Tingkat Pendidikan dan Jumlah Sumberdaya Pengelola
E. Kelembagaan Dinas Pertanian Kabupaten Bantaeng di Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng
5.4.2. Organisisasi(O) Dinas Pertanian dan Peternakan Kab
Program Penguatan Kelembagaan UPTD, 7) Program Pemanfaatan Potensi Sumberdaya, 8) Program Rehabilitasi dan Lahan, 9) Program Perlindungan dan Konservasi Sumberdaya , 10) Program Pembinaan Dan Penertiban Industri Hasil, 11) Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian / Perkebunan, 12) Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian / Perkebunan, dan 13) Program peningkatan Kapabilitas pertani. Dari 13 program tersebut 6 program kegiatan yang berkaitan langsung dengan pengelolaan pada dan 2 program yang terkait dengan pertanian .
Program yang tekait pengeloaan adalah Program penguatan kelembagaan Petani dengan kegiatan sebagai berikut: 1) Peningkatan sarana dan prasarana, 2) Pengembangan Kapabilitas penyuluh, 3) Peningkatan Pengelolaan Produksi, 4) Pembangunan dan Pengembangan Hasil, dan 5) Peningkatan Sarana dan prasarana.
Terkait kegiatan perkebunan terdapat dua program yaitu Program Peningkatan Produksi Pertanian / Peternakan memiliki kegiatan: 1) Peningkatan produksi dan produktifitas komoditi perkebunan, 2) Pengembangan Bibit Unggul Pertanian,dan3) Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman dan Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertaniandengan kegiatan sekolah lapang penanganan pasca panen.
Struktur organisasi merupakan perangkat penting dalam organisasi, distruktur tergambar level tiap unit, distruktur organisasi memperlihatkan kaitan tiap unit dalam organisasi. Struktur organiasi disusun disesuaikan oleh kebutuhaan dari organisasi, sebagaimana tujuan dibentuknya organisasi untuk memudahkan mencapai tujuan organisasi, mengefektifkan kegiatan dan memudahkan pengawasan.
Struktur organisasi di dinas pertanian kabupaten Bantaeng telah dianggap memadai untuk pencapaian visi dan misi pembangunan pertanian Kabupaten Bantaeng, Soekartawi (2015), dalam suatu organisasi yang sangat penting adalah koordinasi tiap unit kerja, dan tiap unit kerja mengetahui fungsi dan peran masing-masing unit, bukan gemuknya struktur itu namun yang penting koordinasi. Sebagaimana disampaikan oleh informan.
“ Zainal mengatakan merupakan kewajiban suatu unit untuk melaporkan kegiatannya secara terstruktur dan secara priodik sehingga struktur diatasnya dapat mengetahui perkembangan kinerja, namun kesadaran dari unit terkait masih rendah sehingga evaluasi dapat dilakukan (Wawancara tanggal 15 Desember 2016)
Adapun struktur organisasi Dinas pertanian Kabupaten Bantaeng dapat dilihat pada Lampiran 2.
Tugas pokok bidang hortikultura sebagai berikut; pokok melaksanakan perumusan kebijakan dan penetapan standar tekhnis, pelaksanaan dan pembinaan tekhnis bidang hortikultura, meliputi Pembenihan Hortikultura, Pengembangan Produksi Hortikultura, serta Pengendalian dan Pengamatan OPT Hortikultura.
Sedangkan kepala bidang Hortikultura mempunyai fungsi : 1) Penerapan bahan dalam perumusan dan penetapan kebijakan tekhnis di Bidang Hortikultura. 2) Pelaksanaan Kebijakan dan Standar Tekhnis di Bidang Hortikultura. 3) Pembinaan, pengkoordinasian, pengendalian, pengawasan program dan kegiatan Kepala Seksi dan pejabat non stuktural dalam lingkup bidang. 4) Penyelenggaraan evaluasi program dan kegiatan Kepala Seksi dan pejabat non stuktural dalam lingkup bidang. Dengan rincian tugas sebagai berikut:
a. Merencanakan Operasionalisasi Rencana Kerja sesuai Tugas Pokok dan Fungsinya
b. Merumuskan Program Kerja Bidang Hortikultura
c. Menyelenggarakan Rencana Kerja sesuai Tugas Pokok dan Fungsinya
d. Melaksanakan Peraturan Perundang-undangan dan ketentuan lainnya yang diperlukan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas.
e. Membagi tugas dan memberi petunuk kepada bawahan
f. Membina kerjasama dengan balai Pengawasan dan sertifikasi benih (BPSB), UPTD Hortikultura, Balai Benih (BB Hortikultura) dan
pengusaha penangkar bibit/benih dalam pengaturan pola pengadaan dan penyaluran benih bermutu dan bersertifikat g. Memberikan Bimbingan dan Pembinaan Penangkar benih dalam
memproduksi Benih Bermuu Hortikultura
h. Merumuskan Bahan Petunjuk Operasional Demonstrasi, Pengkajian dan Bimbingan Penerapan Paket Tekhnologi anjuran sesuai
dengan tipe dan ekologi lahan
i. Menyusun Program, Pembinaan, Bimbingan tentang Pemanfaatan dan penyebarluasan tanaman bergizi kepada Petani
j. Memantau Pengadaan dan Peredaran, Bimbingan dan Peredaran Bimbingan, Penggunaan, Pupuk dan Memberi Bimbingan
Penggunaan Benih Bermutu di tingkat usaha tani
k. Meyusun Program, Penyaluran Benih Sebar, Pembinaan dan
Penangkar Benih, Pengelolaan Balai Benih serta membuat Laporan Pelaksanaan Tugas Kepada Atasan.
l. Mengevaluasi Pelaksanaan Tugas Bawahannya
m. Melaksanakan Tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya
n. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya Kepala Bidang Hortikultura bertanggungjawab kepada Kepala Dinas
Norma (N) atau aturan Main Dinas Pertanian dan Peternakan Kab.
Bantaeng
Sebagai lembaga Dinas Pertanian Dan Peternakan mempunyai tugas pokok merumuskan kebijakan operasional di bidang pertanian dan Peternakan yang merupakan sebagian kewenangan desentraliasasi dan kewenangan yang dilimpahkan oleh Bupati berdasarkan asas
dekonsentrasi dan tugas pembantuan, maka Dinas pertanian dan peternakan mempunyai fungsi :
Perumusan kebijakan teknis operasional di bidang pertanian
tanaman pangan, hortikultura. Peternakan dan pengelolaan lahan dan air.
Penyelenggaraan pelayanan umum di bidang pertanian dan Peternakan.
Fasilitasi pelaksanaan tugas-tugas di bidang pertanian dan
Peternakan meliputi Program, Pengelolaan Sumber Daya Pertanian, Pengembangan Produksi Padi, Palawija, Hortikultura dan Komoditi Peternakan serta Pengelolaan Lahan dan Air.
Penyelenggaraan Ketata usahaan Dinas Pertanian dan Peternakan.
Tabel 20. R-O-N Kelembagaan Agribisnis Hortikultura di Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng
Kelembagaan R (Resources) O (Organisasi) N (Norm) Dinas
Pertani-an Kabupaten
Memiliki:
Sumber daya manusia yang me-madai S3 (1 orang); S2 (7 orang) S1 (24 orang) dan D3 (4 orang)
Sumberdaya finansial
Rp.6.151.111.600 untuk 13 item program
Sarana dan prasana
Memiliki Struktur organisasi
Adanya
Pembagian tugas yang jelas
Memiliki ang-garan dasar dan dijalani/dipedoma ni
Aturan organisasi dijalankan secara ketat
Ada penghargaan bila berprestasi dan sangi yang sangsi bila melanggar
Sumber : Data Setelah diolah 2017
Uphoff (1986), keberlanjutan kelembagaan dipengaruhi oleh ketersediaan sumberdaya (Resoucess), memiliki struktur organisasi dan memiliki norma (Norm) atau aturan main yang dipatuhi. Kelembagaan yang terlibat pada kegiatan agribisnis hortikultura di Kecamatan uluere Kabupaten Bantaeng, pada prinsipnya telah memliki ketiga unsur tersebut namun belum memadai, pada kasus Bumdes sebagai kelembagaan penyedia sarana produksi telah memiliki sumberdaya financial namun jumlahnya terbatas untuk memenuhi kebutuhan para anggotanya.
Sedangkan unsur organisasi, Bumdes memiliki struktur organisasi yang baku dan memiliki pembagian tugas yang jelas namun dalam pelaksanaan pembagian tugas belum maksimal.
BAB VI
PERAN DAN INTERKONESITAS KELEMBAGAAN DALAM MENUNJANG KEBERLANJUTAN AGRIBISNIS TANAMAN
HORTIKULTURA
Pembahasan pada bab VI adalah untuk Menganalisis Peran dan interkonesitas kelembagaan dalam menunjang keberlanjutan agribisnis hortikultura di Kabupaten Bantaeng yang merupakan tujuan kedua dari penelitian ini.
Pembahasan pada bab ini mendalami peran dan interkoneksitas kelembagaan disetiap subsistem agribisnis, kelembagaan – kelembagaan tersebut terbentuk dengan adanya hubungan antara petani dengan petani, petani dengan kelompok tani, petani sebagai individu maupun sebagai kelompok dengan BUMDes, kelompok tani dengan dinas pertanian.
Beberapa bentuk kelembagaan tersebut adalah kelembagaan kelembagaan penyedia input (susbsistem hulu), kelembagaan pengaturan produksi (subsistem produksi), kelembagaan pengaturan output(subsistem hilir), dan kelembagaan penunjang (subsistem penunjang). Peran dari masing-masing kelembagaan pada tiap subsistem sama pentingnya dan tidak dapat dikatakan salah satu lebih penting dibandingkan kelembagaan lainnya, oleh karena kelembagaan agribisnis memiliki keterkaitan antar lembaga.
Peran kelembagaan menunjukkan aktivitas lembaga tersebut dalam menunjang keberlanjutan agribisnis hortikultura, sedangkan Inter-koneksitas memberikan makna keterhubungan antara kelembagaan baik
secara langsung ataupun tidak langsung dalam menunjang keberlanjutan kelembagaan agribisnis hortikultura. Keberlanjutan kelembagaan menunjukkan eksistensi pelaku kelembagaan dalam mengelola lembaga yang ada.
Kelembagaan kelompok tani sebagai kelembagaan produksi membutuhkan dukungan kelembagaan lainnya agar mampu berperan maksimal dalam memproduksi tanaman hortikultura, maka dibutuhkan kelembagaan lain, diantaranya; BUMDes, pasar, badan penyuluhan, dinas pertanian. Kelembagaan BUMDes dan pasar (kios tani) merupakan kelembagaan penyedia sarana produksi, sedangkan badan penyuluhan, dan dinas pertanian merupakan kelembagaan penunjang oleh Bungaran, 2002 diistilahkan dengan sub sistem penunjang.
A. Peran dan Interkoneksitas Kelembagaan BUMDes dalam