sengit, pemegang kekuasaan di Majapahit adalah penguasa-penguasa yang berpikiran picik dan berjiwa kerdil. Penghargaan dan penghormatan atas keberbedaan sebagaimana maharaja terdahulu menjadi terabaikan. Penduduk beragama Islam di pedalaman mulai merasakan tekanan-tekanan dan ancaman-ancaman, bahkan tindak-tindak kekerasan.
Menurut ingatan warga muslim Wirasabha, bencana awal yang dialami penduduk muslim di pedalaman terjadi untuk kali pertama saat pecah per
tempuran antara adipati Terung dan Patih Mahodara.
Penduduk muslim di Wirasabha yang seabad lebih tak pernah diganggu tiba-tiba harus ikut menanggung akibat buruk dari pertempuran tersebut. Mereka dijadikan bagian dari sasaran-sasaran tempur oleh kaki tangan Patih Mahodara dalam upaya menekan kekuatan Terung. Rumah mereka dibakar. Harta mereka dijarah. Mereka yang tak sempat lari akan dibunuh. Anehnya, dalam keadaan yang kacau balau itu, satu-satunya tempat berlindung yang paling aman bagi umat Islam Wirasabha adalah Padepokan Wanasalam; kediaman para bhairawa pemangsa manus1a.
Tentang kecenderungan umat Islam untuk ber
lindung di Padepokan Wanasalam, menurut Raden Sulaiman, sesungguhnya terkait dengan hubungan lama di antara leba Wirasabha dan pemimpin
Pade-pokan Wanasalam. Sejak kali pertama Raden Abu Hurairah diangkat sebagai leba sudah terjalin hubungan antara dirinya dan pemimpin Padepokan Wanasalam,
Ki
Kumbharawa. Hal itu terjadi karenaKi
Kumbharawa adalah uwak dari Ario Damar. Ario Damarlah yang mengikatkan jalinan itu. Hubungan itu makin kuat manakala atas bimbingan leba Wirasabha, putera Ki Kumbharawa, yaitu Ki Wanasalam, memeluk Islam. Lantaran Ki Wanasalam sudah memeluk Islam clan menjadi patih di Kadipaten Demak maka sepeninggalKi
Kumbharawa yang menggantikan kedudukannya adalah putera bungsunya,Ki
Wedung, yang kala itu masih remaja.Hubungan erat antara Leba Wirasabha clan pe
mimpin Padepokan Wanasalam menjadikan keber
adaan umat Islam di Wirasabha tak terusik. Semua orang seolah tahu, sang leba Wirasabha adalah kerabat pemimpin Padepokan Wanasalam. Itu sebabnya, ketika terjadi penyerbuan pasukan Patih Mahodara yang pertama ke Surabaya, umat Islam di Wirasabha tidak sedikit pun diganggu. Baru setelah pecah perang dengan Terung, kaki tangan Patih Mahodara mulai berani menjarah clan merampok umat Islam. Ya, pada masa Patih Mahodaralah untuk kali pertama umat Islam di Wirasabha mulai diganggu.
"Saat kerusuhan pertama pecah," kenang Raden Sulaiman, "Seluruh warga muslim di Wirasabha
sangat kebingungan. Mereka tidak pernah menduga akan dijadikan sasaran serangan. Tatkala mereka sedang berlarian mencari anak-anak mereka, tiba-tiba rumah mereka sudah rata dengan tanah. Harta benda mereka habis dijarah. Nlereka yang tak sempat meng
hindar, tubuhnya bergelimpangan menjadi mayat di jalan-jalan. Suasana saatitu benar-benar mencekam."
"Itu terjadi pada perangTerung-Daha yangper
tama?" tan ya Abdul J alil.
Raden Sulaiman mengiyakan. Kemudian, dia me
nuturkan betapa
di
tengah kebingungannya, penduduk mus lim Wirasabha berbondong-bondong menyelamatkan diri ke makam leba Wirasabha per
tama, Raden Abu Hurairah. Mereka berkerumun dan berdesak-desakan di makam yang terletak di belakang Ndalem Leba. Mereka berdoa sambil menangis memohon pertolongan dari arwah Raden Abu Hurairah. Saat itu semua orang tidak tahu harus ber
buat apa untuk menghindar dari kematian. Mereka hanya bisa berdoa dan berharap terjadi sebuah keajaiban.
"Masih terbayang benar dalam ingatan saya,"
Raden Sulaiman mengenang, ''Betapa mencekam suasana saat itu. Seluruh Wirasabha sudah dikuasai pasukan Patih Mahodara. Puluhan ribu prajurit dengan senjata terhunus berkeliaran di jalan-jalan.
Mereka akan menghancurkan apa saja yang mereka
ketahui milik warga muslim. Bagaikan kawanan hewan buas kelaparan, prajurit Patih Mahoclara clengan wajah beringas clan mata menyala beriring
iringan menuju Nclalem Leba."
"Nclalem Leba mereka kepung. Kemuclian, sambil berteriak serentak bagaikan suara guruh ber
sahut-sahutan mereka melepaskan beratus-ratus panah berapi. Dalam sekejap Balai Rangkang clan bangunan-bangunan utama Nclalem Leba tenggelam clalam lautan api. Saat itu semua orang yang beracla di makam sating berclesak-clesak clan menjerit-jerit ketakutan. Suasana makin tegang, ketakutan makin memuncak manakala mereka menyaksikan pasukan Patih Mahoclara berbonclong-bonclong masuk ke halaman Nclalem Leba menuju arah makam. Tanpa ada yang menyuruh, semua beramai-ramai melafalkan kalimah tahlil
la i/aha ii/a Al/ah
berulang-ulang karena mereka mengira saat itu aclalah saat terakhir mereka hidup di clunia.""Ketika semua harapan untuk hiclup suclah pupus, tiba-tiba terjadi keajaiban. Allah memberikan pertolongan clalam bentuk yang tak pernah kami bayangkan. Saat itu sauclara kami terkasih, Ki Wedung, dengan diikuti oleh sepuluh siswanya menerobos masuk ke Nclalem Leba secara menak
jubkan. Laksana kawanan raksasa menakutkan keluar clari hutan, mereka menyibak pasukan Patih Mahodara
bagaikan orang menyibak rumput di tengah padang alang-alang. Dengan membentak-bentak Ki Wedung dan siswanya melemparkan para prajurit yang meng
halangi jalan. Kemudian, tanpa halangan sedikit pun mereka sudah berada di depan makam."
"Orang-orang Islam yang tengah ketakutan men
j
adi panik melihat Ki Wedung dan siswanya mendekati makam. Mereka mengiraKi
Wedung adalah raja raksasa yang akan memangsa mereka. Namun, kepanikan mereka sirna seketika saat mereka mendengar teriakan Ki Wedung yang mengerikan. Ia mengancam akan membunuh siapa sajadi
antara manusia yang berani mengganggu setiap jiwa di Ndalem Leba. Saat itu kami saksikan prajurit Patih Mahodara mundur serentak. Rupanya mereka gen tar dengan ancaman Ki Wedung. Di bawah tatapan para prajurit dan kaki tangan Patih :ivlahodara, kami semua meninggalkan Ndalem Leba menuju Padepokan Wanasalam. Itulah kisah pengungsian pertama kami yang ajaib. Dan, kali ini adalah pengungsian kami yang ketiga kalinya di Padepokan Wanasalam.""Kenapa orang-orang mengira Ki Wedung dan siswa-siswanya sebagai raksasa?" tan ya Abdul J alil.
"Karena Ki Wedung saat itu memang seperti raksasa," papar Raden Sulaiman. ''Tingginya sekitar lima depa. Matanya besar dan menyala. Gigi dan
taringnya memanjang hingga dagu. Bahkan, saya yang sudah mengenalnya dengan baik pun saat itu tidak lagi mengenalinya. Dia benar-benar berubah menjadi raksasa menakutkan."
"Kenapa tidak ada prajurit Patih Mahodara yang menghalangi
Ki
Wedung?" tanya Abdul Jalil."Saya kira mereka takut," kata Raden Sulaiman.
"Siapa pun di antara warga Wirasabha entah dia prajurit atau bukan, pastilah mereka sudah mendengar jika hutan Wanasalam adalah hutan angker, tempat kediaman para bhairawa yang suka memakan manusia.
Munculnya
Ki
Wedung dalam bentuk raksasa telah menciutkan nyali mereka. Saya kira, sebagian besar mereka pun sudah pernah mendengar cerita keangkeran hutan Wanasalam. Di antara mereka tentu banyak yang pernah mendengar cerita jika leba Wirasabha pertama adalah kerabat pemangku Padepokan Wanasalam."
''Ah, aku paham sekarang," kata Abdul Jalil tiba
tiba teringat pada
Ki
Wanasalam yang ditemuinya di Kadipaten Demak, "Kenapa prajurit-prajurit Demak sangat ditakuti di berbagai tempat, bahkan di bumi Pasundan. Kalau tidak salah karena prajurit-prajurit Demak dipimpin oleh Ki Wanasalam, mantan pendeta bhairawa yang termasyhur sakti mandraguna asal Wanasalam.""Saya kira bukan hanya karena patih Wanasalam, Paman," ujar Raden Sulaiman. "Prajurit Demak ditakuti karena hampir semua lurah prajurit (perwira) clan mantri Demak adalah hasil didikan Padepokan Wanasalam."
"Benarkah?" sergah Abdul J
alil
terkejut. "Bukankah mereka semuanya beragama Islam?"
''Ya, mereka semua memang beragama Islam.
Namun, sebelum berangkat ke Demak mereka ada
lah siswa Padepokan Wanasalam. Mereka baru me
meluk Islam beberapa waktu sebelum berangkat ke Demak. Menurut adat kebiasaan, mereka selalu mengucapkan ikrar keislaman di Ndalem Leba Wirasabha. Ya, para calon punggawa Demak selalu mengikrarkan dua kalimah syahadat di depan Leba Wirasabha sebelum berangkat ke Demak. Ketentuan itu ditetapkan oleh patih Wanasalam sejak ayah kami masih hidup," kata Raden Sulaiman.
Penjelasan Raden Sulaiman menyibak gumpal
an awan tanda tanya di benak Abdul Jalil. Ia selama ini tidak memahami keanehan-keanehan adat ke
biasaan para lurah prajurit Demak yang dinilainya menyimpang jauh dari tuntunan Islam. Para lurah prajurit Demak, sepengetahuannya, dikenal sebagai perwira-perwira sakti mandraguna, namun sangat kejam clan telengas di dalam setiap pertempuran.
Mereka tidak pernah mengampuni
musuh-musuh-nya. Bahkan, mereka menanamkan kebiasaan men
jijikkan di kala.ngan prajurit Demak; menjilati darah musuh yang melumuri senjatanya. Rupanya, pikir Abdul J alil, para lurah prajurit itu adalah siswa didikan Padepokan Wanasalam sehingga saat sudah menjadi muslim pun mereka belum bisa mening
galkan kebiasaan minum darah yang sangat terlarang dalam ajaran Islam.
Pertempuran yang terjadi berulang-ulang antara adipati Terung clan Patih Mahodara, yang oleh orang
orang di pesisir dianggap sebagai usaha melindungi umat Islam di pedalaman, ternyata tidak sepenuhnya disetujui oleh umat Islam di pedalaman. Buktinya, Raden Sulaiman sangat menentang peperangan yang sudah terulang tiga kali itu. "Saya mengira perang itu bukan untuk melindungi umat Islam di pedalaman.
Perang itu merupakan pertempuran berebut penga
ruh clan kekuasaan antara Yang Dipertuan Terung clan Patih Mahodara."
U
ngkapan Raden Sulaiman ten tang pertarungan dua rajawali Majapahit itu dilatari oleh perebutan pengaruh dan kekuasaan bukan tanpa alasan. Dalam peperangan itu masing-masing pihak selalu menyatakan diri sebagai pembela Majapahit sejati.
Adipati Terung mengaku sebagai abdi setia Ratu Stri
Maskumambang, maharaja Majapahit yang ber
kedaton di Japan. Sementara itu, Patih Mahodara mengaku sebagai abdi setia Sri Surawiryawangsaja, maharaja Majapahit yang berkedaton di Daha. Padahal, hampir semua orang tahu bahwa baik Ratu Stri Maskumambang maupun Sri Surawiryawangsaja adalah "boneka" dari dua petinggi Majapahit yang berebut pengaruh clan kekuasaan itu.
Abdul Jalil terkejut dengan pengakuan jujur Raden Sulaiman. Dari cerita-cerita yang ia dengar selama ini hampir semua menyatakan Patih Mahodara telah mengangkat diri menjadi maharaja Majapahit di Daha, menggantikan kedudukan Sri Prabu Natha Girindrawarddhana. Lantaran itu, adipati Terung menolaknya clan menyatakan tetap setia kepada Ratu Stri Maskumambang. Ternyata, menurut Raden Sulaiman, di Daha sendiri sebenarnya masih ada maharaja Majapahit yang bernama Sri Surawiryawangsaja.
Ten tang terbaginya kekuasaan Majapahit, menurut Raden Sulaiman, sesungguhnya sudah terlihat beberapa waktu sebelum Sri Prabu Natha Girindrawarddhana mangkat. Saat itu kekuatan besar