• Tidak ada hasil yang ditemukan

Originalitas Penelitian

Dalam dokumen PENGARUH PROFITABILITAS, LEVERAGE (Halaman 35-195)

BAB I. PENDAHULUAN

1.7 Originalitas Penelitian

Penelitian ini merupakan hasil penelitian yang berdasarkan referensi dan replika dari penelitian sebelumnya yaitu (Hapsoro & Husain, 2019). Penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian sebelumnya yaitu:

1. Subjek perusahaan: penelitian sebelumnya meneliti perusahaan sektor non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-2016 sedangkan penelitian ini meneliti perusahaan BUMN yang terdaftar di LQ45 tahun 2010-2019.

2. Variabel independen: penelitian sebelumnya menggunakan variabel independen yaitu kinerja keuangan berupa profitabilitas, likuiditas, rasio aktivitas, leverage dan rasio pasar. Sedangkan penelitian ini menggunakan empat variabel independen yaitu profitabilitas, leverage, free cash flow dan good corporate governance.

3. Variabel dependen: penelitian sebelumnya menggunakan variabel dependen yaitu reaksi investor. Sedangkan penelitian ini menggunakan variabel dependen yaitu nilai perusahaan.

4. Variabel moderating: penelitian sebelumnya menggunakan variabel moderating yaitu sustainability report. Sedangkan penelitian ini menggunakan variabel moderating yaitu kebijakan dividen.

22 2.1. Kerangka Teori

Kerangka teori adalah identifikasi teori-teori yang relevan secara sistematis yang dapat dijadikan sebagai landasan pemikiran dalam mengkaji masalah penelitian. Untuk mengkaji masalah penelitian, maka teori yang digunakan dalam penelitian ini sebagai landasan pemikiran adalah teori agensi dan teori sinyal dividen.

2.1.1. Teori Agensi (Agency Theory)

Teori agensi merupakan teori yang mendasari hubungan antara pihak manajemen dan pihak investor dimana setiap pihak memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Pihak manajemen memiliki kepentingan untuk meningkatkan kompensasi sedangkan pihak investor memiliki kepentingan untuk meningkatkan return saham dan dividend yield. Dengan adanya perbedaan kepentingan antar pihak, maka terdapat konflik kepentingan antara pihak manajemen dan pihak investor. Dengan adanya konflik kepentingan ini memicu adanya asimetri informasi pada pihak investor yang berdampak pada pengambilan keputusan investor karena adanya perilaku oportunistik pihak manajemen.

Menurut (Jensen & Meckling, 1976) bahwa hubungan keagenan merupakan kontrak antara manajer dan investor dimana teori keagenan menjelaskan bagaimana pihak-pihak yang terlibat dalam perusahaan berperilaku.

Manajer dan investor memiliki kepentingan yang berbeda yang mengakibatkan terjadinya konflik keagenan dimana keinginan investor untuk memaksimalkan

return atau dividen sedangkan keinginan pihak manajemen memiliki keinginan untuk mendapatkan kompensasi terbaik sehingga dapat menyebabkan manajer salah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan investor yang berdampak pada munculnya permasalahan keagenan.

Tak hanya pada penelitian Jensen dan Meckling, pada penelitian (Aljana & Purwanto, 2017) juga menyatakan bahwa menurut Anthony dan Govindarajan (2005) konsep teori agensi adalah hubungan atau kontrak antara principal (investor) dan agen (manajemen) dimana prinsipal memperkerjakan agen untuk melakukan tugas untuk kepentingan prinsipal termasuk pendelegasian otorisasi pengambilan keputusan dari prinsipal ke agen. Jika agen tidak berbuat sesuai kepentingan prinsipal maka akan terjadi konflik keagenan yang dapat memicu timbulnya biaya keagenan dimana salah satu kendala yang muncul dari konflik keagenan adalah asimetri informasi yang berarti suatu keadaan dimana manajer memiliki akses informasi atas prospek perusahaan yang tidak dimiliki oleh pihak luar perusahaan khususnya prinsipal.

Menurut (Panda & Leepsa, 2017) bahwa dengan konteks masalah keagenan bahwa investor melaksanakan berbagai aktivitas monitoring untuk membatasi tindakan pihak manajemen untuk mengontrol biaya agensi.

Berdasarkan kontrak investor dengan manajemen, struktur insentif, pasar tenaga kerja dan asimetri informasi memainkan peran penting dan elemen inilah yang membantu dalam membangun teori struktur kepemilikan. Tak hanya itu, menurut Fama (1980) dalam penelitian (Panda & Leepsa, 2017) menyatakan bahwa perusahaan dianjurkan bahwa perusahaan dapat didisiplinkan oleh pengaduan dari pemeran lainnya untuk memantau kinerja seluruh tim dan individu.

2.1.2. Teori Sinyal Dividen (Dividend Signalling Theory)

Kebijakan dividen berpengaruh dalam meningkatkan nilai perusahaan sehingga kebijakan dividen menjadi salah satu keputusan penting yang harus dipertimbangkan perusahaan. Adapun teori yang mendasari kebijakan dividen adalah teori sinyal dividen. Dalam penelitian (Oktaryani et al., 2016) mengemukakan bahwa menurut Bhattacharya (1979) teori sinyal dividen merupakan salah satu teori yang mendasari dugaan bahwa informasi tentang perubahan dividen mempunyai kandungan informasi yang dapat mengakibatkan adanya reaksi harga saham. Teori ini juga menjelaskan bahwa informasi tentang perubahan yang dibayarkan digunakan oleh investor sebagai sinyal tentang prospek perusahaan di masa yang akan datang dimana investor akan menginterpretasikan peningkatan pembayaran dividen oleh perusahaan sebagai sinyal bahwa pihak manajemen memiliki prediksi arus kas tinggi di masa depan.

Sedangkan penurunan pembayaran dividen juga diinterpretasikan sebagai antisipasi manajer terhadap terbatasnya arus kas dimasa depan.

Dalam penelitian (Bhattacharyya, 2007), teori sinyal dividen dikembangkan dengan penjelasan lainnya berdasarkan asimetri informasi dimana manajer memiliki pengetahuan pribadi mengenai dukungan distribusi proyeksi arus kas dan manajer akan memberikan sinyal mengenai pengetahuan ini kepada pasar melalui pilihan dividen sehingga semakin tinggi nilai dukungan yang disinyalkan maka semakin tinggi juga dividen yang diberikan. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa semakin baik berita mengenai perusahaan khususnya proyeksi arus kas di masa depan maka semakin tinggi dividen yang diberikan perusahaan.

Sedangkan pada penelitian (Budianto & Payamta, 2014), Osmed dan Muhammed (2010) mengemukakan bahwa pembayaran dividen berkaitan dengan teori sinyal dimana sebagai agen, manajemen akan memberikan sinyal melalui laporan keuangan tentang kondisi perusahaan. Salah satu bentuk sinyal tersebut adalah pembayaran dividen yang apabila nilainya meningkat akan dianggap sebagai sinyal yang baik dan dapat menunjukkan prospek profitabilitas perusahaan di masa yang akan datang sehingga berdampak pada peningkatan harga saham apabila perusahaan membagikan dividen yang semakin meningkat.

Maka dari itu, teori ini juga dianggap memiliki hubungan dengan nilai perusahaan dimana menurut (Budianto & Payamta, 2014) bahwa nilai perusahaan dapat dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan dalam membayar dividen hal ini dikarenakan besarnya dividen akan mempengaruhi harga saham dimana semakin tinggi pembayaran dividen maka semakin tinggi pula harga saham sehingga nilai perusahaan juga akan ikut mengalami peningkatan.

2.1.3. Nilai Perusahaan

Tujuan perusahaan adalah untuk memaksimalkan nilai perusahaan sehingga perusahaan dapat meningkatkan pertumbuhan perusahaan untuk prospek masa depan serta dapat membuat kinerja perusahaan lebih efektif dan efisien dengan cara meningkatkan profitabilitas perusahaan. Menurut Fakhruddin & Hadianto dalam (Alamsyah, 2017), Nilai perusahaan adalah perbandingan harga pasar saham dengan nilai buku saham.

Sedangkan Menurut (Hermuningsih & Wardani, 2009), Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham. Harga saham yang tinggi membuat nilai perusahaan juga tinggi.

Pada penelitian (Ramadhani, Akhmadi, & Kuswantoro, 2018) mengemukakan bahwa nilai perusahaan akan tercermin dari harga saham dimana harga pasar dari saham perusahaan yang terbentuk antara pembeli dan penjual pada saat terjadinya transaksi karena harga pasar.

Menurut Margaretha (2005) dalam penelitian (M. Rahayu & Sari, 2018) bahwa nilai perusahaan yang sudah go public akan tercermin dalam harga pasar saham perusahaan sedangkan nilai perusahaan yang belum go public nilainya terealisasi apabila perusahaan akan dijual (total aktiva dan prospek perusahaan, risiko usaha, lingkungan usaha, dan lain-lain).

Memaksimalkan nilai perusahaan merupakan salah satu tujuan perusahaan.

Hal ini dikarenakan dengan memaksimalkan nilai perusahaan sama dengan memaksimalkan nilai sekarang dari semua keuntungan yang akan diterima oleh pemegang saham di masa yang akan datang tanpa mengabaikan tanggungjawab sosial perusahaan kepada lingkungan sekitar. Kemudian memaksimalkan nilai perusahaan dilakukan karena dengan memaksimalkan nilai perusahaan dapat mempertimbangkan faktor resiko yang bisa saja terjadi di masa yang akan datang.

Terdapat 3 cara dalam menghitung nilai perusahaan adalah sebagai berikut:

a. Price Earning Ratio (PER)

Price earning ratio (PER) digunakan untuk mengukur nilai perusahaan dengan membagi harga pasar saham dengan laba per saham. PER menggambarkan seberapa besar investor membayar setiap rupiah atas pendapatan perusahaan dan juga menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dibandingkan harga sahamnya. Menurut

Wijaya dan Wibawa (2010) dalam penelitian (Arfan & Rofizar, 2013) bahwa PER menunjukkan perbandingan antara closing price dengan laba per lembar saham (earning per share). Adapun rumus PER adalah sebagai berikut:

Menurut (Lidia Desiana, 2017), PER digunakan untuk membandingkan peluang investasi sehingga apabila semakin tinggi nilai PER perusahaan memiliki peluang tingkat pertumbuhan yang tinggi sehingga pasar juga mengharapkan pertumbuhan laba di masa yang akan datang. Sedangkan apabila semakin rendah nilai PER perusahaan maka tingkat pertumbuhan semakin rendah sehingga semakin rendah PER suatu saham, maka semakin baik atau murah harga untuk diinvestasikan.

b. Price to Book Value (PBV)

Price to book value (PBV) juga merupakan salah satu rasio yang dapat digunakan untuk mengukur nilai perusahaan. PBV bertujuan untuk membantu perusahaan dalam memberikan gambaran resiko kepada investor jika perusahaan pailit. Menurut (Arfan & Rofizar, 2013), nilai perusahaan dapat dilihat melalui PBV yang merupakan perbandingan antara harga saham dengan nilai buku per lembar saham dimana dengan adanya perbandingan tersebut, maka harga saham perusahaan dapat diketahui berada di atas atau di bawah nilai bukunya. Menurut (Hermuningsih & Wardani, 2009) bahwa nilai perusahaan lazim diindikasikan dengan price to book value dimana apabila nilai price to book value tinggi, maka akan membuat pasar percaya atas prospek perusahaan ke depan. Hal ini juga menjadi keinginan para pemilik perusahaan karena nilai perusahaan yang tinggi

maka menunjukkan kemakmuran pemegang saham juga tinggi. Demikian rumus PBV adalah sebagai berikut:

Menurut (Arfan & Rofizar, 2013), PBV dikatakan baik apabila perusahaan memiliki PBV diatas 1 yang menunjukkan harga pasar saham lebih besar dari nilai bukunya sehingga semakin tinggi rasio PBV suatu perusahaan, maka nilai perusahaan juga semakin tinggi dimana nilai perusahaan dinilai oleh investor relatif dibandingkan dengan dana yang telah ditanamkan investor di suatu perusahaan.

c. Tobin’s Q

Tobin’s Q juga dapat digunakan sebagai salah satu rasio dalam mengukur nilai perusahaan. Menurut (Arfan & Rofizar, 2013), Tobin’s Q adalah nilai pasar dari aset perusahaan dibagi dengan biaya penggantiannya. Demikian rumus Tobin’s Q:

Tak hanya melalui nilai pasar dan biaya penggantian aset saja, menurut (Rahmantio, Saifi, & Nurlaily, 2018) Tobin’s Q juga dapat dihitung dengan nilai pasar saham, yaitu jumlah saham biasa yang beredar dikali dengan harga penutupan, dijumlahkan dengan hutang dan dibagi total aset perusahaan sesuai dengan rumus berikut:

Menurut (I. R. Dewi, Handayani, & Nuzula, 2014), Tobin’s Q menjelaskan bahwa nilai dari suatu perusahaan merupakan nilai kombinasi dari aktiva berwujud dengan aktiva tidak berwujudnya dimana nilai Tobin’s Q yang rendah yaitu antara 0 sampai 1 yang menunjukkan bahwa biaya penggantian aktiva perusahaan lebih besar yang berarti bahwa pasar menilai kurang perusahaan tersebut. Sedangkan nilai Tobin’s Q yang tinggi yang lebih dari 1 menunjukkan bahwa nilai perusahaan lebih besar dibandingkan nilai aktiva perusahaan yang tercatat yang berarti masih ada aktiva perusahaan yang tidak terukur atau tercatat.

2.1.4 Kebijakan Dividen

Menurut (Senata, 2016), dividen adalah pembagian laba bersih perusahaan yang didistribusikan kepada pemegang saham atas persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sehingga salah satu kebijakan yang dapat diambil manajemen adalah untuk memutuskan apakah laba yang diperoleh perusahaan selama satu periode akan dibagi semua atau sebagian dalam bentuk dividen kepada para pemegang saham dan sebagian lagi akan tidak dibagi dan akan diinvestasikan kembali dalam bentuk laba ditahan. Kebijakan yang diambil manajemen guna memutuskan pembagian dividen disebut dengan kebijakan dividen. Sehingga menurut (Suroto, 2015), kebijakan dividen adalah kebijakan yang berkaitan dengan keputusan perusahaan untuk membagi pendapatan yang dihasilkan dalam bentuk dividen kepada pemegang saham atau memegangnya sebagai laba ditahan untuk investasi di masa mendatang.

(Chauhan & Pathak, 2020) menyatakan bahwa kebijakan pembayaran dividen penting bagi keputusan keuangan perusahaan karena pembayaran dividen kepada pemegang saham dapat mempengaruhi keputusan investasi dan keputusan pembiayaan serta kemudian dapat mempengaruhi penilaiannya. Menurut (Chauhan & Pathak, 2020) kebijakan dividen dapat memfasilitasi para pemegang saham untuk mendisiplinkan manajer perusahaan, dapat menyampaikan informasi kepada para pemegang saham mengenai prospek perusahaan (teori sinyal) dan dapat memuaskan permintaan pembayaran dividen dari beragam klien dividen.

Kebijakan dividen berdasarkan penelitian (Mardiyati, Ahmad, & Putri, 2012) dianggap sebagai salah satu sinyal bagi investor dalam menilai baik buruknya perusahaan. Hal ini dikarenakan kebijakan dividen dapat mempengaruhi harga saham perusahaan. Oleh karena itu, dengan adanya pembayaran dividen dapat dianggap sebagai alternatif untuk meyakinkan ketidakpastian investor tentang kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan guna perusahaan mampu membayarkan dividen kepada para investor sehingga perusahaan yang membayarkan dividen secara stabil akan menggambarkan kondisi keuangan perusahaan yang stabil pula dan harus dapat meningkatkan nilai pemegang saham guna dapat menunjukkan bahwa perusahaan dapat memberikan informasi melalui dividen sebagai sinyal positif perusahaan kepada investor.

Kebijakan dividen dapat diukur dengan menggunakan dividend payout ratio (DPR) menurut (Ramadhani et al., 2018) bahwa DPR adalah persentase laba yang dibayarkan dalam bentuk dividen, atau rasio antara laba yang dibayarkan dalam bentuk dividen dengan total laba yang tersedia bagi pemegang saham.

Rasio ini dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan

perusahaan dalam membayar dividen dan kenapa perusahaan tidak membagikan semua labanya dalam bentuk dividen. Tak hanya itu, alasan penggunaan DPR dalam pengukuran kebijakan dividen menurut (Setyani, 2018) adalah karena DPR lebih dapat menggambarkan perilaku oportunistik manajerial yaitu dengan melihat seberapa besar keuntungan yang dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen dan berapa yang disimpan di perusahaan. Adapun rumus DPR adalah sebagai berikut:

Menurut (Wahyuni & Hafiz, 2018), semakin tinggi nilai DPR maka akan semakin menguntungkan para investor tetapi dari pihak perusahaan akan memperlemah internal financial karena memperkecil laba ditahan. Sebaliknya, apabila semakin rendah nilai DPR maka akan semakin merugikan pihak investor namun akan memperkuat internal financial karena laba ditahan perusahaan akan semakin besar.

Menurut hasil penelitian (Mursalim, 2011) dalam menguji pengaruh kebijakan dividen yang diproksi melalui dividend payout ratio (DPR) terhadap nilai perusahaan, dengan adanya peningkatan kebijakan dividen maka akan diikuti dengan peningkatan nilai perusahaan. Hal ini mengindikasikan bahwa investor akan lebih termotivasi melakukan investasi ketika ada jaminan untuk memperoleh return dalam bentuk dividen yang tinggi di akhir periode yang dinilai sebagai baik buruknya perusahaan.

2.1.5 Profitabilitas

Profitabilitas memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan.

Memaksimalkan nilai perusahaan merupakan salah satu tujuan perusahaan sesuai dengan penelitian (Ogaili, 2020) bahwa salah satu tujuan utama perusahaan khususnya perusahaan perbankan adalah untuk mencapai return maksimal atau laba dimana untuk mencapainya, strategi yang sesuai harus dihasilkan untuk maksimalisasi nilai perusahaan. Profitabilitas yang tinggi maka dianggap akan berpengaruh dengan maksimalnya nilai perusahaan. Menurut (Widarti &

Sudanandra, 2014), Profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memperoleh keuntungan dengan menggunakan aktiva, modal atau penjualan dimana kemampuan perusahaan tersebut merupakan hasil dari berbagai kebijakan dan keputusan yang dilakukan manajemen dalam memanfaatkan berbagai sumber dana atau aktiva yang ada. Sedangkan menurut (Alamsyah, 2017), Profitabilitas adalah indikator kinerja perusahaan yang dianggap oleh investor sebagai faktor utama di dalam mengukur tingkat pengembalian investasi. Profitabilitas tinggi menunjukkan kinerja dan prospek yang baik.

Profitabilitas merupakan salah satu indikator dalam menilai kinerja keuangan.

Kinerja keuangan menurut (Arifin & Wardani, 2016) merupakan hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan secara legal, tidak melanggar hukum, dan tidak bertentangan dengan moral dan etika. Kinerja keuangan juga merupakan salah satu alat ukur untuk melihat kesuksesan dalam menjalankan perusahaan. Analisis kinerja keuangan merupakan alat pengukuran prestasi yang dapat dicapai oleh perusahaan dalam mencapai potensi perusahaan yang optimal.

Analisis kinerja keuangan dapat dilakukan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan perusahaan dimana rasio profitabilitas merupakan salah satu rasio keuangan. Profitabilitas dapat diukur dengan menggunakan rasio profitabilitas.

Menurut (Ramadhani et al., 2018) bahwa rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur efektivitas manajemen secara keseluruhan yang ditunjukkan dengan besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dari penjualan maupun investasi. Adapun jenis-jenis rasio profitabilitas adalah sebagai berikut:

1. Return on Asset (ROA)

Return on Asset (ROA) adalah salah satu bentuk rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan laba bersih setelah pajak dan total aktiva. Menurut (Ramadhani et al., 2018), ROA digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total aset. Adapun rumus dari Return on Asset adalah:

Menurut (Safitri & Mukaram, 2018), semakin tinggi nilai ROA, maka berarti semakin efisien penggunaan aktiva perusahaan atau dengan kata lain jumlah aktiva yang sama bisa dihasilkan laba yang lebih besar dan sebaliknya.

2. Return on Equity (ROE)

Return on Equity (ROE) merupakan salah satu bentuk rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dengan cara membagi besarnya laba bersih yang dihasilkan dari investasi modal yang dikeluarkan.

Return on Equity (ROE) bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atas modalnya sendiri. Menurut (Ramadhani et al., 2018) bahwa ROE digunakan untuk mengukur seberapa jumlah laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam modal ekuitas.

Adapun rumus dari Return on Equity adalah:

Berdasarkan rumus diatas, maka dapat diketahui bahwa apabila semakin tinggi nilai ROE akan mencerminkan penerimaan perusahaan atas peluang investasi yang baik dalam manajemen biaya yang efektif. Akan tetapi jika perusahaan tersebut telah memilih untuk menerapkan tingkat utang yang tinggi, maka ROE yang tinggi hanyalah hasil dari asumsi resiko keuangan yang berlebihan. Namun ROE tinggi dianggap akan semakin efisien dan efektif suatu perusahaan. Hal itu dikarenakan manajemen perusahaan dianggap mampu menggunakan modal perusahaan dengan efisien dan efektif tanpa memperhitungkan hutang yang dimiliki perusahaan dalam penelitian (Safitri &

Mukaram, 2018).

3. Net Profit Margin (NPM)

Net Profit Margin (NPM) merupakan salah satu jenis rasio profitabilitas yang lazim digunakan. Menurut (Ramadhani et al., 2018) bahwa NPM dihitung dengan membagi laba bersih terhadap penjualan bersih dimana laba bersih merupakan hasil pengurangan dari laba sebelum pajak penghasilan dengan beban pajak penghasilan. Laba sebelum pajak penghasilan merupakan laba operasional

ditambah dengan pendapatan dan keuntungan lain-lain, lalu dikurangi dengan beban dan kerugian lain-lain. (Dita & Murtaqi, 2014) menyatakan bahwa semakin tinggi margin maka perusahaan akan semakin menguntungkan.

4. Gross Profit Margin (GPM)

Gross Profit Margin menurut (Tulsian, 2014) adalah rasio yang menunjukkan hubungan laba kotor terhadap penjualan bersih baik kas maupun kredit dalam bentuk persentase. Rasio GPM yang yang tinggi menunjukkan manajemen yang baik sehingga semakin besar GPM, maka semakin baik keadaan operasional perusahaan. Hal ini dikarenakan cost of goods sold yang lebih rendah daripada penjualan.

5. Operating Profit Margin (OPM)

Operating Profit Margin menurut Menurut (Ramadhani et al., 2018) adalah salah satu rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur besarnya persentase laba operasional atas penjualan bersih. Laba operasional dihitung sebagai hasil pengurangan antara laba kotor dengan beban operasional. menurut (Tulsian, 2014), rasio OPM dapat digunakan untuk menentukan efisiensi operasional manajemen. Semakin tinggi rasio OPM, maka semakin efisien operasional bisnis perusahaan yang berarti bahwa bisnis perusahaan tidak hanya

dapat meningkatkan penjualan saja namun juga perusahaan dapat memotong atau mengurangi biaya operasional.

Pada penelitian (Puspaningsih & Pratiwi, 2017) menyatakan bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang berbanding lurus dengan kemampuan perusahaan dalam pembagian dividen perusahaan dimana laba setelah pajak sebagian akan dibagikan sebagai dividen dan sebagian lagi akan digunakan sebagai laba ditahan. Maka apabila laba yang diperoleh perusahaan kecil akan berbanding lurus dengan kecilnya pembagian dividen kepada pemegang saham.

Profitabilitas juga memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan dimana pada penelitian (Kamaliah, 2020) bahwa profitabilitas melalui return on asset dan return on equity, menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih untuk menghasilkan return modal bagi para pemegang saham. Apabila profitabilitas perusahaan lebih baik, maka mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang baik dan mendorong para investor untuk menanamkan investasi kepada perusahaan yang berbanding lurus dengan peningkatan nilai perusahaan yang sejalan dengan penelitian (Pamungkas & Puspaningsih, 2013) bahwa nilai perusahaan ditentukan oleh earning power atau kemampuan menghasilkan laba yang dapat menarik minat investor. Jika banyak investor tertarik untuk membeli saham, maka harga saham akan meningkat yang diikuti dengan peningkatan nilai pasar perusahaan.

2.1.6 Leverage

Leverage menurut (Ramadhani et al., 2018) bahwa rasio leverage adalah salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya baik kewajiban jangka pendek dan maupun jangka panjang serta dapat digunakan untuk mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai oleh hutang. Menurut Irawan (2012: 1), hutang adalah kewajiban untuk menyerahkan uang, barang atau jasa kepada pihak lain dimasa yang akan datang sebagai akibat dari transaksi yang telah terjadi di masa lalu atau sebelumnya.

Menurut (Fajaria & Isnalita, 2018) bahwa penggunaan leverage akan disesuaikan dengan tujuan perusahaan dimana berdasarkan hasil pengukuran leverage maka perusahaan akan menemukan beberapa cara yang berhubungan dengan penggunaan modal sendiri dan modal yang dipinjam perusahaan untuk menentukan rasio kemampuan perusahaan dalam memenuhi total kewajiban guna mendanai manajemen modal dan aset perusahaan dengan baik sehingga dapat menarik investor untuk menjadi sinyal positif.

Sehingga bisa dikatakan rasio leverage adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar hutang yang dimiliki perusahaan untuk membiayai kegiatan usaha perusahaan dan untuk membiayai aktiva yang dimiliki perusahaan dibandingkan modal dari perusahaan itu sendiri. Rasio leverage dapat menggambarkan posisi keuangan perusahaan pada laporan keuangan dan hutang yang didapatkan dari debtholder. Rasio leverage ini juga dapat digunakan untuk

Sehingga bisa dikatakan rasio leverage adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar hutang yang dimiliki perusahaan untuk membiayai kegiatan usaha perusahaan dan untuk membiayai aktiva yang dimiliki perusahaan dibandingkan modal dari perusahaan itu sendiri. Rasio leverage dapat menggambarkan posisi keuangan perusahaan pada laporan keuangan dan hutang yang didapatkan dari debtholder. Rasio leverage ini juga dapat digunakan untuk

Dalam dokumen PENGARUH PROFITABILITAS, LEVERAGE (Halaman 35-195)

Dokumen terkait