I II III IV V VI VII VIII 1 Tekstur tanah (t)
OUTPUT TIDAK DIKEHENDAKI : 1.Persepsi Negatif Masyarakat,
2. Pelanggaran Perda Tata Ruang, 3. Penolakan Masyarakat, 4. Nilai
pohon rendah
117 Gambar 59 adalah diagram I/O yang menggambarkan aliran input ke model, yaitu input tidak terkontrol (lahan terbangun/alih fungsi lahan) dan input terkontrol (persepsi masyarakat, pentaatan regulasi dan kegiatan penghijauan). Jenis input lain yang juga mempengaruhi perilaku model adalah input lingkungan berupa kebijakan pemerintah dalam bentuk regulasi/peraturan perundangan. Selanjutnya input tersebut diproses ke sistem model menghasilkan output yang dikehendaki (terlindunginya kawasan sempadan/tidak ada pembangunan permukiman dan terbentuknya green corridor secara masif, sehingga nilai pohon di kawasan ini meningkat). Namun juga menghasilkan output yang tidak dikehendaki (persepsi negatif masyarakat terhadap kinerja pemerintah, pelanggaran kebijakan/peraturan perundangan, penolakan masyarakat, okupasi masif dengan tumbuhnya permukiman, sehingga nilai pohon di kawasan ini menurun). Output negatif ini dapat dijadikan sebagai dasar umpan balik
(feedback) ke system untuk mendukung berbagai kebijakan dan program
pemerintah (pemanfaatan lahan berbasis ekologi lanskap, penghijauan, peraturan zonasi, dan pentaatan tata ruang) yang selanjutnya menjadi bagian dari input terkontrol.
Sedangkan Diagram Sebab-Akibat (Causal Loop) dalam kerangka sistem dinamik digambarkan pada Gambar 60. Pada gambar tersebut tampak adanya aliran komponen sistem yang saling berinteraksi menunjukkan hubungan sebab- akibat dan saling mempengaruhi satu sama lainnya. Okupasi lahan merupakan permasalahan utama di kawasan ini, di mana akibat lemahnya penegakan hukum oleh pemerintah menyebabkan lahan permukiman berkembang pesat dan di pihak lain menurunkan luasan lahan terbuka hijau yang memang secara ekosistem sangat dibutuhkan di kawasan sempadan sungai ini sebagai kawasan perlindungan setempat (Keputusan Presiden No. 32/1990). Okupasi lahan secara teoritis dapat dikendalikan oleh pemerintah melalui pentaatan regulasi dan program kampanye, serta program penghijauan. Dengan demikian seyogyanya pertumbuhan permukiman liar di wilayah ini dapat ditekan.
118 Lahan Permukiman Nilai Pohon Jumlah Pohon Tanaman Lindung Tanaman Budidaya + + + + RTH Jarang Klas Kemampuan V-VIII Klas Kemampuan I-IV Permukiman Jarang Permukiman Sedang Permukiman Padat + + RTH Rapat RTH Sedang + + + + + + + + - + + + + Persepsi Masyarakat Pentaatan Kebijakan Pemkot Kinerja Pemkot Asuransi Pohon Insentif Pemeliharaan Program Penghijauan Denda Kerusakan Pohon Preferensi Masyarakat Jenis Pohon Terpilih Tanaman Endogenous + Lahan Terbuka - + + + + + + + + + - - + + + + + + + + Okupasi Lahan + + Partisipasi Masyarakat +
Gambar 60. Diagram Causal Loop
Dengan kondisi lahan yang ada di areal penelitian, baik lahan permukiman maupun lahan terbuka, khususnya yang memiliki klas kemampuan lahan sedang- tinggi (klas I-IV), maka lahan tersebut berpotensi untuk ditanami jenis tanaman terpilih/tanaman budidaya yang telah mempertimbangkan sifat endogenous tanaman dan memang menjadi pilihan masyarakat). Dengan demikian terjadi peningkatan jumlah pohon, yang berasal dari penanaman swakarsa maupun program penghijauan oleh pemerintah. Peningkatan jumlah pohon yang ditanam dan pertumbuhan tanaman budidaya tersebut secara bertahap meningkatkan nilai pohon. Demikian pula dari tanaman lindung yang juga terus tumbuh yang diarahkan pada lahan marjinal (klas kemampuan lahan V-VI) juga menambah nilai pohon.
Dalam model ini turut diskenariokan besarnya nilai anggaran insentif pemeliharaan pohon dan nilai perlindungan pohon (asuransi pohon) berdasarkan proporsi nilai pohon, yang perlu disiapkan oleh pemerintah Kota Bogor melalui mekanisme APBD. Demikian pula telah diskenariokan proyeksi penerimaan denda terhadap perus/penebangan pohon yang mungkin terjadi di kawasan ini yang besarnya ditetapkan berdasarkan proporsi nilai pohon secara keseluruhan.
Secara umum konstruksi model dapat digambarkan pada Gambar 61. Model terdiri dari tiga sub-model, yaitu sub-model analisis lahan, sub-model sosial dan kebijakan serta sub-model nilai pohon. Sub-model nilai pohon meliputi komponen sub-model pertumbuhan pohon, pendugaan nilai pohon dan penghijauan sempadan sungai.
119
Gambar 61. Konstruksi Model Sistem Dinamik
Sub Model Analisis Lahan
Sub-model analisis lahan meliputi analisis dampak okupasi yang dipengaruhi oleh aspek sosial (pentaatan kebijakan dan persepsi masyarakat) yang cenderung kurang peduli terhadap kondisi lingkungan sempadan dan bahkan sering melakukan pelanggaran. Sub-model dinamik analisis lahan disajikan pada Gambar 62.
Land Analysis Sub Model
System Validation Luas Lahan Permukiman-S LP Lahan Permukiman Aktual LP AME LP Batas AME LP Luas Areal Penelitian Prosen Luas Lahan
Permukiman
Luas Lahan Permukiman Luas Lahan Terbuka
L-Kemamp-S-T
L-Kemamp_R F-Kemamp_R
Tubuh Air F-TA Aktual LT
AME LT
Batas AME-LT Lj-P
Gambar 62. Sub-Model dinamik analisis lahan
Keterkaitan parameter dalam model sebagaimana Tabel 51. Pada table tersebut tampak bahwa beberapa nilai parameter dijadikan sebagai input, di antaranya luas areal penelitian, fraksi luas lahan permukiman, fraksi pentaatan regulasi, fraksi persepsi masyarakat serta fraksi luas tubuh air.
Fraksi pentaatan tata ruang merupakan nilai awal yang diperoleh dari proporsi luas permukiman pada kawasan bantaran (15 m kanan-kiri sungai). Sedangkan nilai indeks persepsi masyarakat diperoleh dari kuesioner persepsi terhadap kinerja pemerintah dalam pengelolaan lingkungan pada skala cukup (skore 3).
120
Tabel 51. Analisis dampak okupasi lahan
No. Parameter Proses Keterangan
Nama Nilai Nama Formulasi
1 Luas Areal Penelitian 303,84 LP Lahan Permukiman 'Luas Lahan Permukiman-S'*'Lj- P'
Laju perubahan lahan permukiman 2 Prosen Luas Lahan Permukiman 0,55656 Luas Lahan Permukiman-S ('Luas Areal Penelitian'*'Prosen Luas Lahan Permukiman')
Luas lahan permukiman pada waktu t (Stock) 3 F-Pentaatan Tata Ruang 0,38 F-Kinerja Pemkot ('F-Pentaatan Tata Ruang'+'Persepsi Masyarakat')/2
Fraksi kinerja Pemkot yang dipengaruhi pentaatan RTRW & persepsi masyarakat 4 Persepsi Masyarakat 0,60 5 Lj-P (0,0102380601496- (0,0102380601496*' F-Kinerja Pemkot'))
Laju perubahan lahan yg dipengaruhi kinerja Pemkot 6 F-TA 0,113571736 Luas Lahan
Permukiman
MIN('Luas Lahan Permukiman-S';'Luas Areal Penelitian')
Luas lahan permukiman (estimated), di mana pertumbuhan hingga batas maksimum luas areal penelitian.
7 Tubuh Air 'Luas Areal
Penelitian'*'F-TA'
Luas tubuh air (ha)
Pada sub-model evaluasi lahan di antaranya juga menganalisis luas lahan yang memiliki klas kemampuan lahan II-IV dan klas V-VI, khususnya pada lahan terbuka. Fraksi lahan permukiman jarang, sedang dan padat dianalisis dari citra resolusi tinggi Quick bird tahun 2011, di mana diperoleh fraksi permukiman jarang 0,049, fraksi sedang 0,1536 dan fraksi padat 0,7975. Khususnya untuk fraksi jarang dan sedang formulasi model menggunakan ‘fungsi Max’ untuk membatasi agar pertumbuhan tidak melampaui lahan tersedia. Fraksi lahan terbuka jarang 0,2792, fraksi sedang 0,3051 dan fraksi rapat 0,4157. Dengan tujuan yang sama untuk membatasi agar nilai-nilainya tidak melampaui ketersediaan lahan yang ada, maka digunakan fungsi Max (Tabel 52).
Tabel 52. Sub-Model analisis lahan
No. Parameter Proses Keterangan
Nama Nilai Nama Formulasi 1 F-Kemamp_R 0,0482 Luas Lahan
Terbuka
MAX(('Luas Areal Penelitian'-'Luas Lahan Permukiman'-'Tubuh Air');0)
Luas lahan terbuka (estimated), di mana pertumbuhan/pengurangan lahan tidak negatif (hingga lahan tidak tersedia lagi)
2 L-Kemamp-S-
T
Luas Lahan Terbuka'-'L- Kemamp_R'
Lahan dengan kemampuan sedang-tinggi (Klas I-IV) 3 L-Kemamp_R 'Luas Lahan
Terbuka'*'F- Kemamp_R'
Lahan dengan kemampuan rendah (V-VIII)
4 FPJ 0,049 LPJ MAX(FPJ*'Luas Lahan Permukiman'-(0,2);0)
Lahan permukiman jarang, di mana penurunan lahan tidak negatif (hingga lahan tidak tersedia lagi) 5 FPP 0,7975 LPP FPP*'Luas Lahan
Permukiman'
Lahan permukiman padat (kerapatan bangunan)
121 (lanjutan Tabel52)
No.
Parameter Proses
Keterangan Nama Nilai Nama Formulasi
6 FPS 0,1536 LPS MAX(FPS*'Luas Lahan Permukiman'-(0,8);0)
tidak negatif (hingga lahan tidak tersedia lagi) 7 F_Lahan Terbuka Jarang 0,2792 LTJ MAX('F_Lahan Terbuka Jarang'*'L-Kemamp-S- T';0)
Lahan terbuka jarang (kerapatan tanaman), di mana penurunan lahan tidak negatif (hingga lahan tidak tersedia lagi) 8 F_Lahan Terbuka Rapat 0,3051 LTR 'F_Lahan Terbuka Rapat'*'L-Kemamp-S-T'
lahan terbuka rapat
9 F_Lahan Terbuka Sedang 0,4157 LTS MAX('F_Lahan Terbuka Sedang'*'L-Kemamp-S- T';0)
Lahan terbuka sedang, di mana penurunan lahan tidak negatif (hingga lahan tidak tersedia lagi)
Sub-Model Nilai Pohon
Visualisasi model dinamik untuk nilai pohon di kawasan permukiman jarang disajikan pada Gambar 63. Pada konstruksi model ini tampak bahwa pada lahan permukiman jarang, masih terdapat beberapa jenis pohon yang ditanam di pekarangannya. Setiap jenis tanaman memiliki fraksi luas areal (FPJ) dan nilai pohon per hektarnya, sehingga diperoleh nilai pohon berdasarkan luas area masing-masing. LPJ FPJ NPJ_Ramb PJ_Ramb-ha LPJ-Ramb FPJ_Ramb NPJ-Nangka PJ-Nangka-ha LPJ-Nangka FPJ-Nangka NPJ-Jambu PJ-Jambu-ha LPJ-Jambu FPJ-Jambu NPJ-Chery PJ-Chery-ha LPJ-Chery FPJ-Chery NPJ-Mangga PJ-Mangga-ha LPJ-Mangga FPJ-Mangga NPJ-Angsana PJ-Angsana-ha LPJ-Angsana FPJ-Angsana NPJ_Cemara PJ_Cemara-ha LPJ-Cemara FPJ_Cemara NPJ-Duku PJ-Duku-ha LPJ-Duku FPJ-Duku NPJ-Sawo PJ-Sawo-ha LPJ-Sawo FPJ-Sawo NPJ-Meranti PJ-Meranti-ha LPJ-Meranti FPJ-Meranti NPJ-Krey PJ-Krey-ha LPJ-Krey FPJ-Krey NPJ-Petai PJ-Petai-ha LPJ-Petai FPJ-Petai NPJ NPJ-Jati PJ-Jati-ha LPJ-Jati FPJ-Jati NPJ-Durian PJ-Durian-ha LPJ-Durian FPJ-Durian
Gambar 63. Sub-Model nilai pohon kawasan permukiman jarang
Demikian pula untuk sub model nilai pohon pada lahan permukiman sedang, di mana sejiap jenis pohon juga memiliki fraksi luas dan nilai pohon per hektarnya (Gambar 64). Model perhitungan nilai pohon ini sangat dipengaruhi oleh fraksi luas lahan, karena nilai pohon per hektar untuk setiap jenis pohon cenderung tetap (fixed variable).
122 LPS FPS NPS_Ramb PS_Ramb-ha LPS-Ramb FPS_Ramb NPS-Nangka PS-Nangka-ha LPS-Nangka FPS-Nangka NPS-Mangga PS-Mangga-ha LPS-Mangga FPS-Mangga NPS-Jambu PS-Jambu-ha LPS-Jambu FPS-Jambu NPS-Chery PS-Chery-ha LPS-Chery FPS-Chery NPS-Alpukat PS-Alpukat-ha LPS-Alpukat FPS-Alpukat NPS-Angsana PS-Angsana-ha LPS-Angsana FPS-Angsana NPS_Cemara PS_Cemara-ha LPS-Cemara FPS_Cemara NPS-Duku PS-Duku-ha LPS-Duku FPS-Duku NPS-Sukun PS-Sukun-ha LPS-Sukun FPS-Sukun NPS-Sawo PS-Sawo-ha LPS-Sawo FPS-Sawo NPS-Meranti PS-Meranti-ha LPS-Meranti FPS-Meranti NPS-Pinus PS-Pinus-ha LPS-Pinus FPS-Pinus NPS-Krey PS-Krey-ha LPS-Krey FPS-Krey NPS-Petai PS-Petai-ha LPS-Petai FPS-Petai NPS
Gambar 64. Sub-Model nilai pohon kawasan permukiman sedang
Model perhitungan nilai pohon pada lahan permukiman padat tampak lebih sedikit jenis pohonnya sebagai konsekuensi dari keterbatasan lahan (Gambar 65). Dengan pendekatan yang sama, yaitu menggunakan fraksi luas untuk setiap jenis pohon dan nilai pohon per hektar untuk jenis pohon di kawasan permukiman padat, maka diperoleh hasil pendugaan nilai pohon di kawasan ini.
LPP FPP NPP_Ramb PP_Ramb-ha LPP-Ramb FPP_Ramb NPP-Nangka PP-Nangka-ha LPP-Nangka FPP-Nangka NPP NPP-Mangga PP-Mangga-ha LPP-Mangga FPP-Mangga NPP-Jambu PP-Jambu-ha LPP-Jambu FPP-Jambu NPP-Chery PP-Chery-ha LPP-Chery FPP-Chery NPP-Alpukat PP-Alpukat-ha LPP-Alpukat FPP-Alpukat NPP-Angsana PP-Angsana-ha LPP-Angsana FPP-Angsana NPP-Petai PP-Petai-ha LPP-Petai FPP-Petai
Gambar 65. Sub-Model nilai pohon kawasan permukiman padat
Model pendugaan nilai pohon di kawasan lahan terbuka jarang menunjukkan keragaman jenis pohon yang rekatif sedikit, karena dominasi tanaman semusim/lading (Gambar 66-a). Namun untuk lahan dengan kerapatan tanaman sedang, jenis pohon ditemukan lebih banyak (Gambar 66-b). Dengan pendekatan yang sama menggunakan fraksi luas menurut jenis pohon dan nilai per hektarnya, maka diperoleh pendugaan nilai pohonnya.
LTJ
LTS F_Lahan Terbuka
Jarang F_Lahan TerbukaSedang NTS_Ramb TS_Ramb-ha LTS-Ramb FTS_Ramb NTS-Nangka TS-Nangka-ha LTS-Nangka FTS-Nangka NTS-Mangga TS-Mangga-ha LTS-Mangga FTS-Mangga NTS-Randu TS-Randu-ha LTS-Randu FTS-Randu NTS-Sukun TS-Sukun-ha LTS-Sukun FTS-Sukun NTJ_Jati TJ_Jati-ha LTJ-Jati FTJ_Jati NTJ-Ramb TJ-Ramb-ha LTJ-Ramb FTJ-Ramb NTS-Sengon TS-Sengon-ha LTS-Sengon FTS-Sengon NTS-Ketap TS-Ketap-ha LTS-Ketap FTS-Ketap NTJ-Mangga TJ-Mangga-ha LTJ-Mangga FTJ-Mangga NTJ-Petai TJ-Petai-ha LTJ-Petai FTJ-Petai NTS-Kecapi TS-Kecapi-ha LTS-Kecapi FTS-Kecapi NTS-Durian TS-Durian-ha LTS-Durian FTS-Durian NTS-Petai TS-Petai-ha LTS-Petai FTS-Petai NTS NTJ
123
Model pendugaan nilai pohon untuk kawasan lahan terbuka dengan kerapatan pohon tinggi, memiliki keragaman jenis pohon yang lebih banyak (Gambar 67). Dengan pendekatan yang sama menggunakan fraksi luas lahan dan nilai pohon setiap jenis per hektar untuk kawasan lahan terbuka rapat ini, diperoleh pendugaan nilai pohonnya.
LTR F_Lahan Terbuka Rapat NTR-Mangga TR-Mangga-ha LTR-Mangga FTR-Mangga NTR-Huni TR-Huni-ha LTR-Huni FTR-Huni NTR-Alpukat TR-Alpukat-ha LTR-Alpukat NTR-Angsana TR-Angsana-ha LTR-Angsana FTR-Angsana NTR-Ramb TR-Ramb-ha LTR-Ramb FTR-Ramb NTR-Asem TR-Asem-ha LTR-Asem FTR-Asem NTR-Menteng TR-Menteng-ha LTR-Menteng FTR-Menteng NTR-Duku TR-Duku-ha LTR-Duku FTR-Duku NTR-Petai TR-Petai-ha LTR-Petai FTR-Petai NTR-Nyamp TR-Nyamp-ha LTR-Nyamp FTR-Nyamp NTR-Afrika TR-Afrika-ha LTR-Afrika FTR-Afrika FTR-Alpukat NTR-Durian TR-Durian-ha LTR-Durian FTR-Durian NTR-Sukun TR-Sukun-ha LTR-Sukun FTR-Sukun NTR-Sonok TR-Sonok-ha LTR-Sonok FTR-Sonok NTR
Gambar 67. Sub-Model nilai pohon kawasan terbuka rapat
Sub model nilai pohon dimulai dengan perhitungan luas tanaman untuk setiap jenis pohon berdasarkan proporsi indeks kerapatan pada setiap kelompok sampling (Tabel 53). Berdasarkan table tersebut tampak bahwa nilai indeks luas tajuk (berupa fraksi luas) untuk masing-masing jenis pohon sangat bervariasi. Nilai ini selanjutnya akan digunakan dalam perhitungan luas areal setiap jenis pohon dan pendekatan dalam memproyeksikan luas areal program penghijauan yang diusulkan.
Tabel 53. Analisis fraksi tanaman di kawasan permukiman jarang
No. Parameter Proses Keterangan
Nama Nilai Nama Formulasi
1 FPJ-Angsana 0.0316 LPJ-Angsana 'FPJ-Angsana'*LPJ Tanaman angsana di lahan permukiman jarang (ha) 2 FPJ-Chery 0.0141 LPJ-Chery 'FPJ-Chery'*LPJ Tanaman chery di lahan permukiman jarang (ha) 3 FPJ-Duku 0.0079 LPJ-Duku 'FPJ-Duku'*LPJ Tanaman duku di lahan
permukiman jarang (ha) 4 FPJ-Durian 0.0821 LPJ-Durian 'FPJ-Durian'*LPJ Tanaman durian di lahan
permukiman jarang (ha) 5 FPJ-Jambu 0.1608 LPJ-Jambu 'FPJ-
Jambu'*LPJ+'LP- Jambu'+'LP-Jambu'
Tanaman jambu di lahan permukiman jarang (ha) 6 FPJ-Jati 0.0055 LPJ-Jati 'FPJ-Jati'*LPJ Tanaman jati di lahan
permukiman jarang (ha) 7 FPJ-Krey 0.0709 LPJ-Krey 'FPJ-Krey'*LPJ Tanaman krey di lahan
permukiman jarang (ha) 8 FPJ-Mangga 0.4177 LPJ-Mangga 'FPJ-Mangga'*LPJ Tanaman mangga di lahan
permukiman jarang (ha)
124
No Parameter Proses
Keterangan Nama Nilai Nama Formulasi
9 FPJ-Meranti 0.0178 LPJ-Meranti 'FPJ-Meranti'*LPJ Tanaman meranti di lahan permukiman jarang (ha) 10 FPJ-Nangka 0.0360 LPJ-Nangka 'FPJ-Nangka'*LPJ Tanaman nangka di lahan
permukiman jarang (ha) 11 FPJ-Petai 0.0584 LPJ-Petai 'FPJ-Petai'*LPJ Tanaman petai di lahan
permukiman jarang (ha) 12 FPJ-Sawo 0.0079 LPJ-Sawo 'FPJ-Sawo'*LPJ Tanaman sawo di lahan
permukiman jarang (ha) 13 FPJ_Cemara 0.0035 LPJ-Cemara FPJ_Cemara*LPJ Tanaman cemara di lahan
permukiman jarang (ha) 14 FPJ_Ramb 0.0857 LPJ-Ramb FPJ_Ramb*LPJ Tanaman rambutan di lahan
permukiman jarang (ha)
Analisis fraksi luas tanaman menurut jenis pohon di kawasan permukiman sedang disajikan pada Tabel 54.
Tabel 54. Analisis fraksi tanaman di kawasan permukiman sedang
No. Parameter Proses Keterangan
Nama Nilai Nama Formulasi 1 FPS-Alpukat 0.0319 LPS-Alpukat 'FPS-
Alpukat'*LPS
Tanaman alpukat di lahan permukiman sedang (ha) 2 FPS- Angsana 0.0252 LPS- Angsana 'FPS- Angsana'*LPS
Tanaman angsana di lahan permukiman sedang (ha) 3 FPS-Chery 0.0099 LPS-Chery 'FPS-Chery'*LPS Tanaman chery di lahan
permukiman sedang (ha) 4 FPS-Duku 0.0284 LPS-Duku 'FPS-Duku'*LPS Tanaman duku di lahan
permukiman sedang (ha) 5 FPS-Jambu 0.1214 LPS-Jambu 'FPS-Jambu'*LPS Tanaman jambu di lahan permukiman sedang (ha) 6 FPS-Krey 0.0252 LPS-Krey 'FPS-Krey'*LPS Tanaman krey di lahan
permukiman sedang (ha) 7 FPS-Mangga 0.3069 LPS-Mangga 'FPS-
Mangga'*LPS
Tanaman mangga di lahan permukiman sedang (ha) 8 FPS-Meranti 0.0504 LPS-Meranti 'FPS-
Meranti'*LPS
Tanaman meranti di lahan permukiman sedang (ha) 9 FPS-Nangka 0.0965 LPS-Nangka 'FPS-
Nangka'*LPS
Tanaman nangka di lahan permukiman sedang (ha) 10 FPS-Petai 0.0713 LPS-Petai 'FPS-Petai'*LPS Tanaman petai di lahan
permukiman sedang (ha) 11 FPS-Pinus 0.0099 LPS-Pinus 'FPS-Pinus'*LPS Tanaman pinus di lahan
permukiman sedang (ha) 12 FPS-Sawo 0.0193 LPS-Sawo 'FPS-Sawo'*LPS Tanaman sawo di lahan
permukiman sedang (ha) 13 FPS-Sukun 0.0142 LPS-Sukun 'FPS-Sukun'*LPS Tanaman sukun di lahan
permukiman sedang (ha) 14 FPS_Cemara 0.0587 LPS-Cemara FPS_Cemara*LPS Tanaman cemara di lahan
permukiman sedang (ha) 15 FPS_Ramb 0.1308 LPS-Ramb FPS_Ramb*LPS Tanaman rambutan di lahan
permukiman sedang (ha)
Analisis fraksi luas tanaman menurut jenis pohon di kawasan permukiman padat disajikan pada Tabel 55.
125 Tabel 55. Analisis fraksi tanaman di kawasan permukiman padat
No. Parameter Proses Keterangan
Nama Nilai Nama Formulasi 1 FPP-Alpukat 0.0364 LPP-
Alpukat
'FPP-Alpukat'*LPP Tanaman alpukat di lahan permukiman padat (ha) 2 FPP- Angsana 0.0470 LPP- Angsana 'FPP- Angsana'*LPP
Tanaman angsana di lahan permukiman padat (ha) 3 FPP-Chery 0.0371 LPP-Chery 'FPP-Chery'*LPP Tanaman chery di lahan
permukiman padat (ha) 4 FPP-Jambu 0.1944 LPP-
Jambu
'FPP-Jambu'*LPP Tanaman jambu di lahan permukiman padat (ha) 5 FPP-Mangga 0.4150 LPP-
Mangga
'FPP-Mangga'*LPP Tanaman mangga di lahan permukiman padat (ha) 6 FPP-Nangka 0.135 LPP-
Nangka
'FPP-Nangka'*LPP Tanaman nangka di lahan permukiman padat (ha) 7 FPP-Petai 0.0284 LPP-Petai 'FPP-Petai'*LPP Tanaman petai di lahan permukiman padat (ha) 8 FPP_Ramb 0.1114 LPP-Ramb FPP_Ramb*LPP Tanaman rambutan di lahan
permukiman padat (ha)
Analisis fraksi luas tanaman menurut jenis pohon di kawasan lahan terbuka jarang disajikan pada Tabel 56.
Tabel 56. Analisis fraksi tanaman di kawasan lahan terbuka jarang
No. Parameter Proses Keterangan
Nama Nilai Nama Formulasi 1 FTJ- Mangga 0.0962 LTJ- Mangga 'FTJ- Mangga'*LTJ+'LP- Pala'
Tanaman mangga di lahan terbuka jarang (ha) 2 FTJ-Petai 0.7050 LTJ-Petai 'FTJ-Petai'*LTJ+'LP-
Petai'
Tanaman petai di lahan terbuka jarang (ha) 3 FTJ-Ramb 0.1735 LTJ-Ramb 'FTJ-Ramb'*LTJ+'LP-
Ramb'
Tanaman rambutan di lahan terbuka jarang (ha) 4 FTJ_Jati 0.0252 LTJ-Jati FTJ_Jati*LTJ Tanaman jati di lahan
terbuka jarang (ha)
Analisis fraksi luas tanaman menurut jenis pohon di kawasan lahan terbuka sedang disajikan pada Tabel 57.
Tabel 57. Analisis fraksi tanaman di kawasan lahan terbuka sedang
No. Parameter Proses Keterangan
Nama Nilai Nama Formulasi 1 FTS- Durian 0.0352 LTS- Durian 'FTS-Durian'*LTS+'LP- Durian'
Tanaman durian di lahan terbuka sedang (ha) 2 FTS-
Kecapi
0.0115 LTS- Kecapi
'FTS-Kecapi'*LTS Tanaman kecapi di lahan terbuka sedang (ha) 3 FTS-Ketap 0.2647 LTS-
Ketap
'FTS-Ketap'*LTS Tanaman ketapang di lahan terbuka sedang (ha) 4 FTS- Mangga 0.0373 LTS- Mangga 'FTS- Mangga'*LTS+'LP- Manggis'
Tanaman mangga di lahan terbuka sedang (ha)
126
(lanjutan Tabel 57)
No Parameter Proses Keterangan
Nama Nilai Nama Formulasi 5 FTS- Nangka 0.0516 LTS- Nangka 'FTS-Nangka'*LTS+'LP- Nangka'
Tanaman nangka di lahan terbuka sedang (ha) 6 FTS-Petai 0.1206 LTS-Petai 'FTS-Petai'*LTS Tanaman petai di lahan
terbuka sedang (ha) 7 FTS_Ramb 0.1707 LTS-
Ramb
FTS_Ramb*LTS Tanaman rambutan di lahan terbuka sedang (ha) 8 FTS-
Randu
0.0789 LTS- Randu
'FTS-Randu'*LTS Tanaman randu di lahan terbuka sedang (ha) 9 FTS- Sengon 0.1306 LTS- Sengon 'FTS-Sengon'*LTS+'LP- Sengon'+'LP-Mahoni'
Tanaman sengon di lahan terbuka sedang (ha) 10 FTS-Sukun 0.0244 LTS-
Sukun
'FTS-Sukun'*LTS Tanaman sukun di lahan terbuka sedang (ha)
Analisis fraksi luas tanaman menurut jenis pohon di kawasan lahan terbuka rapat disajikan pada Tabel 58.
Tabel 58. Analisis fraksi tanaman di kawasan lahan terbuka rapat
No. Parameter Proses Keterangan
Nama Nilai Nama Formulasi
1 FTR-Afrika 0.0580 LTR-Afrika 'FTR-Afrika'*LTR Pohon di lahan terbuka rapat (ha)
2 FTR- Alpukat 0.0246 LTR- Alpukat 'FTR- Alpukat'*LTR+'LP-
Alpukat' Pohon di lahan terbuka rapat (ha) 3 FTR- Angsana 0.1004 LTR- Angsana 'FTR-
Angsana'*LTR Pohon di lahan terbuka rapat (ha) 4 FTR-Asem 0.0635 LTR-Asem 'FTR-Asem'*LTR Pohon di lahan terbuka rapat (ha)
5 FTR-Duku 0.0553 LTR-Duku
'FTR-
Duku'*LTR+'LP-
Duku' Pohon di lahan terbuka rapat (ha) 6 FTR-Durian 0.1106
LTR-
Durian 'FTR-Durian'*LTR Pohon di lahan terbuka rapat (ha) 7 FTR-Huni 0.0280 LTR-Huni 'FTR-Huni'*LTR Pohon di lahan terbuka rapat (ha) 8 FTR- Mangga 0.0509 LTR- Mangga 'FTR-
Mangga'*LTR Pohon di lahan terbuka rapat (ha) 9 FTR- Menteng 0.0171 LTR- Menteng 'FTR-
Menteng'*LTR Pohon di lahan terbuka rapat (ha) 10
FTR-
Nyamp 0.0055 LTR-
Nyamp 'FTR-Nyamp'*LTR Pohon di lahan terbuka rapat (ha)