BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
E. Orientasi Percobaan
Orientasi percobaan yang dilakukan pada penelitian ini adalah orientasi dosis pemberian infusa daun putri malu. Orientasi ini dilakukan untuk memperkirakan dosis efektif yang dapat menunjukkan efek antidiare. Orientasi ini dilakukan terhadap 30 ekor hewan uji yang terbagi secara acak dalam 10 kelompok perlakuan dengan masing-masing kelompok menggunakan 3 ekor hewan uji.
40
Kelompok perlakuan yang dilakukan pada orientasi antara lain: kelompok kontrol negatif, kelompok infusa daun putri malu dengan berbagai peringkat dosis, kelompok CMC Na 1%, kelompok kontrol positif dengan dosis terapi dan setengah dosis terapi. Orientasi percobaan diawali dengan membagi hewan uji, yang sudah dipuasakan selama lebih kurang 18 jam dan tetap diberi minum, ke dalam tiap kelompok perlakuan, kemudian hewan uji mendapat perlakuan sesuai kelompok perlakuannya. Kelompok perlakuan dalam orientasi ini antara lain : kelompok kontrol negatif dengan pemberian larutan garam fisiologik (NaCl 0,9%), kelompok infusa daun putri malu dosis 1,25 mg/kg BB (I), 1,3 mg/kg BB (II), 2 mg/kg BB (III), 2,5 mg/kg BB (IV), 5 mg/kg BB (V), 7,5 mg/kg BB (VI), kelompok CMC Na 1%, kelompok kontrol positif dengan pemberian loperamid HCl dosis 7,28 × 10-4 g/kg BB (dosis terapi) dan 3,64 × 10-4 g/kg BB (setengah dosis terapi). Masing-masing hewan uji pada kelompok perlakuan memperoleh volume pemberian sebanyak 0,2 ml/20 g BB, kemudian dilanjutkan sesuai dengan cara kerja yang tercantum dalam metode penelitian.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Data panjang usus yang dilewati penanda, panjang usus seluruhnya dan hasil perbandingan keduanya pada orientasi dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel I. Hasil orientasi kelompok kontrol negatif, dosis I, II, III, IV, V, VI, CMC Na 1% dan kontrol positif
Kelompok Jumlah hewan uji (ekor)
Rata-rata Rasio A/B
X SE I 3 0,49 ± 0,02 II 3 0,41 ± 0,02 III 3 0,40 ± 0,02 IV 3 0,38 ± 0,03 V 3 0,35 ± 0,01 VI 3 0,46 ± 0,04 VII 3 0,38 ± 0,01 VIII 3 0,50 ± 0,01 IX 3 0,21 ± 0,01 X 3 0,34 ± 0,01 Keterangan:
I : kelompok kontrol negatif dengan pemberian larutan garam fisiologik (NaCl 0,9%) II : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis I (1,25 mg/kg BB)
III : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis II (1,3 mg/kg BB) IV : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis III (2 mg/kg BB) V : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis IV (2,5 mg/kg BB) VI : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis V (5 mg/kg BB) VII : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis VI (7,5 mg/kg BB) VIII : kelompok CMC Na 1%
IX : kelompok kontrol positif dengan pemberian loperamid HCl dengan dosis 7,28 × 10-4 g/kg BB
X : kelompok kontrol positif dengan pemberian loperamid HCl dengan dosis 3,64 × 10-4 g/kg BB
A : panjang usus yang dilewati penanda B : panjang usus seluruhnya
42
Dari tabel di atas, diketahui bahwa nilai rata-rata rasio A/B kelompok kontrol negatif dengan pemberian larutan garam fisiologik (NaCl 0,9%) adalah 0,49, sedangkan nilai rata-rata rasio A/B kelompok kontrol positif dengan pemberian loperamid HCl dengan dosis 7,28 × 10-4 g/kg BB dan dosis 3,64 × 10-4 g/kg BB secara berurutan adalah 0,21 dan 0,24. Hal ini menunjukkan bahwa kontrol positif yang digunakan pada penelitian ini (loperamid HCl) memiliki efek sebagai antidiare karena nilai rata rasio A/B kelompok kontrol positif lebih kecil daripada rata-rata rasio A/B kelompok kontrol negatif.
Pada orientasi ini terdapat 2 kelompok kontrol positif loperamid HCl dengan dosis yang berbeda, yaitu dosis terapi (7,28 × 10-4 g/kg BB) dan setengah dosis terapi (3,64 × 10-4 g/kg BB). Tujuan dilakukan pembedaan dosis kontrol positif ini adalah untuk mengendalikan metode uji. Secara teori, semakin tinggi dosis yang diberikan maka efek yang ditimbulkan akan semakin besar. Dari data hasil orientasi dapat dilihat bahwa dengan peningkatan dosis pada kontrol positif (dari setengah dosis terapi ke dosis terapi) terdapat peningkatan nilai rata-rata rasio A/B, yang berarti efek yang ditimbulkan ikut meningkat seiring dengan peningkatan dosis. Hal ini menunjukkan bahwa metode uji yang dipakai dalam penelitian ini benar (terkendali).
Pada penelitian ini terdapat kelompok CMC Na 1%, kelompok ini berfungsi untuk pengontrol kontrol positif karena kontrol positif yang digunakan pada penelitian ini adalah loperamid HCl yang disuspensikan ke dalam CMC Na 1% atau dapat dikatakan bahwa CMC Na 1% merupakan agen pensuspensi loperamid HCl. Pengontrolan ini dilakukan untuk melihat CMC Na 1 % memiliki efek sebagai
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
antidiare atau laksansia atau tidak keduanya. Bila CMC Na 1 % memiliki efek sebagai antidiare atau laksansia maka tentu akan mempengaruhi nilai rasio A/B yang dihasilkan kontrol positif. Dari data hasil orientasi diketahui bahwa nilai rata-rata rasio A/B antara kelompok CMC Na 1 % dan kelompok kontrol negatif tidak jauh berbeda dengan nilai rata-rata rasio A/B masing-masing 0,50 dan 0,49, sehingga dapat dikatakan CMC Na 1 % tidak memiliki efek sebagai antidiare maupun laksansia.
Dari data hasil orientasi diketahui bahwa nilai rata-rata rasio A/B pada semua kelompok infusa daun putri malu dosis 1,25 mg/kg BB (I), 1,3 mg/kg BB (II), 2 mg/kg BB (III), 2,5 mg/kg BB (IV), 5 mg/kg BB (V), 7,5 mg/kg BB (VI) lebih kecil daripada nilai rasio A/B kelompok kontrol negatif, sehingga dapat dikatakan infusa daun putri malu memiliki efek sebagai antidiare.
Dari data orientasi juga diketahui bahwa pada dosis I hingga IV terjadi penurunan nilai rata-rata rasio A/B, yang berarti peningkatan efek antiare, akan tetapi pada dosis V nilai rasio A/B rata-rata mengalami peningkatan, yang berarti penurunan efek antidiare dan pada dosis VI nilai rasio A/B rata-rata mengalami penurunan kembali. Pada penelitian ini diputuskan untuk melanjutkan penelitian dengan menggunakan infusa daun putri malu dosis II (1,3 mg/kg BB), dosis III (2 mg/kg BB) dan satu dosis tambahan yaitu 3 mg/kg BB.
Perbedaan nilai rata-rata rasio A/B yang dihasilkan dalam tiap kelompok perlakuan tergantung pada kemampuan senyawa atau zat yang diberikan kepada tiap kelompok untuk mempengaruhi peristaltik usus. Bila senyawa atau zat mempercepat
44
gerak peristaltik maka nilai rasio A/B akan semakin besar karena panjang usus yang dilalui penanda semakin besar dan dapat dikatakan senyawa atau zat tersebut memiliki efek sebagai laksansia. Bila senyawa atau zat memperlambat gerak peristaltik maka nilai rasio A/B akan semakin kecil karena panjang usus yang dilalui penanda semakin kecil dan dapat dikatakan senyawa atau zat tersebut memiliki efek sebagai antidiare.