• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.2 Orientasi Kewirausahaan

Orientasi kewirausahaan memegang peranan penting dalam meningkatkan kinerja usaha. Miller dan Friesen (1982) mengungkapkan bahwa orientasi kewirausahaan menjadi suatu makna yang dapat diterima untuk menjelaskan kinerja usaha. Sementara itu, menurut Gosselin (2005),bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara orientasi kewirausahaan yang ditetapkan dengan kinerja perusahaan. Porter (2008) mendefinisikan orientasi kewirausahaan sebagai strategi benefit perusahaan untuk dapat berkompetisi secara lebih efektif di dalam market place yang sama.Orientasi kewirausahaan mengacu pada proses, praktik, dan pengambilan

keputusan yang mendorong ke arah input baru dan mempunyai tiga aspek kewirausahaan, yaitu selalu inovatif, bertindak secara proaktif dan berani mengambil risiko (Lumpkin dan Dess, 1996).

Inovatif mengacu pada suatu sikap wirausahawan untuk terlibat secara kreatif dalam proses percobaan terhadap gagasan baru yang memungkinkan menghasilkan metode produksi baru sehingga menghasilkan produk atau jasa baru, baik untuk pasar sekarang maupun ke pasar baru.Kemampuan inovasi berhubungan dengan persepsi dan aktivitas terhadap aktivitas-aktivitas bisnisyang baru dan unik (Schumpeter dan Milton, dalam Suryanita 2006). Sedangkan proaktif mencerminkan kesediaan wirausaha untuk mendominasi pesaing melalui suatu kombinasi dan gerak agresif dan proaktif, seperti memperkenalkan produksi baru atau jasa di atas kompetisi dan aktivitas untuk rnengantisipasi permintaan mendatang untuk menciptakan perubahan dan membentuk lingkungan. Sikap aktif dan dinamis adalah kata kuncinya (Doukakis, 2002, dalam Suryanita 2006).Proaktif juga ditunjukkan dengan sikap agresif-kompetitif, yang mengacu pada kecenderungan perusahaan untuk bersaing secara ketat dan langsung bagi semua kompetitornya untuk menjadi yang terbaik dan meninggalkan para pesaingnya (Covin dan Slevin, 1989; Lumpkin and Dess, 1996; Morris and Paul, 1987).

Berani mengambil risiko merupakan sikap berani menghadapi tantangan dengan melakukan eksploitasi atau terlibat dalam strategi bisnis dimana kemungkinan hasilnya penuh ketidakpastian.Hambatan risiko merupakan faktor kunci yang

tingginya orientasi kewirausahaan adalah bagaimana melibatkanpengukuran risiko dan pengambilan risiko secara optimal (Looy et al. dalam Suryanita,2006).

Orientasi kewirausahaan yang tercermin dari sikap penuh inovasi, proaktif dan keberanian mengambil risiko diyakini mampu mendongkrak kinerja perusahaan. Hal tersebut dikuatkan oleh Covin dan Slevin (1991); Wiklund (1999), yang menyatakan bahwa orientasi kewirausahaan yang semakin tinggi dapat meningkatkan kemampuan perusahaan dalam memasarkan produknya menujukinerja usaha yang lebih baik. Orientasi kewirausahaan dari seorang pelaku wirausaha dapat menimbulkan peningkatan kinerja usaha juga disampaikan oleh Covin dan Slevin (1991).

Miller (1983) menjelaskan orientasi kewirausahaan sebagai salah satuyang terlibat dalam inovasi produk-pasar, melakukan sedikit usaha berisiko, dan pertama kali datang dengan 'proaktif' inovasi, serta memberikan pukulan untuk mengalahkan pesaing. Dalam pandangannya, Miller (1983) menyatakan bahwa orientasi kewirausahaan dapat ditentukan berdasarkan pada tiga dimensi, yaitu proactive, innovative dan risk – Taking.

2.1.2.1 Proaktif (Proactive)

Menurut Baker & Sinkula (2009: 447) proaktif mengacu pada kemampuan perusahaan untuk mengambil inisiatif dalam. Mengejar peluang pasar Lumpkin dan Dess (2001: 431) proaktif sebagai kesempatan melihat ke depan perspektif yang melibatkan memperkenalkan produk atau jasa baru menjelang kompetisi dan bertindak dalam mengantisipasi permintaan di masa mendatang untuk membuat

perubahan dan membentuk lingkungan. Orientasi Proaktif sebagai pemasar mencoba untuk mendefinisikan kondisi eksternal untuk mengurangi ketidakpastian dan mengurangi ketergantungan dan kerentanan (Morris, et.al., 2002: 6).

Covey (1995:44) berpendapat definisi dan pengertian tentang sifat proaktif setidaknya ada 5 (lima), yaitu :

1. Orang proaktif selalu bertanggung jawab. Mereka tidak menyalahkan keadaan, kondisi, atau pengkondisian untuk perilaku mereka. Perilaku adalah produk dari pilihan sadar, berdasarkan nilai, dan bukan produk dari suasana hati, conditioning, atau tekanan sosial yang diterima.

2. Orang proaktif menfokuskan upaya mereka pada lingkaran pengaruh (mencakup segala hal yang dapat dipengaruhi). Mereka mengerjakan hal-hal yang terhadapnya mereka dapat perbuat sesuatu. Sifat dari energi mereka adalah positif, memperluas dan memperbesar, yang menyebabkan lingkaran pengaruh mereka meningkat.

3. Berfokus pada lingkaran pengaruh, orang proaktif bekerja dari dalam ke luar (in side – out), yaitu berusaha memulai perubahan dengan mengubah dirinya lebih dahulu, bahkan dari yang paling dalam dari dirinya, yaitu dengan memeriksa kebenaran paradigma dan persepsi-persepsinya.

4. Orang proaktif hidup berpusat pada prinsip (principle centered) kemudian ia menerjemahkan prinsip-prinsip itu kedalam seperangkat nilai-nilai (values) yang telah

dipilihnya dengan sadar. Berdasarkan nilai-nilai itulah ia mengarahkan pilihan sikap dan perilakunya.

5. Orang proaktif mengembangkan dan menggunakan empat anugrah unik manusianya secara optimal. Empat anugrah itu adalah seperti yang diyakini oleh pengikut madzhab psikologi humanistik sebagai sifat-sifat unik manusia yang membuatnya berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Covey menyebutkan four unique himant gifts itu adalah Self Awareness (kesadaran diri), Conscience (hati nurani), Creative Imagination (imajinasi kreatif) dan Independent Will (kebebasan kehendak).

2.1.2.2 Inovasi (Innovative)

Inovasi adalah membangun perilaku, ukuran kinerja perusahaan (Baker & Sinkula, 2009: 447 - 448). Inovasi mencerminkan keinginan dasar untuk menyimpang dari status quo dan merangkul ide-ide baru (Baker & Sinkula, 2009: 447). Inovasi mengacu pada kesediaan untuk mendukung kreativitas dan eksperimentasi di memperkenalkan produk baru / jasa, dan kebaruan, kepemimpinan teknologi dan R & D dalam mengembangkan ide baru proses (Lumpkin dan Dess, 2001: 431).

Inovasi ialah suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu berupa hasil invensi maupun diskoveri.Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memcahkan suatu masalah tertentu (Sa’ud, Udin S, 2008).

Inovasi adalah salah satu karakter yang sangat penting dari wirausahaan. Tanpa adanya inovasi perusahaan tidak akan dapat bertahan lama. Hal ini disebabkan

kebutuhan, keinginan, dan permintaan pelanggan berubah-ubah (Larsen, P dan Lewis A, 2007:11) , sedangkan Hills (2008) mendefinisikan inovasi sebagai ide, praktek atau obyek yang dianggap baru oleh seorang individu atau unit pengguna lainnya.

Suryana (2003) mengemukakan inovasi adalah sebagai kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan persoalan dan peluang untuk

meningkatkan dan memperkaya kehidupan Zainal Hakim

(http://www.zainalhakim.web.id

2.1.2.3 Pengambilan Resiko (Risk Taking)

) mengemukakan bahwa inovasi merupakan kemampuan untuk melakukan sesuatu yang baru dan berbeda. Sesuatu yang baru dan berbeda tersebut dapat dalam bentuk hasil seperti barang dan jasa, dan bisa dalam bentuk proses seperti ide, metode, dan cara. Sesuatu yang baru dan berbeda yang diciptakan melalui proses berpikir kreatif dan bertindak inovatif merupakan nilai tambah (value added) dan merupakan keunggulan yang berharga. Nilai tambah yang berharga adalah sumber peluang bagi wirausaha.

Menurut (Lumpkin dan Dess 2001: 431) risiko pengambilan berarti kecenderungan untuk mengambil tindakan tegas seperti bertualang ke pasar baru yang tidak diketahui, melakukan sebagian besar sumber daya untuk usaha dengan hasil yang tidak pasti, atau meminjam berat. Ini adalah kemampuan untuk mengurangi risiko yang melekat pada kesempatan mengejar dengan tindakan dihitung digunakan (Becherer et al, 2012: 8). Ini berarti upaya terang-terangan untuk faktor risiko identitas, dan kemudian untuk mengurangi atau berbagi faktor - faktor tersebut

Pengambilan risiko mengarah pada perilaku yang menyatu dan dapat menghasilkan keputusan yang merugikan atau berbahaya, pada saat yang sama dapat menghasilkan kesempatan yang positif. Kuncinya adalah seberapa sempurna mendapatkan inormasi. Semakin sempurna informasi yang dikumpul dan semakin akurat pula besar resiko yang diperoleh (Hendro, 2011:258).

Menurut Ali (2004) resiko berupa potensi terjadinya suatu peristiwa yang memberikan pengaruh negatif, dapat menimpa siapa saja, apa saja, dimana saja, kapan saja, tak terkecuali terhadap UMKM. Risk Taking digambarkan seperti seseorang yang mengemudi dalam kecepatan tinggi, mengemudi dengan kecepatan tinggi dapat memberikan waktu tempuh yang lebih singkat sehingga seseorang dapat mencapai tujuan lebih cepat, namun potensi kecelakaan yang terjadi sangat tinggi ketika seseorang mengemudi dengan kecepatan tinggi.

Dokumen terkait