BAB II LEMBAGA PERWAKILAN RAKYAT DI INDONESIA
A. Pada Masa Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS)
Pada tanggal 27 Desember 1949, di Amsterdam, Belanda, diadakan upacara penyerahan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat. Tentang istilah “penyerahan” kedaulatan kepada Indonesia, bangsa Indonesia, menamakan
41 Ibid.
“pengembalian” atau “pemulihan” kedaulatan. Kita menerima istilah penyerahan/pemulihan hanya agar Belanda lepas sama sekali dari Indonesia.
Menurut Konstitusi RIS Pasal 1 ayat 1 Konstitusi RIS, bahwa Republik Indonesia Serikat yang merdeka dan berdaulat ialah sebuah negara hukum yang demokratis dan berbentuk federasi. Pada masa Republik Indonesia Serikat ini terlihat bahwa sistem pemerintahannya adalah sistem pemerintahan parlementer karena kabinet/para menterinya bertanggung jawab, baik bersama untuk seluruhnya maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri42 kepada parlemen.43 1. Senat RIS
Menurut Konstitusi RIS Pasal 1 ayat (2), kekuasaan kedaulatan Republik Indonesia Serikat dilakukan oleh pemerintah bersama-sama dengan DPR dan senat. Kita dapat melihat dalam Konstitusi RIS, bahwa senat diakui kedudukannya secara jelas sebagai pemegang kedaulatan RIS, bersama-sama dengan pemerintah dan DPR. Anggota senat RIS berjumlah 32 orang, yaitu masing-masing 2 anggota dari tiap negara bagian. Ketua senat RIS diangkat oleh presiden dari anjuran atau saran yang dimajukan oleh senat atau sebagian anggota senat. Secara keseluruhan, cara kerja senat RIS diatur dalam tata tertib senat RIS. Dalam banyak hal, banyak ketentuan seperti tertulis dalam Konstitusi RIS mengenai hak dan kewajiban senat dan anggota senat RIS yang belum dapat berfungsi sempurna, sama halnya dengan kondisi DPR-RIS. Hal ini lebih beralasan lagi karena senat merupakan
“badan baru” dalam kehidupan bernegara dan berdemokrasi di Indonesia.
42 Konstitusi RIS, Bab IV. Pemerintah, Bagian I Ketentuan-ketentuan Umum, Pasal 118 ayat (2).
43 Pasal 109 dan Pada 110 Konstitusi RIS.
Senat mewakili daerah-daerah bagian.44 Setiap daerah bagian mempunyai dua anggota dalam senat.45 Setiap anggota senat mengeluarkan satu suara dalam senat.46
Anggota-anggota senat ditunjuk oleh pemerintah daerah-daerah bagian dari daftar yang disampaikan oleh masing-masing perwakilan rakyat dan yang memuat tiga calon untuk tiap-tiap kursi.47 Apabila dibutuhkan calon untuk dua kursi, pemerintah bersangkutan bebas untuk menggunakan sebagai satu, daftar-daftar yang disampaikan oleh perwakilan rakyat untuk pilihan lembar itu.
Berkaitan dengan hal itu, daerah-daerah bagian sendiri mengadakan peraturan-peraturan yang perlu untuk menunjuk anggota-anggota dalam senat.48
a. Keanggotaan Senat
Senat mewakili daerah-daerah bagian. Setiap daerah bagian mempunyai dua anggota dalam senat.49 Setiap anggota senat mengeluarkan satu suara dalam senat.50 Anggota-anggota senat ditunjuk oleh pemerintah daerah-daerah bagian, dari daftar yang disampaikan oleh masing-masing perwakilan rakyat dan yang memuat tiga calon untuk tiap-tiap kursi.51
Terlihat di sini bahwa senat RIS bukan senat yang dipilih melalui pemilihan umum, tetapi dengan pengangkatan oleh pemerintah negara bagian.
Senat pada masa Konstitusi RIS merupakan senat perwakilan teritorial. Senat itu
44 Pasal 80 ayat (1) Konstitusi RIS
45 Ibid
46 Pasal 80 ayat (3) Konstitusi RIS
47 Pasal 81 ayat (1) Konstitusi RIS
48 Pasal 81 ayat (3) Konstitusi RIS
49 Pasal 80 ayat (2) Konstitusi RIS
50 Pasal 80 ayat (3) Konstitusi RIS
51 Pasal 81 ayat (1) Konstitusi RIS
bisa kita bandingkan dengan kamar kedua/mejelis tinggi di Jerman yaitu Bunderstaat, yang merupakan senat di negara Federal yang bersistem pemerintahan parlementer. Anggotanya diangkat oleh pemerintah lander atau negara bagian, akan tetapi melalui pengangkatan sering dikatakan kurang mempunyai legitimasi demokrasi.52
Menurut Reni Dwi Purnomowati, diangkat atau dipilih secara langsung tidaklah menjadi suatu masalah yang penting. Hal ini tergantung kebutuhan dari kamar kedua atau second chamber atau majelis tinggi atau sebagai kamar perwakilan khusus/dewan perwakilan khusus dari negara yang bersangkutan.
Memang dalam negara demokrasi yang mengutamakan partisipasi dan akuntabilitas publik, kamar kedua dapat dipilih dengan suara rakyat, yang mewakili kepentingan yang berbeda dari kamar pertama, bisa untuk kepentingan kelas sosial, kepentingan ekonomi, atau perbedaan teritorial. Biasanya yang paling umum terhadap senat (kamar kedua) secara konstitusional diberikan untuk perwakilan teritorial. Dengan diangkat pun, misalnya saja oleh kepala negara atau oleh pemerintah negara bagian, selama untuk kepentingan pihak yang belum terwakili dalam lembaga perwakilan merupakan wujud dalam demokrasi pula, yaitu untuk memberikan suara dari partisipasi dalam penyelenggaraan negara.53
Keanggotaan Senat RIS berjumlah 32 orang yaitu masing-masing 2 anggota dari tiap negara bagian, adapun Negara-negara Republik Indonesia Serikat terdiri atas :
52 Reni Dwi Purnomowati, op.cit., hlm 264
53 Ibid
1. Negara Republik Indonesia 2. Negara Indonesia Timur
3. Negara Pasundan, termasuk distrik federal Jakarta 4. Negara Jawa Timur
Warga negara yang boleh menjadi anggota senat ialah warga negara yang telah berusia tiga puluh tahun dan yang bukan orang yang tidak diperkenankan serta dalam atau menjalankan hak pilih ataupun yang hak nya untuk dipilih sudah dicabut.55
Anggota-anggota senat sebelumnya mengangkat sumpah (keterangan dan janji) di hadapan presiden atau ketua senat yang dikuasakan untuk itu oleh presiden, menurut cara agamanya masing-masing.
Anggota-anggota senat senantiasa boleh meletakkan jabatannya. Mereka memberitahukan hal itu dengan surat kepada ketua.56 Presiden mengangkat ketua senat dari anjuran yang dimajukan oleh senat dan yang memuat sekurang-kurangnya dua orang, baik dari antarannya sendiri maupun tidak.57 Ketua harus
54 B.N.Marbun, op. Cit., hlm 90
55 Pasal 82 Konstitusi RIS
56 Pasal 84 Konstitusi RIS
57 Pasal 85 ayat (1) Konstitusi RIS
memenuhi syarat-syarat yang termaktub dalam pasal 82.58 Ketua bukan anggota dan mempunyai suara penasihat. Ialah yang memanggil senat.59 Apabila salah seorang anggota telah diangkat menjadi ketua, pemerintah daerah bagian yang bersangkutan menunjuk orang lain menjadi anggota sebagai penggantinya.60 Dalam hal ketua dan wakil ketua berhalangan atau tidak ada, rapat diketuai untuk sementara oleh anggota yang tertua usianya; anggota ini tetap mempunyai keanggotaan dan hak suara.61
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, anggota senat RIS sama dengan persayaratan anggota Senat Amerika Serikat yang mensyaratkan usia minimal harus tiga puluh tahun, dan juga ketua Senat Amerika Serikat adalah wakil presiden Amerika Serikat, tetapi di dalam senat ia tidak mempunyai suara.
Di dalam Senat RIS, ketua bukan anggota dan mempunyai suara penasihat.
Dialah yang memanggil senat. Apabila salah seorang anggota telah diangkta menjadi ketua, pemerintah daerah bagian yang bersangkutan menunjuk orang lain menjadi anggota sebagai penggantinya. Senat menunjuk di antaranya seorang wakil ketua yang tetap mempunyai keanggotaan dan hak suara. Dalam hal ketua dan wakil ketua berhalangan atau tidak ada, rapat diketuai untuk sementara oleh anggota.
Keanggotaan senat tidak dapat dirangkap dengan keanggotaan perwakilan rakyat, dan tidak juga denagan jabatan-jabatan federal, yakni jabatan Presiden, Menteri, Jaksa Agung, Ketua, Wakil Ketua atau Anggota Mahkamah Agung,
58 Pasal 85 ayat (2) Konstitusi RIS
59 Pasal 85 ayat (3) Konstitusi RIS
60 Pasal 85 ayat (4) Konstitusi RIS
61 Pasal 85 ayat (6) Konstitusi RIS
Ketua, Wakil Ketua atau Anggota Dewan Pengawas Keuangan, Presiden Bank Sirkulasi dan dengan jabatan-jabatan wali negara, menteri atau Kepala Departemen Negara bagian.62
b. Tugas dan Kekuasaan Senat
Kekuasaan Senat RIS dalam Konstitusi RIS sebagai pemegang kedaulatan bersama-sama dengan Pemerintah dan DPR, hal ini dapat terlihat dalam Pasal 1 ayat (2) Konstitusi RIS yang menyatakan sebagai berikut :
“Kekuasaan Berkedaulatan di dalam Negara Republik Indonesia Serikat adalah dilakukan oleh Pemerintah bersama-sama dengan DPR dan Senat”
Tentang tugas senat, yang tercantum di dalam konstitusi, ia mewakili negara bagian,63 dan Pemerintah bersama-sama dengan DPR dan Senat, sekadar hal itu mengenai peraturan-peraturan tentang hal-hal yang khusus mengenai satu, beberapa atau semua daerah bagian atau bagian-bagian lainnya, ataupun khusus mengenai perhubungan antara Republik Indonesia serikat dan daerah-daerah yang tersebut dalam Pasal 2. Dan juga tercantum dalam Pasal 168 berikut ini:
“Usul Undang-undang di senat atas dasar ketentuan Bagian II Bab ini”
Maksud bagian II Bab ini adalah tentang ketentuan yang berhubungan dengan senat.
Kekuasaan lain senat, selain dalam bidang perundang-undangan, adalah bidang berikut :
62 Pasal 85 ayat (6) Konstitusi RIS
63 Pasal 80 ayat (1) Konstitusi RIS,
a. Bersama-sama dengan DPR, senat memberi izin dalam pernyataan perang.64
b. Senat memberikan nasihat kepada pemerintah atas kehendaknya sendiri apabila dianggap perlu.65
c. Senat didengarkan tentang urusan-urusan penting yang khusus mengenai satu, beberapa atau semua daerah bagian, atau bagian-bagiannya, ataupun yang khusus mengenai perhubungan antara Republik Indonesia Serikat dan daerah-daerah tersebut dalam Pasal 2 Konstitusi RIS.66
d. Senat dapat meminta keterangan baik lisan maupun tertulis, pemerintah memberikan keterangan itu kecuali jika menurut timbangannya hal itu berlawanan dengan kepentigan umum Republik Indonesia Serikat.67
Pada dasarnya senat selalu membicarakan masalah yang berhubungan dengan kepentingan negara-negara bagian, dan selalu diiktiarkan ada kata-kata atau pendapat yang sejalan antara pemerintah, senat dan DPR.
Menurut Reni Dwi Purnomowati, sistem bikameral dalam senat RIS lebih dekat dengan bentuk Bundesrat atau kamar kedua parlemen Jerman, tetapi kekuasaan yang diberikan oleh konstitusi kepada Bundesrat Jerman lebih kuat dari pada kekuasaan yang terdapat dalam Senat RIS.68
64 Pasal 183 Konstitusi RIS
65 Pasal 123 Konstitusi RIS
66 Pasal 123 Konstitusi RIS
67 Pasal 124 Konstitusi RIS
68 Reni Dwi Purnomowati, op. Cit., Hlm 273
c. Kekuasaan Senat Dalam Proses Legislasi
Kekuasaan perundang-undangan federal sesuai dengan ketentuan-ketentuan bagian ini, dilakukan oleh :
a. Pemerintah, bersama-sama dengan DPR, dan senat sekadar hal itu mengenai peraturan-peraturan tentang hal-hal khusus mengenai satu, beberapa atau semua daerah bagian atau bagian-bagiannya, ataupun yang khusus mengenai perhubungan antara Republik Indonesia Serikat dan daerah-daerah yang tersebut dalam Pasal 2;
b. Pemerintah bersama-sama dengan DPR dalam seluruh lapangan pengaturannya selebihnya.69
Usul pemerintah tentang undang-undang disampaikan kepada DPR dengan amanat Presiden dan dikirimkan serentak kepada senat untuk diketahui.70 Senat berhak mengajukan usul undang-undang kepada DPR tentang hal-hal sebagai tersebut dalam pasal 127, sub a. Apabila senat menggunakan hak ini, hal itu diberitahukannya serentak kepada Presiden, dengan menyampaikan salinan usul itu.71 DPR berhak mengajukan usul undang-undang kepada Pemerintah.72
DPR berhak mengadakan perubahan-perubahan dalam usul undang-undang yang diajukan oleh pemerintah atau senat kepadanya kecuali yang ditetapkan dalam Pasal 132.73 Salinan usul undang-undang yang telah diterima oleh DPR dan, jika usul-usul itu mengenai urusan sebagai diterangkan dalam
69 Pasal 127 Konstitusi RIS
70 Pasal 128 ayat (1) Konstitusi RIS
71 Pasal 128 ayat (2) Konstitusi RIS
72 Pasal 128 ayat (3) Konstitusi RIS
73 Pasal 129 Konstitusi RIS
Pasal 127, sub a, telah dirundingkan oleh senat sesuai dengan yang ditetapkan dalam Pasal 131 dan pasal-pasal berikutnya, memperoleh kekuatan undang-undang apabila sudah disahkan oleh pemerintah.74 Undang-undang federal tidak dapat diganggu gugat.75
Usul undang-undang dirundingkan oleh senat berdasarkan kekuasaanya senat turut serta membuat undang-undang jika baik pemerintah maupun DPR ataupun senat sendiri menimbang bahwa usul itu mengenai pengaturan urusan yang masuk dalam yang diterangkan dalam Pasal 127, sub a.76
Apabila senat menolak usul yang sebelum itu sudah diterima oleh DPR, sungguhpun demikian, usul itu dapat juga disahkan oleh pemerintah jika DPR menerimanya dengan tidak mengubahnya lagi dan dengan sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah suara anggota-anggota yang hadir.77 Keputusan tersebut dalam ayat pertama hanya akan dapat diambil oleh DPR dalam rapat yang di dalamnya sekurang-kurangnya hadir dua pertiga dari jumlah anggota sidang.78
Apabila DPR menerima usul Undang-undang Pemerintah dengan mengubahnya ataupun tidak, usul itu dikirimkannya dengan memberitahukan hal itu kepada :79
a. Senat jika usul itu mengenai pengaturan suatu urusan sebagai diterangkan dalam Pasal 127, sub a dengan pemberitahuan serentak kepada presiden.
b. Presiden jika usul itu mengenai pengaturan urusan yang lain.
74 Pasal 130 Konstitusi RIS
75 Pasal 130 ayat (2) Konstitusi RIS
76 Pasal 131 Konstitusi RIS
77 Pasal 132 ayat (1) Konstitusi RIS
78 Pasal 132 ayat (2) Konstitusi RIS
79 Pasal 133 ayat (1) Konstitusi RIS
Apabila DPR menerima usul yang diajukan kepadanya oleh senat, maka usul itu dikirimkannya:80
a. Kepada senat untuk dirundingkan lebih jauh jika dirubahnya b. Kepada pemerintah untuk disahkan jika tidak diubahnya
Dalam sub a, DPR memeberitahukan hal itu kepada Presiden, sedangkan sub b kepada senat.
Apabila DPR menolak usul Undang-undang Pemerintah, hal itu diberitahukannya kepada Presiden, dan juga senat jika usul itu mengenai pengaturan urusan yang tersebut dala pasal 127, sub a.81 Apabila DPR , memutuskan akan menganjurkan usul itu untuk dirundingkan kepada senat, jika usul itu mengenai pengaturan urusan yang tersebut dalam Pasal 127 sub a, dengan pemberitahuan kepada Presiden. 82
Apabila senat juga menerima usul yang telah diterima oleh DPR,maka usul itu dikirimkannya dengan memberitahukan hal itu kepada presiden untuk disahkan oleh pemerintah dan keputusan-keputusannya diberitahukannya serentak kepada DPR.83 Apabila senat menolak usul yang sebelum itu sudah diterima oleh DPR, usul itu dikirimkannya dengan memberitahukannya serentak kepada DPR.84 Apabila senat menolak usul yang sebelum itu sudah diterima oleh DPR, usul itu dikirimkannya dengan diberitahukan hal itu kepada Presiden dengan pemberitaan
80 Pasal 133 ayat (2) Konstitusi RIS
81 Pasal 134 Konstitusi RIS
82 Pasal 135 ayat (1) Konstitusi RIS
83 Pasal 136 ayat (1) Konstitusi RIS
84 Pasal 136 ayat (1) Konstitusi RIS
serentak kepada Dewan Perwakilan Rakayat.85 Pemerintah dapat menyampaikan sekali lagi usul yang telah ditolak oleh senat kepada DPR untuk dirundingkan kembali sesuai dengan Pasal 132. Apabila Pemerintah memutuskan berbuat demikian, yang ditetapkan dalam ayat pertama pasal 129 berlaku demikian juga.
Apabila DPR pada pengulangan perundingan sesuai dengan Pasal 132 menerima usul undang-undang, usul itu dikirimkannya kepada presiden untuk disahkan oleh pemerintah dan keputusannya diberitahukan serentak kepada senat.86 Apabila DPR pada pengulangan perundingan menolak usul undang-undang hal ini diberitahukan kepada presiden dan kepada senat.
Selama usul undang-undang belum diterima oleh DPR sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang lalu dalam Pasal 127, sub a, belum dirundingkan senat usul itu dapat ditarik kembali oleh alat perlengkapan yang memajukannya.
Pemerintah harus mengesahkan usul undang-undang yang sudah diterimanya kecuali jika ia , dalam satu bulan sesudah usul itu disampaikan kepadanya untuk disahkan , menyatakan keberatannya yang tidak dapat dihindarkan, 87 Pengesahan oleh pemerintah, ataupun keberatan sebagai dimaksud dalam ayat yang lain, diberitahukan kepada DPR kepada senat dengan amanat presiden.88
Senat RIS, menurut penggolongan berdasarkan teori Arend Lijphart dikategorikan sebagai bikameral kuat. Hal ini terlihat dengan kekuasaan RIS yang diberikan oleh Konstirtusi RIS, yaitu sejajar dengan DPR RIS, atau dapat dikatakan secara moderat tidak sama karena Senat RIS mempunyai hak
85 Pasal 136 ayat (2) Konstitusi RIS
86 Pasal 137 ayat (1) Konstitusi RIS
87 Pasal 137 ayat (2) Konstitusi RIS
88 Pasal 138 ayat (3) Konstitusi RIS
mengusulkan RUU sesuai dengan pasal 128 ayat (2), dan sesuai dengan Pasal 136 ayat (2), senat juga mempunyai hak untuk menolak usul RUU, tetapi hanya mempunyai hak sebatas pasal 127 sub a, yaitu karena tugas senat, yang tercantum dalam konstitusi hanylah ia mewakili negara bagian (Pasal 80 ayat (1) dan
“Pemerintah bersama-sama dengan DPR dan senat, sekadar hal itu mengenai peraturan-peraturan tentang hal-hal yang khusus mengenai satu, beberapa atau semua daerah bagian atau bagian-bagiannya, ataupun khusus mengenai perhubungan antara Republik Indonsia Serikat dan daerah-daerah yang tersebut dalam Pasal 2 : (pasal 127 sub a Konstitusi RIS). Akan tetapi, Senat RIS kurang mempunyai legitimasi demokratis. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 81 ayat (1) Konstitusi RIS, yaitu sebagai berikut :
“ Anggota-anggota senat ditunjuk oleh pemerintah daerah-daerah bagian dari daftar yang disampaikan oleh masing-masing perwakilan rakyat atau dan yang membuat sensasi dan yang memuat tiga calon untuk tiap-tiap kursi.”
Penggolongan, kamar kedua atau senat RIS ini dalam konstruksi Arend Lijphart dikatakan sebagai sumertirs. Karena memupnyai kekuasaan yang sama atau cara modern tidak sama karena haknya hanya sebatas Pasal 127 sub a. Senat RIS kurang mempunyai legitimasi demokratis karena anggota hanya ditunjuk oleh pemerintah negara bagian. Namun karena ia mempunyai kekusaan yang sejajar, hal tersebut dapat diabaikan. Selain itu, juga dikatakan Incongruen, karena senat RIS, sebagai kamar kedua, adalah suatu kamar federal dari suatu federasi, yang komposisinya berbeda dengan kamar pertama atau DPR RIS.
Menurut Reni Dwi Purnomowaty, terlihat bahwa sistem parlemen bikameral RIS dpat dikatakan sebagai sistem bikameral kuat, tetapi hanya
mempunyai kekuasaan dalam proses legislasi yang berkaitan dengan negara bagian saja (Pasal 127 sub a Konstitusi RIS), tidak mempunyai kekuasaan legslasi yang lain kecuali undang-undang yang berkaitan dengan negara bagian, Namun, dalam pembuatan konstitusi baru sebagai anggota konstituante, anggota senat dapat memberikan mufakat atau keputusan dalam pembuatan konstitusi, sistem bikameral RIS ini menurutnya cukup ideal untuk diterapkan di Indonesia, baik Indonesia sebagai negara kesatuan maupun sebagai negara federal.89
2. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
Menurut Konstitusi RIS, jumlah anggota DPR terdiri 146 orang yang mewakili negara/daerah bagian dengan perincian antara lain :
1. Republik Indonesia 49 orang
12. Kalimantan Barat 4 orang 13. Dayak Besar 2 orang 14. Banjar 3 orang
15. Kalimantan Tenggara 2 orang 16. Kalimantan Timur 2 orang
Penunjukan anggota DPR dilakukan oleh negara-negara bagian. Pimpinan DPR dipilih oleh dan di antara anggota DPR dan pemilihan itu disahkan oleh presiden. Selama pemilihan Ketua belum disahkan, rapat-rapat DPR dipimpin
89 Reni Dwi Purnomowaty, op. cit , hlm 278
anggota tertua (umurnya). Setelah melalui pemilihan di antara beberpa calon ketua, akhirnya Mr. Sartono terpilih menjadi Ketua dengan mendapat 51 suara, Wakil Ketua 1 Mr. A.M. Tambunan dan Wakil Ketua II Arudji Kartawinata.90
Sidang DPR-RIS berlangsung dengan sangat bebas dan dalam banyak hal belum sempat mendapat bentuk standar mengingat asal-usul serta kedudukan yang sangat dominan dari wakil RI, yang sebenarnya hanya menerima eksistensi DPR-RIS yang dikategorikan sebagai antek RI dan antek Belanda membuat DPR-DPR-RIS tidak berfungsi secara penuh. DPR-RIS dan senat bersama-sama pemerintah melaksanakan pembuatan perundang-undangan. Selain melakukan kekuasaan perundang-undangan, DPR-RIS berwenang pula mengontrol pemerintah, dengan catatan, presiden tidak dapat diganggu gugat, tetapi para menteri bertanggung jawab kepada DPR atas seluruh kebijaksanaan pemerintah, baik bersama-sama untuk seluruhnya maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri. Akan tetapi, DPR tidak dapat menjatuhkan menteri (pemerintah).
Di samping kekuasasan perundang-undangan DPR-RIS juga melaksanakan fungsi kontrol, mempunyai hak menanya dan menyelidiki (angket).
Seluruh gerak DPR-RIS diatur dalam Tata-Tertib DPR-RIS yang kenyataannya baru disahkan 28 Februari 1950, yang berarti hanya berlaku kurang dari enam bulan dengan tercapainya Negara Kesatuan RI 17 Agustus 1950. Dalam masa kerja DPR-RIS yang enam bulan itu, mereka telah berhasil mengesahkan tujuh buah undang-undang yang satu di antaranya berdasarkan usul inisiatif DPR, yaitu Undang-Undang No. 4/1950 tentang penggantian Kerugian Anggota DPR-RIS.
90 B.N. Marbun, op. cit., hlm. 91
Beban berat DPR-RIS pada masa-masa akhir eksistensinya ialah perdebatan mengenai pengakhiran eksistensi DPR-RIS atau perubahan Konstitusi RIS menjadi Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) Republik Indonesia dalam proses kembali menjadi negara kesatuan. Akhirnya pada 14 Agustus 1950, mengenai menerima atau tidak UUDS, yang berakhir dengan sembilan puluh orang setuju dan hanya delapan belas orang tidak setuju. Dengan keputusan itu, secara de jure dan de facto eksistensi DPR-RIS berakhir.91
a. Keanggotaan DPR-RIS
DPR mewakili seluruh rakyat Indonesia dan terdiri dari 150 anggota;
ketentuan ini tidak mengurangi yang ditetapkan dalam ayat kedua Pasal 100.92 Jumlah anggota dari Negara Republik Indonesia adalah seperdua dari jumlah semua anggota dari daerah-daerah Indonesia selebihnya.93
Golongan-golongan kecil Tionghoa, Eropa dan Arab akan berwakil dalam DPR dengan berturut-turut 9,6 dan 3 anggota.94 Jika jumlah-jumlah itu tidak tercapai dengan pengusutan atas dasar Pasal 109 dan Pasal 110, ataupun Pasal 111, tidak tercapai, pemerintahan Republik Indonsia Serikat mengangkat wakil-wakil tambahan dari golongan kecil itu. Jumlah anggota DPR tersebut dalam Pasal 98 ditambah dalam hal itu jika perlu dengan jumlah pengangkatan-pengangkatan itu. Jumlah DPR tersebut dalam Pasal 98 ditambah dalam hal itu jika perlu dengan jumlah pengangkatan-pengangkatan itu.95
91 B.N.Marbun, op.cit., hlm 92.
92 Pasal 98 Konstitusi RIS
93 Pasal 99 Konstitusi RIS
94 Pasal 100 ayat (1) Konstitusi RIS
95 Pasal 100 ayat (2) Konstitusi RIS
Persyaratan untuk menjadi anggota DPR ialah warga negara yang telah berusia 25 tahun dan bukan orang yang tidak diperkenankan serta dalam atau menjalankan hak pilih ataupun orang yang haknya untuk dipilih telah dicabut.96 Keanggotaan DPR tidak dapat dirangkap dengan keanggotaan senat dan juga tidak dengan jabatan-jabatan yang tersebut dalam Pasal 91.97
DPR memilih dari antara seorang ketua dan seorang atau beberapa orang Wakil Ketua. Pemilihan-pemilihan ini membutuhkan pengesahan presiden.98 Selama pemilihan Ketua dan Wakil Ketua belum disahkan oleh Presiden, rapat diketuai sementara oleh anggota yang tertua umurnya.99
DPR memilih dari antara seorang ketua dan seorang atau beberapa orang Wakil Ketua. Pemilihan-pemilihan ini membutuhkan pengesahan presiden.98 Selama pemilihan Ketua dan Wakil Ketua belum disahkan oleh Presiden, rapat diketuai sementara oleh anggota yang tertua umurnya.99