• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan

3. Otonomi Desa

Istilah otonomi berasal dari penggalan dua kata bahasa Yunani, yakni autos yang berarti sendiri dan nomos yang berarti undang-undang. Otonomi bermakna membuat perundang-undangan sendiri (zelfwetgeving). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, otonomi berarti pemerintahan sendiri.47 Dalam perkembangannya, konsepsi otonomi selain mengandung arti zelfwetgeving (membuat perundangan-undangan sendiri), juga mencakup zelfbestuur (pemerintahan sendiri).48

Desa telah ada sejak sebelum negara Kolonial masuk ke wilayah nusantara. Perkembangan desa dimulai dari adanya pemimpin dengan pengaruh besar yang mampu menggerakkan orang-rang menjadi pengikutnya. Kemudian pemimpin dan pengikutnya membangun pemukiman dengan membuka hutan atau lahan kosong. Wilayah inilah yang disebut desa. Umumnya lahan yang dipilih adalah lahan yang mendukung untuk bertahan hidup seperti tanah yang subur,

46 Pasal 10 UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

47 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi Online, http://kbbi.web.id/otonomi, yang diakses pada tanggal 04 Maret 2017, pukul 14.40.

48 Huda, Ni‟matul, 2015, Op.Cit hal.46-47

terdapat sumber mata air, berpotensi sebagai mata pencaharian dan sumber pembiayaan masyarakat.49

Para penduduk desa berdasarkan inisiatif sendiri tanpa campur tangan dari pihak manapun mengatur dan mengurus dirinya sendiri dengan mengembangkan sistem kelembagaan sendiri sehingga mampu mengatasi masalah sehari-hari seperti memenuhi kebutuhan sehari-hari, menyelesaikan sengketa antara rakyat desa, memilih pemimpin, membuat dan menegakkan aturan, dsb. Komunitas ini kemudian menjelma sebagai organisasi komunitas lokal yang mempunyai batas-batas wilayah, dihuni oleh sejumlah penduduk, dan mempunyai adat istiadat untuk mengelola dirinya sendiri, atau disebut sebagai self-governing community. Salah satu ciri self-governing community dalam desa adalah adanya hukum adat yang mengatur masalah pemerintahan, pengelolaan sumberdaya, hubungan sosial, dll, yang pada prinsipnya hukum adat dimaksudkan untuk menjaga keberlanjutan hubungan antar manusia dan hubungan antara manusia dengan alam dan Tuhan.50

Van Vollenhoven dalam bukunya “Staatsrecht Overzee” memperkuat bukti keberadaan desa yang menjalankan otonomi berdasarkan adat istiadat dan sistem kelembagaan dan budaya masyarakat setempat. Dalam buku tersebut dikatakan :

“Ketika sebuah kapal berbendera tiga warna masuk daerah Indonesia pada tahun 1596, daerah itu dalam arti kata Hukum Tatanegara, tidakla merupakan sebidang “tanah kosong dan tandus tidak tergarap”. Daerah itu penuh padat dengan lembaga-lembaga pengaturan masyarakat dan pemerintah, yang dikuasai oleh atau berkekuasaan atas suku-suku bangsa,

49 Nurcholis, Hanif, 2011, Op.Cit. 9-11.

50 Ibid. Hal 11.

kesatuan perkampungan, republik-republik dan kerajaan-kerajaan. Hanya sifat kesatuan sama sekali tidak ada meskipun negara Majapahit dahulu tumbuh dengan kokohnya dan memegang pimpinan yang kuat, dan yang terdapat adalah justru suatu hukum tata negara Asia Timur yang jalin berjalin, dan tetap bersifat asli, walaupun penduduknya banyak terpengaruh oleh kebudayaan Hindu dan Islam.”51

Dalam perkembangan selanjutnya, pemerintahan kolonial memformalkan bentuk desa yang pada awalnya sebagai self-governing community, menjadi kesatuan masyarakat hukum dengan membentuk berbagai peraturan di bidang politik, ekonomi dan sosial untuk kepentingan kolonial belanda. Pemerintah kolonial belanda secara formal mengakui dan menghormati adat istiadat dan tradisi hukum adat yang berlaku. Namun, semua tradisi hukum adat itu hanya dapat digunakan sebagai landasan hukum sepanjang tidak bertentangan dengan sistem dan kepentingan kolonial.52 Beberapa peraturan yang pernah dikeluarkan pemerintah kolonial adalah53 :

a. Indische Staatsregeling, khususnya Pasal 128 ayat (1) sampai (6);

b. Inlandsche Gementee Ordonantie Java en Modoera, disingkat dengan nama I.G.O. dengan segala perubahannya;

c. Inakndsche Gementee Ordonanntie Buitengewesten, disingkat dengan nama I.G.O.B. dengan segala perubahannya;

d. Reglement op de verkiezing, de schorsing en het onslag van de hoofden der Inlandsche Gementeen op Java en Madoera dengan segala perubahannya;

e. Nieuwe regelen omtrent de splitsing en samenvoeging van desa op Java en Madoera met uitzondering van de Vorstenlanden;

51 Huda, Ni‟matul, 2015, Op.Cit. Hal 2

52 Asshiddiqie, Jimly, Op. Cit. Hal 344-345

53 Huda, Ni‟matul, 2015, Op.Cit. Hal 45

f. Herziene Indonesische Reglemet, disingkat H.I.R atau Regelemen Indonesia diperbarui, disingkat R.I.B;

g. Dan berbagai Ordonansi Desa Bumiputera di berbagai daerah, yakni, di Sumatera Barat, Bangka dan daerah-daerah taklukannya, Palembang, Lampung, Tapanuli, Ambon, Belitung, Kalimantan Selatan dan Timur, Bengkulu, dan Manado/Minahasa.

Berbagai peraturan tersebut mencerminkan tiga sifat utama dari kebijakan pemerintah kolonial Belanda dalam hal pengaturan pemerintahan desa. yang pertama, peraturan tersebut hampir tidak memberikan sesuatu yang baru pada penyelenggaraan pemerintahan desa bumiputera, melainkan sifatnya hanya memberikan pengesahan terhadap hal-hal yang sudah ada dan berlaku. Kedua, Peraturan-peraturan tersebut tidak bermaksud membuat desa semakin maju, melainkan sebagai dalih bahwa pemerintah kolonia Belanda menghormati hukum adat dan kebiasaan adat istiadat.54

Sifat yang ketiga, peraturan-peraturan yang dibuat, ditetapkan secara khusus untuk daerah-daerah tertentu yang berbeda-beda satu dengan yang lain.

Dengan demikian, keragaman dan perbedaan tersebut tetap terpelihara dan masing-masing kelompok masyarakat daerah terdorong untuk membanggakan daerahnya dan berorientasi kepada kepentingan kelompok masyarakatnya sendiri.

54 Ibid. Hal. 45-46

Sifat ketiga ini membuat keaslian desa sebagai masyarakat hukum dengan adat-istiadatnya tetap dijaga.55

Setelah masa kolonialisme berakhir, perjalanan desa berlanjut ke perdebatan konstitusi oleh para founding parents. Perdebatan tersebut pada akhirnya menghasilkan rumusan penjelasan pasal 18 UUD 1945 (sebelum amandemen). Bunyi rumusan tersebut antara lain :

“Dalam teritori Negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 zelfbesturendelandchappen (daerah-daerah swapraja) dan volksgetneenschappen, seperti desa di Jawa dan Bali, nagari di Minangkabau, dusun dan marga di Palembang dan sebagainya. Daerah-daerah itu mempunyai susunan asli, dan oleh karenanya dapat dianggap sebagai daerah istimewa.”

Terdapat 2 (dua) konsep organisasi berdasarkan ketentuan ini, yaitu, pertama, daerah-daerah swapraja atau “zelfbesturende landchappen” (self governing community) merupakan konsep mengenai pemerintahan desa atau

„dorp‟. Kedua, mengenai „volksgemeenschappen‟ atau „Inlandsgemente‟

merupakan konsep masyarakat hukum adat, seperti nagari (Sumatera Barat) dan Marga (Sumatera Selatan).56

Sesudah perubahan kedua UUD 1945 pada tahun 2000, konsepsi tentang kesatuan masyarakat hukum adat diadopsikan ke dalam rumusan pasal 18B ayat (2) UUD NRI 1945, sedangkan istilah desa tidak disebut sama sekali melainkan diatur lebih lanjut dalam UU Desa. Berdasarkan UUD NRI 1945, negara menyatakan dan mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat

55 Ibid. Hal. 46

56 Asshiddiqie, Jimly, Op. Cit. Hal 354

beserta hak tradisionalnya dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pasal 18B ayat (2) UUD NRI 1945 menyatakan :

“Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.”

Terhadap ketentuan ini, Jimly Asshiddiqie berpendapat :

”Dari rumusan pasal 18B ayat (2) UUD 1945 tersebut kita mengetahui, (i) bahwa negara mengakui keberadaan masyarakat hukum adat memang sudah ada sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia didirikan dan UUD 1945 disahkan; (ii) Kesatuan masyarakat hukum adat yang diakui itu haruslah terbukti masih hidup; (iii) Pengakuan itu dapat berubah dinamis mengikuti perkembangan masyarakat dalam arti perkembangan zaman dimana perasaan kemanusiaan dan tingkat peradaban tumbuh dan berkembang sedemikian rupa sehingga pengakuan atas keberadaan kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya itu juga harus disesuaikan dengan kebutuhan menurut ruang dan waktunya yang dinamis itu; (iv) Pengakuan itu juga tidak boleh bertentangan dengan prinsip dan kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia, misalnya, di daerah perbatasan jangan sampai pengakuan ini dapat berdampak negatif kepada semangat persatuan bangsa dan integritas wilayah NKRI karena wilayah hukum adat yang bersangkutan melampaui batas wilayah hukum teritorial NKRI; dan (v) Bahwa syarat dan prosedur pengakuan terhadap kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya itu harus diatur dengan undang ataupun dalam pelbagai undang-undang lain yang terkait.”57

Setelah berlakunya UU Desa, jenis desa dikategorikan menjadi 2 (dua), yaitu desa biasa dan desa adat. Desa biasa atau yang disebut dengan nama lain mempunyai karakteristik yang berlaku umum untuk seluruh Indonesia, sedangkan Desa Adat atau yang disebut dengan nama lain mempunyai karakteristik yang berbeda dari Desa pada umumnya, terutama karena kuatnya pengaruh adat

57 Ibid. Hal 355

terhadap sistem pemerintahan lokal, pengelolaan sumber daya lokal, dan kehidupan sosial budaya masyarakat Desa.58

Dijelaskan dalam Penjelasan Umum UU Desa, bahwa Desa Adat pada prinsipnya merupakan warisan organisasi kepemerintahan masyarakat lokal yang dipelihara secara turun-temurun yang tetap diakui dan diperjuangkan oleh pemimpin dan masyarakat Desa Adat agar dapat berfungsi mengembangkan kesejahteraan dan identitas sosial budaya lokal. Desa Adat memiliki hak asal usul yang lebih dominan daripada hak asal usul Desa sejak Desa Adat itu lahir sebagai komunitas asli yang ada di tengah masyarakat.59 Desa Adat merupakan sebuah kesatuan masyarakat hukum adat yang secara historis mempunyai batas wilayah dan identitas budaya yang terbentuk atas dasar teritorial yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat Desa berdasarkan hak asal usul.

Pada dasarnya kesatuan masyarakat hukum adat terbentuk berdasarkan tiga prinsip dasar, yaitu genealogis60, teritorial61, dan/atau gabungan genealogis dengan teritorial. Yang diatur dalam UU Desa mengenai Desa Adat adalah kesatuan masyarakat hukum adat yang merupakan gabungan antara genealogis dan teritorial.

Lebih lanjut dalam Penjelasan Umum UU Desa, bahwa negara mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya

58 Penjelasan Umum UU Desa

59 Penjelasan Umum UU Desa

60 Nurcholis, Hanif, 2011, Op.Cit Hal. 14. yang dimaksud prinsip genealogis adalah masyarakat hukum yang terbentuk karena merasa sebagai orang yang berasal dari satu keturunan/trah. Dalam masyarakat hukum ini orang-orang yang menjadi komponennya berasal dari satu keturunan, sehingga rasa keterikatan timbul karena faktor keturunan.

61 Ibid. yang dimaksud prinsip teritorial adalah masyarakat hukum yang terbentuk karena adanya rasa keterikatan orang dengan wilayah yang ditempati. Unsur menyatikan orang-orang tersebut adalah teritori atau wilayah yang ditempati.

sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. Implementasi dari kesatuan masyarakat hukum adat tersebut telah ada dan hidup di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, seperti huta/nagori di Sumatera Utara, gampong di Aceh, nagari di Minangkabau, marga di Sumatera bagian selatan, tiuh atau pekon di Lampung, desa pakraman/desa adat di Bali, lembang di Toraja, banua dan wanua di Kalimantan, dan negeri di Maluku.

Penetapan Desa Adat untuk pertama kalinya berpedoman pada ketentuan khusus sebagaimana diatur dalam Bab XIII UU Desa. Pembentukan Desa Adat yang baru berpedoman pada ketentuan sebagaimana diatur dalam Bab III UU Desa.