• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Tentang Variabel

3. Orientasi Etika

Menurut Forsyth (1980) yang juga didukung oleh penelitian- penelitian sebelumnya dalam bidang psikologi membuktikan bahwa orientasi etika dikendalikan oleh dua karakteristik yaitu idealisme dan relativisme. ldealisme mengacu pada suatu hal yang dipercaya oleh individu dengan konsekuensi yang dimiliki dan diinginkannya tidak melanggar nilai-nilai moral, Sedangkan relativisme adalah suatu sikap penolakan terhadap nilai- nilai moral yang absolut dalam mengarahkan perilaku etis dalam Falah (2006:18). Sikap idealis juga diartikan sebagai sikap tidak memihak dan terhindar dari berbagai kepentingan. Seorang akuntan yang tidak bersikap idealis hanya mementingkan dirinya sendiri agar mendapat fee yang tinggi dengan meninggalkan sikap independensi. Di sisi lain, sikap relativisme secara implisit menolak moral absolut pada perilakunya. Kedua konsep tersebut bukan merupakan dua hal yang berlawanan tetapi lebih merupakan skala yang terpisah, yang dapat dikategorikan menjadi empat klasifikasi sikap orientasi etika : (1) Situasionisme, (2) Absolutisme, (3) Subyektif dan (4) Eksepsionis. Penjelasan mengenai empat klasifikasi sikap dalam orientasi tersebut dijelaskan dalam tabel 2.1 sebagai berikut:

15

Tabel 2.1

Klasifikasi Orientasi Etika

Relativisme Tinggi Relativisme Rendah Idealisme Tinggi Situasionis

Menolak aturan moral, membela analisis individual atas setiap tindakan dalam setiap situasi

Absolutisme Mengasumsikan bahwa hasil yang terbaik hanya dicapai dengan mengikuti aturan moral secara universal

Idealisme Rendah Subyektif Penghargaan lebih didasarkan pada nilai personal dibandingkan prinsip moral secara universal

Eksepsionis Moral secara mutlak digunakan sebagai pedoman pengambilan keputusan namun secara pragmatis terbuka untuk melakukan pengecualian terhadap standar yang berlaku.

Sumber: Forsyth (1980)

Penelitian Hunt dan Vitell yang dilakukan pada manajemen pemasaran mendukung adanya hubungan orientasi etika dengan faktor eksternal seperti lingkungan budaya, lingkungan industri atau perusahaan, lingkungan organisasi dan pengalaman pribadi yang merupakan faktor internal individu tersebut (Falah, 2006:19).

16

4. Komitmen Organisasi

Komitmen organisasi dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan di mana seorang karyawan memihak pada suatu organisasi tertentu dan tujuan- tujuannya, serta berniat memelihara keanggotaan dalam oganisasi itu (Wijayanti, 2008:2). Menurut Aranya dan Feris komitmen organisasi dapat didefinisikan sebagai: (1) sebuah kepercayaan dan dukungan terhadap tujuan dan nilai organisasi, (2) sebuah keinginan untuk menggunakan usaha yang sungguh-sungguh guna kepentingan organisasi, (3) keinginan untuk memelihara keanggotaan dalam organisasi.

Selanjutnya dalam penelitian ini, komitmen organisasi terdiri dari tiga indikator sejalan dengan penelitian Meyer et al (1990:1-18). Penelitian tersebut mengembagkan konsep multitidimensi komitmen organisasi yang membagi komitmen kedalam dimensi-dimensi sebagai berikut:

a. Komitmen Afektif (Affective Commitment).

Komitmen Afektif merupakan dimensi dari komitmen organisasi yang lebih menekankan pada emosional individu. Pada dimensi komitmen organisasi ini, anggota organisasi lebih tertarik masuk organisasi/perusahaan disebabkan oleh dorongan afektifnya daripada kognitifnya.

b. Komitmen Kontinuan (Continuance Commitment).

Merupakan biaya yang dirasakan yaitu berkaitan dengan biaya-biaya yang terjadi jika meninggalkan organisasi.

17

c. Komitmen Normatif (Normative Commitment).

Komponen normatif dari komitmen ditekankan pada perasaan loyaliti terhadap organisasi tertentu yang terbentuk dari pendalaman tekanan-tekanan normatif yang mendesak dari seseorang. Menurut Setiawan dan Ghozali hal yang umum bagi ketiga dimensi tersebut adalah:

Pandangan bahwa komitmen merupakan kondisi psikologis yang mencirikan hubungan antara pegawai dengan organisasi dan memiliki implikasi pada keputusan untuk tetap berada atau meninggalkan organisasi. Namun sifat dari kondisi psikologis untuk setiap bentuk komitmen sangat berbeda. Seorang pegawai dengan komitmen afektif yang kuat akan tetap berada dalam organisasi karena pegawai tersebut menginginkannya, pegawai dengan komitmen kontinuan yang kuat akan tetap berada dalam organisasi karena membutuhkan organisasi tersebut, dan pegawai dengan komitmen normatif yang kuat tetap berada dalam organisasi karena mereka harus melakukannnya (Setiawan dan Ghozali, 2006:194).

5. Sensitivitas Etika Auditor

Audit Internal adalah kegiatan assurance dan konsultasi yang independen dan obyektif, yang dirancang untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan kegiatan operasi organisasi. Audit internal membantu organisasi untuk mencapai tujuannya, melalui suatu pendekatan yang sistematis dan teratur untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas pengelolaan risiko, pengendalian, dan proses governance (SPAI, 2004:5). Dalam SPAI juga disebutkan bahwa:

Sebagai sebuah Profesi Auditor Internal, ciri utama auditor internal adalah kesediaan menerima tanggungjawab terhadap kepentingan pihak-pihak yang dilayani. Agar dapat mengemban tanggungjawab ini secara efektif, auditor internal perlu memelihara standar perilaku yang tinggi. Oleh karenanya, Konsorsium Organisasi Profesi Auditor Internal dengan ini menetapkan Kode Etik bagi para auditor internal. Kode Etik ini memuat standar perilaku sebagai

18

pedoman bagi seluruh auditor internal. Standar perilaku tersebut membentuk prinsip-prinsip dasar dalam menjalankan praktik audit internal. Para auditor internal wajib menjalankan tanggungjawab profesinya dengan bijaksana, penuh martabat, dan kehormatan. Dalam menerapkan Kode Etik ini auditor internal harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pelanggaran terhadap standar perilaku yang ditetapkan dalam Kode Etik ini dapat mengakibatkan dicabutnya keanggotaan auditor internal dari organisasi profesinya (SPAI, 2004:6).

Kemampuan seorang profesional untuk berperilaku etis sangat dipengaruhi oleh sensitivitas individu tersebut. Sensitivitas etika dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengakui sifat dasar etika dari sebuah keputusan (Aziza dna Salim, 2008:3). Faktor yang penting dalam menilai perilaku etis adalah adanya kesadaran para individu bahwa mereka adalah agen moral atau pihak yang harus melakukan tindakan sesuai dengan ketentuan moral yang berlaku universal.

Rest (1983) dalam Falah (2006:19) mengajukan model atau rerangka analisis empat komponenkerangka kerja untuk meneliti pengembangan proses berpikir moral individual dan perilaku individu dalam mengambil keputusan dimana tiap komponen tersebut mempengaruhi perilaku moral dan kegagalan pada komponen dapat menyebabkan perilaku yang tidak etis. Komponen tersebut dicirikan sebagai berikut:

a. Pengenalan individu akan keberadaan masalah etis dan pengevaluasian pengaruh pilihan perilaku potensial pada kesejahteraan pihak yang terimbas.

19

c. Keputusan pada tindakan yang dimaksud berkaitan dengan berbagai hasil yang dinilai dan implikasi moralnya.

d. Pelaksanaan perilaku yang dimaksud tersebut.

Hunt dan Vitell mengembangkan sebuah model untuk menjelaskan proses pengambilan keputusan etika, dimana langkah awal individual menerima masalah etika, sampai pada pertimbangan etika (ethical judgment), berkembang pada niat, dan akhirnya terbawa pada perilaku. Faktor-faktor dimana Hunt dan Vitell memprediksi pengaruh kemampuan seseorang untuk mempersiapkan masalah etika meliputi lingkungan budaya, lingkungan industri, lingkungan organisasi, dan pengalaman personal (Hunt dan Vitell, 1986:8).

Teori dalam penelitian ini untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi sensitivitas etika akuntan berdasarkan teori Hunt dan Vitell. Secara khusus, pengalaman personal, lingkungan budaya, dan lingkungan organisasional (perusahaan) dihipotesiskan untuk mempengaruhi kemampuan mereka dalam mengenal situasi yang memuat etika.

B. Penelitian Sebelumnya

Berikut ini dalam tabel 2.2 dijelaskan mengenai rangkuman penelitian- penelitian terdahulu yang mendasari peneliti dalam melakukan penelitian ini:

20

Table 2.2

Rekapitulasi Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu

No Peneliti Variable Alat

Analisis Temuan 1. Aziza dan Salim (2008) Orientasi etika, Komitmen dan sensitivitas etika Path Analysis

Orientasi etika auditor berpengaruh pada komitmen

2. Falah (2006) Budaya etis organisasi, Orientasi etika dan sensitivitas etika Path Analysis

Budaya etis organisasi berpengaruh positif terhadap idealisme, relativisme berpengaruh negatif terhadap sensitivitas etika. 3. Hunt et al (1989) Nilai etika perusahaan dan komitmen organisasi

ANOVA Nilai etis perusahaan berpengaruh signifikan terhadap komitmen organisasi 4. Renyowijoyo (2003) Budaya Organisasi, Komitmen organisasi, Kepuasan kerja, dan Prestasi kerja Path Analysis Budaya organisasi berpengaruh positif terhadap komitmen organisasi, kepuasan kerja dan prestasi kerja karyawan. 5. Patricia Casey Douglas Ronald A. Davidson Bill N. Sch (2001) etika, penilaian etika, etika orientasi, intensitas moral, etika organisasi budaya, nilai- nilai pribadi ANCOVA dan analisis jalur Orientasi etika berhubungan dengan keputusan etika dalam intensitas situasi moral, etika organisasi secara tidak langsung berpengaruh terhadap keputusan etika 6. Wijayanti (2008) Komitmen, kepuasan kerja dan Motivasi Regresi Berganda Komitmen organisasional dan Profesional tidak memiliki pengaruh secara signifikan terhadap kepuasan kerja auditor internal,

21

C. Kerangka Pemikiran

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa kemampuan seorang Profesional untuk dapat mengerti dan sensitif akan adanya masalah-masalah etika dalam profesinya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor lingkungan budaya, lingkungan profesi, lingkungan organisasi dan pengalaman pribadi. Faktor lingkungan budaya dan pengalaman pribadi adalah yang membentuk orientasi etika, sedangkan lingkungan organisasi adalah yang membentuk komitmen organisasional. Orientasi etika dikendalika oleh dua karakteristik yaitu idealisme dan relativisme, Orientasi etika seorang auditor internal mempengaruhi tingkat komitmen organisasional auditor internal tersebut. Komitmen organisaional seorang auditor internal juga dipengaruhi oleh budaya etis organisasi. Budaya etis organisasi akan mempengaruhi orientasi etika auditor internal ketika sedang melaksanakan pekerjaanya dan pada akhirnya akan mempengaruhi sensitivitas etika auditor internal ketika mereka berada pada situasi yang berkaitan dengan masalah etika.

Berdasarkan beberapa telaah teoritis yang diuraikan dalam penelitian- penelitian terdahulu, maka diajukan bentuk modal penelitian seperti gambar 2.1 yang merupakan kerangka konseptual dan sekaligus sebagai alur pikir perumusan hipotesis.

22

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Inspektorat Pemerintah Kabupaten Bogor

Auditor Internal Pemerintah Daerah Budaya Etis Organisasi (X1) Relativisme (X3) Sensitivitas Etika (Z) Analisis Jalur Uji F Uji t Interpretasi Komitmen Organisasi (Y) Trimming Idealisme (X2)

23

D. Pengembangan Hipotesis

Hunt dan Vitell memprediksi pengaruh kemampuan seseorang untuk mempersiapkan masalah etika meliputi lingkungan budaya, lingkungan industri, pengalaman personal, dan lingkungan organisasional (perusahaan). Faktor lingkungan budaya dan pengalaman pribadi adalah membentuk orientasi etika, lingkungan organisasi adalah yang membentuk komitmen organisasional.

Berdasarkan teori Hunt dan Vitell diketahui bahwa komitmen organisasi dibentuk oleh lingkungan organisasional. Penelitian Hunt et al membuktikan bahwa budaya etis organisasi (perusahaan) berpengaruh signifikan terhadap komitmen organisasi (Hunt et al, 1989:79-90). Selain budaya etis organisasi komitmen organisasi juga dipengaruhi oleh orientasi etika, penelitian Shaub et al membuktikan bahwa orientasi etika berpengaruh terhadap komitmen organisasi (Falah, 2006:22). Oleh sebab itu peneliti membuat hipotesis yang pertama untuk melihat pengaruh secara simultan antara budaya etis organisasi dan orientasi etika terhadap komitmen organisasi.

Ha1 = Budaya etis organisasi dan orientasi etika berpengaruh secara signifikan dan simultan terhadap komitmen organisasional.

Selanjutnya hipotesis kedua, ketiga dan keempat dibuat untuk melihat pengaruh secara parsial antara budaya etis organisasi dan orientasi etika terhadap komitmen organisasi.

Ha2 = Budaya etis organisasi berpengaruh secara signifikan terhadap komitmen organisasi.

24

Ha3 = Idealisme dari orientasi etika auditor berpengaruh secara signifikan terhadap komitmen organisasi.

Ha4 = Relativisme dari orientasi etika auditor berpengaruh secara signifikan terhadap komitmen organisasi.

Sebagaimana teori dan penelitian yang diungkapkan peneliti untuk mendukung dibuatnya hipotesis di atas, diketahui bahwa budaya etis organisasi dan orientasi etika berpengaruh terhadap komitmen organisasi. Seperti telah dikemukakan sebelumnya dalam teori Hunt dan Vitel bahwa faktor- faktor yang dapat membuat seorang profesional dapat lebih sensitif terhadap masalah-masalah etika adalah lingkungan budaya dan pengalaman yang membentuk orientasi etika dan lingkungan organisasional yang membentuk komitmen organisasi. Berdasarkan teori tersebut peneliti membuat hipotesis yang kelima untuk melihat pengaruh secara simultan antara budaya etis organisasi, orientasi etika dan komitmen organisasi terhadap tingkat sensitivitas etika auditor internal, yaitu:

Ha5= Budaya etis organisasi, orientasi etika dan komitmen organisasi berpengaruh secara signifikan dan simultan terhadap tingkat sensitivitas etika auditor internal.

Teori Hunt dan Vitell menyebutkan kemampuan seorang profesional untuk dapat mengerti dan sensitif akan adanya masalah-masalah etika dalam profesinya dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah faktor lingkungan budaya atau masyarakat di mana profesi itu berada. Sejalan dengan hal itu penelitian Douglas et al juga membuktika bahwa budaya etis organisasi berpengaruh

25

terhadap penilaian etis (Douglas et al, 2001:111). Berdasarkan teori tersebut peneliti membuat hipotesis yang keenam untuk melihat pengaruh secara parsial antara budaya etis organisasi terhadap tingkat sensitivitas etika auditor internal, yaitu:

Ha6 = Budaya etis organisasi berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat sensitivitas etika auditor.

Dua hipotesis selanjutnya didesain untuk menguji pengaruh antara idealisme dan relativisme dari orientasi etika auditor. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukan bahwa orientasi etika berpengaruh terhadap sensitivitas etika, diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Shaub, et.al dan Khomsiyah dan Indryantoro Seorang auditor yang absolutis (relativisme rendah, idealisme tinggi) akan taat pada standar moral dan akan menunjukkan tingkat sensitivitas etika yang tinggi sedangkan relativisme rendah lebih sensitif terhadap situasi yang melanggar norma atau peraturan (Aziza dan Salim, 2008:9). Oleh karena itu, hipotesis ketujuh dan ke delapan memprediksi pengaruh secara parsial antara variabel orientasi etika terhadap tingkat sensitivitas etika auditor internal.

Ha7 = Idealisme dari orientasi etika auditor berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat sensitivitas etika auditor internal. Ha8= Relativisme dari orientasi etika auditor berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat sensitivitas etika auditor internal.

26

Hipotesis selanjutnya dibuat untuk melihat pengaruh komitmen organisasional terhadap sensitivitas etika. Menurut Sorensen dan Sorensen karyawan dengan tingkat komitmen organisasi yang tinggi akan kurang sensitiv untuk situasi dimana tujuan organisasi berbeda dengan profesinya. Sebaliknya, Aranya dan Feris memberikan bukti pengaruh positif antara kedua varaibel tersebut yaitu tidak adanya konflik antara tujuan organisasi dan profesional dimana terdapat kesesuaian antara tujuan perusahaan dan profesi auditor. Didasarkan pada perbedaan hasil penelitian-penelitian sebelunnya sehingga hipotesis terakhir yang peneliti buat untuk mengkonfirmasi kedua hasil penelitian diatas adalah sebagai berikut:

Ha9 = Komitmen Organisasi berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat sensitivitas etika auditor internal.

27

Dokumen terkait