• Tidak ada hasil yang ditemukan

patnjra. Dengan keheranan dia menghadap Abdul Jalil,

"Apakah sebenarnya yang akan terjadi, o Tuan Syaikh,

sehingga Paduka menghendaki

kami

clan keluarga

harus cepat-cepat pergi dari padepokan?"

{1 l

masuki pekan ketiga kehadiran Abdul

J

alil di

:J Y

Lpadepokan, terjadi peristiwa yang

tidak

tersang­

ka-sangka. Ketika matahari terbenam clan menyisakan cahaya merah darah di langit barat, tiba-tiba ia diingatkan oleh

rub.

al-Haqq di kedalaman kalbunya agar secepatnya pergi meninggalkan padepokan.

Meski tidak tahu apa yang bakal terjadi, ia menangkap sasmita bahwa suatu marabahaya tampaknya sedang mendekat. Kali pertama yang diingatnya adalah Nirartha beserta istri-istri clan putera-puterinya.

Abdul Jalil buru-buru memerintahkan sepuluh orang prajurit Terung untuk mengiringi Nirartha clan keluarganya meninggalkan padepokan menuju Terung. Nirartha yang belum memahami maksud Abdul J alil menjadi kebingungan ketika didaulat oleh prajurit Terung untuk meninggalkan padepokan sece­

patnjra. Dengan keheranan dia menghadap Abdul

Jalil,

"Apakah sebenarnya yang akan terjadi, o Tuan Syaikh, sehingga Paduka menghendaki kami clan keluarga harus cepat-cepat pergi dari padepokan?"

"Demi Allah, aku tidak tahu kenapa harus me­

nyuruhmu pergi meninggalkan padepokan," kata Abdul J aW. "N amun, aku menangkap sasmita bahwa padepokan ini sedang dikepung oleh marabahaya.

Engkau dan keluargamu harus secepatnya pergi sebelum hal itu terjadi."

Nirartha yang sangat mempercayai Abdul JaW sebagai guru ruhaninya buru-buru memerintahkan para istri untuk berkemas. Dia sendiri bergegas menemui Wiku Suta Lokeswara untuk berpamitan.

Ternyata Wiku Suta Lokeswara pun menangkap sasmita yang sama dengan Abdul J aW. Ia menangkap tengara marabahaya sedang mengintai padepokannya.

Saat Nirartha menghadap, sang wiku sudah me­

merintahkan tiga orang siswanya untuk mengiringi Nirartha meninggalkan padepokan. ''Apa pun yang terjadi, malam

ini

engkau harus membawa keluarga­

mu jauh-jauh dari sini. Pilihlah jalan timur yang melintasi hutan Wanasalam. Meski agak jauh dan berat, daerah itu sangat aman."

Terburu-buru Nirartha meninggalkan pade­

pokan. Namun, ketika Nirartha dan rombongan belum jauh dari padepokan, masuklah seorang pen­

duduk

yang diantar oleh salah seorang siswa. Pen­

duduk itu dengan tergopoh-gopoh menghadap Wiku Suta Lokeswara yang sedang berbincang-bincang dengan Abdul JaW. Kepada Wiku Suta Lokeswara

dia melaporkan kehadiran serombongan prajurit berkuda yang diiringi beratus-ratus prajurit bertom­

bak dari selatan menuju arah padepokan. "Kami melihat puluhan kawula di desa-desa selatan berge­

limpangan mati. Setiap langkah dari pasukan itu menjadi langkah Bhattara Yama. Mereka menebar kematian di mana-mana, o Paduka Wiku."

"Pasukan Patih Mahodara," gumam Wiku Suta Lokeswara dingin.

Mendengar Wiku Suta Lokeswara menggumam­

kan ''Patih Mahodara", Abdul

J

alil menyela, "Kami sungguh merasa bersalah, Paduka Wiku. Mereka kemari tentu karena telah mengetahui kehadiran

ka nu. . "

''Tuan Syaikh tidak perlu merasa bersalah," kata Wiku Suta Lokeswara. ''Tanpa kehadiran Tuan Syaikh pun sang patih pasti akan menyerang padepokan ini.

Dia sudah cukup lama tidak menyukai padepokan

ini,

terutama sejak Nirartha menghindari keinginan sang patih untuk bergabung menjadi pendukungnya."

KetikaAbdulJalil akan berkata-kata tiba-tiba ter­

dengar suara gaduh di luar gerbang selatan pade­

pokan. Ia menoleh clan melemparkan pandangan ke arah gerbang selatan untuk mengetahui apa yang tengah terjadi. Ternyata, gerbang selatan telah merah membara dikobari nyala api. Ia melihat bayangan

puluhan penunggang kuda berkelebatan di tengah amukan api sambil berteriak-teriak mengacungkan busur. Rupanya, para penunggang kuda baru saja melepaskan panah-panah berapi untuk membakar gerbang padepokan. Bahkan setelah itu, Abdul J

alil

melihat betapa beringas para penunggang kuda itu menerobos kobaran api dengan cara beriringan.

Dalam hitungan detik ia saksikan halaman dalam padepokan sudah dimasuki iring-iringan kuda yang meringkik dan menghentak-hentakkan kakinya ke bumi.

Tak lama kemudian terdengar teriakan-teriakan perang membahana dari berbagai sudut. Para pe­

nunggang kuda terkejut. Mereka serentak menarik tali kekang sehingga membuat kuda-kuda meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya. Teriakan-teriakan perang itu berasal dari mulut para prajurit Terung yang menyerang mereka dengan tombak dan pedang.

Akhirnya, tak terhindarkan lagi pecah pertarungan sengit di tengah kobaran api yang mulai menyambar­

nyambar dan membakar bangunan-bangunan di padepokan.

Di tengah sengitnya pertempuran terdengar teriakan dan sorak-sorai gemuruh dari arah selatan, diikuti tombak-tombak teracung yang bermunculan di tengah kobaran api. Rupanya, prajurit Daha berhasil menerobos masuk ke bagian dalam

padepokan. Mereka dengan beringas naik ke asrama­

asrama dan membuat kerusakan. Mereka memanjat dinding dan membakari atap-atap. Namun, tindakan perusakan itu tidak berlangsung lama. Mereka dihadang siswa-siswa padepokan dengan dipimpin sendiri oleh Wiku Suta Lokeswara.

Sebagai seorang pendeta bhairawa, Wiku Suta Lokeswara tidaklah berbeda dengan pendeta bhairawa yang lain dalam hal kesaktian. Itu terlihat saat dia clan siswa-siswanya menghadapi prajurit-prajurit Daha yang sedang mengamuk di padepokannya.

Bagaikan orang sedang membersihkan halaman dengan sapu, setiap kali dia menggerakkan tangan­

nya ke depan atau ke samping selalu diikuti oleh terpentalnya tubuh para prajurit Daha ke berbagai arah, bagaikan daun-daun kering dikebas sapu. Para siswa pun mengikuti tindakan gurunya sehingga dalam waktu singkat terlihat berpuluh-puluh prajurit Daha bergelimpangan di halaman padepokan sambil mengerang kesakitan.

Ketika malam makin merambat menu ju puncak, pertempuran di padepokan berlangsung lebih seru clan lebih sengit. Pasukan Daha bagaikan kesetanan merangsak maju sambil berteriak-teriak. Mereka maju dari arah selatan, barat,

clan timur,

menyerbu bagaikan kawanan semut mengerumuni bangkai. Sementara itu, para prajuritTerung clan Wiku Suta Lokeswara beserta

siswa-siswanya bertahan mati-matian di bagian utara paclepokan, di tengah kobaran api yang suclah me­

lahap seluruh bangunan. Mereka bertahan sekuat claya clari serbuan prajurit-prajurit Daha yang menggelombang bagaikan tak acla habisnya.

Menjelang tengah malam, ketika Wiku Suta Lokeswara clan prajurit-prajurit Terung terclesak hebat, terjadi suatu peristiwa aneh. Di tengah kobaran api yang mulai mereclup tiba-tiba muncul kabut berasap yang bergumpal-gumpal clan mengambang menutupi sisa-sisa bangunan yang terbakar. Kabut berasap itu terus mengambang seolah-olah me­

nyelimuti paclepokan yang sudah menjadi tumpukan arang. Beberapa jenak kemudian, keadaan di sekitar paclepokan berubah sangat gelap. Sejauh mata me­

manclang, hanya kegelapan yang terlihat melingkupi.

Di tengah kegelapan itu secara samar-samar terlihat bayangan-bayangan hitam berkelebat bagaikan mengitari prajurit Daha.

Seiring berkelebatnya bayangan hitam, terjadi suatu keanehan lagi. Prajurit Daha tiba-tiba bertabrakan clengan sesama kawannya. Terclengar suara caci maki, lalu umpatan-umpatan balasan.