B. Selek tivitas B ergaul 1 P engertian
2. P ertim b angan-pertim ban gan dalam B ergaul
M enurut M astuhu globalisasi selain m enghadirkan peluang “ posisi”
untuk hidup m udah, nyam an, m urah, indah dan m aju; ju g a dapat
m enghadirkan peluang “ n e g a tif’ sekaligus, yaitu m enim bulkan keresahan,
penderitaan, dan penyesatan.30 D isaat inilah m anusia akan di had ap k an oleh
d u a hal yang sam a-sam a m em buat harus m em ilih dan harus ben ar-b en ar
m engetahui m anfaat dan m udhorotya. O leh karena itu m ansuai harus punya
bekal berupa ilm u pegetahuan dan ilm u agam a. Ilm u pengetahuan adalah
m erupakan faktor essensial dalam , pendidikan.31 H al ini tu m b u h seiring
dengan tum buhnya kesadaran um at m anusia akan keterbatasan ilm u
pengetahuan dalam m em ecahkan berbagai m asalah um at m anusia, teru tam a
yang berhubungan dengan akhlak atau m oral. O leh karena se le k tif dalam
m em ilih tem an adalah kunci utam a untuk bisa tum buh dan berkem bang
m enjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah.
30 Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21,
Safira Insani Press, Yogyakarta, 2003, him 10
31 Perlu diketahui bahwa hubungan ilmu pengetahuan dengan agama sekarang ini sudah tampak benang merah yang menjembatani kesenjangan yang selama ini sudah terjadi. Lihat di Mansur, Op.Cit.. him 67-68
Di luar perdebatan ten tan g globalisasi tersebut kita m enyaksikan
m unculnya pola kelakuan b aru anak-anak m uda yang m enerobos batas-batas keagam aan konvensional, tradisi, dan geografi.22 O leh karena itu tantangan
anak-anak m uda dalam hal pergaulan sem akin m enantang. M aka itu dalam
m em ilih tem an harus berpandai-pandai karena hal tersebut akan
m em pengaruhi dalam b erfik ir d an perbuatannya sehari-hari. O leh karena itu
seorang anak harus diarahkan o leh orang tuanya untuk m em ilih tem an.
Sedangkan penciptaan lingkungan pergaulan anak di luar rum ah,
h endaklah di aw asi, dengan siap a anak-anak bergaul dan bagaim ana perilaku
tem an bergaulnya itu. S etidak-tidaknya, orang tu a sering-seringlah berkum pul
b e rsam a dalam suasana santai dan p ad a saat itulah di m usyaw arah ap a yang
seharian di perbuat oleh anak-anaknya, dengan siapa m ereka bergaul,
bag aim an a perilaku tem an -tem an m erek a dan seterusnya. Jik a diperkirakan
p erilak u tem an-tem an sep ergaulannya itu m endukung kebaikan, m aka berikan
stim ulus agar m ereka sem akin akrab atau sesekali dim intai supaya datang ke
rum ah. S ekiranya kurang m e n d u k u n g atau je la s-je la s berakhlak tercela, m aka
selekasnyalah anak d ip eringatkan agar m ereka tidak terlalu dekat dalam
bertem an, jik a perlu supaya m en jau h dari tem an-tem a yan g dem ikian. O rang
tu a b isa m enasehati m isalnya dengan syair sebuah sya’ir yang berbunyi .
12 Abdul Munir Mulkhan, Kesalehan Multikultural dalam Pendidikan Islam di Era Global, Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, 2004, him. 3
akhlaknya ju g a baik. B agaim ana tidak jik a seseorang telah dengan tulus
m elakukan sesuatu m aka dia orangnya sangat m ulia,
d. Sem ua kata-katanya dapat dipercaya. K reteria yang terak h ir ini tak kalah
pentingnya dengan yang lain. K arena kita ketahui b ahw a jik a seseorang
sudah tidak dapat dipercaya sem ua perkataannya m aka dia bukanlah tem an
yang b isa diajak cerita tentang m asalah-m asalah yang seharusnya kita
jaga.
B erbagai m acam hal-hal yang perlu diperhatikan dalam selektivitas
bergaul di atas akan m em punyai tujuan dalam rangka untuk dapat
m em berikan andil dalam m ew ujudkan am al perbuatan yang lebih b aik dan
sebagai tem an hidupnya dalam rangka untuk m eningkatkan perbuatan-
perbuatan yang baik dalam kehidupan sehan-hari. K alau k ita telah terlanjur
m em ilih tem an yang salah m aka kita m asih punya kesem patan untuk
m eninggalkannya dan m encari tem an yang baru sesuai dengan kriteria-kriteria
diatas. M eskipun yang itu sulit kita lakukan. Tapi yang terp en tin g bagi kita
ad alah belajar untuk m encobanya. K arena belajar m erupakan suatu proses dari
seorang individu yang b erupaya m encapai tujuan belajar yaitu suatu bentuk
perubahan perilaku yang re la tif b aik.34
B agim anapun m em ilih tem an dalam bergaul bukan berarti m eragukan
sem ua tem an yang tidak dipilih sebagai tem an dekat. Sungguh hal tersebut
h an y a dilakukan dalam batas-batas yang w ajar. D alam selektivitas bergaul
M Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Rineka Cipta, Jakarta, 2003, him 28
m em ang sangat diperlukan karena m em ilih tem an yang b aik a ta u tidak baik
pada dasarnya m erupakan pendidikan yang secara tidak disadari, sehingga hal
tersebut m em erlukan perhatian serius dalam kaitannya dengan selektivitas
bergaul. D em ikian ju g a m em ilih tem an dekat dalam Islam sangat ja u h dari
unsur sem angat rasialis dan geografis, ju stru keduanya itu ad alah pikiran-
pikiran yang ditiupkan oleh m usuh Islam , sebagai a lat untuk m em ecah
perm usuhan um at, sehingga dengan beg itu akan m udah bagi m ereka untuk
m engeksploitasinya. O leh karena itu dalam selektivitas bergaul ja n g a n hanya
m em perhatikan w arna kulit, ras, m aupun lainnya. Y ang p erlu ditegakkan
adalah firm an A llah yang artinya “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah orang yang paling taqwa di sisi Allah''. (QS. Al- Hujurat: 1 3 )i5
Dari firm an A llah tersebut telah tergam bar b ah w a dalam m em ilih
tem an untuk diajak bergaul yang pertam a dilihat adalah taqw anya karena sifat
ketaqw aan itu a k an m encerm inkan sem ua perilakunya dalam kehidupan
sehari-hari. Selektivitas dalam pergaulan tid ak b isa dilakukan dengan tergesa-
g esa karena akhlak anak-anak sangat ditandai oleh ketidak teraturan, ada si
anak m udah m eloncat dari kesan yang satu ke kesan yang lain, dari satu
aktifitas, satu sentim en ke yang lainnya dengan c ara cepat. D isposisinya sam a
sekali belum stabil, kem arahannya m udah b erk o b ar tapi ju g a m udah m ereda.
A ir m ata berganti senyum , persahabatan berbalik m enjadi kebencian atau
sebaliknya, tan p a paksaan yang je la s atau seringkah hanya pen g aru h kecil
dalam pergaulannya. B erbagai perm ainan y an g dikenalipun ia sangat bosan
dan beralih ke sesuatu yang lain, seh in g g a dalam hal ini si anak akan
m engikuti ap a yang diberikan kepada orang tuanya. ’6 O leh karena itu sebagai
orang tua harus m em berikan pengarahan d an ketauladanan agar si anak bisa
m enerapkan apa yang diberikan dan d ilak u k an oleh si anak. Karena dalam
proses pem bentukan kepribadian an ak ak an m elihat dalam hal ini
m em anifestasikan apa yang terdapat p a d a orang tuanya. Sehingga dalam
m em ilih tem an tidak akan m em baw a kem adlorotan dan akan mempengaruhi
kepribadian yang lebih b aik lagi.
C . H ubungan P em ah am an A k h lak dengan S elek tiv ita s Bergaul
Sebagai um at Islam hendaknya m a m p u untuk meyakini apa yang
diturunkan oleh A llah dan R asul-N ya a ta u serin g disebut hablunwmas dan habluminallah. A turan itu sebagai m odal u ntuk m elaksanakan ibadah, dan akhlak yang m u lia inilah nantinya akan m em pengaruhi tindakan-tindakan
seseorang dalam kehidupan setiap hari a n tara lain selektivitas dalam bergaul.
T indakan yang dilandasi dengan ajaran ag am a Islam dalam arti sesuai anjuran
Islam d a n m enjauhi larangan Islam itulah yang dinam akan akhlakul kanm ah.
D ari penjelasan diatas k ita tahu b a h w a pem aham an akhlak yang baik
akan sangat m em pengaruhi seseorang te rh a d ap selektivitas bergaul. M aksudnya
jik a seseorang paham betul tentang ak hlak m ak a dia akan selektif dalam
pergaulan di sekolah m aupun di m asyarakat.
A khlak m erupakan perilaku dalam pergaul sehari-hari, percam puran
dalam persahabatan atau dalam kehidupan sehari-hari, h idup dan k ehidupan
b ersam a-sam a m asyarakat. K ita sem ua khususnya um at Islam p erlu bergaul
terlebih-lebih para sisw a M Ts sebagai lem baga pendidikan Islam dalam rangka
untuk m eningkatkan selektivitas bergaul. Sebab dalam pergaulan terd ap at tem an
atau orang lain yang akhlaknya buru k dan ad a ju g a yang b aik, sehingga p erlu
selektivitas dalam bergaul dengan sesam a m anusia b aik d alam keadaan sendiri
atau berkelom pok di sekolah m aupun dalam m asyarakat.
A gam a Islam tidak m elarang adanya pergaulan antara sesam a m anusia
bahkan m alah dianjurkan asal berdasarkan norm a-norm a ajaran ag am a Islam.
D engan adanya pergaulan berarti telah m engadakan interaksi yang di dalam nya
terkandung pendidikan. M aka tercetuslah bertam bahnya pengetahuan,
kepandaian bahkan sam pai pada akhlak term asuk dalam bergaul dengan
sesam anya. D alam peningkatan pem aham an akhlak dan selektivitas bergaul
37
te ija d ila h suatu interaksi yang m em u at hal-hal edukatif.
U ntuk b isa m em aham i akhlak dengan sebaik-baiknya m aka seseo ran g
harus m em ang benar-benar m em punyai seorang sosok guru yang b enar-benar
b isa m em berikan suri tauladan akhlak yang baik. U ntuk m em peroleh so so k guru
p ad a saat proses b elajar m engajar diperlukan upaya-upaya m aksim al, sehingga
37Teuku Amiruddin, Reorientasi Manajemen Pendidikan Islam, UII Press, Yogyakarta, 2000, him. 167.
ulam a pada m asa depan m em punyai ilm u pengetahuan yang luas, berim an dan
beram al saleh.
Dari penjelasan diatas kita ketahui bahw a jik a seseorang telah paham
akhlak yang baik dan akhlak yang buruk m aka secara tidak langsung dia akan
se le k tif dalam bergaul. K arena jik a tem an kita m em punyai akhlak yang buruk
m aka kitapun akan ikut terpengaruh, atau sebaliknya jik a m em punyai tem an
baik m aka kitapun akan ikut m enjadi baik. Seperti pepatah ja w a jika tidak ingin bau minyak maka jangan dekat-dekat dengan minyak, atau kalau gak ingin panas maka jangan dekat-dekat dengan api. K edua pepatah ja w a itu telah
m em berikan gam baran p a d a kita bahw a tem an yang paham akhlak sangat
L A PO R A N H A S IL PE N E L IT IA N