C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan
2. Otonomi Daerah
Otonomi Daerah terdiri atas 2 (dua) kata, yaitu otonomi dan daerah. Istilah
“otonomi” berasal dari penggalan dua kata bahasa Yunani, yakni autos yang berarti sendiri dan nomos yang berarti undang-undang. Otonomi bermakna membuat perundang-undangan sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
38 Ibid. Hal. 51
(KBBI), otonomi berarti pemerintahan sendiri.39 Otonomi daerah dalam KBBI adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.40
Di dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pemerintah Daerah, pemerintahan daerah yang diberikan otonomi dibagi atas dua, yaitu pemerintahan daerah disandarkan pada hak otonomi dan pemerintahan daerah yang disandarkan pada hak medebewind (tugas pembantuan). Perbedaan antara kedua jenis pemerintahan daerah tersebut dijelaskan dalam UU ini, yaitu :
“Tentang perbedaan hak otonomi dan medebewind adalah sebagai berikut : Pada pembentukan pemerintahan daerah yang hendak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri menurut Undang-undang Pokok Pemerintahan Daerah ini, maka oleh Pemerintahan Pusat ditentukan Kewajiban (pekerjaan) mana-mana saja yang dapat diserahkan kepada daerah. Penyerahan ini ada dua rupa yaitu : a. Penyerahan penuh, artinya baik tentang azasnya (prinsip-prinsipnya) maupun tentang caranya menjalankan kewajiban (pekerjaan) yang diserahkan itu, diserahkan semuanya kepada daerah (hak otonomi) dan b. Penyerahan tidak penuh, artinya penyerahan hanya mengenai caranya menjalankan saja, sedang princip-principnya (azas-azasnya) ditetapkan oleh Pemerintah Pusat sendiri (hak medewind). Hak medebewind ini hendaknya jangan diartikan sempit, yaitu hanya menjalankan perintah dari atas saja, sekali-kali tidak, oleh karena pemerintah daerah berhak mengatur caranya menjalankan menurut pendapatannya sendiri, jadi masih mempunyai hak otonomi, sekalipun hanya mengenai cara menjalankan saja. Tetapi cara menjalankan ini bisa besar artinya bagi tiap-tiap daerah.”41
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok pemerintahan Daerah, dalam penjelasan umumnya disebutkan, “otonomi yang
39 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi Online, http://kbbi.web.id/otonomi, yang diakses pada tanggal 04 Maret 2017, pukul 14.40.
40 Ibid.
41 Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah
dapat diserahkan kepada sesuatu lingkungan masyarakat yang tertentu itu terbatas kepada pengertian urusan Pusatkah atau kepentingan Pusatkah soal yang dihadapi dan jika jawabannya tidak menurut kebijaksanaan Pusat itu, maka soal itu adalah urusan Daerah semata-mata”. Pemerintah pusat memberikan urusan kepada pemerintahan daerah dengan cara menentukan apa yang menjadi urusan pusat, dan segala urusan di luar urusan pemerintahan pusat menjadi urusan pemerintahan daerah.
Otonomi daerah tidak dapat dilepaskan dari desentralisasi. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 membagi desentralisasi menjadi pembagian urusan dari pusat ke daerah (pasal 41) dan pembagian urusan dari daerah yang tingkat atas kepada daerah yang pada tingkat dibawahnya (pasal 41) yang diatur dalam Peraturan Daerah. Selain desentralisasi , Pasal 42 Undang-Undang ini mengatur mengenai hak medebewind, “Kepada Daerah bukan saja diberi hak-hak otonomi untuk mengurus dan mengatur rumah-tangganya sendiri, tetapi kepada Daerah juga diberi tugas kewajiban untuk melaksanakan peraturan-peraturan perundangan bukan saja yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat, tetapi pula yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah yang lebih tinggi tingkatannya (diberi hak medebewind)”.42
Dalam pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah ditegaskan bahwa, “Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan
42 Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daera
perundang-undangan”. Kata “daerah” dalam otonomi daerah menunjuk kepada daerah otonom, yang menurut Pasal 1 angka 12 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus Urusan Pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menurut ketentuan pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, “otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Menurut Solly Lubis, “otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat”.43 Pengertian otonomi daerah yang disampaikan oleh Solly cenderung mengarah kepada bentuk negara federal seperti di Amerika Serikat. Di Indonesia, otonomi daerah merupakan bentuk pemberian dari pemerintah pusat kepada daerah otonom. Pemberian tersebut berupa kewenangan mengurus sendiri urusan rumah tangga daerah sepanjang urusan tersebut diluar dari urusan pemerintah pusat.
43 Lubis, Solly. 2011. Serba-Serbi Politik Hukum. PT. Soft Media. Jakarta. Hal. 183
Solly membagi 2 (dua) wilayah di NKRI berdasarkan kewenangan yang diberikan pemerintah pusat. Pertama, daerah otonom, ialah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu dan berwenang mengatur dan mengurus sendiri kepentinan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam Ikatan Negara RI. Yang kedua, wilayah administrasi, ialah wilayah kerja Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat.44
Di dalam otonomi, hubungan kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah berkaitan dengan cara pembagian urusan penyelenggaraan pemerintahan atau cara menentukan urusan rumah tangga daerah. Cara penentuan ini akan mencerminkan suatu bentuk otonomi terbatas atau otonomi luas. Dapat digolongkan sebagai otonomi terbatas apabila , pertama, urusan-urusan rumah tangga daerah ditentukan secara kategoris dan pengembangannya diatur dengan cara-cara tertentu pula. Kedua, apabila sistem supervisi dan pengawasan dilakukan sedemikian rupa, sehingga daerah otonom kehilangan kemandirian untuk menentukan secara bebas cara-cara mengatur dan mengurus rumah tangga daerahnya. Ketiga, sistem hubungan keuangan antara pusat dan daerah yang menimbulkan hal-hal seperti keterbatasan kemampuan keuangan asli daerah yang akan membatasi ruang gerak otonomi daerah. Sedangkan otonomi luas biasanya bertolak dari prinsip semua urusan pemerintahan menjadi urusan rumah tangga daerah, kecuali yang ditentukan sebagai urusan pusat.45
44 Ibid.
45 Huda, Ni‟ Matul, 2015. Op. Cit. Hal. 47
Berdasarkan pembagian urusan pemerintahan antara pusat dan daerah, dapat disimpulkan bahwa otonomi daerah di Indonesia mencerminkan bentuk otonomi luas. Urusan Pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintahan pusat meliputi politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, dan agama.46 Selain dari keenam urusan ini merupakan urusan pemerintahan daerah.