan berdasarkan PJM Pronangkis dan forum LKM di tingkat kecamatan dan kota untuk mendukung harmonisasi berbagai program.

Untuk bantuan dana yang diberikan dalam bentuk BLM, besarnya alokasi dana ditentukan berdasarkan jumlah penduduk di setiap kelurahan. Jika ukuran penduduk kelurahan kurang lebih 3000 jiwa, bantuan dana yang diberikan sebesar 200 juta rupiah, sedangkan untuk ukuran penduduk antara 3000 sampai dengan 10 000 jiwa bantuan dana yang diberikan adalah 300 juta rupiah. Sedangkan untuk jumlah penduduk diatas 10 000 jiwa diberikan dana bantuan sebanyak 500 juta rupiah. Dana BLM ini adalah dana publik yang

disalurkan sebagai wakaf tunai kepada seluruh warga kelurahan dengan peruntukannya diprioritaskan kepada warga miskin.

Dalam pencairan dana BLM disalurkan langsung kepada LKM yang dilakukan melalui 3 tahap, sebagai berikut :

1) Disalurkan 20% setelah terbentuk LKM (Lembaga Swadaya Masyarakat), dengan menandatangani Surat Perjanjian Pemberian Bantuan (SPPB). Penandatanganan perjanjian harus dilampiri dengan dokumen PJM Pronangkis yang telah disetujui oleh masyarkat dan telah diverivikasi oleh pihak KMW dan korkot kepada PJOK serta dokumen lain yang berkaitan dengan pencairan dana.

2) Disalurkan sebanyak 50% dengan syarat dana pada tahap pertama yang telah disalurkan kepada KSM telah dimanfaatkan dan dipertanggungjawabkan secara teknis dan administratif minimal 50% serta kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan sudah diperiksa dan ditandatangani oleh tim fasilitator dan diverivikasi oleh korkot, termasuk administrasi keuangan telah diverivikasi oleh KMW dengan hasil yang baik.

3) Tahap terakhir disalurkan dana 30% dengan syarat sebagaimana syarat pada tahap kedua.

Dengan adanya bantuan pendampingan dan bantuan dana dalam implementasi PNPM Mandiri Perkotaan , maka pemanfaatan dana BLM telah digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang langsung dimanfaatkan oleh masyarakat miskin, dan dilarang dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan upaya penanggulangan kemiskinan, menimbulkan

dampak sosial dan kerusakan lingkungan, berorientasi kepada kepentingan individu atau kelompok tertentu dan bertentangan dengan norma-norma, hukum serta peraturan yang berlaku

Karena PNPM Mandiri Perkotaan ini bersifat pemberdayaan dan bekelanjutan, maka setiap kegiatan yang ada dalam PNPM Mandiri Perkotaan diperlukan adanya partisipasi masyarakat. Pemberdayaan dan partisipasi merupakan strategi yang sangat potensial dalam rangka meningkatkan ekonomi, sosial dan transformasi budaya (Hikmat, 2010 : 4). Proses ini pada akhirnya akan menciptakan pembangunan yang berpusat pada rakyat sebagai sasaran dan sekaligus pelaku program. Strategi dalam pelaksanaan program meletakkan partisipasi masyarakat sebagai isu sentral dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan ke dalam efektifitas, efisiensi dan sikap kemandirian. Pemberdayaan dilaksanakan melalui kegiatan kerja sama dengan para relawan yang bersumber bukan dari pemerintah, tetapi dari masyarakat, seperti lembaga swadaya masyarakat (LSM). Partisipasi masyarakat melalui organisasi kemasyarakatan merupakan kunci partisipasi efektif untuk mengatasi masalah kemiskinan. Dengan cara ini masyarakat kecil (kelompok

grassroot) dapat memperoleh keadilan, hak asasi manusia dan demokrasi.

Partisipasi masyarakat Kota Pontianak dalam implementasi PNPM Mandiri Perkotaan diawali dengan keterlibatannya masyarakat dalam musrenbang kelurahan. Musrenbang kelurahan merupakan bagian dari mekanisme perencanaan pembangunan untuk merumuskan kegiatan-kegiatan pembangunan terutama yang menjadi kewenangan pemerintah kelurahan. Hasil musrenbang kecamatan digunakan untuk menyusun rencana kerja

kelurahan dan merumuskan prioritas permasalahan untuk diajukan ke musrenbang kecamatan. Selain itu musrenbang kelurahan dapat menjadi sarana bagi pemerintah kelurahan dengan masyarakat untuk merumuskan kegiatan swadaya masyarakat kelurahan maupun kegiatan yang dibeayai APBD.

Sebagai bagian dari tatanan pemerintahan kelurahan yang demokratis, musrenbang kelurahan lebih memungkinkan untuk melibatkan masyarakat seluas-luasnya dari pada musrenbang di tingkat kecamatan dan kota. Dalam musrenbang, perencanaan dan penganggaran merupakan proses yang tidak terpisahkan. Penyusunann rencana kerja kelurahan membutuhkan sumber anggaran, sebab jika tidak tersedia anggaran atau sumber daya lainnya maka rencana kerja tersebut hanya akan menjadi dokumen kertas saja. Dokumen perencanaan dan dokumen anggaran merupakan dua sisi mata uang yang diperlukan sebagai acuan pemerintah kelurahan untuk menjalankan kegiatan pembangunan bagi kemajuan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Untuk itu perlu dikembangkan konsep perencanaan – penganggaran partisipatif (participatory planning and budgeting) yang berpihak kepada kelompok miskin (pro poor) dan perempuan (pro gender). Konsep ini sebagai kritik bahwa kelompok miskin dan perempuan sering diwakili oleh kelompok elit dan laki-laki. Budaya masyarakat menyebabkan perempuan seringkali tidak berperan di sektor public dan urusan pembangunan dianggap sebagai ‘urusan laki-laki’. Peminggiran ini harus diubah dan mereka seharusnya hadir, ikut bermusyawarah dan juga ikut menerima manfaat langsung dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan ini.

Perencanaan dan penganggaran yang berpihak kepada kelompok miskin dan perempuan seperti halnya pada PNPM Mandiri Perkotaan dapat diartikan sebagai:

1) Proses yang melibatkan kalangan marginal/perempuan yang biasanya tidak ikut hadir dan tidak ikut bersuara dalam forum publik

2) Hasil rencana kerja yang disusun menetapkan kelompok miskin dan perempuan sebagai sasaran kegiatan atau penerima manfaat

3) Alokasi anggaran untuk kegiatan dengan kelompok miskin dan perempuan sebagai sasaran atau penerima manfaat langsung.

Musrenbang kelurahan yang merupakan forum dialogis antara masyarakat pemerintah dan pemangku kepentingan harus dapat merumuskan kebijakan, peraturan atau program pembangunan. Pemerintah kelurahan dan warganya berembug dalam menyusun program tahunan. Untuk itu tujuan musrenbang kelurahan adalah sebagai berikut:

1) Menyepakati prioritas kebutuhan dan kegiatan yang termasuk urusan pembangunan yang menjadi wewenang kelurahan sebagai bahan penyusunan rencana kerja SKPD Kelurahan

2) Prioritas kegiatan kelurahan yang akan dilaksanakan oleh warga kelurahan yang dibeayai melalui dana swadaya masyarakat dan dikoordinasikan oleh lembaga kemasyarakatan di kelurahan setempat

3) Prioritas kegiatan kelurahan yang akan dilaksanakan kelurahan sendiri yang dibeayai melalui dana bantuan dari pemerintah kota

4) Prioritas kegiatan pembangunan kelurahan yang akan diusulkan melalui musrenbang kecamatan untuk menjadi kegiatan pemerintah daerah dan dibeayai melalui APBD Kota

5) Menyepakati Tim Delegasi kelurahan yang akan memaparkan persoalan daerah yang ada di kelurahannya di forum musrenbang kecamatan untuk penyusunan program pemerintah daerah tahun berikutnya.

Dalam musrenbang kelurahan, warga berpartisipasi aktif dalam proses musyawarah sampai pengambilan keputusan. Bukan hanya pandai dan banyak bicara melainkan juga mampu mendengarkan aspirasi dan pandangan warga yang lain serta mampu menjaga agar musrenbang benar-benar menjadi forum musyawarah bersama. Semua warga kelurahan berhak berpartisipasi dalam musrenbang kelurahan, tetapi terdapat kriteria dan persyaratan untuk menjadi peserta musrenbang, antara lain :

1) Peserta menjunjung tinggi prinsip-prinsip musyawarah, yaitu kesetaraan, menghargai perbedaan pendapat, anti dominasi, anti diskriminasi, mengutamakan kepentingan umum dan keberpihakan terhadap kalangan marjinal

2) Peserta bersedia mempersiapkan diri dengan cara ikut serta mengumpulkan dan mempelajari berbagai infrmasi, dokumen dan materi yang relevan untuk pelaksanaan musrenbang kelurahan.

3) Peserta berminat membangun kapasitasnya mengenai kebijakan, aturan, arah program pemerintah, berbagai isu pembangunan dan sebagainya, sehingga bisa berperan serta sebagai peserta musrenbang yang aktif.

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan adalah sebuah kebijakan pemerintah pusat yang merupakan upaya untuk membangun kemandirian masyarakat dan pemerintah daerah dalam menanggulangi kemiskinan secara mandiri. Melalui program pemberdayaan dapat terjadi harmonisasi prinsip-prinsip dasar, pendekatan, strategi serta berbagai mekanisme dan prosedur pembangunan yang berbasis pemberdayaan masyarakat sehingga proses penanggulangan kemiskinan dapat berjalan secara efektif dan efisien. Selain itu, sebuah program paling tidak harus menggambarkan : (1) Kepentingan yang terpengaruhi oleh program, (2) jenis manfaat yang akan dihasilkan, (3) derajat perubahan yang diinginkan, (4) status pembuat keputusan, (5) Siapa pelaksana program dan (6) sumber daya yang digunakan.

Keenam komponen tersebut akan turut menentukan keberhasilan implementasinya. Program juga merupakan rencana yang bersifat komprehensif yang sudah menggambarkan sumber daya yang akan digunakan dan terpadu dalam satu kesatuan. Sehingga dalam implementasi sebuah Program akan menggambarkan sasaran kebijakan, prosedur, metode, standart dan budget. Sebuah program paling tidak harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1) Sasaran yang dikehendaki

2) Jangka waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu 3) Besarnya beaya yang diperlukan beserta sumbernya

5) Tenaga kerja yang dibutuhkan baik ditinjau dari segi jumlahnya maupun dilihat dari sudut kualifikasi serta keahlian dan ketrampilan yang diperlukan

Dengan PNPM Mandiri Perkotaan diyakini bahwa pendekatan yang lebih efektif untuk mewujudkan proses perubahan perilaku masyarakat adalah melalui pendekatan pemberdayaan atau proses pemberdayaan masyarakat dan penguatan kapasitas untuk mengedepankan peran pemerintah daerah dalam mengapresiasi dan mendukung kemandirian masyarakatnya. Kedua substansi tersebut sangat penting sebagai upaya proses transformasi PNPM Mandiri Perkotaan dari tataran proyek menjadi tataran program oleh masyarakat bersama pemerintah kota. Proses pemberdayaan dilakukan masyarakat secara terus menerus untuk menumbuh kembangkan kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai universal kemanusiaan, prinnsip-prinsip kemasyarakatan dan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan serta sebagai landasan yang kokoh untuk membangun masyarakat yang mandiri dan sejahtera.

Strategi pemberdayaan masyarakat digunakan dalam pendekatan pembangunan yang berpusat pada masyarakat. Dengan demikian diperlukan adanya kapasitas masyarakat untuk meningkatkan kemandirian dan kekuatan internal yang dapat ditempuh melalui kesanggupan melakukan control internal atas sumber daya materi dan non material yang penting melalui redistribusi modal. Pendekatan ini sangat relevan sebagai paradigma kebijakan desentralisasi dalam penanganan masalah sosial di masyarakat. Untuk itu ada tiga dasar untuk melakukan perubahan-perubahan structural dan normative dalam pembangunan yang berpusat pada rakyat, yaitu :

1) Memusatkan pemikiran dan tindakan kebijakan pemerintah pada penciptaan keadaan –keadaan yang mendorong dan mendukung usaha rakyat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri dan untuk memecahkan masalah-masalah mereka sendiri di tingkat individual, keluarga dan komunitas.

2) Mengembangkan struktur-struktur dan proses organisasi-organisasi yang berfungsi menurut kaidah-kaidah system swaorganisasi.

3) Mengembangkan sistem-sistem produksi-konsumsi yang diorganisasi secara territorial yang berlandaskan pada kaidah-kaidah pemilikan dan pengendalian lokal.

Model pembangunan yang menekankan pada pemberdayaan memandang inisiatif dan kreatif masyarakat sebagai sumberdaya yang paling utama. Masyarakat harus menjadi pelaku utama dalam strategi pemberdayaan masyarakat, baik yang tradisional, aksi langsung (direct action), maupun transformatif. Dalam strategi tradisional menyarankan agar masyarkat mengetahui dan memilih kepentingan terbaik secara bebas dalam berbagai keadaan. Strategi direct action membutuhkan dominasi kepentingan yang dihormati oleh semua pihak yang terlibat. Sedangkan strategi transformatif menunjukkan bahwa pendidikan massa dalam jangka panjang dibutuhkan sebelum pengidentifikasian kepentingan diri sendiri.

Beberapa prinsip yang tidak boleh dilanggar dalam musrenbang agar dapat menjadi forum musyawarah pengambilan keputusan bersama dalam rangka menyusun program seperti yang diatur dalam PP 72/2005 tentang Desa dan PP 73 tentang Kelurahan , adalah sebagai berikut :

1) Prinsip kesetaraan, artinya peserta musyawarah adalah warga dengan hak yang setara untuk menyampaikan pendapat, berbicara dan dihargai meskipun terjadi perbedaan pendapat. Sebaliknya jika memiliki kewajiban yang setara untuk mendengarkan pandangan warga lain, menghargai pendapat dan menjunjung tinggi (menghormati) hasil keputusan forum meskipun kita sendiri tidak sependapat.

2) Prinsip musyawarah dialogis, artinya peserta musrenbang kelurahan

Dokumen terkait