• Tidak ada hasil yang ditemukan

7. PACARAN DAN PENGALAMAN SEKSUAL

7.1 PACARAN

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa nilai-nilai hidup remaja di Indonesia telah banyak mengalami perubahan. Salah satu perubahan yang banyak terlihat di masyarakat adalah saat ini remaja cenderung lebih permisif terhadap gaya hidup seksual pranikah (Suryoputro, Ford dan Shaluhiyah, 2006). Pacaran bukanlah hal yang tabu dilakukan remaja, bahkan ada pandangan diantara remaja bahwa mereka yang tidak berpacaran adalah kuno. Padahal masalah kesehatan reproduksi yang banyak muncul di kalangan remaja adalah akibat dari gaya pacaran yang tidak sehat. Banyak penelitian di Indonesia yang menunjukkan terjadinya peningkatan risiko pada perilaku seksual remaja.

Jika tidak disertai dengan peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi yang memadai, maka akan sulit bagi remaja untuk terhindar dari perilaku seksual berisiko karena mereka tidak terpapar informasi yang bisa merubah pandangan dan perilaku mereka terhadap hal-hal yang merugikan kesehatan reproduksi dan masa depannya.

Pada SKAP 2018, perilaku pacaran diukur dari pertanyaan antara lain apakah responden remaja pernah pacaran, umur pertama kali pacaran, dan apakah saat survei masih punya pacar. Selain itu responden juga ditanya mengenai perilaku seksual apa yang dilakukan dengan pasangan (pacar yang sekarang ataupun sebelumnya) dalam mengungkapkan rasa kasih sayang, yang mencakup berpegangan tangan, berpelukan, berciuman bibir, meraba (diraba) atau merangsang (dirangsang) bagian tubuh tertentu yang sensitif seperti sekitar kelamin, payudara, paha yang dilakukan dengan pasangan/pacar/mantan pacar.

Gambar 7.1 Remaja Pria dan Wanita yang Pernah Pacaran

Dari sejumlah 12.429 remaja pria dan 9.781 remaja wanita di Indonesia yang menjadi responden SKAP 2018, secara total terdapat 70 persen remaja yang mengaku pernah berpacaran. Angka ini mengalami peningkatan dari tahun lalu, meskipun sempat mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2016. Dilihat berdasarkan jenis kelamin, proporsi remaja pria sedikit lebih besar dibandingkan remaja wanita yang mengatakan pernah mempunyai pacar, dimana pola ini terlihat sama dari tahun ke tahun.

67.9 68.2 67.6

66.3 67.3 65

70 70.9 69

P R I A + W A N I T A P R I A W A N I T A

2016 2017 2018

Tabel 7.1 Umur Pertama Kali Pacaran

Distribusi persentase remaja menurut karakteristik latar belakang dan umur pertama kali berpacaran, Indonesia 2018

Jika dilihat menurut provinsi (lampiran Tabel A.7.1), persentase terbesar responden remaja yang pernah memiliki pacar adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat (80 persen), Jambi dan Bali (masing-masing 79 persen), serta Jawa Barat dan Gorontalo ((masing-masing-(masing-masing 78 persen). Provinsi dengan persentase terendah responden yang pernah pacaran antara lain Papua (53 persen), Aceh dan Kepulauan Riau (masing-masing 56 persen).

Tabel 7.1 menginformasikan bahwa di kalangan remaja wanita maupun remaja pria, kelompok umur 15-19 tahun lebih banyak menyatakan tidak pernah pacaran dibandingkan kelompok 20-24 tahun yaitu masing-masing 38 persen. Sebaliknya, pengalaman pacaran lebih besar proporsinya pada kelompok umur yang lebih tua yaitu 20-24 tahun. Dapat dikatakan bahwa dengan semakin meningkatnya umur, peluang remaja untuk mempunyai pacar lebih besar. Hal ini berlaku untuk remaja pria maupun wanita.

Dilihat dari tempat tinggal, pengalaman pacaran pria dan wanita menunjukkan pola yang sedikit berbeda. Proporsi remaja pria yang tinggal di perkotaan dan tidak pernah berpacaran sedikit lebih besar dari mereka yang tinggal di perdesaan. Sebaliknya, remaja wanita yang tinggal di perdesaan sedikit lebih banyak yang tidak pernah mempunyai pacar daripada yang tinggal di perkotaan, yaitu 32 persen dibandingkan 30 persen.

Berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat bahwa remaja pria yang tidak sekolah lebih banyak yang tidak pernah berpacaran, dibandingkan remaja yang pernah sekolah. Sementara, remaja wanita yang berpendidikan SLTP lebih banyak yang tidak berpacaran yaitu sebanyak 46 persen. Namun demikian secara umum dapat dikatakan tingkat pendidikan tidak menunjukkan pola hubungan tertentu dengan pernah atau tidaknya pacaran.

Tabel 7.1 juga memberikan informasi tentang median umur memiliki pacar pertama kali. Diantara remaja pria dan wanita pada kelompok umur 15 sampai dengan 19 tahun, rata-rata mulai berpacaran pada umur 15 tahun. Remaja kelompok umur 20 sampai dengan 24 tahun pada umumnya berpacaran saat umur 17 tahun. Sementara itu, jika dilihat dari tempat tinggal terdapat sedikit perbedaan antara remaja pria dan wanita. Remaja pria yang tinggal di perkotaan memiliki median umur pertama kali pacaran sedikit lebih rendah dari yang tinggal di perdesaan. Akan tetapi tidak demikian dengan remaja wanita, dimana yang tinggal di perkotaan sedikit lebih tua untuk memulai berpacaran dari yang mereka yang tinggal di desa, yaitu 16 tahun dibandingkan 15 tahun. Selanjutnya, tingkat pendidikan remaja pria dan wanita tidak memperlihatkan adanya pola hubungan dengan median umur pertama pacaran. Meskipun begitu, responden remaja pria yang berpendidikan SD mengaku sudah mulai berpacaran pada umur 16 tahun. Gambaran ini sama dengan gambaran pada remaja wanita. Remaja

76.2 33.2

14.0 4.4 2.4

18.9

Pegang tangan Berpelukan Ciuman bibir Meraba/merangsang Tidak melakukan satupun Tidak tahu

yang berpendidikan SLTP dan SLTA, baik wanita dan pria pertama kali berpacaran masing-masing pada umur 15 tahun. Pada remaja wanita dengan pendidikan terakhir perguruan tinggi, mempunyai pacar pertama kali pada umur 17 tahun dimana lebih tinggi dibandingkan remaja pria yaitu 16 tahun.

Dalam SKAP, bagi responden remaja yang pernah berpacaran juga ditanyakan tentang perilaku seksual pranikah yang pernah dilakukan selama pacaran. Pertanyaan tentang perilaku seksual ini merupakan pertanyaan yang sangat sensitif untuk ditanyakan kepada responden mengingat isi pertanyaan berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya sangat pribadi. Namun demikian pertanyaan ini sangat penting untuk dimasukkan dalam survei karena salah satu tugas BKKBN, seperti yang tertuang dalam dokumen RPJMN 2015-2019, adalah meningkatkan pemahaman dan kesadaran remaja mengenai kesehatan reproduksi dan menyiapkan kehidupan berkeluarga. Oleh sebab itu informasi tentang perilaku seksual remaja diperlukan sebagai masukan untuk menyusun strategi yang tepat agar remaja memiliki pemahaman dan kesadaran yang baik terhadap kesehatan reproduksi sehingga terhindar dari berbagai masalah yang bisa timbul akibat perilaku seksual yang salah.

Pada Grafik 7.2 dapat dilihat bahwa yang paling sering dilakukan remaja saat pacaran adalah pegangan tangan (76 persen), kemudian berpelukan (33 persen), ciuman bibir (14 persen), dan meraba atau merangsang (4 persen). Sementara itu, sebanyak 2 persen responden mengatakan tidak melakukan apapun (berdasarkan pilihan jawaban pada kuesioner) saat pacaran. Satu hal yang menarik adalah terdapat sekitar 19 persen remaja yang menjawab tidak tahu saat ditanyakan apa yang mereka lakukan untuk mengungkapkan kasih sayang selama pacaran.

Gambar 7.2 Persentese Remaja menurut Cara Mengungkapkan ‘Kasih Sayang’ Saat Pacaran

Meskipun cara untuk mengungkapkan kasih sayang yang paling banyak dilakukan remaja saat pacaran adalah „hanya‟ berpegangan tangan, namun hal ini tetap harus menjadi perhatian.

Mengungkapkan kasih sayang dengan cara pegang tangan ini bisa mengarah pada perilaku seksual.

Dalam Setiawan dan Nurhidayah (2008), yang dikutip dari hasil penelitian Howard (2002) menyatakan tahapan pacaran meliputi senyum dan pandangan bersahabat, berpegangan tangan, memeluk, mencium, meraba bagian atas, meraba bagian pinggang, dan melakukan hubungan suami istri. Dengan demikian, walaupun hanya berpegangan tangan tetap memungkinkan bagi remaja untuk

melakukan perilaku seksual pra nikah yang lebih jauh dan berisiko. Oleh sebab itu, pemahaman yang tepat tentang dampak dari perilaku seksual harus diberikan kepada remaja agar mereka tidak salah melangkah.

Tabel 7.2 Perilaku Berpacaran

Persentase perilaku berpacaran remaja menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2018 Karakteristik latar

Tabel 7.2 memperlihatkan bahwa responden remaja pria nampak lebih banyak mengaku telah melakukan perilaku seksual seperti berpegangan tangan, berpelukan, ciuman bibir, dan meraba atau merangsang dibandingkan dengan responden wanita. Hampir seperempat dari jumlah responden wanita yang pernah berpacaran (24 persen) mengatakan tidak tahu apa yang sudah mereka lakukan selama pacaran. Jika dilihat dari kelompok umur, remaja dengan kelompok umur yang lebih tua memiliki kecenderungan untuk melakukan perilaku seksual saat pacaran. Ini berlaku untuk remaja pria dan wanita.

Berdasarkan tempat tinggal dapat dilihat bahwa remaja pria dan wanita yang tinggal di perkotaan lebih banyak yang memiliki kebiasaan berpegangan tangan (81 persen di antara remaja pria yang pernah pacaran dan 74 persen di antara remaja wanita yang pernah pacaran) dibandingkan dengan remaja di perdesaan (78 persen remaja pria dan 69 persen remaja wanita). Demikian juga remaja yang melakukan pelukan saat pacaran, persentasenya lebih tinggi di antara remaja yang tinggal di perkotaan daripada mereka yang tinggal di perdesaan yaitu 41 persen di antara remaja pria yang pernah pacaran dan 29 persen di antara remaja wanita yang pernah pacaran dibandingkan dengan 36 persen remaja pria dan 23 persen remaja wanita yang pernah pacaran. Akan tetapi, ciuman bibir dan meraba justru lebih sering dilakukan oleh remaja pria di desa dibandingkan mereka yang tinggal di kota. Gambaran ini berbeda di kalangan remaja wanita, mereka yang tinggal di kota lebih banyak yang melakukan ciuman bibir dan meraba daripada yang tinggal di desa. Sementara itu, latar belakang pendidikan tidak menunjukkan adanya pola hubungan tertentu dengan perilaku seksual saat pacaran baik di kalangan remaja pria maupun wanita.

7.2 PENGALAMAN SEKSUAL