BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Persiapan Penelitian
1. Orientasi Kancah Penelitian
Penelitian hubungan antara penerimaan diri dan dukungan sosial dengan stres pada ibu yang memiliki anak autis dilaksanakan di SLB Autis di Surakarta, antara lain SLB Autis Alamanda Surakarta, SLB Autis AGCA Center, SLB Autis Harmony. Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti terlebih dahulu melakukan survei untuk mengetahui informasi yang berkaitan dengan responden penelitian.
a. SLB Autis Alamanda Surakarta
1) Alamat : Jalan Siwalan Nomor 32 RT 02 RW 14, Kerten, Laweyan, Surakarta
2) Visi dan Misi a) Visi :
Terwujudnya pelayanan yang optimal sehingga anak menjadi mandiri, berprestasi, dan bermanfaat bagi masyarakat.
b) Misi :
Mengembangkan potensi yang ada pada anak dengan pembelajaran yang efektif dan efisien.
Meningkatkan kemampuan bergaul dan bersosialisasi di masyarakat.
3) Sejarah singkat
SLB Autis Alamanda pada awal berdirinya bernama taman Alamanda, merupakan salah satu divisi pendidikan di bawah Lembaga Sosial Masyarakat LAHSI (Lembaga Aksi Hidup Sehat Indonesia) yang pada saat itu fokus terhadap penanganan HIV AIDS dan anak-anak berkebutuhan khusus, terutama autisme. Akan tetapi LAHSI memfokuskan diri pada penanganan HIV AIDS, kemudian Taman Alamanda diambil alih oleh dr. Sholichah Kusuma Wardani yang juga merupakan salah satu anggota di bagian pengembangan LAHSI. Taman Alamanda kemudian berganti nama menjadi Alamanda Brighter Kids sampai kemudian pada tahun 2004 secara resmi berada di bawah naungan dinas pendidikan dan berganti nama menjadi SLB Autis Alamanda.
4) Jumlah terapis dan guru : 9 orang. b. SLB Autis AGCA Center Surakarta
1) Alamat : Jalan Kapten Mulyadi Nomor 48, Sudiroprajan, Jebres, Surakarta
2) Sejarah singkat
SLB Autis AGCA Center Surakarta berdiri pada tahun 1999, merupakan salah satu cabang dari yayasan Nathanisa yang berpusat di Surabaya. Berawal dari situasi dan kondisi pada waktu itu yang
disinyalir semakin banyak orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, dan di kota Surakarta belum ada tempat terapi untuk anak berkebutuhan khusus, khususnya autis serta meningkatnya permintaan masyarakat yang sangat memerlukan penanganan yang tepat bagi anak-anaknya maka pada tanggal 2 Juni 1999 dibuka sekolah dan tempat terapi bagi anak ADHD, Autis, dan Hyperaktif yang diberi nama SLB Autis AGCA Center.
3) Visi dan Misi a) Visi
Terwujudnya individu autisme yang mampu bersosialisasi, mandiri, dan mampu mengembangkan bakat dan minatnya.
b) Misi
Menyelenggarakan layanan pendidikan dan terapi yang optimal bagi individu.
Membimbing individu untuk dapat mandiri.
Mempersiapkan anak ke sekolah regular bagi yang mampu. 4) Jumlah guru dan terapis : 18 orang.
c. SLB Autis Harmony Surakarta
1) Alamat : Jalan Sungai Sambas RT 02 RW 01 Sangkrah, Pasar Kliwon, Surakarta.
2) Sejarah singkat
SLB Autis Harmony berada di bawah naungan lembaga sosial bernama Yayasan Anak Cemerlang. Pendiri yayasan mempunyai mitra
kerja sosial untuk mendidik, membimbing, dan memberikan pelajaran kepada anak-anak autis yang bernama TK/SD Plus Harmony yang didirikan pada tahun 2005. Pada tanggal 10 Maret 2006 sekolah TK/SD Plus Harmony diganti dengan sekolah anak berkebutuhan khusus, SLB Autis Harmony .
3) Visi dan Misi a) Visi
Mewujudkan siswa yang mandiri, berkarakter, dan mampu bersosialisasi dengan masyarakat.
b) Misi
Membantu anak dengan kebutuhan khusus pada umumnya dan autis pada khususnya untuk mampu bermasyarakat dan diterima masyarakat.
Mengembangkan dan mengoptimalkan bakat dan kemampuan anak dengan kebutuhan khusus dan anak autis.
Memberikan kesempatan anak autis untuk mendapatkan pendidikan secara formal.
Menjadikan SLB Autis Harmony sebagai salah satu alternative informasi mengenai autisme.
Menjadikan SLB Autis Harmony sebagai wadah berlatih dan melakukan pelatihan-pelatihan bagi pemerhati autisme.
Berdasarkan hasil survei, peneliti memutuskan untuk melakukan penelitian terhadap ibu yang memiliki anak autis di SLB Autis di Surakarta dengan pertimbangan sebagai berikut:
a. Penelitian mengenai hubungan antara penerimaan diri dan dukungan sosial dengan stres pada ibu yang memiliki anak autis belum pernah dilaksanakan di SLB Autis di Surakarta.
b. Berdasarkan interview dengan kepala sekolah SLB Autis di Surakarta didapatkan informasi bahwa beberapa ibu yang memiliki anak autis diduga mengalami gejala stres.
b. Jumlah ibu yang memiliki anak autis di SLB Autis di Surakarta cukup banyak sehingga memenuhi kriteria untuk penelitian.
c. Diperolehnya ijin untuk melaksanakan penelitian di SLB Autis di Surakarta .
2. Persiapan penelitian
Persiapan penelitian perlu dilakukan agar penelitian berjalan lancar dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Hal-hal yang dipersiapkan adalah berkaitan dengan perijinan dan penyusunan alat ukur yang digunakan dalam penelitian.
a. Persiapan administrasi
Persiapan administrasi penelitian meliputi segala urusan perijinan yang diajukan kepada pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan penelitian. Permohonan ijin tersebut meliputi tahap-tahap sebagai berikut:
1) Peneliti meminta surat pengantar dari Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta yang ditujukan kepada Kepala Sekolah SLB Autis di Surakarta, antara lain SLB Autis Alamanda, SLB Autis AGCA Center, dan SLB Autis Harmony dengan nomor 1036/UN27.06.7.1/TU/2012 tertanggal 26 Maret 2012 agar dapat melakukan penelitian di ketiga SLB Autis di Surakarta.
2) Mengajukan surat ijin penelitian kepada ketiga Kepala Sekolah SLB Autis di Surakarta.
3) Setelah mendapatkan ijin dari pihak kepala sekolah, peneliti baru dapat melaksanakan penelitian sesuai jadwal yang telah ditentukan.
b. Persiapan alat ukur
Alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini adalah Skala Stres pada Ibu yang Memiliki Anak Autis, Skala Penerimaan Diri dan Skala Dukungan Sosial.
1) Skala Stres pada Ibu yang Memiliki Anak Autis
Skala Stres digunakan untuk mengungkap sejauh mana tingkat stres yang dimiliki oleh responden dalam penelitian ini. Skala stres yang digunakan dalam penelitian ini dimodifikasi oleh peneliti berdasarkan aspek-aspek stres yang diungkapkan oleh Crider, dkk. (1983), Taylor (2009), dan Rice, (1999), yaitu emosi, kognitif, fisiologis, dan tingkah laku.
Skala ini memiliki 54 aitem yang terdiri atas 27 aitem favorable dan 27 aitem unfavorable. Distribusi aitem skala stres sebelum uji coba dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5
Distribusi Aitem Skala Stres pada Ibu yang Memiliki Anak Autis Sebelum Uji Coba
Aspek Indikator Perilaku Nomor aitem Jumlah
Aitem (Persen)
F U
Emosi Mudah marah dengan
tingkah laku anak yang terbatas dan streotipik (gerakan berulang-ulang secara terus menerus tanpa tujuan yang jelas)
1,27 10,40
14 (25,93%) Merasa tertekan dengan
kondisi anak yang autis
15, 41, 53 6, 28, 30 Kehilangan semangat
dalam menjalani hidup dengan kondisi anak yang autis
11, 29 16, 54
Kognitif Sulit berkonsentrasi pada pekerjaan
17, 43 2, 42
12 (22,22%)
Mengalami mimpi buruk 7, 31 18, 44
Sulit dalam mengambil keputusan
19, 45 12, 32 Fisiologis Muncul keringat dingin 3, 33 20, 46
12 (22,22%)
Mengalami gangguan,
pernafasan (sesak nafas)
21, 47 8, 34
Menurunnya fungsi imun tubuh (mudah sakit)
13, 35 22, 48 Tingkah
laku
Perubahan pola makan 23, 49 4, 36
16 (29,62%)
Perubahan pola tidur 9, 37 24, 50
Menurunnya interaksi
terhadap orang di
sekitarnya
25, 51 14, 38
Melalaikan tanggung jawab untuk mengurus rumah tangga
5, 39 26, 52
2) Skala Penerimaan Diri
Skala Penerimaan Diri digunakan untuk mengungkap sejauh mana tingkat penerimaan diri yang dimiliki oleh responden dalam penelitian ini. Skala penerimaan diri yang digunakan dalam penelitian ini dimodifikasi oleh peneliti berdasarkan aspek-aspek penerimaan diri yang diungkapkan oleh Supratiknya (1995) dan Shereer (dalam Cronbach, 1954), yang meliputi pembukaan diri, percaya kemampuan diri, kesehatan psikologis, orientasi keluar, bertanggungjawab, berpendirian, dan menyadari keterbatasan.
Skala ini memiliki 60 aitem yang terdiri atas 30 aitem favorable dan 30 aitem unfavorable. Distribusi aitem skala penerimaan diri sebelum uji coba dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6
Distribusi Aitem Skala Penerimaan Diri Sebelum Uji Coba
Aspek Indikator Nomor aitem Jumlah Aitem
(Persen)
F U
Pembukaan diri
Membiarkan orang lain mengetahui tentang diri individu
1,19 7,13
8 (13,33%) Mengungkapkan pendapat
kepada orang lain
8,14 2,20
Percaya kemampuan diri
Memiliki keyakinan untuk menyelesaikan masalah dengan baik
3,21 9,15
8 (13,33%) Memiliki keyakinan dalam
menghadapi masa depan
10,16 4,22
Kesehatan psikologis
Memandang dirinya berharga 5,23 11,17,57
9 (15%) Merasa dapat berguna bagi
orang lain
12,18 6,24
Orientasi keluar
Merasa sama dengan orang lain
25,37 29,33
9 (15%) Memiliki keinginan untuk
menolong orang lain
30,34,58 26,38 Bertanggung
jawab
Berani bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan individu
27,39 31,35,60
9 (15%) Berpikir mengenai resiko atas
semua perbuatan yang dilakukan individu
32,36 28,40
Berpendirian Memiliki standar sendiri dengan tidak mengikuti konvensi atau standar orang lain
41,49 45,53
8 (13,33%) Memiliki pengharapan (ide,
gagasan) sendiri
46,54 42,50
Menyadari keterbatasan
Menyadari kekurangan yang terdapat pada diri sendiri
43,51,59 47,55
9 (15%) Menyadari kelebihan yang
terdapat pada diri sendiri
48,56 44,52 Jumlah (Persen) 30 (50%) 30 (50%) 60 (100%)
3) Skala Dukungan Sosial
Skala Dukungan Sosial digunakan untuk mengungkap sejauh mana tingkat dukungan sosial yang dimiliki oleh responden dalam penelitian ini. Skala Dukungan Sosial yang digunakan dalam penelitian ini dimodifikasi oleh peneliti berdasarkan aspek-aspek dukungan sosial yang diungkapkan Sarafino (2004) dan House (dalam Smet, 1994), yang meliputi dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dukungan informasi, dan dukungan kelompok sosial.
Skala ini memiliki 60 aitem yang terdiri atas 30 aitem favorable dan 30 aitem unfavorable. Distribusi aitem skala dukungan sosial sebelum uji coba dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7
Distribusi Aitem Skala Dukungan Sosial Sebelum Uji Coba
Aspek Indikator perilaku Nomor aitem Jumlah Aitem
(Persen)
F U
Dukungan Emosional
Mendapatkan ungkapan kepedulian dari orang lain
1,21,41 6,26,46
12 (20%) Mendapatkan ungkapan
perasaan nyaman dari orang lain
11,31,51 16,36,56
Dukungan Penghargaan
Mendapatkan ungkapan penilaian positif seperti pujian atas keberhasilan
2,22,42 7,27,47
12 (20%) Mendapatkan ungkapan
dorongan untuk maju seperti semangat untuk tetap optimis dan tidak mudah menyerah
12,32,52 17,37,57
Dukungan Instrumental
Mendapatkan bantuan berupa uang saat individu
membutuhkan
3,23,43 8,28,48
12 (20%) Mendapatkan bantuan berupa
bantuan tindakan langsung saat individu mengalami kesulitan
13,33,53 18,38,58
Dukungan Informasi
Mendapatkan nasihat dari lingkungan atas kesulitan yang dialami individu
4,24,44 9,29,49
12 (20%) Mendapatkan umpan balik
atas pembicaraan yang dilakukan oleh individu
14,34,54 19,39,59
Dukungan kelompok sosial
Memiliki perasaan
keanggotaan kelompok dalam kelompok yang diikuti oleh individu
5,25,45 10,30,50
12 (20%) Melakukan aktivitas sosial
dan berbagi kesenangan dengan lingkungan sekitar individu 15,35,55 20,40,60 Jumlah (Persen) 30 (50%) 30 (50%) 60 (100%)