• Tidak ada hasil yang ditemukan

OriginalitasPenelitian

Dalam dokumen OLEH DESSY FERRAWATI / AKUNTANSI (Halaman 31-124)

BAB I PENDAHULUAN

1.5. OriginalitasPenelitian

Penelitian yang sama telah dilakukan namun dengan variabel penelitian, waktu penelitian dan metode penelitian yang berbeda. Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Manaf yang dilakukan pada tahun 2014. Alasan peneliti menentukan variabel Efektivitas Sistem Pengendalian Intern dan Pemahaman tentang Standar Akuntansi Pemerintahan sebagai variabel independen karena merujuk pada penelitian-penelitian terdahulu. Replikasi yang dilakukan peneliti memiliki tujuan untuk mengetahui sejauh mana perbedaan hasil penelitian yang dilakukan peneliti sebelumnya, dengan penelitian saat ini. Perbedaan tersebut tampak pada tabel berikut ini :

Tabel 1.3 Originalitas

No. Uraian Penelitian Terdahulu Penelitian Saat ini 1. Variabel

1. Efektivitas Sistem Pengendalian Intern Pemerintah; dan

2. Pemahaman tentang Standar Akuntansi Pemerintahan; 2. Variabel

Dependen

Kualitas Reviu Laporan Keuangan Pemerintah Daerah

Kualitas Reviu Laporan Keuangan Pemerintah Daerah pada Inspektorat Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Pidie Jaya dan Kota Langsa

3. Periode Penelitian

2014 2017

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

Dalam melakukan penelitian diperlukan adanya teori-teori yang bersifat mendukung untuk setiap variabel yang digunakan. Dengan demikian, teori-teori tersebut akan bersifat memperkuat hasil dari penelitian. Bahkan, teori-teori tersebut mampu menjadi sebuah perbandingan bagi hasil penelitian yang diperoleh peneliti dan kemudian akan dilogikakan oleh peneliti untuk memperoleh sebuah kesimpulan yang dapat digunakan dalam proses pengambilan keputusan yang tidak menyesatkan.

Penelitian ini menggunakan teori penetapan tujuan (goal setting theory) yang dikemukakan oleh Edwin Locke. Lewat publikasi artikelnya, Locke (1968) menyebutkan teori penetapan tujuan adalah proses kognitif (proses mental) membangun tujuan dan merupakan determinan perilaku yang menunjukkan adanya keterkaitan antara tujuan seseorang terhadap tugas. Penelitian ini menggunakan teori penetapan tujuan (goal setting theory) sebagai dasar untuk menjelaskan variasi perilaku individu dalam hal ini APIP terhadap penetapan tujuan tercapainya kualitas reviu LKPD.

2.1.1. Reviu Laporan Keuangan

Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2008 menjelaskan Reviu adalah prosedur penelusuran angka-angka dalam laporan keuangan, permintaan keterangan, dan analitik yang harus menjadi dasar memadai

bagi Inspektorat untuk memperoleh keyakinan terbatas bahwa tidak ada modifikasi material yang harus dilakukan atas Laporan Keuangan (LK) agar LK tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Keyakinan terbatas tersebut karena dalam reviu tidak dilakukan pengujian atas kebenaran substansi dokumen sumber. Pada praktiknya, pelaksanaan kegiatan reviu seringkali memiliki persamaan dengan pelaksanaan kegiatan audit.

Untuk menghindari hal tersebut, maka perlu diberikan batasan-batasan yang membedakan antara kegiatan reviu dengan kegiatan audit.

Berbeda dengan audit, reviu tidak mencakup pengujian terhadap Sistem Pengendalian Intern (SPI), catatan akuntansi, dan pengujian atas respon terhadap permintaan keterangan melalui perolehan bahan bukti, serta prosedur lainnya seperti yang dilaksanakan dalam suatu audit. Sebagai contoh, dalam hal pengadaan barang modal yang nilainya material, proses reviu hanya meyakinkan bahwa pengadaan barang telah dicatat dalam aktiva tetap, sedangkan dalam audit, harus dilakukan pengujian bahwa prosedur pengadaan barang tersebut telah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Perbedaan juga dapat dilihat berdasarkan tujuan audit yaitu untuk memberikan dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat mengenai LK secara keseluruhan, sedangkan tujuan reviu hanya sebatas memberikan keyakinan mengenai akurasi, keandalan, keabsahan informasi yang disajikan dalam LK.

Reviu tidak mencakup suatu pengujian atas kebenaran substansi dokumen sumber seperti perjanjian kontrak pengadaan barang/jasa, bukti pembayaran/kuitansi, serta

berita acara fisik atas pengadaan barang/jasa, dan prosedur lainnya yang biasanya dilaksanakan dalam sebuah audit.

2.1.1.1 Peran Inspektorat dalam Reviu Laporan Keuangan

Inspektorat adalah pihak yang melakukan reviu atas laporan keuangan pemerintah daerah, sebagaimana yang tercantum dalam lampiran PMK Nomor 41/PMK.09/2010 bahwa pereviu adalah “aparat pengawasan intern kementerian Negara/lembaga atau beberapa orang pejabat yang ditunjuk oleh sekretaris jenderal/pejabat yang setingkat pada kementerian Negara/Lembaga untuk melaksanakan tugas reviu laporan keuangan. Sistematika peran Inspektorat ditunjukkan pada Gambar 2.1

Gambar 2.1 Sistematika Peran Inspektorat Inspektorat :

Pengujian Asersi

Bukti Transaksi

Laporan Keuangan

Daerah

Kepala Daerah Jurnal Buku

Besar

Kertas Kerja

INSPEKTORAT : - Penyesuaian - Reklasifikasi

INSPEKTORAT : Kertas Kerja

Laporan Keuangan Daerah yang telah diaudit

Opini atas LKD Audit oleh BPK (eksternal)

Pembahasan dengan DPRD

Untuk mendukung dan menjamin Efektivitas reviu atas laporan keuangan, perlu dipertimbangkan kompetensi reviu yang akan ditugaskan, maka tim reviu secara kolektif seharusnya memenuhi kompetensi sebagaimana yang tercantum dalam lampiran PMK Nomor 41/PMK.09/2010 yaitu : “menguasai standar akuntansi pemerintahan, menguasai sistem akuntansi, memahami bagaimana melakukan penilaian terhadap SPI. Hal ini dikarenakan pemahaman pereviu atas pengendalian internal akan mempermudah pendeteksian dan pengungkapan masalah yang ditemukan dalam pelaksanaan reviu (STAN,2007). Agar mampu memberikan kontribusi pada prestasi kepala daerahnya, inspektorat harus memiliki pereviu yang mampu memberikan nilai tambah pada upaya perbaikan dan peningkatan kinerja organisasi perangkat daerah. Untuk memperoleh pereviu dengan kualifikasi ini, inspektorat harus mengembangkan program pendidikan berkelanjutan. Program pendidikan dan pelatihan dapat dilakukan melalui pendidikan formal sertifikasi yang diselenggarakan pemerintah maupun pendidikan non formal yang diselenggarakan sendiri dengan mengundang para ahli di bidangnya masing-masing (STAN, 2007)

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/05/M.PAN/03/2008, auditor harus mempunyai pengetahuan, keterampilan dan kompetensi lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung jawabnya.

Menurut Kuntadi (2009), kompetensi umum yang perlu dimiliki oleh pelaksana reviu yaitu Pemahaman mengenai akuntansi, khususnya akuntansi sektor publik/pemerintahan, termasuk pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan dan

Pemahaman mengenai sistem pengendalian intern.

2.1.2 Kualitas Reviu Laporan Keuangan Pemerintah Daerah

LK akan berguna (usefull) apabila LK tersebut memenuhi standar kualitatif. Karakteristik kualitatif LK sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan adalah:

1) Relevan, yaitu informasi yang termuat di dalamnya dapat memengaruhi keputusan penguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu atau masa kini dan memprediksi masa depan, serta mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu. Dengan demikian, informasi LK yang relevan dapat dihubungkan dengan maksud penggunaannya Informasi yang relevan memiliki unsur-unsur: (1) manfaat umpan balik (feedback value), (2) manfaat prediktif (predictive value), (3) tepat waktu (timelines), dan (4) lengkap.

2) Andal, yaitu informasi dalam LK bebas dari pengertian yang menyesatkan dan kesalahan material, menyajikan setiap fakta secara jujur, serta dapat diverifikasi. Informasi mungkin relevan, tetapi jika hakikat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan maka penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan. Informasi yang andal harus memenuhi karakteristik: (1) penyajian jujur, (2) dapat diverifikasi (verifiability), dan (3) netralitas.

3) Dapat dibandingkan, informasi yang termuat dalam LK akan lebih berguna jika dapat dibandingkan dengan LK periode sebelumnya atau LK entitas pelaporan lain pada umumnya. Perbandingan dapat dilakukan secara internal dan eksternal. Perbandingan secara internal dapat dilakukan

bila suatu entitas menerapkan kebijakan akuntansi yang sama dari tahun ke tahun. Perbandingan secara eksternal dapat dilakukan bila entitas yang diperbandingkan menerapkan kebijakan akuntansi yang sama. Apabila entitas pemerintah menerapkan kebijakan akuntansi yang lebih baik daripada kebijakan akuntansi yang sekarang diterapkan, perubahan tersebut diungkapkan pada periode terjadinya perubahan.

4) Dapat dipahami, informasi yang disajikan dalam LK dapat dipahami oleh pengguna dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan dengan batas pemahaman para pengguna. Untuk itu, pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai atas kegiatan dan lingkungan operasi entitas pelaporan, serta adanya kemauan pengguna untuk mempelajari informasi yang dimaksud.

Berdasarkan karakteristik kualitatif LK menurut SAP yang diuraikan di atas, maka hasil reviu LKPD yang berkualitas haruslah memenuhi kriteria tepat waktu (timeliness), lengkap (disclosure), dan informatif sehingga tujuan reviu dapat tercapai. De Angelo (1981) dalam Watkins et al (2004) mendefinisikan kualitas audit sebagai kemungkinan bahwa auditor akan menemukan dan melaporkan pelanggaran dalam sistem akuntansi dengan pengetahuan dan keahliannya. Berdasarkan pengertian tentang kualitas audit tersebut maka kualitas reviu juga harus menunjukkan kemampuan APIP untuk menemukan dan melaporkan pelanggaran dalam sistem akuntansi dengan pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya. Menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 8/PMK.09/2015 tentang Standar Reviu Atas Laporan

Keuangan Pemerintah Daerah, apabila APIP menemukan kelemahan dalam penyelenggaraan akuntansi dan/atau kesalahan dalam penyajian laporan keuangan, maka APIP harus memberikan rekomendasi kepada entitas akuntansi dan/atau entitas pelaporan untuk segera melakukan penyesuaian dan/atau koreksi atas kelemahan dan/atau kesalahan tersebut secara berjenjang. Russel (2000) dalam Simanjuntak (2008), menyebutkan bahwa kualitas audit merupakan fungsi jaminan kualitas tersebut akan digunakan untuk membandingkan kondisi yang sebenarnya dengan yang seharusnya.

Kualitas reviu akan menjamin tercapainya tujuan reviu yakni memberikan keyakinan terbatas bahwa LKPD disusun berdasarkan SPI yang memadai dan disajikan sesuai dengan SAP.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 8/PMK.09/2015 tentang Standar Reviu Atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah menyebutkan bahwa kualitas pelaksanaan reviu harus memenuhi kriteria:

1) Reviu dilaksanakan bersamaan atau sepanjang pelaksanaan anggaran dan penyusunan LKPD sesuai periode triwulan (3 bulan) dan prognosis/semester (6 bulan).

2) Reviu dilaksanakan oleh tim reviu yang secara kolektif harus memenuhi kompetensi: (1) memahami SAP; (2) memahami SAPD; (3) memahami proses bisnis atau kegiatan pokok entitas yang direviu; (4) memahami dasar-dasar audit; (5) memahami teknik komunikasi; dan (5) memahami analisis basis data.

3) Reviu dilaksanakan dalam 3 tahap meliputi tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap pelaporan reviu.

4) Pereviu harus menyusun Kertas Kerja Reviu (KKR) sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan reviu yang menjelaskan mengenai: (1) pihak yang melakukan reviu; (2) entitas yang direviu; (3) aktifitas penyelenggaraan akuntansi dan komponen LKPD (LRA, LPSAL, Neraca, LO, LAK, LPE, CaLK) yang direviu.

5) Penyusunan KKR dilakukan pada saat pelaksanaan reviu dan dilakukan reviu secara berjenjang menurut peran dalam tim reviu.

6) Pelaporan reviu harus mengungkapkan tujuan dan alasan pelaksanaan reviu, prosedur reviu yang dilakukan, masalah yang terjadi dalam penyusunan dan penyajian LK, langkah perbaikan yang disepakati, koreksi/penyesuaian yang telah dilakukan, dan rekomendasi dalam KKR yang tidak atau belum dilaksanakan.

2.1.3 Efektivitas Sistem Pengendalian Intern

2.1.3.1 Konsep Efektivitas

Akhmad dan Mohammad (2013) menyatakan efektivitas adalah hubungan antara output dan tujuan. Ini berarti bahwa efektivitas merupakan ukuran seberapa jauh tingkat output kebijakan dan prosedur dari organisasi mencapai tujuan yang ditetapkan. Dalam pengertian teoritis atau praktis, tidak ada persetujuan yang universal mengenai apa yang dimaksud dengan Efektivitas. Bagaimanapun juga, definisi efektivitas berkaitan dengan pendekatan umum. Bila ditelusuri, efektivitas

1. Memiliki efek (pengaruh, akibatnya, kesannya) seperti : manjur, mujarab, atau mempan.

2. Menggunakan metode/cara, sarana/alat dalam melaksanakan aktivitas sehingga berhasil guna (mencapai hasil yang optimal).

2.1.3.2 Konsep Sistem Pengendalian Intern

Menurut Mulyadi (2002) “tanggung jawab auditor dalam memenuhi standar pekerjaan lapangan kedua hanya dibatasi pada golongan tujuan keandalan pelaporan keuangan saja”. Oleh karena itu, auditor berkewajiban untuk memahami pengendalian intern yang ditujukan untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia. Pengendalian Internal merupakan sistem yang terjalin dalam organisasi yang menerapkan berbagai metode dan cara atau tolak ukur lainnya dengan tujuan agar kegiatan organisasi berjalan menurut apa yang digariskan. Sistem pengendalian internal merupakan kumpulan prosedur, metode, aturan dan instruksi yang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan yang telah ditetapkan tersebut tercapai (STAN,2007).

Pengertian SPI berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan”.

Selanjutnya dalam Permendagri Nomor 4 Tahun 2008 dan Lampiran PMK nomor 41/PMK.09/2010, “Sistem pengendalian intern adalah proses yang dipengaruhi oleh manajemen yang diciptakan untuk memberikan keyakinan yang memadai dalam pencapaian efektivitas, efisiensi dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan keandalan penyajian laporan keuangan”.

Pengendalian intern yang digunakan dalam suatu entitas merupakan faktor yang menentukan keandalan laporan keuangan yang dihasilkan oleh entitas. Hal ini dikarenakan, sebelum auditor melaksanakan audit secara mendalam atas informasi yang tercantum dalam laporan keuangan, auditor diharuskan untuk memahami pengendalian intern yang berlaku dalam entitas (Mulyadi,2002).

Reeve et al (2013) mendefinisikan Pengendalian internal secara luas diartikan sebagai prosedur-prosedur serta proses-proses yang digunakan perusahaan untuk melindungi aset perusahaan, mengolah informasi secara akurat, serta memastikan kepatuhan hukum dan peraturan yang berlaku.

Libby,Libby,&Short (2008) mendefinisikan pengendalian internal adalah proses yang digunakan perusahaan untuk mengamankan aset perusahaan dan memberi jaminan yang memadai terkait dengan reliabilitas pelaporan keuangan perusahaan, efisiensi dan efektivitas operasi perusahaan,dan kesesuaian operasi perusahaan dengan aturan dan regulasi yang berlaku. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (2008) menyatakan bahwa Sistem Pengendalian intern adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan yang memadai atas

tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.

2.1.3.3 Indikator Sistem Pengendalian Intern

Proses penilaian atas SPI menurut Permendagri Nomor 4 Tahun 2008 dilakukan dengan :

a. Memahami sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah yang meliputi sistem dan prosedur penerimaan kas; sistem dan prosedur pengeluaran kas; sistem dan prosedur akuntansi satuan kerja; sistem dan prosedur akuntansi pejabat pengelola keuangan daerah; dan sistem dan prosedur penyusunan laporan keuangan.

b. Melakukan observasi dan/atau wawancara dengan pihak terkait di setiap prosedur yang ada.

c. Melakukan analisis atas resiko yang telah diidentifikasi pada sebuah kesimpulan tentang kemungkinan terjadinya salah saji yang material dalam penyusunan laporan keuangan.

d. Melakukan analisis atas resiko yang telah diidentifikasi pada sebuah kesimpulan tentang arah pelaksanaan reviu.

Unsur SPI dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 mengacu pada unsur Sistem Pengendalian Intern yang telah dipraktikkan di lingkungan pemerintah di berbagai negara, yang meliputi 5 unsur yaitu : lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, dan pemantauan.

Arens (2004) dalam Wariswan (2013) menjelaskan tentang kelima unsur Pengendalian Intern tersebut sebagai berikut :

1) Lingkungan Pengendalian

Lingkungan pengendalian adalah kondisi dalam instansi pemerintah yang dapat membangun kesadaran semua personil akan pentingnya

pengendalian dalam organisasi dalam menjalankan aktivitas yang menjadi tanggung jawabnya sehingga meningkatkan efektivitas pengendalian intern. Terdiri dari tindakan, kebijakan, dan prosedur yang mencerminkan keseluruhan sikap dari manajemen puncak, para direktur, dan pemilik dari suatu entitas mengenai pengendalian internal dan arti penting bagi entitas yang bersangkutan.

2) Penilaian Risiko

Penilaian risiko adalah kegiatan penilaian atas kemungkinan kejadian yang mengancam pencapaian tujuan dan sasaran instansi pemerintah yang meliputi kegiatan identifikasi, analisis dan mengelola risiko yang relevan bagi proses atau kegiatan organisasi.

3) Aktivitas Pengendalian

Aktivitas pengendalian adalah tindakan yang diperlukan untuk mengatasi risiko serta penetapan dan pelaksanaan kebijakan dan prosedur untuk memastikan bahwa tindakan mengatasi risiko telah dilaksanakan secara efektif.

4) Informasi dan Komunikasi

Informasi adalah data yang telah diolah yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam rangka penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan atau informasi dengan menggunakan simbol atau lambang tertentu baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mendapatkan umpan balik.

5) Pengawasan/Pemantauan

Pengawasan/Pemantauan adalah proses penilaian atas mutu kinerja sistem pengendalian intern dan proses yang memberikan keyakinan bahwa temuan audit dan evaluasi lainnya segera ditindaklanjuti.

Penilaian atas SPI berguna untuk mengidentifikasi prosedur-prosedur pengelolaan keuangan daerah yang mempunyai risiko untuk terjadinya salah saji secara material dalam penyusunan laporan keuangan yang tujuan penerapan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan adalah untuk mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel (STAN,2007).

Selain itu, alasan-alasan diperlukannya pemahaman atas pengendalian intern SKPD yang direviu adalah : “auditability, potensi salah saji yang material, risiko penemuan, dan perancangan pengujian”. Auditability yaitu keadaan dimana auditor harus mendapatkan informasi yang cukup memuaskan mengenai integritas manajemen entitas dan keluasan catatan akuntansi entitas. Maksud dari potensi salah saji material yaitu pemahaman seharusnya memungkinkan auditor untuk mengidentifikasi jenis-jenis kekeliruan dan ketidakberesan yang potensial yang dapat mempengaruhi laporan keuangan. Risiko penemuan adalah informasi mengenai pengendalian intern yang digunakan untuk menetapkan risiko pengendalian bagi setiap tujuan pengendalian yang selanjutnya mempengaruhi risiko penemuan yang direncanakan. Maksud dari perancangan pengujian adalah informasi yang diperoleh seharusnya memungkinkan auditor untuk merancang pengujian saldo laporan keuangan yang efektif (STAN; 2007).

2.1.4 Pemahaman tentang Standar Akuntansi Pemerintahan

Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) merupakan persyaratan yang mempunyai kekuatan hukum dalam upaya meningkatkan kualitas laporan keuangan pemerintah di Indonesia. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010, “Standar akuntansi pemerintahan adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah”.

Selanjutnya pasal 32 ayat (2) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang keuangan negara menyatakan “standar akuntansi pemerintahan disusun oleh suatu komite standar yang independen dan ditetapkan dengan peraturan pemerintah setelah terlebih dahulu mendapat pertimbangan dari badan pemeriksa keuangan”.

SAP disusun untuk memecahkan berbagai kebutuhan yang muncul dalam pelaporan keuangan, akuntansi dan audit di pemerintahan, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Pengguna laporan keuangan menggunakan SAP untuk pedoman penyusunan dan penilaian laporan keuangan. Menurut Mahmudi (2011) ada beberapa manfaat SAP yaitu :

1. Digunakan oleh akuntan keuangan di pemerintahan sebagai pedoman dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan pemerintahan.

2. Digunakan oleh auditor sebagai kriteria audit untuk menentukan apakah laporan keuangan yang disajikan sudah sesuai dengan standar akuntansi.

3. Digunakan oleh pengguna laporan keuangan untuk memahami laporan keuangan dan menghindari kesalahan dalam menginterpretasikan informasi dalam laporan keuangan.

4. Diperlukan untuk meningkatkan kualitas laporan keuangan.

5. Menjadi acuan dalam penyusunan sistem akuntansi.

2.1.4.1 Indikator Pemahaman tentang Standar Akuntansi Pemerintahan Salah satu manfaat SAP adalah digunakan oleh auditor untuk menentukan apakah laporan keuangan yang disajikan sudah sesuai dengan standar akuntansi.

Oleh karena itu hal-hal yang seharusnya dipahami oleh auditor atau pihak yang melaksanakan reviu laporan keuangan sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010, yaitu memahami tentang :

1) penyajian laporan keuangan (PSAP nomor 01),

2) komponen yang terdapat dalam laporan keuangan ( PSAP nomor 02 s.d 04), 3) pengakuan dan pengukuran unsur-unsur dalam neraca (PSAP nomor 05 s.d

09),

4) koreksi kesalahan (PSAP nomor 10) dan

5) penyajian laporan keuangan konsolidasian (PSAP nomor 11).

2.2 Review Penelitian Terdahulu

Sampai saat ini sepengetahuan peneliti, penelitian empiris yang secara khusus meneliti faktor-faktor yang memengaruhi kualitas reviu LKPD masih terbatas. Terdapat beberapa penelitian terkait dengan pelaksanaan reviu LKPD dapat peneliti jadikan bahan rujukan untuk penelitian ini. Karena keterbatasan bahan rujukan tersebut, peneliti juga mengambil beberapa penelitian mengenai kualitas audit yang diharapkan dapat memberi tambahan informasi mengenai kualitas reviu LKPD.

Penelitian Dwi Haryadi (2010), objek penelitian adalah Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dengan variabel independen (reviu Inspektorat dan nilai

temuan pemeriksaan) dan variabel dependen (opini audit BPK). Jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 19 kabupaten/kota di wilayah provinsi Sumatera Barat untuk tahun anggaran 2006, 2007 dan 2008. Analisis data penelitian dengan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa reviu Inspektorat tidak berpengaruh secara signifikan terhadap opini audit BPK sedangkan nilai temuan pemeriksaan berpengaruh signifikan terhadap opini audit BPK.

Penelitian Fiscal (2012), Objek penelitian adalah auditor pada Kantor BPKP Bandar Lampung, dengan variabel independen ( pengalaman kerja dan kompetensi auditor) dan variabel dependen ( kualitas hasil pemeriksaan). Jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 47 orang. Analisis data penelitian dengan menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa pengalaman kerja dan kompetensi auditor berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas hasil pemeriksaan pada Kantor BPKP Bandar Lampung.

Penelitian Halim (2012), Objek penelitian adalah akuntan publik pada KAP di Indonesia tahun 2012 yang memperoleh ijin dari Menteri Keuangan, tidak dalam keadaan cuti, dan sebab-sebab lain sebanyak 918 akuntan publik.

Selanjutnya, disampel secara acak sederhana dengan mengacu pada rumus Slovin sebanyak 278 akuntan publik, dengan variabel independen ( kompetensi, independensi auditor, anggaran waktu audit dan komitmen profesional) dan variabel dependen ( kualitas audit). Jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 278 akuntan publik. Analisis data penelitian dengan menggunakan Partial Least Square (PLS). Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa kompetensi dan

indepensi auditor berpengaruh positif terhadap kualitas audit sedangkan anggaran waktu audit memperlemah pengaruh kompetensi dan independensi auditor terhadap kualitas audit.

Penelitian Al-Khaddash (2013), Objek penelitian adalah auditor eksternal yang memiliki pengalaman dalam mengaudit bank dan auditor internal pada bank komersial di Jordania, dengan variabel independen ( efisiensi audit, reputasi kantor audit, biaya audit, ukuran kantor audit dan spesialisasi auditor ) dan variabel dependen ( kualitas audit). Jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 85 orang. Analisis data penelitian dengan menggunakan Statistical Package for Sosial Science (SPSS) dengan teknik analisis regresi linear sederhana. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa efisiensi audit, reputasi kantor audit, biaya audit, ukuran kantor audit dan spesialisasi auditor berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit pada Bank Komersial di Jordania.

Penelitian Prasetyo dan Pangemanan (2013), Objek penelitian adalah

Penelitian Prasetyo dan Pangemanan (2013), Objek penelitian adalah

Dalam dokumen OLEH DESSY FERRAWATI / AKUNTANSI (Halaman 31-124)

Dokumen terkait