BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Penetapan Daya Antidiare
2. Orientasi Percobaan
Orientasi yang dilakukan adalah orientasi dosis pemberian sari buah salak pondoh. Orientasi dosis pemberian sari buah salak pondoh dilakukan untuk mengetahui dosis yang dapat menunjukka aktivitas sebagai antidiare pada hewan uji. Orientasi dilakukan terhadap 18 ekor mencit putih betina yang memenuhi persyaratan percobaan. Tiga ekor mencit mewakili satu kelompok perlakuan, yaitu kelompok kontrol negatif, kontrol positif, kelopok CMC Na, kelompok dosis I, dosis II dan dosis III.
Pada orientasi ini dilakukan penelitian sesuai dengan cara kerja yang sudah ditentukan yaitu dengan metode transit intestinal untuk mengetahui daya antidiare dari larutan kontrol negatif, kontrol positif dan sari buah salak pondoh dalam berbagai peringkat dosis. Hewan uji dalam orientasi ini dibagi dalam enam kelompok sebagai berikut : kelompok kontrol negatif diberi perlakuan berupa pemberian larutan NaCl fisiologik 0,9% sebanyak 0,2 ml/20 gram BB; kelompok kontrol positif (pembanding) diberi perlakuan berupa pemberian larutan Loperamid HCl dalam CMC Na sebanyak 0,2 ml/20 gram BB dengan dosis 7,28 x 10-4 g/kg BB; kelompok pembanding kontrol positif diberi CMC Na 1% sebanyak 0,2 ml/20 gram BB; kelompok perlakuan I diberi sari buah salak pondoh konsentrasi 1,1960 g/ml dengan dosis 12,5 ml/kg BB; kelompok perlakuan II diberi sari buah salak pondoh konsentrasi 1,2816 g/ml dengan dosis 25 ml/kg BB;
kelompok perlakuan III diberi sari buah salak pondoh konsentrasi 1,2646 g/ml dengan dosis 50 ml/kg BB.
Data panjang usus yang dilewati marker karbo adsorben, panjang usus seluruhnya dan rasio hasil orientasi dapat dilihat pada tabel 1 berikui ini:
Tabel III. Hasil orientasi kontrol negatif, kontrol positif , CMC Na dan sari buah salak pondoh dengan metode transit intestinal
Perlakuan
Χ
ratio±
SEΧ
daya±
SE I 0,5300 ± 1,63 x 10-2 0,58 ± 1,15 x 10-2 II 0,3100 ± 8,16 x 10-3 1,00 ± 5,77 10-3 III 0,4933 ± 9,43 x 10-3 0,63 ± 6,67 10-3 IV 0,4533 ± 1,69 x 10-2 0,68 ± 1,20 10-2 V 0,3633 ± 1,25 x 10-2 0,85 ± 8,82 10-3 VI 0,2367 ± 4,71 x 10 -3 1,31 ± 3,33 10-3 Keterangan :I : kelompok kontrol negatif dengan pemberian larutan NaCl fisiologik 0,9%
II : kelompok kontrol positif dengan pemberian larutan Loperamid HCl dalam CMC Na dosis 7,28 x 10-4 g/kg BB
III : kelompok perlakuan CMC Na 1%
IV : kelompok perlakuan I dengan pemberian sari buah salak pondoh konsentrasi 1,1960 g/ml dengan dosis 12,5 ml/kg BB
V : kelompok perlakuan II dengan pemberian sari buah salak pondoh konsentrasi 1,2816 g/ml dengan dosis 25 ml/kg BBg/kg BB
VI : kelompok perlakuan III dengan sari buah salak pondoh konsentrasi 1,2646 g/ml dengan dosis 50 ml/kg BB.
Χ
ratio ± SE : rata-rata ratio tiap kelompokΧ
daya ± SE : rata-rata daya tiap kelompokMelihat data hasil orientasi tersebut, dapat diketahui rata-rata rasio dan rata-rata daya antidiare tiap kelompok perlakuan. Rata-rata ratio antidiare NaCl fisiologik 0,9% adalah 0,53; kontrol positif dengan pemberian larutan loperamid
HCl dalam CMC Na dosis 7,28 x 10-4 g/kg BB adalah 0,31; pembanding CMC Na adalah 0,49. Terlihat bahwa rasio loperamid HCl lebih kecil bila dibandingkan dengan NaCl fisiologik 0,9% maupun bila dibandingkan dengan CMC Na, data ini berarti bahwa loperamid HCl menunjukkan aktifitas sebagai antidiare. Selanjutnya rata-rata ratio kelompok perlakuan dosis I, II dan III berturut-turut adalah 0,45; 0,36 dan 0,24. Terlihat bahwa rasio sari buah salak pondoh dosis I, II dan III lebih kecil bila dibandingkan dengan NaCl fisiologik 0,9%, data ini juga menunjukkan bahwa sari buah salak pondoh dosis I, II dan III mempunyai aktifitas sebagai antidiare. Dari data tersebut juga diketahui rasio dosis III lebih kecil bila dibandingkan dengan Loperamid HCl, berarti daya antidiare salak pondoh dosis III lebih besar dari loperamid HCl.
Pada pelaksanaan penelitian selanjutnya digunakan cara kerja yang sama seperti yang telah dilakukan pada orientasi percobaan. Dari hasil orientasi tersebut peringkat dosis telah menunjukkan aktifitas antidiare sehingga digunakan peringkat dosis seperti pada orientasi tersebut yaitu 12,5 ml/kg BB; 25 ml/kg BBg/kg BB dan 50 ml/kg BB.
C. Pengujian Daya Antidiare
Tabel IV. Daya antidiare kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, kelompok CMC Na 1% dan kelompok perlakuan dengan metode transit intestinal.
Kelompok Jumlah (ekor)
Χ
ratio±
SEΧ
daya±
SE I 10 0,5370 ± 0,0122 0,58 ± 0,0122 II 10 0,3130 ± 0,0121 1,00 ± 0,0121 III 10 0,4880 ± 0,0119 0,64 ± 0,0135 IV 10 0,4570 ± 0,0374 0,68 ± 0,0409 V 10 0,3740 ± 0,0196 0,84 ± 0,0196 VI 10 0,2310 ± 0,0198 1,35 ± 0,0198 Keterangan :I : kelompok kontrol negatif dengan pemberian larutan NaCl fisiologik 0,9%
II : kelompok kontrol positif dengan pemberian larutan Loperamid HCl dalam CMC Na dosis 7,28 x 10-4 g/kg BB
III : kelompok perlakuan CMC Na 1%
IV : kelompok perlakuan I dengan pemberian sari buah salak pondoh konsentrasi 1,1960 g/ml dengan dosis 12,5 ml/kg BB
V : kelompok perlakuan II dengan pemberian sari buah salak pondoh konsentrasi 1,2816 g/ml dengan dosis 25 ml/kg BBg/kg BB
VI : kelompok perlakuan III dengan sari buah salak pondoh konsentrasi 1,2646 g/ml dengan dosis 50 ml/kg BB.
Χ
ratio ± SE : rata-rata ratio antidiare tiap kelompok.Adapun data panjang usus yang ditempuh marker karbo adsorben A) terhadap panjang usus seluruhnya (B), serta angka rasio A dan B serta rata-ratanya untuk semua kelompok tersaji pada lampiran.
Setiap kelompok menggunakan 10 ekor mencit. Hasil penelitian pada kelompok kontrol negatif memperlihatikan bahwa besarnya daya antidiare larutan NaCl fisiologik 0,9% adalah 58%. Kelompok kontrol positif dengan pemberian loperamid HCl dalam CMC Na dosis 7,28 x 10-4 g/kg BB besarnya daya
antidiare adalah 69%. Kelompok CMC Na 1% besarnya daya antidiare adalah 100%.
Kelompok perlakuan dibagi menjadi tiga kelompok dengan tiga peringkat dosis. Pada ketiga kelompok digunakan sediaan yang sama yaitu sari buah salak pondoh namun setiap kelompok mendapat perlakuan dosis yang berbeda-beda. Tiga peringkat dosis yang digunakan adalah merupakan peringkat dosis yang telah diuji pada orientasi percobaan dan memiliki daya antidiare yang diharapkan. Kelompok perlakuan I dengan pemberian sari buah salak pondoh konsentrasi 1,1960 g/ml dengan dosis 12,5 ml/kg BB memiliki daya antidiare sebesar 68%. Kelompok perlakuan II dengan pemberian sari buah salak pondoh konsentrasi 1,2816 g/ml dengan dosis 25 ml/kg BBg/kg BB memiliki daya antidiare sebesar 84%. Kelompok perlakuan III dengan sari buah salak pondoh konsentrasi 1,2646 g/ml dengan dosis 50 ml/kg BB memiliki daya antidiare sebesar 135%.
Sampel uji mempunyai daya antidiare jika nilai rasio panjang usus yang dilewati marker karbo adsorben (A) terhadap panjang usus (B) mempunyai nilai yang lebih kecil dari kelompok kontrol negatif. Dari data yang diperoleh diketahui bahwa kelompok perlakuan menggunakan sari buah salak pondoh memiliki daya antidiare karena memiliki nilai rasio yang lebih kecil dibandingkan dengan rasio kelompok kontrol negatif dengan pemberian larutan fisiologik NaCl 0,9%.
Rasio kontrol negatif yaitu NaCl fisiologik 0,9% menunjukkan nilai rasio yang paling besar dari semua kelompok yaitu sebesar 0,5370. Hal ini disebabkan NaCl fisiologik 0,9% tidak dapat membentuk lapisan selaput lendir usus, sehingga selaput lendir usus tidak menciut, sekresi elektrolit dan air tetap lancar. NaCl
fisiologik 0,9% juga tidak mempunyai kemampuan sebagai spasmolitik sehingga tidak mampu menciutkan atau mengkerutkan usus sehingga gerak peristaltik usus tidak berkurang. Hal tersebut menyebabkan karbo adsorben akan tetap bergerak lancar di dalam usus sehingga jarak yang ditempuh marker karbo adsorben semakin panjang, dan menghasilkan rasio yang besar.
Dari hasil penelitian diperoleh data yang menunjukkan perbedaan jarak yang ditempuh oleh karbo adsorben karena kemampuan karbo adsorben bergerak berbeda-beda, juga disebabkan oleh perbedaan kemampuan daya antidiare senyawa yang diberikan.
Hasil penelitian pada kelompok kontrol negatif memperlihatkan bahwa rasio rata-rata larutan NaCl fisiologik 0,9% adalah 0,5370. Kelompok kontrol positif dengan pemberian loperamid HCl dalam CMC Na dosis 7,28 x 10-4 g/kg BB besarnya rasio rata-rata adalah 0,3130. Hal tersebut menunjukkan bahwa kontrol positif yang digunakan yaitu loperamid HCl memiliki kemampuan sebagai antidiare karena rata-rata nilai rasio yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan dengan nilai rasio dari kelompok kontrol negatif. Oleh karena loperamid HCl memiliki kemampuan menghambat sekresi cairan elektrolit dan gerakan peristaltik pada saluran pencernaan sehingga menyebabkan gerak karbo adsorben di dalam usus terhambat sehingga jarak yang ditempuh marker karbo adsorben semakin pendek, dan menghasilkan rasio yang kecil.
Pada kelompok perlakuan dengan pemberian sari buah salak pondoh peringkat dosis I, dosis II dan dosis III menunjukkan nilai rata-rata rasio berturut-turut sebesar 0,4570; 0,3740 dan 0,2310. Nilai tersebut menunjukkan bahwa sari
buah salak pondoh memiliki kemampuan sebagai antidiare karena rata-rata nilai rasio yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan dengan nilai rasio dari kelompok kontrol negatif. Hal ini terjadi karena kandungan tanin yang ada dalam sari buah salak pondoh dapat menyebabkan selaput lendir usus membentuk lapisan, sehingga dapat menciutkan selaput lendir usus dan menyebabkan sekresi elektrolit dan air terhambat. Selain itu tanin juga mempunyai kemampuan sebagai spasmolitik yang mampu menciutkan atau mengkerutkan usus sehingga gerak peristaltik usus berkurang. Dengan terhambatnya sekresi elektrolit dan air yang berlebih dalam saluran pencernaaan tersebut serta gerak peristaltik usus yang berkurang maka menyebabkan karbo adsorben akan sulit bergerak di dalam usus sehingga jarak yang ditempuh marker karbo adsorben semakin pendek.
Untuk mempertegas hasil yang didapatkan maka dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji Anova satu arah. Dipilih uji Anova satu arah karena variabel bebas pada penelitian ini hanya ada satu yaitu dosis sari buah salak pondoh. Namun sebelum melakukan uji Anova satu arah harus dilakukan uji distribusi sampel dengan menggunakan Kolmogorov Smirinov dengan taraf kepercayaan 95% dan uji variansi karena syarat dibunakannya uji Anova satu arah adalah hasil harus terdistribusi normal dan variansinya sama.
Hasil distribusi sampel dengan Kolmogorov Smirinov disajikan pada tabel berikut:
Tabel V. Hasil uji normalitas antar kelompok perlakuan dengan menggunakan Kolmogorov Smirinov. Tests of Normality perlakuan Kolmogorov-Smirnov(a) Statistic df Sig. ratio negatif .232 10 .136 positif .160 10 .200* CMC Na .224 10 .168 dosis1 .177 10 .200* dosis2 .171 10 .200*
* This is a lower bound of the true significance. a Lilliefors Significance Correction
Pengujian distribusi menggunakan Kolmogorov Smirnov suatu sampel dikatakan terdistribusi normal jika nilai significancy untuk masing-masing kelompok > 0,05 (p > 0,05). Dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa semua kelompok perlakuan nilai significancy-nya lebih besar dari 0,05 (p > 0,05) sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa sampel terdistribusi normal.
Selanjutnya dilakukan uji variansi untuk melihat apakah ada perbedaan variansi tiap kelompok. Hasil uji variansi dengan SPSS tersaji pada tabel berikut:
Tabel VI. Hasil uji varians antar kelompok perlakuan.
Test of Homogeneity of Variances
rasio Levene
Statistic df1 df2 Sig.
Dari hasil uji variansi data menunjukkan bahwa nilai significancy 0,051 (p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan varians antara kelompok data yang dibandingkan atau dengan kata lain variansi data adalah sama.
Dari hasil uji distribusi sampel dengan menggunakan Kolmogorov Smirinov dengan taraf kepercayaan 95% dan uji variansi telah yaitu hasilnya terdistribusi normal dan variansinya sama, maka dapat dilanjutkan dengan uji Anova satu arah.
Hasil uji Anova satu arah menunjukkan angka signifikan kurang dari 0,05 (p < 0,05) diantara kelompok uji pada penelitian ini. Angka signifikan kurang dari 0,05 menunjukkan terdapat perbedaan bermakna diantara kelompok uji (kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, CMC Na dan kelompok perlakuan) berdasarkan perhitungan rasio A dan B. Data selengkapnya dari perhitungan Anova dapat dilihat pada lampiran.
Tabel VII. Hasil anova satu arah daya antidiare sari buah salak pondoh antar kelompok perlakuan.
ANOVA
Sumber variasi Derajat bebas Jumlah kuadrat Kuadrat rata-rata F Signifikan Perlakuan (antar kelompok) .679 5 .136 31.348 .000 Kesalahan percobaan (dalam kelompok) .234 54 .004 Total .913 59
Selanjutnya dari perhitungan Anova tersebut dilanjutkan dengan uji post hoc. Uji ini dilakukan untuk mempertegas hasil perhitungan Anova yang telah dilakukan. Yang terpenting dilihat signifikan perbandingan rata-rata rasio pada keenam kelompok uji. Apabila dari hasil perhitungan diperoleh nilai signifikan kurang dari 0,05 (p<0,05) maka terdapat perbedaan yang bermakna diantara kelompok uji. Namun bila hasil dari perhitungan diperoleh nilai signifikan lebih dari 0,05 (p>0,05) maka terdapat perbedaan yang tidak bermakna. Data lengkap mengenai hasil perhitungan uji LSD dapat dilihat pada lampiran.
Tabel VIII. Rangkuman hasil LSD daya antidiare sari buah salak pondoh
Kelompok Signifikan bila dibandingkan dengan kelompok
I II III IV V VI I .000bb .561btb .088btb .000bb .000bb II .000bb .000bb .000bb .317btb .054btb III .561btb .000bb .897btb .004bb .000bb IV .088btb .000bb .897btb .070btb .000bb V .000bb .317btb .004bb .070btb .000bb VI .000bb .054btb .000bb .000bb .000bb Keterangan :
I : kelompok kontrol negatif dengan pemberian larutan NaCl fisiologik 0,9%
II : kelompok kontrol positif dengan pemberian larutan Loperamid HCl dalam CMC Na dosis 7,28 x 10-4 g/kg BB
III : kelompok perlakuan CMC Na 1%
IV : kelompok perlakuan I dengan pemberian sari buah salak pondoh konsentrasi 1,1960 g/ml dengan dosis 12,5 ml/kg BB
V : kelompok perlakuan II dengan pemberian sari buah salak pondoh konsentrasi 1,2816 g/ml dengan dosis 25 ml/kg BBg/kg BB
VI : kelompok perlakuan III dengan sari buah salak pondoh konsentrasi 1,2646 g/ml dengan dosis 50 ml/kg BB.
bb : menunjukkan perbedaan yang bermakna bila angka signifikan kurang dari 0,05 (p<0,05)
btb : menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna bila angka signifikan lebih dari 0,05 (p>0,05)
Dari data yang tersaji pada tabel menunjukkan bahwa hasil penelitian daya antidiare dengan pemberian larutan NaCl fisiologik 0,9% (kontrol negatif) menunjukkan angka signifikan kurang dari 0,05 (p<0,05) untuk kontrol positif, dosis II dan dosis III. Artinya perbandingan daya antidiare yang ditunjukkan oleh NaCl fisiologik 0,9% terhadap daya antidiare loperamid dan sari buah salak pondoh dosis II dan dosis III adalah berbeda bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian larutan NaCl fisiologik 0,9% tidak menunjukkan daya antidiare. Sedangkan perlakuan kontrol positif dengan pemberian loperamid dan perlakuan dengan pemberian sari buah salak pondoh dosis II dan dosis III benar-benar memiliki daya sebagai antidiare. Kelompok perlakuan dosis I menunjukkan angka signifikan lebih besar dari 0,05 yaitu 0,088 artinya terdapat perbedaan tidak bermakna antara kontrol negatif dan perlakuan dosis I sehingga dapat disimpulkan bahwa sari buah salak pondoh dosis I tidak memiliki daya antidiare.
Dari data yang tersaji pada tabel menunjukkan bahwa hasil penelitian daya antidiare dengan pemberian larutan loperamid HCl dosis 7,28 x 10-4 g/kg BB menunjukkan angka signifikan kurang dari 0,05 (p<0,05) yang berarti adanya perbedaan bermakna untuk kontrol negatif, CMC Na 1% dan perlakuan dosis I. Perbedaan yang bermakna ini diartikan bahwa kedua hasil dinyatakan berbeda karena menunjukkan besarnya daya antidiare yang berbeda. Sedangkan angka signifikan loperamid HCl menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna terhadap perlakuan dosis II dan perlakuan dosis III. Perbedaan tersebut tidak bermakna sehingga dapat dikatakan bahwa daya antidiare perlakuan dosis II dan dosis III dengan kelompok kontrol positif adalah hampir sama.
Dari data besarnya daya antidiare masing-masing kelompok atau hasil perhitungan rasio panjang usus yang ditempuh marker karbo adsorben (A) terhadap panjang usus seluruhnya (B) dapat digambarkan dalam bentuk grafik sebagai berikut :
Gambar 2. Grafik rata-rata rasio panjang usus yang ditempuh marker karbo adsorben terhadap panjang usus seluruhnya.
Dari hasil penelitian ini telah terbukti bahwa sari buah salak pondoh dosis II dan dosis III memiliki daya antidiare. Daya antidiare yang ditunjukkan oleh sari buah salak pondoh dosis II dan dosis III disebabkan oleh adanya tanin yang terkandung dalam sari buah salak pondoh. Kandungan tanin yang ada dalam sari buah salak pondoh dapat menyebabkan selaput lendir usus membentuk lapisan, sehingga dapat menciutkan selaput lendir usus dan menyebabkan sekresi elektrolit
dan air terhambat. Selain itu tanin juga mempunyai kemampuan sebagai spasmolitik yang mampu menciutkan atau mengkerutkan usus sehingga gerak peristaltik usus berkurang. Penelitian ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut apakan hanya senyawa tanin yang memiliki daya antidiare dalam sari buah salak pondoh.