• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. Internet dan Religiositas Umat

3. Otoritas Religius: Kabur dan Tersebar

Internet menawarkan prinsip kesetaraan di tengah dunia yang sarat akan hierarki struktur dan tawar menawar kekuasaan. Semua orang yang memiliki konektivitas internet tentu memiliki akses penuh untuk masuk dan menjelajahi dunia maya yang tanpa batas ini. Mulai dari media sosial, surat kabar online, situs pemerintah, sampai kepada situs-situs dari kelompok-kelompok garis kiri di suatu wilayah dapat diakses dengan mudahnya. Dalam media sosial, semua orang yang memiliki akun Facebook dan Twitter adalah sama dan setara. Tidak ada lagi boss dan pekerja, semuanya adalah warga masyarakat dunia maya. Semuanya dapat

85 memiliki akses penuh terhadap akunnya masing-masing juga untuk mengunjungi akun yang lainnya, bahkan mengirimkan pesan atau berkomentar dalam halaman akun lainnya. Semua akun media sosial ibarat catatan harian terbuka yang dapat dilihat oleh semua orang. Walau juga penyedia layanan media sosial memberikan fasilitas privasi sehingga pemilik akun bisa membatasi siapa saja yang dapat berkunjung dan mencorat-coret halaman akunnya.

Menarik jika melihat hal ini dalam penggunaannya di gereja. Website dan media sosial gereja dapat diakses oleh siapa saja, bahkan dikomentari oleh siapa saja. Dalam hal ini, gereja pun menjadi terbuka sejelas-jelasnya bagi umatnya. Umat dapat dengan mudah mengetahui informasi seputar gereja dari berbagai sumber yang beredar di dalam internet, entah informasi yang sifatnya mendukung gereja, atau sebaliknya informasi yang menjatuhkan gereja. Situs yang dimiliki oleh gereja memberi kemungkinan bagi partisipasi interaktif umat. Misalnya saja, gereja memberi kemungkinan setiap orang yang ingin untuk berbicara langsung kepada gembala sidang dengan masuk ke dalam situs dan mengisi halaman permohonan doa atau konseling. Bahkan situs-situs tertentu menyediakan

halaman seperti ”surat kepada gembala” sehingga jemaat dapat langsung

berkomunikasi dengan gembalanya.

Jemaat pun dapat berinteraksi langsung dengan gembala sidangnya melalui media sosial sang gembala itu, entah dengan menulis di halaman akun Facebook dari sang gembala, atau dengan me-retweet setiap ‟kicauan‟ sang gembala di Twitter. Kesempatan-kesempatan yang diberikan ini tentu saja meruntuhkan hierarki struktural yang secara tegas dipelihara di dalam lembaga gereja. Jika di masa lalu setiap orang yang ingin bertemu dengan kaum klerus

86 harus mempersiapkan diri terlebih dahulu, misalnya dengan berefleksi dan merenungi kesalahan dan pelanggaran yang telah dibuat, maka saat ini, para pendeta dapat dijumpai kapan saja dan dimana saja. Jika di masa lalu berkomunikasi dengan pendeta identik dengan memiliki masalah dan beban berat yang membutuhkan dukungan dan doa dari pendeta, maka saat ini komunikasi itu dapat dilakukan dalam segala kondisi, entah susah atau senang, entah pembicaraan serius atau sekadar bergurau dengan sang pendeta. Seorang gembala sidang dari sebuah megachurch di Jakarta, dalam akun Twitter-nya, terlihat saling berbalas komentar dengan pengikutnya mengenai pertandingan sepakbola yang sedang sedang disiarkan di televisi. Dukungan dan ledekan ringan bagi kedua kesebelasan pun keluar dari akun gembala dan pengikutnya ini sehingga tidak terlihat sama sekali perbedaan jabatan antara keduanya. Kenyataan berbeda penulis temui ketika melihat sang gembala sidang masuk ke dalam ruang ibadah untuk berkhotbah. Dalam ibadah yang dihadiri oleh ribuan orang itu, sang gembala mendapat pengawalan ketat dari para bodyguard demi menghindari jemaat yang hendak datang langsung kepadanya. Pemandangan a la kerajaan, di mana sang raja dikawal prajuritnya ketika berjalan, tentu saja bertolak belakang dengan kebebasan yang diberikan oleh internet yang memberikan kuasa bagi setiap orang untuk membangun kerajaannya sendiri, yaitu kerajaan virtual.

Fenomena mengutip khotbah pada saat ibadah pun menunjukkan bagaimana otoritas untuk memberitakan firman bukan lagi eksklusif milik gereja, melainkan juga umat. Saat umat mendengar firman, di saat yang sama juga umat memberitakan kembali firman itu. Proses reproduksi informasi pun terjadi antara pengkhotbah yang memproduksi (encoding) dan umat yang mendengarkan

87 (decoding). Umat kemudian memproduksi ulang informasi ini dengan framing sosio-kultural masing-masing, dan menyebarkan kembali informasi yang didengarnya. Bukan tidak mungkin terjadi distorsi dalam proses ini yang mengakibatkan bias makna. Sifat eklektik dari internet, yang mencampur fakta dan fiksi, kebenaran dan kebohongan, baik dan buruk, tampilan publik sesungguhnya semakin mendorong relativitas dari otoritas itu. Ketika sudah berada di ranah internet, gereja tidak lagi memiliki kontrol atas apa yang dinyatakan oleh umat, sekalipun bias dan tidak menyatakan kebenaran.3

Kebebasan ini memungkinkan munculnya komunitas-komunitas virtual yang berafiliasi dengan gereja. Misalnya muncul forum anak muda dari suatu gereja yang sama dan membahas problem anak muda Kristen dalam konteks perkotaan. Dalam perjalanannya, anggota yang bergabung semakin banyak dan terbuka bagi orang lain yang bukan anggota dari gereja itu sendiri. Dengan demikian pun percampuran ajaran menjadi tidak terhindarkan.

Hal yang menarik di sini adalah pengelola situs (web master/web administrator) pun menjadi orang yang, secara diam-diam, memiliki kekuasaan sama seperti sang gembala sidang. Secara langsung, para pengelola situs yang adalah para pekerja gereja melakukan framing terhadap konten dari situs gereja. Secara langsung mereka mengatur tampilan dari situs dan mengarahkan jemaat untuk memilih konten yang akan dilihat. Misalnya saja, tautan dan hyperlink yang dicantumkan dalam satu halaman akan menggiring seseorang untuk masuk ke halaman yang lainnya. Desain dari situs pun, secara tidak langsung, menunjukkan arah dari gereja ini. Misalnya saja, situs dari JPCC memiliki tampilan menarik dan

3

88 berkesan high-tech sehingga memberi kesan bahwa gereja ini adalah gereja yang dikhususkan bagi anak muda perkotaan yang akrab dengan kecanggihan teknologi. Sementara itu, GBI Glow FC mencantumkan banyak foto dari gembala sidangnya yang menampakkan bahwa sang gembala sidang adalah pusat dari semua aktivitas pelayanan GBI Glow FC. Bahkan dapat dikatakan bahwa gereja ini adalah tentang dirinya.

4. Identitas Virtual: Anonimitas, Multiplisitas, dan Avatar.

Dalam website GBI Glow FC, tersedia sebuah layanan live chat counseling antara pengunjung dengan pihak GBI Glow FC. Dengan layanan ini, para pengunjung dapat melakukan konseling langsung dengan pihak GBI Glow FC dalam 24 jam. Percakapan dilakukan tanpa tatap muka, tanpa berbicara dan mendengar, hanya dengan chatting yang difasilitasi oleh jaringan internet. Hal yang menarik adalah prinsip konseling ini adalah anonim, yaitu masing-masing pihak, baik konseli dan konselor, tidak memperkenalkan diri dan menyebutkan identitas masing-masing. Pembicaraan akan berlangsung terus tanpa sesama pihak mengetahui identitas lawan bicaranya. Menurut pengakuan dari pengelola situs, anonim menjadi prosedur standar dalam live chat counseling. Mereka beralasan bahwa dengan anonim, konseli dapat lebih bebas untuk mengkisahkan banyak hal seputar permasalahan kehidupannya kepada konselor. Mereka menjadi lebih percaya diri dan tidak ragu untuk bercerita hal yang buruk bahkan aib yang telah dilakukannya. Sementara itu, pihak konselor pun menganonimkan dirinya dengan tujuan agar tidak terjadi hubungan yang lebih lanjut antara dirinya dengan konseli yang telah bercerita panjang lebar tentang masalahnya. Menurut penanggung

89 jawab IT dari GBI Glow FC, tak dapat dipungkiri bahwa ikatan emosional bisa saja terjadi ketika percakapan terjadi dan dapat berlanjut ke dalam kehidupan nyata dan dapat mengganggu proses konseling yang sesungguhnya. Ia

mengatakan, ”Seringkali terjadi bahwa pihak konseli merasa nyaman dengan

konselor tertentu yang memberikan jawaban-jawaban yang tepat dan menjadi jawaban atas permasalahan yang dihadapi oleh konseli. Beberapa kali terjadi, tentu saja bukan di gereja ini, si konseli mengetahui identitas konselornya sehingga kemudian menghubungi si konselor terus menerus. Demikian juga sebaliknya bisa terjadi. Kalau sudah begini, biasanya ada rasa sayang yang dapat menjerumuskan keduanya ke dalam perzinahan. Oleh karena itu, kita melarang setidaknya si konselor untuk menyebutkan identitasnya pada saat live chat counseling. Itu sudah jelas tercatat dalam SOP layanan ini.

Identitas yang tersembunyi seperti ini menjadi sebuah konsekuensi baru yang muncul dalam zaman internet. Konektivitas yang terjadi di ruang maya memungkinkan setiap orang untuk menyembunyikan identitasnya. Jika dilihat dalam berbagai forum di internet, termasuk forum-forum Kristen, banyak pengguna yang masuk dan aktif di dalam ruang itu menggunakan nama samaran yang bertujuan memalsukan identitasnya. Dengan identitas yang kabur ini, mereka justru menjadi sangat aktif terlibat dalam pembicaraan-pembicaraan teologis.

Fenomena lainnya yang penulis jumpai adalah banyaknya orang yang mengikuti akun sosial media dari seorang gembala sidang, tetapi ia bukan jemaat di gereja tempat gembala sidang memimpin. Penulis bertanya kepada seorang informan penulis mengenai hal ini dan menemukan bahwa orang-orang ini telah

90 memiliki jemaatnya masing-masing dan tidak ingin bermigrasi ke gereja lain walau ia sangat mengagumi sang gembala sidang. Ia mengatakan bahwa ia selalu mengikuti khotbah dan siraman rohani dari pendeta ini setiap harinya karena ia merasa bahwa perkataan dari pendeta ini dapat menguatkan dirinya.4

Menurut Anthony Giddens, identitas merupakan sesuatu yang lunak dan dapat dibentuk, bukannya sesuatu yang pasti.5 Identitas ini mengalami pembentukan dalam situasi dan konteks sosial yang berbeda-beda. Oleh karena itu, dalam dunia komunikasi yang diperantarai oleh internet, sangat mungkin ditemukan identitas yang berlapis dari seseorang, bahkan juga kedirian yang berlapis.6 Para pengguna internet dapat berada di beberapa tempat sekaligus dalam konteks yang berbeda di waktu yang bersamaan. Identitas pun terkonstruksi dalam permainan masuk dan keluar dari satu situs ke situs lainnya yang berbeda satu sama lainnya.

Dalam pengamatan penulis, multi identitas ini menyebabkan terjadinya percampuran teologis dalam diri jemaat. Di satu sisi, seorang jemaat adalah seorang protestan mainstream, tetapi di sisi lainnya ia juga mengakui ajaran- ajaran yang hanya ada di dalam gereja-gereja beraliran Pentakostal-Karismatik, misalnya mujizat melalui penumpangan tangan dan bahasa Roh (glossolalia). Seorang informan penulis berkata bahwa dirinya sering mengikuti akun media sosial dari sebuah gereja dan mengikuti media sosial dari sang gembala sidang yang menyebabkan dia merasa terberkati dan terikat dengan ajaran yang

4

Wawancara dengan Pendeta Julius Anthony, wakil gembala sidang GBI Glow Fellowship Centre, pada bulan Februari 2012.

5 Anthony Giddens, Modernity and Self Identity. Self and Society in The Late Modern Age. (Stanford: Stanford University Press, 1991).

6 Felix Wilfred, “Religion and Theology in Information Society”, dalam Jeevadhara Vol.

91 disampaikan melalui media sosial dan gembala sidang dari gereja itu. Dari perjumpaan di media sosial, ia mulai ”jajan” ke gereja Pentakostal Karismatik yang dirasa memberikan jawaban bagi persoalan hidupnya. Ia pun terbelah antara bertahan dalam Protestantisme Arus Utama yang selama ini ia pegang, dan di satu sisi menemukan jawaban dalam mujizat a la Pentakostal Karismatik. Sang informan tidak dapat meninggalkan keanggotaan dirinya di gereja Protestan itu, tetapi juga tidak ingin ketinggalan dalam fenomena ”kebangkitan rohani” yang ditunjukkan oleh para kelompok Pentakostal Karismatik. Internet dan media sosial akhirnya membentuk multi-identitas secara teologis bagi para pelintas batas struktural teologis di dalam dunia maya.

Tidak jarang, para peselancar di dunia maya ini tidak menggunakan identitas yang sesungguhnya ketika berada di dalam jaringan. Mereka menggunakan identitas palsu dan menciptakan pseudonim dalam bentuk akun media sosial. Hal ini terlihat dari beberapa akun media sosial yang menaruh nama akun yang tidak terlihat seperti nama yang sebenarnya (pseudonim). Dengan alasan kenyamanan dan privasi, mereka menggunakan akun palsu, atau tidak sepenuhnya benar, dan menggunakan nama samaran dalam akunnya. Bisa jadi nama yang diganti, atau mereka menggunakan foto profil orang lain atau lambang yang tidak menunjukkan diri mereka yang sebenarnya.

Sherly Turkle, seperti dikutip oleh Lorne L. Dawson, mengatakan bahwa internet memiliki fungsi terapetik, yaitu menawarkan setiap orang untuk melakukan ”moratorium” segala hal yang membuat mereka tertekan dan depresi. Ia mengatakan bahwa internet dapat menjadi ”outlet” di mana setiap orang bisa menangani masalah pribadinya dengan cara yang lebih produktif, serta sekaligus

92 menjadi ruang bagi pertumbuhan seseorang.7 ”Identitas kedua” yang digunakan para peselancar dunia maya dapat juga dilihat dalam sudut pandang ini, yaitu sebagai upaya rekreasi dengan menarik diri dan mengenakan identitas lainnya selama menyusuri situs demi situs internet, tanpa perlu takut batasan-batasan yang muncul jika mereka menggunakan identitas asli mereka.

5. Religiositas Online, Spiritualitas Konsumsi, dan Budaya Instan

Ketika membaca situs dan media sosial berbasis internet yang digunakan oleh gereja-gereja ini, penulis melihat kesejajaran antara wajah dan tampilan teknologi yang digunakan dengan teologi serta ideologi yang dibangun oleh gereja-gereja ini. Secara implisit, desain situs-situs gereja yang menarik dan dipenuhi oleh gambar memperlihatkan kompleksitas teknologi yang digunakan. Wallpaper yang menarik dan dapat berganti-ganti dengan sendirinya, tautan link yang banyak menghiasi halaman, serta banyaknya halaman dalam sebuah situs menjadi tanda bahwa dibutuhkan teknologi terdepan untuk membuatnya. Hal ini diakui sendiri oleh penanggung jawab IT dari GBI Glow FC yang mengatakan bahwa untuk membuat website yang terlihat menarik dengan teknologi visual terkini, maka dibutuhkan sumber daya yang memadai untuk mengkreasikannya. Selain itu, website dan media sosial yang menarik harus dipenuhi oleh gambar dan video yang menarik, yang harus dibuat dengan teknologi multimedia yang menarik. Dengan kata lain, jika ingin terlihat baik di dunia internet, maka gereja itu juga harus mendekorasi ruangan ibadahnya dengan tampilan multimedia yang

7Lorne L. dawson “Religion and The Internet: Presence, Problems, and Prospects” dalam

Peter Antes, Armin W. Geertz & Randi R. Warne (ed.). New Approaches to The Study of Religion

Volume 1: Regional, Critical and Historical Approaches, (New York: Walter de Gruyter, 2004)

93 menarik. Menurutnya, gereja harus berani untuk membayar mahal untuk hal ini. Dengan kata lain, gereja harus mau berinvestasi agar dirinya dapat dikenal dan menarik banyak orang untuk datang beribadah di tempatnya.

Dari sini terlihat jelas bahwa situs dan media sosial yang dimiliki oleh gereja-gereja besar yang mampu membiayai tenaga ahli desain dan informatika yang akan mengerjakannya. Informan penulis di atas adalah seorang sarjana desain dan teknologi komputer. Sebelum menempati posisi saat ini, ia terlebih dahulu bekerja di sebuah perusahaan swasta yang mampu memberikan gaji besar. Suatu saat, ia ditawari oleh pimpinan GBI Glow FC untuk menempati posisi ini. Dengan tawaran gaji yang hampir setara dengan yang diberikan oleh perusahaan swasta tempat ia bekerja, serta tambahan label ”pelayanan”, maka ia menerimanya. Hasilnya, gereja memiliki tenaga ahli khusus untuk membidangi internet dan multimedia dalam gerejanya.

Pembelanjaan gereja yang demikian besar tentu saja perlu didukung oleh pendapatan yang seimbang. Pendapatan gereja tentu saja didapatkan dari persembahan syukur yang diberikan oleh jemaat di setiap ibadah Minggu. Semakin banyak jumlah jemaat yang hadir dalam ibadah, maka semakin besar pula peluang untuk mendapatkan persembahan dalam jumlah yang besar setiap minggunya. Logika ”siapa yang menabur banyak akan menuai banyak” pun diberlakukan dalam kegiatan operasional gereja. Ketika gereja berbelanja banyak bagi kepentingan ibadah dan persekutuan demi kemuliaan Tuhan, maka niscaya Tuhan akan melipatgandakan pendapatannya.

Teologi ini berakar pada semangat teologi kesuksesan yang sungguh percaya bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan

94 dan Juruselamat akan mendapatkan berkat yang melimpah, termasuk dalam hal keuangan. Oleh karena itu, ”mengembalikan” berkat yang melimpah dalam bentuk persembahan dalam jumlah yang besar pun seolah menjadi kredo bagi jemaat-jemaat di gereja ini.

Secara eksplisit, kaitan antara religiositas online dengan spirit konsumsi pun terlihat dalam penggunaan gadget oleh jemaat di gereja-gereja ini. Gadget yang canggih sangat sering penulis jumpai ketika masuk dan ikut beribadah di dalam gereja-gereja ini. Terlihat jelas bahwa jemaat di gereja-gereja ini menggunakan gadget yang canggih. Di sepanjang ibadah, penulis menemukan banyak jemaat bermain dengan gadget-nya masing-masing. Hal yang menarik adalah kebutuhan untuk memiliki gadget yang canggih seolah dikampanyekan secara tidak langsung oleh gereja ini. Hanya gadget canggih yang masuk dalam kategori smartphone yang dapat digunakan melakukan berbagai jenis kegiatan, seperti bermain media sosial, mengambil foto dan video, berselancar dari website ke website, hingga membuat catatan khotbah. Ketika media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram, YouTube, dan lain sebagainya telah menjadi media komunikasi di dalam gereja, maka memiliki smartphone bukan lagi menjadi pilihan, melainkan keharusan. Jemaat yang tadinya tidak memiliki smartphone pun akan ikut membelinya supaya tidak tertinggal informasi.8 Bahkan ada sebuah tagline iklan dari provider selular terbesar di Indonesia yang mengatakan internet

8

Penulis membandingkan penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center terhadap penggunaan smartphone oleh penduduk Amerika Serikat. Penelitian yang dilakukan pada Januari 2014 menunjukkan bahwa 58% dari total penduduk AS telah menggunakan smartphone. Pengguna terbesarnya adalah kelompok umur 18-29 tahun, yaitu 83%. Demikian juga penduduk urban yang menggunakan smartphone adalah sebesar 64% dari jumlah penduduk perkotaan. Walau tidak tepat jika dibandingkan dengan konteks Indonesia, tetapi data ini sekiranya dapat menunjukkan bagaimana pengguna smartphone yang jumlahnya semakin besar, terutama di kota-kota besar. Sumber: http://www.pewinternet.org/data-trend/mobile/cell-phone-and-smartphone-ownership- demographics/ diakses pada 25 Juli 2014.

95 yang sukar akan menjadi mudah dioperasikan jika memiliki handphone yang canggih (smartphone).” Smartphone yang berharga mahal pun menjadi kebutuhan, baik bagi konektivitas internet yang lebih baik, pun sebagai penanda sosial seseorang. Ada orang-orang yang akan menjadi orang yang akan melihat dan merasakan berbagai hal yang dapat

Dengan smartphone, jemaat pun tidak perlu membawa Alkitab. Mereka cukup menggunakan aplikasi Alkitab Online yang ada di smartphone-nya. Cukup membuka Alkitab, mencari kitab, pasal, serta ayat yang akan dibaca, dan menekan tombol ”cari”, maka dengan segera bacaan Alkitab akan terbuka. Seorang informan penulis mengatakan bahwa penggunaan Alkitab Online dalam gadget sudah menjadi trend di gereja-gereja saat ini. Tidak hanya jemaat yang menggunakan Alkitab Online, tetapi juga para pendeta yang berkhotbah. Seorang informan penulis lainnya mengatakan bahwa ia lebih merasa nyaman untuk menggunakan Alkitab dalam bentuk buku. Hanya saja, menurut pengakuannya, sudah setahun belakangan ini ia hampir selalu lupa untuk membawa Alkitab, sehingga kerap menggunakan Alkitab yang ”tersimpan” di smartphone-nya. Sebuah ironi terlihat, di satu sisi kurang nyaman, tetapi di sisi lain butuh sesuatu yang instan dan praktis.

Praktikalitas, yang menjadi spirit dari internet, juga menjadi kunci bagi pengembangan gereja-gereja saat ini. Di dalam ibadah-ibadahnya, gereja menyodorkan hal-hal praktis bagi umat yang bertujuan membuat umat nyaman. Misalnya, ketiga gereja di atas menggunakan layar dan proyektor yang memandu jemaat di sepanjang ibadah untuk bernyanyi memuji Tuhan dan menikmati khotbah. Lirik lagu sudah disediakan di dalam layar, sehingga umat tidak perlu

96 lagi susah-susah menghafalkan lirik lagu-lagu yang sedianya dinyanyikan di dalam ibadah. Khotbah pun tidak lagi hanya didengar, tetapi juga dilihat karena tampilan visual khotbah dapat membantu jemaat untuk mengikuti dan mengingat khotbah dengan lebih baik, sehingga tidak perlu lagi terpaku pada apa yang dikumandangkan. Jika jemaat tidak sempat melihat Warta Jemaat yang disampaikan pada saat ibadah melalui layar proyektor, maka jemaat dapat membuka YouTube Channel dari gereja itu dan menontonnya kembali, bahkan berkali-kali. Contoh praktis lainnya adalah ketika JPCC, melalui website-nya, memberikan kemudahan kepada jemaat yang ingin mendaftar untuk mengikuti kegiatan yang dilangsungkan oleh pihak gereja. Jemaat cukup masuk ke dalam akun pribadi yang telah terdaftar di gereja dan mengklik. Maka ia pun sudah terdaftar untuk mengikuti kegiatan itu. Betapa praktisnya.

Lokasi gereja yang sebagian besar berada di pusat perbelanjaan juga semakin mempertegas tumbuhnya spiritualitas konsumsi di gereja-gereja ini. Norita Sembiring menyimpulkan bahwa gereja yang berada di mal dan kegiatan konsumsi saling mempengaruhi satu sama lain, terjadi ketegangan berupa duel nilai antara keduanya, tetapi di sisi lain juga tercipta duet mutual yang sama-sama memajukan keduanya.9 Setiap jemaat yang datang beribadah dimanjakan dengan pemandangan barang-barang di sepanjang pusat perbelanjaan yang tentu dapat dibeli oleh mereka. Umat yang beribadah disuguhkan firman Tuhan yang akan

Dokumen terkait