• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efek antidiare infusa daun putri malu [Mimosa pudica Linn.] pada mencit putih betina dengan metode transit intestinal - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Efek antidiare infusa daun putri malu [Mimosa pudica Linn.] pada mencit putih betina dengan metode transit intestinal - USD Repository"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

EFEK ANNTIDIARE

DENG

Diaj Mem

U

E INFUSA D PADA ME GAN METO jukan untuk mperoleh Ge Program D Nix NI FAKU UNIVERSIT YO DAUN PUTR ENCIT PUT ODE TRAN SKRIPSI Memenuhi elar Sarjana F

m Studi Ilmu

Diajukan ole xon Fernando

IM : 058114

ULTAS FAR

TAS SANAT

OGYAKAR

2009

RI MALU ( TIH BETINA NSIT INTES

Salah Satu S Farmasi (S. F u Farmasi eh : o Joel 4017 RMASI TA DHARM RTA

(Mimosa pu

A

STINAL

Syarat Farm)

MA

(2)

EFEK ANNTIDIARE

DENG

Diaj Mem

U

E INFUSA D PADA ME GAN METO jukan untuk mperoleh Ge Program D Nix NI FAKU UNIVERSIT YO ii DAUN PUTR ENCIT PUT ODE TRAN SKRIPSI Memenuhi elar Sarjana F

m Studi Ilmu

Diajukan ole xon Fernando

IM : 058114

ULTAS FAR

TAS SANAT

OGYAKAR

2009

RI MALU ( TIH BETINA NSIT INTES

Salah Satu S Farmasi (S. F u Farmasi eh : o Joel 4017 RMASI TA DHARM RTA

(Mimosa pu

A

STINAL

Syarat Farm)

MA

dica Linn.)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(3)

iii Skripsi

EFEK ANTIDIARE INFUSA DAUN PUTRI MALU (Mimosa pudica Linn.) PADA MENCIT PUTIH BETINA

DENGAN METODE TRANSIT INTESTINAL

Yang diajukan oleh : Nixon Fernando Joel NIM : 058114017

telah disetujui oleh

Pembimbing

(4)

iv

Pengesahan Skripsi Berjudul

EFEK ANTIDIARE INFUSA DAUN PUTRI MALU (Mimosa pudica Linn.) PADA MENCIT PUTIH BETINA

DENGAN METODE TRANSIT INTESTINAL

Oleh :

Nixon Fernando Joel NIM : 058114017

Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma Pada tanggal :

14 Juli 2009

Mengetahui Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma

Dekan

Rita Suhadi, M. Si., Apt.

Pembimbing Utama

Drs. Mulyono, Apt. Panitia Penguji :

1. Drs. Mulyono, Apt. ……….

2. Ipang Djunarko, S.Si.,Apt. ……….

3. Yosef Wijoyo, M.Si., Apt. ……….

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(5)

v

 

Hati yang baik adalah sebuah taman.

Pikiran yang baik adalah akarnya,

perkataan yang baik adalah bunganya,

perbuatan yang baik adalah buahnya.

-Henry Wadsworth Longfellow-

KUPERSEMBAHKAN UNTUK

MAMAKU YANG KUSAYANG

TEMAN-TEMANKU

(6)

vi

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(7)

vii

PRAKATA

Puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat yang telah diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi berjudul “Efek Antidiare Infusa Daun Putri Malu (Mimosa pudica

Linn.) pada Mencit Putih Betina dengan Metode Transit intestinal”. Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan pada Fakultas Farmasi Sanata Dharma.

(8)

viii

Penulisan skripsi ini tidak mungkin terwujud tanpa adanya bimbingan, arahan, bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Drs. Mulyono, Apt. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, saran dan solusi kepada penulis selama proses pembuatan skripsi ini. 2. Bapak Yosef Wijoyo, M.Si., Apt. dan Bapak Ipang Djunarko, S.Si., Apt. selaku

dosen penguji atas kesediaan menguji serta saran-saran yang diberikan.

3. Keluargaku, bibi-bibiku dan nenekku, terutama mamaku atas doanya, dukungannya baik secara moral maupun materi kepada penulis.

4. Yayasan Hidup Bahagia yang telah memberikan bea siswa kepada penulis yang digunakan untuk membiayai penulisan skripsi ini.

5. Brigitta Melati Iswahyulianti Ongirwalu atas cinta, doa dan perhatiannya. 6. Stefanus Dani Cahya Pamungkas atas kerja samanya dalam proses penelitian. 7. Teman-teman yang tergabung dalam UKKA (Sinta, Erlin, Sekar, Inus, Made,

Yoyok, Berto, David) atas kebersamaan, hiburan dan canda tawanya. 8. Romo Sunu atas bantuannya dalam pengolahan data dan pengolah hidup.

9. Suster Inez atas nasehat-nasehatnya yang membangun diriku dalam proses pembuatan skripsi ini.

10. Ius farmasi 07 atas bantuannya dalam memahami statistik.

11. Mas Kayat, Mas Parjiman, Mas Heru dan Mas Yuwono atas bantuannya dalam memberikan informasi dan penyediaan saran dan prasarana dalam penelitian. 12. Pak Mus yang menyediakan bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(9)

ix

13. Mas Wagiran yang bersedia meminjamkan alat-alat yang dibutuhkan penulis, Mas Andre yang membantu menyerbukkan simplisia dan Mas Sigit yang membantu dalam proses determinasi tanaman.

14. Bapak-bapak satpam yang bersedia meminjamkan kunci lab saat penulis lupa memberi makan hewan uji.

15. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan kepada penulis yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Untuk itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun terhadap skripsi ini. Semoga skripsi ini berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta dapat menjadi acuan bagi peneliti-peneliti selanjutnya.

(10)

x

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 28 Mei 2009 Penulis,

Nixon Fernando Joel

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(11)

xi

INTISARI

Telah dilakukan penelitian mengenai efek infusa daun putri malu (Mimosa pudica Linn.) sebagai antidiare pada mencit putih betina. Adanya kadungan tanin dalam daun putri malu diduga dapat berperan sebagai antidiare. Tanin bekerja sebagai adstringent, yaitu melapisi mukosa usus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan khasiat daun putri malu(Mimosa pudica Linn.) sebagai antidiare secara praklinik, dengan menggunakan hewan uji.

Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental murni dengan mengikuti rancangan acak lengkap pola searah. Pada penelitian ini digunakan metode transit intestinal dengan mencit putih betina sebagai subyek uji. Subyek uji dibagi secara acak dalam enam kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok CMC Na 1%, kelompok kontrol positif, dan kelompok uji dengan dosis 1,30 mg/kg BB, 2 mg/kg BB dan 3 mg/kg BB dengan sepuluh ekor mencit tiap kelompok. Parameter yang diamati adalah rasio antara panjang usus yang ditempuh penanda (A) dengan panjang usus seluruhnya (B). Data yang diperoleh kemudian dianalisa secara statistik dengan menggunakan uji ANOVA satu arah dan dilanjutkan uji post hoc (Tukey) dengan taraf kepercayaan 95%.

Data hasil penelitian menunjukkan infusa daun putri malu mempunyai efek antidiare pada dosis 1,30 mg/kg BB, 2 mg/kg BB dan 3 mg/kg BB dengan nilai rasio A/B secara berturut-turut 0,45; 0,28; dan 0,39.

(12)

xii

ABSTRACT

It has been conducted a research about the antidiarrhea effect of infusa

Mimosa pudica Linn. leaf on white female mice. Tannin in Mimosa pudica Linn. leaf foreseeable can contribute to antidiarrhea. Tannin works as astringent, that is lined intestinal mucosa. The research aimed to prove effect of Mimosa pudica Linn. leaf as an antidiarrhea according to pre clinic test, using experiment animals.

This type of the research was pure experimental research with one way pattern random design. This research was using intestinal transit method with the test subject were white female mice. The test subject randomly devide into 6 groups, i.e. negative control group, CMC Na 1% group, positive control group and three test groups with dose 1,30 mg/kg BW, 2 mg/kg BW and 3 mg/kg BW with 10 mice in each group. The parameter which observed is the comparison ratio of the marker solution trace within the intestine (A) and the total of intestine length (B). The data obtained was analyzed statistically using One Way ANOVA and continued with post hoc test (Tukey) with interval 95%.

The result data showed that Mimosa pudica Linn. leaf has antidiarrhea effect at dose 1,30 mg/kg BW, 2 mg/kg BW and 3 mg/kg BW with ratio A/B each one 0,45; 0,28; dan 0,39.

Key word: antidiarrhea, Mimosa pudica Linn., intestinal transit method

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(13)

xiii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... ii 

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii 

HALAMAN PENGESAHAN ... iv 

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v 

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vi 

PRAKATA ... vii 

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... x 

INTISARI ... xi 

ABSTRACT ... xii 

DAFTAR ISI ... xiii 

DAFTAR TABEL ... xviii 

DAFTAR GAMBAR ... xix 

DAFTAR LAMPIRAN ... xx 

BAB I PENGANTAR ... 1 

A. Latar Belakang ... 1 

1. Permasalahan ... 3 

2. Keaslian penelitian ... 3 

(14)

xiv

B. Tujuan Penelitian ... 5 

1. Tujuan umum ... 5 

2. Tujuan khusus ... 5 

BAB II PENELAHAAN PUSTAKA... 6 

A. Uraian Tanaman ... 6 

1. Sistematika tanaman ... 6 

2. Nama latin ... 6 

3. Nama daerah ... 7 

4. Morfologi ... 7 

5. Khasiat ... 8 

B. Diare ... 8 

1. Pengertian ... 8 

2. Penyebab ... 9 

3. Gejala ... 11 

4. Patofisiologi ... 12 

C. Antidiare ... 13 

D. Infusa ... 17 

E. Tanin ... 18 

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(15)

xv

F. Loperamida Hidroklorida ... 22 

G. Metode Uji Aktivitas Antidiare ... 24 

H. Landasan Teori ... 24 

I. Hipotesis ... 25 

BAB III METODE PENELITIAN ... 26 

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 26 

B. Variabel dan Definisi Operasional ... 26 

1. Variabel utama ... 26 

2. Variabel pengacau ... 26 

3. Definisi operasional ... 27 

C. Bahan Penelitian ... 28 

D. Alat Penelitian ... 29 

E. Tata Cara Penelitian ... 30 

1. Penentuan Metode Uji ... 30 

2. Determinasi tumbuhan ... 30 

3. Pengumpulan bahan uji ... 30 

4. Pembuatan simplisia ... 30 

(16)

xvi

6. Pembuatan CMC Na 1% ... 31 

7. Penentuan dosis loperamid HCl ... 31 

8. Pembuatan larutan loperamid HCl ... 32 

9. Pembuatan penanda ... 32 

10. Perlakuan terhadap hewan uji ... 32 

11. Skema kerja ... 34 

F. Tata Cara Analisis Hasil ... 35 

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 36 

A. Determinasi Tanaman ... 36 

B. Pengumpulan Bahan Uji dan Pembuatan Simplisia ... 36 

C. Penetapan Efek Antidiare ... 37 

D. Pemilihan Kontrol Positif ... 38 

E. Orientasi Percobaan ... 39 

F. Efek Antidiare Infusa Daun Putri Malu ... 44 

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 54 

A. Kesimpulan ... 54 

B. Saran ... 54 

DAFTAR PUSTAKA ... 56 

LAMPIRAN ... 59 

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(17)

xvii

(18)

xviii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel I. Hasil orientasi kelompok kontrol negatif, dosis I, II, III, IV, V, VI, CMC Na 1% dan kontrol positif ... 41 

Tabel II. Hasil rasio A/B kelompok kontrol negatif, dosis I, II, III, CMC Na 1% dan kontrol positif ... 46 

Tabel III. Hasil uji ANOVA satu arah antar kelompok perlakuan ... 49 

Tabel IV. Rangkuman hasil uji Tukey antar kelompok perlakuan ... 50 

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(19)

xix

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Bagan rekomendasi pengobatan diare akut ... 16 

Gambar 2. Bagan rekomendasi pengobatan diare kronis ... 17 

Gambar 3. Struktur kimia asam galat...18

Gambar 4. Struktur kimia HHDP...18

Gambar 5. Struktur kimia corilagin ... 19 

Gambar 6. Struktur kimia katekin...20

Gambar 7. Struktur kimia epikatekin...20

Gambar 8. Struktur kimia prosianidin B-3 ... 20 

Gambar 9. Struktur kimia loperamid hidroklorida ... 22 

Gambar 10. Skema kerja perlakuan terhadap hewan uji ... 34 

(20)

xx

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1: Foto tanaman putri malu (Mimosa pudica Linn.) ... 60 

Lampiran 2: Foto daun putri malu ... 61 

Lampiran 3: Perhitungan dosis I ... 62 

Lampiran 4: Perhitungan dosis II ... 62 

Lampiran 5: Perhitungan dosis III... 63 

Lampiran 7: Pembuatan larutan kontrol positif ... 64 

Lampiran 8: Tabel hasil orientasi kelompok kontrol negatif, kontrol positif dan beberapa dosis infusa daun putri malu ... 65 

Lampiran 9: Data hasil penelitian pada kelompok kontrol negatif larutan garam fisiologik (NaCl 0,9%) ... 67 

Lampiran 10: Data hasil penelitian pada kelompok dosis I (1,30 mg/kg BB) infusa daun putri malu ... 67 

Lampiran 11: Data hasil penelitian pada kelompok dosis II (2 mg/kg BB) infusa daun putri malu ... 68 

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(21)

xxi

Lampiran 12: Data hasil penelitian pada kelompok dosis III (3 mg/kg BB) infusa daun putri malu ... 68 

Lampiran 13: Data hasil penelitian pada kelompok CMC Na 1% ... 69 

Lampiran 14: Data hasil penelitian pada kelompok kontrol positif loperamid HCl dengan dosis 7,28 × 10-4 g/kg BB ... 69 

Lampiran 15: Foto usus pada perlakuan kontrol negatif larutan garam fisiologik (NaCl 0,9%) ... 70 

Lampiran 16: Foto usus pada perlakuan infusa daun putri malu dosis I (1,30 mg/kg BB) ... 71 

Lampiran 17: Foto usus pada perlakuan infusa daun putri malu dosis II (2 mg/kg BB) ... 72 

Lampiran 18: Foto usus pada perlakuan infusa daun putri malu dosis III (3 mg/kg BB) ... 73 

Lampiran 19: Foto usus pada perlakuan CMC Na 1% ... 74 

Lampiran 20: Foto usus pada perlakuan kontrol positif loperamid HCl dengan dosis 7,28 × 10-4 g/kg BB ... 75 

(22)

xxii

Lampiran 22: Hasil perhitungan dengan uji ANOVA satu arah ... 77 

Lampiran 23: Hasil perhitungan dengan uji Tukey... 78 

Lampiran 24:  Histogram rasio antara panjang usus yang dilewati penanda dan panjang usus seluruhnya pada kelompok kontrol negatif ... 79 

Lampiran 25:  Histogram rasio antara panjang usus yang dilewati penanda dan panjang usus seluruhnya pada kelompok dosis I (1,30 mg/kg BB) ... 80 

Lampiran 26:  Histogram rasio antara panjang usus yang dilewati penanda dan panjang usus seluruhnya pada kelompok dosis II (2 mg/kg BB) ... 81 

Lampiran 27:  Histogram rasio antara panjang usus yang dilewati penanda dan panjang usus seluruhnya pada kelompok dosis III (3 mg/kg BB) ... 82 

Lampiran 28:  Histogram rasio antara panjang usus yang dilewati penanda dan panjang usus seluruhnya pada kelompok CMC Na ... 83 

Lampiran 29:  Histogram rasio antara panjang usus yang dilewati penanda dan panjang usus seluruhnya pada kelompok kontrol positif ... 84 

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(23)

1

BAB I

PENGANTAR

A. Latar Belakang

Diare merupakan penyebab umum terjadinya kematian terutama pada balita dan anak-anak. Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), diare adalah penyebab nomor satu kematian balita di seluruh dunia. Sementara UNICEF (Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan anak) memperkirakan bahwa, setiap 30 detik ada satu anak yang meninggal dunia karena diare. Di Indonesia, diare adalah pembunuh balita nomor dua setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dengan jumlah kematian sebanyak 100.000 balita tiap tahun (Anonim, 2007).

Diare adalah defekasi yang sering (peningkatan frekuensi defekasi) dalam sehari dengan feses yang lembek atau cair, terjadi karena kimus yang melewati usus kecil dengan cepat, kemudian feses melewati usus besar dengan cepat pula sehingga tidak cukup waktu untuk absorpsi, hal ini menyebabkan dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. Dehidrasi adalah suatu keadaan kekurangan cairan, kekurangan kalium (hipokalemia) dan adakalanya asidosis (darah menjadi asam), yang tidak jarang berakhir dengan syok dan kematian (Andyana dkk., 2004).

(24)

2

alam sekeliling bagi kesehatan termasuk menanggulangi diare (Winarno dan Sundari, 1996).

Pengobatan diare lazimnya secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu; pengobatan simtomatik dan kausatif. Pada pengobatan simtomatik daya kerja obat adalah mengurangi peristaltik langsung ke usus atau memproteksi, menciutkan lapisan permukaan usus (adstringensia), dan zat-zat yang dapat menyerap racun yang dihasilkan bakteri (adsorben), sedangkan secara kausatif, bakteri dimatikan dengan zat antibakteri (Winarno dan Sundari, 1996).

Hasil survei kesehatan rumah tangga antara lain menunjukkan bahwa penggunaan tumbuhan obat untuk mengobati diare pada anak balita sebesar 4% (Ajizah, 2004). Salah satu kandungan dalam tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk mengobati diare adalah tanin, yang dapat berefek sebagai adstringensia. Tanin juga dapat menyerap racun dan menggumpalkan protein (Winarno dan Sundari, 1996). Salah satu tanaman yang mengandung tanin adalah tanaman putri malu (Mimosa pudica Linn.).

Putri malu sering ditemukan tumbuh di pinggir jalan dan tanah lapang. Tanaman putri malu memiliki ciri khas, yaitu bila daun disentuh akan segera menutup. Dalam masyarakat tanaman putri malu dipercaya dapat digunakan sebagai obat susah tidur (insomnia), radang saluran nafas, panas tinggi pada anak-anak, herpes, cacingan dan rheumatik. Daun putri malu mengandung tanin, flavonoid, steroid, sterol dan mimosine (Arisandri & Andriani, 2006 dan Anonim, 1996).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(25)

Adanya kadungan tanin dalam daun putri malu diduga dapat berperan sebagai antidiare.

Dalam penelitian pengujian efek daun putri malu sebagai antidiare ini digunakan metode transit intestinal dengan parameter yang diamati adalah rasio antara panjang usus yang ditempuh penanda dengan panjang usus seluruhnya. Pada penelitian ini digunakan metode transit intestinal karena metode ini relatif lebih mudah, cepat dan akurat dibanding metode lainnya yaitu metode proteksi terhadap diare oleh oleum ricini.

1. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka muncul permasalahan:

a. Apakah infusa daun putri malu memiliki efek sebagai antidiare pada mencit putih betina dengan metode transit intestinal?

b. Pada dosis berapa infusa daun putri malu memiliki efek sebagai antidiare?

c. Berapakah nilai rasio antara panjang usus yang ditempuh penanda dengan panjang usus seluruhnya yang dihasilkan pada dosis infusa daun putri malu memiliki efek sebagai antidiare?

2. Keaslian penelitian

(26)

4

daun putri malu sebagai antidiare. Penelitian yang pernah dilakukan menggunakan daun putri maluantara lain:

a. Isolasi dan identifikasi senyawa golongan flavonoid dari daun Mimosa pudica

Linn. (Widowati, dkk., 1994).

Diperoleh hasil bahwa dalam daun Mimosa pudica Linn. terdapat senyawa golongan flavonoid bentuk aglikon.

b. Pengaruh ekstrak daun putri malu (Mimosa pudica Linn.) terhadap batu kandung kemih yang diinduksi pada tikus putih jantan (Widowati, dkk., 1997).

Penelitian tersebut memberikan hasil bahwa ekstrak daun putri malu ini pada konsentrasi 25 % b/v dan 50 % b/v menunjukkan efek menghancurkan batu kandung kemih dan pada pemberian larutan ekstrak daun putri malu dengan konsentrasi 10; 25 dan 50 % b/v menunjukkan efek diuresis.

c. Pemeriksaan farmakognosi daun putri malu (Mimosa pudica Linn.) (Sari, 2002) Penelitian tersebut memberikan hasil bahwa dari uji tabung daun putri malu kemungkinan mengarah pada golongan senyawa alkaloid, polifenol, saponin dan tanin. Pada uji kualitatif secara KLT daun putri malu menunjukkan senyawa flavonoid, alkaloid, tanin dan saponin. Dan setelah dilakukan analisis diskriptif-komparatif, hasil yang diperoleh (kadar bahan organik asing dan kadar air) memenuhi persyaratan dalam Materia Medika Indonesia.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(27)

3. Manfaat penelitian

Dengan adanya penelitian mengenai efek antidiare daun putri malu ini diharapkan akan memperoleh manfaat sebagai berikut :

a. Manfaat teoritis : untuk melengkapi teori yang sudah ada mengenai obat tradisional khususnya tentang tanaman putri malu.

b. Manfaat praktis : untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai dosis efektif infusa daun putri malusebagai obat diare.

B. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk membuktikan khasiat daun putri malu sebagai antidiare secara pra klinik.

2. Tujuan khusus

Tujuan khusus penelitian ini antara lain :

a. Untuk mengetahui efek daun putri malu sebagai antidiare pada mencit putih betina dengan metode transit intestinal.

b. Untuk mengetahui dosis infusa daun putri malu yang memiliki efek sebagai antidiare.

(28)

6

BAB II

PENELAHAAN PUSTAKA

A. Uraian Tanaman

1. Sistematika tanaman

Tanaman putri malu (Mimosa pudica Linn.) memiliki urutan determinasi sebagai berikut :

Kerajaan : Plantae Divisi :Spermatophyta Anak divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Bangsa : Rosales Suku : Mimosaceae

Marga : Mimosa

Jenis : Mimosa pudica Linn. (Van Steenis, 1992).

2. Nama latin

Tanaman putri malu memiliki beberapa nama latin antara lain Mimosa pudica Linn. dan Mimosa asperat Blanco. Dari kedua nama latin tersebut yang paling sering digunakan adalah Mimosa pudica Linn. (Van Steenis, 1992).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(29)

3. Nama daerah

Mimosa pudica Linn. memiliki nama yang berbeda-beda di beberapa daerah.

Mimosa pudica Linn.yang dikenal di beberapa daerah antara lain :

Minangkabau : rebah bangun; Manado : daun kaget – kaget; Sumatera : sikerput, sikajuik, jakut anting; Jawa : kucingan, jukut borang, jukut rijud, jakut gehgehran, bujang kagit, rondo (Anonim, 1996 dan Van Steenis, 1992).

4. Morfologi

(30)

8

5. Khasiat

Tanaman putri malu dipercaya dapat mengobati penyakit susah tidur, bronchitis, panas tinggi pada anak, herpes, rheumatik dan cacingan. Bagian tanaman yang digunakan adalah daun, akar, seluruh tanaman baik yang segar maupun yang sudah dikeringkan. Arisandi dan Andriani (2006) menambahkan efek farmakologi yang dimiliki tanaman puti malu antara lain penenang (tranquiliser), sedatif, peluruh dahak (expectorant), anti batuk (antitusive), penurun panas (antipiretik), antiradang, dan peluruh air seni (diuretik).

B. Diare

1. Pengertian

Diare berasal dari kata diarroia (bahasa Yunani) yang berarti mengalir terus, merupakan suatu keadaan abnormal dari pengeluaran tinja yang terlalu serius (Sugiyanto, 1997). Diare adalah defekasi yang sering dalam sehari dengan feses yang lembek atau cair, terjadi karena kimus yang melewati usus kecil dengan cepat, kemudian feses melewati usus besar dengan cepat pula sehingga tidak cukup waktu untuk absorpsi (Andyana dkk., 2004).

Diare dibagi menjadi 2 yaitu diare akut dan diare kronik. Diare akut timbul secara mendadak dan bisa berlangsung terus selama beberapa hari. Diare akut adalah diare yang berlangsung lebih dari 2 minggu (Anonim, 1989).

Pada diare hebat yang seringkali disertai muntah-muntah, tubuh kehilangan banyak air dengan garam-garamnya, terutama natrium dan kalium sehingga

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(31)

mengakibatkan tubuh kekeringan (dehidrasi), kekurangan kalium (hipokalemia) dan adanya darah menjadi asam (asidosis) yang tidak jarang berakhir dengan syok dan kematian. Gejala pertama dari dehidrasi adalah perasaan haus, mulut dan bibir kering, kulit menjadi keriput, berkurangnya air seni dan menurunnya berat badan juga keadaan gelisah. Kekurangan kalium terutama mempengaruhi sistem neuromuskuler dengan gejala-gejala mengantuk (letargi), lemah otot dan sesak nafas (Tjay dan Rahardja, 2002).

Diare sangat berbahaya terutama bagi bayi dan anak-anak kecil, karena mereka memiliki cadangan cairan intrasel yang lebih sedikit sedangkan cairan ekstra-selnya lebih mudah lepas daripada orang dewasa (Andyana dkk., 2004).

2. Penyebab

(32)

10

gastroenteritis (radang lambung) yang disebabkan oleh kuman dan toksinnya. Penyebab lain terjadinya diare adalah adanya alergi terhadap makanan atau minuman, gangguan gizi, kekurangan enzim tertentu, dan adanya pengaruh psikis seperti keadaan terkejut dan ketakutan (Tjay dan Rahardja, 2002).

Salah satu faktor penyebab terjadinya diare antara lain karena infeksi kuman penyebab diare. Brooks et al (1996) telah menginventarisasi 12 jenis bakteri, yaitu:

Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, Clostridium perferingens, Escherichia coli, Vibrio cholerae, Shigella sp., Salmonella sp., Clostridium difficile, Campylobacter jejuni, Yersinia enterolitica, Klebsiella pnemoniae, Vibrio haemolyticus. Namun menurut Dzulkarnain (1996) kasus diare di Indonesia lebih sering disebabkan oleh

Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Vibrio cholerae, Salmonella sp., selain

Shigella sp., dan Campylobacter. Dari percobaan binatang yang diinfeksi dengan

Salmonella typhimurium menunjukkan perubahan-perubahan pada cairan ileum, transport elektrolit dan terjadi perangsangan enzim adenil siklase dan peningkatan siklik AMP intraseluler sehingga menyebabkan sekresi cairan dan diare (Ajizah, 2004). Jenis virus yang menyebabkan diare antara lain Adnovirus, Rotavirus, virus Norwalk, Astrovirus, Calcivirus, Coronavirus, Minirotavirus, dan virus bulat kecil (Firdaus, 1997). Jenis parasit penyebab diare adalah Balantidium coli, Capillaria philippinensis, Cryptosporodium, Entamoeba hystolitica, Giardia lamblia, Isospora billi, Fasiolopis Sarcocystis suihominis (Sugiyanto, 1997).

Diare karena faktor malabsorbsi dapat dikategorikan menjadi dua hal, yaitu malabsorbsi karbohidrat dan malabsorbsi lemak.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(33)

a. Malabsorbsi karbohidrat. Pada bayi, kepekatan terhadap laktoglobusis dalam susu formula menyebabkan diare. Gejalanya berupa diare berat, tinja berbau asam, sakit di daerah perut. Jika sering terkena diare ini, pertumbuhan anak terganggu.

b. Malabsorbsi lemak. Dalam makanan terdapat lemak yang disebut trigliserida, dengan bantuan lipase, mengubah lemak menjadi micelles yang siap diabsorpsi usus. Jika tidak ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus, diare dapat jadi muncul karena lemak tidak terserap dengan baik. Gejalanya adalah tinja mengandung lemak. Diare yang dilihat dari faktor makanan, diketahui bahwa makanan yang mengakibatkan diare adalah makanan yang tercemar, basi, beracun, terlalu banyak lemak, mentah (sayuran), dan kurang matang. Faktor psikologis yang menyebabkan diare adalah rasa cemas, takut, dan tegang, dan jika hal ini terjadi pada anak, dapat menyebabkan diare kronis (Widjaja, 2002).

3. Gejala

Menurut Widjaja (2002), gejala-gejala klinis yang timbul apabila penderita terkena diare adalah :

i. Bayi atau anak menjadi cengeng dan gelisah, suhu badan meningkat, dan nafsu makan berkurang.

ii. Tinja makin encer, mengandung darah/lendir, warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur empedu.

(34)

12

iv. Gangguan gizi akibat intake (asupan) makanan yang kurang. v. Muntah sebelum atau sesudah diare.

vi. Hipoglikemia (penurunan kadar gula darah).

vii. Dehidrasi (kekurangan cairan). Bila terjadi dehidrasi timbul rasa haus, clastisitas

(turgir san tonus) kulit menurun, bibir dan mulut kering, mata cowong, air mata tidak keluar, tekanan darah rendah.

4. Patofisiologi

Terdapat empat mekanisme umum patofisiologi yang mengganggu keseimbangan air dan elektrolit yang memacu diare. Empat mekanisme ini merupakan dasar diagnosis dan terapi, antara lain : (1) perubahan aktivitas transfer ion oleh penurunan absorpsi sodium atau peningkatan sekresi klorida, (2) perubahan motilitas usus, (3) peningkatan osmolaritas lumen dan (4) peningkatan tekanan hidrostatik pada jaringan otot. Mekanisme-mekanisme ini telah dihubungkan pada 4 kelompok diare klinis, yaitu : sekretori, osmotik, eksudatif dan perubahan transit usus (Longe & DiPiro, 1997).

Perubahan motilitas usus menyebabkan diare dengan tiga mekanisme, yaitu : mengurangi waktu kontak kimus pada usus halus, pengosongan kolon sebelum waktunya (prematur), dan pertumbuhan bakteri yang berlebihan (Longe & DiPiro, 1997).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(35)

C. Antidiare

Antidiare adalah obat yang diminum pada saat terserang diare akan menunjukkan efek menghentikan diare. Zat-zat yang menekan peristaltik sebetulnya tidak begitu layak untuk digunakan karena pada waktu diare pergerakan usus sudah banyak berkurang, lagi pula virus dan toksin perlu dikeluarkan secepat mungkin dari dalam tubuh. Obat-obat untuk pengobatan diare sebaiknya jangan diberikan lebih dari 7-10 hari, karena bisa jadi diare yang diderita bukan benar-benar penyakit diare tetapi merupakan dari gejala penyakit yang lain (Tjay dan Rahardja, 2002).

(36)

14

Antidiare diberikan untuk mengurangi peristaltik, spasme usus, menahan iritasi, absorpsi racun dan sering terpadu dengan anti-mikroba. Diare yang menyerupai kolera mengakibatkan dehidrasi dan sering memerlukan infusa, sebab penderita dapat meninggal karena kekurangan cairan dan elektrolit. Bila diare tidak disertai muntah maka cairan garam rehidrasi (oralit) banyak menolong sebagai pertolongan pertama (Djamuri, 1995).

Kelompok obat yang sering kali digunakan pada terapi diare adalah :

a. Kemoterapeutika untuk terapi kausal, yaitu memberantas bakteri penyebab diare. Contohnya antibiotika, sulfonamide, kinolon, dan furazolidon.

b. Obstipansia untuk terapi simptomatik, yang dapat menghentikan diare dengan beberapa cara :

1. zat-zat penekan peristaltik, sehingga memberikan lebih banyak waktu untuk resorpsi air dan elektrolit oleh mukosa usus. Contohnya adalah candu dan alkaloidnya, turunan petidin (defenoksilat dan loperamida) dan antikolinergik (atropin, ekstrak belladonna).

2. adstrigensia, yang menciutkan selaput lendir usus. Misalnya asam samak (tanin) dan tannalbumin, garam-garam bismuth dan aluminium.

3. adsorbensia, misalnya karbo adsorben yang pada permukaannya dapat menyerap (adsorpsi) zat-zat racun (toksin) yang dihasilkan oleh bakteri atau yang adakalanya berasal dari makanan (udang, ikan). Termasuk juga zat-zat lendir yang menutupi selaput lendir usus dan luka-lukanya dengan suatu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(37)

lapisan pelindung seperti kaolin, pektin (suatu karbohidrat yang terdapat antara lain dalam buah apel), garam-garam bismuth dan aluminium

c. Spasmolitika, yakni zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang otot yang seringkali mengakibatkan nyeri perut pada diare. Misalnya papaverin dan oksifenonium (Tjay dan Rahardja, 2002).

Ketika terjadi diare tujuan terapinya antara lain : (1) untuk mencegah kehilangan air, elektrolit dan asam basa yang berlebihan, (2) untuk mengadakan pertolongan simptomatik, (3) untuk mengobati penyebab, (4) untuk mengatur kekacauan sekunder yang menyebabkan diare. Petugas kesehatan harus mengerti diare yang seperti batuk, mungkin diare yang terjadi merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk membersihkan tubuh dari zat-zat berbahaya atau patogen. Tanggapan terapi yang benar adalah tidak harus menghentikan diare berapapun biayanya (Longe & DiPiro, 1997).

(38)

16

Gambar 1. Bagan rekomendasi pengobatan diare akut (Longe & DiPiro, 1997)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(39)

Gambar 2. Bagan rekomendasi pengobatan diare kronis (Longe & DiPiro, 1997)

D. Infusa

(40)

18

E. Tanin

Tanin adalah senyawa fenolik larut air yang memiliki berat molekul antara 500 – 3000 memberikan reaksi fenolik yang umum dan memiliki sifat khusus seperti kemampuan untuk mengendapkan alkaloid, gelatin dan protein (Hagerman, 2002).

Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Tanin dapat bereaksi dengan protein membentuk kopolimer yang tidak larut dalam air. Secara kimia terdapat dua jenis utama tanin, yaitu : tanin terkondensasi dan tanin yang dapat dihidrolisis (Harborne, 1973).

Tanin yang dapat dhidrolisis adalah ester gula (kebanyakan glukosa) dan sejumlah molekul asam fenolat. Contoh asam fenolat adalah asam galat pada gallotanin, asam asam hexahidroksidifenat (HHDP) pada ellagitanin. Tanin yang dapat dihidrolisis ditemukan dalam tanaman dikotil angiospermae (Bruneton, 1999).

Gambar 3. Struktur kimia asam galat Gambar 4. Struktur kimia HHDP (Mills & Bone, 2000) (Mills & Bone, 2000)

OH

OH

OH

OH

O OH

OH HO

OH

O

OH HO

HO

HO

O

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(41)

Gambar 5. Struktur kimia corilagin (Mills & Bone, 2000)

Tanin terkondensasi atau proantosianidin adalah flavon polimerik. Tanin terkondensasi terdiri dari beberapa unit flavan-3-ol (sering kali katesin dan epikatesin) yang saling berikatan karena ikatan-ikatan karbon, kebanyakan pada 4 > 8 atau 4 > 6. Tanin terkondensasi teridentifikasi pada seluruh kelompok tanaman (Bruneton, 1999).

OH HO

HO

O

OH OH HO

O O

OH HO

HO

O

O

O

O

O

OH

OH OH O

O

OH OH OH

(42)

20

Gambar 6. Struktur kimia katekin Gambar 7. Struktur kimia epikatekin (Mills & Bone, 2000) (Mills & Bone, 2000)

Gambar 8. Struktur kimia prosianidin B-3 (Mills & Bone, 2000)

Ketika tanin kontak dengan membran mukosa, tanin akan bereaksi dengan protein pada mukus dan sel-sel epitel dari mukosa membentuk ikatan silang. Akibatnya, mukosa menjadi lebih rapat dan kurang permeable, proses ini dikenal dengan adstringensia. Adstringensia mampu meningkatkan proteksi mukosa terhadap mikroorganisme dan zat-zat iritan (Mills & Bone, 2000).

OH OH O HO OH OH OH OH O HO OH OH OH OH O HO OH OH OH OH O HO OH OH

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(43)

Salah satu efek tanin yang paling penting di usus adalah efek sebagai antidiare. Dapat digambarkan bahwa efek tanin adalah membuat lapisan pelindung dari protein teragulasi pada mukosa di sepanjang dinding usus, sangat mematirasakan ujung saraf sensorik dan mengurangi propokatip stimulus untuk meningkatkan aktivitas peristaltik. Tanin juga akan menghambat kelangsungan hidup mikroorganisme penginfeksi, mengendalikan hipersekresi ciran dan menetralkan protein yang menyebabkan radang. Karena afinitas tanin untuk protein bebas, tanin akan terkonsentrasi di area yang rusak. Tanin terkondensasi dapat mengikat dan menonaktifkan aktivitas hipersekresi racun kolera (Mills & Bone, 2000).

Tanaman yang mengandung tanin secara tradisional digunakan sebagai

antiulcer dan antiinflamasi. Di Cina tanaman yang mengandung tanin digunakan untuk pengobatan gagal ginjal. Tanin memiliki efek sebagai antioksidan karena termasuk dalam senyawa fenolik. Tanin memiliki aktivitas antiviral, efek sebagai sitotoksik, aktivitas sebagai antimutagenik dan menghambat lipooksigenasi (Mills & Bone, 2000).

(44)

22

menciptakan kanker oesophageal. Asam tanat (salah satu tanin yang dapat dihidrolisis) diketahui dapat menyebabkan kerusakan hati ketika diabsorbsi langsung ke aliran darah melalui usus besar (Mills & Bone, 2000).

F. Loperamida Hidroklorida

Gambar 9. Struktur kimia loperamid hidroklorida (Dollery, 1991)

Loperamida hidroklorida adalah senyawa berbentuk serbuk, warna putih sampai agak kuning; melebur pada suhu lebih kurang 225oC disertai peruraian. Memiliki nama kimia 4–(4 – klorofenil)–4–hidroksi–N,N–dimetil–α,α–difenil–1– piperidinbutanamid hidroklorida, dengan rumus kimia C29H33ClN2O2. HCl. Bersifat

mudah larut dalam metanol, isopropil alkohol dan dalam kloroform; sukar larut dalam air dan asam encer (Anonim, 1995). Kelarutan dalam alkohol 1 : 10; kelarutan dalam air 1 : 50000 (Dollery, 1991).

Loperamid adalah senyawa yang menunjukkan aksi antidiare pada saluran pencernaan untuk mencegah peristaltik (Anonim, 1994). Loperamid mencegah

C6H5

CCH2CH2 C6H5

CON(CH3)2

N

OH

Cl

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(45)

kemampuan peristaltik oleh otot pada saluran pencernaan dengan interaksi kolinergik maupun non kolinergik dari tanggapan mekanisme saraf untuk menunjukkan gerakan peristaltik secara refleks. Loperamid menekan reseptor opiat pada dinding usus, mengurangi gerakan paristaltik dan menambah waktu transit di saluran pencernaan. Loperamid juga menambah kemampuan menahan pada saluran pengeluaran. Loperamid menunjukkan kemampuan mencegah sekresi cairan dan elektrolit pada saluran pencernaan (Dollery, 1991).

Loperamid menunjukkan efek antidiare dengan kombinasi aksi pada otot halus dalam saluran pencernaan dan mempengaruhi efek sekresi. Namun, loperamid tidak menujukkan pengaruh pada flora saluran pencernaan. Efek antidiare loperamid mirip dengan difenoksilat dan kodein, tetapi loperamid memperlihatkan efek yang lebih cepat, lebih panjang dan lebih tepat pada saluran pencernaan (Dollery, 1991).

(46)

24

G. Metode Uji Aktivitas Antidiare

Pada penelitian aktivitas antidiare diketahui ada 2 metode uji yang dapat digunakan, yaitu :

a. Metode transit intestinal

Metode transit intestinal dapat digunakan untuk mengevaluasi aktivitas obat diare berdasarkan pengaruhnya pada rasio jarak usus yang ditempuh oleh sesuatu penanda dalam waktu tertentu terhadap panjang usus keseluruhan pada hewan percobaan mencit atau tikus. Obat antidiare akan memiliki rasio yang lebih kecil dibandingkan rasio pada hewan tanpa perlakuan (Anonim,1991). b. Metode proteksi terhadap diare oleh oleum ricini

Kandungan utama dari minyak jarak (oleum ricini), yakni trigliserida dari asam risinoleat akan mengalami hidrolisis di dalam usus halus oleh lipase pankreas menjadi gliserin dan asam risinoleat. Sebagai surfaktan anionik, zat ini bekerja mengurangi absorpsi neto cairan dan elektrolit serta menstimulasi peristaltis usus, sehingga berkhasiat sebagai laksansia berdasarkan kerja ini. Obat yang berkhasiat antidiare akan dapat melindungi hewan percobaan mencit terhadap diare yang diinduksi dengan oleum ricini tersebut (Anonim,1991).

H. Landasan Teori

Dari literatur yang ditemukan, diketahui bahwa salah satu mekanisme patofisiologi yang menyebabkan diare adalah perubahan motilitas usus, sementara itu beberapa mekanisme perubahan motilitas usus adalah penurunan waktu kontak

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(47)

kimus di usus halus dan pengosongan usus besar yang prematur (Longe & DiPiro,1997). Tanin diketahui memiliki efek adstringensia yang dapat menciutkan lapisan permukaan usus. Dapat digambarkan bahwa efek tanin adalah membuat lapisan pelindung dari protein teragulasi pada mukosa di sepanjang dinding usus, mengurangi propokatip stimulus untuk meningkatkan aktivitas peristaltik, sehingga peristaltik usus menjadi terhambat (Mills & Bone, 2000). Dengan kata lain, tanin dapat meningkatkan waktu kontak kimus di usus halus dan mencegah pengosongan usus besar yang prematur. Daun putri malu (Mimosa pudica Linn.) diketahui mengandung tanin, flavonoid, steroid, dan sterol (Anonim, 1996). Adanya kadungan tanin dalam daun putri malu diduga dapat berperan sebagai antidiare pada pengujian menggunakan metode transit intestinal.

I. Hipotesis

(48)

26

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian efek antidiare infusa daun putri malu ini termasuk jenis penelitian eksperimental murni dengan mengikuti rancangan acak lengkap pola searah.

B. Variabel dan Definisi Operasional

1. Variabel utama

a. Variabel bebas, yaitu dosis infusa daun putri malu. Dosis yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1,30 mg/kg BB, 2 mg/kg BB dan 3 mg/kg BB.

b. Variabel tergantung, yaitu besarnya rasio antara panjang usus yang dilewati penanda dan panjang usus seluruhnya.

2. Variabel pengacau

a. Variabel pengacau terkendali

i. Bahan uji : bahan uji yang digunakan adalah daun putri malu yang dipetik, dipilih sesudah daun kedua dari ujung dan sebelum daun kedua dari pangkal batang. Daun putri malu diperoleh di Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta dan diambil pada bulan Desember 2008.

ii. Jenis kelamin mencit : betina

iii. Berat badan mencit : antara 20-25 gram. iv. Umur mencit : 2-3 bulan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(49)

v. Cara pemberian : peroral

vi. Volume pemberian : 0,2 ml/ 20 g BB vii. Waktu perlakuan : 65 menit

b. Variabel pengacau tak terkendali meliputi galur dan status kesehatan hewan uji

3. Definisi operasional

Definisi operasional yang digunakan dalam percobaan ini antara lain :

a. Infusa yang digunakan dalam penelitian ini adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi serbuk daun putri malu yang lolos dari ayakan mesh no. 40, dengan air pada suhu 90oC selama 15 menit. Kemudian dalam keadaan panas disaring dengan kertas saring dengan bantuan pompa vakum dan melalui ampasnya ditambah air panas hingga volume 100 ml.

b. Daun putri malu yang digunakan adalah daun lengkap yang terdiri dari ibu tangkai daun, anak tangkai daun dan anak daun.

c. Metode transit intestinal merupakan metode yang biasa digunakan untuk mengevaluasi aktivitas obat antidiare berdasarkan pengaruhnya pada rasio jarak usus yang ditempuh oleh sesuatu penanda dalam waktu tertentu terhadap panjang usus keseluruhan pada hewan percobaan.

d. Rasio A/B adalah rasio antara jarak usus yang ditempuh oleh penanda (A) dengan panjang usus seluruhnya (B) pada subyek uji, yaitu mencit putih betina.

(50)

28

kontrol negatif (NaCl 0,9%) dengan hasil berbeda bermakna (p<0,05) pada pengujian menggunakan uji post hoc.

C. Bahan Penelitian

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu :

1. Bahan utama

a. Bahan uji; digunakan daun putri malu diperoleh di Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Bahan uji diambil pada bulan Desember 2008.

b. Hewan uji; digunakan mencit putih betina berumur 2-3 bulan dengan berat badan 20-25 gram dan memiliki feses normal. Setiap kelompok perlakuan terdiri dari sepuluh ekor mencit. Hewan uji diperoleh dari UD. Wistar Sewon, Bantul, Yogyakarta.

2. Bahan kimia

a. Gom Arab; diperoleh dari Laboratorium Farmasetika Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

b. Karbon adsorbsi; Laboratorium Farmasetika Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

c. NaCl padat; diperoleh dari Laboratorium Farmakologi - Tosikologi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

d. Aquadest; diperoleh dari Laboratorium Farmakologi - Tosikologi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(51)

e. CMC Na; diperoleh dari Laboratorium Formulasi Teknologi Sediaan Solid Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

f. Loperamid HCl; diperoleh dari tablet Imodium yang dibeli di apotek X di Yogyakarta.

D. Alat Penelitian

Alat atau instrumen yang digunakan meliputi: 1. Kotak kaca

2. Oven (Memmert) 3. Blender

4. Ayakan mesh no. 40 (Patraproduk) 5. Desikator

6. Pompa vakum (ABM)

7. Corong Buchner dan labu hisap (Schoot Duran) 8. Timbangan mencit (Mettler PM 600)

9. Timbangan analitik (Mettler AE 200) 10. Mistar (Butterfly)

11. Meja bedah dan alat bedah 12. Alat suntik oral

13. Pemanas 14. Termometer

(52)

30

E. Tata Cara Penelitian

1. Penentuan Metode Uji

Pada penelitian ini metode uji yang dipilih adalah metode transit intestinal. Dipilih metode transit intestinal karena metode ini mudah dikerjakan dan hasilnya cukup akurat, waktu pengerjaannya relatif tidak lama karena total waktu yang diperlukan adalah 65 menit. Selain itu, parameter yang diamati mudah yaitu rasio antara panjang usus yang ditempuh penanda dan panjang usus seluruhnya.

2. Determinasi tumbuhan

Determinasi tanaman putri malu dilakukan dengan mencocokkan deskripsi tanaman putri malu yang terdapat pada buku Flora (Van Steenis, 1992). Determinasi dilakukan di Laboratorium Kebun Obat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

3. Pengumpulan bahan uji

Bahan daun putri malu yang diambil di Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Bahan diambil pada bulan Desember 2008. Daun putri malu yang dipetik dipilih di antara daun kedua dari ujung dan daun ketiga dari pangkal batang.

4. Pembuatan simplisia

Bahan uji (daun putri malu) yang sudah terkumpul kemudian dicuci dengan air mengalir, kemudian dikeringkan dengan cara dipanaskan dalam oven dengan suhu kurang lebih dari 50oC. Pengeringan dilakukan hingga daun mudah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(53)

hancur ketika diremas. Daun yang sudah kering kemudian dihaluskan menggunakan blender dan diayak menggunakan ayakan dengan mesh no. 40 untuk menghomogenkan ukuran serbuk simplisia.

5. Pembuatan infusa

Serbuk simplisia daun putri malu diambil sebanyak 13 mg untuk dosis 1,30 mg/kg BB (I), 20 mg untuk dosis 2 mg/kg BB (II) dan 30 mg untuk dosis 3 mg/kg BB (III), kemudian dipanaskan dengan air panas secukupnya selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90oC, selagi panas ampas kemudian disaring dan ditambahkan air panas melalui ampas hingga volume 100 ml.

6. Pembuatan CMC Na 1%

Timbang CMC Na sebanyak 1 gram kemudian ditaburkan pada aquadest secukupnya dan didiamkan semalam. Kemudian suspensi CMC Na yang sudah terbentuk ditambahkan aquadest hingga 100 ml.

7. Penentuan dosis loperamid HCl

(54)

32

8. Pembuatan larutan loperamid HCl

Dosis loperamid HCl yang digunakan dalam penelitian ini adalah 7,28 × 10-4 g/kg BB dan dengan volume pemberian sebesar 0,2 ml/20 g BB. Maka konsentrasi yang harus dibuat untuk mencit 20 gram adalah 7,28 × 10-3 g/100 ml.

Pada penelitian ini digunakan loperamid HCl yang tersedia dalam bentuk tablet 100 mg dengan kandungan loperamid HCl sebesar 2 mg. Penimbangan loperamid HCl dilakukan dengan pertimbangan kesetaraan bobot dan akan menghasilkan jumlah penimbangan yang lebih besar daripada penimbangan loperamid HCl murni. Pada penelitian ini digunakan 10 tablet loperamid HCl yang mengandung 2 mg loperamid HCl, maka serbuk tablet yang diambil adalah 0,3721 g yang setara dengan 4 mg loperamid HCl murni. Timbang serbuk tablet loperamid HCl sebanyak 0,03721 g kemudian disuspensikan dalam CMC Na 1%.

9. Pembuatan penanda

Dalam penelitian ini penanda yang digunakan terdiri dari Gom Arab 20% dan karbon aktif 5%, keduanya dibuat dalam wadah terpisah terlebih dahulu dengan volume yang sama dan kemudian dicampur.

10.Perlakuan terhadap hewan uji

a. Hewan percobaan dipuasakan makan selama lebih kurang 18 jam, minum diberikan sepuasnya (ad libitum).

b. Setelah ditimbang, hewan dikelompokkan secara acak, kelompok kontrol negatif, kelompok uji infusa daun putri malu dosis 1,30 mg/kg BB (I), 2

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(55)

mg/kg BB (II) dan 3 mg/kg BB (III), kelompok CMC Na 1% dan kelompok kontrol positif masing-masing kelompok 10 ekor.

c. Dilakukan perlakuan pemberian dengan cara per oral. Kelompok kontrol negatif menerima larutan garam fisiologik (NaCl fisiologik 0,9%) dengan volume pemberian 0,2 ml/20 g BB, kelompok uji menerima infusa daun putri malu dosis 1,30 mg/kg BB (I), 2 mg/kg BB (II) dan 3 mg/kg BB (III) dengan volume pemberian 0,2 ml/20 g BB, kelompok CMC Na 1% menerima larutan CMC Na 1% dengan volume pemberian 0,2 ml/20 g BB, kelompok kontrol positif menerima loperamid HCl dosis 7,28 × 10-4 g/kg BB dengan volume pemberian 0,2 ml/20 g BB.

d. Setelah 45 menit semua hewan diberikan penanda sebanyak 0,2 ml/20 g BB mencit secara oral.

e. Dua puluh menit kemudian semua hewan dikorbankan secara disoklasi tulang leher. Usus dikeluarkan secara hati-hati, sampai teregang. Panjang usus yang dilalui penanda mulai dari pilorus sampai ujung akhir (berwarna hitam) diukur. Demikian pula panjang seluruh usus dari pilorus sampai rektum dari masing-masing hewan. Kemudian dari masing-masing hewan dihitung rasio antara jarak yang ditempuh penanda terhadap panjang usus seluruhnya.

(56)

34

11.Skema kerja

Masing-masing subyek uji dipuasakan ± 18 jam, minum tetap diberikan

Setelah ditimbang, hewan dikelompokkan secara acak, kelompok kontrol negatif, kelompok uji infusa daun putri malu dosis 1,30 mg/kg BB, 2 mg/kg

BB dan 3 mg/kg BB, kelompok CMC Na 1% dan kelompok kontrol positif masing-masing kelompok 10 ekor

I II III IV V VI

Setelah 45’ berikan penanda

Setelah 20 menit korbankan subyek uji dan bedah

Usus dikeluarkan dengan hati-hati, renggangkan pelan-pelan

Ukur panjang usus yang dilalui penanda dari pilorus hingga ujung yang berwarna hitam (A)

Ukur panjang usus dari pilorus hingga rektum (B)

Hitung rasio antara A dan B

Hitung rata-rata rasio A/B untuk masing-masing kelompok dan bandingkan antar kelompok

Keterangan:

I : kelompok kontrol negatif dengan pemberian larutan NaCl 0,9% II : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis I (1,3 mg/kg BB) III : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis II (2 mg/kg BB) IV : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis III (3 mg/kg BB) V : kelompok perlakuan CMC Na 1%

VI : kelompok kontrol positif dengan pemberian loperamid HCl dengan dosis 7,28 × 10-4 g/kg BB

Gambar 10. Skema kerja perlakuan terhadap hewan uji (Anonim, 1991)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(57)

F. Tata Cara Analisis Hasil

Data yang diperoleh berupa nilai rasio antara jarak yang ditempuh penanda terhadap panjang usus seluruhnya dari masing-masing kelompok. Nilai rata-rata rasio pada tiap-tiap kelompok dihitung. Nilai rata-rata tersebut dibandingkan antara kelompok kontrol negatif, kelompok CMC Na 1%, kelompok kontrol positif, kelompok dosis 1,30 mg/kg BB (I), 2 mg/kg BB (II) dan 3 mg/kg BB (III).

(58)

36

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 

A. Determinasi Tanaman

Determinasi tanaman dilakukan untuk memastikan kebenaran identitas tanaman yang digunakan sebagai bahan uji, yaitu putri malu (Mimosa pudica Linn.). Ciri khas yang terdapat pada tanaman putri malu dideterminasi menggunakan buku Flora karangan Van Stenis (1992) dan dilakukan di Laboratorium Kebun Obat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. Hasil determinasi tumbuhan adalah sebagai berikut :

1b – 2b – 3b – 4b – 6b – 7b – 9b – 10b – 11b – 12b – 13b – 14a – 15b – 197a – 198b – 200b – 201a……….………….58 (Mimosaceae) 1b – 6a……….….5 (Mimosa) 1a………...(Mimosa pudica Linn.) Berdasarkan hasil determinasi yang telah dilakukan, dapat diperoleh kepastian bahwa tumbuhan yang dideterminasi adalah Mimosa pudica Linn.

B. Pengumpulan Bahan Uji dan Pembuatan Simplisia

Daun putri malu dikumpulkan di suatu wilayah tanaman yang sama, kemudian dicuci dengan air bersih. Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotor-pengotor lain yang melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air mengalir dan dilakukan secepat mungkin agar zat yang mudah larut dalam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(59)

air (salah satunya tanin) tidak banyak hilang. Daun putri malu yang sudah dicuci kemudian dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 50oC, pengeringan dilakukan hingga daun kering yang ditandai dengan mudah hancur ketika diremas. Tujuan dilakukan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga dapt disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan mengurangu kadar air dan menghentikan reaksi enzimatik akan mencegah penurunan mutu atau perusakan simplisia (Anonim, 1986).

Daun yang sudah kering kemudian diserbuk menggunakan blender dan kemudian diayak dengan ayakan mesh no. 40. Penyerbukan dilakukan untuk memperluas luas permukaan serbuk sehingga kontak dengan pelarut semakin besar dan dengan demikian proses ekstraksi menjadi lebih optimal. Pengayakan dilakukan untuk menghomogenkan ukuran (derajat kehalusan) serbuk simplisia. Selanjutnya serbuk simplisia disimpan dalam desikator untuk menjaga kadar air serbuk simplisia. Adanya air dalam serbuk dalam simplisia pada kadar tertentu dapat menyebabkan serbuk simplisia ditumbuhi jamur dan mikroorganisme lain.

C. Penetapan Efek Antidiare

(60)

38

ditempuh penanda dan panjang usus seluruhnya pada hewan uji, sedangkan pada metode proteksi terhadap diare oleh oleum ricini waktu perlakuan dilakukan hingga 6 jam dan parameter yang diamati meliputi waktu terjadinya diare, frekuensi diare, konsistensi dan jumlah/bobot feses serta jangka waktu berlangsungnya diare.

Penetapan efek antidiare pada penelitian ini dilakukan dengan menghitung rasio A/B, yaitu panjang usus yang dilewati penanda (A), dari pilorus hingga ujung yang berwarna hitam, dengan panjang usus seluruhnya (B), dari pilorus hingga rektum pada hewan uji. Nilai rasio A/B pada setiap kelompok perlakuan dirata-rata dan kemudian dibandingkan antar kelompok perlakuan. Suatu zat atau senyawa dikatakan memiliki efek antidiare bila nilai rasio A/B lebih kecil dibandingkan dengan kontrol positif. Pada penelitian ini sediaan uji yang digunakan adalah infusa daun putri malu dan bila nilai rasio A/B daun putri malu lebih kecil dari nilai rasio A/B kelompok kontrol negatif, maka infusa daun putri malu memiliki efek sebagai antidiare.

D. Pemilihan Kontrol Positif

Kontrol positif berfungsi sebagai pengendali metode dan pembanding hasil penelitian bahan uji (untuk mengetahui bisa tidaknya bahan uji menggantikan kontrol positif). Kontrol positif yang digunakan sebaiknya adalah senyawa yang telah terbukti memiliki efek antidiare dan disesuaikan dengan metode uji yang digunakan, yang dimaksud sesuai dengan metode uji adalah dalam hal mekanisme kerjanya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(61)

Kontrol positif yang digunakan hendaknya memiliki mekanisme kerja yang sesuai dengan mekanisme kerja metode uji.

Pada penelitian ini digunakan metode transit intestinal yang mekanisme kerjanya sesuai dengan salah satu mekanisme patofisiologi terjadinya diare, yaitu perubahan motilitas usus. Oleh karena itu, kontrol positif yang digunakan sebaiknya yang menunjukkan efek terhadap motilitas usus. Kontrol positif yang digunakan pada penelitian ini adalah loperamid HCl karena loperamid HCl merupakan senyawa yang menunjukkan aksi antidiare pada saluran pencernaan untuk mencegah peristaltik (Anonim, 1994), hal ini sesuai dengan mekanisme kerja metode transit intestinal.

Pada penelitian ini nilai rasio A/B kelompok kontrol positif (loperamid HCl dengan dosis terapi) dibandingkan dengan nilai rasio A/B kelompok infusa daun putri malu. Bila nilai rasio A/B kelompok kontrol positif berbeda tidak bermakna dengan nilai rasio A/B kelompok infusa daun putri malu, maka dapat dikatakan bahwa infusa daun putri malu memiliki efek antidiare yang sama besarnya dengan efek antidiare loperamid HCl pada dosis terapi.

E. Orientasi Percobaan

(62)

40

Kelompok perlakuan yang dilakukan pada orientasi antara lain: kelompok kontrol negatif, kelompok infusa daun putri malu dengan berbagai peringkat dosis, kelompok CMC Na 1%, kelompok kontrol positif dengan dosis terapi dan setengah dosis terapi. Orientasi percobaan diawali dengan membagi hewan uji, yang sudah dipuasakan selama lebih kurang 18 jam dan tetap diberi minum, ke dalam tiap kelompok perlakuan, kemudian hewan uji mendapat perlakuan sesuai kelompok perlakuannya. Kelompok perlakuan dalam orientasi ini antara lain : kelompok kontrol negatif dengan pemberian larutan garam fisiologik (NaCl 0,9%), kelompok infusa daun putri malu dosis 1,25 mg/kg BB (I), 1,3 mg/kg BB (II), 2 mg/kg BB (III), 2,5 mg/kg BB (IV), 5 mg/kg BB (V), 7,5 mg/kg BB (VI), kelompok CMC Na 1%, kelompok kontrol positif dengan pemberian loperamid HCl dosis 7,28 × 10-4 g/kg BB (dosis terapi) dan 3,64 × 10-4 g/kg BB (setengah dosis terapi). Masing-masing hewan uji pada kelompok perlakuan memperoleh volume pemberian sebanyak 0,2 ml/20 g BB, kemudian dilanjutkan sesuai dengan cara kerja yang tercantum dalam metode penelitian.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(63)

Data panjang usus yang dilewati penanda, panjang usus seluruhnya dan hasil perbandingan keduanya pada orientasi dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel I. Hasil orientasi kelompok kontrol negatif, dosis I, II, III, IV, V, VI, CMC Na 1% dan kontrol positif

Kelompok Jumlah hewan uji (ekor)

Rata-rata Rasio A/B

X SE

I 3 0,49 ± 0,02

II 3 0,41 ± 0,02

III 3 0,40 ± 0,02

IV 3 0,38 ± 0,03

V 3 0,35 ± 0,01

VI 3 0,46 ± 0,04

VII 3 0,38 ± 0,01

VIII 3 0,50 ± 0,01

IX 3 0,21 ± 0,01

X 3 0,34 ± 0,01

Keterangan:

I : kelompok kontrol negatif dengan pemberian larutan garam fisiologik (NaCl 0,9%) II : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis I (1,25 mg/kg BB)

III : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis II (1,3 mg/kg BB) IV : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis III (2 mg/kg BB) V : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis IV (2,5 mg/kg BB) VI : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis V (5 mg/kg BB) VII : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis VI (7,5 mg/kg BB) VIII : kelompok CMC Na 1%

IX : kelompok kontrol positif dengan pemberian loperamid HCl dengan dosis 7,28 × 10-4 g/kg BB

X : kelompok kontrol positif dengan pemberian loperamid HCl dengan dosis 3,64 × 10-4 g/kg BB

A : panjang usus yang dilewati penanda B : panjang usus seluruhnya

(64)

42

Dari tabel di atas, diketahui bahwa nilai rata-rata rasio A/B kelompok kontrol negatif dengan pemberian larutan garam fisiologik (NaCl 0,9%) adalah 0,49, sedangkan nilai rata-rata rasio A/B kelompok kontrol positif dengan pemberian loperamid HCl dengan dosis 7,28 × 10-4 g/kg BB dan dosis 3,64 × 10-4 g/kg BB secara berurutan adalah 0,21 dan 0,24. Hal ini menunjukkan bahwa kontrol positif yang digunakan pada penelitian ini (loperamid HCl) memiliki efek sebagai antidiare karena nilai rata rasio A/B kelompok kontrol positif lebih kecil daripada rata-rata rasio A/B kelompok kontrol negatif.

Pada orientasi ini terdapat 2 kelompok kontrol positif loperamid HCl dengan dosis yang berbeda, yaitu dosis terapi (7,28 × 10-4 g/kg BB) dan setengah dosis terapi (3,64 × 10-4 g/kg BB). Tujuan dilakukan pembedaan dosis kontrol positif ini adalah untuk mengendalikan metode uji. Secara teori, semakin tinggi dosis yang diberikan maka efek yang ditimbulkan akan semakin besar. Dari data hasil orientasi dapat dilihat bahwa dengan peningkatan dosis pada kontrol positif (dari setengah dosis terapi ke dosis terapi) terdapat peningkatan nilai rata-rata rasio A/B, yang berarti efek yang ditimbulkan ikut meningkat seiring dengan peningkatan dosis. Hal ini menunjukkan bahwa metode uji yang dipakai dalam penelitian ini benar (terkendali).

Pada penelitian ini terdapat kelompok CMC Na 1%, kelompok ini berfungsi untuk pengontrol kontrol positif karena kontrol positif yang digunakan pada penelitian ini adalah loperamid HCl yang disuspensikan ke dalam CMC Na 1% atau dapat dikatakan bahwa CMC Na 1% merupakan agen pensuspensi loperamid HCl. Pengontrolan ini dilakukan untuk melihat CMC Na 1 % memiliki efek sebagai

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(65)

antidiare atau laksansia atau tidak keduanya. Bila CMC Na 1 % memiliki efek sebagai antidiare atau laksansia maka tentu akan mempengaruhi nilai rasio A/B yang dihasilkan kontrol positif. Dari data hasil orientasi diketahui bahwa nilai rata-rata rasio A/B antara kelompok CMC Na 1 % dan kelompok kontrol negatif tidak jauh berbeda dengan nilai rata-rata rasio A/B masing-masing 0,50 dan 0,49, sehingga dapat dikatakan CMC Na 1 % tidak memiliki efek sebagai antidiare maupun laksansia.

Dari data hasil orientasi diketahui bahwa nilai rata-rata rasio A/B pada semua kelompok infusa daun putri malu dosis 1,25 mg/kg BB (I), 1,3 mg/kg BB (II), 2 mg/kg BB (III), 2,5 mg/kg BB (IV), 5 mg/kg BB (V), 7,5 mg/kg BB (VI) lebih kecil daripada nilai rasio A/B kelompok kontrol negatif, sehingga dapat dikatakan infusa daun putri malu memiliki efek sebagai antidiare.

Dari data orientasi juga diketahui bahwa pada dosis I hingga IV terjadi penurunan nilai rata-rata rasio A/B, yang berarti peningkatan efek antiare, akan tetapi pada dosis V nilai rasio A/B rata-rata mengalami peningkatan, yang berarti penurunan efek antidiare dan pada dosis VI nilai rasio A/B rata-rata mengalami penurunan kembali. Pada penelitian ini diputuskan untuk melanjutkan penelitian dengan menggunakan infusa daun putri malu dosis II (1,3 mg/kg BB), dosis III (2 mg/kg BB) dan satu dosis tambahan yaitu 3 mg/kg BB.

(66)

44

gerak peristaltik maka nilai rasio A/B akan semakin besar karena panjang usus yang dilalui penanda semakin besar dan dapat dikatakan senyawa atau zat tersebut memiliki efek sebagai laksansia. Bila senyawa atau zat memperlambat gerak peristaltik maka nilai rasio A/B akan semakin kecil karena panjang usus yang dilalui penanda semakin kecil dan dapat dikatakan senyawa atau zat tersebut memiliki efek sebagai antidiare.

F. Efek Antidiare Infusa Daun Putri Malu

Efek antidiare infusa daun putri malu ditetapkan dengan cara kerja seperti orientasi percobaan, hanya saja pada tahap ini digunakan 60 ekor hewan uji yang terbagi sama banyak secara acak ke dalam 6 kelompok perlakuan, sehingga masing-masing kelompok menggunakan 10 ekor hewan uji. Kelompok perlakuan pada tahap ini antara lain kelompok kontrol negatif, kelompok infusa daun putri malu dosis 1,3 mg/kg BB (I), 2 mg/kg BB (II), 3 mg/kg BB (III), kelompok CMC Na 1%, kelompok kontrol positif.

Dosis I dan II infusa daun putri malu yang digunakan pada tahap ini merupakan hasil orientasi percobaan, sedangkan satu dosis lain yaitu 3 mg/kg BB merupakan hasil penentuan penulis sendiri. Dasar dari penentuan ini adalah besar dosis II (2 mg/kg BB) merupakan hasil kali 1,5 besar dosis I (1,3 mg/kg BB), untuk itu agar peringkat dosis yang digunakan mengikuti deret logaritmik (deret ukur) maka besar dosis II dikalikan 1,5 menghasilkan 3 mg/kg BB dan hasil ini digunakan untuk dosis III.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(67)

Sebelum digunakan, setiap hewan uji dipuasakan terlebih dahulu selama lebih kurang 18 jam tetapi minum tetap diberikan sepuasnya (ad libitum). Tujuan hewan uji dipuasakan adalah untuk mengurangi kemungkinan pengaruh makanan yang ada dalam usus pada proses kerja bahan atau zat uji. Selain itu, adanya makanan dalam usus dapat menyebabkan terhambatnya gerakan penanda dari lambung menuju rektum, sehingga akan mempengaruhi hasil yang diperoleh.

Hewan uji yang sudah dibagikan secara acak sebanyak 10 ekor tiap kelompok perlakuan, mendapat perlakuan sesuai kelompoknya. Seperti yang telah di sebutkan di atas kelompok perlakuan pada tahap ini antara lain: kelompok kontrol negatif dengan pemberian larutan garam fisiologik (NaCl 0,9%), kelompok infusa daun putri malu dosis 1,3 mg/kg BB (I), 2 mg/kg BB (II), 3 mg/kg BB (III), kelompok CMC Na 1%, kelompok kontrol positif dengan pemberian loperamid HCl dosis 7,28 × 10-4 g/kg BB (dosis terapi). Masing-masing hewan uji pada tiap kelompok perlakuan meperoleh volume pemberian sebesar 0,2 ml/20 g BB.

(68)

46

mg/kg BB) (Green, 1987). Pembedahan dilakukan untuk mengambil lambung hingga rektum hewan uji sehingga dapat ditentukan nilai rasio A/B dengan cara mengukur panjang usus yang dilalui penanda (A) dan panjang usus seluruhnya (B) dan kemudian dibandingkan.

Hasil rasio A/B rata-rata tiap kelompok perlakuan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel II. Hasil rasio A/B kelompok kontrol negatif, dosis I, II, III, CMC Na 1% dan kontrol positif

Kelompok Jumlah hewan uji (ekor)

Rata-rata Rasio A/B

X SE

I 10 0,53 ± 0,01

II 10 0,45 ± 0,01

III 10 0,28 ± 0,01

IV 10 0,39 ± 0,01

V 10 0,49 ± 0,01

VI 10 0,31 ± 0,01

Keterangan:

I : kelompok kontrol negatif dengan pemberian larutan garam fisiologik (NaCl 0,9%) II : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis I (1,3 mg/kg BB)

III : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis II (2 mg/kg BB) IV : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis III (3 mg/kg BB) V : kelompok perlakuan CMC Na 1%

VI : kelompok kontrol positif dengan pemberian loperamid HCl dengan dosis 7,28 × 10-4 g/kg BB

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata rasio A/B kelompok kontrol negatif dengan pemberian larutan garam fisiologik (NaCl 0,9%) adalah 0,53, sedangkan nilai rata-rata rasio A/B kelompok kontrol positif dengan pemberian loperamid HCl dengan dosis 7,28 × 10-4 g/kg BB adalah 0,31. Hal ini menunjukkan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(69)

hasil yang serupa dengan hasil orientasi, yang artinya loperamid HCl benar-benar memiliki efek sebagai antidiare.

Dari tabel II diketahui bahwa nilai rata-rata rasio A/B kelompok CMC Na 1% adalah 0,49 yang relatif jauh lebih kecil dari kelompok kontrol negatif (nilai rata-rata rasio A/B = 0,53). Hal ini menunjukkan bahwa CMC Na 1% memberikan efek sebagai antidiare, namun kebenaran pernyataan ini dapat dibuktikan dengan uji post hoc yang akan dilakukan.

(70)

48

Dari data besarnya nilai rata-rata rasio A/B masing-masing kelompok dapat digambarkan dalam bentuk diagram batang sebagai berikut:

Keterangan:

Kontrol (-) : kelompok kontrol negatif dengan pemberian larutan garam fisiologik (NaCl 0,9%)

Dosis I : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis I (1,3 mg/kg BB) Dosis II : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis II (2 mg/kg BB) Dosis III : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis III (3 mg/kg BB) CMC Na : kelompok perlakuan CMC Na 1%

Kontrol (+) : kelompok kontrol positif dengan pemberian loperamid HCl dengan dosis 7,28 × 10-4 g/kg BB

Gambar 11. Diagram batang rata-rata rasio A/B tiap kelompok perlakuan

Untuk memastikan kesimpulan sementara dilakukan uji statistik menggunakan uji ANOVA satu arah dengan taraf kepercayaan 95%. Pada penelitian ini dipilih uji ANOVA satu arah karena variabel bebas pada penelitian ini hanya satu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(71)

dan bersifat discrete, yaitu dosis infusa daun putri malu. Alasan lainnya adalah variabel tergantungnya bersifat continuous, yaitu besarnya rasio usus yang dilewati penanda dengan panjang usus seluruhnya (rasio A/B). Uji ANOVA satu arah termasuk dalam statistik parametrik, maka data yang dapat diolah menggunakan uji ini harus terdistribusi normal dan homogen. Uji normalitas data pada penelitian ini dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov dan hasilnya menunjukkan bahwa data berdistribusi normal (p>0,05). Untuk uji homogenitas data, pada penelitian ini digunakan Levene statistic dan hasilnya menunjukkan bahwa data homogen (p>0,05). Karena data penelitian terdistribusi normal dan homogen maka dapat dilanjutkan dengan uji ANOVA satu arah. Hasil dari uji ANOVA satu arah dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel III. Hasil uji ANOVA satu arah antar kelompok perlakuan

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups Within Groups Total

.468 .084 .551

5 54 59

.094 .002

60.403 .000

(72)

50

Untuk mengetahui kelompok mana saja yang berbeda maka dilakukan uji post hoc (Tukey). Secara ringkas hasil perhitungan uji post hoc (Tukey) dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel IV. Rangkuman hasil uji Tukey antar kelompok perlakuan

Keterangan:

I : kelompok kontrol negatif dengan pemberian larutan garam fisiologik (NaCl 0,9%) II : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis I (1,3 mg/kg BB)

III : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis II (2 mg/kg BB) IV : kelompok perlakuan infusa daun putri malu dosis III (3 mg/kg BB) V : kelompok perlakuan CMC Na 1%

VI : kelompok kontrol positif dengan pemberian loperamid HCl dengan dosis 7,28 × 10-4 g/kg BB

bb : menunjukkan perbedaan yang bermakna (p<0,05) btb : menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05)

Dari tabel di

Gambar

Tabel I. Hasil orientasi kelompok kontrol negatif, dosis I, II, III, IV, V, VI, CMC Na
Gambar 1. Bagan rekomendasi pengobatan diare akut (Longe & DiPiro, 1997)
Gambar 2. Bagan rekomendasi pengobatan diare kronis (Longe & DiPiro, 1997)
Gambar 3. Struktur kimia asam galat
+7

Referensi

Dokumen terkait

Ekstrak akar dan batang putri malu ( Mimosa pudica ) dosis 600 mg/kgBB memiliki efek renal repair terhadap tikus putih jantan galur Wistar yang diinduksi aloksan dosis

Hasil penelitian menunjukkan bahwa infusa biji Parinarium glaberimum Hassk memiliki efek antidiare pada mencit betina galur Swiss dengan metode transit intestinal pada

 Infusa akar Valerian dosis 0,65 g/kg BB mencit memiliki waktu lama tidur yang lebih panjang daripada Diazepam dosis 1,3 mg/kg BB mencit ( p &lt;0,05).  Infusa akar Valerian dosis

Dapat disimpulkan bahwa ekstrak putri malu ( Mimosa pudica Linn.) secara signifikan mampu mencegah kenaikan kadar BUN dan kreatinin pada tikus yang diinduksi parasetamol

Dengan efektivitas ekstrak putri malu setengah dibandingkan efektivitas pirantel pamoat, ekstrak putri malu memiliki peluang bagus untuk dikembangkan menjadi preparat

Kelompok 4 : Diberi pakan standar dan jus hati ayam selama 7 hari sebanyak 3 kali sehari kemudian pada hari ke 8 hingga hari ke 10 diberi ekstrak etanol herba putri malu dosis

Dengan efektivitas ekstrak putri malu setengah dibandingkan efektivitas pirantel pamoat, ekstrak putri malu memiliki peluang bagus untuk dikembangkan menjadi preparat

Dengan efektivitas ekstrak putri malu setengah dibandingkan efektivitas pirantel pamoat, ekstrak putri malu memiliki peluang bagus untuk dikembangkan menjadi preparat